PENDAHULUAN
Latar Belakang
Permasalahan Penelitian
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian dan Bentuk Partisipasi
Pengertian partisipasi sosial yang dikemukakan oleh Wasir adalah keterlibatan seseorang secara sadar dalam suatu interaksi sosial dalam situasi tertentu. Menurut Tjokroamidjojo, keterlibatan aktif atau partisipasi masyarakat dapat berarti keterlibatan dalam proses penentuan arah, strategi, dan kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah.
Konsep Good Governance
Istilah berbeda yang sering digunakan untuk tim ini, yakni Tim Penyelenggara Musrenbang Desa (TPM) atau Tim Penyusun RKP Desa. Penilaian responden terhadap proses pelaksanaan Desa Musrenbang Kecamatan Polongbangkeng Selatan Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut. Tim penyusunan RKP desa sudah dibentuk oleh kepala desa, namun itu terjadi setelah burung pipit desa lari.
Kesan formalitas ini kuat karena Tim Penyusun RKP Desa sebenarnya dibentuk sebelum Musrenbang Desa dan bukan setelah Musrenbang Desa. Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa kepala desa membentuk tim penyusun rancangan awal RKP desa setelah Musrenbang desa. Tahap pelaksanaan Musrenbang Desa merupakan forum pertemuan masyarakat desa untuk membahas dan menetapkan rancangan RKP Desa yang akan menjadi Peraturan Kepala Desa.
Dari hasil wawancara di atas terlihat bahwa Sekretaris Desa yang mewakili Tim Penyusun RKP Desa tidak memaparkan rancangan awal RKP Desa di hadapan Forum Peserta Musrenbang Desa. Namun kenyataannya hal tersebut tidak terjadi pada Forum Musrenbang Desa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan. Pola Partisipasi Masyarakat Melalui Collaborative Governance Dalam Penyelenggaraan Musrenbang Desa Di Kecamatan Polongbangkeng Pelaksanaan Musrenbang Desa Di Kecamatan Polongbangkeng Selatan Kabupaten Takalar.
Meningkatkan transparansi dalam pelaksanaan pembangunan desa sebagai wujud atau realisasi Musrenbang desa yang dibuat.
Musyawarah Pembangunan Desa
Pengertian dan Konsep Kolaborasi
Istilah kolaborasi biasanya digunakan untuk menggambarkan praktik dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan bersama dan melibatkan proses kerja individu dan kerja bersama untuk mencapai tujuan bersama. Motivasi utamanya biasanya untuk mencapai hasil kolektif yang tidak mungkin tercapai jika masing-masing pihak bekerja sendiri. Kerjasama menurut Syani merupakan suatu bentuk proses sosial yang didalamnya terdapat kegiatan-kegiatan tertentu yang bertujuan untuk mencapai tujuan bersama dengan cara saling membantu dan memahami kegiatan masing-masing.
Sebagaimana dikutip Abdulsyani, Roucek dan Warren, kolaborasi berarti bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok mencakup seluruh kehidupan individu, dan masing-masing mengejar yang lain untuk pekerjaannya masing-masing, demi kepentingan semua anggota kelompok. Kolaborasi sekunder ini sangat formal dan terspesialisasi, dan setiap individu hanya mengabdikan sebagian hidupnya untuk kelompok yang menjadi satu kesatuannya.
Jika alat-alat bersama tidak lagi membantu masing-masing pihak mencapai tujuannya, misalnya hubungan antara pekerja dan manajemen perusahaan, hubungan dua pihak dalam upaya melawan pihak ketiga (Ahmadi, 2004). Asas saling menghormati berarti saling memahami dan menghormati peran dan kedudukan masing-masing dalam tindakan bersama.
Kerangka Pikir Penelitian
Partisipasi masyarakat dalam Musrenbangdes adalah keikutsertaan warga masyarakat dalam kegiatan Musrenbangdes Desa mulai dari tahap Pra Musrenbangdes, pelaksanaan Musrenbangdes, dan Pasca Musrenbangdes. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Takalar dengan fokus pada pelaksanaan Musrenbang Desa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan.Tujuan penelitian adalah pelaksanaan Musrenbang Desa di desa-desa yang ada di wilayah tersebut. Penelitian berlangsung selama dua bulan yaitu pada bulan Juli sampai Agustus 2016 dengan melakukan evaluasi pelaksanaan Musrenbang Desa yang dilaksanakan di desa-desa di wilayah kecamatan Polongbangkeng Selatan.
PPN/01/2007 telah mengatur secara tegas mekanisme penyelenggaraan Musrenbang Desa yang harus dilaksanakan secara holistik. Pendapat salah satu Kepala Dusun tentang perlu tidaknya dibentuk TPM Desa dan Tim Pembina/Pokja Musrenbang Desa. Artinya, jika suatu mekanisme tidak dijalankan maka ada potensi pelaksanaan Musrenbang desa tidak berjalan dengan baik.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, perencanaan dalam Musrenbang desa hendaknya didasarkan pada permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi masyarakat. Penyelenggaraan Musrenbang Desa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan hendaknya benar-benar mengacu pada petunjuk teknis dan peraturan yang ada sesuai tahapan sebelum Musrenbang Desa, pelaksanaan dan setelah Musrenbang Desa.
Deskripsi Fokus Penelitian
MOTODE PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisi Data
Padahal, sesuai ketentuan undang-undang yang ada, seharusnya kepala desa membentuk kelompok untuk menyusun rancangan RKP desa pada tingkat pra Musrenbang desa. Organisasi yang dimaksud terdiri atas kegiatan pembentukan tim organisasi Musrenbang Desa, pembentukan tim pembina Musrenbang/Pokja Desa, persiapan teknis pelaksanaan Musrenbang Desa, dan koordinasi persiapan logistik Musrenbang Desa. Selain itu, kepala desa membentuk pendapat peserta TPM desa (informan) dan kelompok pemandu Musrenbang desa sebagai alat pelengkap dalam penyelenggaraan Musrenbang desa.
Kegiatan diskusi kelompok dan diskusi pleno yang terpantau pada saat pelaksanaan Musrenbang Desa nampaknya tidak diagendakan oleh penyelenggara atau Pemerintah Desa pada tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa di salah satu Desa yang ada. Berdasarkan situasi tersebut, salah satu warga masyarakat yang menjadi peserta Musrenbang mengomentari pentingnya diskusi kelompok/pleno dalam forum Musrenbang Desa. Memperhatikan jawaban responden dari hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa setelah selesainya kegiatan Musrenbang Desa, terlihat adanya kegiatan yang tidak ditindaklanjuti oleh Tim Perumus yang telah dibentuk.
Musrenbang Desa dilaksanakan setiap bulan Januari dengan mengacu pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa). Analisis dalam penelitian ini berfokus pada partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan khususnya pada Musrenbang Desa dengan menggunakan pendekatan pengelolaan kolaboratif.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Lokasi Penelitian
Sedangkan kecamatan dengan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Galesong Utara dengan luas 15,11 km2 atau sekitar 2,67% dari luas wilayah kabupaten ini secara keseluruhan, dan Kecamatan Polongbangkeng Selatan mempunyai 7 wilayah desa/kelurahan. Salah satu kecamatan di Kabupaten Takalar yang menjadi lokasi atau subjek penelitian yaitu Kecamatan Polongbangkeng Selatan. Secara administratif wilayah Kecamatan Polongbangkeng Selatan terletak di utara dan berbatasan dengan Kecamatan Polongbangkeng Utara, di timur dengan Kecamatan Jene'ponto, di selatan dengan Kecamatan Mangarabombang, dan di barat dengan Kecamatan Pattallassang.
Kecamatan Polongbangkeng Selatan memiliki topografi datar hingga berbukit dengan ketinggian berkisar antara 1-100 m di atas permukaan laut. Pola curah hujan di Kecamatan Polongbangkeng Selatan ini dikenal dengan 2 (dua) musim yaitu musim barat dan musim hujan dengan angin barat yang turun pada bulan Oktober – Maret, sedangkan musim kemarau dengan angin timur yang jatuh pada bulan April – September dan mempunyai 3 (tiga) musim. ) bulan-bulan musim kemarau yang sering terjadi pada dekade pertama bulan Juli – dekade kedua bulan Oktober dan sangat kritis pada bulan September. Jumlah penduduk, rumah tangga dan kepadatan penduduk tiap desa dan kelurahan di Kecamatan Polongbangkeng Selatan.
Data pada Tabel 4.3 di atas menunjukkan jumlah penduduk, kondisi rumah tangga dan kepadatan penduduk tiap desa/kelurahan di Kecamatan Polongbangkeng Selatan. Dari jumlah penduduk di Kecamatan Polongbangkeng Selatan sebanyak 25.547 jiwa, terlihat bahwa desa/kelurahan yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak adalah Desa Bulukunyi dengan jumlah penduduk 4.817 jiwa, sedangkan desa/kelurahan yang mempunyai jumlah penduduk paling sedikit adalah Desa Pa'bundukang. /kabupaten berpenduduk 2.072 jiwa. rakyat.
Hasil Penelitian
- Pelaksanaan Musrenbang
- Pola Partisipasi Masyarakat Melalui Kolaborasi Governance
Mekanisme penyelenggaraan Musrenbang Desa disusun dalam 3 tahap, yaitu tahap pra, tahap pelaksanaan, dan tahap pasca Musrenbang Desa. “Karena TPM Desa dan Tim Pembina/Pokja Musrenbang Desa merupakan bagian dari kelengkapan penyelenggaraan Musrenbang Desa, dimana koordinasi tersebut sangat diperlukan untuk persiapan teknis dan bahan-bahan yang dibutuhkan Musrenbang Desa” (wawancara, AT.De hasil Wawancara di atas membuktikan bahwa keberadaan TPM Desa dan Tim Pembina/Pokja Musrenbang Desa di mata masyarakat sangat penting dalam menyelenggarakan seluruh kegiatan perencanaan pembangunan desa dari Pra hingga Pasca Musrenbang Desa.
Tujuan dibentuknya TPM desa adalah untuk mengatur segala kebutuhan teknis dan non teknis Musrenbang desa mulai dari tahap pra, pelaksanaan dan pasca Musrenbang desa. Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa agenda musyawarah kelompok/pleno sengaja ditinggalkan oleh penyelenggara Musrenbang desa. Bukti tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan pengambilan keputusan atau pengambilan kebijakan dalam forum Musrenbang desa lebih banyak ditentukan oleh pemerintah desa dan perangkat desa.
Jika dicermati hasil wawancara ketiga informan di atas, masih terlihat adanya indikasi tim perancang desa tidak mengadakan rapat kerja pasca pelaksanaan Musrenbang desa. Sebagian informan menyatakan ada rapat kerja kelompok perancang desa, ada pula yang menyatakan tidak ada rapat kerja setelah Musrenbang desa dalam rangka penyusunan dan publikasi berita acara Musrenbang desa beserta lampirannya (daftar usulan kegiatan untuk diserahkan ke kabupaten). Konsep pengelolaan kolaboratif ini digunakan untuk menunjukkan sejauh mana keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di desa bersangkutan yang terlibat dalam setiap tahapan mekanisme Musrenbang Desa, mulai dari tahap pra Musrenbang, pelaksanaan Musrenbang, dan pasca Musrenbang Desa.
Namun yang muncul justru dokumen hasil Musrenbang desa tanpa melalui proses sinkronisasi usulan berbagai kegiatan yang telah disampaikan warga selama pelaksanaan Musrenbang.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Bentuk pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan Kabupaten Takalar meliputi tahap Pra Musrenbang Desa; implementasi pada fase ini tidak berjalan dengan baik. Ada beberapa mekanisme yang tidak dilaksanakan, seperti pembentukan tim penyusun RKP Desa yang terkesan hanya formalitas saja, karena terkadang tim ini tidak melaksanakan kegiatan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan, misalnya ada pertemuan. jarang diadakan, atau tidak mengundang seluruh pemangku kepentingan terkait. Pada tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa terlihat pada prinsipnya telah dilaksanakan secara tepat waktu sesuai dengan agenda pelaksanaan Musrenbang Desa. Ada beberapa permasalahan yang terabaikan dalam implementasinya, seperti kegagalan dalam menerapkan mekanisme sesuai spesifikasi teknis. petunjuk pelaksanaan Musrenbang Desa.
Dalam pelaksanaannya, seluruh pemangku kepentingan yang ada diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat dan mengusulkan program yang berkaitan dengan kepentingan masing-masing.
Saran
Hasil Musrenbang desa sebaiknya dipublikasikan melalui media seperti poster, baliho yang dipajang di tempat umum agar warga masyarakat dapat mengetahui hasil pelaksanaan Musrenbang desa apa yang telah disepakati dan mengambil keputusan di desa. Bogdan, Robert dan Steven Taylor, 1992, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, Diterjemahkan oleh Arief Furchan Surabaya, Usana Nasional. Analisis Kebijakan Publik, Universitas Pittsburgh, Penerjemah Samodra, Diah Asitadani, Agus H, Erwan Agus, Gajah Mada University Press, Jakarta.