• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Pikir Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Kerangka Pikir Penelitian

44

peluang untuk saling belajar satu dengan yang lain, saling perduli dan saling menyayangi.

6. Prinsip saling percaya. konsep umum untuk semua prinsip kolaborasi.

Tanpa rasa percaya, saling menghormati dan saling menghargai menjadi tanpa makna, kerjasama tidak akan ada, kemanfaatan sulit didapat, dan tidak ada saling asah, asih dan asuh dalam kebersamaan.

45

Kolaborasi governance yang dilakukan dalam Musrenbang Desa merupakan gagasan untuk mengefektitkan pelaksanaan Musrenbang Desa supaya benar-benar menghasil kan program-program yang sesuai dengan kebutuhan warga masyarakat, dan mendorong warga masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan Musrenbang Desa sehingga pelaksanaan kegiatan ini tidak hanya menjadi kegiatan formalitas saja.

Adapun model kerangka pikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar : Bagan Kerangka Pikir PARTISIPASI

MASYARAKAT DALAM MUSRENBANG DESA

Pihak Terlibat Pelaksanaan Musrenbang :

Pemerintah

Swasta

Masyarakat

Pola Partisipasi Masyarakat Melalui Kolaborasi Governance

HASIL MUSRENBANG DESA DENGAN PROGRAM YANG

SESUAI DENGAN KEBUTUHAN WARGA

MASYARAKAT

46 F. Kerangka Pikir Penelitian

Untuk memberikan pemahaman yang sama terhadap konsep- konsep yang digunakan dalam penelitian ini, maka konsep yang ada dideskripsikan sebagai berikut :

1. Musrenbangdes adalah kegiatan pelaksanaan musyawarah pembangunan yang dilaksanakan pada tingkat desa yang bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kebutuhan pembangunan yang akan dilaksanakan pada tingkat desa, yang meliputi aspek pembangunan fisik maupun non fisik.

2. Kolaborasi adalah bentuk kerjasama yang dilakukan olen pihak-pihak yang terlibat dalam musyawarah pembangunan desa yang meliputi pemerintah, swasta, dan warga masyarakat.

3. Partisipasi masyarakat dalam Musrenbangdes adalah keikutsertaan warga masyarakat dalam kegiatan Musrenbang Desa yang dimulai dari tahapan Pra Musrenbangdes, Pelaksanaan Musrenbangdes, dan Pasca Musrenbangdes.

4. Dimensi kolaborasi adalah bentuk dan pola-pola kerjasama yang dilakukan oleh warga masyarakat dalam melakukan Musrenbangdesa yang meliputi aspek saling menghormati, saling menghargai pendapat, kerjasama, dan saling memberi manfaat.

5. Hasil Musrenbangdes adalah tersusunnya rencana kegiatan pembangunan pada tingkat desa yang akan diusulkan pada Musrenbang tingkat kecamatan.

47 BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Takalar dengan mengambil lokus pada pelaksanaan Musrenbang Desa yang ada di Kecamatan Polongbangkeng Selatan, adapun yang menjadi objek penelitian adalah pelaksanaan Musrenbang Desa pada desa-desa yang ada dalam wilayah tersebut. Data terkait dengan penelitian ini diperoleh dari pelaksanaan Musrenbangdesa pada tahun 2015-2016. Penelitian berlangsung selama dua bulan yakni pada Bulan Juli sampai Bulan Agustus 2016 dengan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Musrenbang Desa yang telah dilaksanakan pada desa-desa yang ada dalam wilayah Kecamatan Polongbangkeng Selatan.

B. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menitikberatkan pada metode deskriptif kualitatif, karena penulis ingin mendeskripsikan, mencatat dan menginterpretasikan partisipasi masyarakat dalam Musrenbangdesa melalui pendekatan kolaborasi governance.

Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena peneliti akan mengungkapkan data berdasarkan wawancara mendalam, dan pengamatan, tanpa dipengaruhi atau diberikan perlakuan khusus dengan sengaja dari apa yang ingin diungkapkan dan diteliti. Menurut Bogdan dan Taylor (1992:105) metode kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang

48

menghasilkan data deskriptif, yakni pemaparan tentang apa yang diucapkan, ditulis, dan yang dilakukan secara nyata dan dapat diamati dari orang-orang atau subjek penelitian.

C. Sumber Data

Sumber data peneltian terdiri atas sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer, diperoleh data yang diambil atau berasal dari beberapa informan yang terlibat dalam aktivitas Musrenbangdesa sedangkan data yang diperoleh dari sumber sekunder meliputi data berupa dokumen atau catatan yang terkait dengan pelaksanaan Musrenbangdesa, data ini diperoleh dari instansi yang terkait.

D. Teknik Pengumpulan Data

Data dan bahan keterangan yang aktual dan objektif diperoleh dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1. Wawancara

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan informasi yang akurat terkait partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Musrenbangdesa melalui pendekatan kolaboratif governance. Wawancara untuk kepentingan penelian ini dilakukan dengan cara wawancara terstruktur dengan melakukan wawancara langsung kepada para informan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan dengan wawancara bebas. Wawancara ini ditujukan kepada beberapa informan, diantaranya camat, kepala desa, pengurus LPM, lembaga-lembaga masyarakat yang ada di desa, tokoh masyarakat, dan beberapa yang kelompok kepentingan lainnya.

49 2. Observasi

Penggunaan teknik ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada peneliti mengenai partisipasi masyarakat dalam Musrenbangdesa di Kecamatan Polombangkeng Selatan Kabupaten Takalar dengan mengamati situasi secara langsung dan mencatat setiap gejala yang berhubungan dengan objek penelitian.

3. Dokumentasi

Metode dokumentasi digunakan peneliti dengan menelusuri dan menelaah hasil-hasil kegiatan Musrenbangdesa seperti dokumen RKP, dokumentasi kegiatan berupa foto-foto pelaksanaan Musrenbangdesa, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti peraturan-peraturan, notulen rapat dan sebagainya. Data yang dikumpulkan dengan teknik ini merupakan data sekunder, baik berupa laporan maupun berupa gambar.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperolen dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan seningga mudan dipahami olen diri sendiri maupun orang lain.

Tahap ini merupakan tahap yang sangat menentukan karena pada tahap inilah data dikerjakan dan dimantaatkan sedemikan rupa sehingga

50

dapat menyimpulkan kebenaran-kedenaran yang dapat dipahami untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian.

Adapun tahap-tahap menganalisis data yang penulis gunakan, adalah sebagai berikut :

1. Reduksi data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan terinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

2. Data Display (penyajian data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.

3. Conclusion Drawing / verification

Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap

pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang

51

dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

52 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Lokasi Penelitian

1. Deskripsi Umum Tempat Penelitian

Kabupaten Takalar adalah salah satu Pemerintah Daerah Kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 35 km ke arah selatan dari ibukota provinsi yakni Kota Makassar Secara astronomis, Kabupaten Takalar terletak antara 5º30’ - 5º38’ Lintang Selatan dan 119º22’ - 119º39’ Bujur Timur. Kabupaten Takalar beribukota di Pattalasang ini memiliki luas keseluruhan wilayah 566,51 Km yang terbagi menjadi 9 Kecamatan. Berdasarkan posisi geografis daerah ini berbatasan langsung dengan Kota Makasar dan Kabupaten Gowa di sebelah utara, Laut Flores di sebelah selatan, Selat Makasar di sebelah barat, serta Kabupaten Janeponto dan Kabupaten Gowa di sebelah timur.

Kabupaten Takalar dikenal sebagal daerah yang berbasis agraria dan perikanan. Dari sektor pertanian yang mejadi pusat perekonomian masyarakat, hasil-hasil perkebunan tampaknya bukan menjadi andalan yang utama. Subsektor tanaman bahan makanan dan penikanan yang menjadi andalan dengan padi merupakan produk tanaman bahan makanan unggulan, dan luas lahan sawah 16.000 hektar, 73 persen merupakan lahan sawah pengairan dan selebihnya merupakan lahan sawah tadah hujan. Pada musim kemarau, lahan sawah tadah hujan

53

dimanfaatkan untuk penanaman palawija dan sayur-sayuran yang diupayakan secara intensifikasi dan diversifikasi.

Kondisi wilayah Kabupaten Takalar yang berbatasan langsung dengan selat dan laut, memungkinkan penduduk di sekitarnya menggantungkan hidup dari menangkap ikan dan perikanan darat melalui usaha tambak dan perairan umum, dengan komoditi utama meliputi : rumput laut, udang, lobster, berbagai jenis ikan, dan telur ikan terbang.

Hampir semua komoditas ini sudah diekspor terutama rumput laut, udang.

lobster, dan telur ikan terbang dengan ekspor ikan pun sudah dilakukan langsung dari Takalar. Komoditas lain yang juga diekspor adaah kerajinan anyaman.

Secara administratif wilayah pemerintahan Kabupaten Takalar meliputi 9 kecamatan seperti terlihat dalam tabel berikut :

Tabel. 4.1. Luas wilayah Kabupaten Takalar berdasarkan jumlah kecamatan

No Kecamatan Luas

(km2)

Per.

(%)

Jumlah

Desa/Kel Ibukota 1 Mangarabombang 100,50 17,74 12 Mangadu 2 Mappakasunggu 42,27 7,99 4 Cilallang

3 Sanrobone 29,36 5,18 4 Sanrobone

4 Polongbangkeng

Selatan 88,07 15,55 8 Bulukunyi

5 Pattallassang 25,31 4,47 8 Pattallassang 6 Polongbangkeng Utara 212,25 37,47 15 Palleko

7 Galesong 25,93 4,58 11 Galesong

Kota

8 Galesong Selatan 24,71 4,36 8 Bonto Kassi 9 Galesong Utara 15,11 2,67 7 Bonto Lebang

Jumlah 566.51 100 77

Sumber: Kabupaten Takalar dalam Angka, 2016.

54

Data dalam Tabel 4.1. di atas menunjukkan dari segi luas wilayah, kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Polongbangkeng Utara dengan luas 212,25 km2 atau sekitar 37,47% dari luar wilayah Kabupaten Takalar secara keseluruhan, kecamatan ini memiliki jumlah desa/kelurahan sebanyak 15 wilayah. Sedangkan kecamatan yang wilayahnya paling kecil adalah Kecamatan Galesong Utara 15,11 km2 atau sekitar 2,67% dari luas wilayah kabupaten ini secara keseluruhan, Kecamatan Polongbangkeng Selatan memiliki 7 wilayah desa/kelurahan.

Salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Takalar ini menjadi lokasi atau objek penelitian yakni Kecamatan Polongbangkeng Selatan.

Kecamatan ini merupakan kecamatan terluas kedua dari 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Takalar, memiliki luas wilayah 88,07 km2 atau 15,5% dari luas wilayah Kabupaten Takalar, kecamatan yang beribukota Bulukunyi memiliki sebanyak 8 wilayah desa/kelurahan.

Secara administratif wilayah Kecamatan Polongbangkeng Selatan terletak pada Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Polongbangkeng Utara, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Jene’ponto, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Mangarabombang, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Pattallassang.

Kecamatan Polongbangkeng Selatan mempunyai topografi yang datar sampai perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 1-100 m di atas permukaan laut. Rata - rata curah hujan pertahun adalah 1568 mm

55

dengan hari hujan rata-rata 117 pertahun. Pola curah hujan yang demikian di Kecamatan Polongbangkeng Selatan dikenal 2 (dua) musim, yaitu musim musim barat dan musim hujan dengan angin barat yang jatun pada bulan Oktober - Maret, sedangkan musim kemarau dengan angin timur jatuh pada bulan April - September dan terdapat 3 (tiga) bulan musim kering yang sering terjadi pada dekade pertama Juli-dekade kedua Oktober dan sangat kritis terjadi pada bulan September. Adanya kondisi demikian memungkinkan petani bertanam palawija di lahan sawah untuk memantaatkan interval waktu setelah panen padi.

Adapun gambaran Kecamatan Polongbangkeng Selatan secara administratif dapat dilihat pada Tabel 4.2. berikut.

Tabel 4.2. Luas Desa/Kelurahan di Kecamatarn Polongbangkeng Selatan dan Jarak ke lbukota Kecamatan dan Kabupaten

No Desa/ Kelurahan Luas (km2)

Persen Terhadap Luas Kec.

Jarak Ke Kec.

(km)

Jarak Ke Kab.

(km)

1 Pabundukang 3,14 3,57 7 4

2 Canrego 8,38 9,51 6 4

3 Bontokadatto 13,03 14,80 2 7

4 Bulukunyi 13,04 14,81 0 10

5 Patte’ne 4,82 5,47 5 4

6 Cakura 15,21 17,27 52 16

7 Lantang 17,22 19,55 6 11

8 Moncongkomba 13,23 15,02 8 7

Sumber : Kabupaten Takalar dalam Angka, 2016.

Secara administratif wilayah Kecamatan Polongbangkeng Selatan memiliki luas 88,07 km dan terdiri dari 8 Desa / Kelurahan. Ibukota

56

Kecamatan Polongbangkeng Selatan adalah Kelurahan Bulukunyi. Dari data dalam Tabel 4.2. di atas menunjukkan terlihat desa/kelurahan yang terluas adalah Desa Lantang dengan luas wilayah 17,22 km2. Sedangkan wilayah desa/kelurahan yang terkecil adalah Desa Pabbundukang dengan luas wilayah 3,14 km2.

Tabel 4.3. Banyaknya Penduduk, Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk Tiap Desa dan Kelurahan di Kecamatan Polongbangkeng Selatan

No Desa/Kelurahan Penduduk Rumah

Tangga Kepadatan

1 Pa’bundukang 2.072 500 650

2 Canrego 3.236 781 386

3 Bontokadatto 2.537 613 195

4 Bulukunyi 4.817 1.163 369

5 Patte’ne 2.873 694 596

6 Cakura 2.533 612 167

7 Lantang 4.009 968 233

8 Moncongkomba 3.470 838 262

Jumlah 25.547 6.169 358

Sumber : Kabupaten Takalar dalam Angka, 2016.

Data dalam Tabel 4.3 di atas menunjukkan keadaan penduduk, rumah tangga dan kepadatan penduduk tiap desa/kelurahan di Kecamatan Polongbangkeng Selatan. Jumlah penduduk Kecamatan Polongbangkeng Selatan menurut data terakhir tahun adalah berjumlah

57

26.547 jiwa, yang terdiri dari 6.989 rumah tangga dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 358 jiwa/km. Dari total jumlah penduduk sebanyak 25.547 jiwa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan terlihat desa/kelurahan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak adalah Kelurahan Bulukunyi sebanyak 4.817 Jwa, sedangkan desa/keluranan yang memiliki penduduk paling sedikit adalah Desa/Kelurahan Pa'bundukang sebanyak 2.072 Jiwa.

Berdasarkan data yang ada dalam Tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa penyebaran penduduk masih banyak terkonsentrasi dalam wilayah Kecamatan Polongbangkeng Selatan berada pada ibukota kecamatan yakni pada Kelurahan Bulukunyi, hal tersebut disebabkan karena ibukota kecamatan masih menjadi sentra ekonomi, dan juga menjadi pusat pemerintahan kecamatan, termasuk juga sarana dan prasarana sosial ekonomi seperti lembaga pendidikan, kantor-kantor pemerintahan pada umumnya terdapat di ibukota kecamatan.

B. Hasil Penelitian

1. Pelaksanaan Musrenbang

Sebagaimana ketentuan atau peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah, dalam pelaksanaan Musrenbang mengikuti prosedur-prosedur yang telah diatur secara normatif dalam suatu peraturan. Adapun mekanisme Musrenbang dilaksanakan sesuai dengan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan

58

Menteri Dalam Negeri No. 0008/M. PPN/01/2007 telah mengatur dengan tegas tentang mekanisme penyelenggaraan Musrenbang Desa yang harus dilalui secara menyeluruh (holistik).

Mekanisme penyelenggaran Musrenbang Desa diatur dalam 3 tahapan meliputi, tahapan pra, tahapan pelaksanaan dan tahapan pasca Musrenbang Desa. Adapun penilaian responden mengenai proses pelaksanaan Musrenbang Desa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut :

a. Pra Musrenbang Desa

Pada penyusunan Draft Rancangan Awal RKP Desa yang di dalamnya mencakup kegiatan rapat pembentukan Tim Penyusun RKP Desa, Pembahasan Program/Usulan di Dokumen RPJM Desa, Kajian Ulang hasil Musrenbang Desa Tahun sebelumnya, Analisis data tentang kondisi permasalahan dan potensi desa yang dilakukan bersama masyarakat dan Lokakarya Desa, tidak ditemukan data atau informasi berupa dokumen dan hasil wawancara yang mendukung bahwa kegiatan tersebut terlaksana sesuai mekanisme dan ketentuan yang ada.

Sehubungan pembentukan Tim Penyusun draft rancangan awal RKP Desa, berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang kepala dusun dijelaskan bahwa :

“Sebagaimana saya ketahui bahwa setelah dilakukan Musrenbang Desa ada pembentukan Tim Penyusun RKP Desa yang dilakukan secara musyawaran antara selurun komponen yang terkait dengan penyusunan program terdini atas warga masyarakat, kepala dusun, ketua RT/RW, perwakilan wanita, dan tokoh-tokoh masyarakat,”

(Wawancara, H. DS/15/08/2016).

59

Pada kesempatan lain, berdasarkan wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat (tokoh agama) pada salah satu desa dijelaskan bahwa :

"Ada Tim Penyusun RKP Desa yang dibentuk oleh Kepala Desa, tapi itu terjadi setelah Musrenbang Desa. Prosesnya Kepala Desa mengundang unsur masyarakat untuk duduk bersama dalam satu forum rapat pembentukan tim. Hanya saja menurut saya, Tim Penyusun RKP Desa dibentuk bukan untuk bekerja melainkan hanya sebagai formalitas saja. Kesan formalitas ini kuat, karena sejatinya Tim Penyusun RKP Desa dibentuk di Pra Musrenbang Desa dan bukan setelah Musrenbang Desa. Saya tahu bahwa Tim Penyusun RKP Desa tidak bekerja, karena saya bagian dari timn tersebut' (Wawancara, AG, 20/8/2016).

Hasil wawancara di atas, menunjukkan bahwa Kepala Desa membentuk Tim Penyusun draft rancangan awal RKP Desa setelah Musrenbang Desa. Padahal, menurut ketentuan Undang-Undang yang ada, Tim Penyusun draft rancangan awal RKP Desa seharusnya dibentuk oleh Kepala Desa pada tahap Pra Musrenbang Desa.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbang Desa) adalah perwujudan demokrasi permusyawaratan yang membutuhkan pengorganisasian secara baik. Pengorganisasian dilakukan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan Musrenbang Desa.

Pengorganisasian yang dimaksud terdiri dari kegiatan pembentukan Tim Penyelenggara Musrenbang Desa, pembentukan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa, persiapan teknis pelaksanaan Musrenbang Desa dan pengkoordinasian persiapan logistik Musrenbang Desa.

Dari hasil wawancara di atas, maka dapat diketahui dengan jelas bahwa Kepala Desa tidak membentuk TPM Desa dan Tim Pemandu/

60

Pokja Musrenbang Desa pada penyelenggaraan Musrenbang Desa tahun 2016. Hal yang sangat penting diabaikan dalam proses tahap persiapan (Pra) Musrenbang Desa.

Selanjutnya, pendapat peserta Musrenbang Desa (Informan) tentang pentingnya TPM Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa dibentuk oleh Kepala Desa sebagai alat kelengkapan dalam pengorganisasian Musrenbang Desa.

Menurut pendapat salah seorang Kepala Dusun tentang penting atau tidaknya dibentuk TPM Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa. la mengatakan bahwa :

“TPM Desa memang sangat penting dan wajib dibentuk karena ini menjadi persyaratan. Karena TPM Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa adalah bagian kelengkapan dari pengorganisasian Musrenbang Desa mengkoordinir yang sangat diperlukan untuk persiapan teknis dan bahan-bahan kebutunan Musrenbang Desa” (wawancara, AT, 20/8/2016).

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Ketua BPD dengan mengatakan bahwa :

“Pembentukan Tim Penyelenggara Musyawarah Desa memang harus dilakukan karena sangat penting. TPM ini bertugas mempersiapkan pelaksanaan Musrenbang Desa secara efektit dan efisien, selain itu ada juga Tim Pemandu/Tim Kelompok Kerja (Pokja) Musrenbang Desa" Wawancara, TRI, 24/8/2016).

Hasil wawancara di atas, membuktikan bahwa keberadaan TPM Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa dalam pandangan masyarakat sangat penting artinya dalam mengorganisir seluruh kegiatan perencanaan pembangunan desa sejak dari tahapan Pra sampai Pasca Musrenbang Desa. Namun faktanya, Kepala Desa tidak membentuk TPM

61

Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada kecenderungan pelaksanaan Musyawarah Pembangunan Desa yang dilaksanakan selama ini ada tahapan yang tidak terlaksana sebagaimana yang diarahkan oleh peraturan yang ada.

Dengan demikian berarti adanya mekanisme yang tidak dijalankan, maka akan berpotensi terhadap pelaksanaan Musrenbang Desa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Sesual dengan tahapan Musrenbang Desa, dalam tahap awal Pra Musrenbang perlu dibentuk TPM Desa. Tujuan dibentuknya TPM Desa adalah untuk mengorganisir seluruh kebutuhan Musrenbang Desa yang bersifat teknis maupun yang nonteknis mulai dari tahapan Pra, Pelaksanaan dan Pasca Musrenbang Desa. Sedangkan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa adalah menjadi fasilitator untuk mempermudah dan membantu semua peserta untuk terlibat secara aktif pada saat mengikuti Musrenbang Desa agar dapat berjalan dengan efektif, efisien dan partisipatif.

b. Proses Penyelenggaraan Musrenbang Desa

Tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa adalah merupakan forum pertemuan masyarakat desa untuk membahas dan menetapkan rancangan RKP Desa yang akan menjadi Peraturan Kepala Desa. Proses- proses kegiatan yang ada pada tahapan ini, meliputi: Pendaftaran peserta Musrenbang Desa, pemaparan Pemerintah Desa atas prioritas kegiatan pembangunan Desa, evaluasi hasil pembangunan lima tahun

62

sebelumnya, prioritas kegiatan untuk pembangunan lima tahun berikutnya yang bersumber dari RPJM Desa, penjelasan tentang perkiraan jumlah pagut anggaran kegiatan pembangunan lima tahunan di desa. Pemaparan perwakilan masyarakat atas masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat desa, pemaparan Pemerintah Kecamatan, pemaparan perwakilan Pemerintah Kabupaten, pemaparan anggota DPRD, pemaparan draft rancangan awal RKP Desa oleh Tim Penyusun yang diwakili Sekdes, diskusi kelompok dan diskusi pleno dengan peserta Musrenbang Desa.

Terkait penjelasan tata tertib atau tata cara mengikuti Musyawarah oleh Tim penyelenggara dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa, peserta Musrenbang Desa, salah seorang Kepala Dusun yang ada mengatakan bahwa:

“Tidak ada pengarahan. Semua peserta langsung saja mengikuti Musrenbang setelah acara pembukaan” (Wawancara, AM, 25/08/2016).

Penjelasan yang senada dikemukakan oleh salah seorang tokoh masyarakat mengenai tidak adanya penjelasan tata tertib acara Musrenbang Desa kepada peserta forum musyawarah, dikatakan sebagai berikut:

“Sehubungan dengan pelaksanaan Musyawarah Pembangunan Desa sepagaimana petunjuk teknis yang ada, dari hasil pelaksanaan yang saya lihat tidak ada pengantar atau penjelasan mengenai tata tertib, jangankan penjelasan tata tertib atau tata cara musyawarah, agenda acara saja itu waktu tidak disampaikan kepada peserta. Sehingga para peserta biasanya bertanya-tanya tentang kegiatan yang mau dilakukan (Wawancara, 26/8/2016).

63

Hasil wawancara di atas, menunjukkan bahwa pihak pelaksana Musrenbang Desa yang dikoordinir langsung oleh Pemerintah Desa bersama perangkat desa seperti tidak mengacu pada kerangka kerja desa yang baik dalam mengarahkan atau memandu peserta forum musyawarah. Padahal, agenda acara dan tata tertib/tata cara bermusyawarah sangat penting dibuat dan disampaikan kepada forum untuk menjadi panduan penyelenggaraan kegiatan agar dapat terwujud keseragaman persepsi, yang pada akhirnya dapat dicapai hasil maksimal dalam mengimplementasikan tertib musyawarah, tertib komunikasi dan tertib administrasi.

Dalam hubungannya dengan pemaparan narasumber pada tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa, pandangan salah seorang informan mengatakan bahwa:

“Tidak ada pemaparan Kepala Desa, tidak ada pemaparan dari perwakilan masyarakat, tidak ada pemaparan dari Camat, tidak ada pula dari pemaparan BPMD, Dinas Pertanian dan Dinas Koperasi yang hadir dalam Musrenbang Desa" (Wawancara, 28/8/2016).

Dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa tidak seorang pun narasumber seperti Kepala Desa, Perwakilan Masyarakat, Kepala Kecamatan, Pejabat yang mewakili Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Takalar yang melakukan pemaparan di depan peserta forum musyawarah terkait substansi pokok Musrenbang Desa. Kemudian yang menarik untuk kita cermati adanya pernyataan Informan, yang mengindikasikan bahwa kehadiran narasumber hanya sebatas memberikan sambutan-sambutan saja pada acara pembukaan

Dokumen terkait