• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Perubahan Keadaan

Dalam dokumen HUKUM ADMINISTRASI NEGARA (Halaman 122-130)

Bab IV Pembahasan

C. Latar Belakang Penyebab Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Tidak

1) Pengaruh Perubahan Keadaan

Hukum Administrasi Negara

110

Kesadaran dan kepatuhan hukum mutlak diperlukan oleh setiap warga negara, sebagaimana tujuan dari adanya hukum. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan membuktikan bahwa rakyat mulai sadar hukum. Pejabat Tata Usaha Negara sebagai warga negara yang mempunyai jabatan sebagai pejabat pangreh mutlak diperlukan, sebagai bentuk contoh terhadap warga negara yang lain.

C. Latar Belakang Penyebab Putusan

Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.

111 dinyatakan tidak cakap, sementara itu dapat dianggap cakap atau sebaliknya.

Indroharto122 menerangkan bahwa mengenai perubahan-perubadan keadaan tersebut perlu dibedakan antara:

1) Perubahan mengenai peraturan yang berlaku;

dengan

2) Perubahan mengenai posisi-posisi hukum serta situasi-situasi kepentingan tertentu; serta

3) Perubahan dari kebijaksanaan dari Tergugat.

Perubahan keadaan terhadap pelaksanaan putusan adalah ketika putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap objek yang disengketakan sudah tidak ada lagi atau objek sengketa tidak dapat dilaksanakan lagi. Perubahan keadaan dapat terjadi karena; kurangnya efektifnya lembaga penundaan, tidak diikutinya acara cepat pada tingkat banding dan kasasi. Adapun penyebab yang dapat penulis utarakan adalah sebagai berikut:123

a) Kurang Efektifnya Lembaga Penundaan Pada asasnya bahwa gugatan tidak menunda atau menghalangi dilaksanakannya keputusan badan atau pejabat tata usaha negara serta tindakan badan atau pejabat tata usaha negara

122 Indroharto, op. cit, hlm. 121.

123 Syafaat BP, Peran Ombudsman Republik Indonesia Dalam Hal Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Tidak Dapat Dilaksanakan, Artikel, ( Padang: Program Pascasarjana Universitas Andalas, 2011), hlm. 12- 14.

Hukum Administrasi Negara

112

yang digugat sesuai dengan asas keabsahan/asas praduga rechmatig/asas praesumptio iustae causa yang bermakna bahwa suatu keputusan tata usaha negara selalu dianggap benar sampai dengan dibuktikan sebaliknya. Dalam hal-hal tertentu, oleh ketentuan hukum acara ada pengecualian terhadap asas tersebut, yaitu terhadap keputusan tata usaha negara yang digugat dapat diajukan permohonan penundaan pelaksanaannya apabila terdapat keadaan yang sangat mendesak yang mengakibatkan kepentingan penggugat akan sangat dirugikan apabila keputusan yang digugat itu tetap dilaksanakan, asal saja surat keputusan yang digugat bukan merupakan kepentingan umum dalam rangka pembangunan mengharuskan dilaksanakannya keputusan tersebut sebagai mana telah diatur dalam hukum acara peradilan tata usaha negara Pasal 67 Undang-Undang Nomor. 5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor. 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Penundaan erat kaitannya dengan pelaksanaan putusan pengadilan, kewenangan penundaan diberikan kepada Ketua Pengadilan dalam hal belum ditunjuk Majelis Hakim yang memeriksanya (tahap dismissal proses), penundaan juga dapat dikeluarkan oleh Majelis Hakim yang memeriksa perkara (baik dalam proses pemeriksaan persiapan maupun dalam proses persidangan yang terbuka untuk umum)

Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.

113 dengan suatu penetapan. Penundaan dapat diajukan oleh penggugat bersama dengan gugatannya atau permohonan sendiri terpisah dari gugatan, meskipun tidak ada permohonan apabila Majelis Hakim memandang perlu maka dapat memberikan penetapan penundaan.

b) Tidak Diikutinya Acara Cepat Sampai Pada Tingkat Banding dan Kasasi

Banding sering jail disebut dengan istilah

“ulangan pemeriksaan” yang berasal dari bahasa latin apellare. Arti banding merupakan pemeriksaan dalam instansi (tingkat) kedua oleh sebuah pengadilan atasan yang mengulangi seluruh pemeriksaan baik yang mengenai fakta- faktanya, mapun penerapan hukum atau undang-undnag.124 Apabila terdapat kepentingan penggugat yang cukup mendesak yang harus dapat disimpulkan dari alasan-alasan permohonannya, penggugat dalam gugatannya dapat memohon kepada Pengadilan supaya pemeriksaan sengketa dipercepat. Apabila ada permohonan acara cepat dari penggugat Ketua Pengadilan dalam jangka waktu empat belas hari setelah diterimanya permohonan diwajibkan untuk mengeluarkan penetapan tentang diterima atau ditolak permohonan Penggugat tersebut.

Pemeriksaan dengan acara cepat dimaksudkan untuk menghindari pelaksanaan

124 Philipus M. Hadjo, et.al., Pengantar Hukum…, op.cit, hlm. 362.

Hukum Administrasi Negara

114

putusan yang tidak dapat dilaksanakan akibat dari sifat surat keputusan yang tidak dapat menunggu lama karena merupakan suatu proses yang telah terjadwal, contoh perkara tentang tender, perkara tentang penerimaan CPNS dan gugatan terhadap keputusan KPU/D. Namun demikian hukum acara peradilan Tata Usaha Negara tidak mengatur lebih lanjut mengenai pemeriksaan acara cepat ditingkat banding dan kasasi, sehingga acara cepat hanya berlaku di tingkat pertama, kemudian ditingkat banding diperiksa dengan acara biasa sampai pada tingkat kasasi juga dapat diputus dalam jangka waktu yang lama, untuk itu efektivitas acara cepat apabila tergugat melakukan upaya hukum tidak dapat memenuhi maksud dari aturan tersebut.

c) Tergugat Menggunakan Upaya Hukum.

Upaya Hukum merupakan hak dari para pihak yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan, upaya hukum terdiri dari 2 (dua) macam yaitu upaya hukum biasa dan upaya hukum luar biasa. Upaya hukum biasa antara lain banding (lihat Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor. 48 Tahun 2009) dan kasasi (lihat Pasal 23 Undang-Undang Nomor. 48 Tahun 2009), sedangkan upaya hukum luar biasa yaitu peninjauan kembali, terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali ke duakali (lihat Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor. 48 Tahun 2009).

Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.

115 2) Faktor-Faktor Penyebab Tidak Dilaksanakannya

Putusan Peradilan Tata Usaha Negara.

Berdasarkan analisis data pada penelitian pelaksanaan putusan Peradilan Tata Usaha Negara yang peneliti kutip dari hasil penelitian penulis terdahulu, antara lain yakni:125

a) Faktor Yuridis

Seperti Seperti telah dikemukakan, bahwa pelaksanaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara diatur dalam Pasal 116 sampai dengan Pasal 121 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, dalam pasal-pasal tersebut mekanisme pelaksanaan putusan hanya dilakukan secara

“hirarkhis“ dan tidak dikenal pelaksanaan putusan melalui “upaya paksa“.

Faktor penghambat yang paling utama adalah terletak pada ketidakpatuhan pihak tergugat untuk melaksanakan putusan.

Ketidakpatuhan ini dapat terjadi, oleh karena undang-undang tidak mengatur mekanisme pelaksanaan putusan melalui “upaya paksa“

(dwangsom atau streinte), sehingga pihak tergugat cenderung mengabaikan penetapan eksekusi yang dikeluarkan oleh ketua pengadilan maupun teguran dari atasan tergugat secara hirarkhis.

Permasalahan tersebut relatif telah diatasi, dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor

125 Ibid, hlm. 17-19.

Hukum Administrasi Negara

116

9 Tahun 2004 terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dimana dalam ketentuan yang mengatur tentang pelaksanaan putusan pengadilan yaitu Pasal 116 dicantumkan ketentuan mengenai “upaya paksa“, berupa pembayaran uang paksa dan atau “sanksi administratif“ serta “pengumuman pada media massa“ bagi setiap tergugat yang tidak melaksanan putusan.

Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tidak memberikan penjelasan tentang bagaimana mekanisme pembebanan “uang paksa dan atau sanksi administratif“ serta prosedur

“pengumuman media massa“ bagi tergugat yang tidak melaksanakan putusan peradilan tata usaha negara. Selain itu Pasal 116 Undang- Undang Nomor 51 Tahun 2009 juga tidak mendelegasikan lebih lanjut pengaturan masalah tersebut kepada lembaga negara yang lain, apakah diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP) atau Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) seperti yang diamanatkan oleh Pasal 116 ayat (7) undang- undang ini, akibatnya meskipun Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 telah secara resmi diterapkan, namun hingga sekarang ketentuan mengenai “uang paksa dan atau sanksi administratif“ serta

“pengumuman media massa“ bagi tergugat yang tidak mau melaksanakan putusan peradilan tata usaha negara, belum dapat dilaksanakan.

Basuki Kurniawan, M.H., dan H. Rohmad Agus Sholihin, M.H.

117 Adapun hal-hal yang menyebabkan kesulitan bagi pengadilan untuk menerapkan upaya paksa seperti yang diatur dalam undang- undang ini adalah antara lain:

Pertama, kepada siapa uang paksa (dwangsom) itu harus dibebankan.

Kedua, dalam penerapan sanksi administrasi masih menimbulkan permasalahan karena Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tidak menjelaskan mekanisme penerapan sanksi administrasi tersebut.

Ketiga, mengenai pengumuman pada media massa bagi badan atau pejabat tata usaha negara yang tidak melaksanakan putusan. Dalam hal ini biaya pengumuman tersebut harus dibebankan kepada siapa, kepada negara atau pemohon eksekusi (penggugat) karena penggugat merasa hal itu merupakan kewajiban dari pengadilan, sedangkan pengadilan tidak mempunyai alokasi dana untuk itu.

Keempat, tentang pengadilan dapat mengajukan kepada presiden sebagai kepala pemerintahan tertinggi dan kepada DPR sebagai fungsi pengawasan, aturan inipun tidak ditegaskan lebih lanjut sehingga akan menimbulkan permasalahan jika presiden dalam hal ini juga turut diam dan membiarkan sehingga tidak ada jalan keluar yang dapat ditempuh lebih lanjut.

Hukum Administrasi Negara

118

b) Faktor Non-Yuridis

Penyelesaian yang ditawarkan dalam masalah sistem peradilan guna mendukung peningkatan kesadaran hukum di kalangan hukum adalah berupa alternatif-alternatif baik yang menyangkut sisi substansi, koordinasi dan sumberdaya manusia aparatur hukum.

Kesadaran hukum yang dimaksud adalah kesadaran pelaku penegakan hokum

D. Pengaturan tentang Kepatuhan Hukum

Dalam dokumen HUKUM ADMINISTRASI NEGARA (Halaman 122-130)