• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teori

Dalam dokumen BAB 1 (Halaman 32-37)

Demi memperjelas dan mempertegas pengertian yang mendasar sesuai dengan judul penelitian ini, maka di bawah ini penulis akan menguraikan teori yang berkaitan dengan permasalahan diatas, yaitu :

2.4.1. Jaminan

Istilah jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, yaitu zekerheid atau cautie Selain istilah jaminan, dikenal juga dengan agunan, istilah agunan dapat dibaca di dalam Pasal 1 angka 23 Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Agunan adalah :

“Jaminan tambahan yang diserahkan Nasabah Debitur kepada bank dalam rangka mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”

Agunan dalam konstruksi ini merupakan jaminan tambahan (accessoire).

Tujuan agunan adalah untuk mendapatkan fasilitas dari bank.43:

Di dalam seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta, dari tanggal 20 s.d 30 Juli 1977 disimpulkan pengertian jaminan, Jaminan adalah menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum. Oleh karena itu, hukum jaminan erat sekali dengan hukum benda.44

43 H. Salim HS, 2012, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, Cet-6, p. 21 44 Ibid, p. 22

Istilah yang digunakan oleh M. Bahsan adalah jaminan. Ia berpendapat bahwa jaminan adalah segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk menjamin suatu utang piutang dalam masyarakat. Alasan digunakan istilah jaminan karena : 45

1. Telah lazim digunakan dalam bidang Ilmu Hukum dalam hal ini berkaitan dengan penyebutan-penyebutan, seperti hukum jaminan, lembaga jaminan, jaminan kebendaan jaminan perorangan hak jaminan dan sebagainya;

2. Telah digunakan dalam beberapa peraturan perundang-undangan tentang lembaga jaminan, seperti yang tercantum dalam undang-undang Hak Tanggungan dan Jaminan Fidusia.

Berbeda dengan H.R. Daeng Naja yang menyamakan istilah jaminan dan agunan. Menurut H.R. Daeng Naja jaminan/agunan yaitu tanggungan yang diberikan oleh debitur dan/atau pihak ketiga kepada kreditur karena pihak kreditur mempunyai kepentingan bahwa debitur harus memenuhi kewajibannya sebagaimana tertuang dalam suatu perikatan yang telah dibuatnya.46

Di dalam rumusan ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata diatur bahwa segala kebendaan si berpiutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.

Terlepas dari itu, Istilah jaminan ataupun agunan tetap memiliki makna yang sama yaitu merupakan benda atau harta kekayaan debitur yang diberikan kepada kreditur atau pihak ketiga guna menjamin terlaksananya kewajiban

45 Ibid, (Dikutip dari M, Bahsan, 2002, Penilaian Jaminan kredit Perbankan Indonesia, p. 148) 46 Hamza Halim, Loc.cit, p. 103

debitur akibat dari perikatan (utang piutang) yang timbul antara kreditur dan debitur. Pada prinsipnya yang membedakan diantara keduanya hanya terletak pada kegunaan agunan yaitu sebagai jaminan tambahan dan dapat dimaknai bahwasannya agunan merupakan bagian dari jaminan.

Berdasarkan rumusan ketentuan Pasal 1132, jaminan utang digolongkan menjadi 2, yaitu :

a. Jaminan yang bersifat umum (jaminan umum), yaitu jaminan yang diberikan oleh debitur kepada setiap kreditur. Hak-hak tagihan mana tidak mempunyai saling mendahului (konkuren) antara kreditur yang satu dan lainnya;

b. Jaminan yang bersifat khusus (jaminan khusus), yaitu jaminan yang diberikan oleh debitur kepada kreditur, hak-hak tagihan mana mempunyai hak mendahului sehingga ia berkedudukan sebagai kreditur privilege (preference).47

Dalam praktik penggunaannya, jaminan khusus lebih sering digunakan daripada jaminan umum. Jaminan umum sulit untuk di eksekusi karena banyaknya kreditur yang berebut hak untuk melakukan eksekusi harta debitur.

Sebab risikonya sangat besar. Contoh jaminan umum dapat ditemukan pada kasus penerbitan surat utang berbentuk commercial paper (CP) di pasar uang atau Obligasi di pasar modal Penerbit CP dan Obligasi dijamin dengan seluruh aset milik perusahaan penerbit, sehingga bila terjadi gagal-bayar maka para investor dapat menuntut pelunasan via gugatan perdata di Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Niaga. Oleh sebab itu, penerbitan surat utang dengan

47 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1132

jaminan umum diatur secara ketat oleh pihak otoritas (seperti BI dan OJK) dan harus didasarkan penilaian lembaga pemeringkat utang. 48

Sebaliknya penggunaan Jaminan khusus lebih mudah untuk digunakan karena tidak rumitnya dalam melakukan eksekusi apabila terjadi permasalahan.

Karena debitur terikat langsung dengan kreditur, dan proses eksekusi hanya dilakukan oleh satu kreditur saja terhadap harta kekayaan atau benda debitur yang dijaminkan. Jaminan khusus terdiri atas dua macam yaitu jaminan materil (jaminan kebendaan) dan jaminan immateriil (jaminan perorangan). Jaminan Perorangan meliputi : 49

1. Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih, 2. Tanggung-menanggung, yang serupa dengan tanggung-renteng, 3. Perjanjian garansi.

Di samping itu, jaminan kebendaan meliputi :50 1) Jaminan Gadai,

2) Hak Tanggungan, 3) Jaminan Fidusia, 4) Hipotek,

5) Jaminan Resi Gudang,

6) Jaminan Repo Surat Berharga, 7) Jaminan HKI.

Hak jaminan kebendaan mencakup hak jaminan benda tak bergerak dan jaminan benda bergerak. Di dalam hukum jaminan, benda dibedakan menjadi benda bergerak dan benda tidak bergerak. Benda bergerak terdiri atas benda bertubuh dan benda tidak bertubuh. Contoh benda bertubuh antara lain motor,

48 Iswi Haryani, Cita Yustisia Serfiyani, dan R. Surrianti D. Purnomo, Loc.Cit, p. 81-82

49 Ibid, p. 85 50 Ibid

mobil, mesin, perhiasan. Contoh benda tidak bertubuh antara lain wesel, promes, deposito, piutang dagang, saham, obligasi, surat utang negara, resi gudang, dan surat berharga lainnya. Benda bergerak ada yang berwujud nyata (material) dan tidak nyata (immaterial).

Benda bergerak yang berwujud nyata sama halnya dengan golongan benda bergerak yang bertubuh (contoh : mobil) dan benda bergerak yang tidak bertubuh (contoh : saham). Benda bergerak yang berwujud nyata dapat diikat dengan jaminan Gadai dan Fidusia. Sebaliknya, benda bergerak yang berwujud tidak nyata (contoh : Hak Kekayaan Intelektual) hanya bisa dijadikan jaminan utang melalui skema Fidusia.51

Dari hasil uraian diatas menunjukkan bahwa jaminan terhadap utang piutang tidak hanya berupa benda yang berwujud nyata saja, namun, dapat pula dilakukan dengan menjamin benda yang tak berwujud seperti halnya HKI.

Pada prinsipnya benda yang dijadikan jaminan haruslah memiliki nilai ekonomi sehingga apabila terjadi permasalahan pihak kreditur dapat mengeksekusi benda jaminan dan pihak kreditur mendapatkan dana yang telah dipinjamkannya kepada debitur.

51 Ibid, p. 85-86

Dalam dokumen BAB 1 (Halaman 32-37)

Dokumen terkait