• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPUASAN KERJA

Dalam dokumen Manajemen Sumber Daya Manusia EKONOMI (Halaman 182-186)

KOMPENSASI DAN KEPUASAN KERJA

C. KEPUASAN KERJA

Kepuasan kerja (job satisfaction) merupakan sikap yang mencerminkan bagaimana seseorang merasakan sesuatu atau ekspresi individu secara umum terhadap pekerjaannya. Seseorang yang memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya berarti memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi dan sebaliknya apabila bersikap negatif terhadap pekerjaannya menunjukkan ketidakpuasan terhadap pekerjaannya.

Kepuasan kerja menurut (Robbins, 2002) adalah “studi sistematis tentang tindakan dan sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang secara umum terhadap pekerjaannya.” Pengertian kepuasan kerja menurut (Hasibuan, 2009) adalah “sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja,

Kompensasi dan Kepuasan Kerja | 173

kedisiplinan dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan.” Sedangkan menurut Davis kepuasan kerja adalah “kepuasan pegawai terhadap pekerjaannya antara apa yang diharapkan pegawai dari pekerjaan/

kantornya.”

a. Variabel Kepuasan Kerja

Ada beberapa variabel yang dapat mempengaruhi sikap dan meningkatkan pekerjaan serta menentukan kepuasan kerja, yaitu:

1. Pekerjaan yang secara mentalitas memberi tantangan

Seorang pegawai biasanya lebih menyukai pekerjaan yang memberinya tantangan. Mereka dapat memiliki kesempatan untuk mengoptimalkan keterampilan dan kemampuan mereka serta menawarkan hasil-hasil pekerjaan dan tugas yang bervariasi, merasakan kebebasan dan mendapatkan umpan balik serta penghargaan tentang seberapa baik capaian kinerja mereka.

Karakteristik-karakteristik mereka yang memiliki kepuasan kerja tinggi cenderung membuat pekerjaan secara mentalitas menantang. Kondisi yang menantang dan pertengahan (sedang-sedang saja) akan membawa pegawai ke dalam situasi yang menyenangkan dan dapat memberikan kepuasan kerja. Sebab apabila tantangannya terlalu kecil akan menyebabkan kebosanan dan sikap meremehkan serta sebaliknya apabila tantangannya terlalu ekstrem justru akan menciptakan frustrasi dan kegagalan.

2. Penghargaan yang layak

Setiap pegawai tentu menginginkan penghargaan yang layak terutama berkaitan dengan sistem penggajian (kompensasi) dan kebijakan promosi (pengembangan SDM). Apabila sistem penggajian dirasakan adil, wajar, sejalan dengan harapan, berbasis tuntutan pekerjaan, disesuaikan tingkat keterampilan, dan sesuai standar gaji masyarakat secara umum, maka kepuasan kerja akan tercapai. Demikian juga apabila kebijakan promosi dalam program pengembangan SDM berjalan secara adil, wajar dan terbuka, tidak membingungkan dan sesuai ekspektasi, maka sama halnya akan mengalami kepuasan dalam pekerjaan mereka.

3. Kondisi kerja yang menunjang

Demikian juga kondisi yang menunjang akan melahirkan sikap dalam bentuk kepuasan kerja. Sebab setiap pegawai akan menaruh perhatian yang sangat besar terhadap lingkungan kerja mereka. Sikap positif para pegawai bisa hadir ketika kondisi kenyamanan pribadi dalam bekerja atau kemudahan untuk melakukan pekerjaan tersedia secara baik. Para pegawai sangat menyukai lingkungan fisik yang aman, nyaman, bersih, dan memiliki tingkat gangguan dan keamanan yang seminimal mungkin. Maka dengan demikian kondisi kerja yang menunjang akan berbanding lurus dengan kepuasan kerja pegawai.

4. Rekan kerja yang mendukung

Selain beberapa kondisi positif di atas yang dapat melahirkan kepuasan kerja, ternyata para pegawai juga menginginkan sesuatu dari pekerjaan mereka yang lebih dari pada sekedar uang atau prestasi yang tampak di permukaan saja. Bagi sebagian besar pegawai ternyata ingin memenuhi kebutuhannya dalam berinteraksi sosial terutama dengan rekan kerja di tempatnya bekerja. Sehingga tidak mengherankan apabila memiliki rekan kerja yang ramah dan suka saling mendukung dapat meningkatkan kepuasan kerja.

b. Kepuasan Kerja dan Produktivitas

Hubungan antara kepuasan dan produktivitas pada dasarnya dapat disimpulkan dalam suatu pernyataan, yaitu “seorang pegawai yang merasa bahagia merupakan seorang pegawai yang produktif”. Artinya tingkat produktivitas seseorang akan bertambah manakala dia merasa bahagia dalam pekerjaannya dan pada gilirannya akan menimbulkan sikap puas terhadap pekerjaannya.

Tetapi sebetulnya efek kepuasan kerja terhadap produktivitas itu sangat kecil, terkecuali diperkenalkan variabel-variabel baru seperti perilaku karyawan tidak dibatasi atau dikendalikan oleh faktor-faktor di luar dirinya maka hubungan positif antara kepuasan kerja dan produktivitas akan terus meningkat.

Dan berdasarkan beberapa kajian dapat terlihat bahwa produktivitas mungkin lebih memberikan kepuasan daripada sebaliknya. Jika pegawai melakukan pekerjaan secara baik dan produktif maka pada hakikatnya

Kompensasi dan Kepuasan Kerja | 175

mereka merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Demikian pula ketika produktivitas akan dibalas penghargaan, maka dengan tingkat produktivitas yang tinggi tentu akan meningkatkan pengakuan secara lisan, penghargaan dengan sikap, meningkatkan angka kompensasi dan gaji, dan kemungkinan akan mendapatkan kenaikan pangkat dan promosi.

Penghargaan-penghargaan tersebut, selanjutnya akan meningkatkan tingkat kepuasan kerja pegawai pada pekerjaannya masing-masing.

c. Kepuasan Kerja dan Kompensasi

Hubungan kepuasan kerja dan kompensasi dapat dilihat dari variabel- variabel keduanya yang saling berkaitan. Variabel kepuasan kerja yang terdiri dari pekerjaan yang secara mentalitas memberi tantangan, penghargaan yang layak, kondisi kerja yang menunjang dan rekan kerja yang mendukung memiliki hubungan dengan variabel kompensasi yang terdiri dari kompensasi langsung dan tidak langsung. Mendapatkan penghargaan yang layak merupakan salah satu bentuk kompensasi langsung berupa gaji dan tunjangan yang akan diperoleh sebagai penghargaan sedangkan pekerjaan yang secara mentalitas memberi tantangan, kondisi kerja yang menunjang dan rekan kerja yang mendukung merupakan bentuk kompensasi tidak langsung.

Dengan demikian antara kepuasan kerja dan kompensasi saling memengaruhi. Seorang pegawai yang secara sikap memiliki tingkat positif yang tinggi terhadap pekerjaannya maka akan memiliki kepuasan kerja yang pada gilirannya akan mendapatkan kompensasi baik langsung mau pun tidak langsung yang layak dan adil. Demikian pula sebaliknya, ketika seorang pegawai mendapatkan kompensasi sesuai harapan dan besarannya dengan kondisi umum (apalagi di atasnya) maka akan melahirkan kepuasan kerja.

Sehingga pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas dan kinerja pegawai. Oleh sebab itu untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja pegawai perlu diperhatikan kompensasi dan kepuasan kerja pegawai.

Sehingga alurnya adalah kompensasi akan berpengaruh langsung terhadap kepuasan kerja dan kepuasan kerja akan berimplikasi terhadap produktivitas dan kinerja pegawai.

Dalam dokumen Manajemen Sumber Daya Manusia EKONOMI (Halaman 182-186)