METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian.
1. Lokasi Penelitian.
Penelitian ini dilakukan di Pelabuhan Tengkayu tepatnya Sebengkok, Kecamatan Tarakan Tengah, Kota Tarakan dasar pemilihan lokasi dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Pelabuhan Tengkayu lebih muda dicapai karena letaknya yang strategis yang masih berada dalam lingkup pusat Kota Tarakan, serta didukung oleh sistem transportasi darat yang baik.
b. Pelabuhan Tengkayu merupakan salah satu pelabuhan kecil yang menghubungkan Kota Tarakan dengan Wilayah sekitarnya.
2. Waktu Penelitian.
Waktu penelitian ini dilakukan selama sebulan yaitu pada tanggal 1 Desember 2018 sampai dengan 31 Desember 2018.
B. Jenis dan Sumber Data.
1. Jenis Data.
a. Data kualitatif.
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Kualitatif diperoleh melalui berbagai
macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.
b. Data Kuantitatif.
Data kuantitatif merupakan informasi yang diperoleh berkaitan dengan satuan-satuan angka yang memberikan keterangan berkenaan dengan jumlah penduduk, kepadatan penduduk, serta data penunjang lainnya.
2. Sumber Data.
a. Data Primer.
Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan pihak yang terkait dengan penelitian. Data primer yang dimaksud adalah observasi lapangan mengenai aktifitas kunjungan kapal, bongkar muat barang dan naik turun penumpang.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi pemerintah atau swasta yang berhubungan dengan judul penelitian dari instansi Dinas Perhubungan, BPS Kota Tarakan, dan KSOP Kota Tarakan.
53
Adapun data-data yang berasal dari instansi tersebut adalah aspek fisik wilayah, data kependudukan, pengguna lahan, serta PDRB Kota Tarakan. Selanjutnya, fasilitas penunjang pelabuhan, jumlah kunjungan kapal, jumlah naik turun penumpang, serta jumlah bongkar muat barang.
C. Metode Pengumpulan Data.
Metode pengumpulan data terbagi atas :
1. Observasi lapangan yaitu suatu teknik penyaringan data melalui pengamatan yang langsung ditujukan kepada obyek yang menjadi sasaran penelitian untuk memahami kondisi dan potensi obyek tersebut yang dapat dikembangkan (data primer).
2. Kunjungan pada instansi terkait yaitu salah satu teknik
pengmbilan data melalui instansi-instansi terkait (data sekunder).
3. Kepustakaan adalah cara pengumpulan data dan informasi dengan jalan membaca atau mengambil literatur, laporan, karya tulis ilmiah, dan buku.
D. Variabel Penelitian.
Sutrisno (1982) mengemukakan bahwa variabel adalah semua keadaan, faktor, kondisi, perlakukan, atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen, sedangkan Arikunto S. (1998) mengemukakan bahwa variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Adapun variabel penelitian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh aktivitas pelabuhan dalam hal ini yaitu aktivitas kunjungan kapal, arus penumpang dan arus barang terhadap PDRB Kota Tarakan dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya. Dalam penelitian ini variabel X yang digunakan adalah aktivitas pelabuhan dimana :
a) X1 = Kunjungan Kapal b) X2 = Arus Penumpang c) X3 = Arus Barang
2. Variabel Dependen merupakan variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan untuk Y yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Tarakan. Dalam hal ini total PDRB Transportasi dan Pergudangan.
3. Analisi kapasitas terminal menggunakan load factor
Menurut, Tri Achmadi (1997) Load Factor merupakan nilai perbandingan jumlah penumpang yang terdapat dalam angkutan dengan kapasitas tempat duduk yang tersedia. Besarnya load factor diperoleh dari data survei statis yang mencatat jumlah penumpang, ketika angkutan kota dengan rute trayek yang diamati
55
melintas pada zona yang telah ditentukan. Rumus untuk menghitung Load Factor adalah :
= Jumlah Penumpang 100%
Kapasitas angkutan
E. Teknik Analisis Data.
Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yaitu analisis kuantitatif. Untuk mendukung analisis tersebut, maka dilakukan perhitungan dengan menggunakan analisis Uji Korelasi.
Analisis uji korelasi merupakan studi yang membahas tentang hubungan antara dua peubah dikenal dengan nama analisis korelasi.
Ukuran digunakan untuk mengetahui derajat hubungan antara dua peubah terutama untuk data kuantitatif disebut koefisien korelasi.
Rumus :
N . ∑xy − ∑x. ∑y
=
√N. ∑x2 − ∑x2 . √ . ∑ 2 − ∑y2
Dimana :
r = Koefisien korelasi
N = Jumlah perlakuan (pengambil data)
X =Variabel independen (Kunjungan kapal, arus barang dan arus penumpang)
Y = Variabel dependen (PDRB Kota Tarakan).
56
Besarnya koefesien korelasi berkisar antara +1 sampai dengan -1. Jika koefesien korelasi positif, maka kedua variabel mempunyai hubungan linear positif atau korelasi langsung.Sebaliknya, jika koefesien korelasi negatif, maka kedua variabel mempunyai hubungan linear negative atau korelasi tak langsung.
Jika koefisien korelasi mendekati +1 atau mendekati -1, hubungan antara kedua variabel tersebut kuat dan terdapat korelasi yang tinggi antara keduanya. Sedangkan jika nilai koefisien korelasi adalah mendekati 0 maka hubungannya lemah.
Untuk memudahkan melakukan interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel maka digunakan kriteria sebagai berikut; yaitu jika besarnya koefisien korelasi 0 maka menunjukan tidak ada korelasi antara dua variabel. Secara rinci dijabarkan sebagai berikut :
1. Jika besarnya koefisien korelasi 0-0,25 maka menunjukan korelasi sangat lemah.
2. Jika besarnya 0,25-0,5 maka menunjukan korelasi cukup.
3. Jika besarnya koefisien korelasi 0,5-0,75 maka korelasi kuat.
4. Jika nilai koefisien korelasi 0,75-0,99 sangat kuat.
5. Jika korelasinya adalah 1 dikatakan sempurna. (Sarwono : 2006)
57
Untuk melakukan interpretasi kekuatan hubungan antara dua variabel dilakukan dengan melihat angka koefesien korelasi hasil perhitungan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1. Jika angka koefesien korelasi menunjukkan 0, maka kedua variabel tidak mempunyai hubungan.
2. Jika angka koefesien korelasi mendekati 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan semakin kuat.
3. Jika angka koefesien korelasi mendekati 0, maka kedua variabel mempunyai hubungan semakin lemah.
4. Jika angka koefesien korelasi sama dengan 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna positif.
5. Jika angka koefesien korelasi sama dengan -1, maka kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna negatif. (Sarwono : 2006).
F. Definisi Operasional.
Adapun konsep dasar dan beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pelabuhan adalah suatu perairan laut/sungai dengan kedalaman cukup guna bertambatnya kapal dengan aman dari hambatan gelombang.
2. Peranan pelabuhan adalah fungsi yang dijalankan oleh pelabuhan dalam hal ini Pelabuhan Tengkayu sehingga melahirkan kontribusi pada pergerakan dan perkembangan kegiatan perekonomian,
antara lain aktivitas kunjungan kapal, bongkar muat barang, dan naik turunnya penumpang serta load faktor (LF).
3. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
4. Pengembangan wilayah adalah potensi sumber daya alam serta manajemen sumber-sumber daya melalui pembangun perkotaan, pedesaan dan prasarana untuk meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi wilayah tersebut yang diwakili oleh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
59
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Wilayah Kota Tarakan 1. Aspek Fisik Dasar
a. Letak Geografis
Kota Tarakan adalah sebuah kota pulau yang terletak di sebelah Timur pulau Kalimantan bagian Utara. Kota Tarakan memiliki posisi yang strategis bagi Provinsi Kalimantan Utara, yaitu merupakan pintu gerbang dan pusat transit perdagangan antar pulau di wilayah utara Kalimantan, dan juga antar negara di kawasan ini yaitu Indonesia - Malaysia - Philipina.
Kota Tarakan merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Kalimantan Utara. Secara geografis wilayah Kota Tarakan berada antara 117º34’ Bujur Barat dan 117º38’ Bujur Timur serta diantara 3º19’ Lintang Utara dan 3º 20’ Lintang Selatan. Luas wilayah Kota Tarakan mencapai 657,33 km², terdiri atas wilayah daratan seluas 250,80 Km² dan wilayah lautan seluas 406,53 Km². Secara Administrasi Kota Tarakan memiliki wilayah berbatasan dengan:
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Pesisir pantai Kecamatan Pulau Bunyu, Kab.Bulungan.
2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Pesisir pantai Kecamatan Tanjung Palas, Kab. Bulungan.
3) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pulau Bunyu, Kab. Bulungan dan Laut Sulawesi
4) Sebelah Barat berbatasan dengan Pesisir pantai Kecamatan Sesayap.
Dengan adanya perkembangan dan pemekaran wilayah sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 23 Tahun 1999, maka Kota Tarakan yang sebelumnya terdiri dari 3 Kecamatan dimekarkan menjadi 4 Kecamatan dan 20 Kelurahan.
Keempat Kecamatan tersebut adalah Tarakan Timur, Tarakan Tengah, Tarakan Barat dan Tarakan Utara. Disamping itu berdasarkan UU No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, status desa yang ada di Kota Tarakan seluruhnya berubah menjadi kelurahan. Undang-undang tersebut juga mengubah penyebutan “Kotamadya Tarakan”
menjadi “Kota Tarakan”. Kecamatan Tarakan Utara merupakan kecamatan terluas diantara kecamatan lain di Kota Tarakan dengan luas 109,36 km2 atau sekitar 25,75 % dari luas Kota Tarakan. Sedangkan Kecamatan Tarakan Barat termasuk kecamatan yang paling kecil jika dilihat dari luasnya.
61
Luas Kecamatan Tarakan Barat hanya 27,89 km2 atau 7.05% dari luas daratan Kota Tarakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1.
Luas Wilayah dirinci berdasarkan jumlah Kecamatan di Kota TarakanTahun 2017
Luas Wilayah (km²) Jumlah
No Kecamatan
Daratan Laut Darat +
% kelurahan Laut
1 Tarakan Timur 58.01 299.69 357.70 54.42 7 2 Tarakan Tengah 55.54 28.46 84.00 12.78 5 3 Tarakan Barat 27,89 18.46 46.35 7,05 5
4 Tarakan Utara 109,36 59,92 169.28 25,75 3 Jumlah 250,80 406,33 657,33 100.00 20 Sumber :Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
Dari data tabel di atas dapat diketahui bahwa Tarakan timur merupakan Kawasan terluas dengan luas Kawasan daratan dan launtan 54,42% selanjutnya yaitu wilayah Tarakan Utara dengan luas daratan dan lautan adalah 25,75% di susul dengan Tarakan Tengah sebesar 12,78%
dan Tarakan barat dengan luwasan wilayah yang paling kecil dengan luwasan daerah darat dan laut 7,05%.
PETA ADMINISTRASI KOTA TARAKAN
63
b. Topografi dan Kemiringan Lereng
Secara Topografis, Kota Tarakan merupakan area datar hingga berbukit, ketinggan wilayah Kota Tarakan berkisar antara 0 – 110 meter di atas permukaan air laut. Wilayah dengan ketinnggian 0 – 7 meter diatas permukaan laut seluas 2. 937 Ha atau sekitar 11,71 %, pada kelas ketinggian 7 – 25 meter diatas permukaan laut seluas 8.940 Ha atau sekitar 35,65 % pada kelas ketinggian 25 – 100 meter diatas permukaan laut seluas 13.092 Ha atau sekitar 52, 20%, dan ketinggian lebih dari 100 meter seluas 111 Ha atau sekitar 0,44%.
Tabel 4.2.
Luas dan penyebaran masing-masing Ketinggian Wilayah Daratan Di Kota Tarakan Tahun 2016
Ketinggian Luas (ha)
Jumlah (ha) dan Tarakan Tarakan Tarakan Tarakan
(mdpl) Persentase
Timur tengah) Barat Utara
0-7 722 26 791 1.398 2.937 (11,71%)
7,1 – 25 2.734 924 1.753 3.529 8.940 (35,65%)
25,1 – 100 2.245 4.577 245 5.925 13.092 (52,20%)
100,1 – 110 0 27 0 84 111 (0,44%)
Jumlah 5.801 5.554 2.789 10.936 25.080 (100,%)
Sumber :Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
Tabel 4.3.
Luas dan penyebaran masing-masing Kemiringan Lahan Kota Tarakan 2016
Kelas Luas Wilayah (Ha) Jumlah Persentase
(ha) (%) kemiringan
(m) Tarakan Tarakan Tarakan Tarakan
Timur Tengah Barat Utara
0-2 2.901 1.409 1.665 6.114 12.109 (48,28%)
2,1 – 15 198 3.172 782 1.653 5.805 (23,15%)
15,1 – 40 2.380 913 322 2.104 5.719 (22,80%)
>40 322 60 0 1.065 1.447 (5.77%)
Sumber :Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
c. Keadaan Iklim dan Curah Hujan 1) Keadaan iklim
Klimatologi atau keadaan iklim merupakan suatu gambaran udara yang berlaku pada suatu daerah dengan wilayah cakupan yang luas dan dalam jangka waktu yang lama dan sangat berpengaruh pada jenis vegetasi yang tumbuh di suatu wilayah. Keadaan iklim dalam suatu wilayah dapat diidentikkan dengan mengenali kondisi curah hujan, penguapan, suhu dan kecepatan angin.
Dari sisi iklim Kota Tarakan termasuk daerah khatulistiwa dengan iklim tropis basah. Tidak ada indikasi kuat dan jelas yang membedakan antara musim hujan dan musim kemarau. Perbedaan suhu udara hanya dipengaruhi oleh siang dan malam serta ketinggian tempatnya.
Kota Tarakan yang beriklim tropis mempunyai musim yang hampir sama dengan wilayah Indonesia pada umumnya, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan bulan April sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai dengan bulan Oktober. Keadaan ini terus berlangsung setiap tahun yang diselingi dengan musim peralihan pada bulan-bulan tertentu. Namun dalam tahun-
65
tahun terakhir ini, keadaan musim di Kota Tarakan kadang tidak menentu. Untuk Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel Tabel 4.4 berikut :
Tabel 4.4.
Kondisi Iklim di Kota Tarakan 2012-2016
Bulan Temperatur
Minimum Maksimum Rata- rata
Januari 24,5 30,6 27,0
Februari 24,5 30,4 26,8
Maret 25,0 31,7 27,6
April 25,0 31,0 27,5
Mei 24,9 30,9 27,4
Juni 25,0 31,7 27,9
Juli 24,3 30,7 27,1
Agustus 24,3 31,0 27,1
September 24,5 31,7 27,4
Oktober 24,3 31,3 27,3
November 24,6 31,0 27,2
Desember 24,6 30,8 27,2
2017 24,6 31,1 27,3
2016 24,3 30,8 27,1
2015 23,9 30,6 27,0
2014 24,6 30,9 27,0
2013 24,6 30,9 27,0
Sumber :Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
2) Curah hujan
Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan geografis dan perputaran/pertemuan arus udara. Oleh karena itu jumlah curah hujan beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Curah hujan di Kota Tarakan sangat beragam dari waktu ke waktu. Catatan
curah hujan bulanan sepanjang tahun 2016 disajikan pada 4.5 Rata rata curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juli sebesar 557,3 mm dan rata-rata curah hujan terendah, sebesar 188,6 mm yang terjadi pada bulan Agustus. Sedangkan rata-rata curah hujan sepanjang tahun 2012 tercatat sebesar 372,0 mm. Untuk Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.5.
Curah Hujan di Kota Tarakan 2012-2016
Hujan Penyinaran Tekanan
Bulan Matahari Udara
Curah Hujan
Hari Hujan (%) (mb) (mm)
Januari 246,1 21,0 30,7 1009,0
Februari 332,8 23,0 39,6 1009,5
Maret 386,0 22,0 54,9 1010,4
April 399,7 26,0 48,3 1009,4
Mei 453,8 30,0 44,9 1009,5
Juni 345,1 22,0 61,2 1008,4
Juli 557,3 27,0 45,1 1009,0
Agustus 188,6 19,0 59,7 1010,0
September 382,3 23,0 59,9 1009,5
Oktober 278,2 25,0 55,6 1010,3
November 400,8 24,0 47,1 1008,9
Desember 493,6 24,0 41,1 1008,9
2017 372,0 24 49,0 1 009,4
2016 401,1 23 45,4 1 010,9
2015 345,2 23 42,9 1 010,8
2014 353,9 25 48,1 1 010,5
67
2013 288,5 22 45,8 1 010,9 Sumber :Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
Curah hujan dalam setahun rata-rata tercatat 372 mm/bulan dan jumlah hari hujan rata-rata sebanyak 24 hari setiap bulannya dengan penyinaran matahari rata-rata 49 persen. Curah hujan di Kota Tarakan berkisar antara 3.500 mm sampai 4.000 mm pertahun. Dengan kondisi seperti ini maka di perbukitan banyak dijumpai sungai dan anaknya bermuara di pantai timur dan barat. Banyak aliran sungai yang melewati daerah perkotaan, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai saluran pembuangan utama bagi limbah domestik dan limpasan air hujan. Ada tujuh Daerah Aliran Sungai yaitu Sungai Pamusian, Sungai Melundung, Sungai Sebengkok, Sungai Selumit, Sungai Kampung Bugis, Sungai Magendala, dan Sungai Sesanip.
d. Geologi
Dari struktur geologi, batuan yang menysusun Pulau Tarakan merupakan satu kesatuan dengan daratan Kalimantan yang lempengnya relatif stabil karena merupakan lempengan muda. Wilayah daratannya, sebagian tanahnya adalah tanah pasir kuarsa, batu lempung, batu lanau, batu bara, lignit, dan konglomerat yang mencapai 64% dari luas daratan di Kota
Tarakan. Seadangkan sisanya adalah lumpur, lanau, pasir, kerikil dan kerakal sekitar 36%. Pulau Tarakan secara geologis terdiri dari dua satuan besar yaitu satuan wilayah perbukitan antiklin dan satuan wilayah dataran (dataran pantai, dataran banjir dan dataran sungai). Masing-masing satuan mempunyai karakteristik geologi yang berbeda.
Kondisi perbukitan antiklin di Pulau Tarakan merupakan sebuah iklim yang sumbernya memanjang dengan lapisan tipis batubara berumur tersier yang berselang-seling atau dan lainnya. Di bagian dalam, antar iklim ditentukan oleh cadangan minyak dan gas bumi serta sebagian batuan lempung yang bersifat kedap air dan mengembang. Batuan tersebut menjadi mudah longsor pada kemiringan lereng agak besar dan mudah terkikis. Sedangkan di wilayah dataran terdiri dari dataran pantai, dataran banjir dan dataran sungai.
Karakteristik iklim di Kalimantan Utara tergolong tipe iklim tropika humida. Oleh karena itu jenis tanah yang terdapat di Kota Tarakan digolongkan ke dalam tanah yang bereaksi masam. Jenis tanah Kota Tarakan didominasi tanah latosol dengan luas 14.454 Ha atau 57,63% dari luas tanah Kota Tarakan yang tersebar di bagian tengah pulau dan meliputi 4 kecamatan. Jenis tanah lainnya adalah podsolik yang penyebarannya memanjang pada bagian barat laut-tenggara
69
dengan luas 6.897 Ha (27,50%). Selain itu, terdapat pula tanah alluvial dengan luas 3.290 Ha (13,12%) dengan lokasi penyebaran di bagian barat, utara, dan selatan pulau. Jenis tanah dengan luasan terkecil adalah organosol ( alluvial gambut) yang penyebarannya berada di Kecamatan Tarakan Barat dan merupakan jenis tanah yang merupakan areal paling sedikit yaitu sekitar 439 Ha atau 1,75%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut :
Tabel 4.6.
Penyebaran dan Luas Jenis Tanah dirinci menurut Kecamatan Di Kota Tarakan 2016
Jenis Luas Wilayah (m2)
Jumlah
Tarakan Tarakan Tarakan Tarakan
No Tanah (Ha)
Timur Tengah Barat Utara
1 Alluvial 891 62 783 1.554 3.290
(13,12%)
Organosol
2 (alluvial 439 - - - 439
(1,75%)
gambut)
3 Latosol 1.145 4.613 2.124 6.572 14.454 (57,63%)
4 Podsolik 314 879 2.894 2.810 6.897 (27,50%)
Jumlah 2.789 5.554 5.801 10.936 25.080
(100,00)
Sumber :Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
e. Penggunaan lahan
Dari segi aspek fisik geografi lahan merupakan wadah bagi sebuah hunian yang mempunyai kualitas fisik yang penting dalam penggunaannya. Kota Tarakan dengan luas 25.080 Ha atau 250,80 Km2 penggunaan lahan pada tahun 2013
berdasarkan peruntukannya masih didominasi oleh hutan lindung seluas 27,90 % dari luas darat Kota Tarakan atau seluas 6.997 Ha. Penggunaan lahan lainnya adalah bandar udara, embung air, industri, kawasan terbangun, mangrove, pelabuhan, pemakaman, pertanian, rawa, sarana olah raga, tambak, dan TPA. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.7.
Luas Penggunaan Lahan menurut Peruntukannya Di Kota Tarakan Tahun 2016
Uraian No.
Kawasan Lindung
Luas (Ha) Prosentase (%)
1 Hutan Lindung 6.998,01 27.90
2 Hutan Mangrove 1,083,52 4.32
3 Hutan Kota - -
Hutan Kota KKMB 21.69 0.09
Hutan Kota Tanjung Pasir 26.76 0.11
Hutan Kota Amal I/Bumi Perkemahan 38.16 0.15
Hutan Kota Gunung Pasir 3.66 0.01
Hutan Kota Gunung TVRI 15.90 0.06
Hutan Kota Sawah Lunto 6.50 0.03
Hutan Kota Karang Harapan 14.78 0.06
NO Uraian Luas (Ha) Prosentase (%)
Kawasan Lindung
71
Hutan Kota Panglima Batur 15.74 0.06 Hutan Kota Amal II / Penelitian UB 86.15 0.34
Hutan Kota Agroforestry 22.59 0.09
Hutan Kota Wanawisata/Catchmen Area 157.00 0.63
4 TPU 1.83 0.01
5 Sumber Air Baku 13.02 0.05
Jumlah Kawasan Lindung 8.505,32 33.91 Kawasan Budidaya
Hutan/ Kebun Campuran 4.308,86 17.18
Industri 40.65 0.16
Kawasan Terbangun 1.197,64 4.78
Kebun campuran 215.90 0.86
Bandar Udara 151.91 0.61
Pelabuhan 7.89 0.03
Perkebunan 87.34 0.35
Pertanian Lahan Kering 978.91 3.90
Rawa 16.21 0.06
Sarana Olah Raga 25.94 0.10
Semak Belukar 5.976.99 23.83
Tambak 1.707.91 6.81
Tanah Kosong 1.814.55 7.24
TPA Akibabu 0.70 0.00
UPDN 22.68 0.09
Kolam 7.59 0.03
Jumlah Kawasan Budiaya 16.561,66 66.04
Jumlah 25.080.00 100.00
Sumber :Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
2. Aspek kependudukan
a. Perkembangan penduduk
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebulan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.
Adapun tabel perkembangan jumlah penduduk lima tahun terakhir dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.8.
Jumlah Perkembangan Penduduk 5 Tahun Terakhir Di Kota Tarakan Tahun 2013-2017 No Tahun Perkembangan Jumlah
Penduduk (Jiwa) Jumlah Penduduk
1 2013 220.267
2 2014 227.642
3 2015 235.565
4 2016 244.185
5 2017 253.026
Sumber: Kota Tarakan Dalam Angka Tahun 2018
73
Jumlah perkembangan penduduk 5 tahun terakhir di Kota Tarakan tahun 2017 dilihat dari tahun 2013-2017 mengalami peningkatan setiap tahunnya pada tahun 2013 tercatat 220.267 jiwa, tahun 2014 sebanyak 227.642 jiwa, tahun 2015 sebanyak 235.565 jiwa, tahun 2016 sebanyak 244.185 jiwa dan tahun 2017 sebanyak 253.026 jiwa.
b. Kepadatan penduduk
Berdasarkan data yang peroleh di Badan Pusat Statistik Kota Tarakan Tahun 2017 menunjukkan bahwa tingkat kepadatan yang paling tinggi tahun 2016 berada di Kecamatan Tarakan Barat dengan jumlah sebanyak 2.766 Jiwa/Km² sedangkan jumlah Kepadatan Penduduk paling rendah berada di Kecamatan Tarakan Utara yaitu 229 Jiwa/Km². Untuk lebih Jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut :
Tabel 4.9.
Jumlah Kepadatan Penduduk Dirinci Menurut Kecamatan Di Kota Tarakan Tahun 2016
Persebaran
Kepadatan
Rasio Jenis
Kecamatan Penduduk
(%) Kelamin(%)
(Jiwa/Km² )
Tarakan Timur 22,22 844 110,42
Tarakan Tengah 31,34 1.243 107,21
Tarakan Barat 35,03 2.766 110,41
Tarakan Utara 11,40 229 115,06
2017 100,00 878 109,91
2016 100,00 846 110,00
2015 100,00 813 110,09
2014 100,00 771 110,52
2013 100,00 767 113,02
Sumber: Kota Tarakan Dalam Angka Tahun 2018
a. Penduduk menurut jenis kelamin
Berdasarkan data mengenai Jumlah Penduduk Dirinci Menurut Jenis Kelamin di Kota Tarakan tahun 2016, untuk jumlah Jenis Kelamin Laki-Laki yaitu 115.300 Jiwa lebih sedikit dibandingkan jumlah Jenis Kelamin Perempuan yaitu sebesar 104.900 Jiwa. Bila dirinci menurut Kecamatan, Jumlah Penduduk Kecamatan Tarakan Barat merupakan jumlah dengan penduduk Jenis Kelamin Laki-Laki terbanyak yaitu 40.482 Jiwa dan Jumlah Penduduk Perempuannya sebanyak 36.665 Jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.10 :
Tabel 4.10.
Jumlah Penduduk dirinci Menurut Jenis Kelamin diKecamatan Tahun 2012-2016.
Penduduk
Kecamatan Jumlah
Laki-Laki Perempuan
Tarakan Timur 25.680 23.256 48.936
Tarakan Tengah 35.711 33.309 69.020
Tarakan Barat 40.482 36.665 77.147
75
Tarakan Utara 13.427 11.670 25.097 2017 115.300 104.900 220.200 2016 111.100 101.000 212.100 2015 106.900 97.100 204.000 2014 101.518 91.852 193.370 2013 102.094 90.336 192.430
Sumber :Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
3. Aspek ekonomi wilayah
a. Pendapatan regional Kota Tarakan
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat dilihat dengan membandingkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan tahun aktif dengan tahun sebelumnya. PDRB atas dasar harga konstan 2010 Kota Tarakan tahun 2017 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Kondisi ini sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah menunjukan kemampuan sumberdaya ekonomi yang dihasilkan suatu daerah. Semakin besar nilai PDRB suatu daerah, maka semakin besar pula sumberdaya ekonomi yang dihasilkannya.
1) PDRB berdasarkan harga konstan
Pendapatan regional atas dasar harga konstan sangat penting untuk melihat perkembangan riil dari tahun ketahun dari setiap agregat ekonomi yang diamati. Agregat
yang dimaksud tersebut dapat merupakan produk domestik regional bruto secara keseluruhan, nilai tambah sektoral (PDRB) atau komponen penggunaan produk domestik regional bruto. Untuk lebih jelasnya mengenai pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan sebagaimana pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.11.
PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Di Kota Tarakan Tahun 2013-2017
Tahun PDRB Harga Konstan Laju Pertumbuhan
(Jutaan Rp) (%)
2013 14.936.159,42 7,67
2014 16.011.620,27 7,20
2015 16.794.628,98 4,89
2016 17.770.371,27 5,81
2017 19.077.332,75 7,35
Sumber : BPS Kota Tarakan dalam Angka Tahun 2018
Dilihat berdasarkan tabel 4.11 diatas maka pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan dari tahun ketahun mengalami peningkatan. Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan PDRB Kota Tarakan atas dasar harga konstan mengalami peningkatan yang sangat baik sehingga dapat mendukung pembangunan ekonomi Kota Tarakan kedepan.
Pertumbuhan ini dapat mempengaruhi pembangunan Pelabuhan Tengkayu yang nantinya dialokasikan untuk biaya pengembangan pelabuhan dan pemeliharaan dalam mendukung kelengkapan sarana dan prasarana pelabuhan
77
sehingga pengelolaan jasa pelabuhan dapat dikembangkan dengan baik.
b. Struktur PDRB
Konstribusi masing-masing sektor pada tahun 2017 menunjukan bahwa sektor perdagangan masih merupakan sektor yang mempunyai peranan tertinggi yaitu sebesar 21,17% selanjutnya sektor konstruksi sebesar 15,48%, dan paling terkecil peranannya adalah pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang 0,09% untuk lebih jelasnya sebagaimana pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.12.
PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku, Di Kota Tarakan Tahun 2013-2017 (Jutaan
Rupiah)
Lapanga Usaha 2013 2014 2015 2016 2017
Pertanian,
Kehutanan, dan 2.126.485,34 2.445.017,34 2.729.411,41 2.846.549,14 3.134.723,29 Perikanan
Pertambangan 1.245.789,40 1.407.933,00 1.328.716,86 1.202.728,57 1.286.261,73 dan Penggalian
Industri
2.182.098,41 2.589.079,71 2.800.198,29 3.124.510,33 3.539.645,31 Pengolahan
Pengadaan Listrik
11.837,34 12.455,51 15.988,41 21.200,00 26.862,98 dan Gas
Pengadaan Air, Pengelolaan
16.125,43 18.127,88 19.505,26 20.741,63 24.252,72 Sampah, Limbah
dan Daur Ulang
Konstruksi 2.512.185,13 2.880.641,61 3.159.530,85 3.607.590,17 4.319.886,53 Perdagangan
Besar dan
Eceran; Reparasi 3.402.938,65 3.866.693,17 4.455.353,90 5.113.365,64 5.906.787,71 Mobil dan
Sepeda Motor