• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemimpinan Pembelajaran Berbasis IESQ;

IESQ

5. Kepemimpinan Pembelajaran Berbasis IESQ;

bagaimana cara berinteraksi, dan bagaimana memotivasi mahasiswa; ketiga, organisasi waktu dan mempertimbangkan pada strategi pembelajaran-untuk mempermudah interaksi pembelajaran, sebelum menyusun SAP. Ketiga aspek tersebut penting diperhatikan dosen dalam upaya meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran di dalam kelas.

Hasil focus group discussion, dikemuakan bahwa SAP adalah pedoman dan rujukan dalam pembelajaran sehingga berimplikasi pada, pertama, materi tersaji dengan baik dan runtut; kedua, tujuan mudah dicapai (kompetensi dasar dan indikator). indikator sebagai alat ukur ketika menyajikan satu sub indikator perlu diuji ketuntasan (intelektual, emosional, dan spiritual); ketiga, mudah mengorganisasi waktu, misal: alokasi waktu untuk appersepsi lima menit, membangun minat lima menit, evaluasi awal, proses, dan akhir lima menit, dan seterusnya. SAP diperlukan pengaturan sedemikian rupa, sehingga lebih mudah diterapkan, dan dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas.

membawa SAP setiap tatap muka pembelajaran. Oleh sebab itu, dosen yang memiliki silabus dan SAP, selalu membawanya setiap kali mengajar dan menyampaikan kepada mahasiswa tentang SAP yang akan dilaksanakan.

Tuntutan bagi dosen Prodi PAI adalah adanya konsistensi implementasi tahapan-tahapan pembelajaran sebagaimana terdeskripsikan dalam SAP.

Dalam kegiatan awal pembelajaran, dilakukan appersepsi untuk membangun pola pikir mahasiswa yang sistematis dan linear. Mahasiswa menjadi paham kerangka isi materi kuliah apabila dosen Prodi PAI menghubungkan pelajaran yang lalu dan yang sekarang. Selanjutnya, disampaikan tujuan pembelajaran kepada mahasiswa untuk mengetahui orientasi kegiatan pembelajaran capaian- capaian yang telah dilakukan. Tujuan pembelajaran terdeskripsikan di dalam kompetensi dasar dan lebih spesifik pada indikator kompetensi. Indikator kompetensi inilah yang pada nantinya menjadi objek evaluasi dan perlu diinfokan kepada mahasiswa bahwa hari ini menggunakan teknik evaluasi sesuai karakteristik indikator. Komponen ini juga bagian dari objek evaluasi yang dapat dikembangkan ke dalam evaluasi tes atau non test dan didukung tes alternatif.

Setelah dikemukakan appersepsi dan tujuan pembelajaran, dosen Prodi PAI sebaiknya membangun minat, motivasi, dan visi untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Kemampuan dosen Prodi PAI dalam menghubungkan teori dan realita serta mengkomunikasikan kepada mahasiswa menjadi tuntutan agar mahasiswa tetap konsentrasi menjalani proses pembelajaran di kelas. Dosen membangun minat dan motivasi mahasiswa, melalui wawasan matakuliah, penajaman visi mata kuliah, dan relevansi matakuliah dengan dunia nyata. Teknik-teknik ini

perlu dikomunikasikan kepada anak didik agar tetap konsisten pada minat dan motivasi belajarnya

Kegiatan pertama pada bagian inti yang berbasis IESQ, dosen Prodi PAI sebaiknya mengarahkan penjelasan dan uraian defenisi, cara, contoh, dan seterusnya untuk mengembangkan komponen-komponen setiap kecerdasan.

Hal ini dosen menyajikan materi dengan berbagai strategi, metode, teknik, taktik, dan gaya komunikasi yang dimilikinya, sehingga mahasiswa dapat tetap fokus belajar dan menyerap materi kuliah. Dosen Prodi PAI harus membangun feedback dan sharing dengan mahasiswa di dalam proses pembelajaran, sehingga tercipta diskusi ilmiah, mendorong mahasiswa bersikap kritis terhadap materi bahasan.

Kegiatan ini mahasiswa fokus dan konsentrasi terhadap penjelasan dan uraian yang diberikan dosen.

Dosen Prodi PAI sebaiknya memberikan uraian yang mudah dipahami, sesuai alam pikiran mahasiswa, dan sifatnya menggugah, agar mahasiswa dapat terangsang dan termotivasi serta lebih kritis terhadap materi-materi yang disajikan oleh dosen. Mahasiswa melakukan penguatan eksternal terhadap materi, pendidik meminta jawaban mahasiswa atas masalah yang sesuai materi yang telah diberikan, dosen menyimpulkan materi kuliah yang telah diberikan, dan mahasiswa memperhatikan kesimpulan pendidik dan menjawab pertanyaan serta bertanya hal yang belum jelas, dan selanjutnya dosen memberikan tugas untuk perbaikan dan pendalaman materi

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 19 ayat 1, dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,

menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

b. Dalam kerangka efektivitas dan efisiensi pembelajaran di dalam kelas, diperlukan konsistensi penggunaan waktu sesuai alokasinya yang telah ditentukan. Penggunaan waktu sesuai yang telah disusun dapat berimplikasi pada orientasi dan sistematisasi tahapan kegiatan pembelajaran yang tepat, sehingga kegiatan pembelajaran mudah dievaluasi, baik dari proses maupun hasilnya.

c. Karena tidak ada matriks program pembelajaran yang berbasis IESQ yang didesain dalam kepemimpinan pembelajaran, sehingga dalam penyajian mata kuliah di kelas juga tidak jelas arah dan orientasi aspek IESQ yang akan dikembangkan. Oleh sebab itu, dosen Prodi PAI menyusun matriks pengembangan IESQ sebagai basis kepemimpinan pembelajaran, dan dengan mudah dilakukan evaluasi melalui indikator yang telah ditetapkan.

d. Dalam perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran lebih dominan dalam pengembangan kecerdasan intelektual, berimplikasi pada kegiatan kepemimpinan pembelajaran di dalam kelas, sehingga kepemimpinan pembelajaran juga dominan pada pengembangan kecerdasan intelektual. Oleh sebab itu, dosen Prodi PAI memberikan muatan pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual selama dalam proses interaksi pembelajaran.

Dosen berkreasi dengan memberikan muatan aspek emosional dan spiritual dalam menerjemahkan teori-teori yang disajikan kepada mahasiswa.

e. Dalam proses interaksi pembelajaran antara dosen dan mahasiswa, dosen membangun komunikasi yang efektif dan

menjadikan mahasiswa sebagai subjek dan objek pembelajaran. Mahasiswa diposisikan sebagai partner dalam melakukan eksplorasi keilmuan, dan bersama-sama menerapkan dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan teori yang diterima melalui aplikasi di lapangan, dan dosen memberikan motivasi dan spirit, bahwa aktivitas mahasiswa dalam kegiatan keilmuan adalah bagian dari ibadah dan dapat berimplikasi pada pencerahan di masa akan datang.

f. Dalam kepemimpinan pembelajaran, dosen menciptakan interaksi pembelajaran yang lebih dinamis, menggugah dan menantang mahasiswa untuk berpikir kreatif dan kritis, membuka ruang diskusi kelompok dengan tema aktual, berkompetisi dan mempertanggungjawabkan gagasan kelompok secara ilmiah, saling menghargai setiap ide dan gagasan yang berkembang, bereksplorasi ide dengan tulus, dan bersikap inklusif atas kebenaran serta dosen mengontrol proses dinamika kelas tersebut.

Dosen Prodi PAI di dalam kelas diperlukan menumbuhkan kepemimpinan setiap kelompok agar dapat bertanggungjawab secara berkelompok. Setiap tugas kelompok dirancang sedemikian rupa agar mahasiswa dalam setiap kelompok memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi, sehingga dapat berkembang aspek kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual. Kepemimpinan berkelompok dalam kuliah yang berbasis IESQ, dosen diharapkan mengembangkan aspek-aspek kecerdasan berdasarkan kegiatan dinamika kelompok di kelas.

BAB VIII

BEBERAPA PERNYATAAN PENTING