103- 13. Pasal 16 dihapus
35. Ketentuan Pasal 100C diubah sehingga berbunyi sebagai berikut
BLIK INDONESTA
-144-
(3)
Nakhodayang
mengoperasikankapal
penangkapIkan berbendera asing yang telah
memenuhi Perizinan Berusaha,yang tidak
menyimpan alat Penangkapan Ikan di dalam palka selama berada diluar
daerah PenangkapanIkan yang diizinkan
diwilayah
PengelolaanPerikanan
Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38ayat (3) dipidana dengan pidana denda
paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratusjuta
rupiah).33.
Ketentuan Pasal98 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 98
Nakhoda Kapal Perikanan yang tidak
memilikipersetujuan berlayar
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal 42 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara palinglama I
(satu)tahun dan
pidana dendapaling
banyak Rp200.000.000,00 (dua ratusjuta
rupiah).34. Ketentuan Pasal 1008 diubah sehingga
berbunyiPRESIDEN
ELIK INDONESIA
- 145-
Pasal 100C
Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2)
huruf
a,huruf
b,huruf
c,huruf
d,huruf f, huruf g, huruf h, huruf i, huruf j, huruf k, huruf
1,atau huruf m dilakukan
oleh Nelayan Kecildan/atau Pembudi Daya-Ikan Kecil dipidana dengan
pidana dendapaling banyak
Rp100.000.000,00 (seratusjuta
rupiah).
36.
Ketentuan Pasal 101 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 101
Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal
84
ayat (1), Pasal84
ayat (3), Pasal84
ayat (41, Pasal 85, Pasal 86, Pasal 87, Pasal 88, Pasal 89, Pasal90,
Pasal91,
Pasal92,
Pasal93,
Pasal94,
atau Pasal94A dilakukan oleh Korporasi, tuntutan dan
sanksipidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya
dan terhadap Korporasi dipidana denda dengan tambahanpemberatan 1/3
(sepertiga)dari pidana
denda yang dijatuhkan.Paragraf 3 Pertanian
Pasal 28
Untuk
memberikan kemudahan bagi masyarakat terutama Pelaku Usaha dalam mendapatkan Perizinan Berusaha dari sektor pertanian, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini mengubah, menghapus, atau
menetapkan pengaturan baru beberapa ketentuan yangdiatur
dalam:a. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2OI4
tentangPerkebunan (Lembaran Negara Republik
IndonesiaTahun 2Ol4
Nomor 308, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5613);b. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000
tentangPerlindungan Varietas Tanaman (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2OOO Nomor 24L,Tarnbahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor aOa3l;c.Undang-Undang...
REPUBLIK INDONESIA
-L46-
c.
Undang-Undang Nomor 22 Tah:un 2OL9 tentang SistemBudi
Daya Pertanian Berkelanjutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2Ol9 Nomor 2Ol, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 64121;d. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2Ol3
tentangPerlindungan dan
PemberdayaanPetani
(Lembaran NegaraRepublik
IndonesiaTahun 2Ol3 Nomor
131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5a33);e. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2OlO
tentangHortikultura (Lembaran Negara Republik
IndonesiaTahun
2OlO Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5170); danf. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2OO9
tentang Peternakandan
Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun
2OO9 Nomor 84, TambahanLembaran
NegaraRepublik Indonesia Nomor
5015) sebagaimanatelah diubah dengan
Undang-UndangNomor 41 Tahun 2Ol4
(Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2Ol4 Nomor 338,
TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5619).
Pasal 29
Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor
39Tahun 2Ol4 tentang Perkebunan (Lembaran
NegaraRepublik
IndonesiaTahun 2Ol4 Nomor 308,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5613) diubah sebagai berikut:Ketentuan Pasal 14
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 14
(1) Pemerintah Pusat menetapkan batasan
luasmaksimum dan luas
minimum
penggunaan lahanuntuk
Usaha Perkebunan.(21
Penetapanbatasan luas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harrrs mempertimbangkan:a.
jenis tanaman;dan/atau
1
b.ketersediaan...
2
REPUEUK INDONESIA
-t47-
b. ketersediaan lahan yang sesuai
secara agroklimat.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai
penetapanbatasan luas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diatur
dalam Peraturan Pemerintah.Ketentuan Pasal 15
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 15
Perusahaan Perkebunan yang melakukan
kegiatankemitraan dilarang memindahkan hak atas
TanahUsaha Perkebunan yang mengakibatkan
terjadinyasatuan usaha yang kurang dari luas minimum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14.
3.
Ketentuan Pasal 16diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 16
(1) Perusahaan Perkebunan wajib
mengusahakanLahan
Perkebunanpaling lambat 2
(dua)tahun
setelah pemberian status hak atas Tanah.
(21 Jika
Lahan Perkebunantidak diusahakan
sesuaidengan ketentuan
sebagaimanadimaksud
padaayat (1), Lahan Perkebunan yang
belum diusahakan diambil alih oleh negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Ketentuan Pasal 17
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 17
(1) Pejabat yang berwenang dilarang
menerbitkan Perizinan Berusaha Perkebunan di atas Tanah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.4
(2)
Ketentuan...
5
REPUBLIK INDONESTA
-t48-
(21
Ketentuan larangan sebagaimanadimaksud
padaayat (1) dikecualikan dalam hal telah
dicapai persetujuanantara
MasyarakatHukum Adat
dan Pelaku Usaha Perkebunan mengenai penyerahanTanah dan imbalannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1).Ketentuan Pasal 18
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 18
(1) Perrrsahaan Perkebunan yang
melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15dikenai sanksi administratif.
(2)
Ketentuan mengenai kriteria, jenis, besaran denda,dan tata cara pengenaan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur
dalam Peraturan Pemerintah.Ketentuan Pasal
24
diubah sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 24
(1) Pemerintah Pusat menetapkan jenis
benihTanaman Perkebunan yang pengeluaran
daridan/atau
pemasukannya ke dalam wilayah NegaraKesatuan Republik Indonesia
memerlukan persetujuan.(21
Pengeluaranbenih dari dan/atau
pemasukannyake dalam wilayah Negara Kesatuan
RepublikIndonesia wajib mendapatkan persetujuan
dari Pemerintah Pusat.(3)
Pemasukan benih dari luar negeri harus memenuhi standarmutu
atau persyaratan teknis minimal.(41
Ketentuan lebihlanjut
mengenai standarmutu
danpersyaratan teknis minimal
sebagaimanadimaksud pada ayat (3) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.6
7.
Ketentuan.
. .7
PRESIDEN REPUBUK INDONESTA
-t49-
Ketentuan Pasal 30
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 30
(1)
Varietas hasil pemuliaan atauintroduksi dari luar
negeri sebelumdiedarkan terlebih dahulu
harus dilepasoleh
Pemerintah Pusatatau diluncurkan
oleh pemilik varietas.
(21 Varietas yang telah dilepas atau diluncurkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat diproduksi dan diedarkan.(3) Varietas
sebagaimanadimaksud pada ayat
(2)sebelum diedarkan harus memenuhi
Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.(4)
Ketentuan lebihlanjut
mengenai syarat-syarat dantata cara pelepasan atau peluncuran
varietas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)serta Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diatur
dalam Peraturan Pemerintah.Pasal 31 dihapus.
Ketentuan Pasal
35 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 35
(1) Dalam rangka pengendalian
organismepengganggu tumbuhan, setiap Pelaku
UsahaPerkebunan wajib memenuhi
persyaratanminimum sarana dan prasarana
pengendalian organisme pengganggu Tanaman Perkebunan.(21
Ketentuan mengenai persyaratanminimum
saranadan
prasarana sebagaimanadimaksud
pada ayat (1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.10.
Ketentuan Pasal 39diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:8 9
Pasal39...
REPUBUK INDONESIA
-150-
Pasal 39
Pelaku Usaha
Perkebunandapat melakukan
UsahaPerkebunan di seluruh wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal.11.
Ketentuan Pasal40 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 40
Pengalihan kepemilikan Perusahaan
Perkebunan kepada penanam modal asing dapatdilakukan
setelah memperoleh persetujuan Pemerintah Pusat.L2.
Ketentuan Pasal42
diubah sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 42
(1)
Kegiatanusaha budi
daya Tanaman Perkebunandan/atau usaha
PengolahanHasil
Perkebunansebagaimana
dimaksud dalam
Pasal41 ayat
(1)hanya dapat dilakukan oleh
PerusahaanPerkebunan apabila
telah
mendapatkanhak
atas Tanahdan
memenuhi Perizinan Berusahaterkait
Perkebunan dari Pemerintah Pusat.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai
PerizinanBerusaha terkait Perkebunan
sebagaimanadimaksud pada ayat (1) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.13.
Ketentuan Pasal43 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 43
Kegiatarr
usaha
PengolahanHasil
Perkebunan dapatdidirikan pada wilayah Perkebunan
swadayamasyarakat
yang belum
adausaha
Pengolahan Hasil Perkebunan setelah memperolehhak
atas Tanah dan Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.14. Pasal
45.
. .PRESIDEN
REPUBLIK INDONESTA
-151
-14.
Pasal 45 dihapus.15.
Ketentuan Pasal47
diubah sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 47
(1)
Perusahaan Perkebunanyang melakukan
usahabudi daya
Tanaman Perkebunan dengan luasanskala tertentu dan/atau usaha
Pengolahan HasilPerkebunan dengan kapasitas pabrik
tertentuwajib memenuhi Perizinan Berusaha
dari Pemerintah Pusat.(2)
Setiap Perusahaan Perkebunanyang
melakukanusaha budi daya Tanaman
Perkebunan dengan luasan skala tertentudan/atau
usaha PengolahanHasil Perkebunan dengan kapasitas pabrik tertentu yang tidak memiliki
Perizinan Berusaha sebagaimanadimaksud pada ayat (1)
dikenai sanksi administratif berupa:a.
penghentiansementarakegiatan;b.
pengenaan denda;dan/atau
c.
paksaan Pemerintah Pusat.(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai
PerizinanBerusaha
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)dan kriteria, jenis,
besaran denda,dan tata
carapengenaan sanksi administratif
sebagaimanadimaksud pada ayat (2) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.16.
Ketentuan Pasal48 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 48
(1)
Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal47
ayat (1) diberikan oleh:a. gubernur untuk wilayah
lintas kabupaten/kota; danb. bupati/wali
kotauntuk
wilayah dalam suatu kabupaten/kota,berdasarkan norma, standar, prosedur,
dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.(2)
Dalam...
REPUBLIK INDONESIA
-t52-
(21
Dalamhal lahan
Usaha Perkebunan berada padawilayah lintas provinsi, Perizinan
Berusahadiberikan oleh Pemerintah Pusat.
(3) Perusahaan Perkebunan yang telah
mendapat Perizinan Berusahawajib
menyampaikan laporan perkembangan usahanya secara berkala sekurang-kurangnya 1
(satu)tahun
sekali kepada pemberi Perizinan Berusaha sebagaimanadimaksud
pada ayat (1)atau
ayat(21.(41 Laporan perkembangan usaha secara
berkalasebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga
disampaikan kepada Pemerintah Pusat.
17.
Pasal 49 dihapus.18.
Pasal 50 dihapus.19.
Ketentuan Pasal 58diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 58
(1) Perusahaan Perkebunan yang
mendapatkan Perizinan Berusahauntuk
budi daya yang selurrrh atau sebagian lahannya berasal dari:a.
area penggunaanlain
yang beradadi luar
hak guna usaha;dan/atau
b. areal yang berasal dari
pelepasan kawasan hutan,wajib memfasilitasi pembangunan
kebun masyarakat sekitar, seluas 2O%o (duapuluh
persen) dari luas lahan tersebut.(21 Fasilitasi pembangunan kebun
masyarakatsebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapatdilakukan melalui
polakredit,
bagihasil,
bentukkemitraan lainnya, atau bentuk
pendanaanlain
yang disepakati sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.(3)
Kewajiban...
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA