BAB IV A~ALISIS ~AN PEMJEIAHASAN
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
4.2.2 Pembahasan Komponen GCG per Kategori
Seperti yang telah dijelaskan pada bah sebelumnya, penulis menggunakan
instrumen GCG yang berupa SE BI No. 9/12/DPNP, yang terdiri dari 202 (dua
ratus dua) pemyataan yang kemudian oleh penulis dikelompok.kan menjadi 9
(sembilan) komponen. SE BI ini merupakan instrumen yang dikembangkan dari
PBI No. 8/4/PBI/2006 dan PBI No. 8/14/PBI/2006 tentang pelaksanaan GCG bagi
bank umum. Untuk masing-masing komponen terdiri dari beberapa pemyataan dan
persentase untuk masing-masing komponen dari 202 ( dua ratus dua) pemyataan
terse but yang dapat dilihat pada Lampiran 2. 202 ( dua ratus dua) pemyataan
tersebut, seperti tampak pada Gambar 4. 1, dibagi menjadi sembilan komponen
berikut ini :
I. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris ( 15,84 %) 2. Pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Direksi (15,84%)
3. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite (18.81%) 4. Penanganan benturan kepentingan (1,98%)
5. Penerapan Fungsi Kepatuhan Bank, Auditor Internal dan Auditor Eksternal (20,30%)
6. Penerapan Manajemen Risiko termasuk Sistem Pengendalian Intern ( 4,46%) 7. Penyediaan dana kepada Pihak Terkait dan penyediaan dana besar (2,97%) 8. Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG
dan pelaporan Internal (14,85%) 9. Rencana Strategis Bank (4,95%)
Gambar 4.1. Persentase Komponen GCG
15. 84" ; "
Komponen
15. 84%
• 1
• 2 1 3
4 • 4
• 5 1 6
• 7
• S
1 9
Gambar 4.2. Perubahan Angka Presentase GCG Disclosure Bank Kategori I
30.00 25.00 20.00 15.00
10.00 8.85 5.00
I
0.00 --
-5.00
+1 -Oi/8
-10.00 -15.00
9.43
I 0.00
3 4
25.93
8~4
0 .83
--
5 6 -1739 8
-10.00
Gambar 4.2 menunjukkan perubahan angka presentase dari rata-rata GCG
disclosure untuk bank Kategori 1. Peningkatan angka presentase tertinggi terjadi
pada Komponen 6, yaitu penerapan manajemen risiko termasuk pengendalian
intern (25,93), lalu diikuti dengan peningkatan pada Komponen 3, yaitu
kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite (9,43), Komponen 1, yaitu
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris (8,85), Komponen 5
yaitu, penerapan fungsi kepatuhan bank (8 ,84) dan peningkatan pada Komponen 8,
yaitu transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG
dan pelaporan internal (0,83). Peningkatan angka presentase pada Komponen 6
terjadi karena bank-bank kecil pada Kategori 1 mulai menerapkan manajemen
risiko pada banknya karena dalam transaksi perbankan risiko hams dapat
diantisipasi. Selain peningkatan, juga terjadi penunman angka presentase pada
Komponen 7, yaitu penyediaan dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana
besar (-1,39), Komponen 2, yaitu pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Direksi (- 0, 78) dan diikuti dengan penurunan angka presentase tertinggi untuk bank umum dalam Kategori 1, yaitu Komponen 9, rencana strategis bank ( -1 0). Rencana strategis bank dirancang 5 tahun sekali. Oleh karena itu, kemungkinan bank-bank pada Kategori 1 tidak mengungkapkannya karena pada tahun penelitian, rencana strategis bank sudah diungkap pada laporan tahunan bank sebelumnya, ketika mereka membuat rencana strategisnya. Sedangkan untuk Komponen 4, penanganan benturan kepentingan tidak mengalami perubahan angka presentase (0). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa BI, selaku regulator dan pengawas bank perlu meningkatkan pengawasannya khususnya untuk komponen-komponen yang mengalami penurunan dan memberikan himbauan atau peringatan agar pelaksanaannya dapat ditingkatkan.
Gambar 4.3. Perubahan Angka Presentase GCG Disclosure Bank Kategori 2
35.00
30.77 30.00
25.00 24 .28
19.64 20.00
15.00
10. 00 • •1-
10.00 6 .25
2~6 1
1 2~6
•
5.00 0.00
-5.00 1 2 3 4 5 7 8 9 -2 .06
· 10.00 -6.84
Untuk perubahan angka presentase dari rata-rata GCG disclosure pada Kategori
2, dapat dilihat pada Gambar 4.3 peningkatan angka presentase tertinggi terjadi
pada Komponen 4, yaitu penanganan benturan kepentingan (30, 77) karena bank-
bank dalam Kategori 2 mulai untuk memberikan informasi atas penanganan
benturan kepentingan yang terjadi di dalam manajemen bank kepada stakeholder
dalam laporan tahunan mereka, diikuti dengan Komponen 7, yaitu penyediaan
dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana besar (24,28), Komponen 3, yaitu
kelengkapan pelaksanaan tugas komite (19,64), Komponen 9, yaitu rencana
strategis bank (1 0), Komponen I, yaitu pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
Dewan Komisaris (6,25), Komponen 8, yaitu transparansi kondisi keuangan dan
non keuangan, laporan GCG dan pelaporan internal (2,56) dan peningkatan pada
Komponen 2, yaitu pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi (2, 16). Selain
itu juga terjadi penurunan angka presentase pada Komponen 5, yaitu penerapan
fungsi kepatuhan bank (-2,06) dan Komponen 6, yaitu pelaksanaan tugas fungsi
manajemen risiko termasuk termasuk pengendalian intern ( -6,84). Penurunan
angka presentase pada Komponen 6 terjadi karena informasi mengenai
pelaksanaan Komponen 6 sudah diungkapkan ditahun sebelumnya (tahun 2005)
sehingga tidak diungkap lagi di tahun berikutnya (tahun 2006). Akan tetapi, pihak
bank dalam Kategori 2 maupun regulator tetap hams memperhatikan pelaksanaan
dan pengungkapan informasi Komponen 2 dan Komponen 6, sehingga tidak terjadi
penurunan angka presentase di tahun berikutnya.
Gambar 4.4. Perubahan Angka Presentase GCG Disclosure Bank Kategori 3
60.00
50.00 47.50
40.00
30.00
• •1-
20.00
10.00 8.33
0.78 1.97 3.33
0 .00 0 .00
0 .00 -- 1 • 2 - 3 4 -0.61 - 5 6 7 8 9
-10.00 -3.91
Perubahan angka presentase dari rata-rata GCG disclosure bank Kategori 3,
dapat dilihat pada Gambar 4.4 yaitu peningkatan angka presentase tertinggi GCG
disclosure ada pada Komponen 9, yaitu rencana strategis bank (47,50), yang
disebabkan karena sebagian bank dalam Kategori 3 menyusun rencana strategisnya
pada tahun 2006, diikuti dengan Komponen 7, yaitu penyediaan dana kepada pihak
terkait dan penyediaan dana besar (8,33), Komponen 8, yaitu transparansi kondisi
keuangan dan non- keuangan, laporan GCG dan pelaporan internal (3 ,3 3 ),
Komponen 3, yaitu kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite (1 ,97) dan
peningkatan pada Komponen 1, yaitu pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
Dewan Komi saris (0, 78). Selain peningkatan, terjadi juga penurunan angka
presentase GCG disclosure untuk Komponen 2, yaitu pelaksanaan tugas dan
tanggung jawab Direksi (-3,91) dan Komponen 5, yaitu penerapan fungsi
kepatuhan bank ( -0,61 ). Sedangkan untuk Komponen 4 dan 6 tidak terjadi
perubahan angka presentase (0) sehingga untuk bank dalam Kategori 3, hal yang
Gambar 4.5. Penurunan Angka Presentase GCG Disclosure pada Komponen 1
-2 .00 -4 .00 -6 .00
·8.00
·10.00 -12 .00 -14.00 -16 .00
Penurunan Angka Presentase
- -.9.38
~: = 7
Penurunan angka presentase GCG disclosure untuk Komponen I terjadi pada PT Bank Danamon Tbk. (-15,63), PT Bank NISP Tbk. (-12,50), PT Bank Mandiri Tbk. ( -9,3 8) dan PT Bank Kesawan Tbk. ( -6,25) dan PT Bank International Indonesia Tbk. (-3,13). Penurunan angka presentase terjadi dikarenakan bank umum tersebut tidak mengungkapkan informasi pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris secara menyeluruh pada laporan tahunan bank di tahun 2006. Hal-hal yang tidak diungkapkan antara lain adalah jumlah Komisaris Independen, efektivitas rapat Dewan Komisaris, transparansi, hubungan keuangan, kepengurusan dan keluarga serta larangan Dewan Komisaris.
Selain penurunan, juga terjadi peningkatan angka presentase dalam pengungkapan GCG disclosure pada Komponen I. Tabel 4.2 memberikan daftar bank dengan besarnya peningkatan tersebut. Peningkatan GCG disclosure pada Komponen 1 terjadi karena bank sudah mulai menyesuaikan jumlah, komposisi ..
integritas dan kompentensi anggota Dewan Komisaris dengan ukuran dan
perlu diperhatikan adalah pengungkapan dan pelaksanaan Komponen 2 dan 5 karena terjadi penurunan. Rata-rata disclosure untuk setiap komponen untuk tahun 2005 dan tahun 2006 dapat dilihat pada Lampiran 3.
4.2.3. Analisis Pembahasan Setiap Komponen GCG
Komponen 1
Komponen 1 merupakan GCG disclosure atas pelaksanaan tugas dan tanggung
jawab Dewan Komisaris. Faktor-faktor yang dinilai pengungkapannya adalah
komposisi, kriteria dan independensi Dewan Komisaris, tugas dan tanggung jawab
Dewan Komisaris, efektivitas rapat Dewan Komisaris, transparansi, hubungan
keuangan, kepengurusan dan keluarga serta larangan Dewan Komisaris serta
informasi fit and proper test. Setelah penulis melakukan pengolahan data, terdapat
peningkatan maupun penurunan dalam hal pengungkapan pelaksanaan GCG untuk
Komponen 1 pada bank umum. Gambar 4.5 di bawah ini merupakan bank umum
yang termasuk dalam populasi penelitian yang mengalami penurunan pada
pengungkapan informasi pada Komponen 1.
kompleksitas usaha bank serta mencoba untuk memenuhi ketentuan yang berlaku.
Selain it~ peningkatan terjadi dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris yang memenuhi prinsip-prinsip GCG dan berjalan secara efektif.
TABEL 4.2. PENINGKATAN ANGKA PRESENTASE GCG DI SCLOSURE PADA KOMPONEN 1
NO NAMA BANK KODE PENINGKATAN
1 PT. Bank Victoria International Tbk. BVIC 3.13
2 PT. Bank Central Asia Tbk. BBCA 3. 13
3 PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk. BABP 9.38
4 PT. Bank Lippo Tbk. LPBN 9.38
5 PT. Bank Negara Indonesia Tbk. BBNI 9.38 6 PT. Bank Artha Graha International Tbk. INPC 12.50
7 PT. Bank Pennata Tbk. BNLI 12.50
8 PT. Bank Mega Tbk. MEGA 15.63
9 PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk. ANKB 21 .88
10 PT. Bank Bukopin Tbk. BBKP 21.88
11 PT. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk. SDRA 25.00
12 PT. Bank Century Tbk. BCIC 28.13
13 PT. Bank Eksekutif Tbk. BEKS 34.38
14 PT. Bank Buana Indonesia Tbk. BBIA 40.63
15 PT. Bank Bumi Arta Tbk. BNBA 43.75
Untuk PT Bank Swadesi Tbk., PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk., PT Bank
Mayapada Tbk., PT Bank Pan Indonesia Tbk., PT Bank Niaga Tbk. dan PT Bank
Rakyat Indonesia Tbk. tidak terjadi perubahan angka presentase apapun dalam hal
pengungkapan GCG untuk Komponen 1 dari tahun 2005 ke tahun 2006. Penulis
berpendapat bahwa mereka masih mempersiapkan pengangkatan Komisaris
Independen sehingga jumlahnya sesuai dengan aturan yang ada, yaitu 50% dari
jumlah Dewan Komisaris, begitu juga dengan pengungkapan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komi saris lainnya.
Kompoueu2
Komponen 2 adalah untuk menilai GCG disclosure terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi, yang terdiri dari komposisi, kriteria dan independensi Direksi, tugas dan tanggung jawab Direksi, efektivitas rapat Direksi, transparansi, hubungan keuangan, kepengurusan dan keluarga serta larangan Direksi, dan informasi fit and proper test. Sarna halnya dengan Komponen 1, terjadi penurunan dan juga peningkatan angka presentase dalam hal GCG disclosure untuk Komponen 2. Gambar 4.6 berikut menunjukkan bank yang mengalami penurunan angka presentase untuk GCG disclosure pada Komponen 2 .
Gambar 4.6. Penurunan Angka Presentase GCG disclosure pada Komponen 2
0.00 -2.00 -4.00 -6.00 -8.00 -10.00 -12.00
-14.00 -16. 00 -18. 00
Penurunan Angka Presentase
-3.13
Penurunan angka presentase untuk GCG disclosure pada Komponen 2 terjadi pada PT Bank Eksekutif International Tbk. ( -15,63), PT Bank International Indonesia Tbk. (-12,50), PT Bank Danamon Tbk. (-9,38), PT Bank Mandiri Tbk. (- 6,25), PT Bank Kesawan Tbk. ( -6,25), PT Bank Negara Indonesia Tbk. ( -6,25) dan PT Bank Central Asia Tbk. (-3,13). Hal tersebut disebabkan oleh aspek transparansi anggota Direksi kurang baik misalnya dalam hal kepemilikan saham pada perusahaan lain, hubungan keluarga sampai dengan derajat kedua dengan sesama anggota Direksi atau Dewan Komisaris, Ketidaksanggupan Direksi dalam menyediakan data dan informasi yang lengkap, akurat, kini dan tepat waktu kepada Komisaris dan tidak diungkapkannya pedoman dan tata tertib kerja seperti keterangan yang telah mencantumkan pengaturan etika kerja, waktu kerja dan rapat.
Peningkatan angka presentase GCG disclosure juga terjadi pada Komponen
2, yang tertera pada Tabel 4.3. Peningkatan GCG disclosure pada Komponen 2
dikarenakan Direksi merupakan pelaksana dari kegiatan operasional bank sehari-
hari sehingga dalam hal ini pengungkapan tugas dan tanggung jawab Direksi
san gat penting untuk diberitahukan kepada para stakeholders. Biasanya terjadi
benturan kepentingan antara pengelola dengan pemilik sehingga jika pelaksanaan
tugas dan tanggung jawab Direksi diungkapkan secara transparan kepada para
shareholders, maka hal seperti itu dapat dihindari karena ada batasan yang jelas
antara pemilik dan pengelola.
TABEL 4.3. PENINGKATAN ANOKA PRESENTASE GCG DISCLOSURE PADA KOMPONEN 2
No. NAMA BANK KODE PENINGKATAN
1 PT. Bank Victoria International Tbk. BVIC 3.13
2 PT. Bank NISP Tbk. NISP 6.25
3 PT. Bank Mega Tbk. MEGA 6.25
4 PT. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk. SORA 6.25
5 PT. Bank Century Tbk. BCIC 6.25
6 PT. Bank Artha Graha International Tbk. INPC 9.38 7 PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk. ANKB 9.38
8 PT. Bank Lippo Tbk. LPBN 15.63
9 PT. Bank Bukopin Tbk. BBKP 15.63
10 PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk. BABP 18.75 11 PT. Bank Buana Indonesia Tbk. BBIA 18.75
12 PT. Bank Pennata Tbk. BNLI 25.00
13 PT. Bank Bumi Arta Tbk. BNBA 40.63
Selain terjadi peningkatan dan pengurangan angka presentase GCG disclosure,
ada juga bank yang tidak mengalami perubahan dalam hal pengungkapan praktek
GCG untuk pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi. Bank umum tersebut
adalah PT Swadesi Tbk., PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk., PT Bank
Mayapada Tbk., PT Bank Pan Indonesia Tbk., PT Bank Niaga Tbk., dan PT Bank
Rakyat Indonesia Tbk. Hal tersebut dikarenakan GCG disclosure untuk
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi pada tahun 2005 sama dengan
GCG disclosure pada tahun 2006 karena bank umum tersebut juga merupakan
bank yang cukup baik dalam mengungkapkan Komponen 2.
Komponen3
Komponen 3 digunakan untuk menilai kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite yang mencakup struktur, komposisi, rangkap jabatan dan independensi anggota komite, pelak.sanaan tugas dan tanggung jawab Komite Audit dan Komite Pemantau Risiko serta efektivitas rapat Komite. Penurunan angka presentase pengungkapan komponen ini tertera pada Gam bar 4. 7 yaitu tetjadi pada PT Bank Victoria International Tbk. (-34,21), PT Bank NISP Tbk. (-7,89), PT Bank Danamon Tbk. (-5,26), PT Bank Mandiri Tbk. (-5,26) dan PT Bank Lippo Tbk. (- 2,63).
Gambar 4.7. Penurunan Angka Presentase GCG Disclosure pada Komponen 3
Penurunan Angka Presentase
0.00 +--- -5.00
-10.00 -7.89
-15.00 -20.00 -25.00 -30.00
-35.00 k~~::___::~:::___:~~- ...:::::::::::::.__::::=::::::_,/
Penurunan angka presentase GCG disclosure untuk Komponen 3 terjadi karena
bank tersebut tidak mengungkapkan adanya Komite Audit, Komite Pemantau
Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi dan pelaksanaan tugas dan tanggung
jawab mereka secara rinci. Penulis berpendapat bank umum tersebut telah
mengungkapkannya pada tahun 2005, maka di tahun 2006 mereka tidak
mengungkapkannya kembali. Akan tetapi, seharusnya di tahun 2006 laporan tata kelola perusahaan menjadi lebih rinci dan transparan dalam pelaporannya, bukan sebaliknya. Sedangkan untuk bank yang meningkatkan GCG disclosure untuk Komponen 3 dapat dilihat pada Tabel4.4 di bawah ini.
TABEL 4.4. PENINGKATAN ANGKA PRESENTASE GCG DI SCLOSU RE PADA KOMPONEN 3
NO NAMA BANK KODE PENINGKATAN
1 PT. Bank Kesawan Tbk. BKSW 2 .63
2 PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk. BBRI 5.26
3 PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk. BBNP 5.26
4 PT. Bank Pan Indonesia Tbk. PNBN 5.26
5 PT. Bank Negara Indonesia Tbk. BBNI 7.89
6 PT. Bank Bukopin Tbk. BBKP 10.53
7 PT. Bank Bumi Arta Tbk. BNBA 13. 16 8 PT. Bank Artha Graha International Tbk. INPC 13. 16 9 PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk. BABP 18.42
10 PT. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk. SDRA 18.42
11 PT. Bank Mega Tbk. MEGA 2 1.05
12 PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk. ANKB 31.58
13 PT. Bank Permata Tbk. BNLI 42.11
14 PT. Bank Century Tbk. BCIC 47.37
15 PT. Bank Eksekutif Tbk. BEKS 71.05
16 PT. Bank Intemasional Indonesia Tbk. BNII 71.05
17 PT. Bank Buana Indonesia Tbk. BBIA 81.58
Peningkatan angka presentase tersebut bukan hanya karena adanya
pengungkapan informasi yang lebih banyak pada tahun 2006, akan tetapi lebih
diakibatkan pembentukan Komite yang belum dilakukan di tahun 2005 , sebelum
PBI diterbitkan. Misalnya, PT Bank Buana Indonesia Tbk. mengalami peningkatan
sebesar 81 ,58 angka presentase karena memang tidak ada informasi mcngenai
Komite pada laporan tahunan bank sebelumnya. Sedangkan secara umum, peningkatan tersebut terjadi karena fungsi Komite memang penting dalam mengawasi pelaksanaan operasional perbankan sehari-hari. Selain terjadi peningkatan dan penurunan pengungkapan pada Komponen 3, dari 26 ( dua puluh enam) bank umum yang menjadi populasi penelitian ini, terdapat 4 (empat) bank yang tidak mengalami perubahan, yaitu PT Bank Central Asia Tbk. , PT Bank Swadesi Tbk., PT Bank Mayapada Tbk. dan PT Bank Niaga Tbk. Hal tersebut dikarenakan informasi yang diungkap untuk kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite pada laporan tahunan tahun 2006 sama dengan 2005.
Komponen 4
Komponen 4 adalah penanganan benturan kepentingan. Komponen ini menilai apakah bank mengungkapkan adanya kebijakan, sistem dan prosedur penyelesaian mengenai benturan kepentingan yang mengikat setiap pengurus dan pegawai bank, serta administrasi, dokumentasi dan pengungkapan benturan kepentingan dalam risalah rapat. Berdasarkan data yang diperoleh, dari 26 (dua puluh enam) bank umum yang menjadi sampel penelitian, hanya 4 (empat) bank yang mengungkapkan hal terse but dengan peningkatan 100 angka presentase karena penerapan Komponen 4 bam dilakukan pada tahun 2006 yaitu pada PT Bank NISP Tbk., PT Bank Danamon Tbk., PT Bank Permata Tbk., dan PT Bank Intemasional Indonesia Tbk. Sedangkan sisanya, sebanyak 22 (dua puluh dua) bank umum, tidak mengungkapkan hal tersebut sama sekali untuk tahun 2005 dan tahun 2006.
Daftar bank tersebut dapat dilihat pada Lampiran 4. Alasan tidak diungkapkannya
penanganan benturan kepentingan ini bisa diakibatkan karena hal ini bersifat internal, yaitu pihak manajemen bank mensosialisasikannya hanya kepada para pegawai dan intern bank tetapi tidak mengungkapkannya kepada publik sehingga tidak disebutkan pada laporan tahunan bank. Penulis juga berpendapat bahwa pengungk:apan yang sangat sedikit untuk komponen ini juga memberikan indikasi bahwa kebijakan, sistem dan prosedur benturan kepentingan tidak lengkap dan efektif, setiap benturan kepentingan tidak diungkap dalam keputusan, tidak diadministrasikan dan didokumentasikan dengan baik dan benturan kepentingan juga telah merugikan atau mengurangi keuntungan bank sehingga tidak diungk:apkan pada laporan tahunan bank.
Komponen 5
Komponen 5 merupakan penerapan fungsi kepatuhan bank, audit intern dan
audit ekstern. Cakupan dari pengungkapan dalam komponen ini adalah
pelaksanaan tugas fungsi kepatuhan, pelaksanaan tugas fungsi audit intern,
pelaksanaan tugas fungsi ekstern. Gambar 4.8 menggambarkan grafik bank umum
yang mengalami penurunan angka presentase dalam hal pengungkapan Komponen
5 PT Bank Century Tbk. (-34,15), PT Bank Kesawan Tbk. (-26,83), PT Bank
Nusantara Parahyangan Tbk. (-19,51, PT Bank NISP Tbk. (-12,20), PT Bank
Lippo Tbk. (7,32) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. (2,44).
Gambar 4.8. Penurunan Angka Presentase GCG Disclosure pada Komponen 5
r
0.00 -5.00 -10.00
-15.00 -20.00 -25 .00
Penurunan Angka Presentase
0.00
Penurunan angka presentase yang terjadi diakibatkan karena bank-bank
tersebut tidak mengungkapkan pembentukan, fungsi, tugas dan tanggung jawab
audit intern dan audit ekstem secara rinci untuk tahun 2006, setelah PBI tentang
Pelaksanaan GCG pada bank umum diterbitkan. Penurunan yang cukup signifikan
yang terjadi pada PT Bank Century Tbk. disebabkan oleh pengungkapan yang
dilakukan di tahun 2005 tidak konsisten diterapkan di tahun 2006, sehingga
penilaian penulis terhadap GCG disclosure untuk bank tersebut menurun sebesar
34,15 angka presentase. Sedangkan untuk peningkatan GCG disclosure pada
Komponen 5 terjadi pada bank yang ada pada Tabel4.5 berikut ini.
T ABEL 4.5. PENINGKA TAN ANGKA PRESENT ASE GCG DISCLOSURE PADA KOMPON EN 5
NO NAMA BANK KODE PENINGKATAN
1 PT. Bank Danamon Tbk. BDMN 2.44
2 PT. Bank Bukopin Tbk. BBKP 7.32
3 PT. Bank Arta Niaga Kencana Tbk. ANKB 9.76 4 PT. Bank Artha Graha International Tbk. INPC 12.20 5 PT. Bank Buana Indonesia Tbk. BBIA 12.20 6 PT. Bank Intemasional Indonesia Tbk. BNII 14.63 7 PT. Bank Victoria International Tbk. BVIC 14.63 8 PT. Bank Bumiputera Indonesia Tbk. BABP 19.5 1 9 PT. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk. SORA 26. 83
10 PT. Bank Mega Tbk. MEGA 34. 15
11 PT. Bank Eksekutif Tbk. BEKS 34.15
12 PT. Bank Bumi Arta Tbk. BNBA 60.98
Peningkatan angka presentase GCG disclosure untuk Komponen 5 yang terjadi pada bank umum di atas disebabkan karena tetjadi pengungkapan dalam hal fungsi kepatuhan bank, karena bank tersebut memastikan pelaksanaan dan pengungkapan kepatuhannya terhadap ketentuan BI dan peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti menetapkan langkah-langkah yang diperlukan dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian, melakukan pemantauan dan dokumentasi dari setiap kegiatan.
Selain terjadi peningkatan dan penurunan pada Komponen 5, j uga terdapat bank
umum yang tidak mengalami perubahan dalam GCG disclos ure untuk Komponen
5 yaitu PT Bank Mandiri Tbk., PT Bank Central Asia Tbk., PT Bank Sw a desi
Tbk., PT Bank Mayapada Tbk ., PT Bank Niaga Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia
Tbk., PT Bank Pan Indonesia Tbk., dan PT Bank Pennata Tbk. karena
pengungkapan Komponen 5 pada tahun 2005 sama dengan tahun 2006. Selain itu, penulis berpendapat bahwa untuk pengungkapan yang dilakukan oleh bank tersebut sudah cukup baik, sehingga tidak adanya perubahan pada Komponen 5 ini bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan.
Komponen 6
Komponen 6 adalah penerapan manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern, yang mencakup pelaksanaan tugas fungsi manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern. Bank yang mengalami penurunan angka presentase pada Tabel 4.6 adalah PT Bank Century Tbk. ( -88,89), dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. ( -44,44). Penurunan GCG disclosure yang terjadi pada bank tersebut dikarenakan pengungkapan penerapan manajemen risiko yang tidak dilakukan pada tahun 2006 seperti tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris yang jelas mengenai manajemen risiko dan tidak mengungkapkan adanya kebijakan, prosedur dan penetapan limit risiko.
T ABEL 4.6. PENURUNAN ANGKA PRESENTASE GCG DIS CLOSU RE P ADA KOMPONEN6
NO NAMA BANK KODE PENURUNAN
1 PT. Bank Century Tbk. BCIC -88.89
2 PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk. BBNP -44.44
Untuk bank-bank yang mengalami peningkatan angka presentase
pengungkapan GCG disclosure pada Komponen 6 seperti Gambar 4.9 adalah PT
Bank Bumi Arta Thk. (I 00), PT Bank Arta Niaga Kencana Tbk. ( 1 00), PT Bank
Kesawan Thk., (66,67), PT Bank Eksekutif Tbk. (66,67), PT Bank Himpunan
TABEL 4.7. DAFTAR BANK YANG TIDAK MENGALAMI PERUBAHAN ANOKA PRESENTASE PADA KOMPONEN 6
NO NAMA BANK KODE
1 PT. Bank NISP Tbk. NISP
2 PT. Bank Lippo Tbk. LPBN
3 PT. Bank Negara Indonesia Tbk. BBNI
4 PT. Bank Mandiri Tbk. BMRI
5 PT. Bank Central Asia Tbk. BBCA
6 PT. Bank Swadesi Tbk. BSWD
7 PT. Bank Mayapada Tbk. MAYA
8 PT. Bank Niaga Tbk. BNGA
9 PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk. BBRI 10 PT. Bank Pan Indonesia Tbk. PNBN
11 PT. Bank Permata Tbk. BNLI
12 PT. Bank Danamon Tbk. BDMN
13 PT. Bank Artha Graha International Tbk. INPC
14 PT. Bank Internasional Indonesia Tbk. BNII 15 PT. Bank Victoria International Tbk. BVIC Komponen 7
Komponen 7 merupakan penyediaan dana kepada pihak terkait dan penyediaan
dana besar yang menilai secara garis besar apakah bank -bank terse but telah
memiliki kebijakan, sistem dan prosedur yang tertulis dan jelas untuk pen yediaan
dana kepada pihak terkait dan penyediaan dana besar berikut pengawasannya dan
penyelesaian masalahnya. Selain itu juga untuk mengetahui apakah penerapan
penyediaan dana oleh bank kepada pihak terkait dan atau penyediaan dana besar
telah memenuhi ketentuan BI tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK )
dan memperhatikan prinsip kehati-hatian maupun perundang-undangan yang
berlaku. Tabel 4.8 berikut merupakan bank-bank yang mengalami penurunan
angka presentase dalam hal pengungkapan informasi untuk Komponen 7, yaitu PT
Dalam dokumen
analisis penerapan good corporate governance pada
(Halaman 44-75)