• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi Penelitian

Dalam dokumen manajemen kesiswaan dalam menanggulangi (Halaman 35-97)

BAB III METODE PENELITIAN

B. Lokasi Penelitian

kesiswaan b. Menggunakan

pendekatan kualitatif

a. Fokus (Spiritual Quotient)

b. Lokasi penelitian (MAN

Lumajang)

Difokuskan pada penanggulangan degradasi

kompetensi sikap spiritual dan sosial 2 Hafidz

Iqbal Wira Damiri (2015)

a. Membahas tentang manajemen

kesiswaan b. Menggunakan

pendekatan kualitatif

a. Fokus (peningkatan prestasi belajar PAI)

b. Lokasi penelitian (SMK Negeri 1 Lumajang

Difokuskan pada penanggulangan degradasi

kompetensi sikap spiritual dan sosial

3 Muhamad Bagus Aminullah (2017)

a. Membahas tentang manajemen

kesiswaan b. Menggunakan

pendekatan kualitatif

a. Fokus

(pengembangan minat dan bakat) b. Lokasi penelitian

(MTs Negeri 1 Jember

Difokuskan pada penanggulangan degradasi

kompetensi sikap spiritual dan sosial

c. Daft dan Steers dalam sagala mengemukakan bahwa manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.30

d. Manajemen menurut Hamalik adalah proses sosial yang berkenaan dengan keseluruhan usaha manusia dengan bantuan manusia lain serta sumber-sumber lainnya, menggunakan metode yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya.31

e. Manajemen diartikan oleh Tilaar sebagai cara-cara pengelolaan suatu lembaga agar supaya lembaga tersebut efisien dan efektif.

Lembaga kategori efisien apabila investasi yang ditanam sesuai dan memberikan profit sesuai harapan. Suatu lembaga disebut efektif apabila pengelolaan lembaga menggunakan prinsip yang tepat sehingga kegiatannya dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan.32

f. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.33

30Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah..., 14-15.

31Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), 16.

32 H.A.R Tilaar, Membenahi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 11.

33Yohanes Yahya, Pengantar Manajemen (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 1.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat dipahami bahwa pengertian dasar manajemen adalah menjalankan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian menjadi satu rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan bersama segala sumber daya untuk mencapai tujuan bersama. Artinya, manajemen merupakan suatu proses yang mengintegrasikan sumber-sumber yang semula tidak berhubungan satu dengan yang lainnya menjadi suatu sistem yang menyeluruh untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, dalam prakteknya manajemen seharusnya bisa menjadi sebuah kiat guna mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan tugas.

Menurut Terry dalam Suhadi menjelaskan bahwa fungsi manajemen merupakan bagian-bagian aktivitas atau proses manajemen yang terdiri dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pergerakan atau pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling). Keempat proses manajerial tersebut meupakan alat dalam melaksanakan aktivitas seorang pemimpin atau manager.34 Mengacu pada fungsi tersebut, manajemen diartikan sebagai proses pendayagunaan sumberdaya organisasi melalui keefektifan kegiatan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian dengan segala aspeknya dengan menggunakan semua potensi yang tersedia agar tercapai tujuan organisasi secara efektif

34Suhadi Winoto, Manajemen Berbasis Sekolah (Jember: Pena Salsabila, 2011), 43.

dan efisien.35 Dengan demikian, fungsi manajemen pada umumnya adalah suatu rangkaian dari berbagai macam kegiatan untuk mencapai tujuan yang direncanakan.

a. Perencanaan (planning)

Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen. Perencanaan merupakan suatu proses penentuan tujuan pedoman pelaksanaan, dengan memilih alternatif-alternatif yang ada.36 Menurut Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, secara sederhana perencanaan adalah suatu proses merumuskan tujuan-tujuan, sumber daya dan teknik atau metode yang terpilih.37 Senada dengan kedua pengertian tersebut, Yusuf Enoch dalam Zulaichah mengatakan bahwa perencanaan mengandung arti sebagai suatu proses mempersiapkan hal-hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.38 Dari beberapa pengertian tersebut, Perencanaan dapat diartikan sebagai upaya merumuskan arah masa depan organisasi, menetapkan sasaran dan cara-cara untuk mencapai sasaran tersebut.

Dalam al-Qur’an sendiri, Allah Swt. mengisyaratkan pentingnya perencanaan dengan mempertimbangkan kejadian-

35Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), 1.

36Malayu P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 40.

37Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI dalam Jaja Jahari dan Amirullah Syarbini, Manajemen Madrasah..., 7.

38Zulaichah Ahmad, perencanaan Sistem Pendidikan (Jember: Madania Center Press, 2012), 2.

kejadian yang telah lalu untuk merencanakan langkah-langkah ke depan. Allah Swt. berfirman:

ْوُ نَماَء َنْيذَّلا اَهُّ يَأَي َالله َّنِا َالله اوُقَّ تاَو ٍدَغِل ْتمَّدَق اَّم ٌسْفَ ن ْرُظْنَ تْلَو َالله اْوُقَّ تا ا

َنْوُلَمْعَ ت اَِبِ ٌرْ يِبَخ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”39

Esensi dari perencanaan adalah pengambilan keputusan terhadap langkah-langkah yang akan diambil dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini senada dengan ungkapan Terry sebagaimana dikutip oleh Syarifuddin yang mengemukakan bahwa perencanaan adalah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Perencanaan mencakup pengambilan keputusan, karena termasuk pemilihan alternatif-alternatif keputusan.40 Dengan demikian, perencanaan sedikitnya memiliki dua fungsi utama. Pertama, perencanaan merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan pertimbangan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan. Kedua, perencanaan merupakan kegiatan untuk menggerakkan atau

39Al-Qur’an: 59, 18.

40Syarifudin, Pengelolaan Madrasah (Bandung: Pusat Studi Pesantren, 2005), 14.

menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Secara rinci manfaat perencanaan adalah sebagai berikut:

1) Merupakan usaha untuk menetapkan dan menformulasikan tujuan yang telah dipilih, oleh karena itu perencanaan dapat memberi arah yang jelas, dengan kejelasan ini usaha pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

2) Mengetahui pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, sehingga perbaikan-perbaikan terhadap penyimpangan dapat dilakukan sedini mungkin.

3) Memudahkan kita untuk mengidentifikasi hambatan- hambatan yang timbul dalam usaha mencapai tujuan.

Dengan mengetahui hambatan-hambatan itu dapat dicapai alternatif untuk mengatasinya.

4) Memungkinkan bagi kita untuk menghindarkan pertumbuhan dan perkembangan suatu usaha yang tidak terkontrol.41

Oleh karena itu, perencanaan pendidikan tidak hanya berhenti pada saat tersusunnya dan disetujuinya rencana itu oleh pengambil keputusan, tetapi erat juga hubungannya dengan saat

41Zulaichah, Perencanaan..., 18-19.

implementasi. Perencanaan ini pada suatu saat dapat berubah dan diperbaiki sesuai dengan tuntutan keadaan.

Adapun langkah-langkah pokok dalam perencanaan yaitu:

1) Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) Menggunakan kata-kata yang sederhana b) Mempunyai sifat fleksibel

c) Mempunyai sifat stabilitas

d) Ada dalam perimbangan sumber daya e) Meliputi semua tindakan yang diperlukan

2) Pendefinisian gabungan situasi secara baik yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.

3) Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas.42

b. Pengorganisasian (organizing)

Menurut Koontz, et al. dalam Rodliyah, pengorganisasian adalah penetapan struktur peranan internal dalam suatu lembaga yang terorganisasi secara formal.43 Gibson, et al. dalam Rodliyah, mengatakan pengorganisasian meliputi semua kegiatan yang direncanakan menjadi suatu struktur tugas, wewenang, dan menentukan siapa yang akan melaksanakan tugas tertentu untuk

42Daryono, Manajemen Pendidikan (Surabaya: Asrie Press, 2008), 4.

43St. Rodliyah, Manajemen Pendidikan: Sebuah Konsep dan Aplikasi (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 20.

mencapai tugas yang diinginkan organisasi.44 Oleh karena itu, pengorganisasian bukan hanya mengidentifikasikan jabatan dan menentukan hubungan, melainkan juga mempertimbangkan orang-orangnya dengan memperhatikan kebutuhannya agar berfungsi dengan baik.

Selain itu, Gorton juga mengemukakan: “Organizing the school involves more than identifying position and defining relationship on an organizational chart, the most important factor that an administrator should consider in organizing a school are the people associated whit it.”45 Maksudnya salah satu prinsip pengorganisasian adalah terbaginya tugas dalam berbagai unsur organisasi, dengan kata lain pengorganisasian yang efektif adalah membagi habis dan menstruktur tugas-tugas ke dalam sub- sub atau komponen-komponen organisasi secara proporsional.

Pada prinsipnya, Allah Swt. telah menjelaskan konsep pengorganisasian dalam firmannya yang berbunyi:

ْلُق َنْوُمَلْعَ ت َفْوَسَف ٌلِماَع ْ ِِنِّا ْمُكِتَناَكَم ىَلَع اْوُلَمْعا ِمْوَ ق اَي

Katakanlah: "Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula). Maka kelak kamu akan mengetahui.46

44St. Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 20.

45Richard A. Gorton, School Administration (Dubuque: Wm. Mc. Grow Company Publisher, 1976), 109.

46Al-Qur’an: 39, 39.

c. Pelaksanaan atau pergerakan (actuating)

Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan atau pergerakan (actuating) merupakan fungsi yang paling utama.

Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang.

Actuating menurut George R. Terry dalam Daryono adalah usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran tersebut.47 Menurut Nana Sudjana dalam Jahari dan Syarbini, actuating adalah upaya pimpinan untuk menggerakkan (motivasi) seseorang atau kelompok yang dipimpin dengan menumbuhkan dorongan atau motif dalam dirinya untuk melaksanakan tugas dan kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai rencana dalam rangka mencapai tujuan organisasi.48 Dengan demikian, actuating dapat diartikan sebagai upaya untuk menggerakkan atau mengarahkan tenaga kerja serta mendayagunakan fasilitas yang ada dengan maksud untuk melaksanakan pekerjaan secara bersama.

47Daryono, Manajemen Pendidikan..., 9-11

48Jaja Jahari dan Amirulloh Syarbini, Manajemen Madrasah..., 12.

Fungsi actuating ini antara lain dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut:

1) Membicarakan tujuan atau target organisasi yang hendak dicapai serta melalui diskusi atau tukar pendapat di antara personil yang ada dalam organisasi.

2) Mendiskusikan berbagai strategi yang dapat ditempuh dalam mencapai tujuan atau target organisasi.

3) Menyinkronkan tujuan-tujuan pribadi dengan tujuan organisasi/lembaga.

4) Mendiskusikan kendala-kendala dan cara pemecahan dalam mencapai tujuan yang hendak dicapai.

5) Mendiskusikan kontribusi timbal balik kemajuan lembaga dan keuntungan bagi personil, serta kemunduran lembaga dan kerugian personil.

6) Memberikan stimulus, insentif dan sejenisnya agar dapat membangkitkan semangat kerja para personil.

7) Memberikan teguran, hukuman atau sanksi kepada setiap personil yang terbukti melalaikan tugas dan tanggung jawabnya agar segera memperbaiki diri.

8) Memberikan pembinaan dan bimbingan kerja, nasehat, koreksi atau memberikan supervisi demi kemajuan pekerjaan personil.49

49Sondang P. Siagian dalam St. Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 27-28.

d. Pengawasan (controlling)

Menurut Ramayulis, pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus-menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekuen baik yang bersifat materil maupun spiritual.50 Nanang Fattah menambahkan bahwa ada beberapa kondisi yang harus diperhatikan supaya pengawasan dapat berfungsi efektif antara lain sebagai berikut:

1) Pengawasan harus dikaitkan dengan tujuan dan kriteria yang dipergunakan dalam sistem pendidikan yaitu:

relevansi, efektivitas, efisiensi, dan produktivitas.

2) Pengawasan harus disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan organisasi.

3) Pengawasan hendaknya mengacu pada tindakan perbaikan.51

Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan dilakukan agar pelaksanaan di lapangan sesuai dengan program dan mekanisme yang sudah diatur. Pengawasan yang dilakukan oleh seorang leader harus berorientasi pada tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, gaya kepemimpinan seorang leader dalam mengontrol akan mempengaruhi kualitas controlling tersebut.

50Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulya, 2008) 106-107.

51Nanang Fattah, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), 106-107.

a. Pengertian Manajemen Kesiswaan

Manajemen kesiswaan atau dalam banyak istilah disebut manajemen peserta didik, adalah salah satu ruang lingkup manajemen pendidikan berkaitan erat dengan penataan serta pengaturan terhadap kegiatan kesiswaan, mulai masuk sampai keluarnya siswa dari suatu sekolah. Dewasa ini, manajemen kesiswaan tidak terbatas berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan juga meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pembinaan di sekolah.52 Proses pembinaan ini berkaitan erat dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjelaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha untuk mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia melalui jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.53 Jadi, peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya agar tumbuh dan berkembang dengan baik serta mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh gurunya.

Manajemen kesiswaan (Pupil Personnel Administration) Menurut Knezevich, merupakan layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar

52Lukman Hakim, Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: Genta Press, 2008), 75-76.

53UU N0. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual yang berkaitan dengan pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, dan kebutuhan sampai ia matang di sekolah.54 Sedangkan menurut Ali Imron, manajemen kesiswaan adalah usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari masuk sekolah sampai dengan mereka lulus.

Pengaturan ini dimaksudkan untuk memberikan layanan yang sebaik mungkin kepada peserta didik.55

Dari pengertian-pengertian di atas dapat dikatakan bahwa manajemen kesiswaan meliputi hal-hal yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan, mulai dari penerimaan hingga peserta didik tersebut lulus dari sekolah.

b. Tujuan Manajemen Kesiswaan

Secara umum, tujuan manajemen kesiswaan adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah) yang dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan serta mampu menata proses kesiswaan mulai dari perekrutan, pembelajaran sampai dengan lulus

54Stephen J. Knezevich, Administration of Public Education (New York: Harper and Brothers Publisher, 1961), 8.

55Ali Imron, Manajemen Peserta Didik Berbasi Sekolah (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), 6.

sesuai tujuan institusional agar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.56

Sedangkan tujuan khusus manajemen kesiswaan adalah sebagai berikut:

1) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik.

2) Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan) bakat dan minat peserta didik.

3) Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.

4) Dengan terpenuhinya hal tersebut diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.57

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang manajemen kesiswaan sedikitnya memiliki tiga tugas utama yang harus diperhatikan, yaitu penerimaan murid baru, kegiatan kemajuan belajar, serta bimbingan dan pembinaan disiplin. Berdasarkan tiga tugas utama tersebut, Oteng Sutisna menjabarkan tanggung jawab kepala sekolah dalam mengelola bidang kesiswaan berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:

1) Kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu.

56Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 74-75.

57Eka Prihatin, Manajemen..., 9.

2) Penerimaan, orientasi, kalkulasi dan penunjukan murid kelas dan program studi.

3) Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar 4) Pengendalian disiplin murid.

5) Program bimbingan dan penyuluhan.

6) Program kesehatan dan keamanan.

7) Penyesuaian pribadi, sosial dan emosional.58

Dari semua tanggung jawab tersebut, pada dasarnya manajemen kesiswaan memiliki tujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan atau meningkatkan kapasitas dirinya, baik dalam aspek intelektual, sosial, maupun spiritualnya.

c. Fungsi Manajemen Kesiswaan

Manajemen memegang peran penting dalam mencapai tujuan organisasi, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Apalagi dengan kondisi dunia pendidikan yang saat ini sangat perlu ditata kembali sesuai dengan keinginan otonomi pendidikan, di mana setiap lembaga pendidikan diberi peluang untuk menghasilkan siswa dan lulusan yang bermutu serta melakukan pengelolaan kesiswaan yang berorientasi pada maksud tersebut. Oleh karena itu, manajemen kesiswaan sebagaimana dikemukakan oleh Rodliyah, berfungsi sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi

58Oteng Sutisna dalam Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 75.

individualitasnya, segi sosial, aspirasi, kebutuhan dan segi-segi potensi peserta didik lainnya. Manajemen kesiswaan bertugas mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar proses pembelajaran di sekolah berjalan dengan tertib, teratur, dan lancar.59

Menurut Ali Imron, fungsi manajemen kesiswaan secara khusus dirumuskan sebagai berikut:

1) Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi- potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Potensi- potensi bawaan tersebut meliputi kemampuan umum (kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.

2) Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan sosial peserta didik, ialah agar mereka dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, orang tua, keluarga, lingkungan sosial sekolah, dan lingkungan sosial masyarakatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakikat peserta didik sebagai makhluk sosial.

3) Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar mereka tersalur hobi, kesenangan dan minatnya. Dengan demikian dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.

59Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 77.

4) Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik, ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan itu sangat penting karena dengan demikian mereka akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya.60

Berdasarkan hal tersebut, maka manajemen kesiswaan di sekolah berfungsi sebagai upaya untuk mengembangkan dan menumbuhkan seluruh aspek pribadi dalam mempersiapkan suatu kehidupan yang mulia dan berhasil dalam suatu masyarakat dengan sejumlah pengelolaan pendidikan yang efektif dan efisien.

d. Prinsip-prinsip Manajemen Kesiswaan

Prinsip-prinsip manajemen kesiswaan menurut Depdikbud yang dikutip oleh Rodliyah adalah sebagai berikut:

1) Siswa diberlakukan sebagai subjek dan bukan objek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka.

2) Kondisi siswa sangat beragam ditinjau dari kondisi fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat dan seterusnya.

Oleh karena itu diperlukan wahana kegiatan yang beragam sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara maksimal.

60Imron, Manajemen Peserta Didik..., 12.

3) Siswa hanya akan termotivasi belajar, bila mereka menyenangi apa yang diajarkan.

4) Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan psikomotorik.61

Selain dari itu, Jahari dan Syarbini mengatakan bahwa prinsip-prinsip manajemen kesiswaan antara lain sebagai berikut:

1) Dalam mengembangkan program manajemen kepesertadidikan, penyelenggaraan harus mengacu pada pengaturan yang berlaku pada saat program dilaksanakan.

2) Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan proses manajemen sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen sekolah secara keseluruhan.

3) Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik harus mengemban misi pendidikan dalam rangka mendidik peserta didik.

4) Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik harus diupayakan sebagai sarana mempersatukan peserta didik yang memiliki keragaman latar belakang dan banyak perbedaan. Perbedaan- perbedaan yang ada pada peserta didik tidak diarahkan untuk munculnya konflik di antara mereka melainkan justru untuk mempersatukan, saling memahami dan saling menghargai

61Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 77-78.

sehingga mereka memiliki wahana untuk berkembang secara optimal.

5) Kegiatan manajemen peserta didik harus dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik.

6) Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. Prinsip kemandirian akan bermanfaat tidak hanya ketika di sekolah, melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat.

7) Kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik, baik di sekolah lebih-lebih di masa depan.62

e. Pendekatan Manajemen Kesiswaan

Yaeger mengemukakan bahwa ada dua pendekatan yang digunakan dalam Manajemen Kesiswaan yaitu pendekatan kuantitatif (the quantitative approach) dan pendekatan kualitatif (the qualitative approach).63

Pendekatan kuantitatif menitikberatkan pada segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan, di mana peserta didik diharapkan memenuhi segala tuntutan dan harapan lembaga pendidikan dengan asumsi bahwa apabila peserta didik memenuhi segala aturan, tugas dan harapan yang diinginkan oleh lembaga

62Jahari dan Syarbini, Manajemen Madrasah..., 19.

63William A. Yeager, Administration and The Pupil (New York: Harper and Brothers, 1994), 13.

pendidikan maka akan menjadikan peserta didik yang berjiwa matang dan tercapai segala harapannya.

Secara operasional pendekatan ini mengharuskan peserta didik dalam hal berikut:

1) Kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah.

2) Memperketat presensi.

3) Penuntutan disiplin yang tinggi dari peserta didik.

4) Menyelesaikan tugas tepat waktu.

Pendekatan kualitatif menitikberatkan pada kesejahteraan peserta didik, dengan asumsi bahwa jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka dapat belajar dengan baik dan merasa senang untuk mengembangkan diri di sekolah. Pendekatan ini menekankan pada perlunya lingkungan yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal.

Kedua pendekatan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri, akan tetapi keduanya dapat digabungkan sehingga memunculkan pendekatan baru yang berpijak pada perlunya disediakan lingkungan yang kondusif sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, namun juga perlu tetap dipegang kendali kedisiplinan yang tinggi dengan memperhitungkan kehadiran, tugas dan pemenuhan aturan sekolah yang berlaku. Hal itu dilakukan agar proses pembelajaran berjalan dengan tertib, di

samping menekankan bahwa untuk menjadi masyarakat yang terdepan diperlukan kedisiplinan.

f. Ruang Lingkup Manajemen Kesiswaan

Manajemen kesiswaan mencakup seluruh proses dalam pengelolaan peserta didik dalam sebuah sistem pendidikan mulai masuk sampai keluar/lulus sekolah, baik yang berkenaan dengan peserta didik secara langsung maupun tidak langsung (misalnya tenaga kependidikan, sumber-sumber pendidikan, sarana dan prasarana, dan sebagainya). Ruang lingkup manajemen kesiswaan menurut Rodliyah berkaitan erat dengan hal-hal berikut ini:64

1) Perencanaan Kesiswaan

Dalam perencanaan peserta didik mencakup sensus sekolah dan penentuan jumlah peserta didik yang diterima.

Pendataan calon peserta didik merupakan salah satu komponen penting dalam perencanaan pendidikan.

2) Penerimaan, penyeleksian, dan orientasi siswa baru

Penerimaan peserta didik perlu dikelola sdemikian rupa mulai dari perencanaan penentuan daya tampung sekolah atau jumlah siswa baru yang akan diterima. Kegiatan tersebut biasanya dikelola oleh panitia Penerimaan Siswa Baru (PSB).

Setelah peserta didik diterima, maka dilakukan penyeleksian, yaitu kegiatan pemilihan calon peserta didik untuk

64Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 83-90.

Dalam dokumen manajemen kesiswaan dalam menanggulangi (Halaman 35-97)

Dokumen terkait