• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

agraris. Demikian pula dengan masyarakat yang bermukim di daerah pesisir pantai dan daerah kepulauan yang tentu saja akan berbudaya kelautan (maritim).

Laut adalah ajang untuk mencari kehidupan bagi kedua kelompok masyarakat. Dari laut dapat dieksploitasi sumber daya biota dan abiota, serta banyak kegiatan kemaritiman yang menjanjikan dan memesona. Inilah yang mendorong kedua kelompok masyarakat itu menuju laut. Pada mulanya bertujuan mencari hidup dan mempertahankan hidup, pada akhirnya bertujuan mengembangkan kesejahteraan, atau dengan kata lain membangun kejayaan dan kekayaan dari kegiatan kemaritiman. Laut memang merupakan media pemersatu karena melalui laut orang dari berbagai bangsa melakukan interaksi dengan berbagai macam aktivitas. Melalui laut orang dari berbagai bangsa menjalankan aktivitas perekonomian melalui “jasa” pelayaran antar benua atau antar pulau.

Laut adalah ajang untuk mencari kehidupan bagi kedua kelompok masyarakat. Dari laut dapat dieksploitasi sumber daya biota dan abiota, serta banyak kegiatan kemaritiman yang menjanjikan dan memesona. Inilah yang mendorong kedua kelompok masyarakat itu menuju laut. Pada mulanya bertujuan mencari hidup dan mempertahankan hidup, pada akhirnya bertujuan mengembangkan kesejahteraan, atau dengan kata lain membangun kejayaan dan kekayaan dari kegiatan kemaritiman. Laut memang merupakan media pemersatu karena melalui laut orang dari berbagai bangsa melakukan interaksi dengan berbagai macam aktivitas. Melalui laut orang dari berbagai bangsa menjalankan aktivitas perekonomian melalui “jasa” pelayaran antar benua atau antar pulau.

1. Budaya Maritim Masyarakat Nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep

Masyarakat nelayan di pulau matalaang adalah kelompok masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada sumber daya laut seperti ikan, gurita dan soton, karena hampir semua aktivitas kehidupan mereka berkaitan dan berhubungan dengan laut. Ciri khas kehidupan mereka adalah keras dan penuh resiko dalam mengarungi kehidupannya, karena jarak tempuh untuk mencari ikan yang banyak sangat jauh, yang senantiasa bertarung melawan badai, sengatan matahari, guyuran hujan dan dekapan angin malam yang dingin. Keadaan seperti inilah yang di rasakan oleh nelayan tradisional dengan perahu kecilnya berani mengarungi lautan luas, demi menghidupi diri dan keluarganya. Untuk tetap dapat bertahan hidup pada masa-masa yang sulit seperti itu, telah melahirkan sistem pengetahuan dan teknologi yang mampu menaklukkan ganasnya laut dan musim yang tidak bersahabat.

Sebelum turun kelaut masyarakat nelayan menggunakan pengetahuan tradisional yang berperan penting karena berkaitan dengan kenelayanan, seperti pengetahuan tentang navigasi, cuaca, lokasi ikan, gurita,soton dan sebagainya, serta simbol-simbol, kepercayaan, dan tradisi dilakukan oleh nelayan dalam melaut termasuk upacara adat kelautan. melalui pengetahuan tersebut masyarakat nelayan akan mendapat hasil yang banyak. masyarakat nelayan masih banyak mengunakan alat tangkap tradisional dengan adanya kemajuan teknologi masyarakat sudah mempunyai beberapa alat modern. Salah satu pelabuhan penting di Nusantara dan kemudian menjadi tempat berkumpulnya orang dari

berbagai pulau adalah pelabuhan Makassar. Kian hari jumlah orang yang datang makin meningkat dan kepentingan mereka dalam pelayaran dan perdagangan semakin mendesak. Karena itulah diperlukan seseorang untuk menjadi pengurus membawa dan menjualkan hasil laut yang di peroleh nelayan yang ada di pulau- pulau.

masyarakat nelayan yang masih mnggunakan kepercayaan-kepercayaan tentang hal mistis dan adat upacara kelautan dari nenek moyang yang difungsikan atau dipercayai dapat melancarkan proses pencarian di laut agar menghasilkan, hasil tangkap yang banyak. Sekiranya bisa di hilangkan agar penerus selanjutnya tidak lagi mengikuti pengetahuan tentang kepercayaan tentang hal-hal yang mengandung mistis dan upacara adat kelautan karena bertentangan dengan agama dan itu termasuk musyrik, sesungguhnnya Allah tidak suka dengan orang yang melakukan dosa musyrik, selain itu bukan kepercayaan atau pun upacara adat yang mendatangkan rezeki tetapi Allah SWT telah mengatur rezeki setiap orang.

Mungkin sebagai solusinya para tokoh agama dan peneliti agar memberi pemahaman terhadap semua masyarakat yang melakukan kepercayaan- kepercyaan tentang hal-hal mistis dan adat upacara kelautan supaya bisa dihilangkan.

Tindakan sosial Masyarakat Nelanyan di Pulau Matalaang ini, masih sangat toleran dalam Budaya Nenek Moyang Mereka, atau masih mempercanyai hal-hal mistis untuk bias menambah rezeki. Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir,

masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan . Walaupun demikian di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembu di daya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan. Baik nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan.

Peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan masyarakat nelayan dapat terlihat dari segala bentuk upaya pemerintah daerah untuk memberikan kemudahan bagi nelayan dalam menjalankan usahanya seperti memberikan, perhatian dan dukungan serta pemdampingan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarkat nelayan. Sesuai dengan amanat UU No. 7 Tahun 2016, pemerintah daerah diwajibkan melakukan penyelenggaraan pemberdayaan bagi nelayan meliputi: pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, kemudahan akses informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, kemitraan usaha, dan dukungan kelembagaan.

2. Kerja Sama Antar Nelayan di Pulau Matalaang

Daerah Kepulauan Matalaang Tepatnya di Kabupaten Pangkajene merupakan sebuah daerah yang memiliki masyarakat berprofesi sebagai Nelayan karena tinggal di kepulauan ataupun pesisir. Masyarakat pulau memanfaatkan pula beberapa jenis komoditi tanaman seperti sukun, kelor, kelapa, dan pisang

yang tumbuh subur hampir memenuhi seluruh pulau, namun karena harga yang relatif murah serta sarana transportasi yang terbatas, menyebabkan penduduk hanya menjual ke masyarakat di pulau-pulau terdekat.

Penelitian aspek-aspek sosial budaya masyarakat maritim merupakan titik awal dari penelitian tentang kelautan dan perikanan di P2KK-LIPI, bahkan di Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI. Penelitian yang dilakukan di tiga daerah, yaitu Papua (Demta dan Tobati), Maluku(Tual dan Hitu),dan Sulawesi Utara (Pulau Bebalang dan Beo, Sangihe Talaud) itu dilakukan untuk mengidentifikasi beberapa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat maritim, terutama nelayan.

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa efektivitas pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat adat merupakan realitas sosial yang terdapat di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dari negara. Selama ini,pengelolaan perikanan berbasis hukum adat tidak pernah diakomodasi dalam rezim pemerintahanyang sentralistik, sehingga mengundang banyak kritik. Salah satu kritik yang muncul adalah pengelolaan yang sentralistik kurang memperhatikankondisi ekosistem dan kondisi masyarakat yang berbeda-beda di berbagai wilayah, sehingga pengelolaan yang dijalankan kurang efektif. Dengan diakuinya pengelolaanyang berbasis hukum adat, maka melahirkan harapan baru terhadap efektifitas pengelolaan sumber dayalaut.

Bentuk Solidaritas gotong royong di Pulau Matalaang ini dapat terlihat dari ativitas keseharian masyarakat nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkajene, terutama dalam hal pekerjaan sehari-sehari misalnya saling

membantu dalam memperbaiki perahu yang rusak dan memperbaiki jaring yang robek, semua dikerjakan secara bersama-sama.

Solidaritas dalam sebuah kelompok tidak memandang apa dan ini siapa karena dalam sebuah pekerjaan atau komunitas apa saja tanpa saling rukun atau saling membantu dan gotong royong tidak akan berjalan lancar dan bagi dirinya juga tidak akan banyak untungnya, apalagi dalam sebuah pekerjaan nelayan yang di situ memang sudah terbentuk kelompok jadi kalau yang namanya kelompok tidak kompak tidak ada gunanya juga tidak sampai pada tujuannya karena yang namanya hidup harus saling membantu dan tolong menolong hidup itu tidak sendirian di situ ada kelompok masyarakat dan kebetulan penelitian kami yang memang terletak didaerah pesisir yang ada di Pulau Matalaang dan biasanya masyarakat pesisir pasti solidaritasnya sangat tinggi yang saling membantu dan tolong menolong.

Masyarakat nelayan umumnya masyarakat yang memiliki etos kerja tinggi dan mempunyai sifat kekerabatan yang erat diantara mereka. Masyarakat nelayan umumnya masyarakat yang kurang berpendidikan. Pekerjaan sebagai nelayan adalah pekerjaan kasar yang banyak mengandalkan otot dan pengalaman, sehingga untuk bekerja sebagai nelayan latar belakang pendidikan memang tidak penting. Masyarakat yang bekerja sebagai nelayan, ternyata bukan hanya masyarakat yang sudah berumur lanjut, tetapi banyak masyarakat generasi muda yang masih berumur 17-25 tahun juga sudah bekerja sebagai nelayan.

85

SIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen budaya maritim masyarakat nelayan di pulau (Halaman 91-98)

Dokumen terkait