contoh tentang memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja, siswa memperoleh penguatan berupa pujian atau sesuatu yang menyenangkan.
G. Model Konseling Teknik Modeling setting kelompok H. Sasaran Layanan Siswa SMK
I. Waktu 2x45 menit
J. Tanggal Pelaksanaan -
K. Tempat Pelaksanaan Ruangan bimbingan kelompok L. Metode/Teknik Ceramah, diskusi, tanya jawab
dan penugasan
M. Media/Alat “E-Book Pencegahan Pelanggaran Lalu Lintas Melalui Teknik Modeling Setting Kelompok dalam Meningkatkan Self Regulation Remaja”
N. Pelaksana Layanan Guru BK/ Konselor/ Pemimpin Kelompok.
O. Uraian Kegiatan/Pelaksanaan Kegiatan Guru BK/ Pemimpin
Kelompok Kegiatan Peserta didik/
Peserta Layanan 1. Tahap Perhatian (Attention)
1) Mengarahkan peserta layanan untuk duduk melingkar dengan mengatur jarak tempat duduk.
2) Menyapa dengan kalimat yang membuat peserta layanan bersemangat.
3) Mengucapkan salam.
4) Ucapan selamat datang dan terimakasih atas kehadiran anggota kelompok.
5) Memulai pertemuan dengan membaca do`a.
6) Menjelaskan tentang layanan konseling dengan teknik modeling setting kelompok.
7) Menjelaskan tujuan pelaksanaan teknik modeling setting kelompok
8) Perkenalan dengan semua anggota kelompok.
1) Peserta layanan membentuk 'duduk melingkar.
2) Peserta layanan merespon pemimpin kelompok dengan semangat.
3) Menjawab salam.
4) Peserta layanan merespon dengan semangat.
5) Peserta layanan berdo`a bersama.
6) Peserta layanan mendengarkan dengan seksama.
7) Peserta layanan mendengarkan dengan seksama.
8) Semua peserta saling memperkenalkan diri.
9) Menampilkan permainan keakraban (rangkaian nama).
10) Pemimpin kelompok menanyakan kesiapan peserta layanan dalam melaksanakan tugas.
11) Membahas suasana yang terjadi.
12) Memberikan pertanyaan terbuka mengenai topik memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja
13) Meminta anggota kelompok untuk memperhatikan apa yang harus dipelajari nantinya sebelum model diberikan
14) Pemimpin kelompok menayangkan video yang berkaitan dengan memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja.
15) Mengingatkan anggota bahwa kegiatan akan segera memasuki tahap selanjutnya
9) Semua Peserta layanan mengikuti permainan rangkaian nama.
10) Peserta layanan merespon pertanyaan pemimpin kelompok dengan baik.
11) Peserta layanan merespon pemimpin kelompok sesuai dengan suasana yang terjadi.
12) Peserta layanan merespon dan menjawab pertanyaan pemimpin kelompok.
13) Peserta layanan mendengarkan dan memperhatian secara seksama
14) Peserta layanan menonton video secara seksama.
15) Peserta layanan memperhatikan dan mendengarkan secara seksama.
2) Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retention Processes) 1) Menjelaskan kegiatan yang
akan ditempuh pada tahap berikutnya.
2) Menawarkan sambil mengamati apakah para peserta sudah siap masuk pada tahap selanjutnya.
3) Meminta siswa untuk memperhatikan dan merekam peristiwa/model yang diberikan.
4) Meminta siswa untuk menirukan contoh dari model yang telah diberikan melalui video yang ditayangkan.
1) Peserta layanan mendengarkan dan memperhatian secara seksama.
2) Peserta layanan merespon dan menjawab penawaran dari pemimpin kelompok 3) Peserta layanan
memperhatikan model yang diberikan.
4) Peserta layanan menirukan contoh dari model yang telah diberikan.
3) Tahap Proses Reproduksi Motorik (Motor Reproduction) 1) Meminta siswa merasakan apa
yang dirasakan setelah menirukan contoh dari model yang telah diberikan.
2) Mengajak, mengarahkan peserta layanan untuk mengulang perilaku yang ditemukan pada model yang telah diberikan dengan benar.
3) Mengarahkan anggota untuk mengaitkan video yang diberikan dengan keadaan diri masing-masing.
4) Membantu peserta layanan untuk mengemukakan pemahaman yang dimiliki mengenai topik memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja.
5) Mengarahkan kegiatan Tanya jawab antar anggota kelompok yang belum dipahami mengenai topik memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja.
6) Mengajak peserta layanan untuk berdiskusi mengenai model dan materi yang telah diberikan.
7) Menafsirkan penjelasan dari peserta layanan sesuai dengan keadaan diri peserta layanan.
8) Mengarahkan peserta layanan untuk mengisi lembar kerja kelompok.
1) Peserta layanan merespon secara seksama.
2) Peserta layanan mengulang perilaku yang ditemukan pada model yang telah diberikan.
3) Peserta layanan mengaitkan video yang diberikan dengan keadaan diri masing-masing.
4) Peserta layanan mengemukakan
pemahaman mengenai topik memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja.
5) Peserta layanan bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami.
6) Peserta layanan berdiskusi mengenai model dan materi yang telah diberikan 7) Peserta layanan memperhatikan dan menyimak secara seksama.
8) Peserta layanan mengisi lembar kerja kelompok 4) Tahap Penguatan (Motivation)
1) Membantu peserta layanan mengambil keputusan dari topik memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja.
2) Memberikan dukungan dan penguatan kepada peserta layanan terhadap keputusan yang diambil dari topik
1) Peserta layanan mengambil keputusan mengenai topik
memahami arti
pelanggaran lalu lintas pada remaja.
2) Peserta layanan menerima dukungan dan penguatan.
memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja.
3) Mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri.
4) Meminta anggota kelompok mengemukakan kesan dan pesan.
5) Doa Penutup
6) Mengakhiri kegiatan dengan mengucapkan terima kasih dan salam.
3) Peserta layanan memperhatikan dan menyimak secara seksama.
4) Peserta layanan mengemukakan kesan dan pesan.
5) Peserta layanan berdoa bersama
6) Peserta layanan menjawab salam.
P. Evaluasi
1) Evaluasi Proses Penilaian proses dilakukan melalui pengamatan selama mengikuti kegiatan layanan untuk memperoleh gambaran tentang aktivitas anggota kelompok dan efektivitas layanan yang telah diselenggarakan.
2) Evaluasi Hasil Evaluasi setelah mengikuti layanan antara lain.
1) Menilai perubahan perilaku anggota kelompok saat mengikuti layanan
2) Peserta layanan mengisi lembar evaluasi dan lembar refleksi untuk mengetahui pemahaman dan perasaan peserta layanan setelah melaksanakan layanan.
………..…
Mengetahui
Koordinator BK, Guru BK/Konselor
……… ………
NIP. NIP.
A. Arti Lalu Lintas
Pengembangan lalu lintas yang ditata sedemikian rupa dalam satu kesatuan sistem
dilakukan dengan
mengintegrasikan dan mendominasikan unsur yang terdiri dari jaringan transportasi jalan kendaraan
beserta dengan
pengemudinya, peraturan-peraturan dan metode yang sedemikian rupa sehingga terwujud totalitas yang utuh, berdayaguna dan berhasil.
Kata “lalu lintas” dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah berjalan hilir mudik, berhubungan dengan perjalanan (kendaraan dsb).
Sedangkan pengertian lalu lintas menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan didefinisikan sebagai gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan, sebagai prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang yang berupa jalan dengan fasilitas pendukungnya.(Ardiyasa, 2003). Menurut Muhammad Ali, lalu lintas adalah berjalan, bolak balik, perjalanan di jalan. Ramdlon Naning juga menguraikan pengertian tentang lalu lintas yaitu gerak pindah manusia dengan atau tanpa alat penggerak dari satu tempat ke tempat lain.
Tinjauan utama dari peraturan lalu lintas adalah untuk mempertinggi mutu kelancaran dan keamanan dari semua lalu lintas di jalan-jalan.
Materi 2
Memahami Arti Pelanggaran Lalu Lintas Pada Remaja
Berdasarkan pengertian dan definisi-definisi di atas dapat diartikan bahwa lalu lintas ialah setiap hal yang berhubungan dengan sarana jalan umum sebagai sarana utama untuk tujuan yang ingin dicapai. Lalu lintas juga dapat diartikan sebagai hubungan antara manusia dengan atau tanpa disertai alat penggerak dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan jalan sebagai ruang geraknya.
B. Arti Pelanggaran Lalu Lintas
Banyak sekali dijumpai permasalahan yang berkaitan dengan pelanggaran lalu lintas, mulai dari yang ringan hingga yang berat . Pelanggaran lalu lintas terjadi dimana-mana, baik dikota-kota besar maupun kota-kota kecil dalam berbagai macam bentuk. Pelaku pelanggaran lalu lintas mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku melanggar lalu lintas tidak lagi distereotipekan pada figur tertentu. Setiap generasi dapat melakukan perilaku pelanggaran lalu lintas.
Selama ini belum banyak disadari bahwa pelanggaran lalu lintas merupakan salah satu jenis tindak pidana. Suatu pelanggaran dikatakan termasuk tindak pidana bila pelanggaran itu memenuhi semua unsur tindak pidana. Unsur-unsur tindak pidana tersebut adalah perbuatan manusia yang mampu bertanggung jawab, perbuatan itu melawan hukum, dilakukan dengan kesalahan, dan diancam dengan pidana.
Istilah pelanggaran berasal dari dasar kata
“langgar”. Pelanggaran (overtreding; violation;
contravention) secara terminologi berarti perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh
undang-undang pidana dan ditentukan lebih ringan pidananya daripada kejahatan (Hamzah, 2009). Pelanggaran lalu lintas merupakan suatu pelanggaran aturan lalu lintas yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan berlalu-lintas serta dapat mengancam keselamatan pengguna jalan lain juga mengancam keselamatan para remaja yang melalukan pelanggaran itu sendiri (Surya, 2017).
Pengertian lalu lintas dalam kaitannya dengan lalu lintas jalan, Ramdlon Naning menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pelanggaran lalu lintas jalan adalah perbuatan atau tindakan yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang- undangan lalu lintas.
Pelanggaran yang dimaksud di atas adalah pelanggaran yang sebagaimana diatur dalam Pasal 105 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 yang berbunyi : 1. Berperilaku tertib dan/atau 2. Mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan atau yang dapat menimbulkan kerusakan jalan.
Dari semua kendaraan yang melintas di jalan raya, kendaraan bermotor roda dua atau sepeda motor mempunyai resiko lebih tinggi dalam menyumbang kejadian kecelakaan lalu lintas. Cedera tak sengaja akibat kecelakaan kendaraan bermotor lebih banyak menyebabkan kematian di bandingkan dengan tipe cedera yang lainnya. Jumlah kecelakaan lalu lintas akibat
dari kendaraan bermotor dengan jenis kendaraan sepeda motor mengalami kenaikan dari tahu ke tahun daripada jenis kendaraan lainnya seperti mobil penumpang, bus, mobil truk (JKM, 2013).
C. Jenis Pelanggaran Lalu Lintas di Kalangan Remaja Pada kenyataannya,
peraturan lalu lintas masih banyak dilanggar oleh masyarakat, terutama oleh kalangan remaja atau pelajar.
Adanya pelanggaran lalu lintas menunjukkan kurang dipatuhinya Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan dengan baik oleh masyarakat (Fatmaningsih et al., 2018).
Tentunya bukan tanpa alasan undang-undang menentukan perlunya batasan minimal usia, sebab umumnya usia remaja masih memiliki karakter yang labil atau belum memahami etika dan aturan dalam berlalu lintas dengan baik. Pada masa ini, kebanyakan dari mereka lebih mengedepankan sifat individualisme dan egoisme yang tinggi dan sering tidak memperdulikan hak orang lain di jalan (Purwanti &
Natanael, 2016).
Pemahaman dan kematangan psikologis yang kurang matang atau masih labil ini di usia remaja akan beresiko menyebabkan kecelakaan saat berkendara. Kondisi psikologis seseorang pada saat remaja memiliki karakteristik yang labil, sulit dikendalikan, melawan dan memberontak, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, agresif, mudah terangsang serta memiliki loyalitas yang tinggi (Sarwono, 2006).
Pada survey yang dilakukan di 182 negara itu, Indonesia menempati urutan kelima dalam peringkat Negara dengan korba tewas terbanyak akibat kecelakaan lalu lintas. Diatas Indonsia, Negara-negara lain dengan jumlah korban tewas kecelakaan lalu lintas adalah Cina, India, Nigeria, dan Brazil. Kecelakaan lalu lintas melibatkan anak usia remaja tergolong besar. Hal ini, ini terjadi karena mayoritas para pelanggar lalu lintas yang cenderung ugal- ugalan dijalan adalah oknum
remaja dan pemuda (Ratnasari et al., 2014).
Unicef (2012) melaporkan bahwa remaja usia 10 sampai dengan 19 tahun berjumlah 1,2 milyar sedunia dimana bahwa setiap tahun rata- rata 1,4 juta remaja mengalami kecelakaan di jalanan. Masalah perilaku berlalu lintas sudah merupakan suatu fenomena yang umum terjadi di kota-kota besar bahkan di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Padatnya lalu lintas di sekitar tanpa didukung oleh sarana yang baik dan kurangnya kesadaran masyarakat akan disiplin berlalu lintas dapat memicu timbulnya berbagai pelanggaran dan ketidakdisiplinan sehingga terjadi kecelakaan. Kebanyakan remaja mengendarai kendaraan bermotor tidak pernah mem- perhatikan keselamatan berkendaraan baik bagi dirinya maupun orang lain disekitarnya (Debora, 2019).
Di berbagai kota di Indonesia kecelakaan lalu lintas yang sering kali terjadi adalah kecelakaan sepeda motor dimana pengendaranya kebanyakan adalah para remaja sekolah yang suka kebut-kebutan, menyelip-nyelip kendaraan yang ada disekitarnya, hingga menerobos lampu merah karena tidak adanya kesabaran dalam menunggu lampu hijau, ketiadaan pemilikan SIM (Surat Ijin Mengemudi), tidak adanya kelengkapan surat-surat kendaraan, melanggar marka jalan, hingga melawan arus (Purwanti &
Natanael, 2016).
Meski berbagai aturan telah dikeluarkan untuk menertibkan para pengendara, namun pada kenyataannya masih banyak pengguna terutama para remaja tidak mengindahkan aturan-aturan yang ditetapkan, tak jarang kelalaian tersebut merugikan tak hanya para
pengguna melainkan orang lain. Berikut ini beberapa pelanggaran yang sering terjadi dan dilakukan oleh para remaja.
1. Menerobos lampu merah
Lampu lalu lintas atau traffic light merupakan sebuah komponen vital pengaturan lalu lintas. Namun ironisnya, pelanggaran terhadap lampu lintas ini justru menempati urutan pertama sebagai jenis pelanggaran yang paling sering dilakukan pengguna kendaraan bermotor. Sedang terburu-buru serta tidak melihat lampu sudah berganti warna, adalah beberapa alasan yang sering terlontar dari si pelanggar.
2. Tidak menggunakan helm
UU no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan
sudah mengatur
mengenai kewajiban pengendara untuk penggunaan helm berstandar Nasional Indonesia (SNI). Bahkan dalam UU tersebut dengan jelas tertera pula sanksi jika pengemudi tidak mengenai helm, maka ia bisa dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp250.000. Namun, pada prakteknya, lagi-lagi aturan ini sering diabaikan. Rata-rata beralasan, mereka enggan menggunakan helm karena jarak tempuh yang dekat serta merasa tidak nyaman.
3. Tidak menyalakan lampu kendaraan
Pasal 107 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan bahwa pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama kendaraan bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisi
tertentu. Kemudian pada ayat kedua dinyatakan pengemudi sepeda motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari. Pelanggaran sering terjadi, terutama untuk kewajiban menyalakan lampu di siang hari. Rendahnya tingkat kedisiplinan pengguna jalan atau mungkin kurangnya sosialisasi khususnya untuk lampu di siang hari bisa menjadi penyebab seringnya aturan ini dilanggar.
4. Tidak membawa surat kelengkapan berkendara
Aksi tilang yang dilakukan pihak kepolisian juga sering terjadi terhadap pengendara yang tidak membawa surat-surat berkendara seperti Surat Izin Mengemudi (SIM) serta Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Berbagai operasi yang tengah gencar dilakukan aparat acapkali mendapati pelanggaran semacam itu. Banyak diantara mereka yang belum memiliki SIM karena belum cukup usia, namun memaksakan diri untuk mengendarai sepeda motor. Hal ini tentunya bisa membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain.
5. Melawan arus
Di kota-kota besar seperti Jakarta, para pengendara sepeda motor acapkali bersikap seenaknya di jalanan dengan
“melawan arus”.
Mereka seolah tutup
mata dengan adanya pengendara lain yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Beberapa peristiwa kecelakaan yang membahayakan tak membuat jera para pengendara motor lainnya. Contohnya, seorang pengendara motor nekad untuk melawan arus akibat menghindari razia. Akibatnya, istrinya tewas karena jatuh terpental.
Di beberapa titik jalan lainnya di Ibukota, aksi nekad ini juga seringkali terjadi.
6. Melanggar rambu-rambu lalu lintas
Pelanggaran terhadap rambu-rambu lalu lintas acapkali terjadi. Parkir di bawah rambu dilarang parkir serta berhenti di depan tanda larangan stop sudah menjadi aktivitas yang sering dilakukan. Padahal menurut ketentuan pasal 287 ayat (1) UU No.22 tahun 2009, jenis
pelanggaran tersebut bisa terancam hukuman pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500.000.
Namun, nyatanya aturan ini seperti tanpa taring. Mengatasi hal tersebut, pihak kepolisian
juga tengah gencar melakukan penertiban dengan memberikan sanksi kepada pelanggar, seperti melakukan gembok roda, pengembosan ban dan bahkan langsung melakukan penderekan.
7. Menerobos jalur busway
Maraknya kecelakaan akibat aksi nekad pengendara yang masuk ke jalur busway juga tidak membuat pengendara lainnya jera.
Begitu penjagaan dari para petugas mengendur, tindakan indisipliner ini akan kembali berulang. Padahal sanksi yang dikenakan untuk pelanggaran ini juga tidak ringan. Alasan menembus kemacetan seringkali dilontarkan para pelaku pelanggaran tersebut.
8. Penggunaan kendaraan yang tidak memperhatikan aspek keselamatan
Saat ini banyak sekali pengendara yang memodifikasikan kendaraannya namun tidak sesuai dengan standar keamanan.
Mengendarai motor dengan muatan lebih juga masuk dalam kategori ini. Banyak peristiwa kecelakaan karena pengemudi memaksakan kendaraannya dijejali dengan jumlah penumpang yang tidak sesuai kapasitas.
9. Tidak menggunakan spion
Pentingnya kesadaran menggunakan kaca spion saat berkendara seringkali diabaikan. Padahal kaca spion dapat membantu pengemudi untuk memastikan bahwa kondisi saat itu kondusif untuk membelokkan kendaraan. Hal ini juga berguna untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Berdasarkan Undang-Undang No. 2 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 285 ayat 1, pengendara akan ditilang atau didenda sebesar Rp250.000 jika kendaraannya tidak dilengkapi dengan kaca spion.
10. Berkendara melewati trotoar
Seyogyanya trotoar merupakan tempat bagi pejalan kaki.
Namun nyatanya, hak pejalan kaki juga diserobot oleh para pengendara motor. Dengan tanpa merasa bersalah, mereka mengendarai kendaraannya diatas trotoar sehingga memaksa pejalan kaki untuk mengalah dengan alasan menghindari kemacetan. Untuk mengantispasi hal tersebut, saat ini banyak
kampanye uang
menyerukan
pengembalian trotoar sebagai sarana bagi para pejalan kaki.
11. Mengemudikan
Kendaraan Sambil Menelepon
Kebiasaan menggunakan telepon genggam (handphone) saat berkendara. Kegiatan tersebut sangat berbahaya karena mengakibatkan konsentrasi kita terpecah sehingga mengurangi
reaksi saat terjadi hal-hal tak terduga. Kebiasaan seperti ini di lakukan karena penggilan telepon lebih penting. UU LLAJ No 22 Tahun 2009 melarang pengendara kendaraan bermotor berkendara sambil melakukan aktivitas sampingan yang bisa merusak konsentrasi. Aturannya terdapat dalam Pasal 106 ayat (1) menyatakan bahwa setiap pengendara wajib berkendara dengan penuh konsentrasi dan secara wajar. Jika anda mengalami kecelakaan akibat keteledoran pengendara yang bertelepon maka anda bisa menuntut pelaku penyebab kecelakaan tersebut dengan melaporkannya ke polisi.
Saksinya terdapat dalam Pasal 283 UU No. 22 Tahun 2009 yang berbunyi, “ Setiap orang yang
mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu
keadaanyangmengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu Rupiah)."
Kerjakanlah tugas di bawah ini secara kelompok !
Dari Topik memahami arti pelanggaran lalu lintas pada remaja yang telah dibahas, jelaskan mengapa Ananada harus memahami dan mengetahui beberapa jenis pelanggaran lalu lintas dalam kegiatan sehari- hari ananda dan apa saja yang harus Ananda lakukan agar dapat mencegah pelanggaran lalu lintas?
JAWAB
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
………...
---Selamat Bekerja----
Lampiran 2.1 22.1
Lembar Tugas Kelompok
Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan pemahaman Ananda !
1. Setelah membahas mengenai arti pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja, menurut ananda apakah remaja saat ini dapat menjadi generasi tertib berlalu lintas ? jelaskan dan berikan contoh?
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
2. Tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja membuat resah lingkungan masyarakat, menurut ananda hal apa saja yang dapat ananda lakukan untuk mencegah tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas dikalangan remaja ?
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
………
Lembar Evaluasi
Lampiran 2.2
Pilih salah satu kolom di bawah ini dengan memberikan tanda (√) pada salah satu emotion yang tersedia, yang mana pilihan tersebut merupakan gambaran suasana diri Ananda setelah mengikuti layanan BK.
Berikan alasan Ananda di kolom komentar. Isilah dengan sejujurnya dan sebaik mungkin, karena hal ini tidak akan mempengaruhi nilai Ananda.
Bahkan kerahasiaan Ananda akan terjamin. Ananda tidak perlu menuliskan identitas Ananda. Selamat bekerja!
https://ikm.pt-medan.go.id/skh
KOMENTAR
………
………
………
………
………
………