Bab IV Pembahasan
B. Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
93 untuk melaksanakan putusannya maupun dengan sistem yang lain sebagaimana diatur dalam Pasal 116 UU No. 9 Tahun 2004 dan UU No. 51 Tahun 2009 yang merupakan perubahan kedua dari UU NO. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang menyangkut masalah ekseskusi dikenal dnegan sistem fixed execution yaitu eksekusi yang pelaksanaannya dapat dipaksakan oleh pengadilan melalui sarana-sarana pemaksa yang ada, ternyata masih tidak cukup efektif dapat memaksa pejabat tata usaha negara agar melaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara.103
Kepatuhan pejabat tata usaha negara tidak bisa dilepaskan dari kurangnya kesadaran hukum dan kepatuhan hukum terhadap putusan Peradilan Tata Usaha Negara. Maka penting untuk diteliti lebih mendalam tentang kurangnya kepatuhan pejabat tata usaha negara.
Hukum Administrasi Negara
94
institusi-institusi hukum, yaitu pemahaman-pemahaman yang memberikan makna kepada pengalaman dan tindakan orang-orang. Kesadaran hukum itu terbentuk dalam tindakan dan maka dari itu merupakan persoalan praktik untuk dikaji secara empiris. Dengan kata lain, kesadaran hukum adalah persoalan “hukum sebagai perilaku” dan bukan “hukum sebagai aturan, norma atau asas”.104 Kesadaran hukum bagi setiap warga Negara untuk dengan sadar menjalankan semua putusan peradilan menjadi hal yang sangat penting agar terciptanya kepastian hukum bagi Negara Indonesia.
a) Kesadaran Hukum.
Secara harfiah kata “kesadaran” berasal dari kata
“sadar”, yang dapat dimaknai dengan insyaf, merasa tahu dan mengerti. Sedangkan sadar hukum adalah kesadaran untuk penegakan hukum di dalam kehidupan bermasyarakat.105 Manusia dalam kehidupannya dapat bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat ataupun sebaliknya. Manusia yang dapat bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dapat dikatakan memiliki kesadaran moral, yaitu adanya keinsyafan dalam diri manusia bahwa sebagai anggota masyarakat dapat melakukan kewajibannya.
104 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), (Jakarta: Kencaran, 2009), hlm. 298.
105 Ari Prahasta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, ( Tangerang Selatan: Scientific Press, 2013), hlm. 375.
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
95 Berkaitan dengan hal tersebut Zubair menerangkan:106
Kesadaran moral merupakan faktor penting untuk memungkinkan tindakan manusia selalu bermoral, berperilaku susila, lagi pula tindakannya akan sesuai dengan norma yang berlaku. Kesadaran moral didasarkan atas nilai-nilai yang benar-benar esensial dan fundamental. Perilaku manusia yang bersarkan atas kesadaran moral, perilakunya selalu direalisasikan sebagaimana yang seharusnya, kapan saja dan dimana saja.
Berdasarkan pendapat Zubair tersebut, dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki kesadaran moral yang baik akan selalu bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat dalam keadaan apapun dan kapanpun. Dengan ungkapan lain, norma-norma tersebut telah terinternalisasi dalam kebiasaan berpikir dan bertindak orang tersebut.
Pada umumnya kesadaran hukum dikaitkan dengan ketaatan hukum atau efektivitas hukum.
Dengan kata lain kesadaran hukum berhubungan erat dengan permasalahan apakah ketentuan hukum tertentu benar-benar berfungsi atau tidak dalam masyarakat. Agar terjadi suatu keserasian yang profesional antara hukum yang diterapkan dengan kesadaran hukum dari masyarakat, maka peraturan
106 Zubair, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali Press,1995), hlm. 51.
Hukum Administrasi Negara
96
itu sendiri harus rasional dan dilaksanakan dengan prosedur yang teratur dan wajar.
Kesadaran hukum menjadi hal terpenting dalam wujud kepatuhan hukum setiap warga negara terhadap hukum positif yang diakui di Indonesia, para pakar membedakan ada 2 (dua) macam kesadaran hukum,107 yaitu: a) Legal consciousness as within the law, kesadaran hukum sebagai ketaatan hukum, berada dalam hukum, sesuai dengan aturan hukum yang disadarinya atau dipahaminya. b) legal consciousness as against the law, kesadaran hukum dalam wujud menentang hukum atau melanggar hukum.
Kesadaran hukum, kepatuhan hukum dan efektifitas hukum merupakan satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan, karena memang pada bentuk aplikatif dari hukum adalah manusia sebagai pelaksana adanya aturan hukum yang dibentuk oleh pemerintah. Peraturan perundang-undangan akan semakin efektif bilamana adanya kesadaran dan kepatuhan hukum setiap warga negara.
Krabbe memberikan pengertian tentang apa yang dimaksud sebagai kesadaran hukum yaitu:108
“met den term rechtsbewustzijn meent men niet het rexhtsoorrdeel over eeing concrete geval, doch
107 Ibid, hlm. 510.
108 Lihat Syaefullah Hamid, Kesadaran dan Ketaatan Hukum pada http://pendapathukum.blogspot.com , diakses pada tanggal 30 Juni 2015.
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
97 he in ieder mensch levend bewustzijn van wat recht is of behoort tezijn, een bepaalde categorie van ons geesteleven, waardoor wij met onmiddelijke evidentie los van positieve instellingen scheiding maken tusschen recht en onrecht, gelijk we dat dosen en onwaaasr, goed en kwaad, schoon en leelijk.
Krabbe mengungkapkan kesadaran hukum sebenarnya merupakan kesadaran atau nilai-nilai yang terdapat di dalam diri manusia, tentang hukum yang ada atau tentang hukum diharapkan ada.
Definisi Krabbe tersebut, sudah cukup menjelaskan apa yang dimaksud sebagi kesadaran (rechtsbewustzijn; legal consciousness). Pengertian ini akan lebih lengkap lagi, jika ditambahkan unsur nilai-nilai masyarakat, tentang fungsi apa yang hendaknya dijalankan oleh hukum dalam masyarakat.109
Kesadaran hukum yang dimiliki oleh warga negara belum menjamin bahwa setiap warga negara tersebut akan menaati suatu aturan hukum atau peraturan perundang-undangan. Kesadaran hukum seseorang yang melakukan korupsi itu adalah perbuatan kriminal atau jahat, belum tentu menyebabkan orang itu tidak akan melakukan korupsi, yang mana ketika ada kesempatan dan kebutuhan yang kurang tercukupi dia melakukan korupsi karena jabatan dan kebutuhannya. Pelaku menyadari bahwa korupsi merupakan perbuatan
109 Ibid.
Hukum Administrasi Negara
98
pidana, namun tetap saja mereka melaksanakan perbuatan pidana korupsi.
Soerjono Soekanto110 mengemukakan ada 4 (empat) indikator kesadaran hukum, yaitu:
1. Pengetahuan tentang hukum
Pengetahuan hukum dimaknai sebagai kesan di dalam pikiran seseorang mengenai peraturan perundang-undangan. Pengetahuan hukum perlu dimaknai bahwa warga masyarakat dalam memahami tiap-tiap peraturan perundang-undangan itu berbeda-beda, tidak jarang pula banyak warga masyarakat yang belum mengetahui tentang peraturan perundang-undangan/hukum yang ada di Indonesia.
2. Pemahaman tentang hukum
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana menegaskan bahwa mencuri merupakan perbuatan pidana, dan barang siapa melakukan perbutan mencuri akan dihukum. Setelah mengetahui tentang Pasal bagi seorang pencuri, diharapkan setiap warga neagra memahami bahwa bentuk perbuatan mencuri merupakan hal yang dilarang dalam Negara Indonesia.
3. Sikap terhadap hukum
110 Soerjono Soekanto, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, (Jakarta: Rajawali Press, 1982), hlm. 140.
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
99 Sikap merupakan buah dari adanya kesadaran dan pemahaman terhadap hukum.
Pengetahuan hukum itu penting untuk lebih memahami suatu peraturan perundang- undangan. Warga masyarakat yang sudah memahami akan hukum maka diharapkan sikap terhadap hukum yang baik.
4. Sikap terhadap hukum
Sikap merupakan aktualisasi dari pengatahun tentang hukum. Sikap terhadap hukum ini kemudian menimbulkan perilaku hukum yang baik bagi warga masyarakat.
Pendapat Soerjono Soekanto tersebut diadopsi dari beberapa pakar, seperti B. Kutchinsky : 111
Law awareness is ... awareness of the very fact that certain type of behaviour is regulated by law. Law acquaintance is ... the amount of information a person has about the content matter of a certain normative regulation.
Terjemahan: kesadaran hukum adalah kesadaran terhadap banyaknya model kenyataan perilaku yang pasti yang diatur oleh hukum. Pengetahun hukum adalah banyaknya pengetahuan seseorang yang mempunyai tentang persoalan yang pasti tentang peraturan normatif.
Kesadaran hukum mutlak diperlukan bagi penegakan hukum di Indonesia, khususnya
111 Syafullah Hamid, op. cit.
Hukum Administrasi Negara
100
mengenai putusan peradilan di Indonesia. Kepastian hukum akan terwujud dengan adanya kesadaran hukum bagi setiap warga negara. Sudikno Mertokusumo juga menambahkan:112
Kesadaran yang ada pada setiap manusia tentang apa hukum itu, apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan kita dengan mana kita membedakan antara hukum dengan tidak hukum, antara yang seyogyanya dilakukan dan tidak dilakukan.
Masalah kesadaran hukum, Selo Sumarjan113 juga berpendapat bahwa itu berkaitan erat dengan faktor-faktor sebagai berikut: a. Usaha-usaha menanamkan hukum dalam masyarakat, yaitu menggunakan tenaga manusia, alat-alat, organisasi, dan metode agar masyarakat mengetahui, menghargai, mengakui dan mentaati hukum. b.
Reaksi masyarakat yang didasarkan pada sistem nilai-nilai yang berlaku. c. Jangka waktu penanaman hukum diharapkan dapat memberikan hasil.
Lebih lanjut Ewick dan Silbey membedakan beberapa jenis “kesadaran” sebagai berikut:
a. Consdciousness as attitude (kesadaran sebagai sikap)
112 Sudikno Mertokusumo, Bunga Rampai Ilmu Hukum, (Yogyakarta:
Liberty,1984), hlm. 2.
113 Selo Sumarjan, Perkembangan Politik Sebagai Penggerak Dinamika Pembangunan Ekonomi, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1965), hlm. 26
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
101 Konsep tentang kesadaran ini menunjukkan bahwa kelompok-kelompok sosial dari semua ukuran atau tipe (keluarga-keluarga, kelompok- kelompok sebaya, komunitas-komunitas dan masyarakat-masyarakat), muncul dari tindakan- tindakan bersama individu-individu.
Tradisi liberal klasik, baik dalam teori politik maupun teori hukum, menggunakan konsep kesdaran. Menurut pendekatan ini, masyarakat politis adalah ... suatu asosiasi individu-individu yang menentukan dirinya sendiri, yang menyatukan keinginan-keinginan mereka mengumpulkan kekuasaan mereka di dalam Negara, untuk tujuan-tujuan kepentingan diri sendiri yang sama-sama menguntungkan. Dalam hal ini kesadaran terdiri atas, baik nalar maupun keinginan (hasrat), meskipun demikian, menurut ideology liberal, keinginan yang tetap dikaji dan tidak dijelaskan, adalah bagian yang menggerakkan aktif atau primer. Kesadaran menjadi bentuk realisasi ideal-ideal hukum untuk perlakuan yang sama dan adil.
b. Consciousness as epiphenomenin (kesadaran sebagai epiphenomenon)
Beberapa ilmuwan menganggap
“kesadaran” sebagai produk samping dari operasi struktur-struktur sosial, dari pada agen formatif dalam membentuk struktur-struktur.
Dengan demikian, para ilmuwan strukturalis dari Marxis, beragumentasi bahwa individu- individu adalah pembawa-pembawa dari
Hukum Administrasi Negara
102
hubungan-hubungan sosial, bukannya individu.
Mengikuti persepektif ini, maka beberapa ilmuwan memandang hukum maupun kesadaran hukum sebagai epiphenomenon, yaitu suatu struktur ekonomi terpenting untuk memproduksi suatu tertib hukum yang berkaitan atau yang tepat. Karya ini sering menggambarkan bagaimana kebutuhan- kebutuhan produksi dari reproduksi kapitalis, membentuk perilaku dan kesadaran hukum.
c. Consciousness as cultural practice (kesadaran sebagai praktek kultural)
Kesadaran hukum dapat muncul, menurut perspektif ini merupakan kemunculan baru, bersifat kompleks, dan bergerak tetapi juga harus diketahui bahwa kesadaran hukum mempunyai bentuk dan pola. Variasi-variasi yang memungkinkan dalam kesadaran hukum, dibatasi secara situasional dan organisasional.
Perhatian kepada kesadaran, menekankan konstruksi kolektif dan penghalang-halang yang bekerja di dalam setiap lingkungan.
Kriteria orang yang memiliki kesadaran hukum yaitu: 1) Mematuhi aturan hukum yang berlaku di mana saja; 2) selalu berhati-hati dalam berperilaku dan beratngggung jawab; 3) setiap anggota masyarakat harus memiliki sikap positif terhadap hukum artinya mendukung berlakunya hukum dan memilih menaati
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
103 perintah hukum disbanding dengan melanggarnya.114
Kriteria yang tersebut tadi juga dibuktikan dengan sikap kesadaran hukum memiliki 3 unsur yaitu: 1) sesuatu yang dipikirkan oleh seseorang terhadap objek yang dihadapi; 2) sesuatu yang dirasakan oleh seseorang terhadap obejk yang dihadapi; 3) sesuatu yang dilakukan oleh seseorang terhadap objek yang dihadapi.115 Kriteria mengenai kesadaran hukum dapat diharapkan sebagai acuan dalam mengindentifikasi dan menegakan kepatuhan hukum pejabat tata usaha Negara dalam menjalankan keputusan pengadilan tata usaha Negara yang berkekuatan hukum tetap.
b) Kepatuhan Hukum
Kepatuhan/ketaatan hukum atau tidak melanggar hukum, selain disebabkan faktor jera atau takut setelah menyaksikan atau mempertimbangkan kemungkinan sanksi yang diganjarkan terhadap dirinya jika ia tidak menaati hukum.
Ketaatan/kepatuhan hukum masih dibedakan kualitasnya dalam tiga jenis, seperti yang dikemukakan oleh. H.C. Kelman yakni sebagai berikut:116
114 Definisi Hukum, www.bauk.unimed.ac.id, diakses pada tanggal 4 Pebruari 2016.
115 Ibid.
116 Achmad Ali, op. cit, hlm. 347-348.
Hukum Administrasi Negara
104
a. Compliance, yaitu: an overt acceptance induced by expectation of rewards and an attempt to avoid possible punishment-not by any conviction in the desirability of the enforced rule. Power of the
117influencing agent is based on “means-control”
and as a consequence, the influenced person conforms only under surveillance.
Terjemahan: Suatu kepatuhan yang didasarkan pada harapan akan suatu imbalan dan usaha untuk menghindarkan diri dari hukuman yang mungkin dijatuhkan. Kepatuhan ini sama sekali tidak didasarkan pada suatu keyakinan pada tujuan kaedah hukum yang bersangkutan, dan lebih didasarkan pada pengendalian dari pemegang kekuasaan. Sebagai akibatnya maka kepatuhan akan ada apabila ada pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan kaedah- kaedah hukum tersebut.
b. Identification, yaitu: an acceptance of a rule not because of its instrinsic value and appeal but because of a person’s desire to maintain membership in a group or relationship with the agent. The source of power is the attractiveness of the relation which the person enjoy with the group or agent, and his conformity with the rule will
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
105 dependent upon the salience of these relationships.
Terjemahan: Terjadi apabila kepatuhan hukum ada bukan oleh karena nilai instriksiknya, akan tetapi agar supaya keanggotaan kelompok tetap terjaga, serta ada hubungan baik dengan mereka yang memegang kekuasaan.
c. Internalization, yaitu: the acceptance by an individual of a rule or behavior because he finds its content intrinsically rewarding…the content is congruent with a person’s values either because it has been so from the start of the influence or because his values changed and adapted to inevitable.
Terjemahan: Seseornag mematuhi hukum karena secara instrinsik kepatuhan tadi mempunyai imbalan.
Achmad Ali berpendapat bahwasannya dengan mengetahui dan memahami adanya 3 (tiga) jenis ketaatan tersebut, maka tidak dapat sekedar menggunakan ukuran ditaatinya suatu aturan hukum atau perundang-undangan sebagai bukti efektifnya suatu aturan/undang-undang, tetapi paling tidaknya juga harus ada perbedaan kualitas efektifitasnya. Semakin banyak warga masyarakat yang menaati suatu aturan hukum atau perundang-undangan hanya dengan ketaatan yang bersifat “compliance” atau “identification” saja, berarti
Hukum Administrasi Negara
106
kualitas efektifitasnya masih rendah; sebaliknya semakin banyak ketaatannya “internalization”, maka semakin tinggi kualitas efektifitas aturan hukum atau perundang- undangan itu.118
Jenis ketaatan hukum disebut sebagai teori ketaatan hukum karena kepentingan. Mengutip pendapat Achmad Ali, apabila direnungkan ternyata jika seseorang disodori dengan keharusan untuk memilih, maka seseorang akan menaati aturan hukum dan perundang-undangan, hanya jika dalam sudut pandangnya, keuntungan-keuntungan daru suatu ketaatan, ternyata melebihi biaya-biayanya.
Diakui oleh Achmad Ali bahwa pandangannya ini dipengaruhi pandangan mazhab hukum ekonomi, yang memandang berbagai faktor ekonomi sangat memengaruhi ketaatan seseorang, termasuk di dalamnya, keputusan seseorang yang bertalian dnegan faktor “biaya” atau “pengorbanan”, serta “keuntungan”
jika ia menaati hukum. Faktor yang turut menentukan taat atau tidaknya seseorang terhadap hukum.119
Beberapa faktor yang memengaruhi ketaatan terhadap hukum sebagaimana disebutkan oleh C.G.
Howard dan R.S. Mummers:120
a. Relevansi aturan hukum secara umum. Dengan kebutuhan hukum dari orang-orang yang menjadi target aturan hukum secara umum itu, oleh karena itu, jika aturan hukum yang dimaksud berbentuk
118 Ibid, hlm. 349.
119 Ibid, hlm. 350.
120 Ibid, hlm. 376-378.
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
107 undang-undang, maka pembuat undang-undang dituntut untuk mampu memahami kebutuhan hukum dari target pemberlakuan undang-undang tersebut.
b. Kejelasan rumusan dari substansi aturan hukum, sehingga mudah dipahami oleh target diberlakukannya aturan hukum. jadi perumusan substansi aturan hukum itu harus dirancang dengan baik, jika aturannya tertulis, harus ditulis dengan jelas dan mampu dipahami secara pasti. Meskipun nantinya tetap membutuhkan interpretasi dari penegak hukum yang akan menerapkannya.
c. Sosialisasi yang optimal kepada seluruh target aturan hukum itu. Kita tidak boleh meyakini fiksi hukum yang menentukan bahwa semua penduduk yang ada dalam wilayah suatu Negara, dianggap mengetahui seluruh aturan hukum yang berlaku di negaranya, tidak mungkin penduduk atau warga negara masyarakat secara umum, mampu mengetahui keberadaan suatu aturan hukum dan substansinya, jika aturan hukum tersebut tidak disosialisasikan secara optimal.
d. Jika hukum yang dimaksud adalah perundang- undangan, maka seyogyanya aturannya bersifat melarang dan jangan bersifat mengharuskan, sebab hukum yang bersifat melarang (prohibitur) lebih mudah dilaksanakan ketimbang hukum yang bersifat mengharuskan (mandatur).
e. Sanksi yang diancamkan oleh aturan hukum itu, harus dipadankan dengan sifat aturan hukum yang dilanggar tersebut suatu sanksi yang dapat kita katakan tepat untuk suatu tujuan tertentum belum tentu tepat untuk tujuan lain.
Hukum Administrasi Negara
108
f. Berat ringannya sanksi yang diancamkan dalam aturan hukum, harus proporsional dan memungkinkan untuk dilaksanakan.
g. Kemungkinan bagi penegak hukum untuk memproses jika terjadi pelanggaran terhadap aturan hukum tersebut, adalah memang memungkinkan, karena tindakan yang diatur dan diancamkan sanksi, memang tindakan yang konkret, dapat dilihat, diamati, oleh karenanya memungkinkan untuk diproses dalam setiap tahapan.
h. Aturan hukum yang mengandung norma moral berwujud larangan, relatif akan jauh lebih efektif ketimbang aturan yang bertentangan dengan nilai moral yang dianut oleh orang-orang yang menjadi target diberlakukannya aturan tersebut. Aturan hukum yang sangat efektif adalah aturan hukum yang melarang dan mengancamkan sanksi bagi tindakan hukum yang juga dilarang dan diancamkan sanksi oleh norma lain, seperti norma moral, norma agama, norma adat istiadat atau kebiasaan dan lainnya. Aturan hukum yang tidak diatur dan dilarang oleh norma lain.
i. Efektif atau tidak efektifnya suatu aturan hukum secra umum, juga tergantung pada optimal dan profesional tidaknya aparat penegak hukum untuk menegakkan berlakunya aturan hukum tersebut mulai dari tahap pembuatannya, sosialisasinya, proses penegakan hukumnya yang mencakupi tahapan penemuan hukum dan penerapnnya terhadap suatu kasus konkret.
j. Efektif atau tidaknya suatu aturan hukum secara umum, juga mensyaratkan adanya pada struktur hidup sosio-ekonomi yang minimal di dalam
Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.
109 masyarakat. Sebelumnya, ketertiban umum sedikit atau banyak, harus telah terjaga, karena tidak mungkin efektifitas hukum akan terwujud secara optimal jika masyarakat dalam keadaan chaos atau situasi perang dahsyat.
Dari beberapa rumusan tentang alasan-alasan mengapa seseorang itu patuh atau taat pada hukum, dimana setiap individu itu berbeda-beda di dalam memberikan alasannya, maka dengan demikian akan timbul di dalam lingkungan masyarakat berbagai derajat kepatuhan terhadap hukum seperti yang dikemukakan oleh G.P. Hoefnagles antara lain:121
1. Seseorang bersikap tindak atau berperilakuan sebagaimana diharapkan oleh hukum dan menyetujuinya sesuai dengan sistem nilai-nilai dari mereka yang berwenang.
2. Seseorang berperilakuan sebagaimana diharapkan oleh hukum dan menyetujuinya, akan tetapi dia tidak setuju dengan penilaian yang diberikan oleh yang berwenang terhadap hukum yang bersangkutan.
3. Seseorang mematuhi hukum, akan tetapi dia tidak setuju dengan kaidah-kaidah tersebut maupun pada nilai-nilai dari yang berwenang.
4. Seseorang tidak patuh pada hukum, akan tetapi dia menyetujuinya dan demikian juga terhadap nilai- nilai dari mereka yang berwenang.
5. Seseorang sama sekali tidak menyetujui ke semuanya dan dia pun tidak pauh pada hukum.
121 Purnadi Poerbacaraka, Penggarapan Disipilin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum, (Rajawali, 1986), hlm. 24-25.
Hukum Administrasi Negara
110
Kesadaran dan kepatuhan hukum mutlak diperlukan oleh setiap warga negara, sebagaimana tujuan dari adanya hukum. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan membuktikan bahwa rakyat mulai sadar hukum. Pejabat Tata Usaha Negara sebagai warga negara yang mempunyai jabatan sebagai pejabat pangreh mutlak diperlukan, sebagai bentuk contoh terhadap warga negara yang lain.