BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
H. Teknik Keabsahan Data
Menurut Sugiyono (2016: 267), uji keabsahan data dalam penelitian ditekankan pada uji validitas dan rehabilitas. Dalam penelitian kualitatif, kriteria utama terhadap data hasil penelitian adalah, valid, reliable dan objektif. Data dapat dikatan valid apabila data tidak mengalami perbedaan antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian.
Untuk melakukan pengujian terhadap keabsahan data dapat dilakukan dengan cara uji kreabilitas. Menurut Sugiyono ( 2016: 270), dalam melakukan uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Perpanjangan Pengamatan
Perpanjangan pengamatan yaitu peneliti kembali kelapangan melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbukan, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembuyikan lagi. Dalam perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas dalam penelitian ini, sebaiknya difokuskan pada pengujian terhadap data yang telah diperoleh, apakah data yang diperoleh itu setelah di cek kembali kelapangan benar atau tidak, berubah atau tidak. Bila dicek kembali ke lapangan data sudah benar berarti kredibel, maka perpanjangan pengamatan dapat di akhiri.
2. Meningkarkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan uraian peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.
3. Trianggulasi
Trianggulasi dalam pemeriksaan keabsahan data diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Trianggulasi Sumber, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
Sebagai contoh, untuk menguji kredibilitas tentang bagaimana keberlanjutan perekonomian masyarakat maka pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan kepada orang-orang yang terlibat langsung dalam perekonomian masyarakat.
b. Trianggulasi Teknik, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya diperoleh dengan wawancara, lalu dicekdengan observasi atau dokumentasi.
c. Trianggulasi waktu, untuk menguji kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.
55 A. Sejarah Lokasi Penelitian
1) Sejarah singkat Kabupaten Pangkep
Kabupaten Pangkep adalah Salah satu Kabupaten di Provinsi sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu Kotanya adalah Pangkejene. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 km² tetapi setelah diadakan analisis bersama Bakosurtanal, luas wilayah tersebut direvisi menjadi 12.362,73 km² dengan luas wilayah daratan 898,29 km² dan wilayah laut 11.464,44 km².
Asal kata Pangkajene dipercaya berasal dari sungai besar yang membelah kota Pangkep. Pangka berarti cabang, dan Je'ne berarti air. Ini mengacu pada sungai yang membelah kota Pangkep yang membentuk cabang.
Kabupaten Pangkajene, dan Kepulauan merupakan kabupaten yang struktur wilayah terdiri atas 2 bagian utama yang membentuk kabupaten ini yaitu: 1.
Wilayah Daratan Secara garis besar wilayah daratan Kabupaten Pangkajene, dan Kepulauan ditandai dengan bentang alam wilayah dari daerah dataran rendah sampai pegunungan, di mana potensi cukup besar juga terdapat pada wilayah daratan Kabupaten Pangkajene, dan Kepulauan yaitu ditandai dengan terdapatnya sumber daya alam berupa hasil tambang, seperti batu bara, marmer, dan semen.
Disamping itu potensi pariwisata alam yang mampu menembah pendapatan daerah.
Kecamatan yang terletak pada wilayah daratan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yaitu terdiri dari : Kecamatan Pangkajene, Kecamatan Balocci, Kecamatan Bungoro, Kecamatan Labakkang, Kecamatan Ma’rang, Kecamatan Segeri, Kecamatan Minasa Te’ne, Kecamatan Tondong Tallasa, dan Kecamatan Mandalle.
Wilayah Kepulauan Wilayah kepulauan Kabupaten Pangkajene, dan Kepulauan merupakan wilayah yang memiliki kompleksitas wilayah yang sangat urgen untuk dibahas, wilayah kepulauan Kabupaten Pangkajene, dan Kepulauan memiliki potensi wilayah yang sangat besar untuk dikembangkan secara lebih optimal, untuk mendukung perkembangan wilayah Kabupaten Pangkajene, dan Kepulauan. Kecamatan yang terletak di wilayah Kepulauan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yaitu:
1. Kecamatan Liukang Tupabiring
2. Kecamatan Liukang Tupabiring Utara
3. Kecamatan Liukang Kalmas
4. Kecamatan Liukang Tangaya 2) Budaya Maritim
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dicirikan dengan wilayah perairannya lebih luas dibandingkan daratannya dengan perbandingan 1 berbanding 17. Kabupaten Pangkep memiliki 117 pulau dan hanya 80 diantara yang berpenghuni, terbagi dalam 3 kecamatan yaitu Kecamatan Tuppabiring, Kecamatan Liukang Kalmas dan Liukang Tangayya. Dasar hukum penetapan perairan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep adalah
SK Bupati Pangkep No. 180 tahun 2009 yang ditandatangani pada tanggal 5 Januari 2009. Sarana dan prasarana transportasi yang tersedia di kecamatan kepulauan Kabupaten Pangkep sangat terbatas, sehingga aksesbilitas masyarakat dari dan ke wilayah kepualauan tergolong sulit. Bahkan, di beberapa pulau tidak ada kapal angkutan penumpang, sehingga aksesibilitas masyarakat antar pulau menggunakan perahu nelayan. Hasil tangkapan perikanan laut mencapai 7.944,3 ton dan budidaya rumput laut 7.174 ton. Adapun jenis ikan di perairan Pangkep adalah peperek, gerot-gerot, kakap merah, kerapu, lencam, cucut, pari, layang, selar, kuwe, tetengkek, tenggiri, belanak, teripang, tembang, lamuru, kembung, gulama, cakalang, rajungan, udang putih, cumi-cumi, bawal putih, senanging, udang (dogol, windu, kipas), japuh, terubuk, tuna, teri, dan lain-lain.
3) Masyarakat Nelayan di Pulau Matalaang
Setiap kebudayaan dan masyarakat di dunia, tidak terkecuali kebudayaan dan masyarakat maritim, cepat atau lambat pasti mengalami dinamika / perkembangan. Dinamika tersebut meliputi wujud-wujud teknologi dan benda/karya, perilaku dan kelembagaan, sistem-sistem budaya kognitif/mental, etos/sikap kepribadian. Menjadi kenyataan pula bahwa biasanya dalam dinamika ada tradisi bertahan (continuety), ada elemen-elemen dan tatanan inti (struktur elementer) bertahan, yang dalam banyak hal justru ditopang oleh atau menopang proses dinamika itu sendiri. Proses dinamika dan bertahannya tradisi akan mempengaruhi situasi dan kondisi sosial ekonomi serta lingkungan sumberdaya alam dimanfaatkannya.
Mata pencaharian sebagian besar warga Pulau Matalaang adalah sebagai nelayan sub sisten (hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari). Alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah alat tangkap lanra (jaring insang monofilamen) dan mini trawl untuk menangkap kepiting dan udang. Pukat banyara digunakan untuk mencari ikan terbang, sedangkan pancing (kedo-kedo) digunakan untuk menangkap ikan-ikan karang dan cumi-cumi. Lokasi penangkapan kepiting dan udang (dengan mini trawl) dan ikan terbang (dengan banyara) relatif dekat, yaitu di sekitar pulau tempat tinggal warga. Pemancingan ikan dan cumi-cumi dilakukan oleh masyarakat ketika musim Barat tiba, dimana ombak relatif besar, sehingga kegiatan penangkapan tersebut tidak dilakukan di lokasi yang jauh, tetapi di daerah terumbu karang sekitar pulau dengan menggunakan pancing tradisional. Hasil yang didapatkan hanya diperuntukkan bagi pemenuhan konsumsi rumah tangga sehari-hari.