84- 18. Pasal 40 dihapus
24. Ketentuan Pasal 69 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut
REPUEUK INDONESIA
-90-
i. melakukan pembinaan dan
pengawasanketaatan penanggung
jawab
usahadan/atau
kegiatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;j.
melaksanakan standar pelayanan minimal;k.
melaksanakan kebijakan mengenaitata
cara pengakuan keberadaanMasyarakat
HukumAdat, Kearifan Lokal, dan hak
MasyarakatHukum Adat yang terkait
denganPerlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup pada tingkat kabupaten/ kota;l. mengelola informasi Lingkungan
Hidup tingkat kabupaten Ikota;
m. mengembangkan dan
melaksanakan kebijakan sistem informasi Lingkungan Hidup tingkat kabupaten/ kota;n. memberikan pendidikan,
pelatihan, pembinaan, dan penghargaan;o. menerbitkan Perizinan Berusaha
atau persetujuan Pemerintah Daerah padatingkat
kabupaten/kota; danp. melakukan
penegakanhukum
Lingkungan Hidup pada tingkat kabupaten/kota.24.
Ketentuan Pasal69 diubah
sehinggaberbunyi
sebagaiPRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-91
-c.
memasukkan Limbah yang berasaldari luar
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ke media Lingkungan Hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia;d.
memasukkanLimbah 83 ke dalam
wilayahNegara Kesatuan Republik Indonesia;
e. membuang Limbah ke media
Lingkungan Hidup;f. membuang 83 dan Limbah 83 ke
mediaLingkungan Hidup;
g.
melepaskan produk rekayasa genetik ke media Lingkungan Hidup yang bertentangan denganperaturan perundang-undangan
atau Persetuj uan Lingkungan ;h. melakukan pembukaan lahan dengan
cara membakar;i.
menJrusunAmdal tanpa memiliki
sertifikat kompetensi penyusun Amdal;dan/atau
j. memberikan informasi palsu,
menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak informasi,atau memberikan keterangan yang tidak
benar.
(21 Ketentuan
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)huruf h dikecualikan bagi masyarakat
yangmelakukan kegiatan dimaksud
denganmemperhatikan sungguh-sungguh Kearifan Lokal di daerah masing-masing.
25.
Ketentuan Pasal71 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 71
(1) Pemerintah Pusat atau Pemerintah
Daerahmelakukan pengawasan terhadap
ketaatan penanggungjawab
usahadan/atau
kegiatan atasketentuan yang ditetapkan dalam
peraturanperundang-undangan
di
bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.(2) Pemerintah. . .
REPUBLIK INDONESIA _92_
(21
Pemerintah Pusatatau
Pemerintah Daerah dapatmendelegasikan kewenangannya
dalammelakukan
pengawasan kepada pejabat/instansiteknis yang bertanggung jawab di
bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.(3) Dalam melaksanakan
pengawasan, PemerintahPusat atau Pemerintah Daerah
menetapkanpejabat pengawas Lingkungan Hidup
yang merupakan pejabat fungsional.(4)
Ketentuan lebihlanjut
mengenai pejabat pengawasLingkungan Hidup diatur dalam
PeraturanPemerintah.
26.
Ketentuan Pasal72
diubah sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal72
Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah
sesuai dengan kewenangannya berdasarkannorma,
standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh PemerintahPusat wajib melakukan pengawasan
ketaatan penanggungjawab
usahadan/atau
kegiatan terhadap Perizinan Berusaha, atau persetujuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.27.
Ketentuan Pasal73 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Menteri ,:fil'7,l"umm., pensawasan
terhadap ketaatan penanggungjawab
usahadan/atau
kegiatan yang Perizinan Berusahaatau
persetujuan Pemerintah Daerahditerbitkan
oleh Pemerintah Daerah dalam hal Menteri menganggap terjadi pelanggaran yang serius dibidang Perlindungan dan
Pengelolaan LingkunganHidup berdasarkan norma, standar, prosedur,
dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.28.Ketentuan...
PRESIDEN
REPUELIK INDONESIA
-93-
28.
Ketentuan Pasal76 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 76
(1) Pemerintah Pusat atau Pemerintah
Daerahmenerapkan sanksi administratif
kepadapenanggung
jawab usaha dan/atau
kegiatanjika
dalam pengawasan ditemukan
pelanggaranterhadap Perizinan Berusaha atau
persetujuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.(21 Ketentuan lebih lanjut mengenai
tatapengenaan sanksi administratif diatur
Peraturan Pemerintah.cara dalam
29.
Ketentuan Pasal77
diubah sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal77
Menteri dapat menerapkan sanksi administratif
terhadap penanggungjawab
usahadan/atau
kegiatandalam hal Menteri
menganggapPemerintah
Daerah secara sengajatidak
menerapkan sanksiadministratif
terhadap pelanggaran yang serius di
bidangPerlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
30.
Pasal 79 dihapus.31.
Ketentuan Pasal82 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 82
(1) Pemerintah Pusat berwenang untuk
memaksapenanggung jawab usaha
dan/atau
kegiatanuntuk melakukan pemulihan Lingkungan Hidup
akibatPencemaran Lingkungan Hidup dan/atau
Perusakan Lingkungan Hidup yangdilakukan
oleh penanggung jawab usahadan/atau
kegiatan.(2) Pemerintah
REPUBLIK INDONESIA
-94-
(21
Pemerintah Pusat benyenang atau dapatmenunjuk
pihak ketiga untuk melakukan
pemulihan Lingkungan Hidup akibat Pencemaran LingkunganHidup dan/atau Perusakan Lingkungan
Hidupyang dilakukan oleh
penanggungjawab
usahadan/atau
kegiatanatas
beban biaya penanggung jawab usahadan/atau
kegiatan.32.
Di antara Pasal 82 dan Pasal83 disisipkan 3 (tiga) pasal,yakni
Pasal 82A, Pasal828, dan
Pasal 82C sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 82A
Setiap Orang yang melakukan usaha
dan/atau
kegiatan tanpa memiliki:a.
Perizinan Berusahaatau
persetujuan PemerintahPusat atau Pemerintah Daerah
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal24
ayat (5), Pasal34
ayat (3), atau Pasal 59 ayat (4); ataub. persetujuan dari Pemerintah Pusat
atauPemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
20
ayat (3) hurrrf b,dikenai sanksi administratif.
Pasal 82B
(1) Setiap Orang yang melakukan usaha dan/atau
kegiatan yang memiliki:a. Perizinan Berusaha atau
persetujuanPemerintah Pusat atau Pemerintah
Daerah sebagaimanadimaksud
dalam Pasal24
ayat (5), Pasal 34 ayat (3), atau Pasal 59 ayat (4);b. persetujuan dari Pemerintah Pusat
atauPemerintah Daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal20
ayat (3)huruf
b; atauc. persetujuan dari Pemerintah
Pusatsebagaimana
dimaksud
dalam Pasal61
ayat(1),
yang
PRESIDEN REPUBLIK INDONESTA
-95-
yang tidak sesuai dengan kewajiban
dalam Perizinan Berusahaatau
persetujuan PemerintahPusat atau Pemerintah Daerah dan/atau melanggar ketentuan peraturan
perundang- undangan di bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dikenai sanksi administratif.(21 Setiap Orang yang melanggar
larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69, yaitu:a. melakukan perbuatan yang
mengakibatkanPencemaran Lingkungan Hidup dan/atau Perusakan Lingkungan Hidup
sebagaimana dimaksud dalam Pasal69
ayat (1)huruf
a, dimana perbuatan tersebut dilakukan
karenakelalaian dan tidak mengakibatkan
bahayakesehatan manusia, luka, luka
berat,dan/atau matinya orang, dikenai
sanksiadministratif dan mewajibkan
kepadapenanggung jawab perbuatan itu untuk melakukan pemulihan fungsi
LingkunganHidup dan/atau tindakan lain
yangdiperlukan; atau
b.
men5rusunAmdal tanpa memiliki
sertifikatkompetensi
pen5rusunAmdal
sebagaimanadimaksud dalam
Pasal69 ayat (1) huruf i
dikenai sanksi administratif.
(3)
Setiap Orang yang karena kelalaiannya melakukanperbuatan yang mengakibatkan
dilampauinyabaku mutu udara
ambien,baku mutu air,
bakumutu air laut, atau Kriteria Baku
KerusakanLingkungan Hidup yang tidak sesuai
denganPerizinan Berusaha yang dimilikinya
dikenai sanksi administratif.Pasal 82C
(1)
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82A dan Pasal 82B berupa:a.
teguran tertulis;b.
paksaan pemerintah;c.
denda administratif;d.
pembekuan Perizinan Berusaha; danlatau
e.
pencabutan Perizinan Berusaha(2)
Ketentuan...
REPUBLIK INDONESIA
-96-
(21 Ketentuan lebih lanjut
mengenaikriteria,
jenis, besaran denda,dan tata cara
pengenaan sanksiadministratif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.33.
Ketentuan Pasal88 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 88
Setiap Orang
yang tindakannya,
usahanya,dan/atau
kegiatannya menggunakan83,
menghasilkandan/atau
mengelolaLimbah 83, dan/atau yang
menimbulkanAncaman Serius terhadap Lingkungan
Hidup bertanggungjawab mutlak atas
kerugian yang terjadi dari usahadanlatau
kegiatannya.34.
Pasal 93 dihapus.35.
Pasal 102 dihapus.36.
Ketentuan Pasal 109 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 109
Setiap Orang yang melakukan usaha
dan/atau
kegiatan tanpa memiliki:a.
Perizinan Berusahaatau
persetujuan PemerintahPusat, atau Pemerintah Daerah
sebagaimanadimaksud
dalam Pasal24
ayat (5), Pasal34
ayat (3), atau Pasal 59 ayat (4);b. persetujuan dari Pemerintah Pusat
atauPemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
20
ayat (3)huruf
b; atauc. persetujuan dari Pemerintah
Pusatsebagaimana dimaksud dalam Pasal
61 ayat(1),
yang
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA