• Tidak ada hasil yang ditemukan

KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN 1. Kelahiran Utsman bin Affan

Dalam dokumen BUKU - SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM.pdf (Halaman 60-65)

SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN

C. KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN 1. Kelahiran Utsman bin Affan

Nama lengkap Utsman bin Affan adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdi al-Manaf dari suku Quraisy. Utsman bin Affan lahir pada tahun 576 M, atau enam tahun sesudah penyerbuan Kakbah oleh pasukan bergajah atau enam tahun setelah kelahiran Ra- sulullah SAW. Ibu Khalifah Utsman bin Affan adalah Urwy bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Asy-Syams bin Abdi al-Manaf. Utsman bin Affan masuk agama Islam pada usia 30 tahun atas bujukan Abu Ba- kar. Sesudah masuk Islam, Utsman bin Affan sempat menerima siksaan dari pamannya, Hakam bin Abil Ash. Ia diberi gelar “Dzun nurain”, dikarenakan ia menikahi dua putri Rasulullah saw. secara berurutan setelah yang satu meninggal yakni Ruqayyah dan Ummu Kulsum.82

Khalifah Utsman bin Affan juga ikut berhijrah bersama istrinya ke Abesinia dan ia termasuk muhajir pertama ke Yatsrib. Ia adalah orang yang saleh dalam ritual dan sosial. Pada siang hari ia pergunakan un- tuk ibadah puasa dan malamnya untuk ibadah shalat. Ia juga sangat rajin membaca Al-Qur’an sehingga Khalid Muh Khalid berkata bahwa untuk shalat dua rakaat saja, ia membutuhkan waktu sampai sema- laman dikarenakan banyaknya ayat Al-Qur’an yang dibaca, dan pada waktu Khalifah Utsman meninggal, Al-Qur’an berada di pelukannya.

81 Ibid., hlm. 78.

82 Boedi Abdullah. 2010. Peradaban Pemikiran ..., hlm. 101.

SAMPLE

Sifat sosialnya terbukti dengan ia membeli telaga milik Yahudi sehar- ga 12.000 dirham serta menghibahkan untuk kaum Muslim pada saat hijrah ke Yatsrib. Utsman bin Affan Mewakafkan tanah seharga 15.000 dinar untuk perluasan Masjid Nabawi. Menyerahkan 940 ekor unta, 60 ekor kuda, 10.000 dinar untuk keperluan Jaisyul ‘Usroh pada Perang Tabuk. Setiap hari Jumat, Utsman bin Affan memerdekakan seorang budak laki-laki dan seorang budak perempuan. Pada masa krisis, yaitu ketika memerintah dipimpin Abu Bakar, Utsman menjual barang ke- perluan sehari-hari dengan harga yang sangat terjangkau, bahkan ia membagi-bagikannya kepada kaum Muslim. Utsman salah satu orang yang sangat penyayang, pernah pada suatu pagi, ia tidak tega memba- ngunkan pelayannya untuk mengambil air wudhu, padahal ia sedang sakit dan sudah uzur.83

Pada zaman Nabi saw., Utsman bin Affan bergabung dalam be- berapa peperangan, di antaranya Perang Uhud, Khaibar pembebasan Kota Mekkah, Perang Thaif, Hawazin, dan Tabuk. Perang Badr tidak ia ikuti, dikarenakan ada perintah Rasulullah saw. menjaga istrinya yang sedang sakit sampai meninggalnya. Pemerintahan Utsman bin Affan termasuk pemerintahan yang paling lama apabila dibandingkan de- ngan khalifah lainnya, yaitu 12 tahun 24 H/644 M-36 H/656 M, Umar 10 tahun 13 H/634 M-23 H/644 M, Abu Bakar 2 tahun 11 H/632 M-13 H/634 M, dan Ali 6 tahun 36 H/656 M-41 H/661 M.

2. Kebijakan Pemerintahan Utsman bin Affan

Pada masa itu, perluasan kekuasan pemerintahan Islam telah men- cakupi daerah Asia dan Afrika, seperti daerah Herat, Kabul, Ghazni, dan Asia Tengah, dan juga Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes serta ba- gian yang tersisa dari Persia dan berhasil menumpas perlawanan pem- berontak yang dilakukan orang Persia. Dalam dunia sosial dan budaya, Utsman bin Affan juga membangun bendungan besar di daerah keku- asaan untuk mencegah banjir dan mengatur pembagian air ke kota, membangun jalan, jembatan, masjid, rumah penginapan para tamu dalam berbagai bentuk, serta memperluas masjid Nabi di Madinah. Se- telah menjalani masa kepemimpinan yang penuh dengan prestasi dan kesuksesan, pada paruh terakhir kepemimpinannya, khalifah mengha- dapi berbagai pemberontakan dan pembangkangan di dalam maupun di luar negeri. Dalam negeri, pemberontakan lebih terarah pada per-

83 Ibid., hlm. 102.

SAMPLE

soalan kebijakan-kebijakan khalifah yang bersifat nepotis, harta ke- kayaan umum yang hanya berputar pada kalangan keluarga saja dan terhadap sahabat utama sikapnya tidak tegas. Adapun di luar negeri lebih banyak berasal dari negara-negara yang ditaklukkan seperti hal- nya Romawi dan Persia yang bersifat dendam dan sakit hati karena sebagian wilayahnya telah ditaklukkan oleh umat Muslim. Juga fitnah yang disebarluaskan oleh orang Yahudi dari suku Qainuqa dan Nadhir serta Abdullah bin Saba. Pemberontakan dan juga pembangkangan ini menyebabkan terbunuhnya khalifah pada tahun 35 H.84

Sistem pemerintahan Utsman pada dasarnya tidak jauh berbeda dari khalifah pendahulunya. Dalam pidato pembaiatannya, ia menje- laskan bahwa ia akan melanjutkan sistem pemerintahan yang dibuat pendahulunya. Pemegang kekuasaan tertinggi berada di tangan khali- fah, pemegang dan pelaksana kekuasaan eksekutif. Pelaksanaan tugas- tugas eksekutif di pusat dibantu oleh sekretaris negara dan dijabat oleh Marwan bin Hakam, anak paman khalifah. Jabatan ini sangat penting dikarenakan eksekutif memiliki wewenang untuk memengaruhi kebi- jakan khalifah. Karena dalam praktiknya, Marwan tidak hanya men- jabat sebagai sekretaris negara, tetapi juga sebagai penasihat pribadi khalifah. Selain sekretaris negara, Khalifah Utsman juga dibantu oleh pejabat pajak, pejabat kepolisian, pejabat keuangan atau baitulmal seperti pada masa pemerintahan Umar. Untuk pelaksanaan kegiatan administrasi pemerintahan di daerah-daerah, Khalifah Utsman memer- cayakannya pada gubernur untuk setiap wilayah atau provinsi. Pada masa pemerintahannya wilayah kekuasaan negara Madinah dibagi menjadi sepuluh provinsi yaitu:

a. Nafi’ bin Al-Haris al-Khuza’i, Amir wilayah Mekkah.

b. Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, Amir wilayah Thaif.

c. Ya’labin Munabbih Halif Bani Naufal bin Abd Manaf, Amir wilayah Shan’a.

d. Abdullah bin Abi Rabiah, Amir wilayah al-Janad.

e. Usman bin Abi al-Ash ats-Tsaqafi, Amir wilayah Bahrain.

f. Al-Mughirah bin Syu’bah ats-Tsaqafi, Amir wilayah Kufah.

g. Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari, Amir wilayah Basrah.

h. Muawiyah bin Abi Sufyan, Amir wilayah Damaskus.

i. Umair bin Sa’ad, Amir wilayah Himsh.

j. Amr bin al-Ash as-Sahami, Amir wilayah Mesir.85

84 Ibid., hlm. 102.

85 Ibid., hlm. 103.

SAMPLE

Setiap amir atau gubernur adalah wakil khalifah di daerah untuk melaksanakan roda pemerintahan dan bertanggung jawab pada tugas administrasi. Mereka diangkat dan diberhentikan oleh khalifah. Ke- dudukan gubernur di samping sebagai kepala pemerintahan daerah, juga merangkap sebagai pemimpin agama, pemimpin ekspedisi militer, menetapkan undang-undang dan memutuskan perkara yang dibantu oleh katib (sekretaris), pejabat pajak, pejabat keuangan dan pejabat kepolisian. Adapun kekuasaan legislatif dipegang oleh dewan penasi- hat atau majelis syura, tempat khalifah mengadakan musyawarah atau konsultasi dengan para sahabat Nabi. Majelis ini memberikan penda- pat, saran, usul, dan nasihat kepada khalifah tentang berbagai masalah penting yang dihadapi pemerintahan. Namun untuk pengambilan ke- putusan terakhir berada di tangan khalifah. Artinya berbagai macam peraturan dan kebijaksanaan di luar dari ketentuan Al-Qur’an dan Sun- nah Rasul, maka dimusyawarahkan di dalam majelis serta diputuskan oleh khalifah atas persetujuan dari anggota majelis. Dengan demikian, majelis syura diketuai oleh khalifah.86

3. Kebijakan Ekonomi Utsman bin Affan

Sama seperti dua khalifah sebelumnya, Khalifah Utsman ibn Affan tetap melakukan bantuan dan santunan serta memberikan sejumlah besar uang kepada masyarakat dengan nominal yang berbeda-beda.

Meskipun meyakini prinsip persamaan dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, ia membagikan bantuan yang berbeda pada ting- kat yang lebih tinggi. Dengan demikian, dalam pendistribusian harta baitulmal, Khalifah Utsman ibn Affan menerapkan prinsip keutamaan, seperti halnya Umar ibn al-Khaththab. Dalam pengelolaan zakat, Kha- lifah Utsman ibn Affan mendelegasikan kewenangan menaksir harta yang dizakati kepada para pemiliknya. Masalah ini dilakukan untuk menghindari zakat dari berbagai gangguan dan persoalan dalam peme- riksaan kekayaan yang tidak jelas yang dilakukan oknum pengumpul zakat. Di samping itu juga, Khalifah Utsman berpendapat bahwa zakat hanya diwajibkan terhadap harta yang setelah dipotong seluruh utang yang bersangkutan. Ia juga mengurangi zakat dari dana pensiun. Sela- ma menjabat khalifah, Utsman bin Affan menaikkan tunjangan pensiun sebesar 100 dirham, di samping juga membagikan ransum tambahan berupa pakaian. Ia juga memperkenalkan tradisi pemberian makanan

86 Ibid., hlm. 104.

SAMPLE

dan minuman di masjid untuk para fakir miskin dan musafir.87

Untuk peningkatan bidang pertahanan dan kelautan, peningkat- an dana pensiun, serta pembangunan berbagai wilayah taklukan baru, maka negara membutuhkan dana tambahan. Oleh karena itu, Khalifah Utsman ibn Affan membuat beberapa peraturan administrasi tingkat atas dan pergantian beberapa gubernur. Sebagai efeknya, penghasilan kharaj dan jizyah yang berasal dari Mesir meningkat dua kali lipat, yaitu dari 2 juta dinar melonjak menjadi 4 juta dinar setelah melaku- kan pergantian gubernur dari Amr kepada Abdullah bin Saad. Namun hal ini mendapat kritikan dari Amr. Menurut pendapatnya, pemasuk- an besar yang diperoleh Gubernur Abdullah bin Saad merupakan ha- sil pemerasan penguasa terhadap rakyatnya. Dengan keinginan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi baitulmal, Khalifah Utsman menerapkan peraturan membagi-bagikan tanah negara kepada indi- vidu-individu dengan tujuan reklamasi. Dengan hasil kebijakannya ini, negara memperoleh pendapatan laba sebesar 50 juta dirham atau naik 41 juta dirham jika dibandingkan pada masa Khalifah Umar ibn al- Khaththab yang tidak membagikan tanah tersebut.88

Meskipun tidak ada kebijakan kontrol harga, seperti yang dila- kukan khalifah sebelumnya yang tidak menyerahkan tingkat harga seutuhnya kepada para pengusaha, Khalifah Utsman berusaha untuk memperoleh informasi yang akurat tentang masalah kondisi harga di pasaran. Bahkan terhadap harga suatu barang yang sulit dijangkau, Khalifah Utsman bin Affan sering mendiskusikan suatu harga yang se- dang berlaku di pasaran dengan semua umat Muslim pada setiap se- lesai melaksanakan ibadah shalat berjemaah. Setelah memasuki enam tahun kedua masa pemerintahan Utsman ibn Affan, tidak ada peru- bahan situasi ekonomi yang signifikan. Bermacam kebijakan Khalifah Utsman ibn Affan yang hanya banyak menguntungkan keluarganya membuat timbulnya benih kekecewaan yang mendalam pada sebagian besar umat Muslim. Kebijakan-kebijakan Utsman pada akhirnya mem- bentuk sebuah komunitas keluarga yang berbau nepotisme dan me- nimbulkan kesenjangan sosial dan berbagai penyimpangan. Di antara penyimpangan itu sebagai berikut:

a. Saudara yang suka mabuk-mabukan diangkat menjadi gubernur, b. Tanah fadak yang pernah disengketakan antara Khalifah Abu Ba-

kar dan Fatimah dimasukkan oleh Marwan bin Hakam ke dalam

87 Ibid., hlm. 104.

88 Ibid., hlm. 105.

SAMPLE

milik pribadi, dan

c. Seperlima harta rampasan dari Afrika diberikan oleh Utsman kepa- da Marwan.

Akhirnya, kebijakan Umar yang sepihak tersebut, menimbulkan konflik dalam negara sampai terbunuhnya Utsman pada tanggal 18 Dzulhijjah 35 H dalam usia 82 tahun.89

Masa enam tahun kekhalifahan Utsman dinilai berjalan dengan lancar dan baik. Namun pada tahun ketujuh, Ustman telah melakukan kesalahan besar dengan mengangkat beberapa saudaranya untuk men- duduki posisi politik dalam pemerintahan. Kebijakan ini diprotes keras dan dianggap sebagai tindakan nepotisme dan koruptif. Tak kurang beberapa orang tokoh terkemuka ketika itu mendesak Ustman untuk memperbaiki keadaan. Ustman ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan akhirnya terlambat. Ia terbunuh secara menyedihkan saat mem- baca Al-Qur’an di rumahnya. Inilah awal permulaan munculnya pem- bunuhan pemimpin politik Islam secara konstitusional dalam sejarah politik Islam.90

D. KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB

Dalam dokumen BUKU - SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM.pdf (Halaman 60-65)