• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Kredit

Dalam kehidupan sehari-hari sering didengar adanya istilah kredit, yang diartikan penundaan pembayaran oleh pihak yang menerima barang atau uang kepada pihak yang memberikannya dengan perjanjian tertentu.

Istilah kredit sebenarnya berasal dari bahasa latin “Credere” yang berarti kepercayaan atau “Credo” yang artinya percaya, karena itu dasar pemikiran pemberian kredit oleh sebuah lembaga keuangan atau bank kepada seseorang atau badan usaha, landasannya adalah kepercayaan. Bila dikaitkan arti kredit tersebut dengan kegiatan usaha, maka berarti memberikan nilai ekonomi kepada seseorang atau badan usaha atas dasar kepercayaan saat pemberian kredit tersebut, bahwa nilai ekonomi yang sama akan dikembalikan kepada kreditur (bank) setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui antar bank dengan debitur.

a. Kategori Kredit

Identifikasi risiko kredit memulai dari proses untuk melakukan aktivitas kredit, kemudian mengidentifikasi faktor yang dapat memicu terjadinya potensi risiko kredit. Oleh sebab itu, untuk dapat melakukan

identifikasi risiko kredit, terlebih dahulu perlu diketahui berbagai jenis produk prekreditan yang umum diberikan oleh perbankan. Menurut Ikatan Bank Indonesia (2015:68) secara umum jenis kredit bank dapat diklasifikasikan menurut:

1. Jenis Aktiva

Pertimbangan utama dalam menentuan struktur kredit adalah jenis aktiva yang dibiayai (aktiva lancar atau aktiva tetap). Aktiva suatu perusahaan secara umum dibagi menjadi tiga jenis yaitu aktiva tetap, aktiva lancar permanen, dan aktiva lancar yang bersifat fluktuatif. Dalam memberikan pinjaman berdasarkan jenis aset dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

a. Asset Conversion Lending (Kredit Musiman)

Digunakan untuk membiayai kebutuhan jangka pendek yang bersifat temporer. Di dalam asset conversion lending bank merencanakan agar seluruh pokok pinjaman dapat dilunasi pada akhir periode pinjaman. Sumber pengembalian pinjaman berasal dari siklus konversi dari bahan baku atau barang dagangan, sampai siklus dinyatakan selesai, yaitu terjual pada konsumen dan sudah lunas.

b. Asset Protection Lending

Pemberian kredit atas dasar asset protection lending bersifat jangka panjang, direncanakan untuk melunasi pokok pinjaman pada akhir periode produksi, melainkan pinjaman mengikuti prinsip going caoncern, artinya suatu bisnis yang akan terus berlangsung tanpa jangka waktu yang ditentukan sebelumnya.

Sumber pengambilan pinjaman berasal dari tingkat penurunan komponen pinjaman dari permanent curret assets yang berasal dari laba kumulatif yang diperoleh perusahaan dalam menjalankan usahanya. Sumber pelunasan lain yang dapat digunakan untuk menurunkan tingkat pinjaman adalah yang berasal dari fresh money dari pimilik usaha, misalnya dengan tambahan penyetoran modal.

c. Cash flow lending

Cash flow lending adalah pinjaman jangka panjang yang digunakan antara lain untuk membiayai pembelian aktiva tetap atau investasi. Dengan cash flow lending diharapkan seluruh pinjaman pokok dilunasi pada akhir periode pinjaman, sesuai dengan jadwal pelunasan pokok pinjaman yang sudah ditetapkan sebelumnya.

2. Berdasarkan Kegunaan a. Kredit Investasi

Kredit Investasi merupakan kredit jangka panjang yang digunakan untuk keperluan investasi. Pelunasan kredit investasi diharapkan berasal dari kinerja operasional yang menghasilkan cash flow yang memadai untuk dapat melunasi kewajiban debitur pada bank.

b. Kredit Modal Kerja

Kredit modal kerja merupakan kredit yang digunakan untuk kebutuhan modal kerja operasional perusahaan. Kriteria dari

modal kerja yaitu kebutuhan modal yang habis dalam satu siklus usaha.

3. Berdasarkan Tujuan Kredit

a. Kredit produktif, kredit yang digunakan untuk meningkatkan volume usaha atau produksi, dan menghasilkan arus kas untuk keuntungan pemilik usaha, dan untuk membayar kewajiban kredit.

b. Kredit konsumtif, kredit yang digunakan untuk komsumsi dan tingkat bersifat produktif.

4. Berdasarkan Jangka Waktu

a. Kredit jangka pendek, merupakan kredit yang memiliki jangka waktu paling lama satu tahun.

b. Kredit jangka menengah, merupakan kredit yang memilki jangka waktu antara 1-3 tahun.

c. Kredit jangka panjang, merupakan kredit dengan jangka waktu pengembalian diatas tiga tahun, pada umumnya merupakan kredit investasi.

5. Berdasarkan Jenis Dana Yang Diberikan a. Cash loan (kredit tunai)

Cash loan adalah kredit dengan dana langsung dicairkan kepada nasabah.

b. Non cash loan

Non cash loan adalah kredit yang tidak secara langsung ditarik dalam bentuk tunai, tetapi di dalamnya telah terkandung

adanya suatu kesanggupan untuk melakukan pembayaran di kemudian hari.

6. Berdasarkan Jenis Valuta a. Kredit valuta rupiah

Pinjaman yang diberikan dalam mata uang rupiah, yang secara umum diberikan perbankan untuk para debitur yang mengajukan permohonan kredit.

b. Kredit valuta asing

Pinjaman yang diberikan dalam mata uang asing (pada umumnya dalam valuta (USD). Hal yang perlu diperhatikan dalam pinjaman valuta asing adalah risiko nilai tukar, yaitu kerugian yang timbul akibat perubahan nilai mata uang asing terhadap Rupiah.

b. Kebijakan dan Prosedur Kebijakan Perkreditan

Kebijakan dan prosedur perkreditan merupakan pedoman kerja dibidang perkreditan yang memuat rangkaian peraturan dan prosedur untuk menjamin kegiatan perkreditan dapat berjalan dengan baik.

Menurut Ikatan Bankir Indonesia (2015:80) beberapa unsur yang harus diperhatikan dalam menetapkan kebijakan perkreditan, yaitu:

1. Asas Likuiditas, bank harus dapat menjaga tingkat likuiditas bank termasuk dalam upaya memenuhi permintaan penarikan kredit nasabah.

2. Asas Solvabilitas, bank dapat melakukan pertumbuhan perkreditan sesuai dengan kemauan mengumpulkan dana pihak ketiga, dan sejauh mungkin menghindari risiko kegagalan kredit.

3. Asas Rentabilitas, bank harus memperoleh laba secara optimal sesuai dengan risiko yang diambil dan modal yang dipergunakan.

4. Yang perlu diwaspadai dalam kebijakan perkreditan yang berpotensi menimbulkan resiko kredit, adalah bahwa: 1) kebijakan perkreditan bank tidak lengkap; 2) isinya tidak sesuai dengan praktik terbaik; 3) belum sepenuhnya dikombinasikan pada jajaran organisasi yang perlu menguasai kebijakan tersebut, sehingga mereka dapat memahami isi dari kebijakan tersebut.

c. Prinsip-prinsip Pemberian Kredit

Dalam melakukan analisis kelayakan debitur, metode yang sering dilakukan analisis antara lain metode 5C. Pada analisis dengan metode 5C menurut Ikatan Bankir Indonesia (2015:85) kelayakan debitur dilihat dari lima faktor utama:

1. Character

Character atau watak calon debitur merupakan faktor penting.

Bank secara rasional hanya ingin membina hubungan dengan debitur yang dapat dipercaya. Sifat dan watak calon debitur dapat dilihat dari latar belakang pekerjaan maupun pribadi, seperti gaya hidup dan keadaan keluarga.

2. Capacity

Analisis capacity bertujuan menilai kemampuan calon debitur dalam membayar kewajiban. Kemampuan debitur tercermin dari kemampuan menghasilkan arus kas dari usaha atau operating cash flow. Usaha yang berhasil memenangkan persaingan akan mempunyai peluang lebih baik untuk dapat menghasilkan arus kas yang lebih besar.

3. Capital

Analisia capital melihat asepek kecukupan permodalan debitur.

Kondisi keuangan akan sehat apabila jumlah modal dinilai cukup memadai dibandingkan dengan jumlah pinjaman. Analisis capital harus menganalisis persentase modal sendiri yang digunakan untuk membiayai proyek. Bagi bank semakin besar porsi modal maka kondisi keuangan nasaba semakin baik.

4. Condition

Penilaian kredit juga nilai berdasarkan kondisi ekonomi, sosial dan politik yang ada saat ini dan prediksi di masa mendatang.

Kondisi ekonomi dalam keadaan resesi kurang kurang baik untuk usaha uang memprodeksi barang mewah, tapi relatif tidak menjadi masalah serius bagi usaha yang memproduksi kebutuhan pokok seperti farmasi, dan bahan makanan.

5. Collateral

Collateral atau agunan kredit merupakan jaminan yang diberikan calon debitur baik berbentuk agunan di dalam proyek maupun agunan di luar proyek.

Dalam dokumen PEMBERIAN KREDIT PADA BPR HASAMITRA DAN BPR (Halaman 33-40)

Dokumen terkait