BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Landasan Konseptual
2.2.3 Komunikasi Pimpinan
Menurut Hasibuan (2011:157) “Pemimpin adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinanya untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan, menurut Kartono (2010:18) “Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, disuatu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
20
Sedangkan kepemimpinan menurut Sedarmayanti (2009:120) adalah : a. Proses dalam mempengaruhi orang lain agar melakukan atau tidak
melakukan sesuatu yang diinginkan seorang pemimpin.
b. Hubungan interaksi antar pengikut dengan pimpinan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
c. Proses mempengaruhi aktivitas/perilaku kelompok yang diorganisasikan ke arah pencapaian tujuan.
d. Proses memberi arti (pengarahan berarti) terhadap usaha kolektif dan menyebabkan adanya kesediaan untuk melakukan aktivitas/perilaku yang diingiknkan untuk pencapaian sasaran.
e. Proses mempengaruhi kegiatan individu/kelompok dalam usaha mencapai tujuan pada situasi tertentu
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, pimpinan adalah seseorang yang mampu mengendalikan, memproses dan membuat kebijakan untuk orang lain atau bawahannya dalam rangka mencapai tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan kepemimpinan merupakan sikap yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk dapat memaksimalkan segala potensi yang ada untuk merealisasikan targetnya melalui serangkaian visi dan misi yang baik. Hal ini tentu menjadi hal yang wajib dimiliki oleh setiap organisasi terlebih perusahaan, agar perusahaan tersebut dapat berjalan dengan baik.
Setiap kepemimpinan mempunyai gayanya masing-masing dalam memberikan arahan atau berprilaku di dalam tugasnya. Menurut Hasibuan (2011:162), “Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan merupakan salah satu posisi kunci dimana seorang pemimpin harus bisa mempengaruhi, mengarahkan, dan menunjukan kemampuannya.” Sedangkan Sedarmayanti berpendapat bahwa
“Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak-gerik yang
21
bagus, kekuatan, kesanggupan untuk berbuat baik. Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran tercapai atau gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan seorang pemimpin”. Sedarmayanti (2009:131)
Adapun mengenai jenis ataupun macam-macam gaya kepemimpinan, ada banyak ahli menguraikan tentang masalah tersebut. Diantaranya menurut Rivai (2004:122) yaitu:
a. Gaya Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter disebut juga kepemimpinan direktif atau diktator.
Pemimpin memberikan instruksi kepada bawahan, menjelaskan apa yang harus dikerjakan, selanjutnya karyawan menjalankan tugasnya sesuai dengan yang diperintahkan oleh atasan. Gaya kepemimpinan ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi.
b. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Gaya kepemimpinan ini ditandai oleh adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dalam gaya kepemimpinan ini, ada kerjasama antara atasan dengan bawahan. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
c. Gaya Kepemimpinan Bebas (Laissez-Faire)
Gaya kepemimpinan ini memberikan kekuasaan penuh pada bawahan, struktur organisasi bersifat longgar, pemimpin bersifat pasif. Peran utama pimpinan adalah menyediakan materi pendukung dan berpartisipasi jika diminta bawahan.
Sedangkan menurut Siagian (2010:27) ada lima tipe kepemimpinan yang diakui keberadaanya, yaitu tipe otokratik, paternalistic, kharismatik, bebas, dan demokratik.
22
a. Tipe Otokratik
Seorang pemimpin yang otokratik akan menerjemahkan disiplin kerja yang tinggi ditujukan oleh para bawahannya sebagai perwujudan kesetiaan para bawahan kepadanya, padahal sesungguhnya disiplin kerja itu didasarkan pada ketakutan, bukan kesetiaan. Egonya menumbuhkan dan mengenmbangkan persepsinya bahwa tujuan organisasi identik dengan tujuan pribadinya dan karenanya organisasi diperlakukannya sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi tersebut. Pemimpin ini cenderung menganut nilai organisasional yang berkisar pada pembenaran segala cara yang di tempuh untuk pencapaian tujuannya. Tindakannya akan dinilai benar apabila tindakan itu mempermudah tercapainya tujuan dan tindakan penghalang akan di nilai tidak baik dengan demikian akan disingkirkan bila perlu menggunakan kekerasan. Pemimpin ini menonjolkan ke- akuannya sebagai pimpinan dan menerapkan disiplin kekakuan yang ketat kepada bawahannya.
b. Tipe Paternalistik
Persepsi seorang pemimpin paternalistik tentang peranannya dalam kehidupan organisasional dapat dikatakan diwarnai oleh harapan para pengikutnya kepadanya. Harapan itu pada umumnya berwujud keinginan agar pemimpin mereka mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya untuk memperoleh petunjuk. Pemimpin ini biasanya mengutamakan kebersamaan, artinya pemimpin bersangkutan berusaha untuk
23
memperlakukan semua orang dan semua satuan kerja yang terdapat di dalam organisasi dengan adil dan sama rata. Hanya saja hubungan tersebut dipandang bahwa bawahannya belum mencapai tingkat kedewasaan sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat dibiarkan bertindak sendiri, sehingga memerlukan bimbingan dan tuntunan terus menerus. Pimpinan ini menginginkan keberadaanya tidak lagi dipertanyakan (legitimasi), serta dalam pengambilan keputusan pimpinan menganggap tidak perlu berkonsultasi lagi.
c. Tipe Kharismatik
Pemimpin ini ialah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi. Bawahan dari tipe pimpinan ini tidak mempersoalkan nilai-nilai yang di anut, sikap, dan perilaku serta gaya yang digunakan oleh pemimpin. Pemimpin tipe ini akan tetap dikagumi oleh bawahan meskipun pimpinan dapat juga menggunakan gaya otokratik.
d. Tipe Laissez Faire (Bebas)
Seorang pemimpin ini cenderung memilih peranan yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi harus dijalankan. Sikap seorang pemimpin Laissez Faire dalam memimpin organisasi dan para bawahannya adalah bersikap permisif, dalam arti bahwa para anggota organisasi boleh saja bertindak sesuai keyakinannya asal saja kepentingan bersama tetap
24
terjaga dan tujuan organisasi tetap tercapai. Tipe ini mengarah pada tindak-tanduk yang memperlakukan bawahan seperti rekan kerja, hanya saja kehadirannya sebagai pemimpin diperlukan sebagai akibat dari struktur dan hirarki organisasi.
e. Tipe Demokratik
Pemimpin yang demokratik memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi. Satu rumus yang nampaknya sangat sederhana, akan tetapi sesungguhnya merupakan sumber dari semua persepsi, sikap, perilaku dan gaya kepemimpinan seseorang. Tipe ini memperlakukan organisasi sebagai wahana untuk mencapai tujuan bersama. Jika terjadi kesalahan pada bawahan, dia tidak langsung menghukum, namun meluruskan permasalahan sehingga bawahan tidak melakukan kesalahan yang sama dan lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Pimpinan demoktarik ini akan mendengarkan setiap kritik dan saran dari bawahannya dan membebaskan bawahan untuk mengembangkan diri mereka sesuai kemampuan mereka masing-masing maka disinilah peran bawahan tipe ini sangat aktif. Tipe pimpinan ini juga akan melakukan pendelegasian wewenang kepada bawahan yang dianggapnya mampu dan akan cepat memberikan pengahargaan kepada bawahan jika berprestasi dalam bentuk pujian dan reward. Karena itula pimpinan ini sangat dihormati dan disegani oleh bawahan.
25
B. Aspek-aspek Komunikasi Atasan Kepada Bawahan
Tubbs dan Moss (2005:69) mengemukakan aspek-aspek komunikasi atasan kepada bawahan yang efektif, yaitu :
a. Pemahaman
Pemahaman merupakan penerimaan yang cermat dari karyawan engenai isi pesan yang dimaksud oleh atasan. Isi pesan tersebut dapat bersifat verbal maupun nonverbal seperti memo, buku pedoman atau kebijakan.
Karyawan diharapkan dapat memahami pesan yang disampaikan atasan sesuai dengan maksud atasan sehingga apa yang karyawan kerjakan tepat sasaran. Ketepatan pemahaman karyawan terhadap tugas-tugas atau perintah yang diberikan atasan sangat penting karena akan mempengaruhi bagaimana penerapannya dan hasil kerjanya, untuk itu organisasi perlu mengambil langkah yang tepat dalam memastikan bahwa semua pegawai memiliki keahlian yang perlu untuk menerjemahkan pesan-pesan secara efektif. Semakin dekat pesan yang diterjemahkan dengan maksud komunikator maka semakin efektif komunikasi yang terjadi.
b. Perubahan Sikap
Komunikasi ditujukan untuk mempengaruhi karyawan baik dalam pendapat, sikap dan tindakan sesuai dengan yang diharapkan atasan, dalam rangka mencapai tujuan-tujuan dan nilai-nilai organisasi. Koontz et al, berpendapat bahwa komunikasi dapat dijadikan sebagai sarana untuk memodifikasi perilaku dan mempengaruhi perubahan. Dengan adanya komunikasi, koordinasi dan perubahan dapat dilakukan dengan baik.
26
c. Hubungan sosial yang baik
Komunikasi diharapkan dapat menimbulkan suatu hubungan sosial yang baik antara atasan dan bawahan dalam arti dapat menimbulkan kepercayaan antara kedua pihak, tidak terjadi kesalahpahaman, menciptakan interaksi yang baik, atasan dapat mengendalikan dan memotivasi bawahan, sedangkan bawahan pun mau untuk dikendalikan dan dimotivasi oleh atasan.
d. Tindakan
Komunikasi dapat mendorong karyawan untuk bertindak sesuai dengan yang dimaksud atasan, tanpa rasa keterpaksaan. Efektivitas komunikasi diukur dari tindakan nyata yang ditunjukan oleh karyawan. Untuk dapat menimbulkan tindakan, atasan harus berhasil menanamkan pemahaman, meyakinkan karyawan agar mengubah sikap sesuai tujuan organisasi dan menumbuhkan hubungan yang baik dengan karyawan.