BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Kerangka Pikir
36
37
Budaya Suku Bugis di Kab.
Soppeng
Bagan 2.1 Kerangka Pikir
D. Penelitian Relevan
1. M.Zulham pada tahun 2018 pada penelitian yang berjudul Makna Simbol Tari Paduppa (Tari Selamat Datang ) Kota Palopo, HasilpenelitianiniadalahSetelah penulis mengadakan penelitian dengan pembahasan melalui observasi, studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi mengenai Makna Simbol Tari Paduppa (Tari Selamat Datang) Kota Palopo, penulis dapat membuat simpulan berdasarkan deskripsi yang disajikan pada bab sebelumnya, yaitu: Tari Paduppa yaitu tari yang dibuat untuk menjemput para raja-raja, bangsawan, tamu-tamu penting, yang Bosaranya berisikan beras dan lilin. Beras diartikan sebagai pakkuru sumange sedangkan lilin diartikan sebagai pencerah atau petunjuk jalan menuju kebahagian rumah tangga. Baju bodo merupakan baju
Kesenian Tari Paduppa Eksistensi
Makna dan Nilai
38
tradisional bugis, baju bodo juga merupakan baju tertua di dunia. Untuk pasangan baju bodo digunakan sarung sutera dan assesoris lainnya digunakan perhiasan lainya seperti bando bunga, gelang panjang, kalung, dan anting-anting.
2. Sukman, F. F. pada tahun 2014 pada penelitian yang berjudul Makna Simbolik Tari Paolle Dalam Upacara Adat Akkawaru Di Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan Dalam hasil penelitian ini akan menganalisis makna simbolik struktur Tari Paolle, tentunya tidak terlepas dari unsur-unsur yang berkaitan tekstual Tari Paolle. Kajian tekstual adalah fenomena tari dipandang sebagai bentuk secara fisik (teks) yang relatif berdiri sendiri dan dapat dibaca, ditelaah, atau dianalisis secara tekstual sesuai dengan konsep pemahamannya (Hadi, 2007:23). Kajian tekstual dalam suatu pertunjukan tari dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: a) analisis koreografis yaitu mendeskripsikan atau mencatat secara analitis fenomena tari yang nampak dari segi bentuk luarnya. Dalam menganalisis sebuah tarian, dapat dilakukan dengan telaah bentuk, teknik, dan gaya geraknya; b) analisis struktural adalah analisis bentuk atau tekstual yang termasuk dalam konsep koreografis; c) analisis simbolik adalah sesuatu yang diciptakan olehseniman dan secara konvensional digunakan bersama sehingga memberi pengertian hakekat
39
“karya seni” yaitu suatu kerangka penuh makna untuk dikomunikasikan
kepada lingkungannya, pada dirinya sendiri, sekaligus sebagai produk dan ketergantungan dalam interaksi sosial. Dalam pembahasan ini yang dianalisis secara tekstual adalah aspek-aspek mengenai Tari Paolle yaitu tema, gerak, penari, tata rias dan busana, serta pola lantai.
40 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dan tujuan dan keguanaan tertentu. Unutk mencapai tujuan di perlukan suatu metode yang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai. Metode penlitian yang digunakan peneliti adalah Metode KualitatifMenurut Sugiyono (2017 :25) penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti keadaan yang alamiah. Peneliti merupakan gabungan instrument kunci yang mengumpulkan data secara trigulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari generasi.
Penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan berupa kata-kata tertulis dilapangan dala bentuk data-data seperti perilaku dan kalimat tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan makna dan nilaiTari Paddupa pada proses penyambutan tamu.
Adapun pendekatan penelitian dalam penelitian ini adalaah : 1. Pendekatan Studi Kasus
Studi kasus (case stugy) merupakan yang melakukan terhadap suatu
“kesatuan system”. Kesatuan ini dapat berupa program, kegiatan, peristiwa atau individu yang terkait oleh tempat , waktu, atau ikatan tertentu. Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahkan untuk menghimpun data,
29
41
Makna memperoleh pemahaman dari studi kasusu tersebut. Kasus sama sekali tidak mewakili populasi dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan dari populasi. Kesimpulan studi kasus hanya berlaku untuk kasus tersebut. Tiap kasus bersifat unik atau memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan kasus lainnya. Dalam studi kasus digunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancra, observasi dan studi dokumentar, tetapi semuanya difokuskan kearah mendapatkan kesatuan kesimpulan.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini akan di lakukan di Kabupaten Soppeng. Waktu yang akan dilaksanakan selama 2 bulan yaitu antara bulan Julii sampai bulan Agustus.
C. Informan Penelitian
Informan peneltian berbagai sumber informasi yang memberikan data yang di perlukan dalam penelitian, penentuan informan peenliti harus disesuaikan dengan jenis data atau informan yang ingin di dapatkan.Beberapa jumlah informan dalam penelitian kualitatif belum dapat di ketahui sebelum peneliti melakukan kegiatan pengumpulan data dilapangan. Yang dengan demikian untuk tercapainya kualitas data yang memadai sehingga sampai ke informan keberapa ddata tidak berkualitas lagi atau sudah mencapai titik jenuh karna tidak di peroleh informan baru lagi. (Hadi, 2005 : 75)
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik informan penelitian snoball sampling (bola salju) adalah metode sampling di mana sampel diperoleh melalui proses bergulir dari satu responden ke responden yang lainnya, biasanya metode ini digunakan untuk menjelaskan pola-pola sosial
42
atau komnitas (sosiometrik) suatu komunitas tertentu. Dalam hal ini penentuan sampel, pertama-tama peneliti pemilik Sanggar Seni di Kabupaten Soppeng. Tetapi karena merasa belum lengkap terhadap data yang di berikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh pemilik Sanggar Seni Naurah tentang Tari Paduppa atau Tari Penyambutan di Kabupaten Soppeng.
D. Fokus Penelitan
Adapun fokus penelitian ini adalah bagaimana penelitian, yang akan mencari tahu eksistensi kesenian Tari Paduppa tentang pelaksanaan dan arti penting Tari Paduppa.Kandungan makna dan nilai dari Tari Paduppa pada proses penyambutan yang ada di Kabupaten Soppeng.
E. Jenis Dan Sumber Data
1. Sumber data primer, yaitu data yang dikumpulkan oleh peneliti (atau petugasnya) dari sumber pertamanya
2. Sumber data Skunder, yaitu data yang langsung di kumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang dari sumber pertama. Dapat juga dikatakan data yang tersusun dalam bentuk dokumen
F. Instrumen Penelitian
Menurut (Afrizal, 2014) Instrumen penelitin adalah suatu alat-alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data. Ini berarti, dengan menggunakan alat-alat tersebut data dikumpulkan. Dalam penelitian kualitatif, atau instrumen utama dalam pengumpulan data adalah manusia yaitu, penrliti itu sendiri atau orang lain yang membantu penelti. Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri yang mengumpulkan data dengan bertanya, meminta,
43
mendengar, dan mengambil. Peneliti dapat meminta bantuan dari orang lain untuk mengambil data disebut pewawancara. Dalam hal ini, seorang pewawancara yang langsung mengambil data dengan bertanya, meminta, mendengar, dan mengambil.
G. Teknik Pengumpulan Data
Sugiyono (2017: 137) Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling penting dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam usaha pengumpulan data serta keterangan yang diperlukan, penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi
Menurut (Nasution, 1988) menyatakan bahwa, obsevasi adalah dasar ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaiatu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sanagt canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil maupun sangat jauh dapat diobservasi dengan jelas.
Menurut (Sutrisno, 1986) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis. Oleh karena itu makna dan manfaat yang akan diobservasi terkait dengan permasalahan yang telah di desain.
Menurut (Faisal, 1990) mengklarifikasi observasi menjadi observasi berpatisipasi (participant observation), observasi yang secara terang-terangan
44
dan tersamar (over obsevation and covert observation) dan observasi tak berstruktur (unstructured observation).(Sugiyono, 2017 :226)
2. Wawancara
Sutrisno hadi (1986) mengemukakan bahwa metode interview dan juga kuesioner (angket) adalah sebagai berikut.
a. Bahwa subyek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
b. Bahwa apa yang ditanyakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
c. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti (Sugiyono, 2017: 138).
Untuk mendapatkan informasi dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan kader kader yang relevan dengan konteks penelitian yang sekiranya dapat membantu memberikan informasi. Dalam melakukan wawancara peneliti manggunakan metode wawancara semiterstruktur, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dariwawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya.
Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan (Sugiyono, 2017:233).
3. Dokumentasi
Kajian dokumen merupakan sarana pembantu peneliti dalam mengumpulkan data atau informasi dengan cara membaca surat-surat,
45
pengumuman, iktisar rapat, pernyataan tertulis kebijakan tertentu dan bahan- bahan tulisan lainnya. Metode pencarian data ini sangat bermanfaat karena dapat dilakukan dengan tanpa menggangu objek atau suasana penelitian. Peneliti dengan mempelajari dokumen-dokumen tersebut dapat mengenal budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh obyek yang diteliti.
Adapun media yang digunakan dalam pendokumentasian data adalah alat rekording (Handycam) dan camera untuk pengambilan gambar serta kertas untuk mencatat data-data yang penting dalam proses pengumpulan data atau pendokumentasian. Kajian dokumen merupakan sarana pembantu peneliti dalam mengumpulkan data atau informasi dengan cara membaca surat-surat, pengumuman, iktisar rapat, pernyataan tertulis kebijakan tertentu dan bahan- bahan tulisan lainnya. Metode pencarian data ini sangat bermanfaat karena dapat dilakukan dengan tanpa menggangu obyek atau suasana penelitian. Peneliti dengan mempelajari dokumen-dokumen tersebut dapat mengenal budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh obyek yang diteliti.Teknik ini dilakukan dengan cara pengambilan gambar atau objek peragaan Tari Paduppa secara jelas dan lebih sempurna.
H. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti, gambar, foto, dokumenberupa laporan, biografi, artikel dan sebagainya.
Setelah data dilapangan terkumpul, maka peneliti akan mengola dan
46
menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secaradeskriptif kualitatif. Miles and Huberman (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan drawing conclusion /verification.
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Reduksi data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. Reduksi dataadalah bentuk analisis yang menajamkan.
Menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil. Reduksi tidak perlu diartikan sebagai kuantifikasi data.
2. Data Display (Penyajian Data)
Penyajian data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, sehingga member kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan. Bentukpenyajian data kualitatif berupa teks naratif (berbentuk catatan lapangan), matriks, grafis, jaringan dan bagan.
3. Conclusion Drawing/verification (Penarikan Kesimpulan)
Penarikan kesimpulan merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. Penarikankesimpulan adalah hasil yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan. Setelah semua data terkumpul, langkah selanjutnya adalah memverifikasi data-data tersebut dan menarikkesimpulan.
I. Teknik Keabsahan Data
47
Hasil Penelitian kualitatif yang diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian.
Selama pelaksanaan penelitian, suatu kesalahan dimungkinkan dapat timbul. Entah itu berasal dari diri peneliti atau dari pihak informan.
Ada 3 teknik yang dapat dilakukan dalam pemeriksaan keabsahan data : 1. Perpanjang pengamatan
Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan nara sumber akan semakin terbantuk rapport, semakin akrab, semakin terbuka, saling percaya sehingga tidak ada informasi disembunyikan lagi.
Dalam perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas data penelitian ini, difokuskan pada pengujian terhadap data yang telah diperoleh, apakah data yang diperoleh, setelah dicek kembali ke lapangan data sudah benar, berarti kredibel, maka perpanjang pengamatan dapat diakhiri.
2. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkeseinambungan. Dengan cara tersebut maka
48
kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Dengan meningkatkan ketekunan maka peneliti dapat meningkatkan kredibilitas data
3. Triangulasi
Triangulasi dalam pengujian dalam pengujian kreadibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai cara dan berbagai waktu.
Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi tehnik pengumpulan waktu dan peneitian.
a. Trigulasi Sumber
Trigulasi Sumber adalah untuk menguji kredebilitas data yang yang dilakukan dengan cara mengecek data yang di peroleh melalui beberapa sumber maksudnya bahwa apabila data yang diterima dari satu sumber data tersebut harus setara derajatnya. Kemudian peneliti menganalisis data tersebut sehingga menghasilkan suatu kesimpulan dan dimintakan kesempatan dengan sumber-sumber data tersebut b. Trigulasi Teknik
Trigulasi Teknik adalah untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu yang awalanya mengunakan teknik observasi,maka dilakukan lagi teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara kepada sumber data yang sama dan juga melakukan teknik dokumentasi
c. Trigulasi Waktu
49
Trigulasi Waktu adalah pengujian data yang telah dikumpulkan dengan memverifikasi kembali data melalui informan yang sama pada waktu yang berbeda.
d. Trigulasi Peneliti
Trigulasi Peneliti adalah membandingkan hasil pekerjaan seorang peneliti dengan peneliti lainya ( peneliti yang berbeda ) tidak lain untuk mengecek kembali tingkat kepercayaan data,dengan begitu akan memberi kemungkinan bahwa hasil penelitian yang di peroleh akan di percaya.
J. Etika Penelitian
Dalam menerapkan etika penelitian, perlu diperhatikan beberapa prinsip-prinsip yang harus diimplementasikan. Menurut Belomont dikenal 3 prinsip utama etika penelitian yang diterapkan oleh para peneliti, yaitu : 1. Manfaat
Dalam menerapakan prinsip azas manfaat tersebut anatara lain adalah untuk mempertimbangkan rasio anatarfa manfaat dan resiko yang akan dibebankan pada peneliti itu sendiri. Dalam meneliti, manfaat yang diperoleh peneliti adalah hal yang paling penting. Karena saling bertujuan awal diadakannya sebuh penlitian, manfaat tersebut juga haruslah berguna bagi orang lain, bukan hanya kepuasan peneliti itu tersendiri.
2. Menghargai Sesama
Hak yang dimaksud adalah hak untuk menetapkan diri dan hak untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap. Hak untuk menetapkan diri yaitu peneliti memiliki hak untuk memutuskan dengan sukarela apakah ia ingin
50
berpartisipasi dalam suatu penelitian, Hal ini juga berkaitan dengan eksploitasi kepada kebebasan yang dimiliki seorang peneliti,
3. Hak Keadilan
Selain hal untuk mendapatkan keadilan dan kebebasan yang diperoleh seorang peneliti, juga harus mampu memperlakukan orang lain dengan baik dan membuat penelitian tersebut memiliki manfaat yang merata kepada setiap orang dengan tidak merugikan pihak lain ataupun masyarakat yang terlibat maupun tidak terlibat.(Pramudyo, 2015)
Selain prinsip yang dikemukakan oleh Raihan, terdapat prinsip- prinsip lainnya yang tidak boleh dikesampingkan. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut :
a. Plagiarisme dan manipulasi didalam penelitian
Tidak mengutip sebagian ataupun keseluruhan dari isi referensi yang menjadi panutan, sekaligus memanipulasi rancangan penelitian hingga titik akhir dari penyelesaian penelitian yang dijalankan 3menjadi prinsip yang harus selalu ditekankan untuk setiap peneliti.
b. Privasi yang dimiliki oleh subjek
Dalam melakukan proses penelitian, dibutuhkan bantuan subjek untuk mencari kebenaran dari objek yang akan diteliti, khususnya untuk orang-orang atau lapisan masyarakat tertentu. Terkadang, beberapa subjek lebih memilih untuk tidak diberi tahu identitas aslinya karena hak privasi yang dimiliki. Sebagai penelitian, harus mematuhi hal tersebut sebagai bentuk menghormati hak milik orang lain. (Sazali,201
51 BAB IV
GAMBARAN DAN HISTORI LOKASI PENELITIAN
A. Sejarah Lokasi Penelitian
Di dalam lontara tertulis bahwa jauh sebelum terbentuknya kerjaan Soppeng telah ada kekuasaan yang mengatur jalannya pemerintah yang didasarkan pada kesepakatan 60 pemuka masyarakat bergelar Arung, Sullewatang, Paddereng dan Pabbicara yang mempunyai daerah kekuasan tersendiri. Namun suatu waktu terjadi suatu musim kemarau disana timbul huru hara, kekacauan sehingga kemiskinan dan kemeralatan terjadi dimana-mana olehnya itu 60 pemuka masyarakat bersepakat untuk mengangkat seorang junjungan yang dapat mengatasi semua masalah tersebut.
Tampillah Arung Bila mengambil insiatif mengadakan musyawarah besar yang dihadiri 30 orang matoa dari Soppeng Riaja dan 30 orang matoa dari Soppeng Rilau, sementara musyawarah berlangsung, tiba-tiba 2 (dua) burung Kakatua memperebutkan setangkai padi, sehingga musyawarah terganggu dan Arung Bila memerintahkan untuk menghalau burung tersebut dan mengikuti kemana mereka terbang.
Burung Kaktua tersebut akhirnya sampai di Sekkanyili dan tempat inilah ditemukan seorang yang berpakaian indah sementara duduk di ats batu, yang bergelar Manurunge Ri Sekkanyili. Terjadilah mufakat dari 60 tokoh masyarakat untuk mengangkat Manurunge Ri Sekkanyili atau LATEMMAMALA sebagai
52
pemimpin yang diikuti dengan IKRAR antara LATEMMAMALA dengan rakyat Soppeng dengan mengangkat sumpah di atas batu yang diberikan nama LAMUNG PATUE, sambil memengang segenggang padi dengan mengucapkan ikrar yang artinya “isi padi tak akan masuk melalui kerongkonan saya bila berlaku curang dalam melakukan pemerintahan selaku Datu Soppeng”. Pada saat itu LATEMMAMALA menerima pengangkatan dengan DATU SOPPENG, sekaligus sebagai awal terbentuknya Kerajaan Soppeng.
B. Letak Geografis
1. Letak dan Batas Wilayah
Gambar 4.1 Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Soppeng
Secara geografis Kabupaten Soppeng terletak diantara 4o06o00o - 4o32o00o Lintang Selatan 119 o42 o 18 o – 120 o06 o13 o Bujur Timur berada sekitas 180 km di sebelah utara Kota Makassar (Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan) dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan alat transportasi darat. Luas
53
wilayah 1.500 km2 yang terdiri dari daratan dan perbukitan. Luas daratan ± 700 km2 berada pada ketinggian rata-rata ±60 meter di atas 200 meter permukaan laut. Ibukota Kapubaten Soppeng yaitu WatanSoppeng berada pada ketinggian
±120 meter diatas permukaan laut. Temperatur udara di Kabupaten Soppeng berada pada kisaran ± 24o sampai dengan ± 30o dan keadaan angina berada pada kecepatan lemah sampai sedang.
Berdasarkan komposisi penggunaan lahan, 25.991 Ha atau sekitar 17,33 persen dimanfaatkan untuk arel persawahan, 28.003 Ha (17,34%) untuk tegalan dan kebun 29.733 Ha (19, 82%) merupakan hutan Negara, 24.042 Ha (16,03%) merupakan hutan rakyat dan selebihnya digunakan lahan perkebunan, lading, perumhan, jajanan, dan sebagainya.
Kabupaten Soppeng dibagi menjadi 8 kecamatan terdiri dari 49 desa, 21 kelurahan, 124 dusun dan 39 lingkungan Kabupaten Soppeng terletak antara 4o06`‟ Lintang Selatan dan 4o32‟ Lintang Selatan dan antara 119o41‟ 18” Bujur Timur – 120o06‟ 13” Bujur Timur, dengan batas wilyah :
1. Sebelah Utara dengan Kabupaten Sidenrang Rappang dan Wajo, 2. Sebelah Timur dengan Kabupaten Wajo dan Bone Timur, 3. Sebelah Selatan Dengan Kabupaten Bone, dan
4. Sebelah Barat dengan Kabupaten Barru.
2. Keadaan Iklim
Temperatur udara di Kabupaten Soppeng berada sekitae 24oC hingga 30oC.
Keadaan angin berada angin berada pada kecepatan lemah sampai sedang. Curah hjan Kabupaten Soppeng pada tahun 2018 berada pada intensitas 148 mm dan 14 hari hujan/bulan. Rata-rata curah hujan menurut bulan di Kabupaten Soppeng
54
tertinggi jadi bulan April yaitu 209 mm yang paling rendah yakni bulan September yakni 63 mm.
3. Keadaan Penduduk
Berdasarkan buku Kabupaten Soppeng Dalam Angka, jumlah penduduk Kabupaten Soppeng pada tahun 2018 tercatat sebanyak 226.466 jiwa yang terdiri dari laki – laki 106.594 jiwa dan perempuan 119.872 jiwa. Penduduk tersebut tersebar di seluruh Desa/ Kelurahan dalam wilayah Kabupaten Soppeng dengan kepadatan 151 jiwa/km2.
Penyebaran penduduk Kabupaten Soppeng dirinci menurut kecamatan, bahwa penduduk terbagi atas wilayah Kecamatan Marioriwawo yaitu 44.899 jiwa dari total jumlah penduduk, Kecamatan Lalabatan dengan jumlah penduduk 44.828 jiwa dari total jumlah penduduk, Kecamatan Lilirilau sekitar 27.244 jiwa dari total jumlah penduduk dan yang paling terendah Kecamatan Citta dengan jumlah 8.101 jiwa dari jumlah penduduk.
Ditinjau dari kepadatan penduduk per km persegi, Kecamatan yang terpadat adalah Kecamatan Liliriaja yaitu 284 jiwa/km2 dan yang terjarang penduduknya adalah Kecamatan Marioriawa sekitar 88 jiwa/km2. Soppeng memiliki jarak alternatif yang terajangkau dari pusart kabupaten. Jarak dari kacamatan menuju ibukota kabupaten berkisar antara 0 km higga 35 km.
Sedangkang Lalabata yang beribukota di Watansoppeng adalah kecamatan terdekat, sekaligus menjadi ibukota kabupaten serta pusat pemerintahan dan perekonomian di wilayah Soppeng. (Statistik Kabupaten Soppeng 2018).
55 Tabel 4. 1
Jumlah Penduduk di Kabupaten Soppeng Menurut Kecamatan Tahun 2018 Sumber : Kabupaten Soppeng Dalam Angka-2018
C. Sosial Budaya
Kondisi sosial Kabupaten Soppeng dapat digambarkan melalui perkembangan bidang pendidikan, kesehatan dan keagamaan.
a. Kesehatan
Tingkat kemajuan suatu daerah dapat tercermin dari banyak fasilitas kesehatan di daerah tersebut. Jumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Soppeng adalah : rumah sakit 1 buah dengan tempat tidur 82, puskesmas 17 Induk, 45 Puskesmas pembantu dan dokter praktek sebanyak 41 orang. Rumah Sakit terletak
No. Kecamatan Luas Km
Rumah Tangga
Jumlah Penduduk
Total Laki-Laki Perempuan
1 Marioriwawo 300 11 214 20 799 24 100 45 646 2 Lalabata 278 11 066 21 717 23 111 42 865 3 Liliriaja 96 6 979 12 858 14 386 27 074
4 Ganra 57 3 014 5 231 6 217 11 800
5 Citta 40 2 023 3 645 4 456 9 259
6 Liliriau 187 10 251 18 012 20 638 40 748 7 Donri-Donri 222 6 286 10 839 12 323 24 813 8 Marioriawa 320 7 520 13 493 14 641 28 539 Jumlah 1 500 58 353 106 594 119 872 230 744