BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
2. Makna dan Nilai Tari Paduppa
Tari Paduppa merupakan piring khas suku bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Bahan dasar bosara berasal dari besi dan dilengkapi dengan penutup khas seperti kobokan besar, yang dibalut kain berwarna terang, seperti warna merah, biru, hijau atau kuning, yang diberi ornamen kembang keemasan di sekelilingnya. Bosara biasanya diletakkan di meja dalam rangkaian acara tertentu, khususnya acara yang bersifat tradisional dan sarat dengan nilai-nilai budaya. Selain digunakan sebagai salah satu alat yang digunakan para penari tarian daerah, bosara juga biasanya menjadi tempat sajian aneka kue tradisional yang diletakkan di meja pada acara resmi pemerintahan sebagai simbol adat Sulsel, khususnya pada acara-acara sakral seperti pesta pernikahan adat.
a) Makna dan Nilai Tari Paduppa
Menurut Ibu Ros menyatakan bahwa “Makna keseluruhan itu sebagai gerakan yang ada didalam tari ada makkasiriwing yaitu gerakan penobaan, akkalabbing yaitu penghargaan pada raja, dan soro passappu yaitu istiadat bangsawan, mappasoro anjangan yaitu mengakhiri tarian, massimang yaitu mohon diri” (wawancara pada tanggal 29 Juni 2019)
67
Menurut Ibu Farida menyatakan bahwa “makna dari gerakan itu mempunyai makna tersendiri dalam tari paduppa adanya nilai yang terkandung yang bersifat moral, budaya, religius”. (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019) Menurut Ibu Sri menyatakan bahwa “Makna keseluruhan itu sebagai permintaan keselamatan dan kesejahteran itu secara umumnya” (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Berdasarkan ketiga narasumber dapat di simpulkan bahwa makna keseluruhan dari Tari Paduppa itu gerakan yang di tarikan di dalamnya ada makna yang terkandung yaitu makkasiriwing yang artinya gerakan penobaan, akkalabbing artinya penghargaan pada raja, soro sappu yaitu istiadat bangsawan, dilanjutkan gerakan mappasoro anjangan artinya mengakhiri tarian dan massimang artinya mohon diri. Tari paduppa mempunyai nilai yang terkandung yang bersifat moral, budaya, religius.
a) Makna dalam panaburan Tari Paduppa
Menurut Ibu Ros menyatakan bahwa “makna dari 3x pelemaparan karna 3 itu kan antara 3 dunia yaitu dunia atas, tengah, bawah mungkin seperti itu”
(wawancara pada tanggal 29 Juni 2019)
Menurut Ibu Farida menyatakan bahwa “ 3x itu mengikuti pengiringnya saja” (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Menurut Ibu Sri menyatakan bahwa “pelemparan beras itu permohonan keselamtan, kehidupan yang mapan” (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Berdasarkan ketiga narasumber dapat di simpulkan bahwa makna dari penaburan yang di lakukan sebanyak 3 kali yaitu pelemparan meminta permohonan keselamatan dan kehidupan yang mapan karna kita berada pada 3 bagian seperti dunia atas, menengah, dan bawah. Serta penaburan yang dilakukan 3 kali itu mengikuti pengiring.
68 b) Makna dari beras dalam Tari Paduppa
Menurut Ibu Ros menyatakan bahwa “bagusnya digunakan itu benno, karna dulu sebelum masuk islam memang orang pakai beras tapi sekarang kalau kita pakai beras kemudian ada ustad liat ki kadang-kadang kita di tegur. Tapi cocok juga to beras di buang-buang kan kalau pakai benno tidak di permasalahkan malah kita di sarankan baiknya pakai benno. Filosofinya itu benno dari putik beras yang mengembang, contohnya pengantin nnti kehidupannya juga seperti benno berkembang (wawancara pada tanggal 29 Juni 2019)
Menurut Ibu Farida menyatakan bahwa “kalau memng pakai beras agak- agak apaya karna beras itukan tidak boleh dibuang-buang mungkin agak-gak taqabbur menggunakan beras, biasanya kita menggunakan kembang saja”
(wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Menurut Ibu Sri menyatakan bahwa “biasanya pakai bunga-bunga kembang pada saat penaburan” (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Berdasarkan ketiga narasumber dapat di simpulkan bahwa pada saat penaburan orang zaman menggunakan beras tapi sebaiknya diganti menggunakan Benno karna hakikat pada beras itu bersifat taqabbur. Banyak juga ustad yang mempermaslahkan ketika menggunkan beras tapi ketika menggunakan Benno atau bunga-bunga tidak ada permasalahan dan filisofi Benno dari putik beras yang mengembang, yang dapat bermakna kehidupan yang baik dan berkembang.
c) Jumlah penari dalam Tari Paduppa
Menurut Ibu Ros menyatakan bahwa “tidak ji juga bisa ji juga genap bisa juga ganjil, kalau saya sih terkantung lokasinya kalau lokasinya luas baru kita sedikit tidak enak juga liat, biasa juga penarinya banyak kan biasa sesak.
Jadi sesuaikan saja sama lokasi dan permintaan yang buat acara, nda ada ji ketentuanya” (wawancara pada tanggal 29 Juni 2019)
Menurut Ibu Farida menyatakan bahwa “tergantung saja dari formasinya saja, bisa genap bisa ganjil. Biasanya kalau ganjil satu di depan itu biasa yang mengantar penganting ke depan, sisanya itu sebaga penjemput saja”
(wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Menurut Ibu Sri menyatakan bahwa “penari tari paduppa itu biasa dilakukan dengan banyak anggota tergantung dari permintaan acara bisa mencapai
69
101 asal anggotanya ganjil dan tidak menentu”. (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Berdasarkan ketiga narasumber dapat di simpulkan bahwa jumlah personil Tari Paduppa itu tidak mesti bersifat ganjil tergantung dari permintaan yang mengadakan acara dan tempatnya di kondisikan agar pada saat menampilkan Tari Paduppa polanya bisa di atur.
d) Tingkatan usia dalam Tari Paduppa
Menurut Ibu Ros menyatakan bahwa “Penari pada Tari Paduppa itu umurnya terserah saja bagaimana permintaan yang sedang membuat acara dan tempatnya juga disesuaikan” (wawancara pada tanggal 29 Juni 2019) Menurut Ibu Farida menyatakan bahwa “Umur penari itu kira-kira 8 tahun ke atas yang sudah bisa melakukan dan mengerti gerakan” (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Menurut Ibu Sri menyatakan bahwa “Umur seorang penari paduppa itu tidak menuntut harus berumur 17 tahun tapi bisa saja penarinya dibawah 17 tahun seperti anak-anak asal sudah bisa mengerti gerakan”. (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Berdasarkan ketiga narasumber dapat di simpulkan bahwa tingkatan usia pada Tari Paduppa dari usia 8 tahun yang sudah paham tentang gerakan sampai 17 tahun mesti tidak ada patokan umur dan di kondisikan dengan orang yang ingin membuat acara.
e) Makna Pengalungan dalam Tari Paduppa
Menurut Ibu Ros menyatakan bahwa “Makna pengalungan tidak masuk dalam ragam tari paduppa, itukan pengalungan hanya dilakukan kalau ada tamu, contohnya kantor yang mengadakan acara penjemputan tamu itu baru di pakai pengalungan tapi kalau pengantinkan tidak pakai pengalungan.
Kalau untuk Pengalungan itu kayak cenderamata juga dan rangkaian penjemputan sedangkan Tari Paduppa bagian dari rangkaian penjemputan.
(wawancara pada tanggal 29 Juni 2019)
Menurut Ibu Farida menyatakan bahwa “makna pengalungan seperti memberikan penghargaan kepada tamu” (wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
70
Menurut Ibu Sri menyatakan bahwa “pengalungan pada tari paduppa itu hanya sebagai tanda penghargaan kepada tamu yang jauh yang datang di Soppeng, penghargaan tamu agung tapi tdk berlaku dicara pengantin”
(wawancara pada tanggal 02 Juli 2019)
Berdasarkan ketiga narasumber dapat di simpulkan bahwa makna pengalungan yang di lakukan pada saat penjemputan tamu sebagai simbolik penghargaan tamu dan cenderamata kepada tamu. Pengalungan juga hanya di peruntuk kepada acara-acara yang kedatangan pimpinan sedangkan di acara pernikahan tidak melakukan pengalungan karna yang di sambut disitu kedua mempelai yang menajdi raja dan ratu sehari. Pengalungan di lakukan sebelum menarikan Tari Padduppa hanya iringan musik yang di mainkan. Pengalungan hanya dilakukan untuk dua atau tiga orang yang dikalungi Setelah pengalungan barulah dimulai dengan sambutan Tari Paduppa.