• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Peradilan Tata Usaha Negara yang bisa Mendapatkan Upaya Paksa

Dalam dokumen HUKUM ADMINISTRASI NEGARA (Halaman 130-138)

Bab IV Pembahasan

D. Pengaturan tentang Kepatuhan Hukum Pejabat Untuk Menjalankan Putusan

1) Putusan Peradilan Tata Usaha Negara yang bisa Mendapatkan Upaya Paksa

Hukum Administrasi Negara

118

b) Faktor Non-Yuridis

Penyelesaian yang ditawarkan dalam masalah sistem peradilan guna mendukung peningkatan kesadaran hukum di kalangan hukum adalah berupa alternatif-alternatif baik yang menyangkut sisi substansi, koordinasi dan sumberdaya manusia aparatur hukum.

Kesadaran hukum yang dimaksud adalah kesadaran pelaku penegakan hokum

D. Pengaturan tentang Kepatuhan Hukum

Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.

119 condemnatoir yaitu yang bersidat penghukuman atau berisi kewajiban untuk melakukan tindakan tertentu terhadap yang kalah, sedangkan menurut isi putusan berdasarkan ketentuan Pasal 97 Ayat (7) UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dapat berupa: Gugatan ditolak, Gugatan dikabulkan, Gugatan tidak diterima dan Gugatan gugur.

Mengenai putusan yang dapat dieksekusi, Pasal 115 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 menentukan, bahwa “hanya putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap yang dapat dilaksanakan”. Maka yang dapat dieksekusi hanya putusan Pengadilan Tata Usaha Negara atau Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap saja, yaitu jika:126

1. Penggugat dan Tergugat telah menyatakan menerima terhadap putusan Pengadilan, padahal Penggugat dan Tergugat mempunyai hak untuk mengajukan permohonan pemeriksaan di tingkat banding;

2. Sampai lewatnya tenggang waktu yang telah ditentukan, penggugat dan Tergugat tidak mengajukan permohonan pemeriksaan di tingkat banding atau kasasi.

Pasal 116 UU Nomor 5 Tahun 1986 jo. UU No. 9 Tahun 2004 jo. UU No. 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dapat diketahui bahwa

126 R. Wiyono, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Edisi Ketiga, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hlm. 233.

Hukum Administrasi Negara

120

ada 2 (dua) cara pelaksanaan putusan Pengadilan di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara,127 adalah sebagai berikut:

1. Pelaksanaan putusan Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 97 Ayat (9) huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, yaitu di samping menyatakan batal atau tidak sah Keputusan Tata Usaha Negara yang menimbulkan sengketa Tata Usaha Negara, juga menetapkan bahwa Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara tersebut harus mencabut Keputusan tata Usaha Negara yang dimaksud.

2. Pelaksanaan putusan Pengadilan yang terdiri dari:

a) Pelaksanaan putusan Pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 Ayat (9) huruf b Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, yang di samping menyatakan batal atau tidak sah Keputusan Tata Usaha Negara yang menimbulkan sengketa Tata Usaha negara, juga menetapkan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara harus mencabut Keputusan Tata Usaha Negara dan mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara yang baru.

127 Paulus Affendie Lotulung, Eksekusi Putusan Peradilan Tata Usaha Negara dan Problematikanya dalam Praktek, dalam Kapita Selekta Hukum, Mengenang Almarhum Prof. H. Oemar Seno Adji, (Jakarta:

Penerbit Ghalia Indonesia, 1995), hlm. 268-269.

Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.

121 b) Pelaksanaan putusan Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 Ayat (9) huruf c Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang menyatakan bahwa Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara harus menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986.

Proses/tahapan-tahapan pelaksanan putusan diatur dalam Pasal 116 Undang-Undang No. 51 Tahun 2009 tentang Perubahan kedua atas Undang- Undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang menyatakan sebagai berikut ini:

(1) Salinan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dikirimkan kepada para pihak dengan surat tercatat oleh panitera pengadilan setempat atas perintah ketua pengadilan yang mengadilinya dalam tingkat pertama selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja.

(2) Apabila setelah 60 (enam puluh) hari kerja putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima tergugat tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 Ayat (9) huruf a, keputusan tata usaha negara yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan hukum lagi.

(3) Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 Ayat (9) huruf b dan huruf c, dan kemudian setelah 90 (sembilan

Hukum Administrasi Negara

122

puluh) hari kerja ternyata kewajiban tersebut tidak dilaksanakan, maka penggugat mengajukan permohona kepada ketua pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), agar pengadilan memerintahkan tergugat melaksanakan putusan pengadilan tersebut.

(4) Dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif.

(5) Pejabat yang tidak melaksanakan putusan pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diumumkan pada media massa cetak setempat oleh panitera sejak tidak terpenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

(6) Di samping diumumkan pada media massa cetak setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (5), ketua pengadilan harus mengajukan hal ini kepada Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintah tertinggi untuk memerintahkan pejabat tersebut melaksanakan putusan pengadilan, dan kepada lembaga perwakilan rakyat untuk menjalankan fungsi pengawasan.

(7) Ketentuan mengenai besaran uang paksa, jenis sanksi administratif, dan tata cara pelaksanaan pembayaran uang paksa dan/atau sanksi administratif diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.

123 Ad. 1

Untuk pelaksanaan putusan Pengadilan ini, dari Pasal 16 Ayat (2) UU No. 5 Tahun 1986 jo. UU No. 9 Tahun 2004 jo. UU No. 51 Tahun 2009 dapat diketahui bahwa dalam tenggang waktu 60 (enam puluh) hari kerja setelah putusan Pengadilan diterima oleh tergugat, tergugat harus mencabut Keputusan Tata Usaha Negara yang menimbulkan sengketa Tata Usaha Negara.

Paulus Effendi Lotulung128 menambahkan bahwa perintah dari Ketua Pengadilan tersebut berupa surat perintah, yang dituangkan dalam bentuk penetapan. Jika Ketua Pengadilan sudah memerintahkan kepada Tergugat dan Tergugat tetap tidak mau melaksanakan kewajibannyauntuk menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara, Pasal 116 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 menentukan bahwa terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif.

Ad. a

Penjelasan Pasal 116 Ayat (4) UU No. 51 Tahun 2009 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan

“pejabat yang bersangkutan dikenakan uang paksa”

adalah pembebanan berupa pembayaran sejumlah yang yang ditetapkan oleh Hakim karena jabatannya

128 Ibid, hlm. 269.

Hukum Administrasi Negara

124

yang dicantumkan dalam amar putusan pada saat memutuskan mengabulkan gugatan dari Penggugat.

Berdasarkan ketentuan tersebut maka pemberlakuan pembayaran uang paksa dilakukan sejak saat berakhirnya masa penegoran/perintah Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud Pasal 116 Ayat (3) UU No. 9 Tahun 2004 (oleh karenanya dalam surat Penetapan/Perintah Ketua harus disebutkan limit waktu pelaksanaan Putusan Pengadilan) dan selanjutnya setelah limit waktu pelaksanaan Putusan Pengadilan, maka Ketua Pengadilan membuat Penetapan yang ditujukan kepada Kepala KPN yang berwenang yang berisi perintah agar Kepala KPN tersebut memotong gaji Tergugat setiap bulan yang besarnya ditentukan dalam Amar putusan sampai dnegan terguat mematuhi isi putusan sampai yang telah berkekuatan hukum tetap.129

Ad. b

Sanksi administratif yang dimaksud adalah sanksi yang dijatuhkan sendiri oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mempunyai wewenang untuk menjatuhkan sanksi tersebut.

Sanksi administratif tidak hanya sanksi yang berupa hukuman disiplin sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010, tetapi dapat berupa sanksi lain, misalnya alih tugas jabatan yang semula jabatannya

129 Supandi, op. cit, hlm. 5.

Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.

125 adalah Pimpinan, kemudian dialihkan menjadi staf.130

Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 119 UU Nomor 51 Tahun 2009 dapat diketahui bahwa yang diberi kewajiban untuk mengawasi eksekusi putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap adalah Ketua Pengadilan, yang dimaksud dengan Ketua Pengadilan adalah Ketua Pengadilan yang mengadili sengketa Tata Usaha Negara pada tingkat pertama.131

Macam isi dan sifat putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut tidak semua putusan dapat dikenakan upaya paksa melainkan hanya putusan yang memenuhi syarat saja, yaitu sebagai berikut:132 a) Putusan yang menyatakan gugatan dikabulkan,

yaitu apabila dari hasil pemeriksaan di persidangan ternyata dalil-dalil dari posita gugatan penggugat telah terbukti secara formal maupun materiil dan telah dapat mendukung petitum yang dikemukakan penggugat.

130 Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980, alih tugas jabatan atau mutasi bukan merupakan atau tidak termasuk hukuman disiplin.

131 R. Wiyono, Hukum Acara ..., op.cit, hlm. 246.

132 Ujang Abadullah, Penerapan Upaya Hukum Paksa Berupa Pembayaran Uang Paksa di Pengadilan Tata Usaha Negara, hlm. 4-5.

Terpetik dari www.ptun.palembang.go.id, diakses pada tanggal 1 Juli 2015.

Hukum Administrasi Negara

126

b) Putusan bersifat condemnatoir, yaitu putusan yang sifatnya memberikan beban atau kewajiban untuk melakukan tindakan tertentu kepada Badan/Pejabat Tata Usaha Negara seperti:

 Kewajiban mencabut Keputusan Tata Usaha Negara yang dinyatakan batal/tidak sah.

 Kewajiban menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara badan/pengganti.

 Kewajiban mencabut dan menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara yang baru.

 Kewajiban membayar ganti rugi.

 Kewajiban melaksanakan rehabilitasi dalam sengketa kepegawaian.

c) Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (Inkracht van Gewijsde), yaitu putusan pengadilan yang tidak dapat diterapkan upaya hukum lagi terhadap putusan tersebut.

2) Tanggung Jawab Pembayaran Uang Paksa bagi

Dalam dokumen HUKUM ADMINISTRASI NEGARA (Halaman 130-138)