PELANGGARAN LALU LINTAS
C. KENDALA BERKEMBANGNYA SELF REGULATION PADA REMAJA
MATERI III
AKIBAT PELANGGARAN LALU LINTAS
A. Akibat Pelanggaran Lalu Lintas
Banyaknya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengendara menyebabkan meningkatnya jumlah kecelakaan (Melasari, 2017). Di negara maju, kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama kematian untuk semua kelompok umur (Enggarsasi & Sa’diyah, 2017). Terjadinya pelanggar an lalu lintas salah satunya didasari oleh keberanian untuk melanggar
karena adanya mentalitas bahwa setiap masalah dapat diselesaikan secara “damai”
dengan Polantas, adanya budaya menerabas dan pudarnya budaya malu bahkan bagi sebagian orang menjadi kebanggan
tersendiri apabila dapat mengelabui Polantas atau melanggar rambu- rambu lalu lintas (Hendratno, 2009: 501), dan juga akibat kelalaian pengemudi sendiri. Berbagai pelanggaran lalu lintas sangat sering kita lihat di berbagai tempat, bukan hanya terjadi di pemberhentian lampu merah saja. Bisa saja terjadi di trotoar, zebracros dan bahkan kesalahan tersebut dilakukan bukan di sengaja.
Perilaku ketidakdisiplinan dalam berlalulintas seperti mengendarai kendaraan melebihi batas kecepatan yang ditentukan, menerobos lampu lalu lintas, melewati marka pembatas jalan, tidak
Materi 3
Akibat Pelanggaran Lalu Lintas dan Self Regulation Remaja dalam Menghadapinya
melengkapi alat keselamatan seperti halnya tidak menggunakan helmet, spion, lampu- lampu kendaraan, ketidaklengkapan surat- surat kendaraan bermotor, tidak taat membayar pajak, menggunakan kendaraan tidak layak pakai (Sadono, 2015). UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Undang-undang baru ini mengatur lebih tegas tentang jalan raya. Kemunculan undang- undang baru ini tentu saja menerbitkan sebuah harapan terciptanya lalu lintas yang tertib dan ramah bagi para pengguna jalan.
Kecelakaan lalu lintas sendiri dapat menyebabkan luka-luka hingga kematian pada manusia (Dewi & Zain, 2016). Kecelakaan lalu lintas tidak hanya menyebabkan kematian dan kerusakan kendaraan bermotor, tetapi juga telah mengakibatkan penyakit yang serius dan kecacatan. Banyak dari remaja yang belum mengetahui konsekuensi yang jelas dari pelanggaran lalu lintas itu sendiri. Mereka juga kurang merasa adanya manfaat yang baik yang diperoleh bila tidak melanggar lalu lintas.
B. Faktor Penyebab Pelanggaran Lalu Lintas
Pelanggaran lalu lintas masih sering terjadi baik di kota besar sampai wilayah pedesaan. Padahal pemerintah sudah menetapkan aturan-aturan dalam berkendara, tapi masih ada saja yang melanggar aturan tersebut. Kebanyakan pelanggaran itu terjadi karena unsur kesengajaan untuk
melanggar hingga
ketidaktahuan atau pura- pura tidak tahu terhadap aturan yang berlaku.
Beberapa faktor yang bisa menyebabkan pelanggaran lalu lintas ataupun
kecelakaan di jalan raya itu terjadi, yaitu: faktor human error atau kesalahan manusia, faktor mechanical failure atau kesalahan teknis kendaraan, faktor kondisi jalanan, dan faktor cuaca (Enggarsasi &
Sa’diyah, 2017). Selain itu masih ada beberapa faktor penyebab pelanggaran lalu lintas. Berikut ulasan selengkapnya.
1. Kurangnya kesadaran dan perilaku masyarakat
Perilaku yang membudaya dari pengguna jalan merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kondisi lalu lintas. Seperti etika, toleransi antar pengguna jalan dan kematangan dalam pengendalian emosi terbilang masih rendah. Kemudian perilaku berkendara yang hanya patuh jika ada polisi. Kalau polisi tak terlihat, langsung tancap gas sampai melanggar aturan yang ada.
Cuek dengan keselamatan orang lain dalam berkendara juga termasuk dalam kesadaran yang minim. Jalan raya nggak cuma dipakai satu atau dua orang saja, tapi semua orang berhak menggunakannya. Setiap pengguna jalan harus punya rasa tanggung jawab demi keselamatan orang lain juga.
Semua itu tergolong ke dalam kesadaran masyarakat dalam berkendara yang masih minim. Perlu diketahui, respons dan interaksi yang positif dari pengguna jalan bisa menciptakan kondisi lalu lintas lebih kondusif, aman dan nyaman.
2. Pengetahuan Soal Marka, Rambu dan Peraturan yang Minim
Menjadi salah satu faktor utama penyebab pelanggaran lalu lintas adalah minimnya pengetahuan soal aturan, marka hingga rambu-rambu yang ada. Kurangnya kesadaran untuk mencari tahu
arti dari marka, rambu dan peraturan lalu lintas yang berlaku membuat pelanggaran terus terjadi berulang-ulang. Itulah sebabnya kalau bikin SIM jangan mau yang instan. Dengan mengikuti semua prosedur dalam bikin SIM, setidaknya pengetahuan soal aturan, marka dan rambu-rambu lalu lintas bisa kembali dipahami.
3. Kebiasaan Mencari Jalan Pintas
Kebanyakan orang melanggar rambu-rambu lalu lintas karena sudah terbiasa mencari jalan pintas. Kebiasaan ini semakin didukung dengan alasan "lebih cepat sampai tujuan". Tak jarang muncul pemikiran kalau adanya rambu lalu lintas justru menghambat perjalanan mereka, yang akhirnya kebiasaan itu jadi pembenaran diri. Aturan-aturan yang ada pun dianggap tidak perlu. Kebiasaan seperti ini sebenarnya membuat para pelanggar nekat melawan aturan yang akhirnya mempersulit diri sendiri.
4. Fenomena ikut-ikutan pengendara lain
Faktor yang mendorong seseorang melanggar aturan rambu lalu lintas disebabkan
adanya konformitas. Hal ini merupakan perubahan perilaku seseorang untuk mengikuti orang lain yang menurutnya benar alias suka ikut-ikutan. Pernah lihat kan gerombolan pemotor yang masuk jalur
busway? Biasanya itu terjadi karena ada satu ada dua orang yang jadi pelopor masuk ke jalur terlarang itu. Kemudian disusul oleh pengendara lain, akhirnya jalur busway dipenuhi oleh para pemotor.
5. Kondisi jalan
Berbagai kondisi jalan juga menjadi salah satu penyebab terjadinya pelanggaran. Seperti jalan yang rusak, kurangnya marka atau rambu-rambu lalu lintas, alat pengawas atau pengamanan jalan serta fasilitas pendukung lainnya. Di kota-kota besar mungkin faktor ini jarang ditemui. Lain hal dengan di pedesaan atau kawasan lainnya, mungkin masih ada kondisi jalan yang tidak memadai. Namun semua itu bisa dikurangi dengan rekayasa jalan sehingga dapat memengaruhi tingkah laku para pengguna jalan, mengurangi serta mencegah tindakan yang membahayakan keselamatan dalam berlalu lintas. Dalam berkendara, kita tidak perlu mengenal situasi jalan aman atau tidak dari polisi, jauh atau dekat bahkan penting atau tidak dalam melengkapi syarat keamanan dalam berkendara. Sebagaimana aturan lalu lintas itu dibuat, sudah sepatutnya untuk dipatuhi demi alasan keselamatan dan kenyamanan dalam berlalu lintas.
C. Kendala Berkembangnya Self Regulation Pada Remaja
Self regulation dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana seseorang melakukan strategi dengan meregulasi kognisi, metakognisi, dan motivasi. Apabila seorang remaja memiliki self regulated yang tinggi maka ia mampu merencanakan kegiatan sehari- hari, mampu mengatur diri, serta dapat memonitor kegiatannya, dan melakukan evaluasi kegiatannya. Sebaliknya, apabila seorang remaja memiliki self regulated yang rendah maka ia akan kesulitan untuk membuat suatu perencanaan kegiatan sehari-hari, kesulitan mengatur diri, kesulitan mengontrol kegiatannya, dan kesulitan dalam mengevaluasi kegiatan.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang kurang mampu untuk mengembangkan self regulation.
1. Kurangnya pengalaman belajar dari lingkungan sosial adalah faktor yang pertama yang menyebabkan kegagalan seseorang dalam mengembangkan self regulation. Seringkali mereka mengalami kesulitan untuk mengembangkan self regulation disebabkan mereka tumbuh di rumah atau lingkungan yang tidak mengajarkan mereka untuk melakukan self regulation, tidak diberikan contoh, atau pun tidak diberikan reward (Brody, Stoneman, Flor, 1996 dalam Boekaerts, 2000).
2. Batasan kedua yang menghambat seseorang dalam mengembangkan kemampuan self regulation bersumber dari dalam dirinya yaitu adanya sikap apatis
(disinterest). Hal ini disebabkan dalam menggunakan teknik- teknik self regulation yang efektif dibutuhkan atisipasi, konsentrasi, usaha, self reflection yang cermat.
Sebagai contohnya, kebanyakan guru akan melaporkan bahwa murid-murid yang tidak aktif di kelas akan menunjukkan prestasi yang kurang dan jarang mengumpulkan tugas-tugas yang
diterimanya (Steinberg, Brown, Dornbusch, 1996 dalam Boekaerts, 2000).
3. Gangguan suasana hati, seperti mania atau depresi adalah batasan ketiga yang dapat menyebabkan tidak berkembangnya self regulation. Sebagai contoh, seseorang yang mengalami depresi cenderung menunjukkan perilaku menyalahkan diri sendiri, salah dalam mempersepsikan hasil perilaku mereka, bersikap negatif (Bandura, 1991 dalam Boekaerts, 2000).
4. Batasan yang keempat yang sering dihubungkan dengan kurang
berkembangnya self regulation adalah adanya learning disabilities, seperti masalah kurang mampu konsentrasi, mengingat, membaca dan menulis (Borkowski & Thorpe, 1994 dalam Boekaerts, 2000).
Sebagai contoh, seorang anak dengan learning disabilities menetapkan goal academic yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak normal, memiliki masalah dalam mengontrol dorongannya, dan kurang akurat dalam menilai kemampuan yang mereka miliki.
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari topik akibat pelanggaran lalu lintas dan self regulation remaja dalam menghadapinya yang telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada harus memahami dan mengetahui self regulation dalam berlalu lintas ?
JAWAB
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
---Selamat Bekerja----
Lembar Tugas Kelompok
Lampiran 3.1
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Pembahasan mengenai akibat pelanggaran lalu lintas dan self regulation remaja dalam menghadapinya, menurut ananda bagaiamana self regulation remaja dalam berlalu lintas, apakah telah sesuai ? jelaskan !
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
2. Bahaya akibat melanggar peraturan berlalu lintas telah ananda pelajari, apa manfaat yang ananda dapatkan serta saran untuk para remaja dalam berlalu lintas ?
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
Lembar Evaluasi
Lampiran 3.2
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√) pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
………
………
………
………
………
………