Komplikasi Vaskular
2. Komplikasi vaskular jangka Panjang
Komplikasi vaskular jangka panjang DM meliputi mikroangiopati dan makroangiopati. Adanya pertumbuhan dan kematian sel merupakan dasar terjadinya komplikasi vaskuler, terutama terjadi pada endotel pembuluh darah, sel
40
otot polos pembuluh darah maupun pada sel mesangial ginjal yang menyebabkan perubahan pada pertumbuhan dan kesintesaan sel. ⁴ Mikroangiopati merupakan lesi spesifik DM yang menyerang kapiler dan arteriol retina (retinopati diabetik), glomerulus ginjal (nefropati diabetik) dan saraf- saraf perifer (neuropati diabetik), otot-otot dan kulit.
Makroangiopati diabetik mempunyai gambaran histopatologis berupa aterosklerosis, yang disebabkan karena penimbunan sorbitol dalam intima vaskular.
Makroangiopati diabetik dapat menyebabkan penyumbatan vaskuler. Bila mengenai arteri perifer maka dapat mengakibatkan insufiensi vaskuler perifer disertai claudicatio intermittent dan gangren pada ekstremitas. Bila yang terkena arteri koronaria dan aorta maka dapat mengakibatkan angina dan infark miokard. ²ˈ¹⁴ˈ²⁷
a. Makroangiopati
Komplikasi makrovaskuler pada DM dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler, stroke, dislipidemia, penyakit pembuluh darah perifer dan hipertensi. Kondisi ini timbul akibat aterosklerosis dan pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plak ateroma.
41
Makroangioati tidak spesifik pada DM, namun pada DM timbul lebih cepat, lebih sering terjadi dan lebih serius.
Berbagai studi epidemiologis menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit, kardiovaskular dan penderita DM meningkat 4-5 kali dibandingkan orang normal. Komplikasi makroangiopati umumnya tidak ada hubungannya dengan kontrol kadar glukosa darah darah yang balk. Tetapi telah terbukti secara epidemiologi bahwa hiperinsulinemia merupakan suatu faktor resiko mortalitas kardiovaskular, dimana peningkatan kadar insulin menyebabkan risiko kardiovaskular semakin tinggi pula. Kadar insulin puasa > 15 mU/mL akan meningkatkan risiko mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat. Hiperinsulinemia kini dikenal sebagai faktor aterogenik dan diduga berperan penting dalam timbulnya komplikasi makrovaskular.²ˈ²⁷
Berdasarkan studi epidemiologis, maka DM merupakan suatu faktor risiko koroner. Ateroskierosis koroner ditemukan pada 50-70% penderita DM. Akibat gangguan pada koroner timbul insufisiensi koroner atau angina pektoris (nyeri dada paroksismal serti tertindih benda berat dirasakan didaerah rahang bawah, bahu, lengan hingga pergelangan tangan) yang timbul saat beraktifitas atau emosi
42
dan akan mereda setelah beristirahat atau mendapat nitrat sublingual. Akibat yang paling serius adalah infark miokardium, di mana nyeri menetap dan lebih hebat dan tidak mereda dengan pembenian nitrat. Namun gejala-gejala inii dapat tidak timbul pada penderita DM sehigga perlu perhatian yang lebih teliti. ²ˈ¹⁴
Stroke Aterosklerosis serebri merupakan penyebab mortalitas kedua tersering pada penderita diabetes. Kira-kira sepertiga penderita stroke juga menderita DM. Stroke lebih sering timbul dan dengan prognosis yang lebih serius untuk penderita DM. Akibat berkurangnya aliran atrteri karotis interna dan arteri vertebralis timbul gangguan neurologis akibat iskemia, berupa pusing, sinkop, hemiplegia parsial atau total, afasia sensorik dan motorik. Keadaan pseudo- dementia Penyakit pembuluh darah Proses awal terjadinya kelainan vaskuler adalah adanya aterosklerosis, yang dapat terjadi pada seluruh pembuluh darah. Apabila terjadi pada pembuluh darah koronaria, maka akan meningkatkan risiko terjadi infark miokard, dan pada akhirnya terjadi payah jantung. Kematian dapat terjadi 2-5 kali lebih besar pada DM dibanding pada orang normal. Risiko ini akan meningkat lagi apabila terdapat keadaan keadaan seperti dislipidemia,
43
obesitas, hipertensi atau merokok. Penyakit pembuluh darah pada DM lebih sering dan lebih awal terjadi pada penderita DM dan biasanya mengenai arteri distal di bawah lutut.²⁸
Pada DM, penyakit pembuluh darah perifer biasanya terlambat didiagnosis yaitu bila sudah mencapai fase IV.
Faktor neuropati, makroangiopati dan mikroangiopati yang disertai infeksi merupakan faktor utama terjadinya proses gangrene diabetik. Pada penderita dengan gangrene dapat mengalami amputasi, sepsis, atau sebagai faktor pencetus koma, ataupun kematian. Komplikasi neuropati umumnya berupa polineuropati diabetika, lebih 50 % diderita oleh penderita DM. Manifestasi klinis dapat berupa gangguan sensoris, motorik, dan otonom. Proses kejadian neuropati biasanya progresif dimana terjadi degenerasi serabut- serabut saraf dengan gejala-gejala nyeri atau bahkan baal.
Bagian yang terserang biasanya adalah serabut saraf tungkai atau lengan.²⁸ˈ²⁹
b. Mikroangiopati 1) Retinopati diabetik.
Retinopati diabetik merupakan komplikasi DM yang memicu penyumbatan pada pembuluh darah pada bagian retina
44
mata. Awalnya, retinopati diabetik tidak menunjukkan gejala, tetapi seiring waktu, gejala dapat muncul dan umumnya terjadi pada kedua mata. Gejala retinopati diabetik antara lain penglihatan menurun secara bertahap, tampak bercak hitam pada penglihatan, tampak noda yang melayang pada penglihatan (floaters), penglihatan berbayang, sulit membedakan warna dan nyeri pada mata atau mata merah.
Pengendalian kadar glukosa darah dan tekanan darah yang baik akan menurunkan risiko atau memperlambat progresi terjadinya retinopati. Pemberian terapi aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati. komplikasi Retinopati diabetik bila tidak segera diobati, pembuluh darah baru yang tumbuh secara tidak normal di retina dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang serius, bahkan kebutaan.
Beberapa komplikasi retinopati diabetik yang mungkin terjadi, antara lain: ³⁰ˈ³¹
Perdarahan vitreus. Kondisi ini terjadi bila darah masuk ke bagian tengah mata, akibat pecahnya pembuluh darah yang baru terbentuk. Apabila darah yang bocor hanya sedikit, pasien hanya akan melihat noda yang melayang (floaters).
Namun bila darah yang bocor cukup banyak, penglihatan pasien akan terhalang sepenuhnya. Walaupun perdarahan
45
vitreus umumnya menghilang dalam hitungan minggu atau bulan, pasien tetap berisiko kehilangan penglihatan secara permanen bila retina telah rusak.
Ablasi retina. Pembuluh darah baru yang muncul akibat retinopati diabetik, dapat merangsang pembentukan jaringan parut pada retina. Jaringan parut ini dapat menarik retina dari posisinya sehingga menyebabkan penglihatan kabur, bahkan memicu kebutaan.
Glaukoma. Bila pembuluh darah baru tumbuh di bagian depan mata, saluran air mata dapat tersumbat. Kondisi tersebut akan memicu glaukoma (peningkatan tekanan di dalam bola mata). Glaukoma dapat merusak saraf dan menyebabkan gangguan penglihatan.
Kebutaan. Apabila tidak segera ditangani, retinopati diabetik, glaukoma, atau kombinasi keduanya, dapat menyebabkan kebutaan.
2) Nefropati diabetik.
Nefropati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular yang terjadi pada perjalanan penyakit DM, bermula dari adanya hiperfiltrasi, mikroalbuminuria dan hipertensi serta berkembang menjadi penyakit ginjal diabetes atau Nefropati
46
Diabetik. Nefropati Diabetik dibagi dalam 5 tahapan yaitu tahap 1; hipertrofi dan hiperfiltrasi, tahap 2; adanya perubahan histopatologis berupa penebalan membrane basalis dan peningkatan matriks mesangium, tahap 3; mulai adanya mikroalbuminuria yang nyata dan umumnya sudah mulai terdapat peningkatan tekanan darah, tahap 4; ditandai adanya proteinuria yang persisten, umumnya komplikasi klinis sudah nyata seperti retinopati,neuropati,dislipidemia, tahap 5; dengan adanya penurunan laju filtrasi glomerulus secara kronik progresif.³²
Faktor resiko yang menyebabkan nefropati diabetik pada seorang penderita DM adalah:²ˈ²⁸
1. Hiperglikemia, merupakan faktor utama penyebab terjadinya Hiperfiltrasi pada Glomerulus, cedera ginjal, pelepasan Sitokin dan produk Glikosilasi.
2. Hipertensi sistemik maupun glomerular menyebabkan vasodilatasi arteriol aferen glomerulus dan menambah hiperfiltrasi yang sudah ada.
3. Dislipidemia , terutama peranan kadar LDL dan TG yang tinggi adalah merupakan agen proinflamasi yang berperan pada disfungsi endotel
47
4. Genetik dan ras, faktor penyakit dalam keluarga menunjukan adanya kerentanan terhadap Nefropati Diabetik.
5. Merokok, sudah disadari bahwa resiko perokok terhadap Nefropati Diabetik lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tidak merokok.
Penanganan nefropati diabetik yang baik adalah bermula dari pengendalian faktor resiko yang masih dapat dimodifikasi dengan diet dan perubahan gaya hidup dan aktifitas fisik. Pengendalian kadar glukosa darah, tekanan darah, dislipidemia yang baik pada penderita DM akan menurunkan risiko atau memperlambat progresi terjadinya nefropati. Menurunkan asupan protein sampai di bawah 0,8gram/kgBB/hari tidak direkomendasikan bagi penderita penyakit ginjal diabetik, karena tidak memperbaiki risiko kardiovaskuler dan dapat menurunkan GFR ginjal.²ˈ²⁹
3) Neuropati.
Patogenesis dari neuropati diabetik merupakan hal yang kompleks, dan mekanisme dari penyakit ini masih belum dimengerti sepenuhnya, dan berbagai hipotesis telah
48
diajukan. Hiperglikemia atau kadar glukosa dalam darah yang tinggi diyakini sebagai kondisi yang bertanggung jawab untuk perubahan yang terjadi pada jaringan saraf. Terdapat dua mekanisme utama yang diperkirakan memiliki peran cukup penting dalam terjadinya neuropati diabetik, yaitu gangguan vaskular dan gangguan metabolisme ²³. Pada neuropati perifer, hilangnya sensasi distal merupakan faktor penting yang berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki yang meningkatkan risiko amputasi. Gejala yang sering dirasakan berupa kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, dan terasa lebih sakit di malam hari. Setelah diagnosis DM tipe 2 ditegakkan, pada setiap pasien perlu dilakukan skrinning untuk mendeteksi adanya polineuropati distal yang simetris dengan melakukan pemeriksaan neurologi sederhana (menggunakan monofilamen 10 gram). Pemeriksaan ini kemudian diulang paling sedikit setiap tahun. Pada keadaan polineuropati distal perlu dilakukan perawatan kaki yang memadai untuk menurunkan risiko terjadinya ulkus dan amputasi. Pemberian terapi antidepresan trisiklik, gabapentin atau pregabalin dapat mengurangi rasa sakit.
Semua penderita DM yang disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi risiko
49
ulkus kaki. Untuk pelaksanaan penyulit ini seringkali diperlukan kerja sama dengan bidang/disiplin ilmu lain. ²⁴ˈ³⁵
Gambar 9: Patofisiologi Komplikasi Mikro dan
Makrovaskuler Pada DM. ⁹
50 PENCEGAHAN DM
Upaya pencegahan bertujuan untuk memperlambat timbulnya DM, menjaga fungsi sel beta pankreas optimal dalam menghasilkan insulin, mencegah atau memperlambat terjadinya gangguan pada pembuluh darah dan jantung.
Upaya pencegahan terdiri dari pencegahan untuk kelompok beresiko, pencegahan terjadinya komplikasi dan penyulit, pencegahan terjadinya kecacatan pada DM dengan penyulit.²ˈ¹⁴ˈ³⁸
Pencegahan untuk kelompok beresiko.
Kelompok yang berisiko perlu dilakukan upaya pencegahan agar tidak terkena DM. Mereka belum menderita DM akan tetapi berpotensi mengalami intoleransi glukosa dan terkena DM. Upaya pencegahan DM pada kelompok yang berisiko dilakukan dengan mengubah gaya hidup dengan menerapkan pola hidup sehat yang meliputi olah raga, menjaga berat badan ideal, dan pengaturan pola makan sehat. Upaya Pencegahan primer dilakukan dengan tindakan penyuluhan dan pengelolaan yang ditujukan untuk kelompok masyarakat berisiko tinggi DM dan intoleransi glukosa. Berbagai bukti yang kuat menunjukkan bahwa
51
perubahan gaya hidup dapat mencegah DM. Perubahan gaya hidup harus menjadi intervensi awal bagi kelompok risiko tinggi. Perubahan gaya hidup juga dapat sekaligus memperbaiki berbagai faktor risiko DM dan sindroma metabolik lainnya seperti obesitas, hipertensi, dislipidemia, dan hiperglikemia.²ˈ¹⁴
Indikator keberhasilan intervensi gaya hidup adalah penurunan berat badan 0,5-1 kg/minggu atau 5-7%
penurunan berat badan dalam 6 bulan dengan cara mengatur pola makan dan meningkatkan aktifitas fisik. Penelitian Diabetes Prevention Programme (DPP) menunjukkan bahwa intervensi gaya hidup yang intensif dapat menurunkan 58%
insiden DM tipe 2 dalam tiga tahun. Tindak lanjut dari DPP Outcome Study menunjukkan penurunan insiden DM tipe 2 sampai 34% dan 27 % dalam 10 dan 15 tahun.²ˈ³⁸
Perubahan gaya hidup yang dianjurkan untuk individu risiko tinggi DM dan intoleransi glukosa adalah: ²ˈ³⁹
1. Pengaturan pola makan.
Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal. Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan puncak (peak) glukosa darah yang tinggi
52
setelah makan. Komposisi diet sehat mengandung sedikit lemak jenuh dan tinggi serat larut.
2. Meningkatkan aktifitas fisik dan latihan fisik.
Latihan fisik yang dianjurkan adalah latihan dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu dengan latihan aerobik sedang (mencapai 50-70% denyut jantung maksimal) atau 90 menit/minggu dengan latihan aerobik berat (mencapai denyut jantung > 70% maksimal). Latihan fisik dibagi menjadi 3-4 kali aktivitas/minggu
3. Menghentikan kebiasaan merokok.
Merokok, walaupun tidak secara langsung menimbulkan intoleransi glukosa, dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM. Oleh karena itu, pasien juga dianjurkan berhenti merokok.
4. Intervensi farmakologis. ²ˈ³⁶ˈ³⁸
Tidak semua individu dengan risiko tinggi dapat menjalankan perubahan gaya hidup dan mencapai target penurunan berat badan seperti yang diharapkan, oleh karena itu dibutuhkan intervensi obat-obatan. Intervensi farmakologis untuk pencegahan DM direkomendasikan sebagai intervensi sekunder yang diberikan setelah atau bersamaan dengan intervensi perubahan gaya hidup.
53
Metformin merupakan obat yang dapat digunakan dalam pencegahan diabetes dengan bukti terkuat dan keamanan jangka panjang terbaik. Metformin dapat dipertimbangkan pemberiannya pada pasien pre-diabetes berusia < 60 tahun dengan obesitas atau wanita dengan riwayat diabetes gestasional. Obat lain yang dapat dipertimbangkan adalah alfa glukosidase inhibitor (Acarbose) yang bekerja dengan cara menghambat kerja enzim alfa glukosidase yang mencerna karbohidrat. Berdasarkan studi STOP-NIDDM dalam tindak lanjut selama 3,3 tahun, acarbose terbukti menurunkan risiko DM tipe 2 sampai 25% dan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 49%.
Pencegahan terjadinya komplikasi dan penyulit.
Upaya pencegahan dilakukan terhadap penderita DM agar tidak terjadi komplikasi DM dan menghambat timbulnya penyulit. Tindakan pencegahan ini dilakukan dengan pengendalian kadar glukosa sesuai target terapi serta pengendalian faktor risiko penyulit yang lain dengan pemberian pengobatan yang optimal. Melakukan deteksi dini adanya penyulit merupakan bagian dari pencegahan sekunder. Tindakan ini dilakukan sejak awal pengelolaan
54
penyakit DM. Program penyuluhan memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program pengobatan sehingga mencapai target terapi yang diharapkan. Penyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan perlu selalu diulang pada pertemuan berikutnya. ²ˈ¹⁴
Beberapa kegiatan yang direkomendasikan untuk mencapai program pencegahan pada penderita DM yaitu: ²ˈ¹⁴ 1. Diet
Diet yang dianjurkan adalah makanan yang berserat tinggi seperti buah dan sayuran, rendah gula dan banyak minum air putih.
2. Olahraga yang teratur.
Olah raga yang dapat dilakukan adalah:
a) Olahraga intermiten (1-3-1) untuk mengelola kadar glukosa darah dan memperbaiki profil lipid. Perbandingan irama gerak 1-3-1 artinya 1 (anaerob), 3 (aerob), dan 1 (anaerob).
b) Stretching dan loosening untuk kelenturan sendi dan lancarnya aliran darah tepi.
c) Meditasi dan senam pernapasan. Olahraga yang dianjurkan untuk penderita DM adalah olahraga aerobic low impact dan ritmis seperti senam, jogging, berenang dan naik
55
sepeda. Porsi latihan juga harus diperhatikan, latihan yang berlebihan akan merugikan kesehatan, sedangkan Latihan yang terlalu sedikit tidak begitu bermanfaat. Penentuan porsi latihan tersebut harus memperhatikan intensitas latihan, lama latihan dan frekuensi latihan.
Pencegahan terjadinya kecacatan pada DM dengan penyulit Upaya pencegahan ini ditujukan pada kelompok penderita DM yang telah mengalami penyulit sehingga mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan meningkatkan kualitas hidup. Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan menetap. Pada upaya pencegahan ini tetap dilakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.
Upaya pencegahan ini membutuhkan unit pelayanan kesehatan komprehensif dan terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit rujukan. Dibutuhkan kerjasama yang baik antara para ahli di berbagai disiplin (jantung, ginjal, mata, saraf, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi medis, gizi, pediatris, dan lain-lain)
56
dalam menunjang keberhasilan pencegahan terjadinya kecacatan dan meningkatkan kualitas hidup.²ˈ¹⁴
Gambar 10. Skema Upaya Pencegahan DM ²ˈ¹⁴
PENGENDALIAN DM
Tujuan umum penatalaksanaan adalah meningkatkan kualitas hidup penderita DM. Tujuan penatalaksanaan dibagi menjadi: 1) tujuan jangka pendek yaitu menghilangkan
Upaya Pencegahan
DM
Pencegahan Kelompok Beresiko DM
-Menjaga pola hidup sehat -Menjaga berat badan normal
Pencegahan Kompllikasi &
Penyulit pada DM
-Pengendalian glukosa darah dan faktor resiko dengan pengobatan -Deteksi dini adanya penyulit
Pencegahan Kecacatan pada DM
dengan Penyulit
-Upaya rehabilitasi dini
-Edukasi tentang rehabilitasi pada pasien dan keluarga
57
keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko komplikasi akut. 2) tujuan jangka panjang mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati dan makroangiopati. 3) tujuan akhir yaitu turunnya morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara komprehensif.²ˈ³⁸ˈ⁴⁰
Penatalaksanaan DM diawali dengan menerapkan pola hidup sehat dengan pengaturan diet dan aktivitas fisik, bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan obat anti hiperglikemia secara oral dan/atau suntikan. Obat anti hiperglikemia oral dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi. Pada keadaan emergensi dengan dekompensasi metabolik berat, misalnya: ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat, atau adanya ketonuria, harus segera dirujuk ke pelayanan kesehatan yang lengkap terkait penanganan emergensi ini. Edukasi tentang pemantauan mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Edukasi tentang pemantauan mandiri tersebut dapat dilakukan setelah mendapat pelatihan khusus.²ˈ⁴⁰
58 Sasaran Pengendalian DM
Kriteria pengendalian didasarkan pada hasil pemeriksaan kadar glukosa, kadar HbA1C, dan profil lipid. Definisi DM yang terkendali baik adalah apabila kadar glukosa darah, kadar lipid, dan HbA1c mencapai kadar yang diharapkan, serta status gizi maupun tekanan darah sesuai target yang ditentukan.
Tabel 3. Sasaran Pengendalian DM²ˈ³⁸
Parameter Sasaran
IMT (kg/m2 ) 18,5 - < 23 Tekanan darah sistolik
(mmHg)
< 140 Tekanan darah diastolik
(mmHg)
<90 Glukosa darah preprandial
kapiler (mg/dl)
80-130 Glukosa darah 1-2 jam PP
kapiler (mg/dl)
<180
HbA1c (%) < 7(atau individual) Kolesterol LDL (mg/dl) <100 (<70 bisa risiko
gangguan
kardiovaskuler sangat tinggi
59
Kolesterol HDL (mg/dl) Laki-laki >40 Perempuan
>50 Trigliserida (mg/dl) <150 Keterangan: PP = Post prandial
Upaya Pengendalian DM
Untuk mencapai sasaran di atas dapat dilakukan melalui upaya pengendalian DM secara komprehensif seperti pada gambar di bawah ini:
Gambar 11. Skema Pengendalian DM ²ˈ³⁹
60 1. Edukasi
Edukasi kesehatan kepada pasien DM merupakan komponen yang penting, pasien memiliki peran yang penting dalam manajemen diri selain didukung oleh tim kesehatan, keluarga, maupun orang-orang di sekitarnya. ADA telah mencatat perubahan perilaku yang diharapkan dari adanya pendidikan kesehatan (Self-Management Education Programs), yaitu: tingkat pengetahuan, sikap dan keyakinan, status psikologis, kondisi fisik, serta pola hidup yang sehat.
²ˈ³⁸
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari pengelolaan DM secara holistik. Materi edukasi terdiri dari materi edukasi tingkat awal dan materi edukasi tingkat lanjutan. Materi edukasi pada tingkat awal dilaksanakan di Pelayanan Kesehatan Primer yang meliputi: materi tentang perjalanan penyakit DM, makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara berkelanjutan, penyulit DM dan risikonya, Intervensi non-farmakologis dan farmakologis serta target pengobatan, interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan obat antihiperglikemia oral atau insulin
61
serta obat-obatan lain, cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia), mengenal gejala dan penanganan awal hipoglikemia, pentingnya latihan fisiik yang teratur, pentingnya perawatan kaki, cara mempergunakan fasilitas perawatan Kesehatan.²ˈ³⁸
Materi edukasi pada tingkat lanjut dilaksanakan di pelayanan kesehatan sekunder dan/atau tersier, yang meliputi: mengenal dan mencegah penyulit akut DM, pengetahuan mengenai penyulit menahun DM, penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain, rencana untuk kegiatan khusus (contoh: olahraga prestasi), kondisi khusus yang dihadapi (contoh: hamil, puasa, hari-hari sakit), hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir tentang DM, pemeliharaan atau perawatan kaki. ²ˈ³⁹
Perilaku hidup sehat penderita DM yang harus dibangun adalah:
1) Mengikuti pola makan sehat.
2) Meningkatkan aktivitas dan latihan fisik yang teratur.
62
3) Menggunakan obat DM dan obat lainya pada keadaan khusus secara aman dan teratur.
4) Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan hasil pemantauan untuk menilai keberhasilan pengobatan.
5) Melakukan perawatan kaki secara berkala.
6) Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat.
7) Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan mau bergabung dengan kelompok penderita diabetes serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penderita DM.
8) Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada