• Tidak ada hasil yang ditemukan

KHUSUS

Semua pasien TB RO, terutama yang memiliki penyakit Semua pasien TB RO, terutama yang memiliki penyakit komorbid dianjurkan untuk memiliki jaminan kesehatan nasional komorbid dianjurkan untuk memiliki jaminan kesehatan nasional (BPJS Kesehatan

(BPJS Kesehatan) sehingga tata ) sehingga tata laksana penyakit komorbid pasienlaksana penyakit komorbid pasien dapat terjamin

dapat terjamin pembiayaannya.pembiayaannya.

1.

1. Pengobatan Pengobatan TB TB RO RO pada pada Ibu Ibu HamilHamil

Pasien TB RO yang sedang hamil direkomendasikan untuk Pasien TB RO yang sedang hamil direkomendasikan untuk segera memulai pengobatan segera setelah diagnosis TB RO segera memulai pengobatan segera setelah diagnosis TB RO ditegakkan, terutama pada pasien TB RO yang memiliki koinfeksi ditegakkan, terutama pada pasien TB RO yang memiliki koinfeksi HIV. Pada pasien TB RO dengan HIV negatif, pengobatan TB RO HIV. Pada pasien TB RO dengan HIV negatif, pengobatan TB RO dapat ditunda sampai trimester kedua bila kondisi pasien stabil dapat ditunda sampai trimester kedua bila kondisi pasien stabil (atau penyakit TB tidak berat) untuk menghindari terjadinya efek (atau penyakit TB tidak berat) untuk menghindari terjadinya efek teratogenik pada trimester pertama kehamilan. Beberapa prinsip teratogenik pada trimester pertama kehamilan. Beberapa prinsip pengobatan TB RO pada ibu hamil

pengobatan TB RO pada ibu hamil adalah:adalah:

▪ Wanita hamil tidak bisa mendapatkan paduan pengobatan TBWanita hamil tidak bisa mendapatkan paduan pengobatan TB RO jangka pendek.

RO jangka pendek.

▪ Obati dengan minimal empat (4) jenis OAT lini kedua oral yangObati dengan minimal empat (4) jenis OAT lini kedua oral yang diperkirakan efektif.

diperkirakan efektif.

▪ Obat pilihan untuk pengobatan TB RO pada kehamilan ialahObat pilihan untuk pengobatan TB RO pada kehamilan ialah bedaquiline dan delamanid (kategori B), serta uorokuinolon, bedaquiline dan delamanid (kategori B), serta uorokuinolon, sikloserin, dan PAS (kategori C).

sikloserin, dan PAS (kategori C).

▪ Hindari pemberian Etionamid atau Protionamid karena dapatHindari pemberian Etionamid atau Protionamid karena dapat meningkatkan mual-muntah pada kehamilan, dan terdapat meningkatkan mual-muntah pada kehamilan, dan terdapat efek teratogenik pada percobaan hewan.

efek teratogenik pada percobaan hewan.

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA 7171

  

be s at ototo s be s at ototo s

▪ Untuk pasien TB RO dengan kehamilan, dianjurkan untukUntuk pasien TB RO dengan kehamilan, dianjurkan untuk dilakukan rawat bersama dengan dokter spesialis obstetrik- dilakukan rawat bersama dengan dokter spesialis obstetrik- ginekologi.

ginekologi.

▪ Bayi yang lahir dari ibu yang sedang menjalani pengobatanBayi yang lahir dari ibu yang sedang menjalani pengobatan TB RO perlu ditata laksana bersama dengan dokter spesialis TB RO perlu ditata laksana bersama dengan dokter spesialis anak.

anak.

Pada Tabel 12 berikut dapat dilihat kategori keamanan obat TB RO Pada Tabel 12 berikut dapat dilihat kategori keamanan obat TB RO pada kehamilan.

pada kehamilan.

T

Tabel 12. abel 12. Kategori keamanan obat TB Kategori keamanan obat TB RO pada RO pada kehamilankehamilan

K

Keelloommppook k OObbaatt NNaamma a OObbaatt Kategori Keamanan padaKategori Keamanan pada Kehamilan

Kehamilan

Grup A Grup A

Levooxacin (Lfx) Levooxacin (Lfx) atau

atau Moxioxacin (Mfx) Moxioxacin (Mfx) CC B

Beeddaaqquuiilliinne e ((BBddqq)) BB L

Liinneezzoolliid d ((LLzzdd)) CC

Grup B

Grup B CCllooffaazziimmiinne e ((CCffzz)) CC Sikloserin

Sikloserin (Cs) (Cs) CC

Grup C Grup C

E

Ettaammbbuuttooll ((EE)) AA D

Deellaammaanniid d ((DDllmm)) BB P

Piirraazziinnaammiid d ((ZZ)) BB  Amikasin (Am) atau

 Amikasin (Am) atau Streptomisin (S)

Streptomisin (S) DD

Etionamid (Eto) atau Etionamid (Eto) atau Protionamid (Pto)

Protionamid (Pto) CC

P

P--aassaam m aammiinnoossaalliissiillaat t ((PPAASS)) CC

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA 72

72

  

Pasien TB RO yang sedang menyusui tidak dapat diobati Pasien TB RO yang sedang menyusui tidak dapat diobati dengan paduan pengobatan TB RO jangka

dengan paduan pengobatan TB RO jangka pendek. Hampir semuapendek. Hampir semua OAT lini kedua dapat diberikan kepada ibu menyusui kecuali OAT lini kedua dapat diberikan kepada ibu menyusui kecuali bedaquiline dan clofazimine karena obat tersebut terakumulasi bedaquiline dan clofazimine karena obat tersebut terakumulasi pada jaringan lemak payudara dan diekskresikan dalam air susu pada jaringan lemak payudara dan diekskresikan dalam air susu ibu (ASI).

ibu (ASI).

Belum ada data tentang

Belum ada data tentang distribusi Bdq dalam ASdistribusi Bdq dalam ASI dan efeknyaI dan efeknya pada bayi yang menyusui. Oleh karena itu, keputusan untuk pada bayi yang menyusui. Oleh karena itu, keputusan untuk memberikan Bdq pada ibu menyusui harus mempertimbangkan memberikan Bdq pada ibu menyusui harus mempertimbangkan manfaat ASI bagi perkembangan dan kesehatan bayi, kebutuhan manfaat ASI bagi perkembangan dan kesehatan bayi, kebutuhan klinis ibu terhadap Bdq, serta kemungkinan kejadian yang tidak klinis ibu terhadap Bdq, serta kemungkinan kejadian yang tidak diinginkan pada bayi karena Bdq dan penyakit ibunya. Diperlukan diinginkan pada bayi karena Bdq dan penyakit ibunya. Diperlukan pemantauan kejadian yang tidak diinginkan pada bayi,

pemantauan kejadian yang tidak diinginkan pada bayi, di antaranyadi antaranya hepatotoksisitas, berupa pemeriksaan fungsi hati selama hepatotoksisitas, berupa pemeriksaan fungsi hati selama pengobatan.

pengobatan.

Untuk clofazimine, mengingat terdapat data

Untuk clofazimine, mengingat terdapat data bahwa clofaziminebahwa clofazimine diekskresikan dalam ASI dan dapat menyebabkan perubahan diekskresikan dalam ASI dan dapat menyebabkan perubahan warna pada kulit bayi, maka kepada pasien yang mendapat Cfz warna pada kulit bayi, maka kepada pasien yang mendapat Cfz disarankan untuk tidak menyusui selama pengobatan dengan Cfz.

disarankan untuk tidak menyusui selama pengobatan dengan Cfz.

Perubahan warna kulit pernah dilaporkan terjadi pada bayi yang Perubahan warna kulit pernah dilaporkan terjadi pada bayi yang mendapatkan

mendapatkan ASI dari ASI dari ibu yang ibu yang mengkonsumsmengkonsumsi clofazimine.i clofazimine.

Untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi, pasien Untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi, pasien TB RO yang sedang menyusui wajib memakai masker bedah TB RO yang sedang menyusui wajib memakai masker bedah sampai mengalami konversi biakan.

sampai mengalami konversi biakan.

3.

3. Pengobatan Pengobatan TB TB RO RO pada pada Diabetes Diabetes MelitusMelitus

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit komorbid yang Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit komorbid yang dapat mempengaruhi pasien TB, baik perjalanan

dapat mempengaruhi pasien TB, baik perjalanan penyakit maupunpenyakit maupun hasil akhir pengobatannya. Prevalensi DM pada pasien TB hasil akhir pengobatannya. Prevalensi DM pada pasien TB

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA 7373

  

p , p y p ,

p , p y p ,

dan merupakan faktor prognosis yang lebih buruk dibandingkan dan merupakan faktor prognosis yang lebih buruk dibandingkan pasien TB tanpa DM. Diabetes merupakan komorbid yang sering pasien TB tanpa DM. Diabetes merupakan komorbid yang sering dijumpai pada pasien TB RO.

dijumpai pada pasien TB RO.

Diabete

Diabetes harus dikelola secara ketat selama pembes harus dikelola secara ketat selama pemberian OArian OAT liniT lini kedua. Pemberian obat antidiabetik (OAD) oral bukan merupakan kedua. Pemberian obat antidiabetik (OAD) oral bukan merupakan kontraind

kontraindikasi selama pasien mendaikasi selama pasien mendapat OApat OAT lini kedua, akan tetapiT lini kedua, akan tetapi pasien DM lebih disarankan untuk menggunakan insulin. Interaksi pasien DM lebih disarankan untuk menggunakan insulin. Interaksi OAD dan OAT (etionamid/protionamid) akan menyebabkan OAD dan OAT (etionamid/protionamid) akan menyebabkan kadar gula darah sulit dikendalikan. Pada pasien TB RO dengan kadar gula darah sulit dikendalikan. Pada pasien TB RO dengan DM, dianjurkan untuk melakukan rawat bersama dengan dokter DM, dianjurkan untuk melakukan rawat bersama dengan dokter spesialis penyakit dalam. Target pengendalian gula darah pada spesialis penyakit dalam. Target pengendalian gula darah pada pasien TB RO DM adalah dengan pemeriksaan HbA1C (<7).

pasien TB RO DM adalah dengan pemeriksaan HbA1C (<7).

Diabetes melitus mencetuskan efek samping obat Diabetes melitus mencetuskan efek samping obat antituberkulosis yang lebih berat, terutama pasien

antituberkulosis yang lebih berat, terutama pasien DM yang sudahDM yang sudah mengalami komplikasi kronik. Komplikasi kronik diabetes terdiri mengalami komplikasi kronik. Komplikasi kronik diabetes terdiri atas komplikasi makroangiopati dan

atas komplikasi makroangiopati dan mikroangiopati. Mikroangiopatimikroangiopati. Mikroangiopati terdiri dari retinopati, nefropati dan neuropati. Pada setiap pasien terdiri dari retinopati, nefropati dan neuropati. Pada setiap pasien TB RO dengan DM harus dilakukan penilaian awal terhadap status TB RO dengan DM harus dilakukan penilaian awal terhadap status komplikasi diabetesnya (apakah ada neuropati, nefropati, maupun komplikasi diabetesnya (apakah ada neuropati, nefropati, maupun retinopati DM), karena hal ini akan mempengaruhi pemilihan obat retinopati DM), karena hal ini akan mempengaruhi pemilihan obat dan pemantauan selama pengobatan.

dan pemantauan selama pengobatan.

a.

a. TB TB RO RO dengan dengan retinopati retinopati DMDM

Hati-hati penggunaan etambutol pada pasien dengan Hati-hati penggunaan etambutol pada pasien dengan retinopati DM. Penggunaan etambutol pada

retinopati DM. Penggunaan etambutol pada pasien TB dapatpasien TB dapat menyebabkan toksisitas pada mata, sehingga pengawasan menyebabkan toksisitas pada mata, sehingga pengawasan rutin selama penggunaan obat serta edukasi pasien untuk rutin selama penggunaan obat serta edukasi pasien untuk mengenali penurunan visus, penurunan lapangan pandang mengenali penurunan visus, penurunan lapangan pandang dan buta warna sangat penting untuk mencegah kerusakan dan buta warna sangat penting untuk mencegah kerusakan

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA 74

74

  

b.

b. TB TB RO RO dengan dengan nefropati nefropati DMDM

Pemantauan kreatinin dan kadar kalium darah harus Pemantauan kreatinin dan kadar kalium darah harus dilakukan secara lebih sering, setiap minggu dalam 1 bulan dilakukan secara lebih sering, setiap minggu dalam 1 bulan pertama terapi dan setiap bulan berikutnya, terutama bila pertama terapi dan setiap bulan berikutnya, terutama bila pasien menggunakan OAT injeksi golongan aminoglikosida.

pasien menggunakan OAT injeksi golongan aminoglikosida.

Kondisi tersebut berhubungan dengan efek nefrotoksik yang Kondisi tersebut berhubungan dengan efek nefrotoksik yang disebabkan oleh aminoglikosida. Dosis obat TB RO perlu disebabkan oleh aminoglikosida. Dosis obat TB RO perlu disesuaikan pada pasien dengan nefropati. Pasien TB RO disesuaikan pada pasien dengan nefropati. Pasien TB RO dengan DM dapat mengalami efek samping gangguan fungsi dengan DM dapat mengalami efek samping gangguan fungsi ginjal yang berupa:

ginjal yang berupa:

− Gangguan Gangguan elektrolit elektrolit (hipokalemia (hipokalemia dandan hipomagnesemia)

hipomagnesemia)

− Nefrotoksisitas, Nefrotoksisitas, yang yang berhubungan berhubungan dengan dengan OAOAT T injeksiinjeksi aminoglikosida. Pemberian aminoglikosida pada aminoglikosida. Pemberian aminoglikosida pada pasien dengan nefropati diabetes akan mempercepat pasien dengan nefropati diabetes akan mempercepat penurunan fungsi ginjal, dengan rerata kenaikan penurunan fungsi ginjal, dengan rerata kenaikan kreatinin 0,39 mg/dl per bulan.

kreatinin 0,39 mg/dl per bulan.

c.

c. TB TB RO RO dengan dengan neuropati neuropati DMDM

Gejala neuropati perifer yang sering terjadi adalah nyeri, rasa Gejala neuropati perifer yang sering terjadi adalah nyeri, rasa terbakar di kaki, rasa tertusuk di telapak kaki, serta kebas terbakar di kaki, rasa tertusuk di telapak kaki, serta kebas pada kaki. OAT lini kedua yang mencetuskan neuropati pada kaki. OAT lini kedua yang mencetuskan neuropati perifer adalah sikloserin, linezolid, isoniazid, etionamid, perifer adalah sikloserin, linezolid, isoniazid, etionamid,

ourokuinolon, bedaquiline, delamanid, dan clofazimin. Tiga

ourokuinolon, bedaquiline, delamanid, dan clofazimin. Tiga obat utama yang paling banyak menyebabkan neuropati obat utama yang paling banyak menyebabkan neuropati perifer adalah Sikloserin, Linezolid, dan

perifer adalah Sikloserin, Linezolid, dan Isoniazid. PemberianIsoniazid. Pemberian obat-obat tersebut pada pasien dengan neuropati DM harus obat-obat tersebut pada pasien dengan neuropati DM harus disertai dengan piridoksin. Dosis piridoksin yang diberikan disertai dengan piridoksin. Dosis piridoksin yang diberikan adalah 50 mg piridoksin setiap pemberian 250 mg sikloserin.

adalah 50 mg piridoksin setiap pemberian 250 mg sikloserin.

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA 7575

  

d.

d. Interaksi Interaksi OAOAT T dengan dengan diabetes diabetes dan dan obat obat antidiaantidiabetik betik (OAD)(OAD) Terapi OAT pada pasien DM dapat dipengaruhi oleh kondisi Terapi OAT pada pasien DM dapat dipengaruhi oleh kondisi penyakit diabetes atau oleh interaksi OAT dengan obat penyakit diabetes atau oleh interaksi OAT dengan obat antidiabetik (OAD). Perubahan farmakokinetik OAT pada antidiabetik (OAD). Perubahan farmakokinetik OAT pada pasien DM kemungkinan dipengaruhi oleh adanya

pasien DM kemungkinan dipengaruhi oleh adanya perubahanperubahan aliran darah adipose subkutan, waktu pengosongan lambung, aliran darah adipose subkutan, waktu pengosongan lambung, adanya kondisi nefropati DM, atau adanya interaksi dengan adanya kondisi nefropati DM, atau adanya interaksi dengan obat antidiabetik.

obat antidiabetik.

Bedaquiline mempunyai jalur metabolism yang sama Bedaquiline mempunyai jalur metabolism yang sama di liver dengan beberapa OAD, sedangkan Delamanid akan di liver dengan beberapa OAD, sedangkan Delamanid akan berebut ikatan protein dengan beberapa OAD dan insulin berebut ikatan protein dengan beberapa OAD dan insulin analog. Hati-hati penggunaan bedaquiline dan delamanid analog. Hati-hati penggunaan bedaquiline dan delamanid pada pasien yang berusia lebih dari 65 tahun dengan pada pasien yang berusia lebih dari 65 tahun dengan gangguan liver, renal dan gangguan elektrolit. Penggunaan gangguan liver, renal dan gangguan elektrolit. Penggunaan bersamaan delamanid dan bedaquiline dengan analog insulin bersamaan delamanid dan bedaquiline dengan analog insulin maupun OAD yang mempunyai efek

maupun OAD yang mempunyai efek memperpanjang intervalmemperpanjang interval QT (misalnya sulfonylurea dan glinide) akan memperberat QT (misalnya sulfonylurea dan glinide) akan memperberat efek samping ini. Efek samping hepar terjadi lebih sering efek samping ini. Efek samping hepar terjadi lebih sering pada penggunaan bedaquiline dan delamanide dengan pada penggunaan bedaquiline dan delamanide dengan tiazolinedione dan acarbose.

tiazolinedione dan acarbose.

4.

4. Pengobatan Pengobatan TB TB RO RO pada pada HIVHIV

Pasien dengan HIV merupakan kelompok paling rentan

Pasien dengan HIV merupakan kelompok paling rentan untukuntuk terinfeksi TB, termasuk TB resistan obat, dan sangat berisiko terinfeksi TB, termasuk TB resistan obat, dan sangat berisiko untuk berkembang menjadi TB aktif dengan angka kematian yang untuk berkembang menjadi TB aktif dengan angka kematian yang tinggi, sehingga penemuan kasus perlu dilakukan sedini mungkin tinggi, sehingga penemuan kasus perlu dilakukan sedini mungkin dan menginisasi pengobatan TB RO secepatnya. Pasien TB RO dan menginisasi pengobatan TB RO secepatnya. Pasien TB RO dengan HIV dianjurkan untuk ditata laksana bersama dengan dengan HIV dianjurkan untuk ditata laksana bersama dengan

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA 76

76

  

a.

a. Inisiasi pengoInisiasi pengobatan TB batan TB RO dan RO dan ARVARV

Pada pasien TB RO dengan HIV yang sudah memulai Pada pasien TB RO dengan HIV yang sudah memulai pengobat

pengobatan antiretrovian antiretrovirus (ARV), maka rus (ARV), maka ARV diteruskan dan obatARV diteruskan dan obat TB RO dapat segera diberikan sesudah diagnosis ditegakkan.

TB RO dapat segera diberikan sesudah diagnosis ditegakkan.

Sedangkan pada pasien TB RO dengan HIV yang belum memulai Sedangkan pada pasien TB RO dengan HIV yang belum memulai pengobatan ARV, maka pengobatan ARV dimulai dalam 8 pengobatan ARV, maka pengobatan ARV dimulai dalam 8 minggu setelah pengobatan TB RO dimulai dan toleransi pasien minggu setelah pengobatan TB RO dimulai dan toleransi pasien terhadap OAT baik, dengan tetap mempertimbangan risiko terhadap OAT baik, dengan tetap mempertimbangan risiko terjadinya

terjadinya immune reconstitutuin inamatory syndromeimmune reconstitutuin inamatory syndrome (IRIS).(IRIS).

Ketika memulai pengobatan AR

Ketika memulai pengobatan ARV dan TB V dan TB RO, perlu diperhatikanRO, perlu diperhatikan efek samping yang tumpang tindih akibat ARV dan OAT lini efek samping yang tumpang tindih akibat ARV dan OAT lini kedua, serta jumlah pil yang diminum.

kedua, serta jumlah pil yang diminum.

b.

b. Pilihan regimen Pilihan regimen ARV lini pARV lini pertamaertama

Prinsipnya harus mencakup dua nukleosida

Prinsipnya harus mencakup dua nukleosidareverse-transcriptasereverse-transcriptase inhibitor 

inhibitor  (NRTI) ditambah non-nukleosida (NRTI) ditambah non-nukleosida reverse-transcriptasereverse-transcriptase inhibitor 

inhibitor  (NNRTI). Regimen AR (NNRTI). Regimen ARV harus dipilih V harus dipilih untuk menghindariuntuk menghindari potensi toksisitas dengan OAT lini kedua. Regimen ARV yang potensi toksisitas dengan OAT lini kedua. Regimen ARV yang paling umum digunakan untuk pasien TB RO yang terinfeksi HIV paling umum digunakan untuk pasien TB RO yang terinfeksi HIV adalah AZT + 3

adalah AZT + 3TC + TC + EFVEFV.. c.

c. Prinsip Prinsip pemilihan pemilihan ARVARV

− Bdq dimetabolisme Bdq dimetabolisme oleh enzim oleh enzim CYP3A4, sehingga CYP3A4, sehingga kadarkadar obat dalam tubuh dan efek terapetiknya dapat menurun obat dalam tubuh dan efek terapetiknya dapat menurun dengan pemberian

dengan pemberian inducer inducer  CYP3A4. Di sisi lain, pemberian CYP3A4. Di sisi lain, pemberian Bdq dengan inhibitor CYP3A4 dapat meningkatkan kadar Bdq dengan inhibitor CYP3A4 dapat meningkatkan kadar obat sehingga berpotensi meningkatkan risiko efek

obat sehingga berpotensi meningkatkan risiko efek sampingsamping obat. Obat AR

obat. Obat ARV yang dapat berinteraksi dengan V yang dapat berinteraksi dengan Bdq antaraBdq antara lain efavirenz (i

lain efavirenz (inducer nducer ) dan lopinavir/ritonavir (inhibitor).) dan lopinavir/ritonavir (inhibitor).

− TTenofovir (TDF) umumnya dihindari karenenofovir (TDF) umumnya dihindari karena kemungkinana kemungkinan

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA 7777

  

resistansi ARV atau jika NRTI lainnya tidak sesuai karena resistansi ARV atau jika NRTI lainnya tidak sesuai karena efek samping berat, seperti anemia (AZT) dan neuropati efek samping berat, seperti anemia (AZT) dan neuropati perifer (d4T).

perifer (d4T).

− Stavudine (d4T) Stavudine (d4T) tidak disarankan tidak disarankan untuk digunakan untuk digunakan padapada pasien TB RO karena efek neuropati perifer yang diperberat pasien TB RO karena efek neuropati perifer yang diperberat  juga

 juga oleh oleh banyak banyak obat obat TB TB lini lini kedua kedua yang yang juga juga menimbulkanmenimbulkan neuropati perifer.

neuropati perifer.

− Zidovudine (AZT) Zidovudine (AZT) tidak boleh tidak boleh dimulai pada dimulai pada pasienpasien dengan hemoglobin kurang dari 7 g/dL, yang biasa terjadi dengan hemoglobin kurang dari 7 g/dL, yang biasa terjadi pada pasien dengan TB RO. Hal ini karena AZT dapat pada pasien dengan TB RO. Hal ini karena AZT dapat menyebabkan gangguan hematologi, seperti anemia berat.

menyebabkan gangguan hematologi, seperti anemia berat.

− Nevirapine Nevirapine (NVP) (NVP) umumnya umumnya dihindari dihindari karena rikarena risikosiko hepatotoksisitas bila digunakan bersamaan dengan hepatotoksisitas bila digunakan bersamaan dengan pirazinamid.

pirazinamid.

− Efavirens (EFV) Efavirens (EFV) adalah adalah obat pobat pilihan dalam ilihan dalam penanganan penanganan TBTB RO dengan paduan yang mengandung pirazinamid.

RO dengan paduan yang mengandung pirazinamid.

d.

d. Interaksi obat TInteraksi obat TB lini kedua dan B lini kedua dan ARVARV

Beberapa obat TB yang dapat berinteraksi dengan obat ARV Beberapa obat TB yang dapat berinteraksi dengan obat ARV ialah:

ialah:

− Kuinolon Kuinolon dan dan didanosine didanosine (DDI)(DDI)  

  Fluorokuinolon Fluorokuinolon jika jika diberikan diberikan bersamaan bersamaan dengan dengan DDI,DDI, maka absorbsi uorokuinolon akan menurun. Oleh sebab maka absorbsi uorokuinolon akan menurun. Oleh sebab itu, sebaiknya DDI diberikan 6 jam sebelum atau 2 jam itu, sebaiknya DDI diberikan 6 jam sebelum atau 2 jam sesudah pemberian uorokuinolon.

sesudah pemberian uorokuinolon.

− Bedaquiline Bedaquiline dan dan efavirensefavirens  

  Efavirens Efavirens akan akan menurunkan menurunkan kadar kadar Bedaquiline Bedaquiline sebanyaksebanyak 20-50%, sehingga diperlukan dosis penyesuaian dengan 20-50%, sehingga diperlukan dosis penyesuaian dengan monitoring kadar terapeutik.

monitoring kadar terapeutik.

PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA PETUNJUK TEKNIS PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTAN OBAT DI INDONESIA 78

78