• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsepsi Wilayah dan Pengembangan Wilayah

Dalam dokumen TERHADAP PDRB KOTA TARAKAN SKRIPSI (Halaman 53-66)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Konsepsi Wilayah dan Pengembangan Wilayah

strategi kebijakan dan menyusun perencanaan pembangunan wilayah yang tepat dan terarah.

D. Konsepsi Wilayah dan Pengembangan Wilayah

Wilayah selalu terkait dengan aspek kepentingan sosial, ekonomi, budaya, politik, keamanan maupun pertahanan. Dalam konteks pemanfaatan ruang, pemahaman terhadap konsep ruang wilayah yang disusun berdasarkan kluster ini menjadi penting untuk dapat secara rinci dan mudah menetapkan variabel-variabel dominan yang mempengaruhi dalam proses pengembangan wilayah (Djakapermana, 2010).

Pandangan lain mengartikan wilayah sebagai bentuk suatu istilah teknis klasifikasi spasial dan merekomendasikan 2 tipe wilayah:

(1) wilayah formal, merupakan tempat-tempat yang memiliki kesamaan-kesamaan karakteristik, dan (2) wilayah fungsional atau modal, merupakan konsep wilayah dengan menekankan kesamaan keterkaitan antar komponen atau lokasi/tempat. Dengan cara lain wilayah di defenisikan sebagai suatu area geografis, territorial atau tempat, yang dapat berwujud sebagai suatu negara, negara bagian, provinsi, kabupaten dan pedesaan. Konsep wilayah yang paling klasik mengenai tipologi wilayah, membagi wilayah kedalam 3 kategori:

a. Wilayah homogeny, b. Wilayah nodal, dan

c. Wilayah perencanaan (Ernan Rustiadi dkk, 2009).

Konsep-konsep wilayah terbagi atas wilayah homogeny, wilayah nodal, wilayah pesisir, wilayah perencanaan/pengelolaan

khusus dan wilayah administratif-politis. Konsep wilayah homogeny lebih menekankan aspek homogenitas (kesamaan) dalam kelompok dan memaksimumkan perbedaan (kompleksitas, varians, ragam) antarkelompok tanpa memperhatikan hubungan fungsional (interaksi) antar wilayah-wilayahnya atau antar komponen-komponen di dalamnya. Sumber-sumber kesamaan yang dimaksud bisa berupa kesamaan struktur produksi, konsumsi, pekerjaan, topografi, iklim, perilaku sosial, pandangan politik, tingkat pendapatan, dan lain-lain.

Pada dasarnya terdapat beberapa faktor penyebab homogenitas wilayah. Secara umum terdiri atas penyebab alamiah dan penyebab artifikial. Faktor alamiah yang dapat menyebabkan homogenitas wilayah adalah kemampuan lahan, iklim dan berbagai faktor lainnya. Homogenitas yang bersifat artifikial pada dasarnya kehomogenan yang bukan berdasarkan faktor fisik tetapi faktor sosial.

Konsep wilayah nodal adalah salah satu konsep wilayah fungsional/sistem yang sederhana karena memandang suatu wilayah secara dikotomis (terbagi atas dua bagian). Konsep wilayah nodal didasarkan atas asumsi bahwa suatu wilayah diumpamakan sebagai suatu “sel hidup” yang mempunyai plasma dan ini. Inti adalah pusat-pusat pelayanan dan/atau permukiman, sedangkan plasma adalah daerah belakang (periphery/hinterland), yang mempunyai sifat-sifat tertentu dan mempunyai hubungan fungsional.

37

Konsep wilayah nodal lebih berfokus pada peran pengendalian/pengaruh sentral atau pusat (node) serta hubungan ketergantungan pusat (nucleus) dan elemen-elemen sekelilingnya dibandingkan soal batas wilayah (Richardson, 1969) in (Ernan Rustiadi dkk, 2009). Secara filosofis batas wilayah nodal dapat memotong garis yang memisahkan dua daerah administrasi karena perbedaan orientasi terhadap pusat pelayanan yang berbeda. Dengan demikian batas fisik dari setiap daerah pelayanan bersifat sangat baur dan dinamis. Pusat berfungsi sebagai: (1) tempat konsentrasinya penduduk (permukiman);

(2) pusat pelayanan terhadap daerah hinterland; (3) pasar komoditas- komoditas pertanian maupun industri;

(4) lokasi pemusatan industri manufactur yakni kegiatan mengorganisasikan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan suatu output tertentu. Sedangkan hinterland berfungsi sebagai: (1) pemasok (produsen) bahan-bahan mentah dan bahan baku; (2) pemasok tenaga kerja melalui proses urbanisasi dan commuting (menglaju); (3) daerah pemasaran barang dan jasa manufactur; dan (4) penjaga keseimbangan ekologis.

Secara historic, pertumbuhan suatu pusat atau kota di tunjang oleh daerah hinterland yang baik. Secara operasional, pusat-pusat wilayah mempunyai hierarki yang spesifik yang hierarkinya ditentukan oleh kapasitas pelayanannya. Kapasitas pelayanan yang dimaksud

adalah kapasitas sumber daya suatu wilayah (regional resources), yang mencakup kapasitas sumber daya alam (natural resources), sumber daya manusia (human resources), sumber daya sosial (social

capital), dan sumber daya buatan (man made resources/infrastructure).

Sumber daya alam merupakan sumber daya yang diklasifikasikan atas sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui dan sumber daya alam yang dapat diperbarui dan bersifat melekat dengan posisi atau lokasi diatas permukiman bumi (Ernan Rustiadi dkk, 2009).

Disamping itu, kapasitas pelayanan suatu wilayah dicerminkan pula oleh magnitude (besaran) aktifitas sosial-ekonomi masyarakat yang ada disuatu wilayah. Secara fisik dan operasional, sumberdaya yang paling mudah dinilai dalam menghitung kapasitas pelayanan adalah sumber daya buatan (sarana dan prasarana pada pusat wilayah-wilayah). Secara sederhana kapasitas pelayanan infrastruktur atau prasarana wilayah dapat diukur dari: (1) jumlah sarana pelayanan, (2) jumlah jenis sarana pelayanan yang ada, (3) kualitas sarana pelayanan.

Pusat-pusat yang berhierarki tinggi melayani pusat-pusat dengan hierarki yang lebih rendah disamping juga melayani hinterland disekitarnya. Kegiatan yang sederhana dapat dilayani oleh pusat yang

39

berhierarkinya rendah sedangkan kegiatan-kegiatan yang semakin kompleks dilayani oleh pusat-pusat berhierarki tinggi.

Secara sederhana wilayah pesisir didefiniskan sebagai wilayah interkasi antara daratan dan lautan. Secara formal dalam UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, wilayah pesisir didefinisikan sebagai daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.

Dalam keputusan tersebut wilayah pesisir didefenisikan sebagai daerah pertemuan antara darat dan laut: kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan pembebasan air asin: sedangkan kearah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Batas wilayah hanya garis khayal yang letaknya ditentukan oleh kondisi dan situasi setempat.

Secara diagnistic, wilayah pesisir dapat ditandai dengan empat ciri, yaitu:

a. Merupakan wilayah pencampuran atau pertemuan antara laut, darat dan udara. Bentuk wilayah ini merupakan hasil keseimbangan

dinamis dari suatu proses penghancuran pembangunan dari ketiga unsur alam tersebut.

b. Wilayah pesisir dapat berfungsi sebagai zona penyangga dan merupakan habitat bagi berbagai jenis biota, tempat pemijahan, pembesaran, mencari makan dan tempat berlindung bagi berbagai jenis biota laut dan pantai.

c. Wilayah pesisir memiliki perubahan sifat ekologi yang tinggi, dan pada skala yang sempit akan dijumpai kondisi ekologi yang berbeda.

d. Pada umumnya wilayah ini memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan menjadi sumber zat organic yang penting dalam suatu siklus rantai makanan di laut.

Wilayah perencanaan/pengelolaan khusus tidak selalu berwujud wilayah administratif tapi berupa wilayah yang dibatasi berdasarkan kenyataan sifat-sifat tertentu pada wilayah baik sifat alamiah maupun non alamiah yang sedemikian rupa sehingga perlu direncanakan dalam kesatuan wilayah perencanaan/pengelolaan.

Wilayah administratif adalah wilayah perencanaan yang memiliki landasan yuridis-politis yang paling kuat. Sering pula wilayah administratif ini disebut sebagai wilayah otonomi. Wilayah administratif merupakan wilayah yang dibatasi atas dasar kenyataan bahwa wilayah tersebut berada dalam batas-batas pengelolaan

41

administrasi/tatanan politis tertentu. Sebagai contoh: Negara, provinsi, kabupaten, kecamatan dan keluharan/desa (Erman Rustiadi dkk, 2009).

2. Pengembangan Wilayah

Pengembangan wilayah pada dasarnya mempunyai tujuan agar wilayah itu berkembang menuju tingkat perkembangan yang diinginkan.

Pengembangan wilayah dilaksanakan melalui optimasi pemanfaatan sumberdaya yang dimilikinya secara harmonis, serasi dan terpadu melalui pendekatan yang bersifat komprehensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hidup untuk pembangunan yang berkelanjutan (Djakapermana, 2010).

Dalam pengembangan wilayah, perlu terlebih dahulu dilakukan perencanaan penggunaan lahan yang strategis yang dapat memberikan keuntungan ekonomi wilayah. Perencanaan penggunaan lahan yang strategis bagi pembangunan merupakan salah satu kegiatan dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lahan. Hal ini penting untuk mengetahui potensi pengembangan wilayah, daya dukung dan manfaat ruang wilayah melalui proses inventarisasi dan penilaian keadaan/kondisi lahan, potensi, dan pembatas-pembatas suatu daerah tertentu (Djakapermana, 2010).

Ketersediaan sumberdaya alam dan lingkungan serta kegiatan pengelohan hasil ekstraksi sumberdaya alam tersebut juga

akan berinteraksi dengan penduduk setempat, permukiman, atau dengan lokasi-lokasi pasar (Outlet-kota/pelabuhan). Interaksi yang baik, lancar, aman, murah, dan tidak menganggu lingkungan alam serasi merupakan kebutuhan untuk dapat memperlancar pemasaran hasil produksi pemanfaatan sumberdaya alam, dan sekaligus akan memberikan dampak timbulnya berbagai kegiatan pemanfaatan ruang lainnya yang berpotensi bagi pengembangan wilayah dimasa yang akan datang. Dalam konteks ini kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang serasi juga memerlukan sarana dan prasarana transportasi wilayah untuk memasarkan (Djakapermana, 2010).

Tingkat dalam perkembangan suatu wilayah dan ukuran keberhasilan pembangunan identik dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dipresentasekan dengan perubahan atau peningkatan dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kesejahteraan masyarakat akan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan PDRB perkapita yang tinggi diharapkan akan terjadi penetesan kebawah (trickle down) dalam bentuk lapangan pekerjaan dan kesempatan ekonomi lainnya (Djakapermana, 2010).

Kajian-kajian mengenai perencanaan pengembangan wilayah secara umum ditunjang oleh empat pilar pokok, yaitu: (1) inventarisasi, klasifikasi, dan evalusi sumber daya, (2) aspek ekonomi, (3) aspek

43

kelembagaan, dan (4) aspek lokasi/spasial (Erman Rustiadi dkk, 2009).

a. Inventarisasi, Klasifikasi dan Evaluasi Sumber Daya

Sumber daya adalah segala bentu-bentuk input yang dapat menghasilkan utilitasi proses produksi atau penyediaan barang dan jasa. Evaluasi sumber daya merupakan pilar yang paling utama dalam suatu perencanaan dan pengembangan wilayah yang hasil dari evaluasi tersebut menjadi suatu dasar bagi tahap- tahap selanjutnya dalam pengembangan wilayah.

b. Aspek Ekonomi

Aspek ekonomi adalah salah satu aspek terpenting dalam menentukan indikator pembangunan wilayah. Diantara berbagai indikator ekonomi, indikator mengenai pendapatan masyarakat disuatu wilayah merupakan indikator yang terpenting. Untuk itu diperlukan pemahaman mengenai konsep-konsep dan cara mengukur pendapatan masyarakat disuatu wilayah.

Disisi lain mengingat keterbatasan dan ketidak merataan sumber daya, maka setiap potensi sumber daya yang ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Hal ini mengandung arti bahwa setiap sumber daya harus dimanfaatkan seefisien dan seefektif mungkin.

Dalam proses perencanaan dan pengembangan wilayah, aspek ekonomi berperan penting untuk mengalokasikan sumber

daya secara lebih efektif dan efisien baik dalam prespektif jangka pendek maupun jangka panjang (Erman Rustiadi dkk, 2009).

c. Aspek Kelembagaan

Penguasaan dan pengelolaan sumber daya sangat ditentukan oleh sistem kelembangan yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Kelembagaan sebagai kumpulan aturan main berperan penting dalam mengatur penggunaan/alokasi. Aspek kelembagaan penguasaan sumber daya merupakan aspek penting lain yang juga perlu dipertimbangankan dalam suatu perencanaan dan pengembangan wilayah (Ernan Rustiadi dkk, 2009).

d. Aspek Lokasi/spasial

Sumber daya alam seringkali memiliki lokasi melekat pada posisi geografisnya sehingga hampir tidak mungkin untuk memindahkan sumber daya seperti sungai, gunung, danau, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam perencanan dan pengembangan wilayah perlu mempertimbangkan aspek lokasi. Aspek spasial adalah fenomena yang alami. Sangat wajar apabila perkembangan suatu wilayah lebih dipengaruhi oleh wilayah disebelahnya atau lebih dekat dibandingkan wilayah lain yang lebih berjauhan akibat adanya interaksi sosial ekonomi antar penduduk. Namun dalam ilmu wilayah pengertian jarak tidak selalu berkonotasi fisik, tetapi lebih tepat jika diungkapkan sebagai tingkat aksesibilitas yang dapat

45

diukur melalui pendekatan waktu tempuh, biaya perjalanan dan sebagainya termasuk hubungan sosial.

Dalam konteks wilayah dikenal istilah daerah belakang (hinterland), daerah pelayanan, pusat pelayanan, desa, kota, dan sebagainya. Dengan demikian, aspek spasial dan lokasi dalam ilmu wilayah tidak selalu bernuansa fisik saja tapi juga bernuansa sosial ekonomi (Erman Rustiadi dkk, 2009).

3. Tujuan Pengembangan Wilayah

Dengan upaya mewujudkan pengembangan wilayah yang harmonis, dalam arti melaksanakan pengembangan wilayah yang berkeseimbangan diharapkan dapat menghindari terjadinya berbagai bencana alam dan lingkungan. Ada empat tujuan pengembangan wilayah, yaitu :

a. Pemerataan tingkat pertumbuhan wilayah;

b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada wilayah-wilayah tersebar;

c. Mengurangi tingkat kesenjangan (ekonomi dan sosial) antar wilayah

d. Memperkokoh struktur perekonomian nasional dan regional (P.

Hadjisarosa, 1980 in Adji Sakti, 2011).

Potensi, kondisi, dan karakteristik wilayah-wilayah itu berbeda- beda satu sama lain. Ada wilayah yang memiliki sumberdaya alam yang potensial, sebaliknya ada wilayah yang tidak memiliki sumber daya alam. Ada wilayah yang berpenduduk banyak, tetapi ada pula wilayah yang berpendudukan sedikit. Mengingat tingkat pertumbuhan berbeda- beda antar wilayah, maka tingkat pertumbuhan antar wilayah harus dilakukan perataan untuk mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat antar wilayah yang harmonis.

Dilihat dari aspek pengembangan wilayah, terdapat tiga unsur utama dalam pengembangan wilayah yaitu: (1) adanya pusat-pusat, (2) wilayah pengaruh atau wilayah pelayanan, dan (3) jaringan transportasi. Dalam interprestasi aspek transportasi yaitu (1) adanya unsur-unsur pusat adalah sama dengan terdapatnya simpul-simpul transportasi (simpul dan jasa transportasi), (2) wilayah pengaruh atau wilayah pelayanan berkaitan dengan pergerakan arus manusia dan barang dari simpul asal transportasi menuju ke simpul-simpul tujuan transportasi (jaringan pelayanan transportasi). Dengan demikian bahwa kegiatan pengembangan wilayah adalah sejalan dengan kegiatan transportasi, sehingga dapat dikatakan bahwa transportasi merupakan kekuatan pembentuk pertumbuhan ekonomi wilayah (pengembangan wilayah) (Adji Sakti, 2011).

47

Dalam dokumen TERHADAP PDRB KOTA TARAKAN SKRIPSI (Halaman 53-66)