• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerja Sama Antar Nelayan di Pulau Matalaang

Dalam dokumen budaya maritim masyarakat nelayan di pulau (Halaman 84-91)

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Kerja Sama Antar Nelayan di Pulau Matalaang

maupun alih teknologi. Kemudian dari sisi sosial-ekonomi, tingkat kesejahteraan nelayan buruh dan skala kecil di Indonesia juga akan sulit untuk ditingkatkan karena mereka mempunyai kemampuan yang terbatas dalam manajemen usaha, sehingga di saat musim panen akan menghamburkan pendapatannya dan di musim panceklik mencari pinjaman untuk menutupi kekurangan pendapatannya.

udara serta wilayah strategis; (3) pengembangan kawasan pertumbuhan; dan (4) penetapan dan pengelolaan kawasan konservasi laut. Berbagai kebijakan juga perlu mempertimbangkan heterogenitas nelayan, baik yang menyangkut alat tangkap, jumlah ABK, struktur hubungan kelompok kerja, wilayah tangkap, status penguasaan,dan jenis sumber daya yang diinginkan, juga hubungan antara nelayan lokal dan pendatang dan pluralitas etnis. Kurangnya pemahaman terhadap heterogenitas nelayan menyebabkan upaya pembangunan perikanan tidak menyentuh sasaran program (target group).

Fungsi masyarakat di Pulau Matalaang ini, Menjaga kesetabilan ekosistim laut dan menjaga kesetabilan laut.

Seperti juga yang di sampaikan dari Bapak sama’( 34 tahun ) masyarakat Nelayan dengan pertayaan, Seperti apakah kehidupan masyarakat nelayan dengan budaya maritim di Pulau Matalaang?

“Masyarakat di sini itu sama-sama cari ikan serta biota laut lainnya dan sesama teman saling membantu, meskipun dari kelompok lain sama-sama juga saling menbantu contoh yang sudah terbiasa kalau dalam suatu kelompok itu memperbaiki perahunya, kelompok lain kalau diajak membantu juga yang teman kelompok lain itu tidak banyak bicara langsung ikut kerja juga karena kalau saya ikut membantu orang lain nanti kalau saya ada keperluan saya langsung di bantu juga dan kami rukun terus sama nalayan lain hidup harus terus berdampingan walaupun beda- beda, kita sudah seperti saudara atau keluarga sendiri, ada yang susah satu yang di rasakan orang banyak. Tidak usah memandang ini siapa, hartanya berapa itu tidak usah. Saya bekerja sebagai nelayan sudah lama, saya sama semua orang suka tolong menolong dan semua teman saya sangat dekat sekali. Kalau mau solidaritasnya bagus saling percaya, kita nelayan di sini

kalau ada apa-apa saling musyawarah ki, harus saling pengertian misalnya kalau teman ku punya masalah saya bantu, saya tidak pikir masalah hasil yang banyak yang penting ada yang bisa dimakan, dan yang penting selalu rukun sama teman.”(14/10/2019)

Hasil observasi, peneliti menyimpulkan bahwa, Bentuk Solidaritas gotong royong di Pulau Matalaang ini dapat terlihat dari ativitas keseharian masyarakat nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkajene, terutama dalam hal pekerjaan sehari-sehari misalnya saling membantu dalam memperbaiki perahu yang rusak dan memperbaiki jaring yang robek, semua dikerjakan secara bersama- sama.

Solidaritas dalam sebuah kelompok tidak memandang apa dan ini siapa karena dalam sebuah pekerjaan atau komunitas apa saja tanpa saling rukun atau saling membantu dan gotong royong tidak akan berjalan lancar dan bagi dirinya juga tidak akan banyak untungnya, apalagi dalam sebuah pekerjaan nelayan yang di situ memang sudah terbentuk kelompok jadi kalau yang namanya kelompok tidak kompak tidak ada gunanya juga tidak sampai pada tujuannya karena yang namanya hidup harus saling membantu dan tolong menolong hidup itu tidak sendirian di situ ada kelompok masyarakat dan kebetulan penelitian kami yang memang terletak didaerah pesisir yang ada di Pulau Matalaang dan biasanya masyarakat pesisir pasti solidaritasnya sangat tinggi yang saling membantu dan tolong menolong.

Adapun pertayaan selanjutnya yaitu, Kegiatan apa saja yang sering dilakukan masyarakat nelayan terhadap budaya maritim di Pulau Matalaang?

Menurut Informan, Latif ( 40 tahun ) pekerjaan sebagai masyarakat nelayan di Pulau Matalaang bahwa ia menyatakan:

“Sebelum masyarakat nelayan berangkat melaut ada yang namanya Ma’paruru ( bersiap-siap ) kemudian setelah masyarakat nelayan sampai di tempat tujuan atau lokasi mencari ikan dan biota laut lainnya, adanya yang namanya Panaung Parappo ( kasi turun telur ayam dengan daun siri yang di bungkus daun pisang) kemudian setelah semuanya dibungkus dalam daun pisang maka bersiap-siaplah awak kapal mearuhnya dilaut untuk dihanyutkan kedasar lau yang dipercayai akan menolak segala mala petakan ataupun bala kepada nelayan yang akan mencari ikan dilaut.

( 17/10/2019)”

Hasil wawancara, Peneliti menimpulkan bahwa Kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat nelayan di Pulau Matalaang ini menggunakan Budaya yang digariskan nenek moyang mereka secara turun menurun agar aktifitas dalam kegiatan mencari ikan dan biota laut lainnya biasa berjalan dengan lancar agar semua mala petaka yang akan terjadi akan menjauh dari mereka dan akan menghasilkan hasil tangkap yang sangat banyak.

Masyarakat nelayan Pulau Matalaang Kabupaten Pangkajene pada umumnya menggantungkan kehidupan di laut. Wilayahnya yang berpisah dengan daratan Sulawesi khusunya Kabupaten Pangkajene memiliki sejumlah atribut dalam konteks kehidupan sosial budaya masyarakatnya yang masih digambarkan sebagai masyarakat yang masih mempercayai hal-hal mistis untuk mempertahankan budayanya atau budaya maritim.

Lebih lanjutnya juga, yang disampaikan oleh Bapak Aswin ( 20 tahun ) dengan pertanyaan, Bagaimana partisipasi masyarakat nelayan dalam mengelolah sumber daya laut dengan budaya maririm di Pulau Matalaang?

“Kami sebagai masyarakat nelayan di Pulau Matalaang ini selalu menjaga kelestarian laut. Partisipasi kami sebagai masyarakat nelayan di Pulau Matalaang ini menjaga laut agar tetap lestari dengan menggunakan alat- alat tangkap ikan dan biota laut lainnya yang ramah lingkungan agar laut tidak rusak. Dalam situasi ini kami sebagai masyarakat nelayan di Pulau Matalaang berharap agar budaya yang sering di lakukan agar selalu berpartisipasi terhadap budaya laut agar laut juga bisa memberi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di Pulau Matalaang ini”. (17/10/2019) Dari pernyataan Informan diatas, Peneliti menyimpulkan bahwa Bentuk Partisipasi masyarakat yang lebih besar diharapkan akan berunjung pada akses yang lebih baik pada penggunaan sumber daya laut sehingga berdampak positif kepada kesejahtera umum masyarakat setempat.

Sistem kepercayaan merupakan semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Maka system kepercayaan bukan hanya menyangkut pengetahuan atau pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik di antara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia, alam dan bagaimana relasi di antara semua penghuni komunitas ekologi.Seluruh sistem kepercayaan ini dihayati, dipraktikan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lain yang sekalgus membentuk pola perilaku manusia sehari-

hari baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam dan yang gaib.

Umumnya masyarakat nelayan pesisir dan kepulauan (maritim) Sulawesi Selatan, seperti masyarakat maritim Pulau Matalaang masih percaya sepenuhnya bahwa lautan itu adalah hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai dengan ajaran Agama Islam yang mereka yakini dan anut secara resmi.

Merekapun tahu bahwa segala sesuatu yang ada di alam raya ini, termasuk lautan berada di bawahkekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, namun secara tradisional warga masyarakat yang bersangkutan mempunyai pula kepercayaan, bahwa Tuhan yang disebutnya Koraeng Allah Taala telah melimpahkan penguasaan wilayah lautan.

Adapun informasi dari sala satu informan bapak baco (45tahun) Pekerjaan sebagai nelayan di Pulau Matalaang dengan bunyi pertayaan yang diajukan yaitu, Faktor apa saja yang mendukung untuk kerja sama antara masyarakat nelayan di Pulau Matalaang?

“Faktor yang mendukung kami disini agar bisa selalu kerja sama yaitu, adanya tradisi dimana sebelum kami pergi mencari ikan dan biota laut lainnya, kami selalu kumpul satu tempat untuk mempersiapkan alat tangkap dan memeriksa kembali agar alatnya bisa di gunakan tanpa ada yang rusak dan memeriksa juga perahu atau kapal laut agar kenyamanan dan keselamatan bisa terjaga, dan masyarakat disini tidak semua mempunyai kapal laut sehingga ada kerjasama antara juragan yang mempunyai kapal laut dan anak buah kapal (ABK) supanya hasil tangkapan ikan dan biota laut lainnya dijual dan membagi hasil dengan yang punya kapal dan anak buah kapal (ABK). ( 20/10/2019)”

Dari hasi wawancara Peneliti penyimpulkan bahwa, Nelayan dikategorikan sebagai seseorang yang pekerjaannya menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap yang sederhana, mulai dari pancing, jala dan jaring, bagan, bubu sampai dengan perahu atau jukung yang dilengkapi dengan alat tangkap ikan. Namun dalam perkembangannya nelayan dapat pula dikategorikan sebagai seorang yang profesinya menangkap ikan dengan alat yang lebih modern berupa kapal ikan beserta peralatan tangkapnya yang sekarang dikenal sebagai anak buah kapal (ABK). Selain itu juga nelayan dapat diartikan sebagai petani ikan yang melakukan budidaya ikan di tambak dan keramba-keramba di pantai.

Masyarakat nelayan merupakan kumpulan orang-orang yang bekerja mencari ikan di laut yang menggantungkan hidup terhadap hasil laut yang tidak menentu dalam setiap harinya. Masyarakat nelayan cenderung mempunyai sifat keras dan terbuka terhadap perubahan.

Masyarakat nelayan umumnya masyarakat yang memiliki etos kerja tinggi dan mempunyai sifat kekerabatan yang erat diantara mereka. Masyarakat nelayan umumnya masyarakat yang kurang berpendidikan. Pekerjaan sebagai nelayan adalah pekerjaan kasar yang banyak mengandalkan otot dan pengalaman, sehingga untuk bekerja sebagai nelayan latar belakang pendidikan memang tidak penting. Masyarakat yang bekerja sebagai nelayan, ternyata bukan hanya masyarakat yang sudah berumur lanjut, tetapi banyak masyarakat generasi muda yang masih berumur 17-25 tahun juga sudah bekerja sebagai nelayan. Umunya mereka adalah anak dari keluarga nelayan yang ikut bekerja sebagai nelayan yang terkadang masih duduk dibangku sekolah.

Dalam dokumen budaya maritim masyarakat nelayan di pulau (Halaman 84-91)

Dokumen terkait