• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI - TEORI KORUPSI

B. KORUPSI DI INDONESIA

Dampak dari korupsi tidak dapat dirasakan secara langsung, hal tersebut disebabkan karena korupsi merupakan kejahatan yang kerugiannya tidak langsung tertuju pada korbannya. Korupsi memiliki efek jangka panjang yang serius, terutama bagi generasi mendatang. Korupsi merupakan salah satu cara tidak sah dalam mencapai kekuasaan politik yang akan menghasilkan pemerintah, penguasa, dan pemimpin yang tidak legitimate bagi masyarakatnya (Setiadi 2018). Apabila demikian, maka masyarakat berpotensi tidak mematuhi dan tunduk pada otoritas. Keadaan tersebut dapat menimbulkan terjadinya instabilitas sosial politik dan integrsi sosial, akibat adanya pertentangan antara penguasa dan rakyat. Di dalam banyak kasus dapat menyebabkan jatuhnya kekuasaan atau pemerintahan secara tidak terhormat.

Tidak hanya berdampak bagi generasi dan politik, korupsi juga berbahaya bagi ekonomi bangsa. Jika suatu proyek negara dijalankan dengan unsur korupsi dengan melakukan penggelapan, maka proyek tersebut tidak akan tercapai sesuai dengan tujuan awal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Transparency International menyatakan bahwa korupsi dapat berdampak pada kurangnya investasi dari modal dalam dan luar negeri, sebab para investor akan mempertimbangkan Kembali untuk membayar biaya yang lebih tinggi dari semestinya dalam berinvestasi (Setiadi 2018). Korupsi menyebabkan ketidakefisiensi birokrasi. Birokrasi yang terjerat korupsi akan berdampak pada kualitas layanan yang akan mengecewakan publik. Upaya dalam memberantas korupsi tergolong pada upaya yang sulit. Hal tersebut disebabkan korupsi telah mengakar ke berbagai lini kehidupan bangsa dan negara. Berikut terdapat beberapa hambatan dalam upaya pemberantasan korupsi:

a. Hambatan Struktural yang meliputi hambatan dari praktik-praktik atau aparat pemerintahan yang menjadikan penanganan tindak pidana korupsi serta sistem peradilan pidana tidak berjalan sesuai prosedur yang ditetapkan. Kelompok yang tergolong pada jenis ini yakni egoism sektoral dan institusional yang merujuk pada pengajuan dana sebanyak mungkin untuk instansinya tanpa meninjau kebutuhan nasional secara menyeluruh serta berusaha menutupi pelanggaran yang ada pada sektor yang bersangkutan, fungsi pengawasan yang belum berfungsi secara efektif, koordinasi antara aparat pengawasan dan aparat penegak hukum yang lemah, dan lemahnya pengendalian yang memiliki

hubungan positif dengan berbagai pelanggaran dan inefisiensi dalam pengelolaan asset negara.

b. Hambatan Kultural yang meliputi hambatan yang berasal dari kebiasaan negatif yang berkembang di masyarakat. Hal yang tergolong dalam hambatan kultural adalah adanya sikap sungkan dan toleran antara pemerintah yang dapat menghalangi penanganan tindak pidana korupsi, pimpinan instansi yang kurang terbuka (transparent) sehingga terkesan tidak peduli dan melindungi kasus korupsi, terdapat campur tangan dari eksekutif, yudikatif, dan legislative, hingga rendahnya tingkat komitmen dalam menyelesaikan kasus korupsi secara tegas dan tuntas sesuai dengan prosedur dan regulasi yang ada.

c. Hambatan Instrumental meliputi hambatan yang berasal dari minimnya instrument pendukung dalam aspek undang-undang yang menjadikan penanganan tindak pidana korupsi tidak berjalan normal. Hal yang tergolong dalam hambatan instrumental meliputi adanya peraturan undang-undang yang tumpeng tindih, single identification number atau identifikasi yang tidak ada, lemahnya penegakan hukum dalam menangani kasus korupsi, dan pembuktian yang sulit terhadap kasus korupsi karena melibatkan upaya yang kompleks.

d. Hambatan Manajemen meliputi hambatan yang berasal dari pengabaian atau tidak adanya penerapan dari prinsi-prinsip manajemen yang baik, akuntabel, dan berkomitmen tinggi dalam penanganan tindak pidana korupsi. hal yang tergolong dalam hambatan manajemen adalah komitmen manajemen yang kurang dalam menindaklanjuti pengawasan, koordinasi yang lemah dari aparat penegak hukum dan pengawas, teknologi informasi yang kurang dalam proses penyelenggaraan pemerintah, organisasi pengawasan yang tidak independent, aparat yang kurang professional, dan minimnya dukungan sistem proseur pengawasan dalam menangani korupsi.

Pada setiap tahunnya Transparency International mengeluarkan hasil survey tentang korupsi. survey ini dikenal dengan sebutan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index) atau CPI. Survey ini meliputi skor.

Skor CPI merupakan suatu gambaran atau representasi terkait situasi dan kondisi korupsi di tingkat negara atau teritori. CPI merupakan komposit dari sejumlah indeks dari beberapa Lembaga survey bergengsi pada tingkat global. Skor CPI terdiri dari 0 hingga 100, dimana skor 0 dipersepsikan sebagai kondisi yang korup dan skor 100 sebagai kondisi yang bersih dari

korupsi. Semakin tinggi skor CPI pada suatu negara maka negara tersebut tergolong bersih dari korupsi. Sebaliknya, semakin rendah skor korupsi maka korupsi di negara tersebut sangat tinggi (Suyatmiko 2021).

Korupsi di Indonesia tampak dilestarikan sejak lama sehingga banyak pihak yang menormalisasikan korupsi. meskipun telah dilakukan upaya pemberantasan namun korupsi tetap lestari. Pemerintah membuat beragam upaya untuk mencegah dan menegakan hukum (Tutrianto dan Rinaldi, 2023) Korupsi menuai perdebatan yang cukup panas di Indonesia. Perilaku korupsi pada mulanya berkaitan dengan relasi kekuasaan. Kekuasaan sangat cenderung dan dekat dengan perilaku korupsi. kekuasaan yang secara absolut akan berkembang menjadi korupsi yang secara absolut pula.

Masyarakat yang memiliki sikap kritis cenderung memandang korupsi sebagai fenomena yang semakin luas.

Pengembangan kejahatan saat ini tidak hanya berkembang dalam negeri namun juga luar negeri (Rinaldi, et al, 2024). Indonesia sangat rentan terhadap fenomena korupsi. kerentanan tersebut disebabkan karena pola relasi dinamis antara kekuasaan dan sikap kritis masyarakat, selain itu berkaitan dengan struktur pengelolaan keuangan publik yang sentralistik dan berlebihan (Baswir 2002). Kekecewaan publik terhadap kasus korupsi sangat besar dan memprihatinkan. Masyarakat memahami bahwa upaya pemberantasan dan penanggulangan korupsi yang dilakukan pemerintah belum maksimal bahkan tidak memuaskan. Korupsi menyebar ke berbagai sektor baik legislatif, yudikaitf, hingga sektor swasta. Strategi pemberantasan dan upaya telah diusahakan semaksimal mungkin demi mencegah penyebaran dan terjadinya kasus korupsi yang merugikan bangsa dan negara. Banyak Lembaga yang dibentuk demi mencegah dan memberantas kasus korupsi.

Transparansi pemerintah dalam menangani kasus korupsi seharusnya melibatkan saran dari masyarakat terkait keberadaan korupsi, khususnya berkaitan dengan kegiatan komersial dengan mengukur Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia. Tindakan yang merugikan bangsa dan negara ini berdampak secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku korupsi ini berdampak terhadap sektor ekonomi, menurunnya tingkat investasi di Indonesia, meningkatkan angka dan taraf kemiskinan dan ketimpangan sosial (Pahlevi, 2022).

Pengadaan barang dan jasa, keuangan dan perbankan, perpajakan, minyak gas dan bumi, BUMN dan BUMD, bea cukai, asset kenegaraan atau daerah, pertambangan dan lainnya termasuk pada sektor yang rentan

terdampak kasus korupsi. Memposisikan kepentingan sendiri sebagai prioritas dibanding dengan yang lainnya merupakan salah satu sikap korupsi yang tertanam. Korupsi sangat membahayakan seluruh kehidupan.

Berikut dampak berbahaya korupsi diantaranya:

1. Korupsi berbahaya bagi standar moral dan intelektual publik. Korupsi yang menyebar luas di masyarakat. Nilai-nilai dalam masyarakat telah hilang. Situasi seperti ini menyebabkan keinginan masyarakat untuk berkorban demi bangsa akan menurun drastis dan menghilang.

2. Korupsi dalam jangka panjang dapat merusak generasi selanjutnya.

Generasi tumbuh menjadi anak yang anti sosial. Terdapat pewajaran terhadap perilaku korupsi dan dianggap sebagai budaya. Hal ini akan berdampak terhadap kepribadian anak tersebut yang tidak menerapkan kejujuran dan tanggung jawab. Jika situasi ini terus berlanjut, maka akan membawa kehancuran terhadap keberlangsungan bangsa dan negara.

3. Pemerintahan yang dicapai dari hasil korupsi akan menciptakan pemimpin yang tidak ideal bagi negara. Jika demikian, tidak hanya masyarakat yang dirugikan namun negara akan mengalami kerugian yang besar. Pemimpin yang tidak ideal akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap masyarakat sehingga masyarakat enggan untuk mematuhi aturan dan dapat merusak demokrasi.

4. Perekonomian suatu bangsa dapat dirusak karena adanya korupsi.

pertumbuhan ekonomi yang melambat juga merupakan dampak dari korupsi itu sendiri. Korupsi dapat menurunkan taraf kebahagiaan masyarakat.

5. Birokrasi yang tidak efisien merupakan dampak dari korupsi. kualitas pelayanan birokrasi yang menurun dan tidak kompeten akan mengecewakan masyarakat. Layanan yang diterima pun tentunya tidak merata dan tidak jarang terdapat diskriminasi di dalamnya.

C. TEORI-TEORI KORUPSI