diperlukan penerapan prinsip-prinsip GCG agar kinerja Bank Nagari menjadi lebih baik. Studi kasus menyimpulkan bahwa GCG yang diterapkan pada Bank Nagari bel urn maksimum yaitu hanya 68,79% dari total 1 00%. Hal terse but dikarenakan kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan GCG antara lain tidak semua unsur yang terkait dengan Bank Nagari memahami konsep GCG dengan baik.
Dati penelitian sebelwnnya tersebut, dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip
GCG sangat penting untuk dilaksanakan secara menyeluruh oleh semua pihak
yang terkait, sehingga dapat mendorong peningkatkan kinerja perusahaan. Akan
tetapi pelaksanaan GCG tersebut belum maksimum sehingga diperlukan kesadaran
dan upaya bersama untuk menjadikan penerapan GCG sebagai budaya perusahaan
dan meningkatkan kinerja.
kesejahteraan para stakeholder yang kemudian dapat berdampak terhadap image perusahaan yang pada akhimya dapat meningkatkan value perusahaan. Akan tetapi dampak dari penerapan GCG tidak dapat secara instan dapat diketahui karena hal terse but merupakan proses dan dampaknya merupakan jangka panjang.
Oleh karena itu, untuk menciptakan perbankan yang sehat dan efisien di masa mendatang. pelaksanaan GCG yang diterapkan pada bank umum harus sesuai dengan PBI No. 8/4/PBV2006, 8/ 14/PBV2006 dan SE No. 9/12/DPNP tentang Pelaksanan GCG bagi Bank Umum yang mencakup antara lain: 1) Pelaksanaan tugas dan fungsi Dewan Komisaris dan Direksi, 2) kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite-Komite, 3) Fungsi Kepatuhan, Auditor Internal dan Ekstemal, 4) Penerapan manajemen risiko, 5) Penyediaan dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana besar, 6) rencana strategis bank, dan 7) transparansi kondisi keuangan dan non keuangan. Ketujuh komponen tersebut akan dijadikan acuan dalam analisis penerapan GCG pada bank umum dan dibandingkan dengan laporan tata kelola masing-masing bank umum yang menjadi sampel penelitian ini.
Sedangkan untuk mengukur tingkat kesehatan bank, maka digunakan rasio-rasio keuangan seperti rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk mengukur kecukupan modal bank (minimum 8%), Non Performing Loan (NPL) untuk melihat banyaknya kredit macet (maksimum 5%), Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) untuk melihat profitabilitas bank dan Loan to Deposit Ratio (LDR)
untuk melihat likuiditas bank, sedangkan untuk mengukur efesiensi bank, maka digunakan rasio Behan Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).
Rasio-rasio untuk bank-bank tersebut dapat dilihat pada Lampiran 5. Cakupan
GCG tersebut dapat digambarkan dalam kerangka berpikir seperti pada GAMBAR 2.3.
Caku.-a Pelaksaoaan Good
~
Gambar 2.3. Kerangka Berpikir
./
./
./
./
./
./
./
Pelaksanaan tugas dan fungsi Dewan Komisaris dan Direksi Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite-komite
Fungsi Kepatuhan, Auditor Internal dan Ekstemal Penerapan Manajemen Risiko
Penyediaan dana kepada Pihak Terkait dan Penyediaan Dana Besar
Rencana Strategis Bank
Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan
Sumber: PBI No. 8/4/PBU2006 dan PBI No. 8/14/PBU1006
L \ '-""'-f':...'i".•~!/1'f1~,.f*.!1~~ ~
lo . . . . ,. ...,_, • ~·~. \~$.·"< t.i.'Jk\ll.~~j.!
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah bank umum. Untuk mencapai tujuan penelitian dengan mempertimbangkan waktu, biaya dan keterbatasan informasi, maka penelitian ini menggunakan sampel bank umum yang sudah terdaftar di BEJ (go public) yang menerbitkan laporan tata kelola perusahaan ( GCG disclosure),
yang merupakan bagian dari laporan tahunan bank, untuk jangka waktu 2005 dan 2006. Kedua tahun tersebut dipilih untuk membandingkan penerapan GCG sebelum dan sesudah PBI No. 8/4/2006 dan PBI No. 8/14/2006 diterbitkan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari website JSX, jumlah bank umum yang terdaftar pada BEJ tahun 2006, yaitu sebanyak 26 (dua puluh enam) bank umum, yang semuanya memiliki laporan tata kelola perusahaan dan rasio-rasio keuangan pada laporan tahunan untuk 2005 dan 2006. Untuk mempermudah analisis, maka sampel penelitian ini akan dikategorikan berdasarkan total aset perusahaan (size), dengan dugaan bahwa bank dengan aset yang lebih besar akan lebih peduli akan penerapan GCG dibandingkan dengan bank dengan aset yang kecil. Kategori sampel bank tersebut dibagi sebagai berikut:
1. kurang dari sepuluh triliun rupiah ( < Rp. 1 0.000.000.000.000), dengan jumlah bank sebanyak 10 (sepuluh) bank;
27
Analisis Penerapan Good Corporate Governance..., Sri Wahyuni Siregar, Ma.-IBS, 2008
2. sepuluh sampai dengan seratus triliun rupiah (Rp. 10.000 .000.000 .000 < x <
Rp. 1 00.000.000.000.000), dengan jumlah bank s ebanyak 1 2 ( dua betas) bank;
dan
3. lebih dari seratus triliun rupiah (> Rp. 100.000.000.000 .000) dengan jumlah bank sebanyak 4 (empat) bank.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini berdasarkan data sekunder yang berupa laporan tata kelola bank dan rasio-rasio keuangan sebagai data tambahan, yang ada pada laporan tahunan bank tahun 2005 dan 2006. Instrumen yang digunakan adalah berdasarkan SE BI No. 9/ 12/DPNP tanggal 30 Mei 2007, yaitu mencakup semua penerapan GCG yang terdiri dari 202 ( dua ratus dua) pemyataan (disclosed GCG implementation) yang dibagi menjadi 9 (sembilan) komponen, sedangkan rasio-rasio keuangan bank digunakan untuk melihat secara umum dampak dari penerapan GCG tersebut terhadap tingkat kesehatan dan efesi ensi perbankan.
3.3. Metode Analisis Data
Metode analisis data penelitian ini adalah deskriptif , yaitu menganalisis
fenomena penerapan GCG yang terjadi pada perbankan nasional sekarang ini, dan
analisis komparatif, yaitu menganalisis data GCG disclosure berdasarkan kategori,
membandingkan bagaimana penerapan dan pengungkapan GCG pada bank dengan
aset:
1. kurang dari sepuluh triliun rupiah ( < Rp. 1 0.000.000.000.000),
2. sepuluh sampai dengan seratus triliun rupiah (Rp. 10.000.000.000.000 < x <
Rp. 1 00.000.000.000.000), dan
3. lebib dari seratus triliun rupiah(> Rp. 100.000.000.000.000),
dan kemudian membandingkan penerapan dan pengungkapan GCG tabun 2005 secara keseluruhan, sebelum PBI diterbitkan, dengan penerapan dan pengungkapan GCG tahun 2006, setelah PBI diterbitkan.
Untuk masing-masing bank, setiap disclosure yang didapat dari laporan GCG akan dibandingkan dengan instrumen penelitian yang disusun berdasarkan SE BI.
Jika sudah diterapkan atau informasi terse but diungkapkan (disclosed), maka akan
diisi "1 ", dan jika bel urn atau informasi tidak diungkapkan (undisclosed), maka
akan diisi "0". Setelah itu dijumlah dan untuk masing-masing bank dapat diketahui
persentase penerapan GCG berdasarkan 7 (tujuh) komponen inti GCG yang dinilai
(yang kemudian dikembangkan lagi menjadi 9 (sembilan) komponen) . Untuk
melibat basil agregat per kategori, maka setiap basil dalam bentuk persentase pada
bank tersebut akan dijumlahkan dan basilnya akan dibagi dengan jumlah bank per
kategori. Hasil dari pembagian akhir tersebut merupakan indikator sejaub mana
informasi penerapan GCG diungkapkan dalam laporan tahunan dan diterapkan
pada perbankan Indonesia. Selain itu, analisis lebih jauh dilakukan dengan
membagi pemyataan ke dalam sembilan komponen, untuk mengetahui bank-bank
mana saja yang mengalami peningkatan, penurunan atau yang tidak ada perubahan
untuk sembilan komponen yang akan dijelaskan lebib lanjut pada bah analisis dan
pernbahasan.
4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian
Sampel penelitian ini adalah bank umum yang terdaftar di BEJ tahun 2006 dengan total jumlah sampel sebanyak 26 ( dua puluh enam) bank urn urn. Sam pel tersebut terdiri dari Bank Persero, Bank Umum Swasta Nasional Devisa, Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa dan Bank Campuran. Penulis mengumpulkan data untuk 2 (dua) tahun, yaitu tahun 2005 dan 2006, sebagai perbandingan penerapan GCG antara sebelum dan sesudah PBI diterbitkan. Berdasarkan penelitian yang bersifat deskriptif, maka penulis akan mendeskripsikan keadaan internal tentang pelaksanaan GCG pada bank umum, yaitu keterbukaan penerapan GCG di dalam perusahaan yang dapat dilihat melalui laporan tahunan bank tahun 2005 dan 2006, dibandingkan dengan instrumen penelitian yaitu SE BI yang merupakan lampiran dari PBI No. 8/4/PBI/2006 dan PBI No. 8/ 14/PBI/2006 tentang pelaksanaan GCG pada bank umum. Untuk mempermudah analisis, maka sampel akan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori berdasarkan total aset perusahaan.
Pembagian kategori ini juga dikarenakan ada dugaan awal bahwa bank dengan aset yang besar lebih peduli akan penerapan dan pelaksanaan GCG dibandingkan dengan bank yang memiliki aset yang kecil, sehingga pembagian kategori tersebut antara lain:
1. kurang dari sepuluh triliun rupiah ( < Rp. 1 0.000.000.000.000);
30
Analisis Penerapan Good Corporate Governance..., Sri Wahyuni Siregar, Ma.-IBS, 2008
Berdasarkan kategori 1 (satu), terdapat I 0 (sepuluh) bank urn urn yaitu : 1) PT Bank Swadesi Tbk., 2) PT Bank Arta Niaga Kencana Tbk., 3) PT Bank Bumi Arta Tbk., 4) PT Bank EksekutifTbk., 5) PT Bank Kesawan Tbk., 6) PT Bank Victoria International Tbk., 7) PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk., 8) PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk., 9) PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk., dan 1 0) PT Bank Mayapada Tbk.
2. sepuluh sampai dengan seratus triliun rupiah (Rp. 10.000.000 .000.000 < x
< Rp. 1 00.000.000.000.000);
Berdasarkan kategori 2 (dua), terdapat 12 (dua belas) bank umum yaitu: I ) PT Bank Artha Graha International Tbk. , 2) PT Bank Century Tbk., 3) PT Bank UOB Buana Tbk., 4) PT Bank NISP Tbk., 5) PT Bank Bukopin Tbk., 6) PT Bank Mega Tbk., 7) PT Bank Lippo Tbk., 8) PT Bank Permata Tbk., 9) PT Bank Pan Indonesia Tbk., 1 0) PT Bank Niaga Tbk., 11 ) PT Bank lntemasional Indonesia Tbk., dan 12) PT Bank Danamon Tbk.
3. lebih dari seratus triliun rupiah(> Rp. 1 00.000.000.000.000);
Berdasarkan kategori 3 (tiga), terdapat 4 (empat) bank umum, yaitu: 1 ) PT Bank Rakyat Indonesia Tbk .,2) PT Bank Negara Indonesia Tbk., 3) PT Bank Central Asia Tbk., dan 4) PT Bank Mandiri Tbk.
Da:ftar bank umum tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1.
4.2. Pembahasan Hasil Penelitian
4.2.1. Rata-Rata Agregat GCG Disclosure
Berdasarkan kategori yang ditentukan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata GCG disclosure untuk kategori 1, yaitu dengan total aset bank kurang dari sepuluh triliun, adalah 33,07% pada tahun 2005 dan 43 , 17% pada tahun 2006.
Untuk kategori 2, rata-rata GCG disclosure bank adalah 55 ,32% pada tahun 2005
dan 65,84% pada tahun 2006. Sedangkan untuk kategori 3, rata-rata GCG
disclosure bank dengan total aset lebih dari seratus triliun adalah 67, 95% pada
tahun 2005 dan 70,79% pada tahun 2006. Rata-rata GCG disclosure terse but dapat
dilihat pada T ABEL 4.1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa GCG yang
diterapkan pada tahun 2006, setelah PBI diterbitkan, meningkat sebesar 10, 10
angka presentase untuk kategori 1, meningkat sebesar 10,52 angka presentase
untuk kategori 2 dan 2,84 angka presentase untuk kategori 3. Perubahan
peningkatan angka presentase pada Kategori 1 dan 2 lebih besar dibandingkan
dengan Kategori 3. Hal tersebut dapat disebabkan karena sebelum PBI diterbitkan,
bank umum pada Ketegori 1 kurang memperhatikan GCG disclosure dan
dampaknya terhadap transparansi perusahaan. Setelah diterbitkannya PBI, bank
umum pada Kategori 1 mulai untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada
sehingga meningkatkan GCG disclosure mereka agar lebih transparan. Akan tetapi
peningkatan pada Kategori 3, untuk tahun 2005 dan 2006 lebih besar dibandingkan
dengan Kategori 1 karena bank umum pada Katcgori 3 terdiri dari 4 (empat) bank
BUMN dan swasta nasional terbesar di Indonesia, yang juga mcrupakan tiln yang
menerapkan GCG pertama kali untuk perbankan Indonesia. Selain itu, pelaksanaan GCG sudah dihimbau oleh Bapepam, khususnya untuk bank yang sudah go public, sehingga bank-bank tersebut sangat concern atas pelaksanaan GCG. Oleh karena itu, transparansi informasi sudah dilakukan jauh sebelum PBI No. 8/4/PBI/2006 ada, hanya saja pengungkapannya bel urn sempuma dilakukan.
TABEL 4.1. RATA-RATA GCG DISCLOSURE PER KATEGORI
KATEGORI TAHUN TAHUN PENINGKATAN 2005 (%) 2006 (
0/o)
<Rp. 10.000.000.000.000 33,07 43 ,17 10, 10
Rp. 10.000.000.000.000 <X < Rp. 55,32 65,84 10,52 100.000.000.000.000
> Rp 100.000.000.000.000 67,95 70,79 2,84
4.2.2. Pembahasan Komponen GCG per Kategori
Seperti yang telah dijelaskan pada bah sebelumnya, penulis menggunakan
instrumen GCG yang berupa SE BI No. 9/12/DPNP, yang terdiri dari 202 (dua
ratus dua) pemyataan yang kemudian oleh penulis dikelompok.kan menjadi 9
(sembilan) komponen. SE BI ini merupakan instrumen yang dikembangkan dari
PBI No. 8/4/PBI/2006 dan PBI No. 8/14/PBI/2006 tentang pelaksanaan GCG bagi
bank umum. Untuk masing-masing komponen terdiri dari beberapa pemyataan dan
persentase untuk masing-masing komponen dari 202 ( dua ratus dua) pemyataan
terse but yang dapat dilihat pada Lampiran 2. 202 ( dua ratus dua) pemyataan
tersebut, seperti tampak pada Gambar 4. 1, dibagi menjadi sembilan komponen
berikut ini :
I. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris ( 15,84 %) 2. Pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Direksi (15,84%)
3. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite (18.81%) 4. Penanganan benturan kepentingan (1,98%)
5. Penerapan Fungsi Kepatuhan Bank, Auditor Internal dan Auditor Eksternal (20,30%)
6. Penerapan Manajemen Risiko termasuk Sistem Pengendalian Intern ( 4,46%) 7. Penyediaan dana kepada Pihak Terkait dan penyediaan dana besar (2,97%) 8. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG
dan pelaporan Internal (14,85%) 9. Rencana Strategis Bank (4,95%)
Gambar 4.1. Persentase Komponen GCG
15. 84" ; "
Komponen
15. 84%
• 1
• 2 1 3
4 • 4
• 5 1 6
• 7
• S
1 9
Gambar 4.2. Perubahan Angka Presentase GCG Disclosure Bank Kategori I
30.00 25.00 20.00 15.00
10.00 8.85 5.00
I
0.00 --
-5.00
+1 -Oi/8
-10.00 -15.00
9.43
I 0.00
3 4
25.93
8~4
0 .83
--
5 6 -1739 8
-10.00
Gambar 4.2 menunjukkan perubahan angka presentase dari rata-rata GCG
disclosure untuk bank Kategori 1. Peningkatan angka presentase tertinggi terjadi
pada Komponen 6, yaitu penerapan manajemen risiko termasuk pengendalian
intern (25,93), lalu diikuti dengan peningkatan pada Komponen 3, yaitu
kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite (9,43), Komponen 1, yaitu
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris (8,85), Komponen 5
yaitu, penerapan fungsi kepatuhan bank (8 ,84) dan peningkatan pada Komponen 8,
yaitu transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG
dan pelaporan internal (0,83). Peningkatan angka presentase pada Komponen 6
terjadi karena bank-bank kecil pada Kategori 1 mulai menerapkan manajemen
risiko pada banknya karena dalam transaksi perbankan risiko hams dapat
diantisipasi. Selain peningkatan, juga terjadi penunman angka presentase pada
Komponen 7, yaitu penyediaan dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana
besar (-1,39), Komponen 2, yaitu pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Direksi (- 0, 78) dan diikuti dengan penurunan angka presentase tertinggi untuk bank umum dalam Kategori 1, yaitu Komponen 9, rencana strategis bank ( -1 0). Rencana strategis bank dirancang 5 tahun sekali. Oleh karena itu, kemungkinan bank-bank pada Kategori 1 tidak mengungkapkannya karena pada tahun penelitian, rencana strategis bank sudah diungkap pada laporan tahunan bank sebelumnya, ketika mereka membuat rencana strategisnya. Sedangkan untuk Komponen 4, penanganan benturan kepentingan tidak mengalami perubahan angka presentase (0). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa BI, selaku regulator dan pengawas bank perlu meningkatkan pengawasannya khususnya untuk komponen-komponen yang mengalami penurunan dan memberikan himbauan atau peringatan agar pelaksanaannya dapat ditingkatkan.
Gambar 4.3. Perubahan Angka Presentase GCG Disclosure Bank Kategori 2
35.00
30.77 30.00
25.00 24 .28
19.64 20.00
15.00
10. 00 • •1-
10.00 6 .25
2~6 1
1 2~6
•
5.00 0.00
-5.00 1 2 3 4 5 7 8 9 -2 .06
· 10.00 -6.84
Untuk perubahan angka presentase dari rata-rata GCG disclosure pada Kategori
2, dapat dilihat pada Gambar 4.3 peningkatan angka presentase tertinggi terjadi
pada Komponen 4, yaitu penanganan benturan kepentingan (30, 77) karena bank-
bank dalam Kategori 2 mulai untuk memberikan informasi atas penanganan
benturan kepentingan yang terjadi di dalam manajemen bank kepada stakeholder
dalam laporan tahunan mereka, diikuti dengan Komponen 7, yaitu penyediaan
dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana besar (24,28), Komponen 3, yaitu
kelengkapan pelaksanaan tugas komite (19,64), Komponen 9, yaitu rencana
strategis bank (1 0), Komponen I, yaitu pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
Dewan Komisaris (6,25), Komponen 8, yaitu transparansi kondisi keuangan dan
non keuangan, laporan GCG dan pelaporan internal (2,56) dan peningkatan pada
Komponen 2, yaitu pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi (2, 16). Selain
itu juga terjadi penurunan angka presentase pada Komponen 5, yaitu penerapan
fungsi kepatuhan bank (-2,06) dan Komponen 6, yaitu pelaksanaan tugas fungsi
manajemen risiko termasuk termasuk pengendalian intern ( -6,84). Penurunan
angka presentase pada Komponen 6 terjadi karena informasi mengenai
pelaksanaan Komponen 6 sudah diungkapkan ditahun sebelumnya (tahun 2005)
sehingga tidak diungkap lagi di tahun berikutnya (tahun 2006). Akan tetapi, pihak
bank dalam Kategori 2 maupun regulator tetap hams memperhatikan pelaksanaan
dan pengungkapan informasi Komponen 2 dan Komponen 6, sehingga tidak terjadi
penurunan angka presentase di tahun berikutnya.
Gambar 4.4. Perubahan Angka Presentase GCG Disclosure Bank Kategori 3
60.00
50.00 47.50
40.00
30.00
• •1-
20.00
10.00 8.33
0.78 1.97 3.33
0 .00 0 .00
0 .00 -- 1 • 2 - 3 4 -0.61 - 5 6 7 8 9
-10.00 -3.91
Perubahan angka presentase dari rata-rata GCG disclosure bank Kategori 3,
dapat dilihat pada Gambar 4.4 yaitu peningkatan angka presentase tertinggi GCG
disclosure ada pada Komponen 9, yaitu rencana strategis bank (47,50), yang
disebabkan karena sebagian bank dalam Kategori 3 menyusun rencana strategisnya
pada tahun 2006, diikuti dengan Komponen 7, yaitu penyediaan dana kepada pihak
terkait dan penyediaan dana besar (8,33), Komponen 8, yaitu transparansi kondisi
keuangan dan non- keuangan, laporan GCG dan pelaporan internal (3 ,3 3 ),
Komponen 3, yaitu kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite (1 ,97) dan
peningkatan pada Komponen 1, yaitu pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
Dewan Komi saris (0, 78). Selain peningkatan, terjadi juga penurunan angka
presentase GCG disclosure untuk Komponen 2, yaitu pelaksanaan tugas dan
tanggung jawab Direksi (-3,91) dan Komponen 5, yaitu penerapan fungsi
kepatuhan bank ( -0,61 ). Sedangkan untuk Komponen 4 dan 6 tidak terjadi
perubahan angka presentase (0) sehingga untuk bank dalam Kategori 3, hal yang
Gambar 4.5. Penurunan Angka Presentase GCG Disclosure pada Komponen 1
-2 .00 -4 .00 -6 .00
·8.00
·10.00 -12 .00 -14.00 -16 .00
Penurunan Angka Presentase
- -.9.38
~: = 7
Penurunan angka presentase GCG disclosure untuk Komponen I terjadi pada PT Bank Danamon Tbk. (-15,63), PT Bank NISP Tbk. (-12,50), PT Bank Mandiri Tbk. ( -9,3 8) dan PT Bank Kesawan Tbk. ( -6,25) dan PT Bank International Indonesia Tbk. (-3,13). Penurunan angka presentase terjadi dikarenakan bank umum tersebut tidak mengungkapkan informasi pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris secara menyeluruh pada laporan tahunan bank di tahun 2006. Hal-hal yang tidak diungkapkan antara lain adalah jumlah Komisaris Independen, efektivitas rapat Dewan Komisaris, transparansi, hubungan keuangan, kepengurusan dan keluarga serta larangan Dewan Komisaris.
Selain penurunan, juga terjadi peningkatan angka presentase dalam pengungkapan GCG disclosure pada Komponen I. Tabel 4.2 memberikan daftar bank dengan besarnya peningkatan tersebut. Peningkatan GCG disclosure pada Komponen 1 terjadi karena bank sudah mulai menyesuaikan jumlah, komposisi ..
integritas dan kompentensi anggota Dewan Komisaris dengan ukuran dan
perlu diperhatikan adalah pengungkapan dan pelaksanaan Komponen 2 dan 5 karena terjadi penurunan. Rata-rata disclosure untuk setiap komponen untuk tahun 2005 dan tahun 2006 dapat dilihat pada Lampiran 3.
4.2.3. Analisis Pembahasan Setiap Komponen GCG
Komponen 1
Komponen 1 merupakan GCG disclosure atas pelaksanaan tugas dan tanggung
jawab Dewan Komisaris. Faktor-faktor yang dinilai pengungkapannya adalah
komposisi, kriteria dan independensi Dewan Komisaris, tugas dan tanggung jawab
Dewan Komisaris, efektivitas rapat Dewan Komisaris, transparansi, hubungan
keuangan, kepengurusan dan keluarga serta larangan Dewan Komisaris serta
informasi fit and proper test. Setelah penulis melakukan pengolahan data, terdapat
peningkatan maupun penurunan dalam hal pengungkapan pelaksanaan GCG untuk
Komponen 1 pada bank umum. Gambar 4.5 di bawah ini merupakan bank umum
yang termasuk dalam populasi penelitian yang mengalami penurunan pada
pengungkapan informasi pada Komponen 1.
kompleksitas usaha bank serta mencoba untuk memenuhi ketentuan yang berlaku.
Selain it~ peningkatan terjadi dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris yang memenuhi prinsip-prinsip GCG dan berjalan secara efektif.
TABEL 4.2. PENINGKATAN ANGKA PRESENTASE GCG DI SCLOSURE PADA KOMPONEN 1
NO NAMA BANK KODE PENINGKATAN
1 PT. Bank Victoria International Tbk. BVIC 3.13
2 PT. Bank Central Asia Tbk. BBCA 3. 13
3 PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk. BABP 9.38
4 PT. Bank Lippo Tbk. LPBN 9.38
5 PT. Bank Negara Indonesia Tbk. BBNI 9.38 6 PT. Bank Artha Graha International Tbk. INPC 12.50
7 PT. Bank Pennata Tbk. BNLI 12.50
8 PT. Bank Mega Tbk. MEGA 15.63
9 PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk. ANKB 21 .88
10 PT. Bank Bukopin Tbk. BBKP 21.88
11 PT. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk. SDRA 25.00
12 PT. Bank Century Tbk. BCIC 28.13
13 PT. Bank Eksekutif Tbk. BEKS 34.38
14 PT. Bank Buana Indonesia Tbk. BBIA 40.63
15 PT. Bank Bumi Arta Tbk. BNBA 43.75
Untuk PT Bank Swadesi Tbk., PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk., PT Bank
Mayapada Tbk., PT Bank Pan Indonesia Tbk., PT Bank Niaga Tbk. dan PT Bank
Rakyat Indonesia Tbk. tidak terjadi perubahan angka presentase apapun dalam hal
pengungkapan GCG untuk Komponen 1 dari tahun 2005 ke tahun 2006. Penulis
berpendapat bahwa mereka masih mempersiapkan pengangkatan Komisaris
Independen sehingga jumlahnya sesuai dengan aturan yang ada, yaitu 50% dari
jumlah Dewan Komisaris, begitu juga dengan pengungkapan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komi saris lainnya.
Kompoueu2
Komponen 2 adalah untuk menilai GCG disclosure terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi, yang terdiri dari komposisi, kriteria dan independensi Direksi, tugas dan tanggung jawab Direksi, efektivitas rapat Direksi, transparansi, hubungan keuangan, kepengurusan dan keluarga serta larangan Direksi, dan informasi fit and proper test. Sarna halnya dengan Komponen 1, terjadi penurunan dan juga peningkatan angka presentase dalam hal GCG disclosure untuk Komponen 2. Gambar 4.6 berikut menunjukkan bank yang mengalami penurunan angka presentase untuk GCG disclosure pada Komponen 2 .
Gambar 4.6. Penurunan Angka Presentase GCG disclosure pada Komponen 2
0.00 -2.00 -4.00 -6.00 -8.00 -10.00 -12.00
-14.00 -16. 00 -18. 00
Penurunan Angka Presentase
-3.13
Penurunan angka presentase untuk GCG disclosure pada Komponen 2 terjadi pada PT Bank Eksekutif International Tbk. ( -15,63), PT Bank International Indonesia Tbk. (-12,50), PT Bank Danamon Tbk. (-9,38), PT Bank Mandiri Tbk. (- 6,25), PT Bank Kesawan Tbk. ( -6,25), PT Bank Negara Indonesia Tbk. ( -6,25) dan PT Bank Central Asia Tbk. (-3,13). Hal tersebut disebabkan oleh aspek transparansi anggota Direksi kurang baik misalnya dalam hal kepemilikan saham pada perusahaan lain, hubungan keluarga sampai dengan derajat kedua dengan sesama anggota Direksi atau Dewan Komisaris, Ketidaksanggupan Direksi dalam menyediakan data dan informasi yang lengkap, akurat, kini dan tepat waktu kepada Komisaris dan tidak diungkapkannya pedoman dan tata tertib kerja seperti keterangan yang telah mencantumkan pengaturan etika kerja, waktu kerja dan rapat.
Peningkatan angka presentase GCG disclosure juga terjadi pada Komponen
2, yang tertera pada Tabel 4.3. Peningkatan GCG disclosure pada Komponen 2
dikarenakan Direksi merupakan pelaksana dari kegiatan operasional bank sehari-
hari sehingga dalam hal ini pengungkapan tugas dan tanggung jawab Direksi
san gat penting untuk diberitahukan kepada para stakeholders. Biasanya terjadi
benturan kepentingan antara pengelola dengan pemilik sehingga jika pelaksanaan
tugas dan tanggung jawab Direksi diungkapkan secara transparan kepada para
shareholders, maka hal seperti itu dapat dihindari karena ada batasan yang jelas
antara pemilik dan pengelola.
Dalam dokumen
analisis penerapan good corporate governance pada
(Halaman 35-38)