• Tidak ada hasil yang ditemukan

manajemen kesiswaan dalam menanggulangi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "manajemen kesiswaan dalam menanggulangi"

Copied!
169
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh:

BADRUS SOLEH NIM: 0849116021

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PASCASARJANA IAIN JEMBER

JULI 2018

(2)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Magister Pendidikan (M.Pd)

Oleh:

BADRUS SOLEH NIM: 0849116021

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PASCASARJANA IAIN JEMBER

JULI 2018

(3)
(4)
(5)

Pendidikan Islam Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Jember.

Pembimbing I: Dr. H. Ubaidillah, M.Ag. Pembimbing II: Dr. Mashudi, M.Pd.

Kata Kunci: Manajemen Kesiswaan, Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial

Manajemen kesiswaan memiliki peranan penting karena bertujuan untuk mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di sekolah. Lebih lanjut, proses pembelajaran dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Manajemen kesiswaan yang dimaksud adalah program-program dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kesiswaan untuk meningkatkan kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik, sehingga tumbuh menjadi insan yang cerdas, terampil, beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Penelitian ini difokuskan pada: (1) Bagaimana penerimaan peserta didik dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018? (2) Bagaimana pembinaan disiplin peserta didik dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018? (3) Bagaimana layanan pendukung dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Tekhnik pengumpulan datanya adalah dengan menggunakan metode observasi berperanserta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumenter. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan model Miles and Huberman. Sedangkan keabsahan datanya menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerimaan peserta didik dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018 dengan penerapan seleksi berupa tes, penandatanganan surat pernyataan peserta didik dan orang tua atau walinya, serta sosialisasi tata tertib madrasah dan pembiasaan 6S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, dan Sanjung) pada waktu Masa Orientasi Siswa (MOS). (2) Pembinaan disiplin peserta didik dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018 menggunakan teknik External control, yaitu pemberian reward (penobatan sebagai siswa teladan serta pemberian beasiswa berprestasi) dan punishment yang bertahap. (3) Layanan pendukung dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018 antara lain layanan Bimbingan dan Konseling, asrama, poskestren, koperasi, ali kelas, dan guru mata pelajaran.

(6)

Islamic Education Management Postgraduate State Islamic Religion Institute of Jember. Advisor I: Dr. H. Ubaidillah, M.Ag. Advisor II:

Dr. Mashudi, M.Pd.

Keywords: Student Management, Spiritual and Social Attitude Competence Student management has an important role because it aims to organize the activities of students so that these activities support the learning process in school. Furthermore, the learning process can run smoothly, orderly and regularly so it can contribute to the achievement of school goals and the whole education objectives. The meaning of student management in this research is the programs and activities undertaken by student affair staff to improve the competence of the spiritual and social attitudes of students, so they grow as a person with some intelligent, skilled, faithful, cautious, and good moral characters.

This research is focused on: (1) How the students admission process in overcoming the degradation of spiritual and social attitudes competence in MTs Unggulan Nuris Jember academic year 2017/2018? (2) How the students discipline development in overcoming the degradation of spiritual and social attitudes in MTs Unggulan Nuris Jember academic year 2017/2018? (3) How the services support in overcoming the degradation of students spiritual and social attitudes competence in MTs Unggulan Nuris Jember academic year 2017/2018?

This research uses qualitative approach and case study research type.

Participant observation, in depth interview, and documentary method were used in data collection techniques. This research uses descriptive qualitative data analysis by Miles and Huberman model. While the validity of its data using source triangulation and method triangulation.

The results showed that: (1) New students admission in overcoming the degradation of students spiritual attitudes and social competence in MTs Unggulan Nuris Jember academic year 2017/2018 by appliying test selection, signing statement letters by students and their parents, socializing the rule and 6S habits of madrasah (Smile, Regard, Greeting, Polite, Corteous, and Flattering) at the Student Orientation Period (MOS). (2) Student discipline development in overcoming the degradation of students spiritual and social attitudes competence in MTs Unggulan Nuris Jember 2017/2018 academic year is using External control technique, which is giving reward (coronation as a model student and awarding scholarship achievement) and gradual punishment. (3) Supporting services in overcoming the degradation of students spiritual and social attitudes competence in MTs Unggulan Nuris Jember academic year 2017/2018 such as Guidance and Counseling service, dormitory, Poskestren (madrasah health post), cooperative, room teacher, and subject teachers.

(7)

ةسردلما ةطسوتلما ةيملاسلاا

نلاونجوا سرون

برجم . ثبح يملع مسقل يوبترلا ة ةيملاسلاا

ب ةعمالجا ةيملاسلإا ةيموكلحا

برجم . فرشلما لولأا

: روتكدلا ديبع الله يرتسجالما .

فرشلما

نياثلا : روتكدلا يدوهسم يرتسجالما

.

ةيسيئرلا تاملكلا :

ةرادا ةيبلاطلا

، طوبه ةيلهلاا ةينيدلا ةيعامتجلااو .

تكلتم دق ةرادا

ةيبلاطلا رودلا

مهلما انهلأ فدته لىا يظنت م لامعا ينملعتلما ثيح

نا كلت

لامعلاا دعاست

ةيلمع ملعتلا في ةسردلما يرجتف ةقلاط ابتترمو اميظتنمو ثيبح

انها نكتم نا دعاست

ليبس لوصولا لىا

ةياغ ةسردلما ةيبترلاو اهلك . تناكو ةرادا ةيبلاطلا امجانرب

لاامعاو يقترل

طوبه

ةيلهلاا ةينيدلا ةيعامتجلااو ينملعتملل

لوحتيف نو ءايكذلاا نيرهالماو

ينقتلماو ينلحاصلاو

تزكرو ثوحبلا

ىلع ( )

٠

فيك لوبق ينملعتلما في

ةلباقم طوبه ةيلهلاا ةينيدلا

ةيعامتجلااو ينملعتملل

في ةسردلما ةطسوتلما

ةيملاسلاا نلاونجوا

سرون برجم ةنسل ةيساردلا

٨١٠٢ /

؟ ٨١٠٢ (

)

٨

فيك ءانب طابضنلاا في

ةلباقم طوبه ةيلهلاا دلا ةيني ةيعامتجلااو

ينملعتملل في

ةسردلما ةطسوتلما ةيملاسلاا

نلاونجوا سرون

برجم ةنسل ةيساردلا ٨١٠٢

/

؟ ٨١٠٢

( ٣ ) فيك ةدعاسلما في

ةلباقم طوبه ةيلهلاا ةينيدلا ةيعامتجلااو ينملعتملل

في ةسردلما ةطسوتلما

ةيملاسلاا نلاونجوا

سرون برجم ةنسل ةيساردلا ٨١٠٢

/

؟ ٨١٠٢

و جنه ثحبلا هعونو

الم مدختس وه

يفيك

،يفصو جهانمو

عجم تانايبلا ةظحلالماب

ةلباقلماو ةيصخشلا

،ةيقئاثولاو ثم

للتح تانايبلا ةعوملمجا

رظنب سليم نامربوهو وهو

عجم تانايبلا

اهضيفتخو اهضارعتساو

صلاختسلإاو وأ

قيقحتلا . ةحصو تانايبلا مادختساب

جهانلما يثيلثتلا .

ترهظاو لا

جئاتن امك ي يل ( : )

٠

لوبق ينملعتلما في

ةلباقم طوبه ةيلهلاا ةينيدلا

ةيعامتجلااو ينملعتملل

في ةسردلما ةطسوتلما

ةيملاسلاا نلاونجوا

سرون برجم ناحتملااب عيقوتو

ةلاسر ةيراهظا نم

ينملعتلما نيدلاولاو

كلاذكو ملاعا

ماظن ةسردلما ديوعتو ةتس تافص في تقو

هجوت ينملعتلما ( .

)

٨

ءانب ا طابضنلا في

ةلباقم طوبه ةيلهلاا ةينيدلا ةيعامتجلااو ينملعتملل

في

ةسردلما ةطسوتلما ةيملاسلاا

نلاونجوا سرون

برجم ةيدلهاب ةبوقعلاو ( ٣ ) ةدعاسلما في

ةلباقم طوبه

ةيلهلاا ةينيدلا ةيعامتجلااو ينملعتملل

في ةسردلما ةطسوتلما

ةيملاسلاا نلاونجوا

سرون برجم اهنم

فارشا تجا يعام ريدمو ناكس ينملعتلما نيترسيكوبو

ةينواعتو ليوو

لصفلا

ينملعلماو

(8)

dan limpahan nikmat-Nya sehingga tesis dengan judul ”Manajemen Kesiswaan dalam Menanggulangi Degradasi Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial Peserta Didik di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Nuris Jember” ini dapat terselesaikan. Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW yang telah menuntun ummatnya menuju agaman Allah sehingga tercerahkanlah kehidupan saat ini.

Dalam penyusunan tesis ini, banyak pihak yang terlibat dalam membantu penyelesaiannya. Oleh karena itu patut diucapkan terima kasih teriring doa jazakumullahu ahsanal jaza kepada mereka yang telah banyak membantu, membimbing, dan memberikan dukungan demi penulisan tesis ini.

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember yang telah memberikan ijin dan bimbingan yang bermanfaat, 2. Prof. Dr. H. Miftah Arifin, M.Ag. selaku Direktur Pascasarjana IAIN Jember

yang telah memberikan petunjuk dan arahan dalam penyusunan tesis.

3. Dr. H. Ubaidillah, M.Ag selaku dosen pembimbing I yang telah banyak memberikan banyak ilmu dan motivasi sekaligus bimbingan dan pengarahan sehingga penelitian ini berjalan dengan lancar dan selesai.

4. Dr. Mashudi, M.Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan penuh kesabaran dalam penyelesaian penelitian ini.

(9)

6. Kepala Perpustakaan IAIN Jember dan karyawan yang telah memberikan pelayanan peminjaman buku sebagai acuan penulisan tesis.

7. Dr. Hj. Hodaifah, M.Pd.I. selaku kepala MTs Unggulan Nuris Jember yang telah memberikan izin dan membantu kelancaran pelaksanaan penelitian, beserta waka kesiswaan, dewan guru, karyawan, dan siswa MTs Unggulan Nuris Jember yang memberikan tambahan informasi terkait fokus penelitian.

8. Teman-teman seperjuangan di Pascasarjana IAIN Jember yang senantiasa memberikan motivasi dan dukungan hingga terselesaikannya tesis ini.

Semoga penyusunan tesis ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Jember, 2 Juli 2018

BADRUS SOLEH

(10)

x

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Definisi Istilah ... 14

F. Sistematik Penulisan ... 15

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 17

A. Penelitian Terdahulu ... 17

B. Kajian Teori ... 22

1. Konsep Dasar Manajemen Kesiswaan ... 22

2. Konsep Dasar Kompetensi Sikap ... 47

(11)

xi

BAB III METODE PENELITIAN ... 82

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 82

B. Lokasi Penelitian ... 82

C. Kehadiran Peneliti ... 83

D. Subjek Penelitian ... 84

E. Sumber Data ... 86

F. Teknik Pengumpulan Data ... 87

G. Analisis Data ... 88

H. Keabsahan Data ... 91

I. Tahapan-tahapan Penelitian ... 92

BAB IV PAPARAN DATA DAN ANALISIS ... 96

A. Paparan Data dan Analisis ... 96

B. Temuan Penelitian ... 124

BAB V PEMBAHASAN ... 128

A. Penerimaan Peserta Didik dalam Menanggulangi Degradasi Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial Peserta Didik di MTs Unggulan Nuris Jember Tahun Pelajaran 2017/2018 ... 128

B. Pembinaan Disiplin Peserta Didik dalam Menanggulangi Degradasi Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial Peserta Didik di MTs Unggulan Nuris Jember Tahun Pelajaran 2017/2018 ... 132

(12)

xii

BAB IV PENUTUP ... 140

A. Kesimpulan ... 140

B. Saran ... 141

C. Kata Penutup ... 142

DAFTAR RUJUKAN ... 143 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(13)

xiii

Tabel 4.1 Peraih Beasiswa Prestasi Tahun Pelajaran 2017/2018 ... 109

(14)

xiv

Gambar 4.1 Visi dan Misi MTs Unggulan Nuris Jember ... 90

Gambar 4.2 Surat Pernyataan Peserta Didik dan Orang tua atau Wali ... 93

Gambar 4.3 Buku Tata Tertib MTs Unggulan Nuris Jember ... 94

Gambar 4.4 6 sifat yang dikembangkan di Pesantren Nuris Jember ... 95

Gambar 4.5 Penobatan Siswa dan Siswi Teladan ... 101

Gambar 4.6 Lembar Tugas Menulis Surat At-Taubah ... 111

Gambar 4.7 Punishment Membaca Surat Yasin ... 107

Gambar 4.8 Punishment Membersihkan halaman ... 107

Gambar 4.9 Pembinaan kelompok oleh BK... 107

Gambar 4.10 Materi Rapat Kesiswaan, BK, Wali Kelas, dan Guru Mapel ... 107

Gambar 4.11 Materi Data Kepemilikan Seragam ... 108

Gambar 4.12 Ruangan Perwakilan Pengurus ... 111

Gambar 4.13 Pelayanan Poskestren ... 111

Gambar 4.14 Surat Izin Sakit Dokter Poskestren Nuris ... 111

Gambar 4.15 Izin Keluar Kelas... 113

Gambar 4.16 Kartu Izin Keluar Kelas ... 113

(15)

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian

Manajemen Kesiswaan merupakan sebuah sistem yang diperlukan untuk menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan kepesertadidikan di lembaga pendidikan. Salah satu masalah yang muncul saat ini adalah ketidakefisienan sekolah dan sistem pendidikan.1 Berbicara sistem pendidikan di Indonesia, pada awalnya terbilang sangat sederhana. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, cara dan taraf berpikir masyarakat, pesatnya sirkulasi informasi, pertemuan antar budaya, serta problematika yang dihadapi masyarakat, sistem pendidikan lambat laun berkembang menjadi lebih kompleks secara gradual. Fenomena ini dapat diamati dari proses pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan. Kegiatan pembelajaran awalnya berlangsung sederhana dan transfer informasi yang disampaikan masih terbatas, tanpa adanya variasi instrumen atau media pembelajaran.

Namun hal ini berubah dengan ditemukannya berbagai metode, media, dan instrumen pembelajaran.

Dengan pencapaian kemajuan ini, seharusnya sistem pendidikan di Indonesia mengarah kepada peningkatan harkat dan martabat manusia sehingga mengantarkan para peserta didik menjadi insan kamil. Namun faktanya, banyak dari para pelajar yang mengalami degradasi nilai dan moral.

Degradasi ini selalu dikaitkan dengan kenakalan remaja (juvenile

1Kompri, Manajemen Sekolah: Orientasi Kemandirian Kepala Sekolah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 290.

(16)

delinquency) yang merupakan salah satu masalah sosial yang terjadi di masyarakat bahkan menjadi masalah nasional (global problematic). Sebagai contoh tawuran antar pelajar, maraknya pergaulan bebas di kalangan pelajar, pesta obat-obat terlarang, dan sebagainya. Lebih ironis lagi ketika mengetik kata “pelajar” di internet google searching, maka situs yang keluar di antaranya adalah video mesum, tawuran, dan hal-hal negatif lain yang dilakukan oleh pelajar. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut sering terjadi dan dilihat banyak orang.

Baru-baru ini pada tahun 2018 dunia pendidikan dikejutkan dengan kabar duka di berbagai media massa yang memunculkan kasus Budi, guru Seni Rupa di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura, yang tewas akibat pemukulan oleh siswanya sendiri. Kasus pemukulan pada hari Kamis, 1 Februari 2018 tersebut terjadi hanya disebabkan oleh rasa tidak terima tersangka (siswa) atas teguran korban (guru).2 Masih di dunia pendidikan, Seorang pelajar SMK swasta di Kota Probolinggo yang masih berumur 17 tahun menyatroni rumah kerabatnya sendiri. Bahkan diduga sudah lebih dari sekali. Dan terakhir, aksinya dipergoki oleh pemilik rumah (Rasmin).

Ironisnya saat aksinya diketahui pemilik rumah, ia malah menikam sang pemilik rumah.3

Beberapa contoh kasus di atas mengindikasikan degradasi nilai dan moral para peserta didik sudah benar-benar mengkhawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong-menolong dan kasih sayang sudah tertutup oleh

2Jawa Pos. 2 Februari 2018. Siswa Pukul Guru Hingga Tewas, Korban Masih Honorer. hlm. 1.

3Jawa Pos. 5 Maret 2018. Duh, Siswa SMK di Probolinggo Ini Bobol Rumah Kerabat-Tikam Korban. hlm. 1.

(17)

penyelewengan, penipuan, penindasan, tindakan merugikan dan mengambil hak orang lain sesuka hati, serta bentuk tingkah laku penyimpangan lainnya.

Satu sisi pemerintah memiliki harapan besar terhadap peserta didik untuk menjadi generasi emas yang akan melanjutkan perjuangan membela kebenaran, keadilan dan perdamaian masa depan. Akan tetapi di sisi yang lain, perilaku dan moral peserta didik masih jauh dari yang diharapkan.

Merujuk pada konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun, pendidikan betujuan untuk membantu individu agar dapat meningkatkan kecerdasan dan kemampuan berpikir, mendorong terciptanya tatanan kehidupan yang lebih baik di masyarakat, serta meningkatkan kerohanian dengan menjalankan ibadah.4 Suparlan juga memaknai pendidikan sebagai upaya mengoptimalkan perkembangan potensi manusiawi, kecakapan hidup, dan sikap kepribadian individu menuju tercapainya kesempurnaan dan kedewasaan yang baik.5 Kedua pandangan tersebut tidak jauh berbeda dengan fungsi pendidikan yang tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, yaitu untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha

4Ibn Khaldun dalam Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam: Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Hasan Al- Banna, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari, Hamka, Basiuni Imran, Hasan Langgulung, Azyumardi Azra (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 103-104.

5Suparlan, Mendidik Hati Membentuk Karakter: Panduan Al-Qur’an Melejitkan Hati Membentuk Karakter (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 7.

(18)

Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.6

Berdasarkan fakta yang terjadi, jika dikorelasikan dengan konsep pendidikan di atas, maka implementasi pendidikan di Indonesia masih belum sepenuhnya berhasil dalam mencapai tujuannya. Pendapat ini sama dengan opini yang dikemukakan oleh beberapa pengamat yang menilai bahwa pendidikan di Indonesia telah gagal. Penilaian ini didasarkan pada banyaknya para lulusan sekolah dan sarjana yang cerdas secara intelektual, namun tidak bermental tangguh dan berperilaku sesuai dengan tujuan mulia pendidikan.7

Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah melakukan upaya untuk mengatasi ketidakseimbangan perkembangan intelektual dan moral peserta didik di lembaga pendidikan mulai dari reformasi sistem pendidikan8 hingga inovasi kurikulum.9 Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan cita-cita luhur pendidikan yang merupakan kewajiban pemerintah sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (3) yang berbunyi,

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia

6Sekretariat Negara RI, Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

7Akhmad Muhamimin Azzet, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia: Revitalisasi Pendidikan Karakter terhadap Keberhasilan Belajar dan Kemajuan Bangsa (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 10. Lihat juga Abd. Muis Thabrani, Paradigma Kependidikan: Pendekatan dari Berbagai Perspektif (Jember: STAIN Jember Press, 2012), 117.

8M. Zainuddin, Reformasi Pendidikan: Kritik Kurikulum dan Manajemen Berbasis Sekolah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 45-46. Lihat juga E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 34.

9Hamalik dalam Udin Saefudin Sa’ud, Inovasi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2008), 88.

(19)

dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang- undang.”10

Salah satu upaya pemerintah adalah pemberdayaan sekolah melalui sistem Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah (MBS/M). Di mana pemerintah memberikan otonomi lebih besar pada sekolah agar sekolah leluasa mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.11 Hal ini menunjukkan sikap tanggap pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Paradigma pendidikan yang memberikan kewenangan luas kepada sekolah memberikan makna perlunya peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam berbagai aspek manajerial untuk mencapai visi dan misi sekolahnya. Oleh karena itu, sekolah diharapkan mampu mencari, menemukan, dan melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah, termasuk dalam hal manajemennya. Sehubungan dengan hal tersebut, kepala sekolah seyogyanya bekerja sama dengan para struktural sekolah untuk menciptakan konsep pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Karena pada dasarnya, manajemen murupakan usaha mencapai tujuan dengan melalui kerja sama dengan orang lain. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Terry, “Management is the accomplishing of the predertemined objective

10Sekretariat Negara RI, Undang-undang Dasar 1945.

11Syaiful Sagala, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2009), 157. Lihat juga Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa (PT.

RajaGrafindo Persada, 2006), 233.

(20)

through the effort of other people.”12 Salah satu manajemen yang perlu dikoordinasikan adalah manajemen kesiswaan.

Manajemen kesiswaan sebagai salah satu bidang operasional MBS/M,13 memiliki peranan penting karena bertujuan untuk mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di sekolah. Lebih lanjut, proses pembelajaran dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.14 Kegiatan manajemen kesiswaan haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik, baik di sekolah maupun ketika terjun di masyarakat.15 Dengan demikian, kesiswaan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk membangun kepribadian dan moral peserta didik agar siap mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat di masa yang akan datang. Hal ini senada dengan tujuan pembinaan kesiswaan yang tertera dalam PERMENDIKNAS No. 39 Tahun 2008, yaitu sebagai berikut:

“Tujuan pembinaan kesiswaan:

a. Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas;

b. Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif dan bertentangan dengan tujuan pendidikan;

c. Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat;

12George R. Terry, Principles of Management (Homewood-Illinois Richard D. Irwin, 1960), 2.

13Sri Minarti, Manajemen Sekolah: Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri (Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media, 2011), 155.

14Eka Prihatin, Manajemen Peserta Didik (Bandung: Alfabeta, 2014), 9.

15Jaja Jahari dan Amirulloh Syarbini, Manajemen Madrasah: Teori, Strategi, dan Implementasi (Bandung: Alfabeta, 2013), 19.

(21)

d. Menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat madani (civil society).”16

Manajemen kesiswaan juga perlu memperhatikan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara seimbang dan berkelanjutan. Proses ini dilakukan karena pada hakikatnya peserta didik sebagai manusia seutuhnya adalah makhluk Allah yang mempunyai unsur jasad, akal dan kalbu serta aspek kehidupannya sebagai makhluk individu, sosial, susila dan agama.17 Al-Syaibani mengatakan bahwa manusia itu terdiri atas tiga unsur yang sama pentingnya, yaitu jasmani, akal, dan rohani.18 Sementara itu, Zayadi juga membagi manusia menjadi tiga dimensi, yaitu: (1) dimensi jasad (fisik) yang meliputi persoalan, apa dan bagaimana organisme dan sifat-sifat uniknya; (2) dimensi jiwa (psikis) yang meliputi apa dan bagaimana hakikat dan sifat-sifat uniknya; (3) dimensi gabungan dari keduanya (psiko-fisik) yang berupa akhlak, perbuatan, gerakan dan sebagainya.19 Pendapat-pendapat tersebut semakin menegaskan bahwa tugas kesiswaan sekolah tidak hanya mengembangkan aspek-aspek kecerdasan dan keterampilan, melainkan juga pada pembinaan dan pengembangan iman, takwa, akhlak mulia, hati nurani, budi pekerti dan aspek-aspek humaniora lainnya.

16Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan.

17Abdul Rachman Shaleh, Pendidikan Agama & Pembangunan Watak Bangsa (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), 18.

18Al-Syaibani dalam Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami: Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan Manusia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), 26.

19Zayadi dalam Heri Gunawan, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi (Bandung:

Alfabeta, 2014), 62.

(22)

Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan kurikulum selalu mengarah kepada perbaikan sistem pendidikan. Begitupun dengan pengembangan Kurikulum 2013 yang menekankan pada karakter peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari struktur Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 dalam Kurikulum 2013 yang merujuk kepada kompetensi sikap spiritual dan sosial. Sikap spiritual berkaitan dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa sebagai perwujudan dari menguatnya interaksi vertikal dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan sikap sosial berkaitan dengan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab sebagai perwujudan eksistensi kesadaran dalam upaya mewujudkan harmoni kehidupan.20 Dengan demikian, peralihan kurikulum ini menuntut manajemen kesiswaan sekolah lebih intens dalam memperhatikan karakter peserta didik.

Dalam konsep Islam, kedua kompetensi tersebut sering dikenal dengan istilah habl min Allah dan habl min an-nas sebagaimana tercantum dalam firman Allah pada surat Ali Imran ayat 112,

َ بِرُض

َ ٍلْب ح وَِاللهَ نِمٍَلْب ِبَِ َّلَِّاَاوُفِقُثَا مَ نْي اَُةَّلِ ذلاَُمِهْي ل عَْت

َ ِساَّنلاَ نِم

َ...

( ةيلَّا )

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia...”21

Dalam kenyataan di sekolah, terlebih sekolah yang berbasis agama atau yang disebut dengan madrasah, upaya dalam meningkatkan kualitas

20Abdul Majid, Penilaian Autentik: Proses dan Hasil Belajar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2014), 164-165.

21Al-Qur’an, 2: 112.

(23)

beragama siswa sangat diperlukan. Selain sebagai perwujudan cita-cita pendidikan nasional, juga untuk menghadapi permasalahan-permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan degradasi kompetensi sikap siswa, baik spiritual maupun sosial. Salah satu madrasah yang saat ini sedang melakukan antisipasi degradasi kompetensi sikap peserta didik adalah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Unggulan Nuris Jember. Madrasah ini berada di bawah naungan pesantren, yang pendirinya sangat mengutamakan konsep Ahl al- Sunnah wa al-Jama’ah (Aswaja). Dengan tuntunan Aswaja, seluruh peserta didik yang sekaligus sebagai santri diharapkan memiliki kemantapan akidah dan akhlak yang mulia. Sehingga, konsep Aswaja tersebut diimplementasikan dalam kurikulum menjadi bagian dari mata pelajaran mulok.22

MTs Unggulan Nuris Jember merupakan madrasah yang memiliki banyak prestasi, baik di bidang akademik dan non akademik.23 Namun di samping itu, ternyata MTs Unggulan Nuris Jember tidak lepas dari permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan degradasi sikap peserta didik. Pendapat ini didasarkan pada hasil wawancara dengan Waka Kesiswaan yang mengemukakan permasalahan-permasalahan di lingkungan madrasah. Sebagai contoh kasus yang pernah terjadi adalah pengeroyokan, pencurian, ketidakdisiplinan, dan yang paling sering terjadi adalah penyalahgunaan hubungan dengan lawan jenis. Sehingga menjadikan

22Observasi awal, 5 Februari 2018.

23https://pesantrennuris. net/2018/01/prestasi-mts-unggulan-nuris-jember/ diakses (5 Februari 2018)

(24)

kesiswaan selalu berupaya secara intens untuk menanggulangi kasus-kasus tersebut.24

Manajemen kesiswaan di madrasah ini cukup menarik untuk diteliti karena memiliki tingkat kerjasama yang tinggi. Kesiswaan melibatkan guru Bimbingan Konseling, wali kelas, guru mata pelajaran, bahkan peserta didik demi terwujudnya manajemen yang efektif. Hal itu dilakukan karena dirasa sudah banyak dari peserta didik yang tidak menanamkan konsep barokah di hatinya. Akibatnya, peserta didik tidak merasa takut bahkan terkadang tidak ada rasa bersalah dalam melakukan pelanggaran-pelanggaran tata tertib sekolah.25

Dari beberapa pernyataan di atas, maka sangat penting kiranya untuk melakukan penelitian tentang “Manajemen kesiswaan dalam Menanggulangi Degradasi Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial Peserta Didik di MTs Unggulan Nuris Jember.”

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan konteks penelitian yang telah dijelaskan di atas, maka fokus penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerimaan peserta didik dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018?

24Abu Bakar, wawancara, Jember, 5 Februari 2018.

25Abu Bakar, wawancara, Jember, 5 Februari 2018.

(25)

2. Bagaimana pembinaan disiplin peserta didik dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018?

3. Bagaimana layanan pendukung dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan penerimaan peserta didik dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018.

2. Untuk mendeskripsikan pembinaan disiplin peserta didik dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018.

3. Untuk mendeskripsikan layanan pendukung dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu manfaat teoritis dan praktis.

(26)

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah keilmuan dan pengetahuan dalam bidang pendidikan terutama terkait dengan manajemen kesiswaan.

b. Hasil penelitin ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa pemikiran dan pengembangan teori manajemen kesiswaan dalam meningkatkan mutu peserta didik terlebih dalam aspek kompetensi sikap spiritual dan sosial.

2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti

1) Penelitian ini dapat menjadi sarana melatih diri penyusun dalam menganalisis permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan terutama dalam bidang kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik.

2) Mendapatkan wawasan, pengalaman, serta pengetahuan tentang manajemen kesiswaan dalam meningkatkan kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik.

3) Sebagai bekal untuk mengembangkan pengetahuan di masa mendatang.

b. Bagi lembaga MTs Unggulan Nuris

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dan informasi tentang manajemen kesiswaan yang

(27)

memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas kompetensi spiritual dan sosial peserta didik.

2) Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi dalam penelitian selanjutnya.

c. Bagi lembaga IAIN Jember

1) Penelitian ini dapat dijadikan tambahan literatur atau referensi bagi lembaga IAIN Jember dan mahasiswa yang ingin mengembangkan kajian pendidikan tentang manajemen kesiswaan.

2) Sebagai informasi yang aktual dan dapat menambah wawasan serta kesadaran mahasiswa bahwa kajian tentang manajemen kesiswaan perlu dikembangkan secara terus-menerus untuk menghasilkan teori-teori baru dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

d. Bagi masyarakat

1) Hasil penelitian ini dapat memperkaya dan mengembangkan khazanah ilmu pengetahuan tentang manajemen kesiswaan.

2) Mendapatkan wawasan, pengalaman, serta pengetahuan tentang manajemen kesiswaan dalam meningkatkan kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik

(28)

E. Definisi Istilah

1. Manajemen Kesiswaan

Manajemen kesiswaan adalah tindakan-tindakan kesiswaan yang meliputi penerimaan peserta didik, pembinaan disiplin peserta didik, serta layanan pendukung untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Degradasi Kompetensi Sikap

Degradasi kompetensi sikap adalah penurunan, kemunduran, atau kemerosotan perilaku peserta didik yang diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Sikap Spiritual

Sikap spiritual adalah perilaku peserta didik dalam menghargai dan menghayati ajaran agama Islam yang meliputi iman, islam, dan ihsan.

4. Sikap Sosial

Sikap sosial adalah perilaku peserta didik dalam menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi dan gotong royong) santun, serta percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam.

Dengan demikian, istilah Manajemen Kesiswaan dalam Menanggulangi Degradasi Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial Peserta Didik dalam penelitian ini adalah tindakan-tindakan kesiswaan yang meliputi rekrutmen dan seleksi, pembinaan, serta layanan pendukung

(29)

untuk menanggulangi kemerosotan perilaku peserta didik, baik dalam menghayati ajaran agama Islam maupun interaksi sosial dan alam.

F. Sistematik Penulisan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan tesis yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.26 Adapun sistematika pembahasan dalam tesis ini, yaitu:

Bab satu memuat komponen dasar penelitian yaitu konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika penulisan.

Bab dua berisi tentang kajian kepustakaan yang terdiri dari penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan, kajian teori sebagai landasan teori pada bab berikutnya guna menganalisis data yang diperoleh dari penelitian, dan kerangka konseptual.

Bab tiga membahas tentang metode penelitian yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, kehadiran peneliti, subjek penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan tahapan-tahapan penelitian.

Bab empat berisi tentang paparan data dan analisis. Pada bab ini akan dijelaskan paparan data dan analisis, serta temuan penelitian.

Bab lima memuat tentang pembahasan yang sesuai dengan fokus penelitian.

26Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Pascasarjana IAIN Jember (Jember: IAIN Jember, 2016), 24.

(30)

Bab enam adalah penutup yang merupakan bab terakhir yang meliputi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan serta saran-saran yang bersifat konstruktif. Selanjutnya diakhiri dengan daftar pustaka, pernyataan keaslian tulisan, dan lampiran-lampiran sebagai pendukung di dalam pemenuhan kelengkapan data tesis.

(31)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu

Untuk mengetahui sejauh mana orisinalitas dan posisi penelitian yang akan dilakukan, maka dicantumkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan permasalahan yang dikembangkan dalam penelitian ini. Di antara penelitian-penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh Susi Handayani, Hafidz Iqbal Wira Damiri, dan Muhamad Bagus Aminullah. Ketiganya akan diuraikan sebagai berikut:

a. Susi Handayani (Tesis, 2015) yang berjudul “Implementasi Manajemen Kesiswaan dalam Meningkatkan Spiritual Quotient Siswa di MAN Lumajang”.

Penelitian yang dilakukan oleh Susi Handayani tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan implementasi manajemen kesiswaan dalam meningkatkan Spiritual Quotient siswa di MAN Lumajang yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perencanaan manajemen kesiswaan dalam meningkatkan Spiritual Quotient siswa dimulai pada proses PPDB yang terdiri dari dua jalur, yaitu jalur prestasi dan reguler. Kedua jalur tersebut dilakukan untuk menjaring siswa yang berkualitas dengan melalui tes performance yaitu tes kemampuan membaca al-Qur’an serta akhlak siswa seperti dalam

17

(32)

bertutur kata dan cara berpakaian siswa. Pengorganisasiannya diawali dengan pelaksanaan MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru) yang di dalamnya terdapat pemetaan shalat serta membaca al-Qur’an yang berguna untuk pembinaan siswa selanjutnya. Dalam pelaksanaan manajemen kesiswaan terdapat beragam kegiatan, mulai dari kegiatan harian (seperti shalat Dhuha, Dhuhur, dan Ashar secara berjama’ah), mingguan (yaitu PMR, PO, Pramuka, Tahfidz, LPBA), bulanan (yaitu donor darah Diba’iyah, tahlil, istighasah, dan pembinaan shalat), hingga tahunan (yaitu manasik haji, Milad, Maulid, isra’ Mi’raj, tahun baru Hijriyah). Sedangkan untuk pengawasannya adalah dengan diadakan monitoring kegiatan dan evaluasi oleh kepala madrasah setiap bulan sekali pada saat rapat rutin madrasah.

b. Hafidz Iqbal Wira Damiri (Tesis, 2015) yang berjudul “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui Manajemen Kesiswaan di SMK Negeri 1 Lumajang”.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dan bertujuan untuk meneliti tentang upaya meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam melalui manajemen kesiswaan di SMK Negeri 1 Lumajang yang meliputi upaya meningkatkan prestasi belajar, hambatan atau kendala dalam meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam, serta langkah-langkah untuk mengatasi hambatan atau kendala tersebut.

(33)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hafidz Iqbal Wira Damiri berkesimpulan bahwa upaya peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 1 Lumajang dilakukan dengan menambah jam pelajaran Pendidikan Agama Islam, menciptakan kondisi yang baik pada waktu proses pembelajaran, melengkapi sarana dan prasarana pembelajaran, memberikan motivasi pada siswa, dan pembagian kelas sesuai tingkat intelegensi. Hambatan yang dihadapi adalah kurangnya perhatian siswa pada pelajaran Pendidikan Agama Islam. Selain itu, kurangnya kemampuan siswa dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam juga menjadi hambatan dalam berprestasi. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut antara lain memfokuskan perhatian pada siswa, memberikan bimbingan khusus, kerjasama dengan pihak luar, dan pengadaan sarana dan prasarana. Sedangkan upaya peningkatan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam melalui manajemen kesiswaan dilaksanakan dengan membuat program kegiatan- kegiatan kesiswaan seperti penerimaan siswa baru, OSIS, ekstrakurikuler, dan ubudiyah yang diatur dengan baik, serta bekerja sama dengan kepala sekolah, guru, karyawan, komite sekolah, pembina kegiatan, pelatih, serta siswa sehingga semua proses tersebut berjalan dengan baik. Akhirnya siswa menjadi senang dan merasa butuh pada kegiatan-kegiatan tersebut untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, banyak pengalaman, belajar, serta berlatih dalam berorganisasi.

(34)

c. Muhamad Bagus Aminullah (Skripsi, 2017) yang berjudul “Manajemen Kesiswaan dalam Mengembangkan Minat dan Bakat Siswa pada Kegiatan Ekstrakurikuler Olah Raga di MTs Negeri 1 Jember Tahun Pelajaran 2106/2017”.

Penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Bagus Aminullah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan manajemen kesiswaan dalam mengembangkan minat dan bakat siswa pada kegiatan ekstrakurikuler olah raga yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perencanaan manajemen kesiswaan dalam mengembangkan bakat dan minat siswa pada kegiatan ekstrakurikuler olah raga di MTs Negeri 1 Jember adalah dengan menyelenggarakan rapat atau musyawarah, menyebarkan angket, melibatkan pihak lain, serta membuat jadwal dan target. Di dalam pelaksanaannya, waka kesiswaan dan guru hanya memantau dan mendukung, sedangkan guru pelatih mempunyai wewenang untuk memberikan arahan dan bimbingan pada siswa. Proses evaluasi kegiatan ini dilaksanakan pada saat ekstrakurikuler berlangsung, sesuai jadwal yang telah disepakati. Hasil evaluasi ini kemudian dilaporkan pada akhir semester dan akhir tahun pelajaran.

Dari penjelasan ketiga peneliti terdahulu tersebut, dapat diketahui persamaan, perbedaan, dan orisinalitas penelitian ini dengan penelitian lainnya. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

(35)

Tabel 2.1 Orisinalitas Penelitian

No Peneliti Persamaan Perbedaan Orisinalitas 1 Susi

Handayani (2015)

a. Membahas tentang manajemen

kesiswaan b. Menggunakan

pendekatan kualitatif

a. Fokus (Spiritual Quotient)

b. Lokasi penelitian (MAN

Lumajang)

Difokuskan pada penanggulangan degradasi

kompetensi sikap spiritual dan sosial 2 Hafidz

Iqbal Wira Damiri (2015)

a. Membahas tentang manajemen

kesiswaan b. Menggunakan

pendekatan kualitatif

a. Fokus (peningkatan prestasi belajar PAI)

b. Lokasi penelitian (SMK Negeri 1 Lumajang

Difokuskan pada penanggulangan degradasi

kompetensi sikap spiritual dan sosial

3 Muhamad Bagus Aminullah (2017)

a. Membahas tentang manajemen

kesiswaan b. Menggunakan

pendekatan kualitatif

a. Fokus

(pengembangan minat dan bakat) b. Lokasi penelitian

(MTs Negeri 1 Jember

Difokuskan pada penanggulangan degradasi

kompetensi sikap spiritual dan sosial

(36)

B. Kajian Teori

1. Konsep Dasar Manajemen Kesiswaan

Kata manajemen berasal dari bahasa latin, yaitu kata manus dan agree yang berarti malakukan. Kata-kata itu digabung menjadi kata kerja managere yang artinya menangani. Managere diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda dengan management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya management diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.27

Pengertian Manajemen menurut pendapat beberapa ahli dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. George R. Terry dalam Daryono mengartikan manajemen sebagai sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lain.28

b. Menurut Mary Parker Foulett dalam Sagala, Manajemen adalah kiat atau seni dalam mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan sesuatu melalui bantuan orang lain.29

27Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, Dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 3.

28Daryono, Manajemen Pendidikan (Surabaya: Asrie Press, 2008), 4.

29Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat: Strategi Memenangkan Persaingan Mutu, (Jakarta: PT Nimas Multima 2004), 14-15.

(37)

c. Daft dan Steers dalam sagala mengemukakan bahwa manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.30

d. Manajemen menurut Hamalik adalah proses sosial yang berkenaan dengan keseluruhan usaha manusia dengan bantuan manusia lain serta sumber-sumber lainnya, menggunakan metode yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya.31

e. Manajemen diartikan oleh Tilaar sebagai cara-cara pengelolaan suatu lembaga agar supaya lembaga tersebut efisien dan efektif.

Lembaga kategori efisien apabila investasi yang ditanam sesuai dan memberikan profit sesuai harapan. Suatu lembaga disebut efektif apabila pengelolaan lembaga menggunakan prinsip yang tepat sehingga kegiatannya dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan.32

f. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.33

30Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah..., 14-15.

31Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), 16.

32 H.A.R Tilaar, Membenahi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 11.

33Yohanes Yahya, Pengantar Manajemen (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 1.

(38)

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat dipahami bahwa pengertian dasar manajemen adalah menjalankan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian menjadi satu rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan bersama segala sumber daya untuk mencapai tujuan bersama. Artinya, manajemen merupakan suatu proses yang mengintegrasikan sumber-sumber yang semula tidak berhubungan satu dengan yang lainnya menjadi suatu sistem yang menyeluruh untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, dalam prakteknya manajemen seharusnya bisa menjadi sebuah kiat guna mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan tugas.

Menurut Terry dalam Suhadi menjelaskan bahwa fungsi manajemen merupakan bagian-bagian aktivitas atau proses manajemen yang terdiri dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pergerakan atau pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling). Keempat proses manajerial tersebut meupakan alat dalam melaksanakan aktivitas seorang pemimpin atau manager.34 Mengacu pada fungsi tersebut, manajemen diartikan sebagai proses pendayagunaan sumberdaya organisasi melalui keefektifan kegiatan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian dengan segala aspeknya dengan menggunakan semua potensi yang tersedia agar tercapai tujuan organisasi secara efektif

34Suhadi Winoto, Manajemen Berbasis Sekolah (Jember: Pena Salsabila, 2011), 43.

(39)

dan efisien.35 Dengan demikian, fungsi manajemen pada umumnya adalah suatu rangkaian dari berbagai macam kegiatan untuk mencapai tujuan yang direncanakan.

a. Perencanaan (planning)

Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen. Perencanaan merupakan suatu proses penentuan tujuan pedoman pelaksanaan, dengan memilih alternatif-alternatif yang ada.36 Menurut Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, secara sederhana perencanaan adalah suatu proses merumuskan tujuan-tujuan, sumber daya dan teknik atau metode yang terpilih.37 Senada dengan kedua pengertian tersebut, Yusuf Enoch dalam Zulaichah mengatakan bahwa perencanaan mengandung arti sebagai suatu proses mempersiapkan hal-hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.38 Dari beberapa pengertian tersebut, Perencanaan dapat diartikan sebagai upaya merumuskan arah masa depan organisasi, menetapkan sasaran dan cara-cara untuk mencapai sasaran tersebut.

Dalam al-Qur’an sendiri, Allah Swt. mengisyaratkan pentingnya perencanaan dengan mempertimbangkan kejadian-

35Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), 1.

36Malayu P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 40.

37Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI dalam Jaja Jahari dan Amirullah Syarbini, Manajemen Madrasah..., 7.

38Zulaichah Ahmad, perencanaan Sistem Pendidikan (Jember: Madania Center Press, 2012), 2.

(40)

kejadian yang telah lalu untuk merencanakan langkah-langkah ke depan. Allah Swt. berfirman:

ْوُ نَماَء َنْيذَّلا اَهُّ يَأَي َالله َّنِا َالله اوُقَّ تاَو ٍدَغِل ْتمَّدَق اَّم ٌسْفَ ن ْرُظْنَ تْلَو َالله اْوُقَّ تا ا

َنْوُلَمْعَ ت اَِبِ ٌرْ يِبَخ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”39

Esensi dari perencanaan adalah pengambilan keputusan terhadap langkah-langkah yang akan diambil dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini senada dengan ungkapan Terry sebagaimana dikutip oleh Syarifuddin yang mengemukakan bahwa perencanaan adalah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Perencanaan mencakup pengambilan keputusan, karena termasuk pemilihan alternatif-alternatif keputusan.40 Dengan demikian, perencanaan sedikitnya memiliki dua fungsi utama. Pertama, perencanaan merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan pertimbangan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan. Kedua, perencanaan merupakan kegiatan untuk menggerakkan atau

39Al-Qur’an: 59, 18.

40Syarifudin, Pengelolaan Madrasah (Bandung: Pusat Studi Pesantren, 2005), 14.

(41)

menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Secara rinci manfaat perencanaan adalah sebagai berikut:

1) Merupakan usaha untuk menetapkan dan menformulasikan tujuan yang telah dipilih, oleh karena itu perencanaan dapat memberi arah yang jelas, dengan kejelasan ini usaha pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

2) Mengetahui pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, sehingga perbaikan-perbaikan terhadap penyimpangan dapat dilakukan sedini mungkin.

3) Memudahkan kita untuk mengidentifikasi hambatan- hambatan yang timbul dalam usaha mencapai tujuan.

Dengan mengetahui hambatan-hambatan itu dapat dicapai alternatif untuk mengatasinya.

4) Memungkinkan bagi kita untuk menghindarkan pertumbuhan dan perkembangan suatu usaha yang tidak terkontrol.41

Oleh karena itu, perencanaan pendidikan tidak hanya berhenti pada saat tersusunnya dan disetujuinya rencana itu oleh pengambil keputusan, tetapi erat juga hubungannya dengan saat

41Zulaichah, Perencanaan..., 18-19.

(42)

implementasi. Perencanaan ini pada suatu saat dapat berubah dan diperbaiki sesuai dengan tuntutan keadaan.

Adapun langkah-langkah pokok dalam perencanaan yaitu:

1) Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) Menggunakan kata-kata yang sederhana b) Mempunyai sifat fleksibel

c) Mempunyai sifat stabilitas

d) Ada dalam perimbangan sumber daya e) Meliputi semua tindakan yang diperlukan

2) Pendefinisian gabungan situasi secara baik yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.

3) Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas.42

b. Pengorganisasian (organizing)

Menurut Koontz, et al. dalam Rodliyah, pengorganisasian adalah penetapan struktur peranan internal dalam suatu lembaga yang terorganisasi secara formal.43 Gibson, et al. dalam Rodliyah, mengatakan pengorganisasian meliputi semua kegiatan yang direncanakan menjadi suatu struktur tugas, wewenang, dan menentukan siapa yang akan melaksanakan tugas tertentu untuk

42Daryono, Manajemen Pendidikan (Surabaya: Asrie Press, 2008), 4.

43St. Rodliyah, Manajemen Pendidikan: Sebuah Konsep dan Aplikasi (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 20.

(43)

mencapai tugas yang diinginkan organisasi.44 Oleh karena itu, pengorganisasian bukan hanya mengidentifikasikan jabatan dan menentukan hubungan, melainkan juga mempertimbangkan orang-orangnya dengan memperhatikan kebutuhannya agar berfungsi dengan baik.

Selain itu, Gorton juga mengemukakan: “Organizing the school involves more than identifying position and defining relationship on an organizational chart, the most important factor that an administrator should consider in organizing a school are the people associated whit it.”45 Maksudnya salah satu prinsip pengorganisasian adalah terbaginya tugas dalam berbagai unsur organisasi, dengan kata lain pengorganisasian yang efektif adalah membagi habis dan menstruktur tugas-tugas ke dalam sub- sub atau komponen-komponen organisasi secara proporsional.

Pada prinsipnya, Allah Swt. telah menjelaskan konsep pengorganisasian dalam firmannya yang berbunyi:

ْلُق َنْوُمَلْعَ ت َفْوَسَف ٌلِماَع ْ ِِنِّا ْمُكِتَناَكَم ىَلَع اْوُلَمْعا ِمْوَ ق اَي

Katakanlah: "Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula). Maka kelak kamu akan mengetahui.46

44St. Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 20.

45Richard A. Gorton, School Administration (Dubuque: Wm. Mc. Grow Company Publisher, 1976), 109.

46Al-Qur’an: 39, 39.

(44)

c. Pelaksanaan atau pergerakan (actuating)

Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan atau pergerakan (actuating) merupakan fungsi yang paling utama.

Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang.

Actuating menurut George R. Terry dalam Daryono adalah usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran tersebut.47 Menurut Nana Sudjana dalam Jahari dan Syarbini, actuating adalah upaya pimpinan untuk menggerakkan (motivasi) seseorang atau kelompok yang dipimpin dengan menumbuhkan dorongan atau motif dalam dirinya untuk melaksanakan tugas dan kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai rencana dalam rangka mencapai tujuan organisasi.48 Dengan demikian, actuating dapat diartikan sebagai upaya untuk menggerakkan atau mengarahkan tenaga kerja serta mendayagunakan fasilitas yang ada dengan maksud untuk melaksanakan pekerjaan secara bersama.

47Daryono, Manajemen Pendidikan..., 9-11

48Jaja Jahari dan Amirulloh Syarbini, Manajemen Madrasah..., 12.

(45)

Fungsi actuating ini antara lain dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut:

1) Membicarakan tujuan atau target organisasi yang hendak dicapai serta melalui diskusi atau tukar pendapat di antara personil yang ada dalam organisasi.

2) Mendiskusikan berbagai strategi yang dapat ditempuh dalam mencapai tujuan atau target organisasi.

3) Menyinkronkan tujuan-tujuan pribadi dengan tujuan organisasi/lembaga.

4) Mendiskusikan kendala-kendala dan cara pemecahan dalam mencapai tujuan yang hendak dicapai.

5) Mendiskusikan kontribusi timbal balik kemajuan lembaga dan keuntungan bagi personil, serta kemunduran lembaga dan kerugian personil.

6) Memberikan stimulus, insentif dan sejenisnya agar dapat membangkitkan semangat kerja para personil.

7) Memberikan teguran, hukuman atau sanksi kepada setiap personil yang terbukti melalaikan tugas dan tanggung jawabnya agar segera memperbaiki diri.

8) Memberikan pembinaan dan bimbingan kerja, nasehat, koreksi atau memberikan supervisi demi kemajuan pekerjaan personil.49

49Sondang P. Siagian dalam St. Rodliyah, Manajemen Pendidikan..., 27-28.

(46)

d. Pengawasan (controlling)

Menurut Ramayulis, pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus-menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekuen baik yang bersifat materil maupun spiritual.50 Nanang Fattah menambahkan bahwa ada beberapa kondisi yang harus diperhatikan supaya pengawasan dapat berfungsi efektif antara lain sebagai berikut:

1) Pengawasan harus dikaitkan dengan tujuan dan kriteria yang dipergunakan dalam sistem pendidikan yaitu:

relevansi, efektivitas, efisiensi, dan produktivitas.

2) Pengawasan harus disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan organisasi.

3) Pengawasan hendaknya mengacu pada tindakan perbaikan.51

Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan dilakukan agar pelaksanaan di lapangan sesuai dengan program dan mekanisme yang sudah diatur. Pengawasan yang dilakukan oleh seorang leader harus berorientasi pada tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, gaya kepemimpinan seorang leader dalam mengontrol akan mempengaruhi kualitas controlling tersebut.

50Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulya, 2008) 106-107.

51Nanang Fattah, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), 106-107.

(47)

a. Pengertian Manajemen Kesiswaan

Manajemen kesiswaan atau dalam banyak istilah disebut manajemen peserta didik, adalah salah satu ruang lingkup manajemen pendidikan berkaitan erat dengan penataan serta pengaturan terhadap kegiatan kesiswaan, mulai masuk sampai keluarnya siswa dari suatu sekolah. Dewasa ini, manajemen kesiswaan tidak terbatas berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan juga meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pembinaan di sekolah.52 Proses pembinaan ini berkaitan erat dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjelaskan bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha untuk mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia melalui jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.53 Jadi, peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya agar tumbuh dan berkembang dengan baik serta mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh gurunya.

Manajemen kesiswaan (Pupil Personnel Administration) Menurut Knezevich, merupakan layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan di luar

52Lukman Hakim, Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: Genta Press, 2008), 75-76.

53UU N0. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

(48)

kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual yang berkaitan dengan pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, dan kebutuhan sampai ia matang di sekolah.54 Sedangkan menurut Ali Imron, manajemen kesiswaan adalah usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari masuk sekolah sampai dengan mereka lulus.

Pengaturan ini dimaksudkan untuk memberikan layanan yang sebaik mungkin kepada peserta didik.55

Dari pengertian-pengertian di atas dapat dikatakan bahwa manajemen kesiswaan meliputi hal-hal yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan, mulai dari penerimaan hingga peserta didik tersebut lulus dari sekolah.

b. Tujuan Manajemen Kesiswaan

Secara umum, tujuan manajemen kesiswaan adalah mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah) yang dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan serta mampu menata proses kesiswaan mulai dari perekrutan, pembelajaran sampai dengan lulus

54Stephen J. Knezevich, Administration of Public Education (New York: Harper and Brothers Publisher, 1961), 8.

55Ali Imron, Manajemen Peserta Didik Berbasi Sekolah (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), 6.

(49)

sesuai tujuan institusional agar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.56

Gambar

Tabel 4.1  Peraih Beasiswa Prestasi Tahun Pelajaran 2017/2018 ......................  109
Tabel 2.1  Orisinalitas Penelitian
Gambar 4.13  Pelayanan Poskestren 171
Gambar 4.15  Izin Keluar Kelas 177

Referensi

Dokumen terkait

Kompetensi Dasar adalah kemampuan untuk mencapai kompetensi inti yang harus diperoleh peserta didik melalui pembelajaran yang mencakup sikap spiritual, sosial, pengetahuan dan

Guru PPKn dalam subjek penelitian ini untuk mengetahui kompetensi pedagogik guru, sedangkan peserta didik untuk mengatahui pencapaian kompetensi sikap spiritual dan

Dengan kata lain kempetensi dasar yang berkenaan dengan sikap spiritual dan sosial dikembangkan secara tidak langsung dalam pembelajaran pada saat peserta didik belajar

Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam kompetensi sikap spiritual dan sikap

Tesis dengan judul ” Manajemen Kesiswaan Dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Peserta Didik (Studi Multi Kasus Di MTs Negeri Tulungagung dan SMP Negeri 1 Tulungagung) ”

A. Instrumen penilaian sikap spiritual ini berupa Lembar Observasi. Instrumen ini diisi oleh guru yang mengajar peserta didik yang dinilai.. Mengajukan pertanyaan berkaitan

Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik adalah proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam kompetensi sikap spiritual dan

Pengembangan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan Menfasilitasi peserta didik mengembangkan aspek sikap spiritual sesuai dengan yang tertera di RPP