• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-macam Model dan Metode Pembelajaran Pendidikan Antikorupsi

METODE PEMBELAJARAN DALAM PENDIDIKAN ANTIKORUPSI

B. METODE PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANTIKORUPSI

3. Macam-macam Model dan Metode Pembelajaran Pendidikan Antikorupsi

Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, 
inklusif, kolaboratif, kreatif, dan efektif merupakan proses pembelajaran yang dicanangkan pada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI Nomor 53 Tahun 2023. Selain itu kemajuan dan perkembangan teknologi juga menjadi pertimbangan dalam menentukan model dan metode pembelajaran, dan tren yang berkembang dikenal dengan istilah pembelajaran abad 21. Karakteristik pembelajaran abad 21 yaitu mengintegrasikan teknologi, informasi, dan komunikasi dalam pembelajaran secara efektif, efisien, dan menyenangkan (Fajar, Arnie, 2022:

262). Pembelajaran ini mengembangkan keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, kolaboratif atau keterampilan bekerja sama, dan keterampilan untuk berkomunikasi. Berikut dikemukakan beberapa model dan metode pembelajaran yang dianggap tepat digunakan untuk melaksanakan proses pembelajaran Pendidikan Antikorupsi.

Seperti yang telah dikemukakan bahwa model pembelajaran sifatnya lebih luas dari metode pembelajaran. Suatu model pembelajaran dalam implementasinya dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran.

Berikut dikemukakan model dan metode pembelajaran.

a. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Model pembelajaran berbasis proyek pada prinsipnya merupakan model pembelajaran yang bertumpu pada aktivitas peserta didik secara aktif dalam melaksanakan proses pembelajaran baik secara mandiri maupun kelompok melalui tahapan ilmiah sehingga menghasilkan suatu karya nyata atau produk. Inti utama dari model pembelajaran ini bukanlah

produknya, namun proses belajar dan pengetahuan baru yang dialami peserta didik secara langsung dalam aktivitas proyek mereka dalam rangka menjawab permasalahan otentik yang diajukan oleh pendidik. Model pembelajaran ini bersifat kontekstual, oleh karena itu memerlukan beberapa pendekatan pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Suryanti, dkk., (2008: 5), bahwa:

Belajar berbasis proyek (Project Based learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang bersifat kontekstual dan membutuhkan suatu pendekatan pengajaran yang komprehensif dimana lingkungan belajar siswa di desain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik pengajaran.

Senada dengan pendapat Suryanti, dikemukakan oleh Boss dan Kraus dalam (Abidin, Zaenal, 2007:167), bahwa:

Model Pembelajaran Berbasis Proyek (MPBP) adalah sebuah model pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang bersifat open-ended dan mengaplikasi pengetahuan mereka dalam mengerjakan sebuah proyek untuk menghasilkan sebuah produk otentik tertentu.

Selanjutnya dikemukakan oleh Buck Institute for Education dalam (Sutirman, 2013) bahwa:

Model pembelajaran Project Based Learning adalah suatu metode pengajaran sistematis yang melibatkan para siswa dalam mempelajari pengetahuan dan keterampilan melalui proses yang terstruktur, pengalaman nyata dan teliti yang dirancang untuk menghasilkan produk.

Adapun teori belajar yang mendasari model ini adalah konstuktivisme, yaitu proses belajar dengan mengaitkan pengetahuan atau pengalaman yang sudah dimiliki dengan pengetahuan atau pengalaman yang dipelajari, sehingga pengetahuannya dapat berkembang. Pada model pembelajaran ini didasari teori kontruktivisme yang dikembangkan oleh Vygotsky, Piaget, dan Brunner (Tinenti, Yanti Rosinda, 2018: 8-12). Teori Vygotsky menekankan pada aspek sosial pembelajaran, yakni melalui interaksi dengan orang lain baik orang dewasa maupun teman sebaya yang lebih mampu. Melalui interaksi sosial tersebut dapat menumbuhkan ide-ide baru dan memperluas perkembangan intelektual peserta didik. Teori Piaget, menekankan bahwa pengetahuan akan bermakna apabila dicari dan

ditemukan sendiri oleh peserta didik karena sejak kecil setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuan sendiri melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya, dan secara terus menerus skema tersebut diperbaharui dan diubah melalui proses asimilasi dan akomodasi.

Berbeda dengan Vygotsky dan Piaget, Brunner tidak mengembangkan suatu teori, bagi Brunner inti dari belajar adalah bagaimana cara orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasi informasi secara efektif.

Implementasi model pembelajaran berbasis proyek dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran, antara lain yaitu:

1) Metode diskusi dll

b. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Model Pembelajaran Berbasis Masalah adalah pembelajaran yang bertumpu pada permasalahan faktual atau kontekstual yang terdapat di lingkungan kehidupan masyarakat. Peserta didik secara mandiri dan/atau kelompok diberikan permasalahan untuk dicari pemecahan masalahnya melalui tahapan ilmiah, tanpa diberikan penjelasan konsep tentang permasalahan yang diberikan sehingga mereka dapat menemukan konsep sendiri. Melalui permasalahan nyata dalam kehidupan masyarakat, peserta didik dapat termotivasi untuk belajar mengetahui lebih lanjut tentang permasalahan yang dipelajarainya.

Pada model problem based learning peserta didik dihadapkan pada masalah otentik (nyata) sehingga mereka tertantang untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan menyusun pengetahuannya sendiri. Dengan demikian mereka dapat menumbuh kembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, mandiri, dan dapat meningkatkan kepercayaan dirinya (Arend, dalam Riadi, Muchlisin, 2017). Senada dengan pendapat tersebut dikemukakan oleh Shoimin, (2017: 129), yang menyatakan bahwa

problem based learning artinya menciptakan suasana belajar yang mengarah terhadap permasalahan sehari-hari”. Problem Based Learning ditandai dengan penggunaan masalah yang ada di dunia nyata, hal ini untuk melatih peserta didik berfikir kritis, terampil memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan tentang konsep penting yang dibangunnya sendiri (Barbara J. Duch (1996) dalam (Riadi, Muchlisin, 2017). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa implementasi dari model problembased learning diawali dengan adanya masalah faktual yang diberikan kepada peserta didik. Selanjutnya peserta didik mengumpulkan informasi,

mengumpulkan data, mengolah informasi dan data, melakukan penyelidikan atau percobaan, dan akhirnya menarik kesimpulan.

Seperti halnya teori belajar yang mendasari model pembelajaran berbasis proyek, model pembelajaran berbasis masalah juga didasari oleh teori belajar kontrukstivisme yang dikembangkan oleh Piaget, Vygotsky, dan Brunner. Selain itu, juga didasari teori belajar cognitive-field, teori belajar cognitive development, teori belajar discovery learning, dan teori belajar meaningful learning (Anonim...?). Teori belajar proses pembelajaran kognitif (cognitive-field), berdasarkan teori psikologi Gestalt yang dikembangkan oleh Kurt Lewin yang beranggapan bahwa perilaku merupakan hasil interaksi antar kekuatan baik dari dalam diri individu maupun yang berasal dari luar diri individu seperti tantangan dan permasalahan. Teori belajar perkembangan kognitif atau intektual (cognitive development) dikembangkan oleh Piaget bahwa proses berpikir kritis sebagai aktivitas fungsi intelektual secara berangsur dari konkrit menuju abstrak melalui transisi perkembangan individu, kematangan, pengalaman fisik atau lingkungan, transmisi sosial, dan self regulation.

Teori belajar dengan penemuan (discovery learning), didasari pendapat Dahar bahwa peserta didik harus belajar aktif di kelas dengan mengorganisasian materi yang dipelajarinya sampai pada bentuk akhir.

Menurutnya dalam proses belajar dengan penemuan peserta didik dapat merefleksikan pencarian pengetahuan secara aktif, berupaya sendiri untuk mencari pemecahan masalah, serta diperkuat oleh pengetahuan yang telah dimilikinya akan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.

Teori belajar bermakna (meaningful learning), berdasarkan pada teori belajar Ausubel bahwa pengetahuan tidak diberikan dalam bentuk jadi, melainkan harus dikonstruksi sendiri oleh peserta didik dengan cara menemukan kembali.

Implementasi model pembelajaran berbasis masalah dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran, antara lain yaitu:

1) Metode diskusi 2) Metode kooperatif

c. Model Pembelajaran Proyek Kewarganegaraan (Project Citizen Learning)

Model Project Citizen Learning didasari oleh strategi belajar melalui penyelidikan/pencarian (inquiry learning), belajar melalui penyingkapan (discovery learning), belajar melalui pemecahan masalah (problem solving learning), dan belajar berorientasi penelitian (research oriented leaning) yang dikemas oleh John Dewey (Kemenristekdikti, 2016: 275). Senada dengan model pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran pada model ini juga bertumpu pada permasalahan faktual yang terdapat di lingkungan masyarakat. Proses pembelajaran dilaksanakan secara kelompok yang dikerjakan selama satu semester dan proses belajarnya sebagian besar dilakukan di luar kelas.

Teori belajar yang mendasari model pembelajaran kewarganegaraan ini adalah teori belajar konstruktivisme seperti halnya model pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah. Menurut Yager, penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran, berarti menempatkan peserta didik pada posisi sentral dalam keseluruhan program pembelajaran (Hidayat, dalam Fajar, Arnie, 2009:43). Artinya dalam pembelajaran ini peserta didik adalah sebagai pelaku atau yang melakukan belajar seperti membaca literasi, berdiskusi, berdebat, menganalisa, dan menyimpulkan, sedangkan posisi pendidik adalah sebagai fasilitator. Melalui aktifitas tersebut, peserta didik melakukan komunikasi atau interaksi dengan teman atau orang lain sehingga mereka membentuk pengetahuan atau mengubah pengetahuan yang sudah dimilikinya. Dengan demikian pengetahuan baru yang mereka dapatkan akan tersimpan dengan baik karena melalui proses pembentukan dan pemahaman secara mandiri.

Model pembelajaran ini, pada dasarnya merupakan suatu upaya agar peserta didik memiliki kemampuan mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya baik sebagai individu maupun kelompok. Kemampuan individu diperoleh melalui pengalaman membaca, mengamati, mencari informasi, melakukan wawancara atau dialog dengan orang lain yang dijadikan narasumber, mengolah informasi, dan menulis laporan dengan mencurahkan pikirannya sehingga terbentuk karya nyata. Sedangkan kemampuan dalam kelompok diperoleh melalui belajar merumuskan hasil pencarian informasi secara bersama, mengemukakan pendapat dan mendengar pendapat orang lain ketika berdiskusi, mempertahankan pendapat dalam berdebat, menghargai pendapat orang lain, dan sebagainya.

Seperti yang telah dikemukakan bahwa model pembelajaran ini dilaksanakan selama satu semester, karena peserta didik benar-benar dihadapkan pada kehidupan masyarakat dan secara langsung melakukan penyelidikan atau pencarian informasi, mengolah informasi yang diperoleh, membuktikan kebenaran informasi, menyingkap, memecahkan masalah, dan memberikan solusi dalam mengatasi masalah yang telah dirumuskan.

Langkah-langkah model pembelajaran proyek kewarganegaraan adalah sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi masalah

2) Memilih suatu masalah untuk kajian di kelas

3) Mengumpulkan data dan informasi terkait dengan masalah yang dikaji 4) Mengembangkan portofolio kelas

5) Menyajikan portofolio atau mempresentasikan masalah (show case) 6) Melakukan refleksi pengalaman belajar (adaptasi Kemenristekdikti,

2016: 275).

Adapun langkah-langkah pembelajaran proyek kewarganegaraan dijelaskan sebagai berikut.

1. Mengidentifikasi masalah

Pada tahap ini, pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, dilanjutkan memberikan contoh permasalahan yang terjadi di masyarakat yang membutuhkan penanganan atau solusi. Selanjutnya menugaskan kepada peserta didik untuk:

a. Mempelajari kebijakan atau peraturan perundangan yang berlaku di masyarakat,

b. Mengamati permasalahan yang terjadi di masyarakat dengan cara melakukan pengamatan langsung, membaca buku dan media cetak lainnya, mendengarkan radio, menyaksikan televisi, internet, dan media sosial lainnya

c. Memilih satu masalah yang menarik untuk dijadikan pembahasan di kelas,

d. Mencari informasi tentang permasalahan yang telah dipilih (apa, mengapa, kapan, dimana permasalahannya, siapa yang menyebabkan dan bertanggung jawab terhadap permasalahan tersebut),

e. Menanyakan kepada orang tua, teman, tetangga, atau orang lain yang dianggap mampu untuk menjelaskan terkait masalah yang dipilih, f. Mencatat semua informasi dan mengumpulkan data yang diperoleh

dalam bentuk laporan,

g. Melaporkan kepada pendidik pada pertemuan selanjutnya h. Waktu tahap ini adalah satu minggu

2. Memilih suatu masalah untuk kajian di kelas

Pendidik pada tahap ini menanyakan kepada peserta didik tentang masalah yang sudah diamati, merespon jawaban peserta didik, dan selanjutnya:

a. Membagi peserta didik dalam kelompok yang terdiri dari 3 s.d. 5 orang b. Menugaskan kelompok untuk mendiskusikan permasalahan yang sudah

dipilih

c. Menugaskan kelompok untuk memilih satu permasalahan yang akan dikaji

d. Meminta perwakilan kelompok untuk menuliskan permasalahan yang sudah dipilih di papan tulis

e. Meminta kelompok untuk menjelaskan pentingnya permasalahan yang telah dipilih

f. Membahas permasalahan yang telah dijelaskan kelompok, mengarahkan permasalahan yang layak dan tidak menyulitkan untuk dijadikan kajian kelas, dan sebagainya,

g. Meminta peserta didik untuk memilih 3 (tiga) permasalahan secara demokratis yang diupayakan melalui musyawarah namun jika tidak tercapai maka dilakukan voting

h. Meminta 3 (tiga) kelompok terpilih untuk menjelaskan kembali dan mengkampanyekan permasalahannya,

i. Meminta peserta didik untuk memilih 1 (satu) masalah dari 3 (tiga) masalah yang sudah dipilih sebagai kajian kelas

j. Penentuan masalah hasil dari pemilihan kelas secara musyawarah atau voting,

k. Melakukan penelitian lanjutan tentang masalah yang telah dipilih dengan mengumpulkan informasi

3. Mengumpulkan data dan informasi terkait dengan masalah yang dikaji Pada tahap ini, pendidik menugaskan kepada peserta didik untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Mencari dan mengumpulkan data dan informasi terkait masalah yang menjadi kajian kelas, dengan cara:

1) mengidentifikasi sumber informasi, seperti perpustakaan, media massa cetak dan elektronik, pakar dari perguruan tinggi, dosen,

kepolisian, pengadilan/kejaksaan, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi masyarakat, kantor lembaga legislative, lembaga swadaya masyarakat, dan sebagainya,

2) membagi kelompok untuk mencari sumber informasi 3) menyiapkan format untuk mencari informasi

4) menyiapkan alat perekam dan lain-lain sesuai kebutuhan b. Pendidik menyiapkan panduan dan format untuk mencari informasi c. Waktu untuk menyelesaikan tahap ini selama 4 minggu

4. Mengembangkan portofolio kelas

Tahap ini, hendaknya peserta didik sudah menyelesaikan penelitiannya yaitu mencari dan mengolah data dan informasi terkait masalah yang menjadi kajian kelas. Langkah selanjutnya adalah:

a. Kelas dibagi menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu:

• Kelompok 1 bertugas: menjelaskan masalah

• Kelompok 2 bertugas: menjelaskan dan menilai berbagai kebijakan publik sebagai alternatif untuk mengatasi masalah

• Kelompok 3 bertugas: Mengusulkan dan mengembangkan satu kebijakan publik untuk mengatasi masalah

• Kelompok 4 bertugas: mengembangkan rencana tindakan agar pemerintah bersedia menerima kebijakan kelas.

b. Peserta didik dengan bimbingan pendidik mulai mengembangkan portofolio kelas yang terdiri dari dua bagian, yaitu:

1) Portofolio tayangan

Bagian ini merupakan karya dari masing-masing kelompok yang ditempatkan pada lembar panel dari bahan gabus/sterofom, karton tebal, kardus atau bahan lainnya berukuran maksimal 90cm x 80cm berbentuk kotak, oval, atau bentuk lain sesuai dengan kreatifitas kelompok. Setiap tayangan dibuat sedemikian rupa, sehingga ketika keempat panel digabungkan menjadi satu dapat diletakkan di atas meja. Lembar panel berisi data pernyataan tertulis, sumber informasi, gambar/foto, grafik, peta, daftar sumber informasi, hasil karya seni, dan hasil karya lainnya yang dibuat oleh setiap kelompok. Isi keempat tayangan tidak boleh ada duplikasi atau pengulangan sehingga data yang ditampilkan keempat kelompok tidak ada yang sama.

2) Portofolio dokumentasi

Bagian ini merupakan hasil pengolahan data dan informasi dari masing-masing kelompok yang diinventarisir dan disimpan dalam map atau binder dengan warna berbeda untuk setiap kelompok.

Dokumentasi berisi data terpenting dan bermakna yang mewakili dan membuktikan bahwa setiap kelompok sudah melakukan penelitian. Setiap kelompok menyusun dokumen secara sistematis, meliputi halaman judul, daftar isi, dokumen hasil pencarian informasi, laporan yang dibuat sendiri oleh kelompok, dan berbagai data serta informasi yang diperoleh.

c. Pendidik menjelaskan tugas masing-masing kelompok sebagai berikut.

1) Tugas kelompok 1: Menjelaskan Masalah

a) Bagian portofolio tayangan menjelaskan dan merangkum secara tertulis seluruh hasil penelitian tentang masalah yang dikaji, meliputi:

• seberapa serius dan penting masalah tersebut di masyarakat,

• alasan mengapa memilih masalah tersebut,

• alasan mengapa masalah tersebut perlu ditangani oleh pemerintah,

• lembaga yang bertanggung jawab untuk mengatasi masalah, dan apakah setiap orang juga bertanggung jawab untuk memecahkan masalah tersebut

• jika terdapat silang pendapat terhadap masalah tersebut di masyarakat,

• orang/individu atau kelompok organisasi yang berpihak pada masalah tersebut, meliputi alasan ketertarikannya, langkah-langkah yang mereka lakukan, keuntungan dan kerugian dari langkah yang mereka lakukan, dan bagaimana cara mereka mempengaruhi pemerintah supaya menerima usulan atau pandangannya.

• menyusun secara sistematis rangkuman yang telah ditulis

• menyajikan rangkuman informasi pada lembar panel kelompok 1 sesuai uraian yang terdapat pada “bagian b.1)”

b) Tugas bagian dokumentasi mengumpulkan seluruh sumber- sumber informasi, meliputi:

• kliping Koran, majalah, tabloid, artikel, dan berbagai sumber lainnya

• laporan tertulis hasil ulasan radio/televise

• laporan hasil wawancara/ dialog dari berbagai pihak baik dari pihak pemerintah, masyarakat, dan individu

• petikan dari kebijakan/ peraturan perundangan yang dipublikasikan oleh pemerintah

• menyusun seluruh dokumen secara sistematis pada map atau binder sesuai dengan uraian yang terdapat pada bagian

“bagian b.2)”

2) Tugas kelompok 2: Mengkaji Kebijakan Alternatif untuk mengatasi masalah

a) Bagian portofolio tayangan menjelaskan masalah dan menilai kebijakan-kebijakan yang berlaku saat ini atau kebijakan lainnya yang diusulkan kelas sebagai alternatif untuk memecahkan masalah terkait masalah yang dikaji, meliputi:

• rangkuman tertulis tentang semua kebijakan alternatif,

• memilih dua atau tiga kebijakan yang diusulkan disertai keuntungan atau kelebihan dan kerugian atau kekurangan/kelemahan dari setiap kebijakan yang diusulkan,

• rangkuman jawaban yang tidak lebih dari satu halaman,

• menyusun secara sistematis semua data yang telah ditulis

• menyajikan data dan informasi pada lembar panel kelompok 2 sesuai uraian yang terdapat pada “bagian b.1)”

b) Tugas bagian dokumentasi mengumpulkan seluruh sumber- sumber informasi, meliputi:

• kliping Koran, majalah, tabloid, artikel, dan berbagai sumber lainnya,

• laporan tertulis hasil ulasan radio/televisi,

• laporan hasil wawancara/ dialog dari berbagai pihak baik dari pihak pemerintah, masyarakat, dan individu

• petikan dari kebijakan/ peraturan perundangan yang dipublikasikan oleh pemerintah

• menyusun seluruh dokumen secara sistematis pada map atau binder sesuai dengan uraian yang terdapat pada bagian

“bagian b.2)”

3) Tugas kelompok 3: Mengusulkan kebijakan untuk mengatasi masalah

a) Bagian portofolio tayangan menjelaskan satu usulan kebijakan publik untuk mengatasi masalah yang menjadi kajian kelas.

Usulan kebijakan publik dapat dipilih dari usulan kelompok dua, memodifikasi usulan kelompok dua, atau membuat usulan kelompok sendiri berdasarkan kesepakatan dan mendapat dukungan kelas. Selanjutnya menjelaskan dan justifikasi terhadap usulan kebijakan tersebut, meliputi:

• alasan memilih dan mendukung kebijakan yang diusulkan

• usulan kebijakan diyakini kelas dapat mengatasi masalah yang dikaji

• keuntungan atau kelebihan dan kerugian atau kekurangan/kelemahan dari kebijakan yang diusulkan,

• kebijakan yang diusulkan sesuai dengan konstitusi (UUD NRI 1945) dan peraturan perundangan lainnya yang berlaku. Oleh karena itu diperlukan keyakinan bahwa kebijakan yang diusulkan tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang ditetapkan konstitusi, dalam konteks ini terkait perlindungan hak-hak warganegara. Teknis pengecekan menggunakan checklist berikut (Adaptasi KemenristekDikti, 2016: 309).

No Uraian Jawaban

1 Pemerintah tidak

diperkenankan melakukan perbuatan yang melanggar hak- hak asasi

Kebijakan yang diusulkan (bertentangan/tidak bertentangan) dengan batasan kekuasaan pemerintah.

Alasan: ………

……….

………

manusia. 
 ………

………

………

2 Pemerintah tidak

diperkenankan dengan tidak adil dan tidak jujur,

membatasi hak seseorang untuk mengungkapka n pandapatnya baik lisan maupun tulisan, atau dengan cara-cara lainnya. 


Kebijakan yang diusulkan (bertentangan/tidak bertentangan) dengan batasan kekuasaan pemerintah.

Alasan:


………

………….

………

………

………

………

………

………

………

………

3 Pemerintah tidak

diperkenankan mencabut kehidupan, kebebasan, atau harta milik seseorang tanpa melalui

pengadilan yang adil dan jujur. 


Kebijakan yang diusulkan (bertentangan/ tidak bertentangan) dengan batasan kekuasaan pemerintah.

Alasan: ………

……….

………

………

………

……… 


4 Pemerintah tidak

diperkenankan membuat aturan hukum yang tidak rasional dan bersifat

Kebijakan yang diusulkan (bertentangan/ tidak bertentangan) dengan batasan kekuasaan pemerintah.

Alasan: ………

……….

………

diskriminatif. ………

………

……… …………

………

………


5 Pemerintah tidak

diperkenankan membuat peraturan hukum berdasarkan kelompok ras, agama, dan etnis tertentu. 


Kebijakan yang diusulkan (bertentangan/ tidak bertentangan) dengan batasan kekuasaan pemerintah.

Alasan: ………

……….

………

………

………

……… …………

………

………


• lembaga pemerintah yang bertanggungjawab untuk melaksanakan usulan kebijakan public dan alasannya

• menyusun secara sistematis semua data usulan kebijakan publik yang telah ditulis

• menyajikan data dan informasi usulan kebijakan publik pada lembar panel kelompok 3 sesuai uraian yang terdapat pada “bagian b.1)”

b) Tugas bagian dokumentasi mengumpulkan seluruh sumber- sumber informasi, meliputi:

• kliping Koran, majalah, tabloid, artikel, dan berbagai sumber lainnya

• laporan tertulis hasil ulasan radio/televise

• laporan hasil wawancara/ dialog dari berbagai pihak baik dari pihak pemerintah, masyarakat, dan individu

• petikan dari kebijakan/ peraturan perundangan yang dipublikasikan oleh pemerintah

• menyusun seluruh dokumen secara sistematis pada map atau binder sesuai dengan uraian yang terdapat pada bagian

“bagian b.2)”

4) Tugas kelompok 4: mengembangkan rencana tindakan (action plan) a) Bagian portofolio tayangan menjelaskan dan mengembangkan

rencana tindakan atau rencana kerja secara tertulis yang menunjukkan partisipasi warga negara untuk mempengaruhi agar pemerintah menerima dan melaksanakan kebijakan yang diusulkan, meliputi:

• Gagasan utama dari rencana tindakan kelas,

• Cara kelompok dapat menumbuhkan dukungan masyarakat terhadap rencana tindakan yang diusulkan,

• Hasil identifikasi individu dan kelompok yang berpengaruh di masyarakat yang mendukung rencana tindakan yang diusulkan,

• Hasil identifikasi individu dan kelompok yang berpengaruh di masyarakat yang mungkin menentang rencana tindakan yang diusulkan,

• Hasil identifikasi pejabat dan/atau lembaga atau badan- badan pemerintah yang bersedia mendukung rencana tindakan yang diusulkan,

• Hasil identifikasi pejabat dan/atau lembaga atau badan- badan pemerintah yang mungkin menentang rencana tindakan yang diusulkan

• Menyusun secara sistematis semua data rencana tindakan yang telah ditulis

• Menyajikan data dan informasi rencana tindakan pada lembar panel kelompok 4 sesuai uraian yang terdapat pada

“bagian b.1)”

b) Tugas bagian dokumentasi mengumpulkan seluruh sumber- sumber informasi, meliputi:

• Kliping Koran, majalah, tabloid, artikel, dan berbagai sumber lainnya

• Laporan tertulis hasil ulasan radio/televise

• Laporan hasil wawancara/ dialog dari berbagai pihak baik dari pihak pemerintah, masyarakat, dan individu

• Petikan dari kebijakan/ peraturan perundangan yang dipublikasikan oleh pemerintah

• Menyusun seluruh dokumen secara sistematis pada map atau binder sesuai dengan uraian yang terdapat pada bagian

“bagian b.2)”

d. Arahan dan Catatan untuk 4 (empat) kelompok

Walaupun kelas terbagi menjadi 4 kelompok yang memiliki tugas tertentu, namun pada dasarnya merupakan satu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh sebagai suatu proses belajar untuk memecahkan masalah. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugas belajar harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Selalu berkomunikasi antar individu dan antar kelompok sehingga mendapatkan informasi yang utuh sebagai bahan diskusi setiap kelompok,

2) Berbagi informasi, data, dan pikiran antar individu dan antar kelompok, karena dimungkinkan informasi dan data yang dimiliki suatu kelompok sangat berguna dan lebih cocok untuk kelompok lainnya sehingga dimungkinkan terjadi pertukaran informasi dan data,

3) Seluruh kelompok dalam satu kelas harus mengetahui perkembangan atau kemajuan setiap kelompok

4) Bekerjasama antar kelompok untuk menghasilkan proyek kewarganegaraan kelas terbaik

5) Bermusyawarah untuk memilah, memilih, dan menentukan bahan atau data yang akan dimasukkan pada portofolio tayangan dan portofolio dokumentasi pada setiap kelompok,

6) Bermusyawarah untuk menentukan bahan membuat portofolio kelas baik portofolio tayangan maupun dokumnetasi

7) Bersama-sama memahami kriteria penilaian portofolio baik bagian tayangan maupun bagian dokumentasi berikut ini.

a) Cheklist kriteria penilaian untuk setiap kelompok atau masing- masing kelompok (Adaptasi Fajar, Arnie, 2009: 241 dan KemenristekDikti, 2016: 309)