• Tidak ada hasil yang ditemukan

budaya maritim masyarakat nelayan di pulau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "budaya maritim masyarakat nelayan di pulau"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui budaya bahari masyarakat nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis budaya bahari masyarakat nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep dan bagaimana kerjasama antar nelayan yang dilakukan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Defenisi Istilah

  • Hasil Penelitian yang Relevan
  • Arti Kata Maritim
  • Tahap Awal Penelitian Sosial Budaya Maritim dan Pengenalan tentang Hak Ulayat Laut
  • Konflik Nelayan sebagai Realitas Sosial
  • Pemberdayaan Nelayan
  • Penyikapan terhadap Perubahan Iklim
  • Konsep Teori

Namun pada kenyataannya, pengakuan dan penghormatan terhadap tata kelola yang dijalankan oleh komunitas common law belum sepenuhnya terbentuk. Secara umum, sejarah diartikan sebagai segala sesuatu yang telah dilakukan umat manusia pada masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari lebih jauh praktik pengelolaan wilayah laut oleh masyarakat, dinamika hak adat laut, dan fungsi hak adat laut, khususnya bagi ekosistem perikanan.

Peningkatan Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Pengelolaan wilayah perairan oleh masyarakat merupakan suatu realitas sosial yang tidak boleh diabaikan dalam pengelolaan kelautan dan perikanan. Penelitian yang dilakukan selama empat tahun di beberapa daerah ini mengamati pengelolaan sumber daya yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan industri perikanan, yang berlokasi di Tuban dan Bayuwangi (Jawa Timur), Rembang dan Pekalongan (Jawa Tengah), serta Belitung. Hasil penelitian ini merekomendasikan agar pengelolaan sumber daya kelautan yang dilakukan oleh pemerintah daerah lebih melibatkan partisipasi masyarakat.

Segala ketentuan mengenai HP-3 dinilai mengancam masa depan kehidupan nelayan karena penangkapan ikan di laut akan dilakukan oleh pengusaha. Kajian yang dilakukan Kelompok Studi Maritim PMB-LIPI sejak tahun 1990 juga hampir selalu menemukan hal tersebut. Sebab, penangkapan ikan yang dilakukan kedua jenis armada tersebut berada di tengah laut yang ombaknya cukup besar.

Kerangka Pikir

Menurut Emerson, teori pertukaran sosial adalah suatu pendekatan dalam sosiologi yang menggambarkan situasi sosial non-ekonomi hanya sebagai analisis ekonomi. Mengenai budaya bahari pada masyarakat nelayan di Pulau Matalaang, metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif adalah berusaha memperoleh gambaran yang jelas, bersifat holistik dan memahami makna (Sugiyono, 2017).

Penelitian ini bersifat deskriptif, karena penelitian ini dianggap mampu menganalisis realitas sosial secara rinci dan mengungkapkan, mendeskripsikan atau menjelaskan sesuatu apa adanya. Alasan peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan berbagai fenomena terkait budaya bahari yang saat ini masih menjadi permasalahan di kalangan masyarakat nelayan Pulau Matalaang, sehingga dapat menghasilkan konsep dan solusi terkait fenomena yang terjadi. Adapun lokasi penelitian ini akan dilakukan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep dan berkaitan dengan peristiwa dan permasalahan yang akan dibahas yaitu masyarakat disana mempunyai budaya bahari yang unik. Masyarakat sudah putus sekolah dan permasalahan ini menjadi perbincangan di masyarakat, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih mendalam.

Informan Penelitian

Subyek yang diambil sebagai sampel memang merupakan subjek yang mempunyai ciri-ciri yang paling banyak terdapat pada populasi. Informan kunci yaitu mereka yang mengetahui dan mempunyai berbagai informasi dasar yang diperlukan dalam penelitian. Orang-orang yang dipilih untuk penelitian dianggap yang terbaik untuk memberikan informasi yang diperlukan untuk penelitian sebanyak 12 orang, dengan kriteria sebagai berikut :.

Fokus Penelitian

Instrumen Penelitian

Jenis dan Sumber Data 1. Data primer

Teknik PengumpulanData

Data sekunder merupakan penelitian yang diperoleh dari dokumen-dokumen berupa buku, jurnal, blog, website dan arsip yang berkaitan dengan tujuan penelitian.

Teknik Analisis Data

Dokumentasi adalah pengumpulan bukti-bukti dan informasi seperti gambar, rekaman, kutipan bahan dan berbagai bahan referensi lainnya di tempat penelitian dan diperlukan untuk memperoleh data yang valid. Merupakan suatu bentuk analisis data yang mempertajam, mengkategorikan, mengarahkan, menghilangkan data yang tidak perlu dan mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil dan diverifikasi. Objek yang akan direduksi dalam hal ini adalah data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi terkait Budaya Maritim Masyarakat Nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep.

Tahap kedua dari prosedur analisis data adalah penyajian data, yaitu pengumpulan informasi yang memberikan kesempatan untuk menarik kesimpulan bahkan mengambil tindakan. Data yang disajikan pada tahap ini merupakan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi mengenai budaya bahari masyarakat nelayan Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep. Menarik kesimpulan adalah menarik kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dan reduksi serta penyajian data hasil penelitian budaya bahari masyarakat nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep.

Teknik Keabsahan Data

Triangulasi sumber, untuk menguji kredibilitas data, dilakukan dengan cara memeriksa data yang diperoleh melalui berbagai sumber. Triangulasi teknis, untuk menguji kredibilitas data, dilakukan dengan cara mengecek data terhadap sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya diperoleh melalui wawancara, kemudian diperiksa dengan observasi atau dokumentasi. c. Triangulasi waktu, untuk menguji kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan merupakan suatu kabupaten yang struktur wilayahnya terdiri atas dua bagian utama yang membentuk kabupaten ini, yaitu: 1. Wilayah Daratan Secara umum wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan dicirikan oleh bentang alam wilayah mulai dari dataran rendah hingga daerah pegunungan dimana terdapat Potensi juga cukup banyak terdapat di wilayah daratan Kabupaten Pangkajena dan Kepulauan, yang ditandai dengan adanya sumber daya alam berupa hasil pertambangan seperti batu bara, marmer, dan semen. Kecamatan-kecamatan yang terletak di wilayah daratan Pangkajena dan Kabupaten Kepulauan terdiri atas: Kecamatan Pangkajene, Kecamatan Balocci, Kecamatan Bungoro, Kecamatan Labakkan, Kecamatan Ma'rang, Kecamatan Segeri, Kecamatan Minasa Te'ne, Kecamatan Tondong Tallasa, dan Mandalle Daerah. Wilayah kepulauan Wilayah kepulauan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan merupakan wilayah dengan kompleksitas wilayah yang sangat mendesak untuk dibahas. Wilayah kepulauan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan mempunyai potensi wilayah yang sangat besar sehingga perlu dikembangkan lebih optimal untuk menunjang pembangunan. Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) mempunyai ciri wilayah perairan yang lebih luas dibandingkan wilayah daratannya dengan perbandingan 1 berbanding 17.

Keadaan Geografis

Wilayah Daratan Secara umum wilayah daratan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan dicirikan oleh bentang alam wilayah mulai dari dataran hingga pegunungan, dimana potensi besar juga terdapat pada wilayah daratan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yaitu ditandai dengan adanya sumber daya alam berupa hasil pertambangan, seperti batu bara, marmer, dan semen. Wilayah kepulauan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan dengan luas laut 11.464,44 Km², dengan 115 pulau, 73 pulau berpenghuni dan 42 pulau tidak berpenghuni, merupakan wilayah yang mempunyai kompleksitas yang sangat mendesak untuk dibahas, wilayah kepulauan Kabupaten Pangkajene. Pulau-pulau tersebut mempunyai potensi daerah yang terlalu besar untuk dikembangkan secara optimal guna menunjang pembangunan wilayah Pangkajene dan Kabupaten Kepulauan. Pemerintahan Kabupaten Pangkaje dan Kepulauan pada tahun 2018, wilayah administratifnya meliputi 13 kecamatan, 4 kecamatan kepulauan, yaitu Liukang Tangaya, Liukang Kalmas, Liukang Tupabbiring, Liukang Tupabbiring Utara, masing-masing 9 kecamatan daratan; Pangkajene, Minasatene, Balocci, Tondong Tallasa, Bongoro, Labakkang, Ma'rang, Segeri dan Mandalle dengan total 103 desa/kelurahan.

Di Kabupaten Pangkajene dan kepulauan, kondisi tipe iklimnya adalah tipe C1 dengan bulan kering < 2 bulan, iklim tipe C2 dengan bulan kering 2-3 bulan dan iklim dengan bulan kering 3 bulan. Di sebelah barat berbatasan dengan Pulau Kalimantan, Pulau Jawa dan Madura, Pulau Nusa Tenggara, dan Pulau Bali.

Gambar 4.1. Peta admistrasi Kabupaten Pangkajene
Gambar 4.1. Peta admistrasi Kabupaten Pangkajene

Keadaan Penduduk

Keadaan Pendidikan

Hasil Penelitian

  • Budaya Maritim Masyarakat Nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkep
  • Kerja Sama Antar Nelayan di Pulau Matalaang

Pertanyaan yang diajukan adalah, apa fungsi masyarakat nelayan dalam meningkatkan budaya bahari di Pulau Matalaang. Seperti yang diungkapkan oleh Bpk. Syarifuddin (31 tahun), beliau bekerja sebagai komunitas nelayan di Pulau Matalaang, dengan pertanyaan, apa saja aksi sosial komunitas nelayan budaya laut di Pulau Matalaang? Dalam menjalankan aktivitas masyarakat nelayan di Pulau Matalaang, pemerintah juga turut serta berperan serta dalam budidaya kelautan di Pulau Matalaang, seperti yang diungkapkan Muriani (32 tahun) selaku RT di Pulau Matalaang.

Dijelaskan oleh informan Sampe (55 tahun), ia berprofesi sebagai nelayan dan menanyakan apa saja faktor penghambat yang dialami masyarakat maritim dalam kerjasama antar nelayan di Pulau Matalaang. Sebagaimana disampaikan pula oleh Pak Sama' (34 tahun), masyarakat nelayan menanyakan bagaimana kehidupan masyarakat nelayan dengan budaya bahari di Pulau Matalaang? Pertanyaan selanjutnya adalah kegiatan apa saja yang sering dilakukan masyarakat nelayan mengenai budaya bahari di Pulau Matalaang.

Partisipasi kami sebagai masyarakat nelayan di Pulau Matalaang adalah menjaga kelestarian laut dengan menggunakan alat tangkap ramah lingkungan dan biota laut lainnya agar laut tidak rusak.

Pembahasan

Masyarakat nelayan Pulau Matalaang merupakan kelompok masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada sumber daya laut seperti ikan, gurita, dan sotong karena hampir seluruh aktivitas hidupnya berhubungan dan berkaitan dengan laut. Masyarakat nelayan menggunakan pengetahuan tradisional sebelum melaut, hal ini memegang peranan penting karena berkaitan dengan jasa seperti pengetahuan navigasi, cuaca, lokasi ikan, gurita, setan, dan lain-lain, serta simbol, kepercayaan dan tradisi. dilakukan oleh para nelayan saat melaut, termasuk ritual adat bahari. Aksi sosial masyarakat nelayan di Pulau Matalaang masih sangat toleran terhadap budaya leluhurnya atau masih mempercayai hal-hal mistis untuk menambah kekayaannya.

Sebagai kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh dan berkembang di wilayah pesisir atau pesisir. Peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan masyarakat nelayan terlihat dari segala bentuk upaya pemerintah daerah untuk memberikan kemudahan kepada nelayan dalam menjalankan usahanya, seperti memberikan perhatian, dukungan dan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan. Bentuk solidaritas gotong royong di Pulau Matalaang ini terlihat dari keseharian masyarakat nelayan di Pulau Matalaang Kabupaten Pangkajene, khususnya dalam hal pekerjaan sehari-hari, misalnya bekerja sama.

Masyarakat nelayan cenderung merupakan masyarakat yang mempunyai etos kerja tinggi dan mempunyai hubungan yang erat satu sama lain.

Simpulan

Saran

Metode Tradisional Konservasi Laut di Lautan dan Penghancurannya, dalam Tinjauan Tahunan Ekologi dan Sistematika. Organisasi Sosial dan Jenis Kepemilikan Laut di Mikronesia, dalam Ruddle, Kenneth dan Johannes, R.E (ed): Pengelolaan Tradisional Sumber Daya Laut di Cekungan Pasifik: Sebuah Antologi. Hak adat maritim di Sangihe Talaud (Studi kasus sistem pengelolaan sumber daya bagi nelayan pulau dan nelayan pesisir).

Penangkapan Ikan pada Masyarakat Nelayan STUDI KASUS DI Pasar Labuan Desa Bunus Selatan Kecamatan Bungus TELUK Kabung Kota Padang. Bagaimana partisipasi masyarakat nelayan dalam pengelolaan sumber daya laut dengan budidaya laut di Pulau Matalaang. Apa saja faktor penghambat yang dialami masyarakat maritim dalam menjalin kerjasama antar nelayan di Pulau Matalaang?

Gambar : Kegiatan wawancara peneliti dan informan Bpk. Ranje di tengah komunitas nelayan Pulau Matalaang pada 20 Oktober 2019.

Gambar : Kegiatan wawancara peneliti dan iforman Bapak Sampe selaku Masyarakat Nelayan Pulau Matalaang pada tanggal 20 Oktober 2019
Gambar : Kegiatan wawancara peneliti dan iforman Bapak Sampe selaku Masyarakat Nelayan Pulau Matalaang pada tanggal 20 Oktober 2019

Gambar

Gambar 4.1. Peta admistrasi Kabupaten Pangkajene
Tabel 4.2 Batas Wilayah Kabupaten Pangkajene dan Keplauan
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Tabel 4.4 jenjang Pendidikan Kepulauan Matalaang
+4

Referensi

Dokumen terkait

: Analisis Dampak Ko-Manajemen Terhadap Tingkat Kesejahteraan Nelayan Di Kecamatan Pulau-Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai Sulawesi-Selatan. Ketua Program Studi

: Analisis Dampak Ko-Manajemen Terhadap Tingkat Kesejahteraan Nelayan Di Kecamatan Pulau-Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai Sulawesi-Selatan. Ketua Program Studi

Hasil penelitian yang dilakukan penulis tentang kondisi sosial masyarakat nelayan kaitannya dengan pendidikan anak pada masyarakat nelayan di desa Perlis kecamatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Upaya pemerintah daerah dalam mengentaskan kemiskinan pada masyarakat nelayan di Kecamatan Pulau Laut Utara antara lain pembangunan

dengan demikian Pemberdayaan Wilayah Maritim dan Pelatihan Nelayan berpengaruh terhadap Kesejahteraan Masyarakat Pesisir dalam rangka mengoptimalkan Strategi Pertahanan di

Mcngacu pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah, adalah: (1) bagaimana potret masyarakat nelayan di Pulau Karampuang; (2)

Skripsi ini “ Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan Masyarakat Nelayan Pulau santen Desa Karangrejo Kecamatan Banyuwangi kabupaten Bnayuwangi .”.. Penulis menyadari bahwa proses

Dokumen ini berisi tentang seminar pra skripsi penelitian kehidupan sosial budaya masyarakat nelayan pesisir Desa Tamasaju tahun