• Tidak ada hasil yang ditemukan

KIAT MENINGKATKAN SELF REGULATION REMAJA DALAM PENCEGAHAN

C. KIAT MENINGKATKAN SELF REGULATION PADA REMAJA

MATERI IV

KIAT MENINGKATKAN SELF REGULATION

A. Manfaat Mematuhi Peraturan Berlalu Lintas Perilaku tertib berlalu

lintas merupakan sama halnya dengan prilaku disiplin berlalu lintas yang mempunyai kesamaan yaitu aturan yang harus dipatuhi.

Tertib merupakan teratur dan rapi yang tidak lain juga sopan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Selanjutnya lalu lintas

berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dijelaskan bahwa lalu lintas merupakan gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas yang tidak lain ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang yang berupa jalan dan fasilitas pendukung. Mengenai ketertiban berlalu lintas menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 dijelaskan bahwa ketertiban berlalu lintas adalah suatu keadaan berlalu lintas yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan kewajiban setiap pengguna jalan.

Tata cara berlalu lintas di jalan diatur dengan peraturan perundangan menyangkut arah lalu lintas, prioritas menggunakan jalan, lajur lalu lintas, jalur lalu lintas dan pengendalian arus di persimpangan. Perilaku pengendara lalu lintas yang mempengaruhi perilaku berlalu lintas yang diatur dalam Undang-Undang No.22 tahun

Materi 4

Kiat Meningkatkan Self Regulation Remaja dalam Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas

2009 pasal 105 huruf (a) dan (b) yang berisi setiap orang yang menggunakana jalan.

Adapun beberapa manfaat yang didapat ketika mematuhi perarturan berlalu lintas, sebagai berikut :

1. Tiba di tempat dengan Selamat

Mematuhi tata tertib lalu lintas adalah salah satu aspek keselamatan yang diwajibkan pihak kepolisian agar pengendara selamat sampai di tujuan. Pelanggaran atas rambu-rambu di jalan raya bisa berdampak buruk, baik bagi pengemudi, maupun penumpang. Dari mulai terjadi kecelakaan, terlambat sekolah atau kerja, sampai perselisihan dengan pengendara lain.

2. Mencegah Kemacetan Lalu Lintas

Kemacetan lalu lintas yang terjadi dapat membuat Anda akan mengalami berbagai kerugian, salah satunya yakni rugi waktu karena Anda akan berjalan dengan kecepatan yang sangat rendah.

Contohnya di jalan raya pernahkah anda melihat tanda panah terbalik membentuk huruf U? Coba bayangkan, kalau semua pengemudi mengabaikan rambu tersebut, mereka akan berputar arah di lokasi terlarang sehingga membahayakan pengemudi dari arah seberang. Dampak yang lebih parah, bisa menimbulkan kemacetan lalu lintas. Pasalnya, ketika berputar balik, otomatis menghalangi laju kendaraan dari belakang. Efek macet pun dapat terjadi ketika

pengemudi berhenti di kawasan dilarang parkir. Deretan kendaraan di tepi jalan, menjadikan jalur semakin sempit.

Karena itu, mobil harus mengantre

panjang agar bisa melewati.

3. Terhindar dari Kecelakaan Lalu Lintas

Ketertiban berlalu lintas merupakan suatu keadaan berlalu lintas yang berlangsung secara teratur sesuai dengan hak dan kewajiban setiap pengguna jalan (Pasal 1 Angka 32 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan) tertib berlalu

lintas tentunya akan mengurangi angka kecelakaan (Kompasiana, 2019).

4. Menjaga Keselematan Diri dan Orang Lain

Kasus kecelakaan akibat pelanggaran rambu- rambu lalu lintas paling kerap terjadi. Pengemudi sebagai pemakai jalan adalah salah satu bagian utama dalam terjadinya

kecelakaan. Pengemudi mempunyai peran sebagai bagian dari mesin dengan mengendarai, mengemudikan, mempercepat, memperlambat, mengerem, dan menghentikan kendaraan.

Keselamatan di jalan raya adalah hal yang utama. Tak ayal lagi, siapapun yang berada di jalan raya bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri maupun orang lain, terlebih bagi pengendara mobil dan motor. Mereka lah yang lebih sering menjadi berbagai penyebab kecelakaan lalu lintas akibat tidak mengutamakan sikap berhati-hati atau mematuhi aturan lalu lintas di jalanan. Beberapa hal yang perlu dilakukan saat berada di jalan raya yaitu

a. Berhati-hati (baik pejalan kaki dan yang berkendaraan bermotor)

b. Tidak bersikap emosional di jalan raya yang bisa mengganggu konsentrasi para pengguna jalan lainnya

c. Saling menghormati antar para pengguna jalan raya

d. Mematuhi peraturan lalu lintas dan tentunya tidak melanggar regulasi yang ada

e. Mendahulukan pengguna jalan secara berjenjang kebawah di area tanpa rambu-rambu di jalan (dalam artian pengendara mobil mendahulukan pengendara motor, sepeda dan pejalan kaki.

Sementara, pengendara motor mendahulukan pengendara sepeda dan pejalan kaki dan begitu seterusnya).

B. Kiat Meningkatkan Self Regulation Remaja dalam Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas

Setiap orang akan berusaha untuk meregulasi fungsi dirinya dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Winne, 1997 dalam Boekaerts, 2000). Oleh karena itu yang membedakan hanyalah efektivitas dari self regulation itu sendiri. Pada waktu seseorang mampu mengembangkan kemampuan self regulation secara optimal, maka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal. Sebaliknya pada saat seseorang kurang mampu mengembangkan kemampuan self regulation dalam dirinya, maka pencapaian tujuan yang telah ditetapkannya tidak dapat dicapai secara optimal. Ketidakefektifan dalam kemampuan self regulation ini bisa disebabkan oleh kurang berkembangnya salah satu fase dalam proses self regulation terutama pada fase forethought dan performance control yang tidak efektif (Bandura, 1991; Zimmerman, 1998 dalam Boekaerts, 2000).

Berdasarkan perspektif social cognitive, proses self regulation digambarkan dalam tiga fase perputaran : Fase forethought (perencanaan), performance or volitional control (pelaksanaan), self reflection (proses evaluasi). Fase forethought berkaitan dengan proses- proses yang berpengaruh yang mendahului usaha untuk bertindak dan

juga meliputi proses dalam menentukan tahap-tahap untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Fase performance or volitional control meliputi proses-proses yang terjadi selama seseorang bertindak dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada fase sebelumnya.

Fase self reflection meliputi proses yang terjadi setelah seseorang melakukan upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan pengaruh dari respon (feedback) terhadap pengalamannya yang kemudian akan memberikan pengaruh pada fase forethought dalam menetapkan tujuan dan langkah-langkah yang harus dilaksanakannya.

Ketiga fase tersebut terus menerus berulang dan membentuk suatu siklus. Secara ringkas proses yang terjadi dalam ketiga fase tersebut sebagai berikut :

1. Fase Forethought Terdapat dua kategori yang saling berkaitan erat dalam fase Forethought:

a. Task Analysis, yang menjadi inti task analysis meliputi penentuan tujuan (goal setting) dan strategic planning. Goal Setting dapat diartikan sebagai penetapan / penentuan hasil belajar yang ingin dicapai oleh seorang siswa, misalnya memecahkan persoalan matematika selama proses belajar berlangsung (Locke & Lathan, 1990 dalam Boekaerts, 2000).

Goal system dari seseorang yang mampu melakukan self regulation tersusun

secara bertahap.

Proses tersebut dilakukan sebagai regulator untuk mencapai tujuan yang sama dengan hasil yang pernah dicapai.

Bentuk kedua dari task analysis adalah

strategic planning. Strategi ini merupakan suatu proses dan tindakan seseorang yang bertujuan dan diarahkan untuk memperoleh dan menunjukkan suatu keterampilan yang dapat digunakannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. (Zimmerman, 1989 dalam Boekaerts, 2000).

Strategi yang dipilih secara tepat dapat meningkatkan performance dengan mengembangkan kognitif, mengontrol affect, dan mengarahkan kegiatan motorik (Pressley &

Wolloshyn, 1995 dalam Boekaerts, 2000). Perencanaan dan pemilihan strategi membutuhkan penyesuaian yang terus menerus karena adanya perubahan-perubahan baik dalam diri siswa itu sendiri ataupun dari kondisi lingkungan tersebut dilakukan sebagai regulator untuk mencapai tujuan yang sama dengan hasil yang pernah dicapai.

b. Self Motivation Beliefs, yang menjadi dasar task analysis dan strategic planning adalah self motivation beliefs yang meliputi self eficacy, outcome expectation, intrinsic interest or valuing, dan goal orientation. Self eficacy merujuk pada keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk memiliki performance yang optimal untuk mencapai tujuannya, sementara outcomes expectation merujuk pada harapan seseorang tentang pencapaian suatu hasil dari upaya yang telah dilakukannya (Bandura, 1997 dalam Boekaerts, 2000). Sebagai contoh, self eficacy yang mempengaruhi goal setting adalah sebagai berikut: semakin mampu seseorang meyakini kemampuan mereka sendiri, maka akan semakin tinggi tujuan yang mereka tetapkan dan semakin mantap ia akan bertahan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya (Bandura, 1991; Locke & Latham, 1990 dalam Boekaerts, 2000).

2. Fase Performance / Volitional control

a. Self Control Proses self control seperti self instruction, imagery, attention focusing, dan task strategies, membantu siswa menfokuskan pada tugas yang dihadapinya dan mengoptimalkan usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Salah satu perilaku yang dapat diamati pada saat seseorang sedang berada di fase ini adalah saat anak mencoba untuk memecahkan persoalan matematika, anak memperlihatkan verbalisasi dalam mengingat rumus-rumus matematika (self

instruction),

mencoba untuk membentuk suatu gambaran mental secara utuh misalnya dengan cara melakukan proses encoding (imagery) ataupun

mencoba berbagai teknik untuk melatih konsentrasi agar dapat dengan mudah menghapalkan rumus-rumus matematika tersebut (attention focusing).

b. Self Observation Proses Self observing, mengacu pada penelusuran seseorang terhadap aspek-aspek yang spesifik dari performance yang mereka tampilkan, kondisi sekelilingnya, dan akibat yang dihasilkannya (Zimmerman & Paulsen, 1995 dalam Boekaerts, 2000). Penetapan tujuan yang dilakukan pada fase forethought mempermudah self observation, karena tujuannya terfokus pada proses yang spesifik dan terhadap kejadian di sekelilingnya.

3. Fase Self Reflection

a. Self Judgement Self judgement meliputi self evaluation terhadap performance yang ditampilkannya dalam upaya mencapai tujuan dan menjelaskan penyebab yang signifikan terhadap hasil yang dicapainya. Self evaluation mengarah pada upaya untuk membanding informasi yang diperolehnya melalui self monitoring dengan standar atau tujuan yang telah ditetapkan pada fase forethought.

b. Self Reaction Proses yang kedua yang terjadi pada fase ini adalah self reaction yang terus menerus akan memperngaruhi fase forethought dan seringkali berdampak pada performance yang ditampilkannya di masa mendatang terhadap tujuan yang ditetapkannya (Susanto, 2006) .

Dengan terpenuhinya ketiga fase tersebut, diharapkan para remaja dapat mengetahui dan meningkatkan self regulation pada diri mereka.

Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !

Dari topik kiat meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas yang telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada harus memahami dan mengetahui kiat meningkatkan self regulation remaja dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas?

JAWAB

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

………...

---Selamat Bekerja----

Lembar Tugas Kelompok

Lampiran 4.1

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !

1. Setelah mengamati keadaan lalu lintas di jalan ray apa kritik dan saran yang dapat Ananda berikan kepada pihak kepolisian dalam ketertiban berlalu lintas !

………

………

………

………

………

………

………

………

………

………

………

………

………

2. Setelah mengetahui arti self regulation dan pelanggaran lalu lintas, menurut Ananda bagaimana saran Ananda sebagai generasi masa depan untuk dapat meningkatkan self regulation dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas disaat ini?

………

………

………

………

………

………

………

………

………

………

………

………

Lembar Evaluasi

Lampiran 4.2

Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√) pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.

Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.

Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!

https://ikm.pt-medan.go.id/skh

KOMENTAR

………

………

………

………

………

………

Lembar Refleksi

Lampiran 4.3

PENUTUP

Demikian E-book ini disusun, semoga dapat dimanfaatkan oleh Guru BK/Konselor untuk membantu siswa meningkatkan Self Regulation dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas. Panduan ini membahas petunjuk penggunaan yang perlu dipahami oleh Guru BK/Konselor agar bisa membantu siswa meningkatkan Self Regulation dalam pencegahan pelanggaran lalu lintas.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiyasa, G. N. A. (2003). Kajian kriminologis mengenai pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak. 1–18.

Damayanti, R., & Aeni, T. (2016). Efektivitas konseling behavioral dengan teknik modeling untuk mengatasi perilaku agresif pada peserta didik SMP Negeri 07 Bandar Lampung. Konseli: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 03(1), 1–10.

Debora, R. E. (2019). Dukungan Keluarga sebagai penentu perilaku berkendara siswa di SMKN 2 Kediri. 53(9), 1689–1699.

https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Dewi, P. L. A., & Zain, I. (2016). Pemodelan faktor penyebab kecelakaan lalu lintas berdasarkan metode geographically weighted regression di Jawa Timur. Jurmnal Sains Dan Seni, 5(1), D 58-D 64.

Djaja, S., Widyastuti, R., Tobing, K., Lasut, D., & Irianto, J. (2016).

Description of traffic accident in indonesia , year 2010-2014. Jurnal Ekologi Kesehatan, 15(1), 30–42.

Enggarsasi, U., & Sa’diyah, N. K. (2017). Kajian terhadap faktor-faktor penyebab kecelakaan lalu lintas dalam upaya perbaikan pencegahan kecelakaan lalu lintas. Jurnal Perspektif, 22(3), 228–237.

Ernawati, R., & Afdal. (2018). Peningkatan disiplin siswa dalam menaati tata tertib dengan menggunakan teknik modeling melalui layanan penguasaan konten di SMPN 49 Jakarta pada siswa kelas 8 tahun ajaran 2018-2019. Jurnal Selaras: Kajian Bimbingan Dan Konseling Serta Psikologi Pendidikan, 1(2), 81–95.

Fatmaningsih, Z., Sugiharto, D. Y. P., & Hartanti, M. T. S. (2018).

Meningkatkan sikap disiplin berlalu lintas melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing. Indonesian Journal of Guidance and Counseling: Theory and Application, 7(1).

Firman, Karneli, Y., & Harikoa, R. (2018). Improving students’ moral logical thinking and preventing violent acts through group counseling in senior high schools. Advance Science Letters, 1(24), 24–26.

Hamzah, A. (2009). Terminologi hukum pidana. Sinar Grafika.

Handayani, D., Ophelia, R. O., Hartono, W., & Maret, U. S. (2017).

Pengaruh pelanggaran lalu lintas terhadap potensi kecelakaan pada remaja pengendara sepeda motor. E-Jurnal Matriks Teknik Sipil, 838–

843.

Herdiyanto, Y. K., & Karinadan, N. K. G. (2019). Perbedaan regulasi diri ditinjau dari urutan kelahiran dan jenis kelamin remaja bali. Jurnal

Psikologi Udayana, 6(1), 849–858.

https://ojs.unud.ac.id/index.php/psikologi/article/view/47152/28331 Melasari, J. (2017). Jenis pelanggaran dan manuver lalu lintas yang

membahayakan keselamatan pada persimpangan Kota Padang ( Studi Kasus : Simpang Empat Bersinyal M . Hatta Bypass ). Jurnal Teknologi, 7(1), 101–110.

Purwanti, & Natanael. (2016). Video Animasi Stop Motion Sebagai Media Pembelajaran Pada Kampanye Pengenalan Tertib Berlalu Lintas Bagi Remaja Pengendara Sepeda Motor. Jurnal Widyakala, 3.

Rahmawati, S., & Susanti. (2019). Pengembangan Bahan Ajar E-Book Pada Mata Pelajaran Praktikum Akuntansi Lembaga Berbasis Kontekstual Untuk SMK. Jurnal Pendidikan Akuntansi, 7(3), 383–391.

Rakhman, M. Y. N. (2016). Reproduksi Pelanggaran Peraturan Lalu Lintas yang Dilakukakan oleh Pelajar Sekolah Menengah Atas di Kota Surakarta.

Rakhmani, F. (2013). Kepatuhan remaja dalam berlalu lintas. Jurnal Sociodev, 2(1), 1–7.

Ratnasari, F., Kumaat, L. T., & Mulyadi. (2014). Hubungan karakteristik remaja dengan kejadian kecelakaan lalu lintas pada komunitas motor sulut king community (SKC) Manado. 24.

Sadono, S. (2015a). Budaya Kajian Fenomenologis atas Masyarakat Pengendara Sepeda Motor di Kota Bandung SONI. Ilmu Komunikasi Dan Bisnis, 01, 58–70.

Sadono, S. (2015b). Budaya tertib berlalu lintas kajian fenomenologis atas masyarakat pengendara sepeda motor di kota bandung. 151(september 2016), 10–17. https://doi.org/10.1145/3132847.3132886

Santrock, J. W. (2007). Remaja (Edisi Kesebelas) Terjemahan oleh Benectine Widyasinta. Erlangga.

Dokumen terkait