BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Pengertian dan Konsep Kolaborasi
Istilah kolaborasi biasanya digunakan untuk menjelaskan praktik dua pihak atau lebih untuk mencapai tujuan bersama dan melibatkan proses keja masingmasing maupun kerja bersama dalam mencapai tujuan bersama tersebut. Motivasi utamanya biasanya adalah memperoleh hasil- hasil kolektif yang tidak mungkin dicapai jika masing-masing pihak bekerja sendiri-sendiri. Selain seperti dalam kerjasama, para pihak berkolaborasi biasanya dengan harapan mendapatkan hasil-hasil yang inovatif, terobosan, dan/atau istimewa/luar biasa, serta prestasi kolektif yang memuaskan. Kolaborasi biasanya dilakukan agar memungkinkan
40
muncul/berkembangnya saling pengertian dan realisasi visi bersama dalam lingkungan dan sistem yang kompleks.
Kolaborasi merupakan salah satu bentuk interaksi sosial. Menurut Syani (1994:156), Kolaborasi adalah suatu bentuk proses sosial, dimana didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami aktivitas masing-masing. Sebagaimana dikutip oleh Abdulsyani, Roucek dan Warren, mengatakan bahwa kolaborasi berarti bekerja bersama-sama untuk mencapal tujuan bersama. la adalah suatu proses sosial yang paling dasar. Biasanya, kolaborasi melibatkan pembagian tugas, dimana setiap orang mengerjakan setiap pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya demi tercapainya tujuan bersama. Sedangkan dalam istilah administrasi, pengertian kolaborasi sebagaimana yang djelaskan oleh Hadari Nawawi (1984) adalah usaha untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan melalui pembagian tugas/pekerjaan, tidak sebagai pengkotakan kerja akan tetapi sebagal satu Kkesatuan kerja, yang semuanya terarah pada pencapaian tujuan.
Berdasarkan berbagai pengertian kolaborasi yang dikemukakan para ahli, pada dasarnya kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa elemen yang terkait baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang teribat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan mantaat. Nilai-nilai yang mendasari sebuah kolaborasi adalah tujuan yang sama, kesamaan persepsi, kemauan untuk
41
berproses, saling memberikan manfaat, kejujuran, kasih sayang serta berbasis masyarakat. Konsep kolaborasi didefinisikan juga digunakan untuk menggambarkan suatu hubungan kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Sekian banyak pengertian dikemukakan dengan sudut pandang beragam namun didasan prinsip yang sama yaitu mengenai kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, kesetaraan, dan tanggung jawab. Namun demikian kolaborasi sulit didefinisikan untuk meng- gambarkan apa yang sebenarnya yang menjadi esensi dari kegiatan ini.
Ada tiga jenis kooperasi (kolaborasi) yang didasarkan perbedaan antara organisasi grup atau di dalam sikap grup, yaitu :
1. Kolaborasi Primer, disini grup dan individu sunggun-sunggun dilebur menjadi satu. Grup berisi seluruh kehidupan daripada individu, dan masing-masing saling mengejar untuk masing-masing pekerjaan, demi kepentingan seluruh anggota dalam grup itu. Contohnya adalah kehidupan rutin sehari-hari dalam bicara, kehidupan keluarga pada masyarakat primitif dan lain- lainnya (Ahmadi, 2004).
Di dalam kelompok-kelompok kecil seperti keluarga dan komunitas-komunitas tradisional proses sosial yang namanya kooperasi ini cenderung bersifat spontan. Inilah kooperasi terbentuk secara wajar di dalam kelompok-kelompok yang disebut kelompok primer. Di dalam kelompok-kelompok ini individu-individu cenderung membaurkan diri
dengan sesamanya di dalam Kelompok, dan masing-masing berusaha menjadi bagian dari kelompoknya. Di dalam kelompok-
42
kelompok primer yang kecil dan bersifat tatap muka ini, orang perorangan cenderung lebih senang bekerja dalam tim selaku anggota tim dari pada bekerja sebagai perorangan (Narwoko, 2004).
2. Kolaborasi Sekunder, apabila kolaborasi primer karakteristik dan masyarakat primitif, maka kolaborasi sekunder adalah khas pada masyarakat modern. Kolaborasi sekunder ini sangat diformalisir dan spesialisir, dan masing-masing individu hanya memban ktikan sebagian dari pada hidupnya kepada grup yang dipersatukan dengan itu. Sikap orang-orang di sisni lebih individualistis dan mengadakan perhitungan- perhitungan. Contohnya adalah kolaborasi dalam kantor-kantor dagang, pabrik-pabrik, pemerintahan dan sebagainya (Ahmadi, 2004)
3. Kolaborasi Tertier, dalam hal ini yang menjadi dasar kolaborasi yaitu konflik yang laten. Sikap-sikap dari pihak-pihak yang berkolaborasi adalah murni oportunis. Organisasi mereka sangat longgar dan gampang pecah. Bila alat bersama itu tidak lagi membantu masing-masing pihak dalam mencapai tujuannya, contohnya adalah hubungan buruh dengan pimpinan perusanaan, hubungan dua partai dalam usaha melawan partai ketiga (Ahmadi, 2004).
Alasan atau latar belakang adanya kolaborasi, sebagalimana dikutip Syani (1994) dari pandangan Charles Horton Cooley, bahwa kolaborasi timbul apabila :
1. Orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentungan-kepentingan yang sama dan pada saat bersamaan mempunyai cukup pengetahuan
43
dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan- kepentingan tersebut melalui kolaborasi.
2. Kesadaran akan adanya kepentingan-kepetingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kolaborasi yang berguna. Pada dasarnya kolaborasi dapat terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang dapat memperoleh keuntungan atau manfaat dari orang atau kelompok lainnya: demikian pula sebaliknya (Syani, 1994:62).
Kolaborasi yang baik dapat terlaksana secara efektif apabila memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Prinsip saling menghormati artinya saling memahami dan menghormati peran dan kedudukan masing-masing dalam kegiatan bersama.
2. Prinsip saling menghargai artinya menghargai pendapat oranglain dan bersedia untuk memeriksa beberapa alternatit pendapat dan perubahan kepercayaan.
3. Prinsip saling kerjasama artinya ikut serta dan berpartisipasi sesuai peran dan kedudukan masing-masing.
4. Prinsip saling memberi Kemanfaatan artinya setiap individu dalam tim mengartikannya sebagai suatu hubungan yang memfasilitasi proses dinamis antara orang-orang yang ditandai oleh keinginan maju untuk mencapai tujuan dan kepuasan setiap anggota.
5. Prinsip saling asah, asin dan asuh artinya dalam berkolaborasi setiap pihak dapat saling asah (belajar), asuh (perdul) dan asih (menyayangi).
Dengan kata lain, dengan adaya peroedaan maka kita mempunyai
44
peluang untuk saling belajar satu dengan yang lain, saling perduli dan saling menyayangi.
6. Prinsip saling percaya. konsep umum untuk semua prinsip kolaborasi.
Tanpa rasa percaya, saling menghormati dan saling menghargai menjadi tanpa makna, kerjasama tidak akan ada, kemanfaatan sulit didapat, dan tidak ada saling asah, asih dan asuh dalam kebersamaan.