• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep WasiatWajibah

Dalam dokumen Murdiono 160402021 Tesis - etheses UIN Mataram (Halaman 101-112)

BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISIS

C. Konsep WasiatWajibah

85

memiliki kedudukan yang sama maka wasiat-wasiat tersebut dikeluarkan dari 1/3 harta itu dengan menggunakan pertimbangan, apabila salah satunya lebih penting maka yang lebih penting itu harus di dahulukan.

3. Tidak mengandung bahaya (mudharat).

Diantara mudharat tersebut adalah mengutamakan sebagian waris atas sebagian lainnya yang bahkan Nabi sendiri menyebut perbuatan tersebut sebagai juran (perbuatan aniaya). Bentuk mudharat yang lain adalah jika dengan wasiat tersebut seseorang bermaksud mengharamkan para ahli waris untuk mendapatkan sebagian atau seluruh warisan mereka. Wasiat semacam ini sama sekali tidak di perbolehkan. Ini juga menunjukan bahwa wasiat itu tidak boleh mengandung mudharat sama sekali, baik melalui 1/3 tirkah maupun kurang atau lebih dari 1/3 tirkah.

Selain hal tersebut adanya ijab dan kabul adalah merupakan unsur yang esensial dalam wasiat. Hal ini terkait dengan wasiat sebagai suatu akad. Wasiat sah di ucapkan dengan redaksi bagaimana yang bisa yang bisa dianggap menyatakan pemberian hak pemilikkan secara suka rela sesudah seseorang meninggal dunia.

86

Kehadiran aturan tentang wasiat wajibah terhadap anak angkat atau orang tua angkat melalui pasal 209 Kompilasi hukum Islam, telah menimbulkan semacam puzzling. Artinya, bahwa perhatian oleh para ulama atau cendikiawan Islam kita terhadap anak angkat untuk mendapatkan harta peninggalan melalui wasiat wajibah perlu dipertanyakan, mengingat bahwa anak angkat secara hukum Islam sendiri bukanlah termasuk golongan al-Aqrabin (apalagi al-walidayn) berdasarkan Q.S al-Baqarah ayat 180 untuk melimpahkan wasiat wajibah terhadapnya. Namun hal ini bukanlah bersifat harga mati untuk sebuah peluang yang bersifat manusiawi dan sosial dalam membuka bagi anak angkat pintu pelimpahan harta peninggalan melalui wasiat wajibah. Rumusan para ulama kita dalam pasal 209 KHI inilah pada akhirnya mampu membuka harapan itu yang walaupun dalam realitanya masih jarang teraplikasikan. Namun, perlu juga diingat bahwa dalam kehidupan masyarakat Islam Indonesia telah banyak dipraktekkan apa yang dinamakan dengan pengangkatan anak. Pengangkatan anak disini dipahami bahwa secara lembaga merupakan bagian dari kewenangan aturan hukum perkawinan (sebagaimana diatur dalam

87

Undang-undang RI Nomor.1 Tahun 1974 tentang perkawinan)96 dalam konteks agama Islam. Artinya, lembaga pengangkatan anak merupakan bagian dari hukum perkawinan sehingga sepanjang pengangkatan anak itu dilakukan oleh mereka yang beragama Islam atau memenuhi Asas Personalitas KeIslaman, maka pengangkatan anak itu menjadi kewenangan Pengadilan Agama.97 Pernyataan ini membuktikan bahwa proses pengangkatan terhadap anak itu secara jelas terlegitimasi oleh hukum. Terlebih konteks ini masuk ranah personalitas keIslaman dengan kehadiran Undang- undang RI Nomor.7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang kemudian diubah dengan Undang-undang RI nomor. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU RI No. 7 Thn. 1989, pada penjelasan pasal 49 huruf (a) tentang perkawinan di angka (20), bahwa salah satu kewenangan bagi Pengadilan Agama danak mereka yang beragama Islam dari sub bidang perkawinan adalah tentang pengangkatan anak yang berdasarkan hukum Islam.98

96Yaitu Undang-undang tentang perkawinan yang telah menentukan Pengadilan Agama sebagai Pengadilan yang berwenang mengadili perkara-perkara bidang perkawinan bagi mereka yang beragama Islam dan Pengadilan Umum bagi lainnya.

97Musthofa Sy, Pengangkatan Anak Kewenangan Pengadilan agama, (Jakarta : Kencana, 2008), 59

98Musthofa Sy, Pengangkatan Anak Kewenangan Pengadilan agama, 60

88

Adanya alas an legitimasi dari aturan hukum terhadap proses anak angkat maupun secara lebih alasan manusiawi da social yang menjadi hal yang sensitive di mata masyarakat dari keberadaan anak angkat, maka sewajarnyalah pandangan para ulama kita diperhatikan juga terhadap anak angkat ataupun orang tua angkatnya dalam akibat hokum yang ditimbulkan dari hubungan keduanya dalam kaitannya dengan kewarisan melalui wasiat wajibah ini.

Lebih menarik kiranya, jika sedikit banyak mengetahui keberadaan atau status anak angkat dalam pasal 209 Kompilasi Hukum Islam tersebut yang secara langsung mengatur wasiat wajibah dalam kaitannya dengan anak angkat.

Adapun didalam fatwa MKI tentang hukum perlaksanaan wasiat wajibah bahwa yang berhak mendapat wasiat wajibah mestinya mengikuti syarat-syarat tersebut:99

a. Anak lelaki dan perempuan dari pada anak lelaki dan anak perempuan (cucu) ke bawah adalah layak untuk menerima wasiat wajibah.

b. Hendaklah kedua ibu bapak mereka meninggal dunia terlebih dahulu dari pada datuk atau nenek, atau ibu atau

99Jakim, Himpunan Keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Berhubungan Dengan Isu-Isu Muamalah,( Kuala lumpur Malaysia Malaysia, 2009), 56-57

89

bapa meninggal dunia serentak dengan datuk atau nenek dalam kejadian yang sama atau berlainan.

c. Cucu lelaki atau perempuan bukan merupakan waris kepada harta pusaka datuk. Sekiranya mereka merupakan waris ke atas harta pusaka secara fardhu atau ta'sib maka mereka tidak layak untuk mendapat wasiat wajibah walaupun bahagiannya sedikit berbanding wasiat wajibah.

d. Sekiranya anak lelaki atau anak perempuan berlainan agama dengan ibu atau bapa, atau terlibat dengan pembunuhan ibu atau bapa, maka dia tidak berhak untuk mendapat wasiat wajibah dari pada harta pusaka datuk.

e. Sekiranya datuk atau nenek telah memberikan harta kepada cucu melalui hibah, wakaf, wasiat dan sebagainya dengan kadar yang sepatutnya diterima oleh anak lelaki atau anak perempuan sekiranya mereka masih hidup, maka cucu tidak lagi berhak untuk mendapat wasiat wajibah. Sekiranya pemberian tersebut adalah kurang daripada hak yang sepatutnya diterima oleh cucu daripada bahagian anak lelaki atau anak perempuan, maka hendaklah disempurnakan bahagian tersebut.

f. Anak akan mengambil bahagian faraid bapa atau ibu yang meninggal dunia terlebih dahulu daripada datuk atau nenek dan kadar tersebut hendaklah tidak melebihi kadar

90

1/3 daripada nilai harta pusaka. Sekiranya bahagian tersebut adalah 1/3 atau kurang daripada 1/3, maka pembahagian tersebut hendaklah dilaksanakan pada kadar tersebut. Sekiranya bahagian tersebut melebihi 1/3 maka hendaklah dikurangkan pada kadar 1/3 melainkan setelah mendapat persetujuan ahliahli waris yang lain.

g. Pembahagian wasiat wajibah boleh dilaksanakan setelah didahulukan urusan berkaitan mayat, wasiat ikhtiyariah dan hutang piutang.

h. Pembahagian wasiat wajibah kepada cucu-cucu yang berhak adalah berdasarkan kepada prinsip faraid yaitu seorang lelaki menerima bahagian 2 orang perempuan.

2. Konsep Wasiat Wajibah Menurut Tuan Guru dan Hukum Islam

Sebelum penulis membahas konsep Tuan Guru terlebih dahulu penulis akan mendifinisikan apa itu Tuan Guru. Di pulau Lombok Tuan Guru adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh masyarakat Sasak kepada seseorang karena memenuhi kriteria-kriteria tertentu.100 Ketika menyebut tuan guru yang terkenal, maka yang terbayang adalah hal-hal yang berkaitan dengan karomah, karismatik, dan peristiwa-peristiwa mistik yang mengakar

100Jamaludin, Persepsi dan sikap Masyarakat Sasak Terhadap Tuan Guru, (Yogyakarta: CRCS-Sekolah Pascasarjana UGM-Depag RI, 2007), 07

91

dimasarakat sasak. Tuan Guru adalah yang pernah haji, pemimpin agama, pengajar di pesantren pada umumnya, mempunyai banyak pengikut (jamaah pengajian, santri), serta memilik karisma ditengah-tengah masarakat.

Komunikasi yang terjalin antara Tuan Guru dan pengikutnya adalah komunikasi paternalistik yang berdasarkan kepatuhan.

Dalam komunitas Tuan Guru NU misalnya, terdapat tata cara berhadapan atau berkomunikasi dengan Tuan Guru, apabila terdapat pertentangan pendapat antara jamaah dan Tuan Guru maka mereka akan mendapat predikat “tidak sopan” (su`ul adab) atau merendahkan Tuan Guru, sebab pendapat Tuan Guru pendapat yang benar dan Tuan Guru adalah sosok sakral yang bertuah. Mereka dianggap pewaris para nabi “warasat al-anbiya” sehingga para jamaah selalu mencium tangan ketika bersalaman dengan Tuan Guru agar mendapat barokah.101 Tuan Guru dipandang sebagai tokoh tradisional, ditopang oleh kualitas dirinya sebagai ilmuan dalam ilmu agama Islam. Horikoshi dan Geertz sepakat bawa Kiai, Tuan Guru sebagai mediator atau cultural broker (makelar budaya ).102 Menurut Jamaludin julukan tuan guru dimulai abad 18 (sekitar tahun

101Edward Alexander Westermarck, Ritual and Belief in Marocco, (New York, 1968), vol. 1, 34

102Hiroko Horikoshi, Kyai dan Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M, 1987), 232-234

92

1740-1935) sebelumnya istilah tuan guru belum dikenal oleh masyarakat Sasak.103

Dalalm sejarah masyarakat sasak, pemberian gelar tuan guru kepada seseorang berbeda-beda pada setiap dekade Pada awal-awal kedatangan islam istilah tuan guru belum dikenal, mereka yang memiliki pengetahuan agama yang luar biasa dipanggil pangeran misalnya pangeran Sangupati (bolehjadi karena ia juga menjabat sebagai raja), sunan prapen (penyebar islam pertama di lombok), wali nyato` yang mengajar islam di wilayah Rambitan (Lombok bagian selatan). Penghulu Gading yang menjadi Qadi (orang yang mengurusi urusan agama) dikerajaan Selaparang. Baru setelah dekade berikutnya sekitar abad ke 18 terdapat beberapa nama yang memperoleh gelar tuan guru dan didepan namanya disematkan nama tuan guru (disingkat TGH) Pada abad ke 18 sampai akhir abad ke 19, mereka menjadi tuan guru adalah orang-orang terpilih yang memenuhi syarat-syarat tertentu.104

Tidak gampang mendapat gelar Tuan Guru di tengah-tengah masyarakat Sasak. Ketika menyebut Tuan Guru dimasyarakat sasak secara otomatis istilah karisma include di dalamnya. Penyebutan gelar Tuan Guru atau

103Jamaludin, Sejarah Sosial Islam di Lombok Tahun 1740-1935, 134

104Jamaludin, Rekontruksi Kerajaan Selaparang Sebuah Studi Arkeologi Sejarah, (Jakarta: Litbang Depag Jakarta, 2006), 24

93

legitimasi karisma akan menjadi fokus dalam pembahasan dibawah ini. Menurut Lukens Bull sebagai mana dikutip oleh Muhibbin dalam tulisan “jihad ala pesantren”, minimal ada empat komponen penting yang menopang otoritas Tuan Guru yaitu pengetahuan, kekuatan spritual, keturunan (spritual maupun bilogis ) dan moralitas.105

Menurut Abdur Rozaki dalam penelitiannya menyebutkan, ada dua dimensi yang perlu diperhatikan ketika mengurai kewibawaan kiai. Pertama, kewibawaan yang diperoleh atas pemberian given seperti: tubuh yang besar, suara yang keras dan mata yang tajam serta adanya ikatan geneologi (keturunan) dengan Kiai sebelumnya.

Kedua, dengan proses perekayasaan. Maksudnyal; karisma dalam konteks ini dapat di kontruksi melalui proses penerimaan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat. Kemudian sumber kekuasaan Kiai yang ia bagi menjadi dua sumber karisma dan sumber ekonomi.

Pada zaman moderen ini, profesi yang ditekuni Tuan Guru beraneka ragam sehingga mengakibatkan banyak macam Tuan Guru, yaitu : pertama, Tuan Guru Politisi adalah Tuan Guru yang memiliki kecenderungan pada

105Ronald Alan Lukens Bull, Jihad Ala Pesantren di Mata Antropolog Amerika terj.

Abdurrahman Mas‟ud, et.al, (Yogyakarta:Gema Media, 2004), 88

94

persoalan politik dan memilih dunia politik sebagai ladang perjuangannya. Kedua, Tuan Guru Pengusaha adalah Tuan Guru yang menekuni dunia usaha dan bisnis, disamping pengasuh pondok pesantren. Ketiga, Tuan Guru Budayawan adalah Tuan Guru yang menekuni bidang seni maupun budaya dan menjadikan bidang itu sebagai media dakwah.

Keempat, Tuan Guru Intektual adalah Tuan Guru yanng menggeluti dunia pemikiran dan pengembangan dunia pengetahuan106.

Secara umum menurut para Tuan Guru konsep dari wasiat wajibah adalah merupakan bagian dari anugerah Allah SWT yang akan mempermudah manusia menjadi lebih baik dan tidak baik. Harta telah diciptakan oleh Allah SWT untuk kemaslahatan alam semesta beserta isinya.107 Pengelolaan alam diamanahkan kepada manusia sebagai khalifah, hal ini sebagaimana firman AllahSWT. dalam surat al-Baqarah ayat 29 yang berbunyi:

َ ْب َم َّنُهاَّو َََف ِ اَم ََّلا َُِإ وَوَ ت ْما َُّ ا ىَيَِت ِضْرَْلْا ِفِ ا َم ْم ُكَل َ َََخ قِذ َّلا َو ُه ْيَش ِّلُكِب َوُهََ تاََاََسَ

:ةرقبلا( ٌميَََِ

92 )

Artinya: Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Baqarah:29)

106Aswasulasikin, Tuan Guru Sebagai Tokoh Pembangunan Pendidikan di Pedesaan, (Jurnal Pembangunan Pendidikan : Fondasi dan Aplikasi, Vol. 3, No.1, Juni 2015) hlm 3

107 Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum Hibah dan Wasiat di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press), hal. 46

95

Manusia harus menyadari bahwa harta hanyalah titipan Allah, kepemilikan seutuhnya menjadi milik Allah.

Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Najm ayat 31 yang berbunyi:

او َُِمََ ا َِ اَُ ا َمَأ َنيِذ َّلا َقِ َُْيِل ِضْرَْلْا ِفِ ا َمََ ِتاََاَم ََّلا ِفِ ا َم ِ ََِّلََ

ا( َنََُْْلْاِب اوُنََْحَأ َنيِذَّلا َقِ َْيَََ

:مُنل 13 )

Artinya: Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Q.S. An-Najm:31)

Manusia diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk mengelola harta benda, maka wajib bagi manusia menjaga harta itu dan menggunaknnya dijalan kebenaran yang mengantarkan kepada kesejahteraan lahir dan batin.

Akan tetapi, manusia memiliki batasan umur, yakni kematian. Kematian merupakan rahasia Allah SWT dan setiap manusia tidak akan membawa semua harta yang dimilikinya di dunia. Semua harta peninggalan si mayyit disebut tirkah (harta peninggalan). Tirkah, wajib hukumnya dibagi kepada ahli waris (orang-orang yang berhak menerimanya), dengan menggunakan mawaris, hibah, suluh (perdamaian) atau wasiat. Sistem pembagian tirkah menggunakan mawaris, hibah, suluh (perdamaian) atau wasiat bertujuan untuk mencapai efektifitas dan optimalisasi

96

pelaksanaan sistem pembagian tirkah (harta peninggalan) pada ruang lingkup kekerabatan yang lebih luas. Metode yang ditawarkan dalam melengkapi beberapa kasus yang terjadi dalam hukum waris, maka Allah mensyari‟atkan manusia untuk melakukan wasiat, suluh dan hibah. Posisi wasiat, suluh dan hibah bertujuan untuk menciptakan keadilan dan kemaslahatan. Oleh karena itu, Penulis akan memjabarkan tentang wasiat, suluh dan hibah perspektif hukum Islam dan implementasinya di Indonesia.

Dalam dokumen Murdiono 160402021 Tesis - etheses UIN Mataram (Halaman 101-112)

Dokumen terkait