• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterampilan Bahasa Arab

Dalam dokumen Insya Allah Akan Lebih Menjadi Solusi”‟ (Halaman 35-42)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Keterampilan Bahasa Arab

Tujuan utama pembelajaran bahasa asing (Arab) adalah pengembangan kemampuan pelajar dalam menggunakan bahasa itu baik lisan maupun tulis. Kemampuan menggunakan bahasa dalam dunia pengajaran bahasa disebut keterampilan ( َةَغّلا ُة َراَ َم) . keterampilan itu ada empat, yaitu keterampilan menyimak )ءامِتسلإا ة َراَ َم ), bebicara ( ِمَ َكا ةَراَ َم), membaca ( ِةَءا َرِقلا ة َراَ َم), dan menulis ( ِةَباَتِكلا ة َراَ َم). Keterampilan menyimak dan membaca dikategokedalam keterampilan reseptif ( ُةّيِ َبْقِتْسِلإا ةَراَ َملا), sedangkan keterampilan berbicara dan menulis dikategorikan kedalam keterampilan produktif ( ُةَّيِ َجِتْنِلإا ةَراَ َملا).

Keterampilan itu erat hubungannya satu sama lain, sebab dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya ditempuh melalui hubungan urutan yang teratur. Mula-mula pada masa kecil seorang anak belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, setelah itu ia belajar membaca dan menulis. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan atau catur tunggal (al-arba‟ al-muttahid).

5. Keterampilan Menyimak

22

Keterampilan menyimak )ءامِتسلإا ة َراَ َم) adalah kemampuan seseorang dalam mecerna atau memahami kata atau kalimat yang ujarkan oleh mitra bicara atau media tertentu. Kemampuan ini sebenarnya dapat dicapai dengan latihan yang terus menerus untuk mendengarkan perbedaan- perbedaan bunyi unsur-unsur kata (fenom) dengan unsur-unsur lainnya menurut makraj huruf yang betul baik langsung dari penutur aslinya maupun melalui rekaman.

Menyimak adalah suatu keterampilan yang hingga sekarang agak diabaikan dan belum mendapatkan tempat yang sewajarnya dalam pengajaran bahasa. Sebagai salah satu keteramilan reseptif, keterampilan menyimak menjadi unsure yang harus lebih dahulu dikuasi oleh pelajar.

6. Keterampilan Berbicara

Keterampilan berbicara ( ِمَ َكا ةَراَ َم) adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran berupa ide, pendapat,keinginan, atau perasaan kepada mitra bicara. Dalam makna yang lebih luas, berbicara merupakan suatu system tanda-tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia untuk menyampaikan pikiran dalam rangka memenuhi kebutuhannya.

Secara umum keterampilan berbicara bertujuan agar para pelajar mampu berkomunikasi lisan secara baik dan wajar dengan bahasa yang

meraka pelajari. Secara baik dan wajar mengandung arti menyampaikan pesan kepada orang lain dalam cara yang secara social dapat diterima.

7. Keterampilan Membaca

Keterampilan membaca ( ِةَءا َرِقلا ة َراَ َم) adalah kemampuan mengenali dan memahmi isi sesuatu yang tertulis (lambang-lambang tertulis) dengan melafalkan atau mencernakan di dalam hati. Membaca hakekatnya adalah proses komunikasi antara pemabaca dengan penulis melalui tes yang ditulisnya, maka secara langsung di dalamnya ada hubungan kognitif antara bahasa lisan dengan bahasa tulis. Tarigan (1994/III: 7) Melihat bahwa membaca adalah proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disamakan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis. Membaca dengan demikian melibatkan tiga unsur, yaitu makna sebagai unsur isi bacaan, kata sebagai unsur yang membawakan makna, dan simbol tertulis sebagai unsur visual.

Menurut Ibrahim (1962:75) mengemukakan bahwa:

“perpindahan simbol tertulis ke dalam bahasa ujaran itulah, disebut membaca dalam makna yang lebih luas, membaca tidak hanya terpaku kepada kegiatan melafalkan dan memahami makna bacaan dengan baik yang hanya melibatkat unsur kognitif dan psikomotorik, namun dari itu menyangkut penjiwaan atas isi bacaan. Jadi pembaca yang baik adalah pembaca yang mampu berkomunikasi secara intim dengan bacaan, ia bisa gembira, marah, kagum, rindu, sedih, dan sebagainya sesuaigelombang isi bacaan”.

Membaca secara garis besarnya terbagi kedalam dua bagian yaitu, membaca nyaring ( ُةَّي ِر ْحَجْلا ُةَءاَرِقْلا) dan membaca dalam hati (ةِمْحَسْلا ُةَءاَرِقْلا) .

24

a. Membaca nyaring

Membaca nyaring adalah membaca dengan melafalkan atau menyuara kan simbol-simbol tertulis berupa kata-kata atau kalimat yang dibaca. Latihan membaca ini lebih cocok diberikan kepeda pelajar tingkat pemula. Selain dengan sebutan bacaan ini, maka tujuan utamanya agar para pelajar mampu melafalkan bacaan dengan baik sesuai dengan sistem dalam bunyi bahasa Arab.

Nababan (1993: 168) mengemukakan keuntungan mengajar membaca secara nyaring, antara lain sebagai berikut:

1. Menambah kepercayaan diri pelajar.

2. Kesalahan-kesalahan adalah lafal dapat segara diperbaiki oleh guru

3. Memperkuat disiplin dalam kelas, karena pelajar berperan serta secara aktif dan tidak boleh ketinggalan dalam membaca secara serentak

4. Memberi kesempatan kepada pelajar untuk menghubungkan lafal dengan ortografi (tulisan)

5. Melatih pelajar untuk membaca dalam kelompok-kelompok.

Khuli (1982:118-119) Namun di samping kelebihan tersebut ada beberapa kelemahan, menurut Al-kelemahan itu antara lain:

a. Membaca nyaring akan menyita banyak energi akibatnya pelajar akan cepat lelah.

b. Tingkat pemahaman membaca nyaring lebih sedikit dibandingkan membaca diam, sebab pelajar lebih disibukkan melafalkan kata-kata dibandingkan dengan memahami isi bacaan.

c. Membaca nyaring dapat menimbulkan kegaduhan, kadang-kadang dapat mengganggu orang lain.

Kelebihan dan kekurangan tersebut, mengajar membaca nyaring perlu dilakukan, terutama kepada para pelajar tahap pemula. Pada tahap ini

mereka harus dikenalkan kepada bunyi-bunyi huruf Arab dan dilatih pelafalannya. Seperti diketahui bahwa bahasa Arab memiliki karekteristik bunyi yang berbeda secara prinsipil dibandingkan dengan bunyi-bunyi huruf pada bahasa pelajar. Jika tidak dikenalkan dan dilatih pengucapan secara benar, maka akan menjadi kendala pada belajar selanjutnya.

Al-Khuli (1982: 117-118) Mengemukakan, untuk keefektifan pembelajaran membaca nyaring, ada beberapa hal perlu diperhatikan oleh guru:

1. Dalam memulai kegiatan membaca, guru hendaknya memilih pelajar yang bagus bacanya. Hal ini dimaksudkan selain untuk percontohan bagi teman-temannya, juga akan terus memberikan semangat mereka untuk membaca.

2. Sebaiknya guru menyuruh pelajar untuk membaca di depan kelas, dan sesekali membagikan padangan kepeda teman-temannya saat membaca.

3. Hendaknya guru mampu menciptakan kelas yang turut serta menjadi pengoreksi kesalahan bacaan. Dalam arti semua pelajaran harus terlibat memperhatikan bacaan pelajar yang diperhatikan membaca.

4. Tidak diperkenakan guru menyuruh membaca terlalu lama, sebab akan cepat melelahkan. Demikian juga porsi waktu yang digunakan untuk membaca nyaring tidak terlalu lama, sehingga tidak menyita porsi waktu untuk mengajarkan keterampilan yang lain.

5. Untuk menanamkan kemampuan memahami bacaan, di akhir bacaan hendaknya guru mengajak berdiskusi kepada pada pelajar tenteng isi bacaan.

b. Membaca Diam (al-qira‟ah al-shamitah)

Membaca diam atau disebut juga membaca dalam hati lazim dikenal dengan membaca pemahaman, yaitu membaca dengan tidak melafalkan simbol-simbol tertulis berupa kata-kata atau kalimat yang dibaca, melainkan

26

hanya mengandalkan kecermatan ekspolarasi visual. Tujuan membaca dalam hati adalah penguasaan isi bacaan, atau memperoleh infomasi

sebanyank-banyaknya tentang isi bacaan dalam waktu yang cepat.

8. Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis (maharah al-kitabah) adalah kemampuan dalam kemampuan dalam mendekskripsikan atau mengungkapkan isi pikiran, mulai dari aspek yang sederhana seperti menulis kata-kata sampai kepada aspek yang kompleks yaitu mengarang.

Keterampilan menulis dalam bahasa Arab secara garis besar dapat dibagi ke dalam kategori yang terpisahkan yaitu imlak ( َُ ْمِلإا) , kaligrafi ( ُ َ لا), dan mengarang ( ُأَشْنِلإا).

a. Keterampilan imlak ( َُ ْمِلإا)

Imlak ( َُ ْمِلإا) adalah ketegori menulis yang menekankan rupa postur huruf dalam membentuk kata-kata dan kalimat.

Mahmud Ma‟ruf (1985: 157) imlak adalah menuliskan huruf-huruf sesuai posisinya dengan benar dalam kata-kata untuk manjaga terjadinya kesalahan makna.

Secara umum ada tiga kecakapan dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran keterampilan imlak, yaitu kecermatan mengamati, mendengar dan kelenturan tangan dalam menulis.

Secara garis besar ada macam dan teknik yang harus diperhatikan dalam pelajaran imlak, yaitu menyalin (al-imla al-manqul), mengamati (al- imla al-manzhur), menyimak (al-imla al-istima‟i), dan tes (al-imla al-ikhtibari).

1. Imlak Menyalin (al-imla al-manqul)

Menyalin adalah memindahkan tulisan dari media tertentu dalam buku pelajaran. Imlak ini juga lazim disebut al-imla almansukh, sebab dilakukan dengan cara menyalin tulisan. Imlak ini cocok diberikan kepada pemula.

2. Imlak Mengamati (al-imla al-manzhur)

Mengamati adalah tulisan dalam media tertentu dengan cermat, setelah itu dipindahkan ke dalam buku pelajar tanpa melihat lagi tulisan. Imlak ini pada dasarnya hampir sama dengan al-imla al-manqul dari segi memindahkan atau menyalin tulisan. Tetapi dalam proses penyalinannya para pelajar tidak diperbolehkan melihat tulisan yang disajikan oleh guru.

Pelejar dalam hal ini sedapat mungkin harus menyalin tulisan hasil penglihatan mereka sebelumnya. Imlak ini sedikit lebih tinggi tingkat kesulitannya dibandingkan dengan al-imla al-manqul. Maka dalam praktenya akan lebih cocok diberikan kepada pemula yang sudah lebih maju.

3. Imlak Menyimak (al-imla al-istima‟i)

Menyimak adalah mendengarkan kata-kata/ kalimat/ teks yang dibacakan, lalu menulisnya. Imlak ini sedikit lebih sukar dibandingkan dengan al-imla al-manzhur, karena para pelajar dituntut untuk menulis kalimat/ teks tanpa melihat contoh tulisan dari guru, melainkan mengandalkan hasil kecermatan mereka dalam mendengarkan bacaan guru. Maka tentu saja lebih cocok diberikan kepada pemula yang sudah pandai dalam al-imla al- manzhur.

28

Dalam dokumen Insya Allah Akan Lebih Menjadi Solusi”‟ (Halaman 35-42)

Dokumen terkait