• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paparan Data dan Analisis

Dalam dokumen manajemen kesiswaan dalam menanggulangi (Halaman 110-138)

BAB IV PAPARAN DATA DAN ANALISIS

A. Paparan Data dan Analisis

Penelitian ini menggunakan tiga metode utama pencarian data dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipatif (Participant observation), wawancara mendalam (In Depth Interview) dan dokumenter (Documentation) untuk memperoleh data yang dibutuhkan dan diperlukan. Hingga pada akhirnya terkumpul data yang menunjang kevalidan penelitian ini. Data yang akan dipaparkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan adalah tentang manajemen kesiswaan dalam menanggulangi degradasi kompetensi sikap spiritual dan sosial peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018 yaitu sebagai berikut:

1. Penerimaan Peserta Didik dalam Menanggulangi Degradasi Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial Peserta Didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018.

Pengelolaan peserta didik dimulai dari penerimaan yang merupakan aktivitas penting dalam manajemen peserta didik. Sebab aktivitas penerimaan ini menentukan seberapa baik kualitas input yang akan diterima oleh madrasah. Berkaitan dengan hal tersebut, Hodaifah, kepala MTs Ungguln Nuris Jember menyampaikan:

“Madrasah ini diberi nama ‘unggulan’ karena memang yang menjadi visi misi kami adalah bertekad untuk mencetak generasi muslim dan muslimah yang unggul dalam berbagai hal, baik prestasinya, kemampuannya, dan tak kalah penting juga unggul dalam segi akhlaknya. Nama itu adalah doa. Secara tidak langsung, kata ‘unggulan’ di samping mendorong untuk berupaya

sebaik-baiknya juga merupakan bentuk permohonan kepada Allah.”133

Berikut adalah hasil dokumentasi mengenai visi dan misi MTs Unggulan Nuris Jember yang tercantum di dalam Dokumen 1 Kurikulum 2013 yang berlaku di MTs Unggulan Nuris Tahun Pelajaran 20172018.

Gambar 4.1

Visi dan Misi MTs Unggulan Nuris Jember134

133Hodaifah, wawancara, Jember, 28 April 2018

134Dokumentasi, Visi dan Misi MTs Unggulan Nuris (Jember, 30 April 2018)

Masih berkaitan dengan hal di atas, kepala madrasah lebih lanjut memberikan pernyataaan sebagai berikut:

“Oleh sebab itu, madrasah ini tidak sembarangan dalam menerima siswa baru. Sebelum mereka diterima, kami seleksi seketat mungkin. Ada tes yang mereka lalui terlebih dahulu. Baik tes tulis maupun tes lisan. Setelah mereka lulus tes itu, ada tes lagi berupa tes psikologi termasuk juga nanti ditanyakan kesiapannya mematuhi seluruh tata tertib yang berlaku di madrasah ini.

Mereka menulis semacam pernyataan diri tentang kesiapan mereka mematuhi tata tertib selama berada di sini. ”135

Hal yang sama juga disampaikan oleh Abu Bakar, waka kesiswaan dalam wawancara sebagai berikut:

“Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di MTs Unggulan Nuris ini tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain. Pertama, ada pembentukan panitia khusus PPDB. Baru kemudian diadakan rapat untuk menentukan jumlah siswa yang akan diterima beserta juga kriterianya. Kalau berbicara pendaftaran dan penyeleksian, madrasah ini ada dua gelombang karena biasanya jumlah siswa yang mendaftar di sini semakin tahun semakin meningkat.

Mereka yang mendaftar nanti akan diseleksi berbentuk tes tulis dan tes lisan. Tes tulisnya sama dengan yang lain, yaitu pengetahuan umum dan agama. Sedangkan tes lisannya, di sini memakai tes baca Al-Qur’an dan menghafal beberapa bait

Imrithi. Setelah mereka lulus tes, dilanjutkan dengan psikotes.

Psikotes ini dimaksudkan untuk mengukur kecenderungan kepribadian anak. Tes ini nanti akan menjadi acuan kami dalam mengontrol perkembangan sikap anak setiap bulannya. Berlanjut dari tes itu, maka juga sekaligus penandatanganan surat pernyataan bersedia mematuhi tata tertib madrasah dan pondok pesantren dan siap menerima pada setiap konsekuensi dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan.”136

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa proses penerimaan siswa baru di MTs Unggulan Nuris Jember melalui tahap seleksi berupa tes. Tes yang dilaksanakan adalah tes tulis akademik

135Hodaifah, wawancara, Jember, 28 April 2018

136 Abu Bakar, wawancara, Jember, 28 April 2018

dan tes lisan yang meliputi tes baca al-Qur’an dan menghafal bait

‘Imrithi. Kedua tes tersebut menjadi bahan penentu diterima atau tidaknya calon peserta didik berdasarkan kompetensi yang dimiliki.

Selanjutnya, seluruh peserta didik yang lulus dan diterima beralih pada tahap kedua yaitu tes psikologi atau psikotes. Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur kepribadian peserta didik yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan acuan penilaian terhadap perkembangan sikap.

Selain itu, MTs Unggulan Nuris Jember juga memberlakukan program penandatanganan surat pernyataan oleh peserta didik dan walinya. Dalam surat pernyataan tersebut, peserta didik menyatakan dirinya siap mematuhi seluruh peraturan dan tata tertib madrasah, serta bersedia melaksanakan segala hukuman yang berlaku apabila melakukan pelanggaran. Sedangkan walinya juga menyatakan bahwa telah pasrah terhadap peraturan dan sanksi yang berlaku. Berikut ini adalah salah satu hasil dokumentasi terhadap surat pernyataan yang terkumpul dalam dokumen Kesiswaan.

Berikut adalah dokumentasi terhadap surat pernyataan yang ditandatangani pada saat penerimaan peserta didik baru oleh peserta didik dan orang tua atau walinya.

Gambar 4.2

Surat Pernyataan Peserta Didik dan Orang tua atau Wali137

Masih dalam kategori proses penerimaan peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember, Abu Bakar menambahkan penjelasannya tentang tahap-tahap PPDB yang ada kaitannya dengan kompetensi sikap yaitu sebagai berikut:

“Kalau masalah tahap penerimaan siswa yang berkaitan dengan sikap, ya itu tadi yang sudah saya sebutkan. Ada program psikotes. Saya kira surat pernyataan juga ada hubungannya dengan sikap siswa. Karena nanti ketika mereka tanda tangan berarti mereka siap mentaati peraturan misalnya bertutur kata yang baik, bertingkah laku yang baik, dan bahkan dalam hal ibadah juga harus baik. Kalau tidak, maka mereka akan dikenai sanksi. Oleh karena itu, pada saat MOS, mereka akan diberikan sosialisasi tata tertib yang akan diberlakukan. Sehingga mereka mengetahui jenis-jenis perbuatan yang tidak boleh dilakukan disertai juga dengan sanksi-sanksinya. Dari sana mereka akan tahu batas-batas mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan.”138

Siti Aminah selaku staf kesiswaan mengatakan hal yang hampir sama dengan pernyataan Abu Bakar. Ia berkata:

137Dokumentasi, Surat Pernyataan Peserta Didik dan Orangtua atau Wali (Jember, 30 April 2018)

138Abu Bakar, wawancara, Jember, 28 April 2018

“Menurut saya, pengenalan sikap terhadap anak dimulai sejak mereka mengikuti Masa Orientasi Siswa atau yang sering disebut dengan istilah MOS. Mengapa? Karena pada saat itu, selain diberikan materi tentang keberadaan dan kondisi madrasah, siswa juga diperkenalkan tentang tata tertib. Namun tidak sebatas cukup pengenalan saja, tapi mereka juga diberikan semacam motivasi mengenai pentingnya mematuhi tata tertib dan alasan mengapa tata tertib itu diberlakukan. Pastinya yang namanya tata tertib itu kan demi kebaikan mereka sendiri. Minimal mereka tahu dan paham bahwa setiap perbuatan mereka, efeknya akan kembali kepada mereka juga. Dan apabila mereka melanggarnya, setidaknya mereka sadar bahwa yang diperbuat itu salah. Ketika diberi sanksi, mereka juga akan merasa bahwa tindakan yang dilakukan sekolah semata-mata untuk kebaikan mereka.139

Berikut adalah hasil dokumentasi terhadap buku tata tertib peserta didik MTs Unggulan Nuris Jember yang diberikan pada seluruh siswa.

Gambar 4.3

Buku Tata Tertib MTs Unggulan Nuris Jember140

139 Siti Aminah, wawancara, Jember, 2 Mei 2018

140Dokumentasi, Buku Tata Tertib MTs Unggulan Nuris (Jember, 3 Mei 2018)

Di samping itu, Moh. Fayyadul Maula, Ketua OSIM MTs Unggulan Nuris Jember mengemukakan:

“Di sekolah ini, pada waktu MOS siswa diperkenalkan tentang kepesantrenan. Karena semua siswa diwajibkan mondok. Kalau tidak mau mondok, tidak boleh sekolah di sini. Yang disampaikan waktu MOS seperti hakikat seorang santri, tugas-tugas santri, dan akhlak santri. Terutama yang menjadi ciri khas santri Nuris yaitu 6S singkatan dari senyum, salam, sapa, sopan, santun, dan sanjung. Sikap 6S ini dikembangkan melalui pembiasaan dan bahkan selalu diingatkan ketika selesai sholat berjamaah.”141 Berikut adalah hasil dokumentasi terhadap enam sifat yang dikembangkan di pesantren Nuris yang tertulis dalam cover buku kumpulan doa setelah shalat berjamaah.

Gambar 4.4

6 sifat yang dikembangkan di Pesantren Nuris Jember142

141Moh. Fayyadul Maula, wawancara, Jember, 3 Mei 2018

142Dokumentasi, Buku Panduan Doa Santri Pesantren Nuris Jember (Jember, 3 Mei 2018)

Berdasarkan cuplikan wawancara dan dokumentasi di atas, dapat diketahui bahwa proses awal pengembangan kompetensi sikap, baik spiritual maupun sosial, selain dari pengukuran kepribadian melalui tes psikologi dan penandatanganan surat pernyataan, juga melalui pemberian motivasi serta penanaman pemahaman pada waktu Masa Orientasi Siswa (MOS) berkaitan dengan manfaat dan pentingnya membiasakan sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Terutama enam sifat yang menjadi ciri khas sekaligus harus menjadi komitmen santri di pesantren Nuris yakni 6S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, dan Sanjung).

2. Pembinaan Disiplin Peserta Didik dalam Menanggulangi Degradasi Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial Peserta Didik di MTs Unggulan Nuris Jember tahun pelajaran 2017/2018.

Disiplin adalah suatu kegiatan di mana sikap, penampilan dan tingkah laku peserta didik sesuai dengan tatanan nilai, norma dan ketentuan yang berlaku di sekolah, baik di dalam kelas ataupun di luar kelas di mana mereka berada. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Anshori, guru Akidah Akhlak MTs Unggulan Nuris Jember. Ia berkata:

“Kalau bagi saya sendiri, siswa dikatakan disiplin ketika dia sudah sesuai dengan tatanan nilai, norma ataupun ketentuan yang berlaku di sekolah, di dalam kelas atau di luar kelas. Kata ‘sesuai’

yang saya maksud itu adalah dari sikapnya, penampilannya, dan juga tingkah lakunya. Dan itu tidak hanya ketika di dalam kelas saja, tapi di luar kelas mereka tetap wajib seperti itu.”143

Tidak jauh berbeda dengan pernyataan tersebut, A. Ficky Rozaqi selaku guru Bahasa Arab memberikan pendapatnya sebagai berikut:

143Anshori, wawancara, Jember, 23 Mei 2018

“Hemat saya, disiplin itu adalah tahu waktu. Artinya waktunya sekolah ya sekolah. Waktunya makan ya makan. Waktunya mandi ya mandi. Waktunya shalat ya shalat. Waktunya main ya tidak apa-apa main. Intinya, patuh peraturan sekolah dan pondok itu sudah bisa dikatakan disiplin. Atau bisa dikatakan juga bahwa disiplin itu adalah mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan dan meninggalkan sesuatu yang harus ia tinggalkan.144

Dengan demikian, kedisiplinan peserta didik yang berkembang di lingkungan MTs Unggulan Nuris Jember adalah suatu sikap taat dan patuh yang dimiliki oleh peserta didik terhadap tata tertib madrasah, tanpa ada pelanggaran-pelanggaran, baik dalam bidang akademik maupun non akademik.

Berbicara tentang pelanggaran peserta didik MTs Unggulan Nuris Jember, ada beberapa macam pelanggaran yang seringkali kali masuk dalam catatan dan pelaporan pada kesiswaan. Berikut adalah keterangan Abu Bakar:

“Karena masih anak-anak dan di sini basisnya pesantren jadi pelanggaran yang sering dilakukan anak-anak terkait tidak lengkapnya atribut, kemudian terlambat masuk kelas yang mana anak-anak selalu beralasan kalau kegiatan pesantren terlalu padat sehingga anak-anak terlambat masuk kelas pagi karena ketiduran, itu untuk yang masalah sosial, sedangkan untuk masalah spiritualnya tentang jama’ahnya. Jama’ahnya anak-anak ini males jadi perlu pendampingan yang baik serta pengondisian dari kesiswaan ketika jam sekolah dan pengurus pesantren ketika jam pondok karena masalah males berjamaah ini bukan hanya karena hawa nafsu tapi juga karena godaan setan jadi perlu pengondisian, beberapa pula tentang pelanggaran kebersihan, anak-anak ini biasanya kalau setelah makan itu kadang masih belom ada kesadaran untuk membersihkan atau membuang sampah pada tempatnya, tapi kami selalu mengingatkan kepada anak-anak agar membuang sampah atau sisa-sisa makanan di tempat sampah.”145

144A. Ficky Rozaqi, wawancara, Jember, 23 Mei 2018

145 Abu Bakar, wawancara, Jember 5 Mei 2018

Keterangan ini sama dengan pernyataan Melati Sinta Nurdanita, siswi kelas VIII MTs Unggulan Nuris Jember. Ia berkata:

“Sedikit banyak pasti pernah melanggar. Sama halnya dengan saya ini yang lumayan sering melanggar, seperti berangkat sekolah terlambat, tidak menggunakan atribut yang lengkap, tidak memakai kaos kaki, ya pokok pelanggaran-pelanggaran kecil saya pernah melakukannya. Saya mandinya ini lama, masih antri.

kemudian makan juga antri karena kalau di pondok itu apa-apa selalu ngantri. Yang melakukan itu bukan hanya saya, teman- teman saya juga ada yang seperti itu. Terutama jama’ah shalat Dzuhur dan Ashar. Karena di sini memang padat kegiatan.

Selesai shalat subuh ada diniyah mulai jam 05.00 - 06.00. setelah itu kami makan dan shalat Dhuha berjama’ah. Biasanya selesainya jam 06.30. Baru kami mandi dan jam 07.00 sudah masuk. Jadi terkadang kalau yang antrinya belakangan sudah telat masuk kelasnya. Dari jam 07.00 itu pelajaran sampai jam 11.30.

Habis itu shalat Dzuhur berjama’ah. Nah di situ biasanya sebagian dari kami lebih memilih tidur soalnya jam 13.00 sudah masuk lagi sampai jam 15.00. Setelah itu masih shalat jama’ah lagi shalat Asharnya. Kadang-kadang kalau cucian banyak ya memilih mandi dan nyuci.”146

Keterangan yang hampir sama dikemukakan oleh Alfan Afandi, yaitu sebagai berikut:

“Yang sering terjadi itu keterlambatan masuk kelas. Biasanya karena kecapekan akibat terlalu padat kegiatan. Kecapekan ini yang nantinya membuat malas untuk melakukan kegiatan selanjutnya sehingga kadang terlambat. Kemudian yang sering terjadi juga itu pelanggaran tidak memakai atribut lengkap seperti dasi, ikat pinggang, dan kadang pula baju atau celana seragam.

Kalau itu biasanya karena hilang. Hilangnya kalau tidak karena memang ada yang mengambil kadang karena memang kesingsal karena sembarangan meletakkan ketika pulang sekolah.”147

Berdasarkan wawancara di atas, dapat diketahui bahwa pelanggaran-pelanggaran yang sering terjadi di MTs Unggulan Nuris Jember antara lain ketidakdisiplinan peserta didik dalam mengikuti

146Melati, wawancara, Jember, 22 Mei 2018

147Alfan, wawancara, Jember, 22 Mei 2018

kegiatan pembelajaran dan shalat berjama’ah. Keduanya disebabkan oleh adanya rasa malas dalam diri peserta didik atau kelelahan karena faktor padatnya kegiatan sekolah. Selain itu, juga sering terjadi pelanggaran ketidaklengkapan atribut seragam yang disebabkan oleh minimnya rasa tanggung jawab peserta didik dalam memelihara atribut masing-masing atau karena keterpaksaan disebabkan atributnya hilang.

Menyikapi pelanggaran-pelanggaran tersebut, penegakan reward dan punishment di MTs Unggulan Nuris sangat ditekankan. Penegakan ini sebagai penanggulangan terhadap pelanggaran-pelanggaran agar tidak terjadi secara berulang-ulang. Berikut adalah keterangan dari Wahyu Eko, staf kesiswaan MTs Unggulan Nuris yang mengatakan:

“Kami selaku kesiswaan sangat tegas kalau sudah membahas soal pelanggaran siswa. Kalau ada siswa yang melanggar, maka akan disanksi berdasarkan pada tata tertib dan disesuaikan dengan pelanggaran mereka. Dan itu bertahap. Pertama, masih dalam penanganan wali kelas masing-masing. Jika dalam penaganan wali kelas tidak diindahkan oleh siswa, maka akan diserahkan kepada kesiswaan. Berdasarkan laporan wali kelas siswa yang bersangkutan dan analisis permasalahan, maka kesiswaan memberikan punishment. Kalau memang diperlukan, siswa yang bersangkutan akan diserahkan ke BK untuk dikonseling.

Kesiswaan juga memberikan hukuman berupa menulis surat at- Taubah atau seribu lafadz Istighfar dan juga membaca surat Yasin selama seminggu. Kalau tulisannya tidak selesai seminggu maka hukuman membaca Yasin ditambah lagi seminggu. Ketika siswa itu masih saja melanggar, maka kepala madrasah yang menangani langsung. Kalau sudah ditangani kepala madrasah, maka bisa jadi pemanggilan orangtua. Tapi, orangtua biasanya sudah pasrah penuh pada sekolah untuk sanksi pada anaknya. Karena memang dari awal, kita sudah ada kesepakatan dan orangtua juga menulis surat pernyataan pemasrahan anaknya.”148

Dalam masalah ini, Abu Bakar menjelaskan:

148Wahyu Eko, wawancara, Jember, 5 Mei 2018

“Sebagai pembinaan disiplin siswa, kesiswaan melakukan dua program yaitu pemberian reward dan punishment. Reward diberikan pada anak teladan. Kategori teladan maksudnya tidak pernah melanggar. Jadi di akhir setiap bulan, kesiswaan minta rekap perkembangan sikap anak pada masing-masing wali kelas untuk dilihat perkembangan sikap spiritual dan sosial anak dalam kesehariaannya. Dari situ kesiswaan menilai anak yang paling sedikit melanggar dan kemudian dinobatkan sebagai siswa teladan pada bulan itu. Ya sekedarnya ada hadiah. Program itu kami lakukan supaya anak-anak berlomba-lomba dalam kebaikan.

Untuk akhir tahun, ada juga pemberian beasiswa pada siswa paling disiplin. Terus yang kedua adalah dengan pemberian punishment. Ini kebalikannya yakni diberikan pada yang melanggar. Untuk bentuk punishmentnya ini disesuaikan dengan point pelanggaran yang telah dicapai oleh siswa yang bersangkutan. Selain itu kami juga ada tahap-tahap penanganan pelanggaran siswa. Jadi pelanggaran pertama itu masih ditangani oleh wali kelas masing-masing. Kalau sudah dua kali penanganan masih tidak berubah, maka kesiswaan yang bertindak. Dan terakhir untuk pelanggaran ke empat kalinya, ada pemanggilan orang tua oleh kepala madrasah.149

Hidayatullah, selaku guru Fiqih sekaligus wali kelas VII-C mengemukakan:

”Jika ada anak yang melanggar, dalam tanda kutip pelanggaran kecil seperti telat, bolos sekolah, atau tidak berseragam lengkap maka saya tangani dulu. Diberi pengarahan dan berbicara dari hati ke hati kenapa bisa melanggar. Sekaligus diberi hukuman bersih- bersih, membaca surat Yasin, atau hukuman lain yang mendidik.

Jika masih melanggar lagi maka saya tambah hukuman yang lebih berat. Baru kalau sudah tiga kali tidak mempan, maka saya serahkan pada kesiswaan. Tergantung kesiswaan sudah mau diberi hukuman apa, nanti saya laporkan permasalahannya pada kesiswaan. Apabila pelanggaran yang dilakukan merupakan pelanggaran yang cukup berat seperti pacaran atau berkelahi maka langsung saya konfirmasi pada kesiswaan”150

Dari keterangan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa pembinaan disiplin peserta didik yang dilaksanakan di MTs Unggulan

149Abu Bakar, wawancara, Jember 5 Mei 2018

150 Hidayatullah, wawancara, Jember, 24 Mei 2018

Nuris Jember menggunakan model pemberian reward dan punishment.

Pemberian reward bertujuan untuk menanamkan rasa saling berlomba- lomba dalam kebaikan. Sehingga siswa bersaing menjadi yang terbaik dan dinobatkan sebagai siswa teladan. Pemberian reward ini dilaksanakan setiap akhir bulan dengan memberikan hadiah pada siswa yang terpilih menjadi siswa teladan. Dan khusus akhir tahun, ada pemberian beasiswa pada peserta didik paling disiplin.

Berikut adalah dokumentasi terhadap prosesi penobatan sebagai siswa dan siswi teladan pada bulan April 2018 dan daftar Penerima Beasiswa Prestasi di dalam dokumen kesiswaan.

Gambar 4.5

Penobatan Siswa dan Siswi Teladan MTs Unggulan Nuris Jember151

151Dokumentasi, Penobatan Siswa dan Siswi Teladan MTs Unggulan Nuris Jember (Jember, 11 Mei 2018)

Tabel 4.1

Peraih Beasiswa Prestasi MTs Unggulan Nuris Jember Tahun Pelajaran 2017/2018152

NO KATEGORI PERAIH

1. Terbaik Prestasi Lomba a. Sains

b. Non Sains

Moch. Hilman Faidul Umam (8C) Mufidatul Haq (7F)

2. Terbaik Madrasah Diniyah a. Marhalah Ula MTs Putra b. Marhalah Ula MTs Putri

Moh Rafli Tri Kurmanjaya (7C) Alya Zuhairina Wildatul F. (8G) 3. Terdisiplin

a. Putra b. Putri

Ahmad Nailur Ridho (7B) Siti Fitriatus Sholikhah (8G) 4. Terbaik Hafalan Imrithy

a. Putra b. Putri

Fayyadh Rohmany (8C) Imrotul Hasanah (8G) 5. Terbaik Tahfidz

a. Putra b. Putri

M. Farhan Rahardian (7A) Mustahfidlotul Qurani (7D)

152Dokumentasi, Peraih Beasiswa Prestasi MTs Unggulan Nuris Jember Tahun Pelajaran 2017/2018 (Jember, 11 Mei 2018)

Selanjutnya, pembinaan disiplin peserta didik di MTs Unggulan Nuris Jember yang kedua adalah dengan menggunakan model pemberian punishment. Punishment diberikan kepada siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib di madrasah. Pelanggaran pertama, siswa ditangani oleh wali kelas dengan diberikan arahan dan bimbingan serta hukuman yang mendidik seperti bersih-bersih dan membaca surat Yasin.

Dari hasil observasi, tempat yang dibersihkan adalah sepanjang halaman kelas ditambah masjid yang dilaksanakan pada waktu istirahat setelah shalat Dzuhur dengan pengawasan wali kelas.153 Sedangkan untuk hukuman membaca surat Yasin dilaksanakan pada saat jam wali kelas yaitu pukul 06.45 – 07.00. Siswa diminta membaca surat Yasin di depan kelas dengan posisi berdiri.154 Apabila siswa tersebut masih mengulangi lagi pelanggarannya, maka wali kelas memberikan hukuman tambahan.

Jika masih mengulang lagi, wali kelas melaporkan serta menyerahkan penanganan siswa tersebut pada kesiswaan. Dalam penanganan kasus pelangaran ini, kesiswaan bersama-sama dengan BK. Sehingga siswa dikonseling dan diberi hukuman menulis surat at-Taubah atau seribu kata Istighfar dan membaca surat Yasin sebelum masuk sekolah dalam jangka waktu seminggu. Apabila siswa tersebut tidak bisa menyelesaikan maka akan ditambah lagi membaca surat Yasin selama seminggu. Punisment ini merupakan punisment yang ketiga. Namun, ketika siswa yang

153Observasi, 14 Mei 2018

154Observasi, 23 Mei 2018

bersangkutan masih melakukan pelanggaran lagi, maka kepala madrasah yang menangani langsung dengan pemanggilan orangtua atau wali.

Penanganan sebagaimana telah disebutkan di atas, berlaku pada kasus-kasus pelanggaran yang kecil seperti terlambat masuk sekolah atau tidak memakai atribut lengkap. Sedangkan apabila pada kasus-kasus pelanggaran yang berat seperti pacaran dan berkelahi, maka penanganannya langsung pada kesiswaan. Sehingga wali kelas atau guru yang memergoki siswa yang melakukan pelanggaran ini langsung melakukan koordinasi dengan kesiswaan.

Berikut adalah hasil dokumentasi terhadap salah satu lembar tugas menulis surat at-Taubah bagi peserta didik yang melanggar, membaca Yasin di depan kelas, dan membersihkan halaman.

Gambar 4.6

Lembar Tugas Menulis Surat At-Taubah155

155Dokumentasi, Lembar Tugas Menulis Surat At-Taubah (Jember, 14 Mei 2018)

Dalam dokumen manajemen kesiswaan dalam menanggulangi (Halaman 110-138)

Dokumen terkait