BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Pelaksanaan Musrenbang
57
26.547 jiwa, yang terdiri dari 6.989 rumah tangga dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 358 jiwa/km. Dari total jumlah penduduk sebanyak 25.547 jiwa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan terlihat desa/kelurahan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak adalah Kelurahan Bulukunyi sebanyak 4.817 Jwa, sedangkan desa/keluranan yang memiliki penduduk paling sedikit adalah Desa/Kelurahan Pa'bundukang sebanyak 2.072 Jiwa.
Berdasarkan data yang ada dalam Tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa penyebaran penduduk masih banyak terkonsentrasi dalam wilayah Kecamatan Polongbangkeng Selatan berada pada ibukota kecamatan yakni pada Kelurahan Bulukunyi, hal tersebut disebabkan karena ibukota kecamatan masih menjadi sentra ekonomi, dan juga menjadi pusat pemerintahan kecamatan, termasuk juga sarana dan prasarana sosial ekonomi seperti lembaga pendidikan, kantor-kantor pemerintahan pada umumnya terdapat di ibukota kecamatan.
58
Menteri Dalam Negeri No. 0008/M. PPN/01/2007 telah mengatur dengan tegas tentang mekanisme penyelenggaraan Musrenbang Desa yang harus dilalui secara menyeluruh (holistik).
Mekanisme penyelenggaran Musrenbang Desa diatur dalam 3 tahapan meliputi, tahapan pra, tahapan pelaksanaan dan tahapan pasca Musrenbang Desa. Adapun penilaian responden mengenai proses pelaksanaan Musrenbang Desa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan Kabupaten Takalar adalah sebagai berikut :
a. Pra Musrenbang Desa
Pada penyusunan Draft Rancangan Awal RKP Desa yang di dalamnya mencakup kegiatan rapat pembentukan Tim Penyusun RKP Desa, Pembahasan Program/Usulan di Dokumen RPJM Desa, Kajian Ulang hasil Musrenbang Desa Tahun sebelumnya, Analisis data tentang kondisi permasalahan dan potensi desa yang dilakukan bersama masyarakat dan Lokakarya Desa, tidak ditemukan data atau informasi berupa dokumen dan hasil wawancara yang mendukung bahwa kegiatan tersebut terlaksana sesuai mekanisme dan ketentuan yang ada.
Sehubungan pembentukan Tim Penyusun draft rancangan awal RKP Desa, berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang kepala dusun dijelaskan bahwa :
“Sebagaimana saya ketahui bahwa setelah dilakukan Musrenbang Desa ada pembentukan Tim Penyusun RKP Desa yang dilakukan secara musyawaran antara selurun komponen yang terkait dengan penyusunan program terdini atas warga masyarakat, kepala dusun, ketua RT/RW, perwakilan wanita, dan tokoh-tokoh masyarakat,”
(Wawancara, H. DS/15/08/2016).
59
Pada kesempatan lain, berdasarkan wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat (tokoh agama) pada salah satu desa dijelaskan bahwa :
"Ada Tim Penyusun RKP Desa yang dibentuk oleh Kepala Desa, tapi itu terjadi setelah Musrenbang Desa. Prosesnya Kepala Desa mengundang unsur masyarakat untuk duduk bersama dalam satu forum rapat pembentukan tim. Hanya saja menurut saya, Tim Penyusun RKP Desa dibentuk bukan untuk bekerja melainkan hanya sebagai formalitas saja. Kesan formalitas ini kuat, karena sejatinya Tim Penyusun RKP Desa dibentuk di Pra Musrenbang Desa dan bukan setelah Musrenbang Desa. Saya tahu bahwa Tim Penyusun RKP Desa tidak bekerja, karena saya bagian dari timn tersebut' (Wawancara, AG, 20/8/2016).
Hasil wawancara di atas, menunjukkan bahwa Kepala Desa membentuk Tim Penyusun draft rancangan awal RKP Desa setelah Musrenbang Desa. Padahal, menurut ketentuan Undang-Undang yang ada, Tim Penyusun draft rancangan awal RKP Desa seharusnya dibentuk oleh Kepala Desa pada tahap Pra Musrenbang Desa.
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbang Desa) adalah perwujudan demokrasi permusyawaratan yang membutuhkan pengorganisasian secara baik. Pengorganisasian dilakukan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan Musrenbang Desa.
Pengorganisasian yang dimaksud terdiri dari kegiatan pembentukan Tim Penyelenggara Musrenbang Desa, pembentukan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa, persiapan teknis pelaksanaan Musrenbang Desa dan pengkoordinasian persiapan logistik Musrenbang Desa.
Dari hasil wawancara di atas, maka dapat diketahui dengan jelas bahwa Kepala Desa tidak membentuk TPM Desa dan Tim Pemandu/
60
Pokja Musrenbang Desa pada penyelenggaraan Musrenbang Desa tahun 2016. Hal yang sangat penting diabaikan dalam proses tahap persiapan (Pra) Musrenbang Desa.
Selanjutnya, pendapat peserta Musrenbang Desa (Informan) tentang pentingnya TPM Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa dibentuk oleh Kepala Desa sebagai alat kelengkapan dalam pengorganisasian Musrenbang Desa.
Menurut pendapat salah seorang Kepala Dusun tentang penting atau tidaknya dibentuk TPM Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa. la mengatakan bahwa :
“TPM Desa memang sangat penting dan wajib dibentuk karena ini menjadi persyaratan. Karena TPM Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa adalah bagian kelengkapan dari pengorganisasian Musrenbang Desa mengkoordinir yang sangat diperlukan untuk persiapan teknis dan bahan-bahan kebutunan Musrenbang Desa” (wawancara, AT, 20/8/2016).
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Ketua BPD dengan mengatakan bahwa :
“Pembentukan Tim Penyelenggara Musyawarah Desa memang harus dilakukan karena sangat penting. TPM ini bertugas mempersiapkan pelaksanaan Musrenbang Desa secara efektit dan efisien, selain itu ada juga Tim Pemandu/Tim Kelompok Kerja (Pokja) Musrenbang Desa" Wawancara, TRI, 24/8/2016).
Hasil wawancara di atas, membuktikan bahwa keberadaan TPM Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa dalam pandangan masyarakat sangat penting artinya dalam mengorganisir seluruh kegiatan perencanaan pembangunan desa sejak dari tahapan Pra sampai Pasca Musrenbang Desa. Namun faktanya, Kepala Desa tidak membentuk TPM
61
Desa dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada kecenderungan pelaksanaan Musyawarah Pembangunan Desa yang dilaksanakan selama ini ada tahapan yang tidak terlaksana sebagaimana yang diarahkan oleh peraturan yang ada.
Dengan demikian berarti adanya mekanisme yang tidak dijalankan, maka akan berpotensi terhadap pelaksanaan Musrenbang Desa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sesual dengan tahapan Musrenbang Desa, dalam tahap awal Pra Musrenbang perlu dibentuk TPM Desa. Tujuan dibentuknya TPM Desa adalah untuk mengorganisir seluruh kebutuhan Musrenbang Desa yang bersifat teknis maupun yang nonteknis mulai dari tahapan Pra, Pelaksanaan dan Pasca Musrenbang Desa. Sedangkan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa adalah menjadi fasilitator untuk mempermudah dan membantu semua peserta untuk terlibat secara aktif pada saat mengikuti Musrenbang Desa agar dapat berjalan dengan efektif, efisien dan partisipatif.
b. Proses Penyelenggaraan Musrenbang Desa
Tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa adalah merupakan forum pertemuan masyarakat desa untuk membahas dan menetapkan rancangan RKP Desa yang akan menjadi Peraturan Kepala Desa. Proses- proses kegiatan yang ada pada tahapan ini, meliputi: Pendaftaran peserta Musrenbang Desa, pemaparan Pemerintah Desa atas prioritas kegiatan pembangunan Desa, evaluasi hasil pembangunan lima tahun
62
sebelumnya, prioritas kegiatan untuk pembangunan lima tahun berikutnya yang bersumber dari RPJM Desa, penjelasan tentang perkiraan jumlah pagut anggaran kegiatan pembangunan lima tahunan di desa. Pemaparan perwakilan masyarakat atas masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat desa, pemaparan Pemerintah Kecamatan, pemaparan perwakilan Pemerintah Kabupaten, pemaparan anggota DPRD, pemaparan draft rancangan awal RKP Desa oleh Tim Penyusun yang diwakili Sekdes, diskusi kelompok dan diskusi pleno dengan peserta Musrenbang Desa.
Terkait penjelasan tata tertib atau tata cara mengikuti Musyawarah oleh Tim penyelenggara dan Tim Pemandu/Pokja Musrenbang Desa, peserta Musrenbang Desa, salah seorang Kepala Dusun yang ada mengatakan bahwa:
“Tidak ada pengarahan. Semua peserta langsung saja mengikuti Musrenbang setelah acara pembukaan” (Wawancara, AM, 25/08/2016).
Penjelasan yang senada dikemukakan oleh salah seorang tokoh masyarakat mengenai tidak adanya penjelasan tata tertib acara Musrenbang Desa kepada peserta forum musyawarah, dikatakan sebagai berikut:
“Sehubungan dengan pelaksanaan Musyawarah Pembangunan Desa sepagaimana petunjuk teknis yang ada, dari hasil pelaksanaan yang saya lihat tidak ada pengantar atau penjelasan mengenai tata tertib, jangankan penjelasan tata tertib atau tata cara musyawarah, agenda acara saja itu waktu tidak disampaikan kepada peserta. Sehingga para peserta biasanya bertanya-tanya tentang kegiatan yang mau dilakukan (Wawancara, 26/8/2016).
63
Hasil wawancara di atas, menunjukkan bahwa pihak pelaksana Musrenbang Desa yang dikoordinir langsung oleh Pemerintah Desa bersama perangkat desa seperti tidak mengacu pada kerangka kerja desa yang baik dalam mengarahkan atau memandu peserta forum musyawarah. Padahal, agenda acara dan tata tertib/tata cara bermusyawarah sangat penting dibuat dan disampaikan kepada forum untuk menjadi panduan penyelenggaraan kegiatan agar dapat terwujud keseragaman persepsi, yang pada akhirnya dapat dicapai hasil maksimal dalam mengimplementasikan tertib musyawarah, tertib komunikasi dan tertib administrasi.
Dalam hubungannya dengan pemaparan narasumber pada tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa, pandangan salah seorang informan mengatakan bahwa:
“Tidak ada pemaparan Kepala Desa, tidak ada pemaparan dari perwakilan masyarakat, tidak ada pemaparan dari Camat, tidak ada pula dari pemaparan BPMD, Dinas Pertanian dan Dinas Koperasi yang hadir dalam Musrenbang Desa" (Wawancara, 28/8/2016).
Dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa tidak seorang pun narasumber seperti Kepala Desa, Perwakilan Masyarakat, Kepala Kecamatan, Pejabat yang mewakili Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Takalar yang melakukan pemaparan di depan peserta forum musyawarah terkait substansi pokok Musrenbang Desa. Kemudian yang menarik untuk kita cermati adanya pernyataan Informan, yang mengindikasikan bahwa kehadiran narasumber hanya sebatas memberikan sambutan-sambutan saja pada acara pembukaan
64
Musrenbang Desa. Padahal semestinya narasumber inilah yang berperan dalam mengarahkan para peserta supaya Musrenbang ini tepat sasaran.
Dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa Sekretaris Desa yang mewakili Tim Penyusun RKP Desa tidak melakukan pemaparan draft rancangan awal RKP Desa di depan forum peserta Musrenbang Desa. Padahal, pemaparan draft rancangan awal RKP Desa dimaksudkan untuk memberikan ruang partisipasi aktif bagi peserta forum Musrenbang Desa agar dapat menanggapi dan mengkritisi mengenai berbagai hal kebutuhan warga masyarakat, baik yang sudah maupun yang belum terakomodasi sama sekali. Tapi pada kenyataannya hal tersebut, tidak terjadi di forum Musrenbang Desa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan. Sehingga terkesan warga atau peserta forum musyawarah dipaksa untuk pasrah menerima draft yang sudah dibuat oleh Pemerintah Desa.
Kegiatan lainnya yang pada tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa adalah diskusi kelompok. Kegiatan diskusi kelompok dan diskusi pleno sebagaimana pengamatan yang dilakukan pada pelaksanaan Musrenbang Desa terlihat tidak diagendakan oleh pihak penyelenggara atau Pemerintah Desa pada tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa yang ada pada salah satu Desa yang ada. Padahal kegiatan tersebut, merupakan kegiatan penting dan ditunggu oleh semua peserta sebagai alat atau saluran komunikasi untuk mendiskusikan perencanaan kegiatan/program pembangunan di desa seperti, pendidikan, kesehatan,
65
sarana/prasarana, lingkungan hidup, soSial budaya, pemerintahan dan sejumlah permasalahan kondisi maupun potensi desa yang ada.
Hal tersebut di atas, dibenarkan oleh salah seorang Sekretaris Desa, sebagaimana dijelaskan bahwa:
“Diskusi kelompok dan pleno memang tidak dilaksanakan.
Pendamping Desa hanya membagikan kepada para peserta musyawarah daftar usulan kegiatan atau program yang sudah dibuat oleh tim kajian Pemerintah Desa. Selanjutnya, masing- masing peserta disuruh menceklist skala prioritas kegiatan atau program yang dipandu oleh Pendamping Desa (Wawancara, NR, 27/8/2016).
Dari penjelasan tersebut, dapat diartikan bahwa agenda diskusi kelompok/pleno sengaja ditiadakan oleh pihak penyelenggara Musrenbang Desa. Kemudian melalui Pendamping Desa, semua peserta dibagikan dan di arahkan untuk memilih daftar usulan kegiatan/program yang telah dibuat oleh Pemerintah Desa guna dijadikan sebagai daftar skala prioritas dalam dokumen RPJM Desa dan RKP Desa.
Berdasarkan pada situasi tersebut, dikatakan oleh salah seorang warga masyarakat yang menjadi peserta Musrenbang mengenai pentingnya diskusi kelompok/pleno dalam forum Musrenbang Desa? La berpandangan bahwa:
“Tentu penting. Sebab Musrenbang Desa adalah forum dialog bagi warga desa untuk mendiskusikan dan menyetujui beberapa daftar usulan kegiatan atau program yang penganggarannya ada di desa dan daftar kegiatan atau program dibiayai oleh APBD”
(Wawancara, MR 26/8/2016)
Fakta hasil wawancara di atas, menguatkan bahwa dalam tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa, pihak penyelenggara/ pemandu
66
(Pendamping Desa) tidak membuka forum diskusi kelompok/ pleno bagi peserta musyawarah yang menurut para peserta (Informan) sangat penting bagi mereka untuk dilaksanakan. Artinya, bahwa Peserta Musrenbang Desa tidak diberi kesem-patan melakukan diskusi kelompok untuk membahas urusan kegiatan/program wajib dan pilihan sebelum memplenokan daftar prioritas usulan kegiatan yang akan menjadi dokumen RPJM Desa dan dokumen RKP Desa.
Kemudian hasil pengamatan juga menunjukkan, bahwa peserta musyawarah lebih banyak diarahkan atau disarankan untuk menerima dan memilih dengan cara menceklist saja daftar usulan kegiatan yang formulasinya telah dibuat oleh Pemerintah Desa yang belum tentu sesuai dengan aspirasi/kebutuhan masyarakat (daftar usulan kegiatan RKP Desa terlampir). Bukti ini memperlihatkan bahwa kekuatan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan di forum Musrenbang Desa lebih banyak ditentukan oleh Pemerintah Desa dan perangkat desa.
c. Pasca Musrenbang Desa
Pada tahapan ini terdapat beberapa kegiatan yang harus dikerjakan dan dituntaskan oleh Tim Perumus Desa sebagai tindak lanjut hasil keputusan/ keluaran dari dua tahapan kegiatan sebelumnya, khususnya hasil keputusan/keluaran pada tahapan kegiatan pelaksanaan Musrenbang Desa yang meliputi tiga hal berupa; Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP Desa), Daftar nama Tim Delegasi Desa yang akan mengikuti Musrenbang Kecamatan dan Berita Acara Musrenbang Desa.
67
Untuk mengejawantahkan hasil keputusan/keluaran dari tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa, Kepala Desa sesuai kewenangannya berdasarkan aturan yang berlaku mengadakan rapat kerja bersama dengan Tim Penyusun/Perumus Desa untuk menerbitan Berita Acara Musrenbang Desa beserta lampiran-lampirannya berupa dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP Desa), rangkuman acara hasil Musrenbang Desa dengan memuat daftar prioritas kegiatan Kecamatan maupun Daerah untuk diajukan ke Musrenbang Kecamatan yang pendanaannya melalui PNPM, APBD Kabupaten/Kota dan Provinsi.
Selain agenda rapat kerja, Kepala Desa dan Tim Perumus Desa juga melakukan pembekalan terhadap Tim Delegasi Desa dengan materi penguasan data/informasi dan penjelasan mengenai usulan kegiatan di Musrenbang Kecamatan, serta penguatan kemampuan Tim Delegasi Desa terkait wawasan, teknik komunikasi dan presentasi usulan kegiatan.
Penilaian informan dalam tahapan Pascamusrenbang Desa di Kecamatan Polongbangkeng Selatan terkait dengan kegiatan rapat kerja Tim Perumus Desa dan pembekalan Tim Delegasi Desa. Untuk rapat kerja Tim Perumus Desa. Penilaian salah seorang informan dikatakan bahwa:
“Saya hanya biasa mendengar ada rapat di Kantor Desa. Tapi saya tidak tahu, apakah itu rapat kerja Tim Perumus atau bukan”
(Wawancara, MK., 21/8/2016).
Hal serupa juga dIkemukakan oleh salah seorang Kepala Dusun yang mengatakan bahwa:
68
“Kalau pertemuan di Kantor Desa pernah ada saya dengar.
Pertemuan itu juga saya tidak tahu untuk apa dan siapa yang melakukan pertemuan (Wawancara, AM, 24/8/ 2016).
Apabila dicermati secara baik hasil wawancara dari ketiga Informan di atas, tetap menunjukkan adanya indikasi Tim Perumus Desa tidak melakukan rapat kerja setelah dilaksanakannya Musrenbang Desa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ketua BPD yang mengatakan bahwa:
“Tidak pernah. Dan tentu hal ini sangat disayangkan, karena Tim Perumus Desa tidak melakukan kegiatan apapun yang semestinya harus dikerjakan" (Wawancara, MT, 25/8/2016).
Memperhatikan tanggapan responden dari hasil wawancara di atas memperlihatkan bahwa setelah selesainya kegiatan Musrenbang Desa sepertinya tidak ditindaklanjut dengan kegiatan oleh Tim Perumus yang telah dibentuk. Tugas dan fungsi dari tim perumus ini sebenannya sangat penting dan strategis, karena dari tim inilah yang melakukan sinkronisasi dari seluruh program yang diusulkan oleh masyarakat melalui Musrenbang Desa. Sinkronisasi ini penting karena pelaksanaan pembangunan pada setiap desa-desa yang ada dalam wilayah kecamatan, selalu ada yang saling berhubungan dan terkait antara satu dengan yang lain. Artinya satu program dapat menunjang terselenggaranya program lainnya, namun juga bisa saja terjadi salah satu program yang ada pada satu desa mungkin berpotensi menghambat pelaksanaan program lainnya pada desa yang berbeda.
Itulah sebabnya perlu dilakukan pertemuan-pertemuan atau rapat antara Tim Perumus dengan stakeholder yang ada pada setiap desa
69
supaya program-program yang akan diusulkan nanti pada tingkat Musrenbang Kabupaten dapat lebih baik, realistis dan sesuai dengan kebutuhan warga masyarakat.
Sebagaimana penjelasan dari Camat Polongbangkeng Selatan berdasarkan hasil wawancara dijelaskan sebagai berikut:
"Setelah dilaksanakan Musrenbang Desa, hasil-hasilnya nanti dikumpulkan dan dipelajari serta dilakukan penelaahan oleh Tim ahli atau tim perumus yang dibentuk, hal ini dimaksudkan supaya program-program pembangunan yang diusulkan nanti ke kabupaten dapat lebih terpadu sebagai satu kesatuan program pembangunan kecamatan. Sehingga sinkronisasi pelaksanaan program dapat menjadi lebih baik sehingga hasil yang diperoleh nanti dapat lebih maksimal.” (wawancara, tgl 26/8/2016).
Hasil wawancara di atas, menunjukkan bahwa terjadi perbedaan pendapat antara Informan satu dengan lainnya terkait ada dan tidaknya rapat kerja Tim Perumus Desa Pascamusrenbang Desa. Sebagian Informan mengindikasikan adanya rapat kerja Tim Perumus Desa dan sebagian lagi mengatakan tidak ada rapat kerja pasca Musrenbang Desa dalam rangka penyusunan dan penerbitan Berita Acara Musrenbang Desa beserta lampiran-lampirannya (daftar usulan kegiatan yang akan diajukan ke Kecamatan).
Berdasarkan data dan fakta lapangan tersebut, dapat diketahui bahwa sesunggunya Tim Perumus Desa tidak pernah melakukan rapat- rapat kerja Pasca Musrenbang Desa sebagaimana yang dikehendaki oleh Permendagri Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa yaitu, Pasal 34 dengan tegas menyebutkan ada 4 kegiatan penting yang harus dilaksanakan oleh Tim Perumus Desa sehubungan dengan
70
penyusunan RKP Desa antara lain: (a) pencermatan pagu indikatif desa dan penyelarasan program/kegiatan masuk ke desa, (b) pencermatan ulang dokumen RPJM Desa, (c) penyusunan rancangan RKP Desa, dan (d) penyusunan rancangan daftar usulan RKP Desa.
2. Pola Partisipasi Masyarakat Melalui Kolaborasi Governance dalam