SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM PARA CENDEKIAWAN MUSLIM
2. Latar Belakang Kehidupan dan Corak Pemikiran
Abu Ubaid merupakan seorang ahli Hadis (muhaddits) dan ahli fikih (fuqaha) terkemuka di masa hidupnya. Selama menjabat qadi di Tarsus, ia sering menangani berbagai kasus pertanahan dan perpajakan serta menyelesaikannya dengan sangat baik. Alih bahasa yang dila- kukannya terhadap kata-kata dari bahasa Parsi ke bahasa Arab juga menunjukkan bahwa Abu Ubaid sedikit banyak menguasai bahasa ter- sebut. Karena sering terjadi pengutipan kata-kata Amr dalam Kitab al- Amwal, tampaknya, pemikiran-pemikiran Abu Ubaid dipengaruhi oleh Abu Amr Abdurrahman ibn Amr al-Awza’i, serta ulama-ulama Suriah lainnya semasa ia menjadi qadi di Tarsus. Kemungkinan ini, antara lain dapat ditelusuri dari pengamatan yang dilakukan Abu Ubaid terhadap permasalahan militer, politik, dan fiskal yang dihadapi pemerintah da- erah Tarsus.199
Berbeda halnya dengan Abu Yusuf, Abu Ubaid tidak menyinggung tentang masalah kelemahan sistem pemerintahan serta penanggulang- annya. Namun demikian, Kitab al-Amwal dapat dikatakan lebih kaya daripada Kitab al-Kharaj dalam hal kelengkapan Hadis dan pendapat para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Dalam hal ini, fokus perhatian Abu Ubaid tampaknya lebih tertuju pada permasalahan yang berkait- an dengan standar etika politik suatu pemerintahan daripada teknik efisiensi pengelolaannya. Sebagai contoh, Abu Ubaid lebih tertarik membahas masalah keadilan redistributif dari sisi “apa” daripada “ba- gaimana”. Filsufi yang dikembangkan Abu Ubaid bukan merupakan jawaban terhadap berbagai permasalahan sosial, politik dan ekonomi yang diimplementasikan melalui kebijakan-kebijakan praktis, tetapi
198 Boedi Abdullah. 2010. Peradaban Pemikiran Ekonomi ...., hlm. 173.
199 Ibid., hlm. 174.
SAMPLE
hanya merupakan sebuah pendekatan yang bersifat profesional dan teknokrat yang bersandar pada kemampuan teknis. Dengan demiki- an, tanpa menyimpang dari prinsip keadilan dan masyarakat beradab, pandangan-pandangan Abu Ubaid mengedepankan dominasi intelektu- alitas islami yang berakar dari pendekatannya yang bersifat holistic dan teologis terhadap kehidupan manusia di dunia dan akhirat, baik yang bersifat individual maupun sosial.200
Berdasarkan hal tersebut, Abu Ubaid berhasil menjadi salah seo- rang cendekiawan Muslim terkemuka pada awal abad ketiga Hijriah (abad kesembilan Masehi) yang menetapkan revitalisasi sistem pere- konomian berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis melalui reformasi dasar- dasar kebijakan keuangan dan institusinya. Dengan kata lain, umpan balik dari teori sosio-politik-ekonomi islami, yang berakar dari ajaran Al-Qur’an dan Hadis, mendapatkan tempat yang eksklusif serta dieks- presikan dengan kuat dalam pola pemikiran Abu Ubaid. Berkat pe- ngetahuan dan wawasannya yang begitu luas dalam berbagai bidang ilmu, beberapa ulama Syafi’iyah dan Hanabilah mengklaim bahwa Abu Ubaid berasal dari mazhab mereka, walaupun fakta-fakta menunjuk- kan bahwa Abu Ubaid adalah seorang fuqaha yang independen. Da- lam Kitab al-Anwal, Abu Ubaid tidak sekalipun menyebut nama Abu Abdullah Muhammad ibn Idris al-Syafi’i maupun nama Ahmad ibn Hanbal. Sebaliknya, Abu Ubaid sering kali mengutip pandangan Malik ibn Anas, salah seorang gurunya yang juga guru al-Syafi’i. Di samping itu, ia juga mengutip beberapa ijtihad Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad ibn al-Hasan al-Syaibani, tetapi hampir seluruh pendapat mereka ditolaknya.201
Di sisi lain, Abu Ubaid pernah dituduh oleh Husain ibn Ali al-Kara- bisi sebagai seorang plagiator terhadap karya-karya al-Syafi’i, termasuk dalam hal penulisan Kitab al-Amwal. Namun demikian, kebenaran hal ini sangat sulit untuk dibuktikan mengingat Abu Ubaid dan al-Syafi’i (termasuk Ahmad ibn Hanbal) pernah belajar dari ulama yang sama, bahkan mereka saling belajar satu sama lainnya. Dengan demikian, tidak mengejutkan jika terdapat kesamaan dalam pandangan-pandang- an antara kedua tokoh besar tersebut, sekalipun terkadang Abu Ubaid mengambil posisi yang berseberangan dengan al-Syafi’i tanpa menye- but nama.202
200 Adiwarman Azwar Karim. 2014. Sejarah Pemikiran Ekonomi ...., hlm. 266.
201 Ibid., hlm. 267.
202 Ibid., hlm. 267.
SAMPLE
3. Pemikiran Ekonomi
a. Filsufi Hukum dari Sisi Ekonomi
Jika isi Kitab al-Amwal dievaluasi dari sisi filsufi hukum, akan tampak bahwa Abu Ubaid menekankan keadilan sebagai prisip uta- ma bagi Abu Ubaid, pengimplementasian dan prmsip-prinsip ini akan membawa kepada kesejahteraan ekonomi dan keselarasan sosial. Pada dasarnya, Abu Ubaid memiliki pendekatan yang berimbang terhadap hak-hak individu, publik, dan negara jika kepentingan individu ber- benturan dengan kepentingan publik, ia akan berpihak pada kepen- tingan publik.203
Tulisan-tulisan Abu Ubaid yang lahir pada masa keemasan Dinasti Abbasiyah menitikberatkan pada berbagai persoalan yang berkaitan dengan hak khalifah dalam mengambil suatu kebijakan atau wewe- nangnya dalam memutuskan suatu perkara selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan kepentingan kaum Muslimin. Berdasarkan hal ini, Abu Ubaid menyatakan bahwa zakat tabungan dapat diberikan ke- pada negara ataupun langsung kepada para penerimanya, sedangkan zakat komoditas harus diberikan kepada pemerintah dan jika tidak, maka kewajiaban agama diasumsikan tidak ditunaikan.204 Di samping itu, Abu Ubaid mengakui otoritas penguasa dalam memutuskan, demi kepentingan publik, apakah akan membagikan tanah taklukan kepada para penakluk atau membiarkan kepemilikannya tetap pada penduduk setempat. Lebih jauh, setelah mengungkap alokasi khums, ia menya- takan bahwa seorang penguasa yang adil dapat memperluas berbagai batasan yang telah ditetapkan apabila kepentingan publik sangat di- butuhkan.
Di sisi lain, Abu Ubaid juga menekankan bahwa perbendahara- an negara tidak boleh dimanfaatkan oleh penguasa untuk kepentingan pribadinya. Dengan kata lain, perbendaharaan negara harus digunakan untuk kepentingan publik. Ketika membahas tentang tarif untuk kharaj dan jizyah, ia menyinggung tentang pentingnya keseimbangan anta- ra kekuatan finansial penduduk non-Muslim yang dalam terminologi finansial modern disebut sebagai capacity to pay dengan kepentingan dari golongan Muslim yang berhak menerimanya. Kaum Muslimin di- larang menarik pajak terhadap tanah penduduk non-Muslim melebihi dari apa yang diperbolehkan dalam perjanjian perdamaian. Abu Ubaid
203 Nur Chamid. 2010. Jejak Langkah Sejarah ..., hlm. 189.
204 Ibid., hlm. 189.
SAMPLE
juga menyatakan bahwa tarif pajak kontraktual tidak dapat dinaikkan, bahkan dapat diturunkan apabila terjadi ketidakmampuan membayar.
Lebih jauh, ia menyatakan bahwa jika seorang penduduk non-Muslim mengajukan permohonan bebas utang dan dibenarkan oleh saksi Mus- lim, barang perdagangan penduduk non-Muslim tersebut yang setara dengan jumlah utangnya akan dibebaskan dari bea cukai (duty free). Di samping itu, Abu Ubaid menekankan kepada petugas pengumpul kha- raj, jizyah, ushur, atau zakat untuk tidak menyiksa masyarakatnya dan bagi masyarakat agar memenuhi kewajiban finansialnya secara teratur dan sepantasnya. Dengan perkataan lain, Abu Ubaid berupaya untuk menghentikan terjadinya diskriminasi atau favoritisme, penindasan dalam perpajakan serta upaya penghindaran pajak. Pandangan Abu Ubaid yang tidak merujuk pada tingkat kharaj yang diterapkan oleh Khalifah Umar ataupun pengamatannya terhadap permasalahan yang timbul dari kebijakan peningkatan dan penurunan tingkat kharaj ber- dasarkan situasi dan kondisi, menunjukkan bahwa Abu Ubaid menga- dopsi kaidah fikih “la yunharu taghayyiru al-fatwa bi taghayyuril azmi- nati” (keberagaman aturan atau hukum karena perbedaan waktu atau periode tidak dapat dielakkan). Namun demikian, baginya keberagam- an tersebut hanya sah apabila aturan atau hukum tersebut diputuskan melalui suatu ijtihad.205
b. Dikotomi Badui (Masyarakat Desa) ke Urban (Masyarakat Kota) Pembahasan mengenai dikotomi badui-urban dilakukan Abu Uba- id ketika menyoroti alokasi pendapatan fai’. Abu Ubaid menegaskan bahwa bertentangan dengan kaum badui, kaum urban (perkotaan):
1) Ikut serta dalam keberlangsungan negara dengan berbagi kewajib- an administratif dari semua kaum Muslimin.
2) Memelihara dan memperkuat pertahanan sipil melalui mobilisasi jiwa dan harta mereka.
3) Menggalakkan pendidikan melalui proses belajar mengajar.
4) Al-Qur’an dan Sunnah serta penyebaran keunggulannya.
5) Memberikan kontribusi terhadap keselarasan sosial melalui pem- belajaran dan penerapan hudud.
6) Memberikan contoh universalisme Islam dengan shalat berjemaah.
Singkatnya, di samping keadilan Abu Ubaid membangun suatu ne- gara Islam berdasarkan administrasi, pertahanan, pendidikan, hukum,
205 Adiwarman Azwar Karim. 2014. Sejarah Pemikiran Ekonomi ...., hlm. 275.
SAMPLE
dan kasih sayang. Karakteristik tersebut di atas hanya diberikan oleh Allah Swt. kepada kaum urban (perkotaan). Kaum Badui yang tidak memberikan kontribusi sebesar yang telah dilakukan kaum urban, ti- dak bisa memperoleh manfaat pendapatan fai sebanyak kaum urban.
Dalam hal ini, kaum Badui tidak berhak menerima tunjangan dan pro- visi dari negara. Mereka memiliki hak klaim sementara terhadap pe- nerimaan fai hanya pada saat terjadi tiga kondisi kritis, yakni ketika terjadi invasi musuh, kemarau panjang (ja’ihah), dan kerusuhan sipil (fatq). Abu Ubaid memperluas cakupan kaum Badui dengan memasuk- kan golongan masyarakat pegunungan dan perdesaan.206
Di sisi lain, ia memberikan kepada anak-anak perkotaan hak yang sama dengan orang dewasa terhadap tunjangan, walaupun kecil, yang berasal dari pendapatan fai. Pemberian hak ini dilakukan mengingat anak-anak tersebut merupakan penyumbang potensial terhadap kewa- jiban publik terkait. Lebih lanjut, Abu Ubaid mengakui adanya hak dari para budak perkotaan terhadap arzaq (jatah), yang bukan untuk tunjangan. Dari semua ini, terlihat bahwa Abu Ubaid membedakan antara gaya hidup kaum Badui dan kultur menetap kaum urban dan membangun fondasi masyarakat Muslim berdasarkan martabat kaum urban, solidaritas serta kerja sama merasakan komitmen dan kohesi sosial berorientasi urban, vertikal dan horizontal sebagai unsur esen- sial dari stabilitas sosiopolitik dan makroekonomi. Mekanisme yang disebut di atas, meminjam banyak dari universalisme Islam, membuat kultur perkotaan lebih unggul dan dominan dibanding kehidupan no- maden. Namun demikian, cukup mengejutkan bahwa Abu Ubaid tidak dapat mengambil langkah selanjutnya serta berspekulasi pada isu-isu pembagian kerja (division of labor), surplus produksi, pertukaran, dan lainnya yang berkaitan dengan organisasi perkotaan untuk kerja sama.
Sebenarnya, dalam hal ini analisis Abu Ubaid lebih kepada sosiopolitis dibanding ekonomi. Dari uraian di atas, tampak bahwa Abu Ubaid se- lalu memelihara dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban masyarakat.207
c. Kepemilikan dalam Konteks Kebijakan Perbaikan Pertanian
Abu Ubaid mengakui adanya kepemilikan pribadi dan kepemilikan publik. Dalam hal kepemilikan, pemikiran Abu Ubaid yang khas ada- lah mengenai hubungan antara kepemilikan dan kebijakan perbaikan
206 Ibid., hlm. 276.
207 Ibid., hlm. 277.
SAMPLE
pertanian. Secara implisit Abu Ubaid mengemukakan bahwa kebijakan pemerintahan, seperti iqta’ terhadap tanah gurun dan deklarasi resmi terhadap kepemilikan individual atas tanah tandus yang disuburkan, sebagai insentif untuk meningkatkan produksi pertanian. Oleh karena itu, tanah yang diberikan dengan persyaratan untuk diolah dan dibe- baskan dari kewajiban membayar pajak, jika dibiarkan menganggur selama tiga tahun berturut-turut akan didenda dan kemudian dialih- kan kepemilikannya oleh penguasa. Bahkan tanah gurun yang terma- suk dalam hima, pribadi dengan maksud untuk direklamasi, jika tidak ditanami dalam periode yang sama, dapat ditempati oleh orang lain melalui proses yang sama. Pemulihan yang sebenarnya adalah pada saat tanah tersebut ditanami setelah diberi pengairan, jika tandus atau menjadi kering, atau rawa-rawa. Dalam pandangan Abu Ubaid, sumber daya publik, seperti air, padang rumput, dan api tidak boleh dimono- poli seperti hima (taman pribadi). Seluruh sumber daya ini hanya dapat dimasukkan ke dalam kepemilikan negara yang akan digunakan untuk pelayanan masyarakat.208
d. Pertimbangan Kebutuhan
Abu Ubaid sangat menentang pendapat yang menyatakan bahwa pembagian harta zakat harus dilakukan secara merata di antara dela- pan kelompok penerima zakat dan cenderung menentukan suatu batas tertinggi terhadap bagian perorangan. Bagi Abu Ubaid, yang paling penting adalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, seberapa pun besarnya, serta bagaimana menyelamatkan orang-orang dari bahaya kelaparan. Namun pada saat yang bersamaan, Abu Ubaid tidak mem- berikan hak penerimaan zakat kepada orang-orang yang memiliki 40 dirham atau harta lainnya yang setara, di samping baju, pakaian, ru- mah, dan pelayan yang dianggapnya sebagai suatu kebutuhan standar hidup minimum. Di sisi lain, biasanya Abu Ubaid menganggap bahwa seseorang yang memiliki 200 dirham, yakni jumlah minimum yang terkena wajib zakat, sebagai “orang kaya” sehingga mengenakan ke- wajiban zakat terhadap orang tersebut. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan Abu Ubaid ini mengindikasikan adanya tiga kelompok sosio-ekonomi yang terkait dengan status zakat, yaitu:
1) Kalangan kaya yang terkena wajib zakat.
2) Kalangan menengah yang tidak terkena wajib zakat, tetapi juga
208 Nur Chamid. 2010. Jejak Langkah Sejarah ..., hlm. 193.
SAMPLE
tidak berhak menerima zakat.
3) Kalangan penerima zakat.
Berkaitan dengan distribusi kekayaan melalui zakat, secara umum, Abu Ubaid mengadopsi prinsip “bagi setiap orang adalah menurut ke- butuhannya masing-masing”. Lebih jauh, ketika membahas kebijakan penguasa dalam hal jumlah zakat (atau pajak) yang diberikan kepada para pengumpulnya (amil), pada prinsipnya, ia lebih cenderung pada prinsip “bagi setiap orang adalah sesuai dengan haknya”.209
e. Fungsi Uang
Abu Ubaid mengakui adanya dua fungsi uang yang tidak mempu- nyai nilai intrinsik sebagai standar dari nilai pertukaran. Tampaknya ia mendukung terhadap teori ekonomi mengenai uang logam yang me- rujuk kepada kegunaaan umum dan relatif konstannya nilai emas dan perak dibandingkan komunitas yang lain. Jika kedua benda tersebut dijadikan komoditas, maka nilai keduanya dapat berubah pula karena dalam hal tersebut, keduanya akan memainkan peran yang berbeda sebagai barang yang harus dinilai atau standar penilaian dari barang- barang lain.210