SALINAN
PRESIDEN NEPUBUK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2023
TENTANG
PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2022 TENTANG CIPTA KERJA
MENJADI UNDANG-UNDANG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang a
bahwa untuk mewujudkan tujuan
pembentukanPemerintah Negara lndonesia dan
mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmurberdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik IndonesiaTahun
1945, Negara perlu melakukan berbagai upayauntuk
memenuhi hak warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusraan melalui cipta kerja;bahwa dengan cipta kerja diharapkan mampu menyerap tenaga
kerja
Indonesia yang seluas-luasnyadi
tengahpersaingan yang semakin kompetitif dan tuntutan
globalisasi ekonomi serta adanya tantangandan
krisis ekonomi global yang dapat menyebabkan terganggunya perekonomian nasional;bahwa untuk rnendukung cipta kerja
diperlt kan penyesuaian berbagai aspek pengaturan yang berkaitan dengan kemudahan, peiindungan,dan
pemberdayaankoperasi dan usaha mikro, kecil, dan
menengah,peningkatan ekosisten: investasi, dan percepatan proyek strategis nasional, termasuk peningkatan pelindungan dan kesejahteraan pekeqia;
bahwa pengaturan yang berkaitan dengan kemudahan, pelindungan,
dan
pemberdayaan koperasidan
usahamikro,
ir.ecil,dan
menengah,peningkatan
ekosisteminvestasi,
de.n percepatanproyek strategis
nasional ternrasuk peningkatan pelindungandan
kesejahteraan pekeija yang tersebar di berbagai Undang-Undarrg sektorsaat ini belum dapat
memenuhikebutuhan
hrrkumuntuk
percepatan cipta kerja sehingga perlu dilakukan perubahan;e. bahwa . . . b
c
d
REPUELIK INDONESIA
-2-
e. bahwa upaya perubahan pengaturan yang
berkaitan kemudahan, pelindungan,dan
pemberdayaan koperasidan usaha mikro, kecil, dan
menengah, peningkatanekosistem investasi, dan
percepatanproyek
strategisnasional, termasuk peningkatan pelindungan
dankesejahteraan pekerja dilakukan melalui
perubahanUndang-Undang sektor yang belum
mendukungterwujudnya sinkronisasi dalam menjamin
percepatan cipta kerja, sehingga diperlukan terobosan dan kepastianhukum untuk dapat menyelesaikan
berbagai permasalahan dalam beberapa Undang-Undang ke dalamsatu Undang-Undang secara komprehensif
dengan menggunakan metode omnibus;f. bahwa untuk melaksanakan Putusan
MahkamahKonstitusi
Nomor91/PUU-XVIIl2020, perlu dilakukan perbaikan melalui penggantian terhadap
Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2O2O tentang Cipta Kerja;g. bahwa dinamika global yang disebabkan
terjadinyakenaikan harga energi dan harga
pangan, perubahaniklim
(climate changel, dan terganggunyarantai
pasokan (supply chainl telah menyebabkan terjadinya penurunanpertumbuhan
ekonomidunia dan terjadinya
kenaikaninflasi yang akan
berdampak secarasignifikan
kepada perekonomiannasional yang harus direspons
dengan standar bauran kebijakanuntuk
peningkatan daya saingdan daya tarik nasional bagi investasi
melaluitransformasi ekonomi yang dimuat dalam
Undang- Undang tentang Cipta Kerja;h. bahwa berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud dalamhuruf
a,huruf
b,huruf
c,huruf
d,huruf e, huruf f, dan huruf g, untuk
mengatasi kegentingan yang memaksa, Presiden sesuai dengan kewenangannya berdasarkan Pasal22 ayat (1)
Undang-Undang DasarNegara Republik Indonesia Tahun 1945
telah menetapkanPeraturan
Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2Tahun
2022 tentang Cipta Kerja pada tanggal 30 Desember 2022;i. bahwa berdasarkan pertimbangan
sebagaimana dimaksud dalamhuruf
a,huruf
b,huruf
c,huruf
d,huruf e, huruf f, huruf g, dan huruf h, perlu
membentukUndang-Undang tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor2
Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang;Mengingat: . . .
Mengingat
Menetapkan
PRESIDEN
REPUELIK INDONESIA
-3-
Pasal
5 ayat
(1), Pasal20, dan
Pasal22
ayat (2) Undang- Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun
1945;Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
UNDANG-UNDANG
TENTANG
PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANGNOMOR
2TAHUN 2022 TENTANG CIPTA KERJA
MENJADIUNDANG-UNDANG.
Pasal 1
Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-UndangNomor
2Tahun
2022 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841) ditetapkan menjadi Undang-Undangdan
melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.Pasal 2
Undang-Undang
ini
mulai berlaku pada tanggal diundangkanAgar
REPUBLIK TNDONESTA
-4,-
Agar
setizrppengundangan penempatannya Indonesia.
orang mengetahuinya,
memerintahkar,Undang-Undang ini
dengandalam Lembaran Negare..
RepublikDisahkan di Jakarta
pada tanggal 31 Maret 2023
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
JOKO WIDODO
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 31 Maret 2023 MENTERI SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PRATIKNO
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONES]A TAHUN 2023 NOMOR
4I
Salinan sesuai dengan aslinya KEMENTER]AN SEKRETARIAT NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
De uti Bidang Perundang-undangan strasi Hukum,
sit na Djaman
PRESIDEN
REPUEUK INDONESIA
PENJELASAN ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2023
TENTANG
PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2022 TENTANG CIPTA KERJA
MENJADI UNDANG-UNDANG
I.
UMUMPembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 mengamanatkan bahwa tujuan pembentukan Negara
Republik Indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang sejahtera,adil,
makmur,yang merata, baik materiel maupun spiritual. Sejalan dengan tujuan tersebut, Pasal 27 ayat (21 Undang-Undang Dasar Negara
Republik IndonesiaTahun
1945 menentukan bahwa "Tiap-tiap warga negara berhakatas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan",
oleh karenaitu
negaraperlu
melakukan berbagai upayaatau tindakan untuk memenuhi hak-hak warga negara untuk memperoleh pekerjaan
dan penghidupan yang layak. Pemenuhan hak atas pekerjaan dan penghidupanyang layak
padaprinsipnya
merupakansalah satu
aspekpenting
dalam pembangunan nasionalyang dilaksanakan dalam rangka
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.Pemerintah Pusat telah melakukan berbagai upaya untuk
menciptakan
dan
memperluas lapangankerja dalam rangka
penurunanjumlah
pengangguran,dan
menampungpekerja baru serta
mendorong pengembangan Koperasidan
UsahaMikro,
Kecil,dan
Menengah dengantujuan untuk meningkatkan perekonomian nasional yang
dapatmeningkatkan
kesejahteraanmasyarakat. Meski tingkat
pengangguran terbuka terusturun,
Indonesia masih membutuhkan penciptaan kerja yang berkualitas karena:a. jumlah
angkatan kerja pada Februari Tahun 2022 sebanyak 144,01juta
orang, naik
4,20juta
orang dibanding Februari Tahun 2O2l;b.
penduduk yang bekerja sebanyak 135,61juta
orang,di
mana sebanyak 81,33juta
orang (59,97%o) bekerja pada kegiatan informal;c. pandemi
CoronaVirus
Disease 2OL9 (COVID-19) memberikan dampakkepada 11,53 juta orang (5,53%) penduduk usia kerja, yaitu
pengangguran sebanyak 0,96 juta orang, Bukan Angkatan
Kerja sebanyak 0,55juta
orang,tidak
bekerja sebanyak 0,58juta
orang, danpenduduk
bekedayang
mengalami penguranganjam kerja
sebanyak 9,44 juta orang;d.dibutuhkan...
REPUEUK INDONESIA
-2-
d. dibutuhkan kenaikan upah yang pertumbuhannya sejalan
dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas pekerja.Pemerintah
Ilusat
telah berupayauntuk
perluasan program jaminan dan bantuan sosial yang merupakan komitmen dalam rangka meningkatkandaya saing dan
penguatankualitas sumber daya manusia, serta untuk
mempercepat penanggulangankemiskinan dan
ketimpangan pendapatan.Dengan
demikian melalui dukungan jaminan dan bantuan sosial,
totalmanfaat tidak hanya diterima oleh pekerja, namun juga dirasakan
oleh keluarga pekerja.Terhadap hal tersebut, Pemerintah Pusat perlu mengambil kebijakan strategis
untuk
menciptakandan
memperluaskerja melalui
peningkatan investasi, mendorong pengembangandan
peningkatankualitas
Koperasidan Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah.Untuk dapat
meningkatkan penciptaandan
perluasankerja, diperlukan pertumbuhan
ekonomi stabildan
konsistennaik
setiaptahunnya.
Namun upaya tersebut dihadapkan dengankondisi
saatini,
terutama yang menyangkut terjadinya pelemahan pertumbuhan ekonomi yang bersamaan dengan kenaikanlaju
harga (yangdikenal dengan
fenomenastagflasi). Pada laporan the
World EconomicOutlook (WEO) Oktober
Tahun 2022, lnternational
MonetaryFund
(IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya menjadi 3,2o/o pada Tahun2022 dari
sebelumnyadi angka
3,6ohdi
WEOpada April Tahun
2022.Kondisi perekonomian dunia diproyeksikan akan memburuk di Tahun2O23,
turun
pada level 2,7o/o,jauh di
bawah angka 4,9o/o yang dilaporkan WEO pada OktoberTahun 2021.
Revisipertumbuhan paling tajam
dilaporkanuntuk
perekonomianutama Eropa,
perekonomianAmerika Serikat,
dan perekonomianRepublik
Rakyat Tiongkok. PertumbuhanAmerika
Serikat diproyeksikan akanturun
pada level 1,Oo/odi
Tahun 2023,dari
ekspektasil,60/o
di Tahun
202'2 dan 5,7ohdi Tahun
2021. Ekonomi Zona Eropa yangtumbuh
sebesar 5,2o/o di Tahun 2O2l diprediksi akanturun
pada level 3,17oTahun 2022 dan
0,5%odi Tahun 2023.
PerekonomianRepublik
Rakyat Tiongkokdiperkirakan tumbuh sekitar
3,2o/odi Tahun 2022
dan 4,4o/o di Tahun2023,jauh
di bawah 8,Io/o yang dilaporkantahun
lalu.Yang terjadi di dunia saat
ini,
permasalahan supplg chains atau mata rantai pasokan yang dalam berdampak pada keterbatasan suplai, terrrtamapada
barang-barangpokok, seperti makanan dan energi.
Keterbatasan pasokan yangjauh
lebih parah dari padaturunnya
permintaan berdampak pada kenaikan inflasi yangtidak
pernah tedadi selama 40 tahunterakhir
di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat dan Inggris. Ekonomi pasar yang disurvei Bloomberg pada pertengahan Tahun 2022 mengantisipasi laju inflasi dunia di atas 60/0 di Tahun2o22,jauh
lebih tinggi dari pada angka di sekitar 2o/o berdasarkan survei Bloomberg diakhir
Tahun 2021.Perekonomian . . .
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-3-
Perekonomian Indonesia akan terdampak
akibat
stagflasi global yang sudah terlihat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semula diproyeksikanIMF akan
padakisaran
60/o padaTahun 2022
sebagaimana disampaikanWEO pada bulan Oktober Tahun 2O2l telah dipangkas turun
cukupsignifikan.
Survei Bloombergdan laporan IMF
sebagaimana disampaikan WEO pada bulan C)ktober Tahun 2022 Bank Dunia dan Asian Development Bank melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya pada kisaran 5,lo/o - 5,3o/ountuk
Tahun 2022, danturrrn
pada level 4,8o/odi
Tahun 2023. Pada saat bersamaan tekananinflasi
sudahmulai terlihat, di
manalaju
inflasi pada akhir Kuartal III Tahun 2022 sudah mencapai hampir 6%o year-on-Aear, dibandingkan dengan leveldi
kisaran 3ohdi
Kuartal I Tahun 2022. Tingkatketidakpastian (uncertaintiesl yang tinggi pada perekonomian
dunia, terutama didorong olehkondisi
geopolitik, mendorongrisiko
pada prospekpertumbuhan
ekonomi Indonesia yanglebih
lemahdan inflasi
yang lebihtinggi.
Responsstandar bauran kebijakan, khususnya antara
kebdakan moneterdan fiskal,
yangterus diperkuat
semenjak awal pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) akan semakindibutuhkan.
Di era stagflasi,koordinasi kebijakan
menjadijauh lebih
kompleks,di mana
Pemerintah harus menavigasi antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan menahan inflasi.Di tengah kondisi global yang
bergejolakdan
keterbatasan ruanggerak dari kebijakan makro,
penguatanfundamental ekonomi
domestikuntuk menjaga daya saing ekonomi domestik harus menjadi
prioritas utama. Stabilitas kekuatan permintaan domestik, terutama konsumsi privatdan investasi di tengah
meningkatnyatekanan harga dan
terpuruknya pertumbuhan global, sangat bergantung pada kemampuan Indonesiauntuk
meningkatkan daya saing dan dayatarik
pasar domestik bagi investor. Disini
pelaksanaanreformasi struktural yang
komprehensifyang
dimuat dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Cipta Kerja menjadi sangat penting dan urgen.Untuk itu diperlukan
kebijakan dan langkah-langkah strategis CiptaKerja yang memerlukan keterlibatan semua pihak yang terkait,
danterhadap hal tersebut perlu
men5rusundan menetapkan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Cipta Kerja dengantujuan untuk
menciptakan kerja yang seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia secaramerata di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia dalam
rangkamemenuhi hak atas penghidupan yang layak. Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undangtentang Cipta Kerja mencakup yang terkait
dengan:
a.
peningkatan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha;b.
peningkatan pelindungan dan kesejahteraan pekerja;c. kemudahan,
pemberdayaan,dan pelindungan Koperasi dan
UsahaMikro, Kecil, dan Menengah; dan
d. peningkatan investasi pemerintah dan percepatan proyek
strategis nasional.Penciptaan
REPUBLIK INDONESIA
-4-
Penciptaan lapangan kerja yang dilakukan melalui pengaturan
terkait dengan peningkatan
ekosisteminvestasi dan kegiatan berusaha
paling sedikit memuat pengaturan mengenai penyederhanaan Perizinan Berusaha, persyaratan investasi, kemudahan berusaha,riset
dan inovasi, pengadaan lahan, dan kawasan ekonomi.Untuk
mendukung pelaksanaan kebijakan strategis penciptaan kerja beserta pengaturannya, telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2O2Otentang Cipta Kerja yang telah menggunakan metode
omnibus (omnibuslau).
Namun Undang-Undang tersebut telahdilakukan
pengujianformil ke Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi melalui
PutusanNomor 91/PUU-X\Illll2O2O telah menetapkan putusan dengan
amar, antara lain:1. pembentukan
Undang-UndangNomor
1l Tahun
2O2Otentang
CiptaKerja bertentangan dengan
Undang-UndangDasar
Negara Repr:blik IndonesiaTahun
1945 dan tidak mempunyai kekuatanhukum
mengikat secara bersr,-arat sepanjangtidak
dimakrraitidak dilakukan
perbaikan dalamwaktu
2 (dua)tahun
sejak putusan diucapkan;2.
Undang-Undang Nomor I 1 Tahun 2O2O tentang Cipta Kerja masih tetapberlaku
sampai dengandilakukan perbaikan
sesuai dengan tenggang waktu yang ditetapkan; dan3.
melakukan perbaikan dalamjangka waktu
2 (dua)tahun
sejak putusan diucapkan.Sebagai
tindak lanjut
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU- XVIII I 2020 tersebut, telah dilakukan:a.
menetapkan Uridang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 tentang PerubaharrKedua atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2OLl
tentang PembentukanPeraturan
Perundang-undangan,yang telah
mengaturdan
memuat metode omnibus dalanr pen5rusunan undang-undang dantelah memperjelas partisipasi masyarakat yang bermakna
dalampembentukan peraturarl perundang-undangan. Dengan
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 tersebut maka
peng€iunaan rnetode omnibus telah memenuhi cara dan metode yang pasti, baku, dan standar dalam penyusunan peraturan perlrndang-trndangan.b.
meningkatkan partisipasi yang bermakna (meaningful participation) yang mencakup 3 (tiga) komponenyaitu
hakuntuk
didengarkan pendapatnya (right to be h.eardl, hakuntuk
dipertimbangkan pendapatnya (rigltt to be considered), dan hakuntuk
mendapatkan penjelasa,n atau jawaban atas pendapat yangdiberikan
(rightto
be explainedl.Untuk itu
Pemerintah Pusattelah
membentuk Satuan T\rgas Percepatan Sosialisasi Undang- UndangNomor 1l Tahun
2O2Otentang Cipta Kerja
(Satgas Undang- Undang Cipta Kerja) yangmemiliki
tungsiuntuk
melaksanakan proses sosialisasidari
Undang-UndangNomor
11Tahun
2O2Otentang
CiptaKerja. Satgas Undang-Llndang Cipta Kerja
bersamaKementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dan pemangku kepentingan
telah melaksanakan proses sosialisasi di berbagai w-ilayah
yangdiharapkan dapat meningliatkan pemahaman serta
kesadaran masyarakat terhadap Undang-Undang Nomor 11Tahun
2O2A tentang Cipta. Kerja.c.
perbaikan.
. .PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-5-
c.
perbaikan kesalahanteknis
penulisan atas Undang-Undang Nomor 11Tahun
2O2O tentangCipta
Kerja,antara lain
adalahhuruf yang tidak
lengkap,rujukan
pasal atau ayat yang tidak tepat, salah ketik,dan/atau judul
atau nomorurut
bab, bagian, paragraf, pasal, ayat, ataubutir
yangtidak
sesuai, yang bersifattidak
substansial.Selain sebagai
tindak lanjut putusan
MahkamahKonstitusi
Nomor9I/PUU-XUII/2O2O tersebut, Peraturan Pemerintah
Pengganti Urrdang- Undang tentang Cipta Kerjajuga
melakukan perbaikan rumusan ketentuanumum
Undang-Undangsektor yang diundangkan sebelum
beriakunya Undang-UndangNomor
12Tahun 2OIl tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimanatelah
beberapakali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 13Tahun
2022 tentang Perubahan Keduaatas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2oll tentang
PembentukanPeraturan
Perundang-undangan. Denganperbaikan rumusan
ketentuanumum
(batasan pengertian atau definisi, singkatan atau akronim, dan hal- hal yang bersifat umum) tersebut malia ketentuan yang ada dalam Undang- Undang sektoryang tidak diubah dalam
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undangtentang
CliptaKerja harrs dibaca dan dimaknai
samadengan yang diubah dengan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang- Undang tentarrg Cipta Kerja.Sebagai tindak lanjut berikutnya, perlu men5rusun
PeraturanPemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Cipta Kerja untuk melakukan perbaikan darr
penggantianatas
Undang-UndangNomor
11Tahun
2O2Otentang Cipta Kerja. Ruang lingkup Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Cipta Kerjaini
meliputi:a.
peningkatan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha;b.
ketenagakerjaan;c. kemudahan,
pelindunga.n,serta
pemberdayaanKoperasi dan
UsahaMikro,
Kecil, dan Menengah;d.
kemudahan berusaha;e.
dukungan riset dan inovasi;f.
pengadaan tanah;g.
kawasan ekonomi;h.
investasi Pemerintah Pusat dan percepatan proyek strategis nasional;i.
pelaksanaan administrasi pemerintahan; danj.
pengenaan sanksi.Sesuai Putusan Mahkamah I(onstitusi Nomor
138/PI-IU-V1[/2OO9,kondisi tersebut di atas telah
mernenuhi parameter sebagai kegentinganyang
memaksa dalamrangka
penetapan Feraturan Pemerrntah PenggantiUndang-Undang antara lain :
a. karena adanya kebutuhan
mendesak-untuk
menyelesaikan masalahhukum
secara cepat berdasarkan Undarrg-Undang;b. Undang-Undang yang dibutuhkan beiurm ada sehingga
terjadi kekosonganhukum
atautidak
memaCainya- llndang-r.)nciang lrang saatini
ada; danc.
kondisi.
. .REPUBLIK INDONESTA
-6-
c. kondisi kekosongan hukum yang tidak dapat diatasi dengan
caramembuat
Undang-Undang secaraprosedur biasa yang
memerlukanwaktu
yangcukup lama
sedangkan keadaan yang mendesak t-ersebut perlu kepastianuntuk
diselesaikan.Presiden sesuai kewenangannya berdasarkan ketentuan dalam Pasal
22
ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun
1945, pada tanggal30
Desember2022 telah
menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-UndangNomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta
Kerja.Selanjutnya, Peraturan
Pernerintah Pengganti Undang-UndangNomor
2Tahun 2022 tersebut perlu ditetapkan menjadi Undang-Undang.
II.
PASAL DEMT PASALPasa1 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RE]PUBLIK INDONESIA NOMOR 6856
PRESIDEN
REPUEUK INDONESIA
LAMPIRAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2023
TENTANG
PENETAPAN PERATURAN
PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2022 TENTANG CIPTA KERJA MENJADI UNDANG- UNDANGPERATURAN PEMERINTAH
PENGGANTT UNDANG-UNDANG REPIJBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2022
TENTANG CIPTA KERJA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Menimbang a.
b
c
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
bahwa untuk mewuiudkan tuiuan
pembentukan Pemerintah Nesara Indon-esia dan me#uiudka'n masvarakat Indonesiayang
sejahtera,adil, dan mdkmur
berddsarkanPancasila dan Undans-Undane Dasar Nesara
Reoutrlik IndonesiaTahun
1945: Negara"perlumelakirkan
beibagai upavauntuk
memenutri tra-k wa-rea neeara atas oekeria?n dan- penghidupanyang layak ba?i
ke"manusiaah melaluiBfrn5"fl#san cipta keria diharankan
marnDu menveraDtenaga k"ri" Indonesia
ypng . seluas-lu^asrXradi
t6ngahpersalngan yang semalon lrompetrtrt dan tuntutan klobalis6si
eliono--miserta
adanva ^tantansan dan krisis dkonomi global
y?ng-dapat
mehyebabkari terganggunya perekonomran nasronal;bahwa untuk menciukung cipta kerja
diperlukan penyesuaian berbagai aspek"pengaturan !ang- lierkaitan denqan kemudahan. pelindunsan. dan
oemberdavaankop6rasi dan usaha'
mikro," k6ci1, dah
menerigah,peningkatan
ekosisteminvestasi, dan
percepatan proyek strategis nasional, termasuk peningkatair pelihdungAn tlankeseJ arrteraan pekerl a;
bahwa pengaturan yang berkaitan dengan
kemudahan,pelincluneati, dan iemberdavaan kope?asi dan
usahdmikro, .[ecii, dan
-merrengah, ppningkatan
ekosisteminvestasi, dan
percepatan-proy-ek strategis
nasional,termasuk peninc-katan pelintluriean dan
keseiahteraan pekerjayarig
ter5'ebar di'berbagai"Undang-Undahg sektor^saat
ini
belulm dapat memenuhi kebutuha"nhukurii untuk percepatan cipta kerja sehingga perlu dilakukan
peruDanan;
e.bahwa...
d
Mengingat
REPUBLIK TNDONESIA
-2-
e. bahwa upaya perubahan pengaturan yang
berkaitan kemudahan, pelindungan, dan pemberdayaan koperasi dan usahamikro, kecil, dan
menengah, peningkatan ekosisteminvestasi, dan percepatan proyek strategis
nasional,termasuk peningkatan pelindungan dan
kesejahteraanpekerja dilakukan melalui perubahan
Undang-Undangsektor yang belum mendukung terwujudnya
sinkronisasi dalam menjamin percepatan cipta kerja, sehingga diperlukan terobosan dan kepastian hukumuntuk
dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dalam beberapa Undang-Undang kedalam satu
Undang-Undang secara komprehensif dengan menggunakan metode omnibus;f.
bahwauntuk
melaksanakan Putusan Mahkamah KonstitusiNomor 91/PUU-)<\I\ll
2O2O,perlu dilakukan
perbaikanmelalui
penggantianterhadap
Undang-UndangNomor
11Tahun 2O2O tentang Cipta Kerja;
g.
bahwa dinamika global yang disebabkan terjadinya kenaikan harga energidan harga
pangan, perubahaniklim
(climatechange),
dan
terganggunyarantai pasokan (supplg
chainltelah
menyebabkanterjadinya penurunan
pertumbuhan ekonomidunia dan terjadinya kenaikan inflasi yang
akan berdampak secara signifikan kepada perekonomian nasionalyang harus direspons dengan standar bauran
kebijakanuntuk
peningkatan daya saing dan dayatarik
nasional bagi investasi melalui transformasi ekonomi yangdimuat
dalam Undang-Undang tentang Cipta Kerja;h. bahwa kondisi
sebagaimanadimaksud dalam huruf
a,huruf
b,huruf
c,huruf
d,huruf
e,huruf
f, danhuruf
g telah memenuhi parameter sebagai kegentingan memaksa yangmemberikan kewenangan kepada Presiden untuk menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang- Undang sebagaimana diatur dalam Pasal 22 ayat (1) Undang- Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun
1945;i.
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalamhuruf
a,huruf b, huruf c, huruf d, huruf
e,huruf
f,huruf g, dan huruf h serta guna memberikan
landasanhukum yang kuat bagi
Pemerintahdan
lembagaterkait untuk
mengambil kebijakandan
langkah-langkah tersebutdalam waktu yang sangat segera, perlu
menetapkanPeraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Cipta Kerja;Pasal 22 ayat (1)
Undang-UndangDasar
Negara Republik IndonesiaTahun
1945;MEMUTUSKAN: . . .
Menetapkan
PRESIDEN REPUELIK TNDONESIA
-3-
MEMUTUSKAN:
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG CIPTA KERJA.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
ini
yang dimaksud dengan:1. Cipta Kerja adalah upaya penciptaan kerja
melaluiusaha kemudahan, pelindungan, dan
pemberdayaankoperasi dan usaha mikro, kecil, dan
menengah,peningkatan ekosistem investasi dan
kemudahanberusaha, dan investasi Pemerintah Pusat
dan percepatan proyek strategis nasional.2.
Koperasi adalah koperasi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Perkoperasian.3.
UsahaMikro, Kecil, dan
Menengahyang
selanjutnya disingkat UMK-M adalah usaha mikro, usaha kecil, danusaha menengah sebagaimana dimaksud
dalamUndang-Undang tentang Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah.4. Perizinan Berusaha adalah legalitas yang
diberikan kepada Pelaku Usahauntuk
memulai dan menjalankan usaha dan/ atau kegiatannya.5.
Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesiayang memegang kekuasaan pemerintahan
negara Republik Indonesia yangdibantu
olehWakil
Presidendan menteri
sebagaimanadimaksud dalam
Undang- Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun
1945.6.
Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusanpemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan
dewanperwakilan
ralgrat
daerahmenurut
asas otonomi dantugas pembantuan dengan prinsip otonomi
seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip
Negara KesatuanRepublik Indonesia
sebagaimanadimaksud
dalamUndang-Undang Dasar Negara Republik
IndonesiaTahun
1945.7.
Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagaiunsur
penyelenggara Pemerintahan Daerahyang
memimpinpelaksanaan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerahotonom'
g. pelaku . . .
REPUBLIK INDONESIA
-4-
8.
Pelaku Usaha adalah orang perseoranganatau
badan usaha yang melakukan usahadan/atau
kegiatan pada bidang tertentu.9. Badan
Usahaadalah badan usaha berbentuk
badanhukum atau tidak berbentuk badan hukum
yangdidirikan di wilayah Negara Kesatuan
RepublikIndonesia dan melakukan usaha dan/atau
kegiatan pada bidang tertentu.10.
Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTRadalah rencana
secaraterperinci tentang
tata ruang wilayah kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/ kota.11.
Persetujuan Bangunan Gedungadalah
perizinan yangdiberikan kepada pemilik bangunan gedung untuk
membangun baru, mengubah,
memperluas,mengurangi, dan/atau merawat bangunan
gedung sesuai dengan standar teknis bangunan gedung.12. Hari
adalahhari kerja
sesuai dengan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.BAB II
ASAS, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP Pasal 2
(1) Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undangini
diselenggarakan berdasarkan asas:
a.
pemerataan hak;b.
kepastian hukum;c.
kemudahan berusaha;d.
kebersamaan; dane.
kemandirian.(21
Selain berdasarkan asas sebagaimana dimaksud padaayat (1),
penyelenggaraanCipta Kerja
dilaksanakan berdasarkan asaslain
sesuai denganbidang hukum
yangdiatur
dalam undang-undang yang bersangkutan.Pasal3...
PRESIDEN REPUBLTK INDONESTA
-5-
Pasal 3
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini
dibentuk dengantujuan untuk:
a.
menciptakan dan meningkatkan lapangan kerja denganmemberikan kemudahan, pelindungan,
dan pemberdayaanterhadap
Koperasidan UMK-M
sertaindustri dan
perdagangannasional sebagai
upayauntuk dapat
menyerap tenagakerja
Indonesia yangseluas-luasnya dengan tetap
memperhatikankeseimbangan dan kemajuan antardaerah
dalam kesatuan ekonomi nasional;b.
menjamin setiap warga negara memperoleh pekerjaan, serta mendapat imbalandan
perlakuan yangadil
dan layak dalam hubungan kerja;c. melakukan
penyesuaianberbagai aspek
pengaturan yang berkaitan dengan keberpihakan, penguatan, dan pelindungan bagi Koperasidan
UMK-M sertaindustri
nasional; dand. melakukan
penyesuaianberbagai aspek
pengaturanyang berkaitan dengan peningkatan
ekosistem investasi, kemudahan dan percepatan proyek strategis nasional yang berorientasi pada kepentingan nasionalyang berlandaskan pada ilmu pengetahuan
danteknologi nasional dengan
berpedomanpada
haluan ideologi Pancasila.Pasal 4
Dalam rangka mencapai tujuan
sebagaimana dimaksuddalam Pasal 3, mang lingkup Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undangini mengatur
kebijakan strategis Cipta Kerja yang meliputi:a. peningkatan ekosistem investasi dan
kegiatanberusaha;
b.
ketenagakerjaan;c. kemudahan, pelindungan, serta
pemberdayaan Koperasi dan UMK-M;d.
kemudahan berr.rsaha;e.
dukungan riset dan inovasi;f.
pengadaan tanah;g.
kawasan ekonomi;h. investasi...
REPUBLIK INDONESIA
-6-
h. investasi Pemerintah Pusat dan
percepatanstrategis nasional;
i. pelaksanaanadministrasipemerintahan;dan
j.
pengenaan sanksi.proyek
Pasal 5
Ruang lingkup
sebagaimanadimaksud dalam Pasal
4meliputi
bidanghukum
yangdiatur
dalam undang-undang terkait.BAB III
PENTNGKATAN EKOSISTEM INVESTASI DAN KEGIATAN BERUSAHA Bagian Kesatu
Umum Pasal 6
Peningkatan ekosistem investasi dan kegiatan
berusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4huruf
a meliputi:a.
penerapan Perizinan Berusaha berbasis risiko;b.
penyederhanaan persyaratan dasar Perizinan Berusaha;c.
penyederhanaan Perizinan Berusaha sektor; dand.
penyederhanaan persyaratan investasi.Bagian Kedua
Penerapan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Paragraf 1
Umum Pasal 7
(1) Perizinan Berusaha berbasis risiko
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6huruf
a dilakukan berdasarkan penetapantingkat risiko dan peringkat skala
usaha kegiatan usaha.(2) Penetapan
REPUBLTK INDONESTA
-7
-(21
Penetapantingkat risiko dan peringkat skala
usahasebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diperolehberdasarkan penilaian tingkat bahaya dan
potensiterjadinya bahaya.
(3)
Penilaiantingkat
bahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (21dilakukan terhadap aspek:a.
kesehatan;b.
keselamatan;c.
lingkungan;dan/atau
d.
pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya.(4) Untuk kegiatan tertentu, penilaian tingkat
bahaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat mencakup aspek lainnya sesuai dengan sifat kegiatan usaha.(5)
Penilaiantingkat
bahaya sebagaimana dimaksud padaayat (3) dan ayat (41 dilakukan
denganmemperhitungkan:
a.
jenis kegiatan usaha;b. kriteria
kegiatan usaha;c.
lokasi kegiatan usaha;d.
keterbatasan sumber daya;dan/atau
e.
risiko volatilitas.(6) Penilaian potensi terjadinya bahaya
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:a.
hampir tidak mungkin terjadi;b.
kemungkinan kecil terjadi;c.
kemungkinan terjadi; ataud.
hampir pasti terjadi.{71 Berdasarkan penilaian tingkat bahaya
sebagaimanadimaksud pada ayat (3),
ayat (41,dan ayat (5),
sertapenilaian potensi terjadinya bahaya
sebagaimanadimaksud pada ayat
(6),tingkat risiko dan
peringkat skala usaha kegiatan usaha ditetapkan menjadi:a.
kegiatan usaha berisiko rendah;b.
kegiatan usaha berisiko menengah; atauc.
kegiatan usaha berisiko tinggi.Paragraf2...
REPUBLIK INDONESIA
-8-
Paragraf 2
Perizinan Berusaha Kegiatan Usaha Berisiko Rendah
Paragraf 3
Perizinan Berusaha Kegiatan Usaha Berisiko Menengah Pasal 8
(1) Perizinan Berusaha untuk kegiatan usaha
berisiko rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal7
ayat (71huruf
a berupa pemberian nomorinduk
berusaha yang merupakan legalitas pelaksanaan kegiatan berusaha.(21
Nomorinduk
berusaha sebagaimanadimaksud
pada ayat (1) merupakanbukti
registrasi/pendaftaran Pelaku Usahauntuk melakukan
kegiatanusaha dan
sebagaiidentitas bagi Pelaku Usaha dalam
pelaksanaan kegiatan usahanya.Pasal 9
(1) Perizinan Berusaha untuk kegiatan usaha
berisiko menengah sebagaimana dimaksud dalam Pasal7
ayat (7)huruf
b meliputi:a.
kegiatan usaha berisiko menengah rendah; danb.
kegiatan usaha berisiko menengah tinggi.(21 Perizinan Berusaha untuk kegiatan usaha
berisiko menengah rendah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
a berupa pemberian:a.
nomorinduk
berusaha; danb.
sertifikat standar.(3) Perizinan Berusaha untuk kegiatan usaha
berisiko menengahtinggi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
b berupa pemberian:a.
nomorinduk
berusaha; danb.
sertifikat standar.(4)
Sertifikat.
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-9-
(41
Sertifikat standar sebagaimana dimaksud pada ayat (21huruf b
merupakan pernyataan Pelaku Usahauntuk memenuhi standar usaha dalam rangka
melakukan kegiatan usaha.(5)
Sertifikat standar sebagaimana dimaksud pada ayat (3)hurrrf b merupakan sertifikat standar usaha
yangditerbitkan
Pemerintah Pusatatau
Pemerintah Daerahsesuai dengan kewenangannya berdasarkan
hasilverifikasi pemenuhan standar
pelaksanaan kegiatan usaha oleh Pelaku Usaha.(6) Dalam hal kegiatan usaha berisiko
menengahmemerlukan standardisasi produk
sebagaimana dimaksudpada
ayat (21huruf b dan ayat
(3)huruf
b,Pemerintah Pusat menerbitkan sertifikat
standar produk berdasarkan hasil verifikasi pemenuhan standaryang wajib dipenuhi olbh Pelaku Usaha
sebelum melakukan kegiatan komersialisasi produk.Paragraf 4
Perizinan Berusaha Kegiatan Usaha Berisiko Tinggi Pasal 10
(1) Perizinan Berusaha untuk kegiatan usaha
berisikotinggi
sebagaimanadimaksud dalam
Pasal7 ayat
(71huruf
c berupa pemberian:a.
nomorinduk
berusaha; danb.
izin.(21 lzin
sebagaimanadimaksud pada ayat (1) huruf
bmerupakan persetujuan Pemerintah Pusat
atau Pemerintah Daerahuntuk
pelaksanaan kegiatan usahayang wajib dipenuhi oleh Pelaku Usaha
sebelum melaksanakan kegiatan usahanya.(3)
Dalamhal
kegiatan usaha berisikotinggi
memerlukanpemenuhan standar usaha dan standar
produk,Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah menerbitkan
sertifikat
standar usahadan sertifikat
standar produk berdasarkan hasil verifikasi pemenuhan standar.Paragrafs.
. .REPUBUK INDONESTA
-10-
Paragraf 5 Pengawasan
Pasal 1 1
Pengawasan
terhadap setiap kegiatan usaha dilakukan dengan pengaturan frekuensi pelaksanaan
berdasarkantingkat risiko
sebagaimana dimaksud dalam Pasal7
ayat (71 dan mempertimbangkan tingkat kepatuhan Pelaku Usaha.Paragraf 6
Peraturan Pelaksanaan Pasal 12
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan
Berusaha berbasisrisiko
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal8, Pasal 9, dan Pasal 10, serta tata cara
pengawasan sebagaimanadimaksud dalam Pasal
11, diatur
dalam Peraturan Pemerintah.Bagian Ketiga
Penyederhanaan Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha Paragraf 1
Umum Pasal 13
Penyederhanaan
persyaratan dasar Perizinan
Berusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6huruf
b meliputi:a.
kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang;b.
persetujuan lingkungan; danc. Persetujuan Bangunan Gedung dan sertifikat laik
fungsi.Paragraf2...
REPUBLIK INDONESI'T
- 11-
Paragraf 2
Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Pasal 14
(1)
Kesesuaian kegiatan pemanfaatanruang
sebagaimanadimaksud dalam Pasal 13 huruf a
merupakan kesesuaian rencana lokasi kegiatandan/atau
usahanya dengan RDTR.(21
Pemerintah Daerahwajib
men5rusun dan menyediakan RDTR dalam bentuk digital dan sesuai standar.(3)
Penyediaan RDTRdalam bentuk digital
sebagaimanadimaksud pada ayat (21 dilakukan sesuai
denganstandar dan dapat diakses dengan mudah
oleh masyarakatuntuk
mendapatkaninformasi
mengenai kesesuaian rencana lokasi kegiatandan/atau
usahanya dengan RDTR.(4)
Pemerintah Pusat wajib mengintegrasikan RDTR dalambentuk digital
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ke dalam sistem Perizinan Berusaha secara elektronik.(5) Dalam hal Pelaku Usaha mendapatkan
informasirencana lokasi kegiatan usahanya
sebagaimanadimaksud pada ayat (3) telah sesuai
dengan RDTR,Pelaku Usaha mengajukan permohonan
kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruanguntuk
kegiatan usahanyamelalui sistem
PerizinanBerusaha
secara elektronik sebagaimanadimaksud
padaayat
(4) dengan mengisikoordinat lokasi yang diinginkan untuk
memperoleh konfirmasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang.(6)
Setelah memperolehkonfirmasi
kesesuaian kegiatan pemanfaatanruang
sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Pelaku Usaha mengajukan permohonan Perizinan Berusaha.Pasal15...
REPUBLIK INDONESIA
-12-
Pasal 15
(1) Dalam hal
Pemerintah Daerahbelum
men5rusun danmenyediakan RDTR
sebagaimanadimaksud
dalamPasal 14 ayat (2), Pelaku Usaha
mengajukanpermohonan persetujuan kesesuaian
kegiatan pemanfaatanruang untuk
kegiatan usahanya kepada PemerintahPusat melalui sistem
Perizinan Berusaha secaraelektronik
sesuai denganketentuan
peraturan perrrndang-undangan.(21
Pemerintah Pusat memberikan persetujuan kesesuaiankegiatan
pemanfaatanruang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan rencana tata ruang.(3)
Rencanatata ruang
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)terdiri
atas:a.
rencana tata rr.rang wilayah nasional;b.
rencana tata ruangpulau/kepulauan;
c.
rencana tata ruang kawasan strategis nasional;d.
rencana tata ruang wilayah provinsi;dan/atau
e.
rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota.Pasal 16
Dalam rangka penyederhanaan persyaratan dasar Perizinan
Berusaha serta untuk memberikan kepastian
dankemudahan bagi Pelaku Usaha dalam
memperolehkesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang,
PeraturanPemerintah Pengganti Undang-Undang ini
mengubah,menghapus, dan/atau menetapkan pengaturan
baru beberapa ketentuan yangdiatur
dalam:a. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2OO7
tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun
2OO7 Nomor68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor a7251;b. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2OO7
tentang PengelolaanWilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil (Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun
2OO7Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara
RepublikIndonesia Nomor
47391 sebagaimanatelah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2OL4 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tah:un 2OOZtentang
Pengelolaan Wilayah Pesisirdan
Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2Ol4Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5a9O);c.Undang-Undang...
FRESIDEN REPUBLIK INDONESTA
- 13-
c. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2OL4
tentang Kelautan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2Ol4 Nomor 294,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5603); dand. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 20ll
tentanglnformasi Geospasial (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2OlL Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5214).Pasal 17
Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor
26Tahun
2OO7tentang
PenataanRuang
(Lembaran NegaraRepublik Indonesia Tahun
2OO7Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 47251 diubah sebagai berikut:Ketentuan Pasal
1 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 1
Dalam Undang-Undang
ini
yang dimaksud dengan:1.
Ruang adalah wadahyang meliputi ruang
darat,ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang
di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempatmanusia dan makhluk hidup lain,
melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.2.
Tata Ruang adalah wujudStruktur
Ruang dan Pola Ruang.3. Struktur Ruang adalah susunan
pusat-pusatpermukiman dan
sistemjaringan
prasarana dansarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial
ekonomi
masyarakatyang
secarahierarki
memiliki hubungan fungsional.4.
Pola Ruangadalah distribusi peruntukan
Ruangdalam suatu Wilayah yang meliputi
peruntukanRuang untuk fungsi lindung dan
peruntukanRuang
untuk
fungsi budi daya.1
5. Penataan. . .
REPUBUK INDONESTA
-14-
5.
Penataan Ruang adalah suatu sistem PerencanaanTata Ruang, Pemanfaatan Ruang,
dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang.6.
Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah kegiatanyang meliputi pengaturan,
pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan Penataan Ruang.7. Pemerintah Pusat adalah Presiden
RepublikIndonesia yang memegang
kekuasaanpemerintahan negara Republik Indonesia
yangdibantu oleh Wakil Presiden dan
menterisebagaimana
dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun
1945.8.
Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagaiunsur
penyelenggara Pemerintahan Daerah yangmemimpin pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.9. Pengaturan Penataan Ruang adalah
upaya pembentukanlandasan hukum bagi
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam Penataan Ruang.10.
Pembinaan Penataan Ruang adalah upayauntuk meningkatkan kinerja Penataan Ruang
yangdiselenggarakan oleh Pemerintah
Pusat,Pemerintah Daerah, dan masyarakat.
11. Pelaksanaan Penataan Ruang adalah
upayapencapaian tujuan Penataan Ruang
melaluipelaksanaan Perencanaan Tata
Ruang,Pemanfaatan Ruang, dan
Pengendalian Pemanfaatan Ruang.12.
Pengawasan Penataan Ruangadalah upaya
agarPenyelenggaraan Penataan Ruang
dapatdiwujudkan sesuai
denganketentuan
peraturan perundang-undangan.13.
PerencanaanTata Ruang adalah suatu
prosesuntuk menentukan Struktur Ruang dan
Pola Ruang yangmeliputi
penyusunandan
penetapan Rencana Tata Ruang.14. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan Struktur Ruang dan Pola
Ruangsesuai dengan Rencana Tata Ruang
melalui pen5rusunandan pelaksanaan program
beserta pembiayaannya.15.Pengendalian...
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-15-
15.
Pengendalian PemanfaatanRuang adalah
upayauntuk
mewujudkan tertib Tata Ruang.16.
RencanaTata Ruang adalah hasil
Perencanaan Tata Ruang.L7.
Wilayah adalah Ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenapunsur
terkait yang batasdan sistemnya ditentukan berdasarkan
aspek administratifdan/atau
aspek fungsional.18.
Sistem Wilayahadalah Struktur
Ruangdan
PolaRuang yang mempunyai jangkauan
pelayanan pada tingkat Wilayah.19.
SistemInternal
Perkotaan adalahStruktur
Ruangdan Pola Ruang yang mempunyai
jangkauan pelayanan pada tingkat internal perkotaan.20. Kawasan adalah Wilayah yang memiliki
fungsi utama lindung atau budi daya.21.
Kawasan Lindung adalah Wilayah yang ditetapkandengan fungsi utama melindungi
kelestarianlingkungan hidup yang mencakup sumber
daya alam dan sumber daya buatan.22. Kawasan Budi Daya adalah Wilayah
yangditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan
potensisumber daya alam, sumber daya manusia,
dan sumber daya buatan.23. Kawasan Perdesaan adalah Wilayah
yangmempunyai kegiatan
utama pertanian,
termasuk pengelolaansumber daya alam
dengan susunanfungsi Kawasan sebagai tempat
permukimanperdesaan, pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.24.
Kawasan Agropolitan adalah Kawasan yangterdiri
atas satuatau
lebihpusat
kegiatan pada Wilayah perdesaan sebagai sistemproduksi
pertanian danpengelolaan sumber daya alam tertentu
yangditunjukkan oleh adanya keterkaitan
fungsionaldan hierarki keruangan satuan
sistempermukiman dan sistem agrobisnis.
25.Kawasan...
REPUBLIK INDONESTA
- 16-
25. Kawasan Perkotaan adalah Wilayah
yangmempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengansusunan fungsi
Kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dandistribusi
pelayananjasa pemerintahan, pelayanan
sosial, dan kegiatan ekonomi.26.
Kawasan Metropolitan adalah Kawasan Perkotaan yangterdiri
atas sebuah Kawasan Perkotaan yang berdiri sendiri atau Kawasan Perkotaaninti
denganKawasan Perkotaan di sekitarnya yang
saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistemjaringan
prasaranaWilayah
yangterintegrasi dengan jumlah penduduk
secara keseluruhan sekurang-kurangnya 1.000.000 (satujuta)jiwa.
27. Kawasan Megapolitan adalah Kawasan
yangterbentuk dari 2 (dua) atau lebih
KawasanMetropolitan
yang memiliki hubungan
fungsional dan membentuk sebuah sistem.28.
Kawasan Strategis Nasional adalah Wilayah yangPenataan Ruangnya diprioritaskan
karenamempunyai pengaruh sangat penting
secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanandan
keamanan negara,ekonomi,
sosial, budaya,dan/atau lingkungan, termasuk Wilayah
yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia.29.
Kawasan Strategis Provinsi adalah Wilayah yangPenataan Ruangnya diprioritaskan
karenamempunyai pengaruh sangat penting
dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya,dan/atau
lingkungan.30. Kawasan Strategis KabupatenlKota
adalah Wilayahyang
Penataan Ruangnya diprioritaskankarena mempunyai pengaruh sangat
pentingdalam lingkup
kabupaten/kota
terhadap ekonomi, sosial, budaya,dan/atau
lingkungan.31.
Ruang.
. .2
PRESIDEN REPUBUK INDONESTA
-t7-
31. Ruang Terbuka Hijau adalah
areamemanjang/jalur dan/atau
mengelompok yang penggunaannyalebih bersifat terbuka,
tempattumbuh tanaman, baik yang tumbuh
secaraalamiah maupun yang
sengajaditanam,
dengan mempertimbangkan aspek fungsi ekologis, resapan air, ekonomi, sosial, budaya, dan estetika.32.
Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang adalah kesesuaian antara rencana kegiatan Pemanfaatan Ruang dengan Rencana Tata Ruang.33. Orang adalah orang perseorangan dan/atau
korporasi.34. Menteri adalah menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Penataan Ruang.Ketentuan Pasal
6 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 6
(1) Penataan Ruang diselenggarakan
dengan memperhatikan:a. kondisi fisik Wilayah Negara
KesatuanRepublik Indonesia yang rentan
terhadap bencana;b. potensi sumber daya alam, sumber
dayamanusia, dan sumber
dayabuatan,
kondisiekonomi, sosial, budaya, politik,
hukum, pertahanan keamanan, dan lingkungan hidup sertailmu
pengetahuan dan teknologi sebagai satu kesatuan; danc.
geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.(2) Penataan Ruang Wilayah nasional,
PenataanRuang Wilayah provinsi, dan Penataan
RuangWilayah kabupaten/kota dilakukan
secara berjenjang dan komplementer.(3) Penataan. . .
3
REPUEUK INDONESIA _ 18_
(3) Penataan Ruang Wilayah secara
berjenjang sebagaimanadimaksud pada ayat
(21 dilakukan dengan cara Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dijadikan acuan dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah provinsi dankabupaten/kota,
dan RencanaTata Ruang Wilayah provinsi
menjadiacuan bagi
pen5rusunanRencana Tata
Ruang kabupaten/kota.(41 Penataan Ruang Wilayah secara
komplementer sebagaimanadimaksud pada
ayat (2) merupakanPenataan Ruang Wilayah nasional,
PenataanRuang Wilayah provinsi, dan Penataan
RuangWilayah kabupaten/kota yang disusun
saling melengkapi satu sama lain dan bersinergi sehinggatidak terjadi
tumpangtindih
pengaturan Rencana Tata Ruang.(5)
Penataan Ruang Wilayah nasionalmeliputi
RuangWilayah yurisdiksi dan Wilayah
kedaulatan nasional yang mencakup Ruang darat, Ruang laut, dan Ruang udara, termasuk Ruangdi
dalam bumi sebagai satu kesatuan.(6) Penataan Ruang Wilayah provinsi
dan kabupaten/kota meliputi Ruang darat, Ruang laut, dan Ruang udara, termasuk Ruangdi
dalam bumi sebagai satu kesatuan.(71
Pengelolaan sumber daya Ruanglaut dan
Ruang udaradiatur
dengan Undang-Undang tersendiri.(8) Dalam hal terjadi ketidaksesuaian antara
Pola Ruang Rencana Tata Ruangdan
Kawasan hutan,izin dan/atau hak atas tanah,
penyelesaian ketidaksesuaian tersebutdiatur dalam
Peraturan Pemerintah.Ketentuan Pasal
8 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 8
(1) Wewenang Pemerintah Pusat
dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang meliputi:a. pengaturan.
. .PRESIDEN
BLIK INDONESIA
-19-
a. pengaturan, pembinaan, dan
pengawasanterhadap Pelaksanaan Penataan
RuangWilayah nasional, provinsi,
dan kabupatenfkota,
serta terhadap Pelaksanaan Penataan Ruang Kawasan Strategis Nasional;b.
pemberianbantuan teknis bagi
penyusunanRencana Tata Ruang Wilayah
provinsi,Rencana Tata Ruang
Wilayahkabupaten/kota, dan rencana detail
Tata Ruang;c. pembinaan teknis dalam
kegiatan pen5rusunan RencanaTata Ruang
Wilayahprovinsi, Rencana Tata Ruang
Wilayahkabupaten/kota, dan rencana detail
Tata Ruang;d. Pelaksanaan Penataan Ruang
Wilayah nasional;e. Pelaksanaan Penataan Ruang
KawasanStrategis Nasional; dan
f. kerja
sama Penataan Ruang antarnegara danmemfasilitasi kerja sama Penataan
Ruang antarprovinsi.(21
Wewenang Pemerintah Pusatdalam
Pelaksanaan Penataan Ruang nasional meliputi:a.
Perencanaan Tata Ruang Wilayah nasional;b.
Pemanfaatan Ruang Wilayah nasional; danc.
Pengendalian PemanfaatanRuang
Wilayah nasional.(3)
Wewenang Pemerintah Pusatdalam
PelaksanaanPenataan Ruang Kawasan Strategis
Nasional meliputi:a.
penetapan Kawasan Strategis Nasional;b.
PerencanaanTata
Ruang Kawasan Strategis Nasional;c. Pemanfaatan Ruang Kawasan
Strategis Nasional; dand.
Pengendalian PemanfaatanRuang
Kawasan Strategis Nasional.(4)
Dalamrangka
Penyelenggaraan Penataan Ruang,Pemerintah Pusat berwenang men5rusun
dan menetapkan pedoman bidang Penataan Ruang.4
REPUBLIK INDONESTA
-20-
(5) Dalam pelaksanaan wewenang
sebagaimanadimaksud pada ayat (1), ayat
(21,ayat (3),
dan ayat (4), Pemerintah Pusat:a.
menyebarluaskaninformasi yang
berkaitan dengan:1.
rencanaumum dan
rencanarinci
TataRuang dalam rangka
Pelaksanaan Penataan Ruang Wilayah nasional; dan2.
pedoman bidang Penataan Ruang;b. menetapkan standar pelayanan
bidang Penataan Ruang.(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai
kewenanganPenyelenggaraan Penataan
Ruang diatur
dalam Peraturan Pemerintah.Ketentuan Pasal
9 diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 9
(1)
PenyelenggaraanPenataan Ruang
dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat.(21 Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas
dan tanggung jawab Penyelenggaraan Penataan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.Ketentuan Pasal 10
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 10
Wewenang Pemerintah Daerah
provinsi
dilaksanakan sesuai dengannorna,
standar, prosedur,dan kriteria
yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat
dalamPenyelenggaraan Penataan Ruang meliputi:
a. pengaturan, pembinaan, dan
pengawasanterhadap
Pelaksanaan PenataanRuang
Wilayah provinsi, dan kabupaten/ kota;5
b. Pelaksanaan
6
FRESIDEN REPUBLIK TNDONESIA
-21
-b.
Pelaksanaan PenataanRuang Wilayah
provinsi;dan
c. kerja sama
PenataanRuang antarprovinsi
danmemfasilitasi kerja sama Penataan
Ruangantarkabupaten/kota.
Ketentuan Pasal 11
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 1 1
Wewenang Pemerintah Daerah kabupaten/kota
dilaksanakan sesuai dengan norma, standar, prosedur,dan kriteria yang ditetapkan oleh
Pemerintah Pusat dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang meliputi:a. pengaturan, pembinaan, dan
pengawasanterhadap
Pelaksanaan PenataanRuang
Wilayah kabupaten/kota;b. Pelaksanaan Penataan Ruang
Wilayah kabupaten/kota; danc.
kerja sama Penataan Ruang antarkabupaten/kota.Ketentuan Pasal 14
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 14
(1) Perencanaan Tata Ruang dilakukan untuk
menghasilkan:a.
rencana umum Tata Ruang; danb.
rencanarinci
Tata Ruang.(2) Rencana umum Tata Ruang
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)huruf a
secara hierarkiterdiri
atas:a.
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;b.
Rencana Tata Ruang Wilayah provinsi; danc.
Rencana Tata Ruang Wilayah kabupaten dan Rencana Tata Ruang Wilayah kota.(3)
Rencanarinci
Tata Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
bterdiri
atas:a.
Rencana. . . 78
REPUBLIK TNDONESIA
-22-
a.
RencanaTata Ruang pulau/kepulauan
danRencana Tata Ruang Kawasan
Strategis Nasional; danb. rencana detail Tata Ruang kabupaten
dan rencana detail Tata Ruang kota.(4)
Rencanarinci
Tata Ruang sebagaimana dimaksud padaayat
(1)huruf b disusun
sebagai perangkat operasional rencana umum Tata Ruang.(5)
Rencanarinci
Tata Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun apabila:a. rencana umum Tata Ruang belum
dapatdijadikan dasar dalam
PelaksanaanPemanfaatan Ruang dan
Pengendalian Pemanfaatan Ruang;dan/atau
b.
rencanaumum Tata
Ruangyang
mencakupWilayah
perencanaanyang luas dan
skalapeta dalam rencana umum Tata
Ruangtersebut memerlukan perincian
sebelum dioperasionalkan.(6)
Ketentuan lebihlanjut
mengenaitingkat
ketelitian peta rencana umum Tata Ruang dan rencanarinci
Tata Ruang sebagaimana dimaksud padaayat
(1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.Di antara Pasal 14 dan Pasal 15 disisipkan 1
(satu)pasal, yakni Pasal l4A
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 14A
(1)
Pelaksanaan penJrusunan RencanaTata
Ruangsebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dilakukan dengan memperhatikan:
a.
dayadukung dan
daya tampung lingkunganhidup
dankajian
lingkunganhidup
strategis;dan
b.
kedetailaninformasi Tata
Ruangyang
akandisajikan serta kesesuaian ketelitian
petaRencana Tata Ruang.
(21
Pen5rusunankajian lingkungan hidup
strategis sebagaimanadimaksud pada ayat (1) huruf
adilakukan dalam penJrusunan Rencana
Tata Ruang.(3)
Pemenuhan...
9
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-23-
(3)
Pemenuhan kesesuaianketelitian peta
Rencana Tata Ruang sebagaimanadimaksud
padaayat
(1)huruf b dilakukan melalui
pen5rusunan peta Rencana Tata Ruang di atas peta dasar.(4)
Dalam hal peta dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) belum tersedia, penJrusunan Rencana Tata Ruang dilakukan dengan menggunakan peta dasar lainnya.Ketentuan Pasal 17
diubah
sehinggaberbunyi
sebagai berikut:Pasal 17
(1)
Muatan Rencana Tata Ruang mencakup:a.
rencanaStruktur
Ruang; danb.
rencana Pola Ruang.(21
RencanaStrrrktur
Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)huruf
a meliputi rencana sistem pusatpermukiman dan rencana sistem
jaringanprasarana.
(3)
Rencana Pola Ruang sebagaimana dimaksud padaayat (1) huruf b meliputi peruntukan
Kawasan Lindung dan Kawasan Budi Daya.(41
Peruntukan Kawasan Lindungdan
Kawasan Budi Daya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputiperuntukan Ruang untuk kegiatan
pelestarianlingkungan,
sosial, budaya, ekonomi, pertahanan dan keamanan.(5)
Dalam rangka pelestarian lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (41, pada Rencana Tata RuangWilayah ditetapkan luas Kawasan hutan
danpenutupan hutan untuk setiap pulau,
daerahaliran sungai, provinsi,
kabupatenfkota,
berdasarkankondisi
biogeofisik,iklim,
penduduk, dan keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat.(6) Pen5rusunan Rencana Tata Ruang
harusmemperhatikan keterkaitan
antarwilayah, antarfungsi Kawasan, dan antarkegiatan Kawasan.(7)