• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori simpul Jasa

Dalam dokumen TERHADAP PDRB KOTA TARAKAN SKRIPSI (Halaman 44-53)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Teori simpul Jasa

dipindahkan ke tempat tujuan. Terminal berfungsi mempermudah pelayanan, pengaturan dan pengawasan kegiatan bongkar muat dan naik turun barang, penumpang, atau peti emas.

Jalan

Suatu lintasan yang dapat dilalui oleh kendaraan maupun pejalan kaki, yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Jalan berfungsi melancarkan kegiatan perpindahan kendaraan yang pada akhirnya akan melancarkan kegiatan bongkar muat barang dipelabuhan.

Kegiatan usaha tersebut ditunjang oleh pertumbuhan modal serta pengembangan SDM dan SDA. Pengembangan sumberdaya tersebut menimbulkan arus barang. Arus barang dianggap sebagai sebagai salah satu gejala ekonomi yang paling menonjol, arus barang merupakan wujud fisik perdagangan antar daerah, antar pulau, maupun antar negara. Arus barang didukung langsung oleh jasa perdagangan dan jasa pengangkutan (jasa distribusi).

Bahan baku diangkut dari sumberdaya ke pasar untuk dikonsumsi penduduk atau diolah pada industri di perkotaan, dan setelah menjadi barang jadi, didistribusikan ke berbagai kota yang tersebar. Kota-kota ini berfungsi sebagai simpul jasa distribusi. Arus barang menuju simpul akan mengalami kepadatan muatan dan sebaliknya arus barang meninggalkan simpul akan mengalami penipisan arus barang.

Jasa distribusi dengan kepadatan tinggi menunjukkan

“tingkat kemudahan” yang tinggi bagi masyarakat dalam memperoleh kebutuhan untuk memenuhi hidup sehari-hari ataupun untuk melaksanakan kegiatan usaha. Di kota besar terdapat tingkat kemudahan yang lebih tinggi dibandingkan kota kecil, yang berarti pula mempunyai daya tarik yang lebih besar dibandingkan kota kecil.

Makin besar suatu kota makin luas jangkauan arus barang yang berarti makin intensif kegiatan jasa distribusi dan makin tinggi

27

pertumbuhan wilayah yang dapat dilaksanakan. Jadi jasa distribusi merupakan kegiatan yang sangat penting, terutama jika ditinjau pengaruhnya dalam penentuan lokasi tempat berkelompoknya berbagai kegiatan usaha dan kemudahan-kemudahan, demikian pula fungsinya dalam proses perkembangan wilayah.

Sebagai pendukung utama mekanisme pengembangan wilayah, jasa distribusi dianggap sebagai satu-satunya unsur yang memenuhi kriteria berikut ini :

a. Merupakan unsur penyalur kekuatan ekonomi yang utama b. Orientasi pelayanannya kepada masyarakat tidak hanya ke

dalam, melainkan juga ke luar.

c. Jangkauan pelayanan kepada masyarakat tidak hanya bersifat lokal melainkan juga ke luar (jauh).

Dengan demikian jasa distribusi itu dapat dikatakan sebagai unsur pembentuk struktur wilayah dan memberikan hasil berupa struktur pengembangan wilayah.

Kriteria untuk tingkat pertumbuhan suatu daerah adalah tingkat kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, baik berupa kebutuhan hidup maupun kebutuhan untuk melakukan kegiatan usaha. Di kota-kota terdapat berbagai kemudahan, semakin tinggi tingkat kemudahan pada suatu tempat, berarti semakin kuat

daya tariknya mengundang manusia dan kegiatan ekonomi untuk datang ketempat tersebut.

Interaksi antara simpul besar dengan simpul-simpul kecil dan daerah belakang lainnya yang berada dalam wilayah pengaruhnya merupakan unsur yang terpenting dalam konsepsinya Poernomosidi.

Tingkat interaksi ditunjukkan dari tingkat kepadatan arus barang.

Ada dua faktor penting yang harus diperhatikan dalam pemahaman peranan simpul yaitu mengenai fungsi simpul dan hirarki simpul dalam sistem spasial. Fungsi primer suatu simpul adalah sebagai pusat pelayanan jasa dan distribusi bagi wilayah pengembangannya atau wilayah nasional (bersifat keluar), sedangkan fungsi sekundernya adalah memenuhi kehidupan masyarakat di simpul yang bersangkutan (bersifat ke dalam). Perbedaan fungsi simpul tersebut mencerminkan pula perbedaan dalam jenis dan kapasitas fasilitas yang tersedia.

Hirarki tiap simpul ditentukan oleh kedudukannya dalam hubungan fungsional antar simpul yang dicerminkan berdasar mekanisme arus distribusi barang. Pada simpul orde pertama memiliki fasilitas pelayanan yang lebih lengkap bila dibandingkan dengan simpul-simpul yang lebih rendah ordenya.

29

Struktur pengembangan wilayah terdiri dari satuan-satuan wilayah pengembangan dengan pusat simpulnya masing-masing. Antar simpul terdapat keterkaitan. Besarnya volume arus antar simpul dapat digunakan untuk menentukan hirarki simpul jasa distribusi (orde satu, orde dua, dan seterusnya) dan keterkaitan antar simpul.

Poernomosidi menyatakan bahwa simpul jasa distribusi merupakan titik tumpu bagi tumbuh dan berkembangnya kota dan wilayah mengikuti pula azas-azas efisiensi untuk menghasilkan pertumbuhan yang berarti pula memberikan ciri terbentuknya struktur wilayah yang disebut Satuan Wilayah Pengembangan (SWP). Satuan Wilayah Pengembangan terbentuk oleh satu, beberapa atau banyak kota berikut wilayah pengaruhnya atau wilayah pelayanan. Kota-kota di dalam SWP saling terkait satu sama lainnya dalam susunan hirarkis.

Secara praktis dapat terjadi bahwa ada bagian wilayah SWP yang tidak terjangkau oleh pelayanan kota manapun, mungkin karena hambatan geografis atau belum tersedia prasarana perhubungan.

Teori simpul jasa distribusi dikembangkan oleh pencetusnya dimaksudkan untuk mengisi kelemahan dari teori-teori sebelumnya, misalnya :

Dibedakan antara wilayah administrasi pemerintah dengan wilayah pengembangan.

• Lokasi yang tepat untuk jasa distribusi (jasa perdagangan dan jasa angkutan) bukan pada “tempat sentral” (Christaller) tetapi menurut Poernomosidi adalah pada “lokasi ujung”.

Meskipun teori kutub pertumbuhan (Perroux) yang telah mendapat perhatian dan diterapkan di banyak negara termasuk Indonesia (pada tahun 1970/80-an) yang menganggap kutub pertumbuhan berfungsi sebagai penggerak utama pertumbuhan, ternyata teori ini masih tergolong sebagai tanpa tata ruang (spaceless), sedangkan Poernomosidi telah menyempurnakan dengan arah orientasi pemasaran secara geografis serta struktur pengembangan wilayah secara nasional dan regional. Selanjutnya jika dilihat dari lokasi unit produksi yang dipisahkan dari unit pasar, umumnya teori-teori terdahulu dapat dikategorikan sebagai berikut : a. Satu unit produksi – satu unit pasar.

b. Satu unit produksi – beberapa (banyak) unit pasar.

c. Beberapa (banyak) unit produksi – satu unit pasar.

Sedangkan teori simpul jasa distribusi dapat dimasukkan dalam kategori banyak unit produksi – banyak unit pasar.

Teori simpul jasa distribusi dapat dikatakan lebih realistis karena asumsinya berdasarkan pada keadaan yang sebenarnya atau bersifat positif (lawan dari normatif atau menurut yang seharusnya).

31

2. Pendekatan Orientasi Pedagang (Rahadjo Adisasmita)

Masalah dan fungsi simpul dalam pengembangan wilayah sangat penting tetapi rumit. Ahli-ahli ilmu ekonomi regional sengaja menghindari masalah simpul; seperti dikatakan Richardson yaitu many regional economiss escape from knotty problems. Poernomosidi dan Rahardjo Adisasmita justru tertarik untuk mengkajinya dan untuk menyusun konsep baru dalam pengembangan wilayah.

Poernomosidi Hadjisaroso menggunakan pendekatan arus barang dan penulis adalah seorang anak bimbingnya yang diminta untuk mengkaji teori simpul. Penulis melihat masih terdapat celah yang dapat dilengkapi, yaitu mengenai pendekatan yang digunakan.

Almarhum Poernomosidi adalah seorang ahli teknik. Ahli teknik umumnya lebih menekankan pada output (keluaran) atau akibat.

Barang berarus dari tempat asal ke tempat tujuan merupakan wujud fisik dari kegiatan jasa dan perdagangan dan angkutan (jasa distribusi). Sedangkan penulis (Rahadjo Adisasimita) adalah seorang ekonom, lebih menekankan pada proses atau sebab. Apa sebabnya barang dikirim dari satu tempat asal ke tempat tujuan. Jawabannya adalah karena pengambilan kuputusan yang dilakukan oleh pedagang yang mendasarkan pada pertimbangan keuntungan (profit motive). Karena menguntungkan maka barang dikirim dari satu tempat ke tempat lain.

Pendekatan pengambilan keputusan pedagang itu akan mewujudkan terbentuknya orientasi pedagang. Dalam sejarah pendapat-pendapat ekonomi, orientasi berdasar kepentingan pedagang dikenal dalam aliran Merkantilisme abad 17 dan 18 yang muncul sebelum aliran Fisiokrat dan Aliran Liberal (1776).

Kemakmuran dihasilkan oleh kaum pedagang yang membeli barang di negeri seberang dengan harga murah. Selanjutnya dijual di dalam negeri dengan harga tinggi. Mencari keuntungan sebesar-besarnya merupakan tujuan utama pedagang.

Pendekatan orientasi pedagang oleh penulis dikembangkan dengan mengintroduksikan formula baru yaitu (1) Luas Daya Tarik Relatif (LTDR) dan (2) Bobot Fungsi Distribusi Relatif (BFDR).

Dengan menerapkan kedua formula tersebut, hasilnya mampu menjelaskan berbagai karakteristik terbentuknya simpul berikut struktur hirarkis yang berlaku. Berbagai gejala karakteristik tersebut adalah sebagai berikut :

Kaitan fungsional antar simpul.

a. Gejala karakteristik penyebaran simpul.

b. Pengaruh simpul yang satu terhadap simpul-simpul yang lain.

c. Pengaruh masing-masing dari sejumlah simpul terhadap suatu simpul.

d. Terjadinya sub ordinasi pada simpul, dan

33

e. Tingkat efisiensi masing-masing simpul.

Sedangkan menggunakan pendekatan arus barang hanya mampu menjelaskan gejala karakteristik yang pertama yaitu kaitan fungsional antar simpul, dan belum sampai menjangkau kepada gejala karakteristik yang kedua sampai keenam.

Teori simpul jasa distribusi (Poernomosidi) telah mampu menjelaskan secara lengkap meliputi:

a. Gejala karakteristik terbentuknya simpul-simpul berikut struktur hirarkis dan subordinasi simpul yang berlaku.

b. Struktur dasar pengembangan wilayah dan satuan wilayah pengembangan (Wilayah Pengembangan Utama (WPU), Satuan Wilayah Pengembangan (SWP), Wilayah Pengembangan Pertial (WPP), Satuan Kawasan Pengembangan (SKP)).

c. Hirarki simpul dan orientasi geografis pemasaran.

Hasil pengkajian teori simpul jasa distribusi menggunakan pendekatan orientasi pedagang (Rahardjo) ternyata telah mampu memperkuat dan mempertajam teori simpul yang menggunakan pendekatan arus barang (Poernomosidi).

Teori yang baik adalah teori yang mampu menjelaskan dan menyimpulkan keterkaitan berbagai variabel yang diamati seperti apa adanya dan mampu membuat peramalan untuk masa yang akan datang, sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan

strategi kebijakan dan menyusun perencanaan pembangunan wilayah yang tepat dan terarah.

D. Konsepsi Wilayah dan Pengembangan Wilayah

Dalam dokumen TERHADAP PDRB KOTA TARAKAN SKRIPSI (Halaman 44-53)