• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

3. Konsep Desa Wisata

3. Masyarakat Pariwisata

Menurut penjelasan pasal 5 huruf e UU Kepariwisataan No. 10 Tahun 2009 menyebutkan bahwa organisasi masyarakat adalah masyarakat yang bertempat tinggal di dalam wilayah destinasi pariwisata yang berperan aktif mengorganisir kegiatan pariwisata dan diprioritaskan untuk mendapatkan manfaat dari penyelenggaraan kegiatan pariwisata di tempat tersebut.36

Komponen penting dalam pengembangan pariwisata menurut George Mclntyre, adalah suatu pengembangan pariwisata yang berkelanjutan memiliki keterkaitan antara wisatawan, warga setempat dan pemimpin masyarakat yang menginginkan hidup lebih baik. Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa dalam pengembangan pariwisata sangat membutuhkan adanya komponen-komponen tersebut untuk dapat menjadi suatu objek atau destinasi wisata yang baik dan menarik.37

merupakan suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.38

Menurut Pariwisata Inti Rakyat (PIR), desa wisata adalah suatu daerah wisata yang menyajikan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan baik dari sisi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, keseharian, adat istiadat, memiliki arsitektur dan tata ruang yang khas dan unik, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta memiliki potensi untuk dikembangkannya komponen kepariwisataan.39 Dari beberapa uraian di atas desa wisata dapat diterjemahkan sebagai suatu pendekatan pengembangan pariwisata dimana elemen-elemen pengembangan pariwisata (atraksi, akomodasi, transportasi, elemen kelembagaan/pengelola, serta infrastruktur dan fasilitas layanan lainnya) memiliki integrasi dan harmonisasi dengan kehidupan masyarakat lokal dan aspek fisik kawasan suatu desa.40

Adapun tujuan dan sasaran dari pembangunan Desa Wisata diantaranya:

a. Mendukung program pemerintah dalam program kepariwisataan dengan penyediaan program alternatif.

b. Menggali potensi desa untuk pembangunan masyarakat desa setempat.

c. Memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha bagi penduduk.

38 Yohanes Sulistyadi, Fauziah Eddyono, Derinta Entas, Pariwisata ..., h. 57.

39 Ibid., h. 58.

40 Nurdiyansah, Peluang Dan Tantangan Pariwisata Indonesia, (Bandung:Alfabeta,2014), h. 70.

Selain dari adanya tujuan dan sasaran yang dipaparkan di atas, menurut Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2011, pengembangan desa wisata juga memiliki syarat dan faktor pendukung yang harus dipenuhi diantaranya :

a. Memiliki potensi daya tarik yang unik dan khas yang mampu dikembangkan sebagai daya tarik kunjungan wisatawan, seperti sumber daya wisata alam, sosial dan budaya.

b. Memiliki dukungan ketersediaan Sumber Daya Manusia lokal.

c. Memiliki alokasi ruang untuk pengembangan fasilitas pendukung seperti sarana dan prasarana berupa komunikasi dan akomodasi, serta aksesbilitas yang baik.41

4. Pemberdayaan Ekonomi Mayarakat

Pemberdayaan menurut bahasa berasal dari kata daya yang berarti tenaga/kekuatan, proses, cara, perbuatan memberdayakan. Pemberdayaan adalah upaya yang membangun daya masyarakat dengan mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya. Pemberdayaan diarahkan guna meningkatkan nilai tambah yang tinggi dan pendapatan yang lebih besar.

Ekonomi masyarakat adalah segala kegiatan ekonomi dan upaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (basic need) yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Dengan demikian

41 Ibid., h. 58.

dapat dipahami bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan satu upaya untuk meningkatkan kemampuan atau potensi masyarakat dalam kegiatan ekonomi guna memenuhi kebutuhan hidupserta meningkatkan kesejahteraan mereka dan dapat berpotensi dalam proses pembangunan nasional.

Dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat, pola pemberdayaan yang sangat tepat sasaran sangat diperlukan, bentuk yang tepat adalah dengan memberikan kesepatan kepada kelompok miskin untuk merencanakan dan melaksanakan program pembangunan yang telah mereka tentukan. Disamping itu masyarakat juga diberikan kekuasaan untuk mengelola dananya sendiri, baik yang berasal dari pemerintah ataupun pihak tertentu. Good governance adalah tata pemerintahan yang baik merupakan suatu kondisi yang menjalin adanya proses kesejahteraan, kesamaan, kohesi dan keseimbangan peran, serta adanya saling mengontrol yang dilakukan komponen pemerintah, rakyat dan usahawan swasta.42

5. Dampak Pariwisata Terhadap Ekonomi

Dampak berarti akibat yang ditimbulkan oleh sesuatu kejadian.

Ekonomi masyarakat adalah ekonomi yang berdasarkan produksi hasil aktivitas masyarakat. Hasil masyarakat dimaksud di sini terbatas pada produksi hasil aktivitas sehubungan dengan kegiatan pariwisata. Jika intensitas kegiatan pariwisata dalam suatu masyarakat meningkat, maka

42 Mardi Yatmo Hutomo, Pemberdayaan Masyarakat dalam Bidang Ekonomi,(Yogyakarta:Adiyana Press,2000), h.1-2

produksinya juga akan meningkat. Hal ini kemudian akan berdampak kepada meningkatnya keadaan sosial ekonomi masyarakatnya. Termasuk sektor pariwisata budaya yang akan berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat pendukungnya.

Dampak postitif pariwisata terhadap perekonomian diantaranya:

a. Pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan perekonomian masyarakat lokal menggeliat dan menjadi stimulus berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertambah seiring bertumbuhnya sektor ekonomi lainnya.

b. Meningkatkan pendapatan pemerintah, baik yang berasal dari pelaku bisnis pariwisata maupun wisatawan yang berkunjung.

c. Terciptanyan peluang kerja, dan peluang usaha seperti usaha akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan souvenir.

d. Berkembangnya sektor pariwisata lokal dapat mendorong pemerintah lokal untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik, penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi dan fasilitas pendukung lainnya.

e. Pemanfaatan fasilitas pariwisata oleh masyarakat lokal.43 Selain dari dampak positif pariwisata terhadap perekonomian terdapat pula dampak negatifnya diantaranya:

43 Suwena, I Ketut & Widyatmaja, I Gst Ngr, Pengetahuan..., h. 165-169.

a. Ketergantungan terlalu besar pada pariwisata.

b. Meningkatnya angka inflasi serta meroketnya harga tanah.

c. Meningkatnya kecendrungan untuk mengimpor bahan- bahan demi memenuhi kebutuhan pariwisata.

d. Ketidakpastian dalam pengembalian modal investasi karena sifat pariwisata yang musiman.

e. Timbulnya biaya-biaya tambahan lain bagi perekonomian setempat akibat kerusakan oleh pariwisata.44

Sementara menurut Cohen, dampak pariwisata terhadap kondisi ekonomi masyarakat lokal dapat dikategorikan menjadi delapan kelompok besar diantaranya, dampak terhadap penerimaan devisa, dampak terhadap pendapatan masyarakat, dampak terhadap kesempatan kerja, dampak terhadap harga-harga, dampak terhadap distribusi manfaat dan keuntungan, dampak terhadap kepemilikan dan kontrol, dan dampak terhadap pendapatan pemerintah.45

Mengingat ruang lingkup penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti masih berada pada tingkatan desa serta dengan intrumen dan metode penelitian yang masih terbatas, maka kajian tentang dampak ekonomi yang akan dilakukan oleh peneliti tidak terpaku pada seluruh dampak yang disebutkan oleh Cohen, yang dimana peneliti di sini membatasi penelitian dengan mengkaji hanya kepada dampak terhadap pendapatan masyarakat, dampak terhadap kesempatan kerja, dampak

44 Ibid.

45 Andjar Prasetyo, Muhammad Zaenal Arifin, Pengelolaan Destinasi Wisata Yang Bekelanjutan Dengan Sistem Indikator Pariwisata, (Jakarta:Indocamp,2018) , h. 23.

terhadap harga-harga, dampak terhadap kepemilikan dan kontrol (ekonomi) oleh masyarakat dan dampak terhadap pendapatan pemerintah.

G. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian

Para peneliti dapat memilih berjenis-jenis metode dalam melaksanakan penelitiannya. Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Metode Deskriptif adalah metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Adapun tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.46

2. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.

Penelitian Kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur kuantifikasi, perhitungan statistik, atau bentuk cara-cara lainnya yang menggunakan ukuran angka, namun berupa pengetahuan yang dibangun melalui interprestasi terhadap multi perpsektif yang beragam dari masukan segenap partisipan yang terlibat di dalam penelitian, tidak hanya dari penelitiannya semata. Penelitian

46 Moh. Nazir,Metode Penelitian,(Bogor:Ghalia Indonesia, 2011), h. 54.

kualitatif pada hakekatnya mengamati objek (responden) secara langsung kegiatan yang mereka lakukan, berinteraksi dengan mereka, dan berusaha menyelami kehidupan mereka dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.47

Penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yakni untuk mengetahui dampak pengembangan desa wisata Sukarara terhadap ekonomi masyarakat lokal. Dalam penelitian ini peneliti langsung turun kelapangan untuk mencari sumber data, dengan bentuk catatan observasi, catatan wawancara yang mendalam dan sejarah masyarakat, dengan menggunakan pendekatan penelitian ini diharapkan peneliti mampu menggambarkan secara akurat tentang dampak pengembangan desa wisata Sukarara terhadap ekonomi masyarakat lokal.

3. Kehadiran Peneliti

Peneliti dalam penelitian kualitatif sangat berperan dalam proses pengumpulan data atau dalam kata lain yang menjadi instrumen dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat dari Miles kehadiran peneliti di lapangan dalam penelitian kualitatif adalah suatu yang mutlak, karena peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian sekaligus pengumpul data.48

47 Ajat Rukajat, Pendekatan Penelitian Kualitatif (Qualitative Research Approach), (Yogyakarta:Deepublish,2018), h. 5-6.

48 Albi Anggito & Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jawa Barat:Cv Jejak,2018), h. 75.

Sebagai Intrumen dalam penelitian, peneliti berperan aktif dalam penelitian, dimana peneliti menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam penelitian ini, peneliti juga mempersiapkan diri untuk memasuki objek penelitian, mempelajari, dan berusaha memahami segala sesuatu terkait dengan penelitian yang dilakukan, seperti membuat pertanyaan untuk wawancara, memahami segala metode yang dilakukan dan mengambil keputusan, demi keaslian hasil penelitian yang diperoleh.

4. Lokasi Penelitian

Lokasi yang dipilih oleh peneliti untuk melakukan penelitian adalah Desa Sukarara yang berada di Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Desa Sukarara sendiri merupakan sebuah desa wisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan dengan destinasi budaya yang masih kental serta kerajinan tenun sebagai daya tarik utama yang ditawarkan untuk wisatawan.

5. Sumber dan jenis data a. Sumber data

Adapun jenis data yang dikumpulkan berdasarkan sumbernya dalam penelitian ini adalah :

1. Data primer

Data primer yaitu sejumlah keterangan atau fakta yang langsung diperoleh dari sumber pertama atau dari hasil penelitian di lapangan.49. Dalam hal ini yang menjadi sumber data primer

49 Sugiyono, Metode Kuantitatif Kualitatif Dan R & D, (Bandung:Alfabeta,2014), h. 7.

yaitu masyarakat lokal yang berprofesi sebagai pengerajin, pengusahan dan pengelola pariwisata termasuk kedalamnya Pokdarwis dan pemerintah desa, dengan memfokuskan data dicari yakni data terkait pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, perubahan harga-harga, kepemilikan dan kontrol (ekonomi) masyarakat dan pendapatan Pemerintah. Dimana peneliti menggunakan data primer sebagai data utama dalam penelitian, dimana bentuk data primer diperoleh dengan terjun langsung kelapangan dengan melakukan observasi, dan wawancara kepada msyarakat lokal Desa Sukarara.

2. Data sekunder

Data sekunder yaitu suatu data yang diperoleh secara tidak langsung, data sekunder merupakan data yang sudah tersedia sehingga tinggal dicari dan dikumpulkan.50 Bentuk data sekunder dalam penelitian ini berupa data yang diambil dari arsip dan data rekap dari desa Sukarara, serta dokumen-dokumen lain yang dibutuhkan yang terkait dengan penelitian yang akan dilakukan.

Data sekunder ini akan peneliti cari lewat Pemerintah Desa, Pokdarwis selaku pengelola, pengusaha dan masyarakat Desa Sukarara.

50 Ibid., h. 137.

b. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yang berupa data yang menyatakan keadaan atau karakteristik yang dimiliki oleh suatu objek yang diteliti, yang diperoleh dari observasi dan wawancara kepada objek penelitian.

6. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut :

a. Metode observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis mengenai fenomena sosial dan gejala-gejala psikis. Observasi dapat dilakukan secara partisipatif atau non partisipatif. Observasi partisipatif adalah kegiatan mengumpulkan data dimana pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Sedangkan observasi non partisipatif adalah pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan, dimana dia hanya berperan mengamati kegiatan.51

Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti saat ini memilih menggunakan metode observasi secara non partisipasif, dimana peneliti tidak terlibat langsung dengan kegiatan masyarakat

51 Joko Subagio, Metodologi Penelitian Dalam Teori Dan Praktik, (Jakarta:Rieneka Cipta,1999), h. 63.

yang diteliti, dapat dikatakan peneliti hanya sebagai pengamat yang tidak ikut serta dalam kegiatan yang diamatinya.

b. Metode wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan berhadapan secara langsung dengan responden tetapi dapat juga diberikan daftar pertanyaan dahulu untuk dijawab pada kesempatan lain.52 Wawancara dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur yaitu :

1. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dimana peneliti melakukan wawancara sesuai dengan pedoman wawancara yang tersusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan data.

2. Wawancara tak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidakk menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara lengkap dan sistematis salam pengumpulan data. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.53

Adapun bentuk wawancara yang dilakukan peneliti dalam penelitian yang dilakukan yakni wawancara tidak terstruktur, dimana peneliti melakukan wawancara tanpa menggunakan

52 Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, (Jakarta:Prenadamedia Group,2017), h. 138.

53 Sugyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung:Alfabeta,2014), h. 75.

pedoman wawancara, dimana peneliti berbincang biasa dengan responden dan ketika sudah terbuka kesempatan untuk menanyakan sesuatu yang menjadi tujuan, maka segera ditanyakan.

c. Dokumentasi

Dalam pelaksanaan metode dokumentasi peneliti melakukan penyelidikan mengenai hal-hal atau variabel yang diperlukan dalam penelitian, baik berupa catatan, buku, surat kabar, majalah, prasasti, agenda dan sebagainya.54 Kemudian dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan peneliti untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti, yang didapatkan baik dari data-data desa, dalam bentuk catatan, foto, buku dan sebagainya.

7. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan bagian yang penting dalam penelitian, karena dalam analisis ini akan diperoleh temuan, baik temuan substantive maupun formal.55 Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan selama proses penelitian berjalan. Teknik analisis data dalam rencana penelitian dilakukan dengan tiga langkah secara bersamaan diantaranya :

a. Reduksi data (Data Reduction)

Data kualitatif yang ditemukan peneliti dalam penelitiannya dilapangan sangat banyak, random, dan tidak beraturan baik dalam metode wawancara, observasi maupun dokumentasi. Dalam hal ini

54 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Praktik, (Jakarta: Bina Aksara, 2001), h. 102.

55 Sugyono, Memahami Penelitian Kualitatif..., h. 209.

peneliti melakukan reduksi data dimana peneliti memilih data pada hal-hal yang pokok dan memfokuskan pada hal-hal yang penting dan membuang hal-hal yang dirasa tidak penting yang sesuai dengan kerangka kerja peneliti sehingga memberikan gambaran lebih jelas dan memudahkan untuk melakukan pengumpulan data.

b. Paparan Data (Data Display).

Langkah selanjutnya dari data yang telah direduksi adalah memaparkan data.56 Setelah peneliti melakukan reduksi data, peneliti kemudian menyajikannya dalan bentuk uraian singkat, dengan menggunakan kata dan kalimat yang dapat dan mudah dimengerti.

c. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing).

Penarikan kesimpulan merupakan hasil penelitian yang menjawab fokus penelitian berdasarkan hasil analisis data57. Dalam penelitian ini peneliti menarik kesimpulan yang kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif objek penelitian dengan memberikan argumentasi dan justifikasi dari realitas yang sedang diteliti.

8. Uji Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan uji yang dilakukan peneliti untuk membuktikan apa yang telah diamati dalam penelitian sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Sehingga untuk mendapatkan data yang

56 Ibid., h. 211.

57 Ibid., h. 212.

falid membutuhkan uji keabsahan data, dengan tujuan data yang dikumpulkan mengandung nilai keaslian.58 Pada penelitian ini, triangulasi menjadi teknik pemeriksaan keabsahan data yang dilakukan oleh peneliti, dimana pada hakekatnya merupakan metode pendekatan multimetode yang dilakukan pada saat mengumpulkan dan menganalisis data dengan ide dasarnya adalah bahwa fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik sehingga diperoleh kebenaran tingkat tinggi jika didekati dari berbagai sudut pandang. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan peneliti adalah dua teknik triangulasi yakni triangulasi metode dan triangulasi sumber data.

a. Triangulasi metode

Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berbeda. Untuk memperoleh kebenaran informasi yang handal dan gambaran yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti bisa menggunakan metode wawancara bebas atau wawancara terstruktur, atau peneliti menggunakan observasi atau pengamatan untuk mengecek kebenarannya.59

Dalam penelitian ini, dalam pemeriksaan keabsahan data melalui teknik triangulasi metode, peneliti melakukan dengan mencroscek kebenaran data dari hasil metode penelitian yang

58 Lexi J. Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2012), h. 330.

59 Djam’an Satori & Komariah, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung:Alfabeta,2013), h. 170.

berbeda, seperti dalam penelitian ini peneliti membandingkan data hasil metode wawancara dengan data hasil observasi langsung di lapangan, jika relevan maka hasilnya diambil, namun jika terdapat perbedaan atau keraguan data yang diperoleh, peneliti akan menggunakan metode yang lain yang relevan dengan hasil sebelumnya.

b. Triangulasi sumber data

Triangulasi sumber data berarti menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Data yang diperoleh akan dideskripsikan, dikategorikan, mana pandangan yang sama dan mana pandangan yang berbeda serta mana data yang spesifik dari beberapa sumber.60

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan teknik triangulasi sumber data dengan cara mengcroscek kebenaran data hasil dari sumber yang satu dengan sumber yang lain, dimana peneliti melakukan wawancara dengan banyak sumber, dengan tujuan menbandingkan data yang disampaikan oleh sumber yang satu dengan sumber yang lain, apakah terdapat kesamaan atau malah berbeda. Jika data yang disampikan terdapat kesamaan maka data tersebut dianggap benar, namun jika berbeda maka peneliti mencari sumber lain untuk memperoleh data yang relevan.

60Ibid., h. 171.

H. Sistematika Pembahasan

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan. Dalam penulisannya berpedoman pada penulisan skripsi yang dikeluarkan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Mataram, penulisan laporan hasil penelitian ini terdiri dari empat bab, dijelaskan sebagai berikut:

Pada BAB I, berisi pendahuluan. Pada bab ini peneliti mengungkapkan latar belakang dari masalah yang akan diteliti, yang kemudian muncul keinginan untuk mengkaji permasalahan yang timbul dan diangkat menjadi sebuah judul dalam penelitian yang akan dilakukan. Termasuk juga dalam bab ini diantaranya, fokus kajian atau rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, telaah pustaka, kerangka teori dan metodologi penelitian. Dalam metodologi penelitian juga terdapat serangkaian teknis dan metode penelitian yang dipaparkan dalam bab ini diantaranya, pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, sumber dan jenis data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan keabsahan data.

Pada BAB II, berisi paparan data dan temuan penelitian. Dalam bab ini diuraikan tentang paparan data dan temuan penelitian yang dilakukan di lapangan. Dalam bab ini peneliti menggambarkan secara singkat tentang gambaran lokasi penelitian dan temuan-temuan dalam melakukan penelitian serta tanggapan dari beberapa informan tentang pembahasan dari penelitian ini.

Pada BAB III, berisi tentang pembahasan. Dalam bab ini berisi tentang pembahasan yang merupakan inti dari penelitian yang dilakukan. Dalam bab

ini peneliti menguraikan tentang pembahasan dari hasil penelitian termasuk didalamnya pembahasan tentang jawaban dari hasil pertanyann-pertanyaan dari fokus kajian penelitian yakni dampak dari pengembangan desa wisata Sukarara terhadap ekonomi masyarakat lokal.

Pada BAB IV, berisi Penutup. Dalam bab ini memuat tentang penutup yang didalamnya dipaparkan kesimpulan dari penelitian yang bersumber dari pembahasan, serta terdapat saran dari hasil analisis data yang berkaitan dengan penelitian.

Bagian akhir, peneliti mencantumkan daftar pustaka dan lampiran.

BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Desa Sukarara

Sesuai dengan data yang peneliti temukan di lokasi penelitian yang berlokasi di Desa Sukarara Kecamatan Jonggat, peneliti dapat menyimpulkan paparan data dan temuan sebagai berikut :

1. Sejarah Desa Sukarara Kecamatan Jonggat

Sukarara berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “Suke dan Rare” yang dimana Suke diartikan sebagai tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun atas kemauan sendiri sedangkan Rare artinya ingin menyendiri dan berkiprah dari azaz berdikari yang bersemboyan : “Oyowok bebek

belang, jambul pituq sampi gading betenggale, ngenggek sengkangn dare lengkuk maraq panji sukerare” yang artinya semua warga atau masyarakat, walaupun banyak perbedaan marilah kita bersatu, satu dalam tujuan, untuk memperlihatkan ciri khas dalam satu desa, sebagai barisan desa yaitu lokal.

Desa Sukarara terbentuk pada tahun 1775, dengan sejarah asal muasal desa ini diberi nama Desa Sukarara adalah Suka yang berarti senang dan Rara yang berarti miskin, sehingga diartikan penduduk Desa Sukarara selalu senang walaupun miskin. Pemberian nama Desa Sukarara yaitu oleh kepala dukuh yang pertama kali memimpin Desa Sukarara yaitu sejak tahun 1755-2775. Pemimpin Desa Sukarara yang pertama kali yaitu Raden Anugrah dan Raden Cempake yang pada waktu itu disebut Pemban

atau Panji. Dimana pada waktu itu Raden Anugrah memegang kekuasaan di bidang Pemerintahan, sedangkan Raden Cempake di bidang Pertanian, yang sekarang makamnya ada di Tempat Pemakaman Umum Karang Waru Dasan Duah Desa Sukarare. Sejak tahun 1775 sampai tahun 2019 Desa Sukarara telah dipimpin oleh 19 Kepala Desa.61

2. Letak Geografis Desa Sukarara Kecamatan Jonggat

Letak Geografis suatu wilayah menjelaskan tentang letak dan posisi suatu wilayah yang dilihat secara garis hukum, menurut batas-batas wilayah yang telah ditetapkan, sesuai dengan peraturan pemerintah setempat yang berlaku.

Desa Sukarare merupakan salah satu desa dari sepuluh desa yang berada di wilayah Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, dan juga merupakan salah satu Desa Wisata yang telah disahkan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat dari 16 Desa Wisata yang terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa Sukarara terletak pada jarak 6 km sebelah Tenggara dari pusat Pemerintahan Kecamatan, terletak pada jarak 5,5 km di sebelah Barat Daya dari pusat Pemerintahan Kabupaten, dan terletak pada jarak 21 km sebelah Tenggara dari pusat Pemerintahan Provinsi. Luas wilayah menurut penggunaan di dominasi oleh tanah sawah, tanah kering, fasilitas umum, dan tanah hutan yang luasnya sekitarnya 755,880 Ha, atau kurang lebih 11,16 % dari luas Kecamatan Jonggat.

61 Mamiq Erna (Tokoh Adat), Wawancara, Sukarara, Tanggal 15 Maret 2020.

Dokumen terkait