BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISIS
B. WasiatWajibah
Wasiat wajibah yang diwasiatkan muwarris kepada musho lahu ditunaikan setelah muwarris meninggal dunia atau wafat. Wasiat memungkinkan cucu yang mahjub (terhalang) oleh paman, atau anggota keluarga yang kebetulan non muslim atau anak angkat yang telah menyatu sejak kecil memproleh tirkah yang akan bermanfaat bagi kehidupannya. Sehingga antara anak angkat dan orang tua angkat terbina hubungan saling berwasiat.
Untuk membedakan wasiat dengan wasiat wajibah, ada dalam tabel di bawah ini:
No Perbedaan Wasiat Biasa Wasiat Wajibah
94Departemen Agama RI, KompilasiHukum Islam, (Jakarta,1998),82
95Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata,Pasal 875,188
81
1 Aspek musho
lahu (orang yang menerima wasiat)
Musho lahu adalah bukan dari ahli waris
Musho lahu adalah anak angkat yang tidak mendapatkan wasiat.
Musho lahu adalah cucu laki-
laki atau
perempuan yang orang tuanya mati mendahului atau bersama- sama kakek atau neneknya
(pewasiat)
2 Aspek hukum Sunnah Wajib
Wasiat wajibah itu diputuskan secara musyawarah oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat setelah melihat dan memperhatikan jumlah tirkah yang diberikan kepada musho lahu. Tirkah anak angkat dibagi dan diberikan kepada orang tua angkat sebanyak-banyaknya 1/3 dari tirkah anak angkat. Terhadap anak angkat diberikan wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 tirkah orang tua angkatnya. Konsep 1/3 tirkah ini didasarkan pada hadist:
ُالله َّٚيررررَص ِ َّالله ُه٘ررررُسَز َِّٜءاررررَة ََهاررررَق ، راررررَّقَٗ ٜررررِبَأ ِِررررْب ِدْعررررَس ِْررررَع َٗ ِٔررَْٞيَع َ ُثررْيُقَف ،ٜررِب َّدَحررْشا ،ررِةَٗ ِْررٍِ ِجاَ َ٘ررْىا ِةررَّلَح ًَاررَع ُِّٜ ٘ررُعَٝ ٌََّيررَس
َلَّٗ هارررٍَ ُٗذ ارررََّأَٗ ،َٙسرررَج ارررٍَ ِ،رررَةَْ٘ىا َِرررٍِ ٜرررِب َارررَيَب ْدرررَق ،ِ َّالله َه٘رررُسَز ارررَٝ
َهارررررَق ِٜىارررررٍَ ْٜرررررَرُيُرِب ُ؟َّدرررررَيَجَ َفَأ ،ٜرررررِى ةرررررَْْبا َّلِّإ ٜرررررُِْذِسَٝ
« َلّ
» َ ُثرررررْيُق
ررررَشَف ََهاررررَق ،ُُٓسْط
« َلّ
ََهاررررَق ٌَّررررُذ » سررررِٞهَم ُدررررُي رىاَٗ ُدررررُي رىا «
سررررِٞرَم َْٗأ - -
َُ٘ررُ َّ َنَحَٝ ًةررَىاَع ٌَُْٕزَرررَج َُْأ ِْررٍِ َلررَى سررَْٞخ َءاررَِْْٞاَأ َلررَحَذَزَٗ ْزَرررَج ُِْإ َلررَِّّإ َساَّْىا
Artinya: “Rasulullah saw. datang mengunjungiku pada tahun Haji Wada, dan ketika itu saya sakit keras, lalu saya berkata “ya, Rasulullah, bagaimana pendapat Anda, saya sudah sakit keras dan saya memiliki banyak
82
harta, tidak ada yang mewarisi hartaku kecuali seorang anak perempuan, apakah saya boleh menyedekahkan hartaku 2/3 harta? Rasulullah saw menjawab “tidak”. Aku berkata: bagaimana kalau 1/3? Rasulullah saw menjawab: “1/3” 1/3 itu sudah banyak dan besar. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan kekurangan dan meminta minta kepada manusia”.
Pada umumnya wasiat wajibah harus memenuhi beberapa syarat dibawah ini, yaitu: orang yang berwasiat (mushi), orang yang menerima wasiat (musha lahu),barang yang di wasiatkan (mushabi) dan shigat (redaksi) wasiat. Adapun rukun dan syarat wasiat secara rinci adalah:
1. Adanya subjek hukum artinya orang yang berwasiat dan orang yang di beri wasiat (mushi dan musha lahu).
Mushi haruslah berakal sehat, balig, merdeka, tidak mempunyai hutang yang menghabiskan harta dan dalam keadaan suka rela. Sedangkan musha lahu adalah anak angkat, orang tua angkat, dan cucu yang orang tuanya sudah meninggal dan terhalangi mendapatkan tirkah. Musha lahu harus ada pada waktu wasiat terjadi, bukan pembunuh atau melakukan percobaan pembunuhan kepada washi, dan musha lahu bukanlah ahli waris washi kecuali waris yang lainnya telah merelakan.
2. Adanya tirkah (objek atau benda yang diwariskan).
Tirkah yang di wariskan ini harus memenuhi syarat
83
bahwa benda itu kepunyaan washi, bermnfaat dan dapat dijadikan sebagai objek transaksi, dan jumlah yang diwariskan tidak melebihi 1/3 tirkah washi kecuali apabila di izinkan oleh waris.
Mengenai nishab harta yang boleh di wasiatkan terdapat perbedaan. Ali r.a mengatakan bahwa harta yang jumlahnya enam ratus atau tujuh ratus dirham tidak dapat di wasiatkan, sedangkan yang dapat di wasiatkan adalah kekayaan yang mencapai seribu dirham. Ibnu abas berpendapat bahwa tidak ada pemberian wasiat pada harta kekayaan yang hanya berjumlah delapan ratus dirham.
Menurut penulis ukuran dapat atau tidaknya, harta diwasiatkan adalah ketika harta tersebut telah bertambah atau lebih dari cukup jika di berikan kepada waris sebagai bekal hidup atau waris adalah termasuk mereka yang telah berkecukupan hidupnya.
Dalam hal ini terdapat ikhtilaf mengenai orang yang tidak meninggalkan waris, apakah wasiatnya tetap 1/3 hartanya ataukah kuarang dari itu Imam malik dan al-auza‟i mengatakan bahwa wasiat tetap dikeluarkan 1/3 dari harta muwarris, tidak boleh lebih dari itu. Sedangkan imam abu hanifah dan ishak mengatakan bahwa boleh saja wasiat dilaksanakan lebih dari 1/3 dari harta yang di milikinya jika
84 ia tidak meninggalkan ahli waris.
Terhadap dua pendapat yang berbeda tersebut, mayoritas Tuan Guru berpendapat bahwa wasiat 1/3 tirkah dalam kondisi apapun adalah mustahab (disunnahkan).
Namun jika terjadi pembenturan satu wasiat dengan wasiat yang lain, padahal di wasiatkan oleh orang yang sama, sehingga jumlah 1/3 tirkah tidak cukup untuk memenuhi wasiat tersebut, sedangkan waris tidak berkenan memberi lebih dari 1/3 harta, maka para Tuan Guru dalam mazhab maliki hanafi dan syafi‟i mengatakan bahwa harta 1/3 itu dibagi antara mereka sesuai dengan jumlah wasiat masing masing dengan catatan masing masing mereka ini menanggung resiko pengurangan sesuai dengan bagiannya.
Selain itu para Tuan Guru juga mengemukakan, bahwa jika terjadi pembenturan wasiat yang di ucapkan oleh pemberi wasiat maka yang dilaksanakan adalah ucapan terakhir orang yang mengatakan wasiat itu. Wasiat yang terdahulu di ucapkan di pandang terhapus dengan wasiat yang datangnya kemudian. Jika diantara wasiat-wasiat itu ada yang sifatnya wajib dan ada yang sifatnya tidak wajib, maka yang di dahulukan adalah wasiat yang bersifat wajib. Imam malik dalam suatu riwayatnya mengatakan bahwa wasiat-wasiat yang melebihi ukuran 1/3 tirkah, jika wasiat-wasiat itu
85
memiliki kedudukan yang sama maka wasiat-wasiat tersebut dikeluarkan dari 1/3 harta itu dengan menggunakan pertimbangan, apabila salah satunya lebih penting maka yang lebih penting itu harus di dahulukan.
3. Tidak mengandung bahaya (mudharat).
Diantara mudharat tersebut adalah mengutamakan sebagian waris atas sebagian lainnya yang bahkan Nabi sendiri menyebut perbuatan tersebut sebagai juran (perbuatan aniaya). Bentuk mudharat yang lain adalah jika dengan wasiat tersebut seseorang bermaksud mengharamkan para ahli waris untuk mendapatkan sebagian atau seluruh warisan mereka. Wasiat semacam ini sama sekali tidak di perbolehkan. Ini juga menunjukan bahwa wasiat itu tidak boleh mengandung mudharat sama sekali, baik melalui 1/3 tirkah maupun kurang atau lebih dari 1/3 tirkah.
Selain hal tersebut adanya ijab dan kabul adalah merupakan unsur yang esensial dalam wasiat. Hal ini terkait dengan wasiat sebagai suatu akad. Wasiat sah di ucapkan dengan redaksi bagaimana yang bisa yang bisa dianggap menyatakan pemberian hak pemilikkan secara suka rela sesudah seseorang meninggal dunia.