Rambu-Rambu Jawaban Tes Formatif
Subunit 4.1 Keterkaitan Antara Tujuan, Materi, Kegiatan, Dan
Penilaian Pembelajaran Dalam Penerapan Prinsip Dan Langkah Perencanaan Pembelajaran Yang Mendidik
embelajaran yang dikelola oleh guru di sekolah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar. Disebut sebagai aktivitas yang dilakukan secara sadar karena pembelajaran tersebut harus direncanakan terlebih dahulu oleh pengelolanya, yaitu guru. Sebelum pembelajaran dilakukan, pertama-tama guru harus menetapkan terlebih dahulu:
1. Tujuan dari pembelajaran berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah diatur dalam Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, serta yang telah dijabarkan ke dalam Kompetensi Dasar mata pelajaran.
2. Materi pembelajaran yang telah dipilih sesuai pengalaman belajar yang dirancang berdasarkan kompetensi dasar mata pelajaran.
3. Kegiatan pembelajaran yang telah dirancang berdasarkan materi pembelajaran dan pengalaman belajar peserta didik.
4. Metode dan instrumen penilaian pembelajaran yang disusun berdasarkan indikator pencapaian kompetensi.
P
Setiap aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh
manusia tentu ada tujuannya, ada materinya, ada
kegiatannya, dan ada penilaiannya.
Di dalam Undang-Undana Nomor 20 Tahun 2003 (UU No.20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan di dalam Pasal 1 ayat 1 bahwa ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Berdasarkan bunyi pasal 1 ayat 1 UU No. 20/2003 tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan proses pembelajaran yang diarahkan ke perkembangan peserta didik untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, angsa dan negara.
Pencapaian tujuan pendidikan tersebut hendaknya dilakukan secara sadar dan terencana, terutama dalam hal mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri yang dimilikinya. Peserta didik hendaknya menjadi pusat pembelajaran, karena yang melakukan kegiatan belajar adalah peserta didik, bukan guru. Hal esensial yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran berkenaan dengan pengertian belajar, khususnya tentang perubahan tingkah laku dan pemodifikasian tingkah laku yang baru. Perlu diketahui, menurut Teori Belajar Behaviorisme, tingkah laku baru merupakan hasil pomodifikasian tingkah laku lama, sehingga tingkah laku lama berubah menjadi tingkah laku yang lebih baik. Perubahan tingkah laku di sini bukanlah perubahan tingkah laku yang terbatas melainkan perubahan tingkah laku secara keseluruhan yang telah dimiliki oleh seseorang. Hal itu berarti perubahan
Tujuan utama pembelajaran adalah mendidik peserta didik agar tumbuh kembang menjadi individu yang bertanggung jawab dan dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Pencapaian tujuan pendidikan hendaknya dilakukan secara sadar
dan terencana
tingkah laku itu menyangkut perubahan tingkah laku kognitif, tingkah laku afektif, dan tingkah laku psikomotor.
Pada prinsipnya, dalam pembelajaran yang mendidik hendaknya berlangsung sebagai proses atau usaha yang dilakukan peserta didik untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu beriteraksi dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku yang terjadi dalam diri individu banyak ragamnya baik sifatnya maupun jenisnya. Karena itu tidak semua perubahan dalam diri individu merupakan perubahan dalam arti belajar. Jika tangan seorang anak bengkok karena jatuh dari sepada motor, maka perubahan seperti itu tidak dapat dikategorikan sebagai perubahan hasil belajar.
Rancangan penerapan pembelajaran yang mendidik yang disusun sesuai dengan prinsip dan langkah perencanaan pembelajaran yang tepat hendaknya dapat menghasilkan perubahan dalam diri peserta didik. Beberapa ciri perubahan dalam diri peserta didik yang perlu diperhatikan guru antara lain:
a. Perubahan tingkah laku harus disadari peserta didik.
Setiap individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan tingkah laku atau sekurang-kurangnya merasakan telah terjadi perubahan dalam dirinya. Sebagai misal, seseorang merasa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, keterampilanya, bertambah, kemahirannya bertambah dan sebagainya.
b. Perubahan tingkah laku dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.
Perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya. Misalnya jika seseorang anak belajar menulis, maka ia akan memahami perubahan dari tidak dapat menulis menjadi dapat menulis.
Perubahan ini berlangsung terus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik. Ia dapat menulis indah, dapat menulis dengan pulpen, dapat menulis
Hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran yang
mendidik berupa perubahan tingkah laku yang disadari, kontinu,
fungsional, positif, tetap, bertujuan, dan komprehensif
dengan pensil, patur tulis dan sebagainya. Di samping itu dengan kecakapan menulis ia dapat memperoleh kecakapan lain seperti dapat menulis surat, menyalin catatan, mengarang, mengerjakan soal dan sebagainya.
c. Perubahan tingkah laku dalam belajar bersifat positif dan aktif.
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan senantiasa bertambah dan tertuju pada pemerolehan yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar dilakukan makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri d. Perubahan tingkah laku dalam belajar tidak bersifat sementara.
Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, bersin dan dan sebagainya, tidak dapat dikategorikan sebagai perubahan dalam arti belajar.
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen.
Itu berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seseorang memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimikili bahkan akan makin berkembang jika terus dipergunakan atau dilatih
e. Perubahan tingkah laku dalam belajar bertujuan.
Perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai.
Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seorang yang belajar komputer, sebelumnya sudah menetapkan apa yang dapat dicapai dengan belajar komputer. Dengan demikian perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah kepada tingkah laku yang telah ditetapkan.
f. Perubahan tingkah laku mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika individu belajar sesuatu, sebagai hasilnya mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya. Sebagai contoh, jika seorang anak telah belajar naik sepeda, maka perubahan yang paling nampak adalah dalam keterampilan naik sepeda. Akan tetapi ia telah mengalami perubahan lainnya seperti pemahaman tentang fungsi sadel, pemahaman tentang alat-alat sepeda, ingin punya sepeda dan sebagainya. Jadi aspek perubahan tingkah laku berhubungan erat dengan aspek lainnya.
Pada umumnya belajar seringkali diartikan sebagai perolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Pengetahuan mutakhir proses belajar diperoleh dari kajian pengolahan informasi, neurofisiologi, neuropsikologi dan sain kognitif. Forrest W.
Parkay dan Beverly Hardeastle Stanford (1992) menyebut belajar sebagai kegiatan pemrosesan informasi, membuat penalaran, mengembangkan pemahaman dan meningkatkan penguasaan keterampilan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran, diartikan sebagai upaya membuat individu belajar, yang dirumuskan Robert W.
Gagne (1977) sebagai pengaturan peristiwa yang ada di luar diri seseorang peserta didik, dan dirancang serta dimanfaatkan untuk memudahkan proses belajar.
Pengaturan situasi pembelajaran sebelum pelaksanaan pembelajaran biasanya disebut management of learning and conditions of learning.
Pembelajaran yang mendidik memiliki beberapa karakteristik, antara lain:
(a) menekankan proses membelajarkan bagaimana belajar (learning how to learn);
(b) mengutamakan strategi yang mendorong dan melancarkan proses belajar peserta didik;
(c) diarahkan untuk membantu peserta didik agar berkecakapan mencari jawab atas suatu persoalan atau pertanyaan; dan
(d) bukan menyampaikan informasi langsung kepada peserta didik.
Kenyataan menunjukkan bahwa pada umumnya guru mempersepsi dan memaknai pembelajaran sebagai (a) menyampaikan berbagai pengetahuan bidang studi dengan peserta didik lain secara efektif dan efisien, (b) mencipta dan memelihara relasi antara pribadi antara dosen dengan peserta didik serta
Pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan sebagai tujuan pembelajaran yang mendidik
Pembelajaran yang mendidik adalah pembelajaran yang
menekankan proses membelajarkan peserta didik bagaimana
belajar (learning how to learn).
mengembangkan kebutuhan bertumbuh-kembang di bidang kehidupan yang dibutuhkan peserta didik, dan (c) menerapkan kecakapan teknis dalam mengelola sekaligus sejumlah peserta didik yang belajar.
Penciptaan kondisi dan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik dapat berusaha atas inisiatifnya sendiri berkaitan dengan hal-hal yang harus dialami selama proses pembelajaran berlangsung. Artinya, kondisi dan suasana belajar akan dapat diciptakan apabila telah dirancang sejumlah pengalaman belajar yang harus dilakukan peserta didik.
Pengalaman belajar peserta didik inilah yang menjadi dasar penetapan materi pembelajaran yang akan digunakan. Materi pokok pembelajaran ditetapkan sesuai dengan jenis-jenis pengalaman belajar yang telah dirancang. Berdasarkan materi pokok pembelajaran inilah dirancang kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan untuk tiap materi pokok pembelajaran. Oleh karena kegiatan pembelajaran dirancang berdasarkan materi pokok pembelajaran dan pengalaman belajar, maka akan mempermudah penetapan indikator pencapaian kompetensi dasar satu mata pelajaran
Ciri pengalaman belajar dalam pembelajaran yang mendidik adalah dapat diukur atau ditentukan skor pencapaian hasil belajar peserta didik. Hal ini dapat diidentifikasi melalui kata kerja yang digunakan dalam merumuskan pengalaman belajar yang harus terjadi dalam diri peserta didik. Kata kerja tersebut berkaitan dengan domain kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terlibat dalam proses belajar peserta didik. Semakin operasional kata kerja yang digunakan semakin baik pengalaman belajar .
Pembelajaran yang mendidik akan berlangsung dengan baik
apabila kondisi dan suasana belajar memungkinkan peserta
didik terlibat secara aktif dan proaktif
tertentu. Indikator pencapaian kompetensi dasar inilah yang menjadi patokan guru selama proses pembelajaran untuk mengpenilaian seberapa besar kemungkinan peserta didik menguasai atau mencapai kompetensi dasar mata pelajaran yang telah ditetapkan. Rancangan program pembelajaran yang mendidik dan sistem asesmen yang tepat perlu diidentifikasi berdasarkan karakteristik tertentu, yang meliputi hal- hal berikut ini:
1). Hasil belajar peserta didik dinyatakan dengan kompetensi atau kemampuan yang dapat didemonstrasikan, ditampilkan, atau dapat diobservasi indokator- indikatornya;
2). Kecepatan belajar peserta didik berbeda dalam mencapai ketuntasan belajar;
3). Asesmen hasil belajar menggunakan acuan kriteria; dan 4). Adanya program pembelajaran remediasi dan pengayaan.
Rancangan penerapan program pembelajaran dan sistem asesmennya hendaknya mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) mata pelajaran yang telah dijabarkan ke dalam sejumlah Kompetensi Dasar. Masing-masing kompetensi dasar dijabarkan lagi ke dalam indikator esensial beserta deskiptornya, yang digunakan sebagai indikator pencapaian kompetensi dan selanjutnya digunakan untuk mengembangkan instrumen penilaian.