• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelebihan Model Pembelajaran Langsung

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Pembelajaran Langsung

6. Kelebihan Model Pembelajaran Langsung

dan keterampilan siswa dalam mengasah kemampuan dan keterampilannya secara mandiri.46

f. Merencanakan Waktu dan Ruang

Ada dua yang harus di perhatikan oleh guru:

1. Memastikan bahwa waktu yang disediakan guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan bakat dan kemampuan siswa

2. Memotivasi siswa agar tetap melakukan tugas-tugasnya dengan perhatian yang optimal.47

a. Dapat diterapkan secara efektif dan efesien di kelas yang besar dan kecil.

b. Dapat digunkan untuk menekankan kesulitan kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal tersebut dapat diselesaikan,

c. Merupakan cara yang efektif untuk mengajarkan konsep-dan keterampilan-keterampilan baru.

d. Ceramah merupakan cara yang bermanfaat untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang tidak suka membaca atau yang tidak memiliki keterampilan

e. Demonstrasi memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada hasil-hasil dari suatu tugas.

f. Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan refleksi guru sehingga guru dapat terus-menerus mengevaluasi dan memperbaikinya.50

7. Kekurangan Model Pembelajaran Langsung

a. Karena dalam model pembelajaran ini hanya berpusat pada guru (Teacher Senter). Maka kesuksesan pembelajaran tergantung pada guru jika guru kurang dalam persiapan, pengetahuan, percaya diri, antusiasisme maka siswa akan muda bosan, teralihkan perhatiannya dan bahkan pembelajaran bisa terlambat dan tidak terselesaikan.

b. Model pembelajaran langsung sangat tergantung pada cara siswa dalam berkomunikasi. Jika guru tidak dapat berkomunikasi dengan baik maka akan menjadikan pembelajatan menjadi kurang baik.

c. Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks, rici atau abstrak, model pembelajaran langsung tidak dapat kesempatan kepada siswa untuk cukup memperoses dan memahami informasi yang disampaikan.

d. Jika terlalu sering menggunakan model pembelajaran langsung akan membuat guru untuk menyampaikan informasi secara keseluruhan tanpa arahan yang jelas.

e. Demonstrasi akan tergantung pada pengamatan siswa, padahal pada kenyataanya siswa tidak secara keseluruhan menjadi pengamat yang baik sehingga sering terlewatkan materi yang disampaikan oleh guru.51

b. Pembelajaran Dengan Metode Praktek 1. Pengertian Metode Pembelajaran Praktek

50Dimyati dan Mudjino, Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta: PT Rineka Cipta,Februari 2015), hlm. 174.

51Ibid.,hlm. 179.

Secara bahasa, pengertian metode praktek dari bahasa inggris

“practice” berarti menjalankan, mengamalkan, mempraktikkan.52 Pada prinsipnya aplikasi metode praktice adalah kelanjutan dari metode demonstrasi yang dilakukan oleh guru pendidikan agama islam. Praktek merupakan uapaya untuk memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan pengalaman secara langsung53 Metode Pembelajaran Praktik adalah suatu metode dengan memberikan materi pendidikan baik menggunakan alat atau benda, seperti diperagakan, dengan harapan anak didik menjadi jelas dan mudah sekaligus dapat mempraktikkan materi yang di maksud di dalam masyarakat.54

Metode pembelajaran praktik adalah sebuah metode pembelajaran dimana siswa/peserta didik melaksanakan kegiatan pelatihan atau praktek agar memiliki ketegasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari teori yang dipelajari. Metode ini memberikan jalan kepada peserta didik untuk menerapkan, menguji dan menyesuaikan teori dengan kondisi sesungguhnya melalui praktek atau kerja, peserta didik waktu latihan akan mendapatkan pengajaran

52John.M Echolas dan Hassan Sadilly, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama, 2016), hlm. 412.

53Titin Syahrowiyah,”Pengaruh Metode Pembelajaran Praktik Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas IV Sekolah Dasar,”Jurnal Online Studia Didaktika ,Vol. 10, No 2, Tahun 2016 ,hlm. 3. Diakses pada tanggal 18 September 2019. Jam 00.54

54Ibid.,hlm. 3.

yang sangat baik untuk mengembangkan dan menyempurnakan keterampilan yang diperlukan.55

Didalam al-qur’an ada beberapa ayat yang terkait dengan metode praktek antara lain malaikat jibril menyuruh nabi mengikuti bacaan yang dibacanya. Dalam penerimaan wahyu pertama, Nabi Muhammad Saw. Disuruh oleh malaikat jibril untuk membaca lima ayat dalam surah Al-Alaq sebagaimana firman Allah SWT. Sebagai berikut :

⧫◼

◆⧫◼⧫

◼◼⧫

⧫◆◆

⧫

⧫◼⬧

⧫⧫⬧⬧

➔⧫

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589], 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya..56 2. Langkah-Langkah Penggunaan Metode Praktek (Demonstrasi)

a. Tahap Persiapan

1. Menetapkan Tujuan Demonstrasi

2. Menetapkan langkah-langkah demonstrasi

3. Siapkan alat atau benda yang dibutuhkan untuk demonstrasi.

55Ibid.,hlm. 4.

56Qs.Al-Alaq (96):1-5

b. Tahap Pelaksanaan

1. Mendemonstrasikan sesuai sesuai dengan tujuan yang disertai dengan penjelasan lisan.

2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan tanyak jawab

3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan mempraktekkan

c. Tahap Tindak Lanjut dan Evaluasi

1. Menugaskan kepada siswa untuk mencoba dan mempraktekkan apa yang telah diperagakan

2. Melakukan penilaian terhadap tugas tugas yang telah diberukan dalam bentuk karya atau perbuatan.57

3. Keunggulan dan Kekurangan Pembelajaran Metode Praktek a. Menurut Isjoni keunggulan metode praktik adalah sebagai

berikut:

1). Siswa atau peserta didik langsung di hadapkan pada permasalahan yang nyata atau rill yaitu praktek.

2). Keterampilan siswa atau peserta didik meningkat

3). Seorang siswa atau peserta didik benar-benar memahami apa yang disampaikan dalan proses pembelajaran,

4). Diperolehnya perubahan prilaku pada ranah psikomotorik dalam bentuk keterampilan

5). Meningkatkan motivasi dan gairah belajar peserta didik 6). Meningkatkan Kepercayaan diri peserta didik.58

b. Kekurangan metode pembelajaran praktek

57 Supardi, Darwyan Syah dan Eneng Muslihah, Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Diadit Media, 2006), hlm. 116.

58Ummi Rosyidah,”Pengaruh model pembelajaran praktek Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 6 Metro,”Jurnal SAP (Susunan Artikel Pendidikan),Vol 1, Nomor 2, Desember 2016. hlm 119. Diakses Pada Tanggal 16 September 2019, Jam 08.55

1). Memerlukan persiapan yang matang dan biaya yang tinggi dalam menyiapkan bahan-bahan dalam proses pembelajaran 2). Memerlukan guru atau pembimbing yang benar-benar

terampil dalam melakukan pekerjaan yang di praktekkan59 3). Siswa atau peserta didik memerlukan waktu yang relatif

lama dalam mencapai kompetensi dasar yang diperlukan 4). Dalam latihan sering terjadi cara-cara dan gerak gerak yang

tidak berubah sehingga memperlambat inisiatif peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya.

5). Guru pembimbing biasanya meninggalkan ruangan praktek setelah memberi contoh pembelajaran60

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa metode pembelajaran praktik lebih mengembangakn peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dan keterampilan peserta didik dapat meningkat61

2. Hasil Belajar

Dalam KBBI hasil memiliki beberapa arti “sesuatu yang diadakan oleh usaha, atau pendapat, pelolehan, buah, sedangkan belajar adalah perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh

59Ibid., hlm. 120.

60 Esa Nurwahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta, Anzul Media,2007) hlm.24.

61Ibid., hlm. 28.

pengalaman.62Sedangkan pengertian hasil menunjukkan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan infut secara fungsional.63 Secara umum Abdurrahman menjelaskan bahwa belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Atau anak-anak yang berhasil dalam belajar adalah berhasil dalam mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional.64

Adapun yang dimaksud dengan belajar menurut James O, Wittaker:

Learning my be difined as the proces by which behavior originates or altered training or experience’ Belajar adalah proses dimana tingkah laku harus ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pemahaman.65 Sedangkan menurut Chaplin: Acquisitions of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience” Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap atau permanen sebagai akibat latihan dan pengalaman.66

Adapun definisi belajar yang lebih kompleks adalah sebagaimana yang diucapkan oleh robert yang mendefinisikan belajar dalam dua pengertian sebagai berikut: 1). Laerning as the process of acquiring knowledge. Belajar adalah sebagai proses memproleh ilmu pengetahuan.

62Tim Penyusun Pusat Bahasa (Mendikbut), Kamus Besar Bahasa Indonesia ,(Jakarta, Balai Pustaka,Ed 3,Cet 4, 20017) hlm. 40 dan 121.

63Ibid., hlm. 125.

64Mulyono Abdurrrahman, Psikologi Pendidikan (Medan, Perdana Publishing ,2012,) hlm.39.

65James O Wittaker, Introductions in Psychology,( Tokyo:Toppan Company Limited, 1997) hlm.15.

66 Chaplin P.J Dictionary Of Psycilogy (New York ; Dell Publishing Co Inc, 1972), hlm 24

2). Learning is relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice”. Belajar sebagai suatu perubahan kemampuan beraksi yang relatif langgeng sebagai hasil yang di perkuat.67 Belajar adalah suatu usaha, yang berarti adalah suatu perubahan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, sistematis, dengan memberdayakan semua potensi yang dimiliki, baik fisik maupun mental. Adapun tujuan pembelajaran menurut Mardianto adalah sebagai berikut:

1). Belajar bertuan untuk mengadakan perubahan didalam diri antara lain perubahan tingkah laku diharapkan kearah fositif dan kedepannya.

2). Belajar juga bertujuan untuk mengadakan perubahan sikap, dari sikap negatif menjadi positif, dari sikap tidak hormat menjadi hormat dan lain sebagainya.

3). Belajar juga bertujuan mengadakan perubahan kebiasaan, dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Kebiasaan buruk yang bisa dirubah tersebut untuk menjadi bekal seseorang agar ia dapat membedakan mana yang dianggap baik ditengah-tengah masyarakat untuk dihindari dan mana pula yang harus dipelihara.

4). Belajar bertujuan mengadakan perubahan pengetahuan tentang berbagai bidang ilmu, misalnya tidak tahu membaca menjadi tahu membaca, tidak dapat menulis menjadi dapat menulis, tidak dapat berhitung menjadi tahu berhitung dan lain sebagainya.

67 Muhammad Muchlis Sholihin,” Belajar dan Mengajar Dalam Pandangan Al- Ghozali”,Jurnal Tadris, Vol 1, Nomor 2, Tahun 2016 . hlm. 139. Diakses Pada Tanggal 16 September 2019, Jam 10.01.

5). Belajar dapat mengadakan perubahan dalam hal keberhasilan, misalnya keterampilan olahraga, bidang kesenian, bidang tehnik dan lain sebagainya.68

Hasil belajar sering kali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan yang sudah diajarkan. Dimyati dan Mudjiono, menjelaskan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai dalam bentuk angka atau skor setelah diberikan tes hasil belajar kepada siswa dalam waktu tertentu. Hasil belajara merupakan hasil akhir setelah mengalami proses pembelajaran perubahan tersebut nampak dalam perbuatan yang dapat diamati dan dapat diukur.69

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar sisea secara garis besar terbagi menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal:

1. Faktor Internal

a. Faktor fisiologis siswa seperti kondisi kesehatan dan kebugaran fisik, serta kondisi panca inderanya terutama penglihatan dan pendengarannya.

b. Faktor psikologis siswa seperti minat, bakat, intelegensi, motivasi dan kemampuan-kemampuan kognitif seperti kemampuan persepsi, agama, berfikir serta kemampuan dasar pengetahuan yang dimiliki.

2. Faktor –faktor eksternal siswa a. Faktor lingkungan siswa

68 Mardianto, Psikologi Pendidikan (Medan,Perdana Publishing,2012), hlm. 39-40

69Ibid., hlm. 42.

Faktor ini terbagi dua yaitu pertama, faktor lingkungan alam atau non sosial seperti keadaan suhu, kelembaban udara, waktu (pagi, siang, sore dan malam) letak madrasah dan sebagainya. Kedua faktor lingkungan sosial seperti manusia dan budayanya.

b. Faktor instrumental

Yang termasuk faktor instrumental antara lain gedung atau sarana fisik kelas, sarana atau alat pembelajaran, media pembelajaran, guru dan kurikulum atau materi pembelajaran serta strategi pembelajarannya.70

Adapun menurut muhibbin syah faktor-faktor yang mempengaruhi belajar peserta didik yaitu

1. Faktor internal yang meliputi dua aspek yaitu:

a. Aspek fisiologis b. Aspek psikologis 2. Faktor eksternal meliputi

a. Faktor lingkungan sosial b. Faktor lingkungan nonsosial71 3. Pembelajaran Fiqih

1). Pengertian Pembelajaran Fiqih

Fiqih menurut bahasa berti “paham”, seperti dalam firman Allah SWT. “Maka mengapa orang-orang itu, (Orang Munafik) hampir-

70Endang Setyawati,”Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Model Discovery Learning Siswa Kelas VII SMP Gendang Anak 12”, Jurnal Kajian Teori dan Praktek Kependidikan, Vol 3, Nomor 1, Juni 2018,hlm 710. Diakses pada tanggal 16 September 2019. Jam 17.46

71Mardianto, Psikologi Pendidikan..., hlm. 45.

hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun”.Qs.An-Nisa:78.

Rasulaullah salaullah hu’alaihi wasallam bersabda”sesungguhnya panjangnya sholat dan pendeknya khutbah seseorang, merupakan tanda akan kepahamannya”72 Sedangkan Fiqih secara istilah mengandung dua arti yaitu:

a) Pengertian tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan perbuatan dan perkataan mukallaf (mereka yang sudah terbebani menjalankan syariat agama), yang diambil dari dalil-dalilnya yang bersifat terperinci, berupa nash-nash al-qur’an dan sunnah serta yang bercabang darinya berupa ijma’dan ijtihad.

b). Hukum-hukum syariat itu sendiri. Jadi perbedaan antara kedua definisi tersebut bahwa yang pertama digunakan untuk mengetahui hukum-hukum (seperti seorang ingin mngetahui apakah suatu perbuatan itu, wajib atau sunnah, haram atau makruh, ataukah mubah yang ditinjau dari dalil-dalil yang ada). Sedangkan yang kedua adalah untuk hukum-hukum syari’at itu sendiri, ( Yaitu hukum apa saja yang terkandung dalam sholat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya berupa syarat-syarat, rukun-rukun, kewajiban- kewajiban atau sunnah-sunnahnya).73

Ilmu fiqih menjadi penting dipelajari oleh umat islam untuk mengetahui petunjuk-petunjuk hidup yang diamalkan dalam kehidupan

72Muhammad Salman Ghanim,Kritik Ortodoksi: Tafsir Ayat Ibadah, Politik dan Feminisme, (Yogyakarta: LKiS, 2000),hlm. 7-8

73Mahathir Muhammad Iqbal,”Merumuskan Konsep Fiqih Islam Persfektif Indonesia”Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum, Vol 2, Nomor 1, Januari- Juni 2017, hlm. 2. Diakses pada tanggal 16 September 2019. Jam 18.26

sehari-hari. Oleh karena itu, mata pelajaran fiqih merupakan pelajaran wajib yang harus di tempuh siswa siswi yang ada di madrasah.

Sedangkan di sekolah-sekolah umum, fiqih sudah menjadi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Adapun materi yang dipelajari pada mata pelajaran Fiqih khususnya untuk Madrasah Aliyah kelas X semester 1 adalah Konsep Fiqih dan Ibadah dalam Islam, Pengurusan Jenazah dan Hikmahnya, Zakat, Haji, Umroh, Qurban, Hibah, Sedekah dan Hadiah, Wakallah, Sulhuh, Damman, Kafalah, Riba, Bank dan Asuransi. Sehingga pada kelas X siswa harus sudah mampu memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh sekolah tersebut. Akan tetapi yang lebih penting adalah siswa harus mampu memahami dan mengamalkan apa yang telah ia peroleh di sekolah dan mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Jika kita perhatikan kitab-kitab Fiqih yang mengandung hukum- hukum syariat yang bersumber dari Allah SWT. Sunnah Rosulnya serta ijma’dan ijtihad para ulama kaum muslimin, niscaya kita dapati kitab- kitab tersebut terbagi menjadi tujuh bagian, yang kesemuanya membentuk satu undang-undang umum bagi kehidupan manusia baik bersifat pribadi maupun bermasyarakat yang perinciannya sebagai berikut:

1. Hukum yang berkaitan dengan beribadah kepada Allah. Seperti Wudhu, Sholat, Puasa, Haji dan yang lainnya dan ini disebut dengan Fiqih Ibadah.

2. Hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah kekeluargaan.

Seperti pernikahan, Talaq, Nasab, Persusuan, Nafkah, Warisan, dan yang lainnya. Dan ini disebut dengan Fiqih Al-Ahwal As Syasyiyah.

3. Hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan hubungan diantara mereka seperti jual beli, jaminan sewa menyewa, pengadilan dan lain sebagainya. Dan ini disebut sebagai Fiqih Muamalah.

4. Hukum-hukum yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban pemimpin (Kepala Negara) seperti menegakkan keadilan, memberantas kedzoliman, dan menerapkan hukum-hukum syariat serta berkaitan dengan kewajiban-kewajiban rakyat yang di pimpin seperti kewajiban yang taat yang bukan dalam hal maksiat lainnya dan ini disebut dengan Fiqih Syiasyah Syariah

5. Hukum-hukum yang berkaitan dengan pelaku kejahatan serta penjaan keamanan dan ketertiban. Seperti hukuman terhadap pembunuh, pencuri dan pemabuk dan lain sebagainya ini disebut dengan Fiqih Al-Ukubat.

6. Hukum-hukum yang mengatur hubungan negeri islam dengan negeri lainnya. Yang berkaitan dengan pembahasan perang atau damai dan lainnya. Dan ini dinamakan dengan Fiqih As-syiar.

7. Hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlak dan perilaku, yang baik maupun yang buruk dan ini dinamakan dengan Adab dan Akhlak.74

Pembelajaran fiqih adalah sebuah proses belajar untuk membekali siswa agar dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum islam secara terperinci maupun menyeluruh baik dalil naqli maupun aqlinya.

Ushul fiqih adalah kaidah-kaidah yang dipergunakan untuk mengeluarkan hukum dari dalil-dalilnya yang terperinci kaidah-kaidah yang menetapkan dalil-dalil hukum. Dalil-dalil yang dimaksudkan adalah dalil-dalil hukum yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas.75

Demikianlah kita dapati bahwa fiqih islam dengan hukum- hukumnya meliputi semua kebutuhan manusia dan memperhatikan seluruh aspek kehidupan pribadi dan masyarakat. Oleh sebab itu fiqih islam hadir untuk memperhatikan aspek tersebut dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia beserta hukum-hukumnya.

2). Objek Pembahasan Fiqih

Mengetahui luasnya objek pembahasan ilmu fiqih berkembang secara terus menerus sesuai dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Objek penting dalam fiqih meliputi beberapa hal diantaranya:

1. Hubungan manusia dengan Tuhan dan Rosulnya

74Mahathir Muhammad Iqbal,”Merumuskan Konsep Fiqih Islam Persfektif Indonesia”...., hlm. 3-4.

75Rachmat Syafe’i, M.A,Ilmu Ushul Fiqih,(Jawa Barat,CV Pustaka Setia,2015), hlm. 25

2. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri

3. Hubungan manusia dengan keluarga dan tetangganya.

4. Hubungan manusia dengan orang lain yang tidak beragama

5. Hubungan manusia selain dengan makhluk hidup selain manusia (Hewan)

6. Hubungan manusia dengan benda-benda mati dan alam sekitar

7. Hubungan manusia dengan lingkungannya

8. Hubungan manusia dengan akal pikiran dan ilmu pengetahuannya

9. Hubungan manusia dengan alam ghoib (Dunia yang tidak kelihatan, jin setan, surga, neraka dan lain sebagainya).76 Sedangkan objek kajian kami dalam penelitian ini berkaitan dengan mata pelajaran Fiqih adalah pada materi Zakat dan hikmahnya serta pada materi Haji dan umroh. Dimana dalam menjelaskan materi Haji dan Umroh lebih baik menggunakan alat peraga dengan model pembelajaran langsung dengan metode praktek, maka dari itu peserta didik akan sangat mudah mengingat dan terampil dalam mempragakan alat peraga yang sudah disiapkan sebelumnya.

3). Manfaat dan Tujuan Mempelajari Fiqih di MA

Tidak ada perbuatan yang dilakukan didunia ini tidak bernilai manfaat selagi hal tersebut baik dan bermaafaat. Adapun manfaat yang dapat diambil dari pembelajaran Fiqih di MA adalah dapat menambah wawasandan khazanah keilmuan peserta didik dalam mengetahui hal- hal yang berkaitan dengan ibadah maupun muamalah. Dan mengetahui hukum-hukum syar’i akan sesuatu supaya dalam mengerjakan kegaiatan dapat terarah.

76Ibid., hlm. 28.

B. Penelitian Yang Relevan

Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain penelitian yang dilakukan oleh Riska Agus Wilanda menerangkan bahwa persentase aktivitas guru mengalami peningkatan 67,8% pada siklus 1 menjadi 82,1% pada siklus II. Aktivitas siswa mengalami peningkatan 70,8%

pada siklus I dan menjadi 87,5% pada siklus II. Hasil tes mata pelajaran mengalami peningkatan dari hasil tes tersebut dapat di simpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran langsung dengan metode praktek dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Mts Sutanan. Kec. Magersari Kota Morjokerto. Dan penelitian ini dapat di katakan berhasil terlihat jelas perbedaan antara siklus I dengan II dan terdapat kenaikan yang signifikan dari siklus I ke siklus II.77

Penelitian yang dilakukan oleh Anita Fitria Purnama juga menerangkan bahwa Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa antusias mengikuti pembelajaran dan mandiri dalam kegiatan belajar mengajar menggunakan model pembelajaran langsung berbantuan modul serta adanya pencapaian kompetensi belajar siswa berdasarkan KKM, nilai rata-rata kelas setelah diberi tindakan siklus I sebesar 12.49% dari 68.87 (ketuntasan KKM : 54.8%) menjadi 77.29 (ketuntasan KKM : 83.9%), setelah tindakan siklus II meningkat 15.07% dari 77.29 menjadi 88.94 (ketuntasan KKM : 100%). Uraian di atas menunjukan bahwa model pembelajaran langsung berbantuan modul dapat diterapkan

77Riska Agus Wilanda ”Penerapan Model Pembelajaran Langsung Dengan Metode Praktek Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Tema Peristiwa Di Sekolah Menengah Pertama” E-jurnal, Volume 02, Nomor 03, Tahun 2014, hlm. 1. Diakses Pada Tanggal 24 Desember 2019 Jam 08.09.

pada materi pembuatan pola busana anak dan dapat meningkatkan pencapaian hasil kompetensi belajar siswa.penelitian ini dikatakan berhasil, sebab ada peningkatan yang signifikan dari siklus I ke siklus II.78

Perbedaan dari kedua penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah subyek, materi yang digunakan, fokus penelitian serta strategi yang digunakan.

Berdasarkan masalah yang dihadapi siswa tersebut, peneliti akan memfokuskanpenelitian pada peningkatan hasil belajar siswa di kelas X IPS II MAN 1 Kota Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020. Sebagai subjek penelitiannya.

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan beberapa penelitian pendukung di atas maka hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah penerapan Model Pembelajaran Langsung Dengan Metode Praktek Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Fiqih di Kelas X IPS II Madrasah Aliyah Negeri 1 Kota Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020.

78Anita Fitria Purnama “Implementasi Model Pembelajaran Langsung Berbantuan Modul Dalam Pencapaian Kompetensi Pembuatan Pola Busana Anak Di SMK 3 Pacitan” ( Skripsi Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta 2012), Diakses Pada Tanggal 24 Desember 2019 jam 08.56.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MAN 1 Kota Mataram, pada kelas X IPS II, semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Dengan jumlah siswa 42 orang siswa dengan melakukan penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hal ini di dasarkan dari hasil observasi yang menunjukkan rendahnya hasil belajar siswa di MAN 1 Kota Mataram pada kelas X IPS II. Pembelajaran di kelas memang aktif tapi tingkat kerja sama atau kerja kelompok yang kurang karena banyaknya jumlah siswa didalam kelas sehingga lebih bersifat individuallistis.

B. Sasaran Penelitian

Sasaran dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X IPS II, Semester ganjil yang berjumlah 42 orang di MAN 1 Kota Mataram. Adapun target

yang ingin di capai peneliti dalam penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran langsung dengan metode praktek pada mata pelajaran Fiqih kelas X IPS II di MAN 1 Kota Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020.

C. Desain PTK

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) Yaitu:

penelitian yang dilaksanakan oleh guru atau pendidik di dalam kelas dan dilakukan secara terstruktur dalam rangka memecahkan masalah melalui serangkaian aktivitas dan akhirnya masalah tersebut dapat terpecahkan.

Penelitian tindakan kelas juga disebut sebagai penelitian praktis karena dilakukan oleh mereka yang mempraktikkan sesuatu yaitu: praktik di dalam kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam 2 siklus dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam suatu proses yang runtut dan terdiri dari empat tahapan, yaitu: perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan atau evaluasi (observations/evaluations), dan refleksi (reflection), sebagai sebuah upaya untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Keempat tahapan tersebut dilakukan dalam siklus I maupun siklus II.79

Kita mengenal ada beberapa jenis penelitian tindakan kelas, dua diantaranya yang umum dikenal adalah Penelitian Tindakan Kelas Individual (Individual Classroom Actions Reserc) dan Penelitian Tindakan Kelas Kerja Sama (Collaborative Classroom Actions Resect). Kemmis dan Mc.Taggart

79Tatang Arya Gumanti,Yunindar,Syahruddin,Metode Penelitian Kelas,( Jakarta : Mitra Wacana Media, 2016),hlm.254.

38

Dokumen terkait