• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis

Dalam dokumen PEMBERIAN KREDIT PADA BPR HASAMITRA DAN BPR (Halaman 50-58)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. Teknik Analisis

Teknik analisis biasa dijelaskan sebagai usaha untuk menyusun dan mencari catatan-catatan observasi dan dokumentasi agar dapat meningkatkan pemahaman peneliti mengenai kasus yang sedang diteliti dan meyakinkannya sebagai temuan. Diamana teknik analisis yang digunakan yaitu:

1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif memberikan gambaran mengenai suatu data.

Dalam hai ini, statistik deskriptif menjelaskan mengenai karakteristik responden dan variabel yang digunakan. Gambaran umum mengenai karakteristik responden dijelaskan dengan tabel statistik responden yang diukur dengan skala nominal. Dimana skala nominal biasa disebut skala yang hanya membedakan kategori berdasarkan jenis atau macamnya.

Penyusunan kuesioner adalah dengan menggunakan skala likert dengan kuensioner variabel bebas dan variabel terikat. Skala likert di desain untuk menelaah seberapa kuat subjek setujuh atau tidak dengan pertanyaan pada lima titik dengan susunan responden terhadap sejumlah item yang berkaitan dengan konsep atau variabel tertentu kemudian diajukan kepada tiap responden.

2. Uji Kualitas Data

Uji kualitas data ini bertujuan untuk mengetahui apakah data yang digunakan valid dan reliable sebab kebenaran data yang diolah sangat menentukan kualitas hasil penelitian. Data yang diuji kualitasnya yaitu data kuesioner yang berupa data Penerapan manajemen risiko (X1),

Audit internal (X2), dan kebijakan pemberian kredit (Y). Adapun alat analisis uji kualitas data yang digunakan yaitu uji validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat mengukur apa yang ingin diukur, dan Reliabilitas adalah suatu nilai yang menunjukkan konsisten suatu alat ukur pengukur dalam mengukur gejala yang sama.

a. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuisioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuisioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2016: 47). Dalam pengujian reliabilitas ini, peneliti menggunakan metode statistik Cronbach Alpha dengan signifikansi yang digunakan sebesar 0,6 dimana jika nilai Cronbach Alpha dari suatu variabel lebih kecil dari 0,6 maka butir pertanyaan tersebut tidak reliable.

b. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah item-item yang ada di dalam kuesioner mampu mengukur perubah yang didapatkan dalam sebuah penelitian ini. Maksudnya untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuensioner dilihat jika pertanyaan dalam kuensioner tersebut mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuensioner tersebut.

Uji validitas ini dapat dilakukan dengan menggunakan korelasi antar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel.

Setelah itu tentukan hipotesis Ha :skor butir pertanyaan berkorelasi

positif dengan total skor konstruk dan H0: skor butir pertanyaan tidak berkorelasi positif dengan total skor konstruk. Setelah menentukan hipotesis H0 dan Ha, kemudian uji dengan membandingkan r hitung (tabel corrected item-total correlation) dengan r tabel (tabel Product Moment dengan signifikansi 0,05) untuk degree of freedom (df) = n-2. Kuensioner dinyatakan valid apabila r hitung > r tabel .

Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Likert, atau skala lima tingkatan yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, kondisi dan persepsi tentang fenomena sosial. Metode yang sering digunakan ini dikembangkan oleh Rensis Likert.

3. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik digunakan agar hasil regresi yang telah dilakukan bisa dipastikan terbebas dari asumsi klasik. Terdapat beberapa jenis uji asumsi klasik yang digunakan pada penelitian ini, yaitu:

a. Uji Normalitas data

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2016: 154). Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau paling tidak mendekati normal. Untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal.

Normalitas dapat dideteksi dengan menilai penyebaran data (titik) pada sumber diagonal dari grafik. Jika data (titk) menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka menunjukkan pola distribusi normal yang mengindikasikan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika ada (titik) menyebar menjauh dari garis diagonal, maka tidak menunjukkan pola distribusi normal yang mengindikasikan bahwa model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokesdastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2016: 137). Deteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED, dimana sumbu Y adalah Y telah diprediksi dan sumbuh X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di – studentized.

Cara memprediksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilihat dari pola gambar scatterplot. Analisis pada gambar scatterplot yang menyatakan tidak terdapat heteroskedastisitas apabila:

1) Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau disekitar angka 0 pada sumbu Y.

2) Titik-titik data tidak mengumpul hanya diatas atau dibawah saja.

3) Penyebaran titik-titk data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali.

4) Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.

Jika plot membentuk pola tertentu (bergelombang, melebar, kemudian menyempit) maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika plot tidak membentuk pola tertentu, seperti titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka mengindikasikan telah terjadi homokedastisitas. Model regresi yang baik adalah plot yang mengindikasikan homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

c. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinearitas ini dapat digunakan untuk menguji ada tidaknya hubungan linear antara satu variabel independen dengan variabel independen lainnya (Ghozali, 2016: 103). Dalam penelitian ini uji multikolinieritas digunakan untuk menguji apakah ada kolerasi atau hubungan diantara variabel penerapan manajemen risiko perbankan dan penerapan audit internal. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal, variabel orthogonal adalah variabel independen yang memiliki nilai korelasi antara sesama variabel independen sama dengan nol. Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF). Nilai cut off yang umum

dipakai untuk menunjukkan adanya nilai multikolinearitas adalah nilai tolerance <0.10 atau sama dengan nilai VIF >10 .

4. Uji Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan model regresi berganda. Model regresi berganda bertujuan untuk memprediksi besar variabel dependen dengan menggunakan data variabel independen yang sudah diketahui besarnya. Model regresi berganda terdapat satu variabel depanden dan dua atau lebih variabel independen.

Dalam praktek bisnis, regresi berganda justru lebih banyak digunakan, selain karena banyaknya variabel dalam bisnis yang perlu dianalisis bersama, juga banyak kasus regresi berganda lebih relevan digunakan (Singgih Santoso, 2018:369). Variabel independen terdiri dari manajemen risiko perbankan dan audit internal sedangkan variabel dependennya adalah kebijakan kredit.

Untuk menguji hipotesis tersebut, maka rumus persamaan regresi yang digunakan adalah sebagai berikut:

Dimana:

Y : Kebijakan Kredit a : Konstanta b1-b2 : Koefisien regresi

X1 : Manajemen risiko perbankan X2 : Audit Internal

Y = a + b1x1 + b2x2 + e

e : error

Dalam uji hipotesis ini dilakukan melalui:

a. Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengukur kemampuan model dalam menjelaskan variasi variabel independen (Ghozali, 2016: 95). Dalam output SPSS, koefisien determinasi terletak pada tabel Model Summaryb dan tertulis Adjusted R Square.

Nilai R2 sebesar 1, berarti fluktuasi variabel dependen seluruhnya dapat dijelasakan oleh variabel independen dan tidak ada faktor lain yang menyebabkan fluktuasi variabel dependen. Jika nilai R2 berkisar antara 0 sampai dengan 1, berarti semakin kuat kemampuan variabel independen dapat menjelaskan fluktuasi variabel dependen.

b. Uji Statistik t

Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen dan digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikansi 0,05 (Ghozali, 2016: 98). Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

1) Jika t hitung > t tabel atau nilai sig < 0,05, maka dapat diartikan bahwa variabel bebas secara persial mempengaruhi variabel terikat secara signifikan (hipotesis diterima).

2) Jika t hitung < t tabel atau nilai sig > 0,05, maka dapat diartikan bahwa variabel bebas secara persial tidak mempengaruhi variabel terikat secara signifikan (hipotesis ditolak).

c. Uji Statistik F

Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimaksukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau terikat. Uji F bertujuan untuk menunjukkan apakah variabel independen atau variabel bebas yang dimasukkan kedalam model secara bersama- sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2016: 98).

Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

1) Jika F hitung > F tabel atau nilai sig < 0,05, maka dapat diartikan bahwa variabel bebas secara simultan (bersama-sama) mempengaruhi variabel terikat secara signifikan (hipotesis diterima).

2) Jika F hitung < F tabel atau nilai sig > 0,05, maka dapat diartikan bahwa variabel bebas secara simultan (bersama-sama) tidak mempengaruhi variabel terikat secara signifikan (hipotesis ditolak).

43 A. Sejarah Perusahaan

Sejarah terbentuknya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) berawal sejak zaman penjajahan Belanda. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia dimulai sejak abad 19 dengan berdirinya Bank Kredit Rakyat (BKR) dan Lumbung Desa, yang dibangun dengan tujuan membantu petani, pegawai, buruh, agar dapat melepaskan diri dari jeratan para rentenir yang membebani dengan bunga yang tinggi.

Pada masa pemerintahan koloni Belanda, BPR dikenal oleh masyarakat dengan istilah Lumbung Desa, Bank Desa, Bank Tani, dan Bank Dagang Desa, yang saaat itu hanya ada di Jawa dan Bali. Tahun 1929 berdiri badan yang menangani kredit dipedasaan yaitu, Badan Kredit Desa (BKD) yang berdiri di Jawa dan Bali, sementara untuk pengawasan dan pembinaan, Pemerintah Kolonial Belanda membentuk Kas Pusat dan Dinas Perkreditan Rakyat, dengan nama lembaga yaitu Instansi Kas Pusat (IKP).

Setelah Indonesia merdeka , Pemerintah mendorong pendirian bank- bank pasar yang terutama sangat terkenal karna di dirikan di lingkungan pasar dan bertujuan untuk memberikan pe3layanan jasa keuangan kepada pedagang pasar. Bank-bank pasar terssebut kemudian berdasarkan Pakto 1988 dikukuhkan menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sejak itu BPR di Indonesia tumbuh dengan pesat.

Bank-bank yang didirikan antara 1950-1997 didaftarkan sebagai Perseroan Terbatas (PT), CV, KOPERASI, MASKAPAI ANDIL INDONESIA, YAYASAN dan PERKUMPULAN. Pada masa tersebut terdiri beberapa

lembaga keuangan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah, Bank Karya Produksi Desa (BKPD) DI Jawa Barat, Badan Kredit Kecamatan (BKK) di Jawa Tengah, Kredit usaha Rakyat Kecil (KURK) di Jawa Timur, Lumbung Pitih Negeri (LPN) di Sumatera Barat, dan Lembaga Pengkreditan Desa (LPD) di Bali.

Pada tanggal 27 oktober 1988 pemerintah menetapkan kebijakan diregulasi perbankan yang dikenal sebagai Pakto 88, sebagai kelanjutan dari Pakto 88, Pemerintah mengeluarkan beberapa paket perbankan yang merupakan penyempurnaan dari paket sebelumnya. Sejalan dengan itu, pemerintah menyempurnakan UU No.14 Th.1967. Tentang pokok-pokok perbankan, dengan mengeluarkan undang-undang No.7 TH.1992 tentang perbankan. Undang-undang tersebut di sempurnakan lebih lanjut dalam UU No.10 Th 1998. Dalm UU ini secara tegas ditetapkan bahwa jenis bank di Indonesia adalah Bank Umum dan BPR.

 Bank adalah badan usaha yang menghipun dana dari mmasyarakat

dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.

 Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara

konfensional dan berdasarkan prinsp syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

 BPR adalah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konfensional dan berdasarkan prinsp syariah yang dalam kegiatannya yang tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Sekitar tahun 1987-1988, terjadi urbanisasi besar-besaran hal itu diakibatkan perkembangat perekonomian di ibu Kota Jakarta sangat pesat, sedangkan di daerah sangatlah lambat dan hampir tidak berkembang. Dari kondisi tersebut, PT. NUSAMBA mempunyai niat membantu Pemerintah dan masyarakan dalam upaya pemerataan ekonomi dengan cara mendirikan bank pada awal februari tahun 1990, BPR Nusamba di dirikan serentak di pulau Jawa dan Bali sebanyak 20 kantor pusat. Pada akhir tahun 2005 terdapat 38 kantor pelayanan dan pada tahun 2006 bertambah menjadi 70 kantor pelayanan, sedangkan target tahun 2007-2008 adlah lebih dari 100 kantor pelayanan.

PT. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Hasamitra didirikan di Makassar pada tanggal 15 November 2005 berdasarkan Akte Pendirian Perseoran Terbatas No. 12 tanggal 24 Maret 2004 yang dibuat oleh Notaris Lieke Tunggal, SH di Makassar dan telah mendapat pengesahan dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I. berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I Nomor C-29168 HT.01.01.TH.2004 tanggal 2 Desember 2004.

Modal awalnya sebesar Rp 2 miliar. Kini, setelah tahun ke-13, BPR Hasamitra tetap menunjukkan pencatatan kinerja yang cukup baik. Dari segi aset, pada posisi Maret 2020 tercatat telah mencapai Rp. 2.343.693.338 (ribuan Rp). Pertumbuhan yang cukup baik ini tak lepas dari kepercayaan dan dukungan yang sangat baik dari masyarakat. Yang sangat membanggakan kami bahwa hingga tahun tahun 2019 BPR Hasamitra memperoleh “Golden Award” atas prestasi kinerja Keuangan selama 11 tahun secara berturut-turut, yaitu pada tahun : 2009, 2010, 2011, 2012,

2013, 2014, 2015, 2016, 2017, 2018 dan 2019 dengan predikat “SANGAT BAGUS”, versi Majalah Infobank. Potret kinerja BPR Hasamitra dapat dilihat pada Laporan Keuangan.

Bank Perkreditan Rakyat Hasamitra bergerak dalam usaha perbankan, melayani Tabungan, Deposito dan Kredit. Pelayanan yang baik menjadi prioritas utama dari kami dengan maksud agar setiap nasabah merasa menjadi bagian dari keluarga besar BPR Hasamitra. Untuk memudahkan pelayanan kepada nasabah dan lebih menjangkau daerah lain di Sulawesi Selatan maka kami juga merencanakan untuk membuka jaringan kantor baru.

BPR Hasamitra sangat peduli dan mendukung setiap program pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia dalam mensosialisasikan manfaat menabung dan wawasan akan dunia perbankan itu sendiri khususnya BPR.

Maka dari itu, kami senantiasa mengadakan pendekatan langsung ke masyarakat lewat berbagai penyuluhan dan kegiatan yang bermuatan edukasi perbankan, khususnya pada calon nasabah usia pelajar dan dunia usaha mikro, kecil dan menengah. Dampak nyata dari usaha itu sangat positif dalam membangun citra BPR dimata masyarakat; para pelajar, pedagang pasar, pemilik warung, pegawai negeri maupun swasta dan para wirausahawan mulai bergabung menjadi nasabah. Karena mereka sadar akan nilai plus dan secure value dengan menabung di BPR dibanding menabung konvensional atau memakai jasa rentenir.

Kami menyadari sejauh ini masih banyak yang perlu dibenahi kedepannya, termasuk peningkatan pelayanan dan kepercayaan masyarakat kepada BPR. Untuk itu selain pelayanan off-line, kami juga telah

mengaplikasikan layanan on-line bagi para nasabah BPR Hasamitra yang mobile dan mengedepankan efisiensi waktu dalam bertransaksi. Menjawab tantangan itu kami telah membuka Tujuh Kantor Cabang (Utama, Palopo, Gowa, Bone, Daya, Parepare, Pangkep, Sidrap dan Sengkang) dan satu Kantor Kas (Urip) serta melayani para nasabah lewat kemudahan bertransaksi online (ATM, EDC, Internet Banking & Mobile Banking). BPR Hasamitra terus berupaya menyempurnakan produk dan mutu pelayanan secara kontinyu untuk memberikan pengalaman interaksi yang terbaik bersama kami.

Visi :"Menjadi Bank lokal dengan reputasi Nasional, yang Sehat, Kuat dan Terpercaya"

Misi :"Memberdayakan dan mensejahterahkan masyarakat melalui kewirausahaan sosial (social business entrepreneurship) dengan pelayanan berbasis digital dan kearifan lokal."

B. Penemuan atau Hasil Penelitian 1. Deskriptif Demografi Responden

Deskriptif demografi responden merupakan cara untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik responden yang diukur dengan skala nominal yang menunjukkan besarnya frekuensi absolut dan presentase jumlah koesioner yang kembali, jenis kelamin, pendidikan, usia responden dan lamanya bekerja pada perusahaan.

Tabel 4.1

Deskripsi Koesioner Responden

Keterangan Absolut Presentase

Koesioner yang disebar 60 100%

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tabungan Rakyat

10 16,7%

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Hasamitra 26 43.3%

Koesioner yang kembali 36 60%

(Sumber: data sekunder yang diolah)

Dimana pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa koesioner yang disebar sebar sebanyak 60 koesioner atau sebesar 100%. Sedangkan koesioner dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebanyak 10 koesioner atau sebesar 16,7%, koesioner dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Hasamitra sebanyak 26 atau sebesar 43,3%, dan yang dapat digunakan dalam penelitian ini sebanyak 36 koesioner atau sebesar 60%.

Tabel 4.2

Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Absolut Presentase

Laki-laki 24 66,7%

Perempuan 12 33,3%

Jumlah 36 100%

(Sumber: data sekunder yang diolah)

Dimana pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa jumlah responden berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 24 atau sebesar 66,7%, sedangkan sisanya dipenuhi oleh jenis kelamin perempuan sebanyak 12 atau sebesar 33,3%, Artinya sebagian besar responden yang mengisi koisioner adalah laki-laki.

Tabel 4.3

Pendidikan Responden

Pendidikan Absolut Presentase

D3 3 8,3%

S1 30 83,3%

S2 3 8,3%

S3 0 0

Jumlah 36 100%

(Sumber: data sekunder yang diolah)

Dimana pada tabel 4.3 dapat dilihat bahwa jumlah responden berdasarkan jenjang pendidikan sebesar D3 sebanyak 3 orang atau sebesar 8,3%, responden yang berpendidikan S1 sebanyak 30 orang atau sebesar 83,3%, dan responden yang berpendidikan S2 sebanyak 3 orang atau 8,3%, serta tidak ada satupun responden yang berpendidikan S3.

Tabel 4.4 Umur Responden

Umur Absolut Presentase

20 – 30 Tahun 26 72,2%

31 – 40 Tahun 8 22,2%

>41 Tahun 2 5,6%

Jumlah 36 100%

(Sumber: data sekunder yang diolah)

Dimana pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa jumlah umur responden dari umur 20-30 tahun sebanyak 26 orang atau sebesar 72,2%, umur responden dari 31-40 tahun sebanyak 8 orang atau sebesar 22,2%, dan diatas 41 tahun sebanyak 2 atau sebesar 5,6%.

Tabel 4.5 Lamanya Bekerja

Lama Bekerja Absolut Presentase

1 – 3 Tahun 13 36,1%

3 – 5 Tahun 5 13,8%

>5 Tahun 18 50%

Jumlah 36 100%

(Sumber: data sekunder yang diolah)

Dimana pada tabel 4.5 dapat dilihat bahwa jumlah responden berdasarkan lamanya bekerja adalah 1-3 tahun sebanyak 13 orang atau sebesar 36,1%, 3-4 tahun sebanyak 5 orang atau sebesar 13,8%, dan diatas 5 tahun sebanyak 18 orang atau 50%.

2. Uji Kualitas Data a. Uji Reliabilitas

Uji reabilitas adalah alat ukur atau pengukuran suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel, dimana apabila reabilitas yang dinyatakan bentuk angka, biasanya sebagai koefesien.

Koefesien yang tinggi berarti reliabilitas yang tinggi.

Dalam pengujian reliabilitas ini, peneliti menggunakan metode statistik Cronbach Alpha dengan signifikasi yang digunakan sebesar 0,6 dimana jika nilai Cronbach Alpha dari suatu variabel lebih besar dari 0,6 maka butir pertanyaan yang diajukan dalam pengukuran istrumen tersebut memiliki reabilitas yang memadai. Begitupun juga sebaliknya jika nilai Cronbach Alpha dari suatu variabel lebih kecil dari 0,6 maka butir pertanyaan tersebut tidak realible.

Tabel 4.6 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Jumlah butir

pertanyaan Cronbach Alpha Penerapan Manajemen Risiko 10 butir 0,901

Penerapan Audit Internal 10 butir 0,885

Kebijakan Pemberian Kredit 8 butir 0,925 (Sumber: data sekunder yang diolah)

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan instrumen untuk setiap variabel penelitian ini adalah reliabel, karena α hitung > 0,6 pada variabel penerapan manajemen risiko memiliki α 0,901 > 0,6, variabel penerapan audit internal memiliki α 0,885 > 0,6, dan variabel kebijakan pemberian kredit memiliki α 0,925 > 0,6.

b. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah item-item yang ada di dalam kuesioner mampu mengukur perubah yang didapatkan dalam sebuah penelitian ini. Maksudnya untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuensioner dilihat jika pertanyaan dalam kuensioner tersebut mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuensioner tersebut.

Uji validitas ini dapat dilakukan dengan menggunakan kolerasi antar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel.

Setelah itu tentukan hipotesis H0:skor butir pertanyaan berkolerasi positif dengan total skor konstruk dan Ha: skor butir pertanyaan tidak berkolerasi positif dengan total skor konstruk. Setelah menentukan hipotesis H0 dan Ha, kemudian uji dengan membandingkan r hitung

(tabel corrected item-total correlation) dengan r tabel (tabel Product Moment dengan signifikansi 0,05) untuk degree of freedom (df) = n-2.

Dimana n adalah jumlah sampel penelitian 36 responden sehingga diperoleh nilai (df)=36-2 atau dimana nilai (df) adalah 34 yaitu 0,329.

Kuensioner dinyatakan valid apabila r hitung > r tabel.

Tabel 4.7

Hasil Uji Validitas Variabel Penerapan Manajemen Risiko No Pertanyaan r hitung r tabel Kesimpulan

1 Penerapan sistem informasi dan prosedur kredit.

0,860 0,329 Valid

2 Pedoman Standar penerapan manajemen risiko bank.

0,747 0,329 Valid

3 Laporan dan data sistem informasi manajemen.

0,798 0,329 Valid

4 Pelaksanaan fungsi remedial secara independen.

0,698 0,329 Valid

5 Jangka waktu kredit. 0,651 0,329 Valid 6 Pengembangan sistem

pengawasan berbasis risiko.

0,607 0,329 Valid

7 Memantau bisnis penerima kredit.

0,727 0,329 Valid

8

Sistem dan metodologi statistik/probabilistik untuk mengukur risiko.

0,740 0,329 Valid

9

Sistem informasi untuk mengidentifikasi adanya konsentrasi dalam portofolio kredit.

0,778 0,329 Valid

10 Pengendalian risiko kredit. 0,813 0,329 Valid (Sumber: data sekunder yang diolah)

Dimana tabel 4.7 menunjukkan variabel penerapan manajemen risiko mempunyai kriteria valid untuk semua item pertanyaan dengan nilai r hitung > r tabel.

Tabel 4.8

Hasil Uji Validitas Variabel Penerapan Audit Internal

No Pertanyaan r hitung r tabel Kesimpulan

1 Keahlian dan pelatihan teknis yang memadai.

0,713 0,329 Valid

2 Independensi dalam sikap. 0,815 0,329 Valid

3

Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat serta seksama.

0,734 0,329 Valid

4 Perencanaan dan supervisi audit.

0,797 0,329 Valid

5 Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern.

0,824 0,329 Valid

6 Bukti audit kompoten yang cukup.

0,733 0,329 Valid

7

Pertanyaan tentang sesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku.

0,741 0,329 Valid

8

Pertanyaan mengenai ketidak konsistenan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku.

0,637 0,329 Valid

9 Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan.

0,544 0,329 Valid

10

Pertanyaan pendapat

mengenai laporan keuangan secara keseluruhan.

0,817 0,329 Valid

(Sumber: data sekunder yang diolah)

Dimana tabel 4.8 menunjukkan variabel penerapan audit internal mempunyai kriteria valid untuk semua item pertanyaan dengan nilai r hitung > r tabel.

Tabel 4.9

Hasil Uji Validitas Variabel Kebijakan Pemberian Kredit

No Pertanyaan r hitung r tabel Kesimpulan 1 Melihat reputasi dan sifat positif

dari nasabah.

0,717 0,329 Valid

2 Kemampuan nasabah membayar kewajiban.

0,862 0,329 Valid

3

Analisis modal untuk menggambarkan capital structure nasabah.

0,891 0,329 Valid

4 Sejumlah aktiva yang dijadikan jaminan oleh debitur.

0,721 0,329 Valid

5 Pemahaman pedoman kredit. 0,805 0,329 Valid 6 Pemberian kredit sesuai dengan

kebijakan moneter dan ekonomi.

0,867 0,329 Valid

7

Pemberian kredit diarahkan kepada sektor-sektor yang diprioritaskan.

0,874 0,329 Valid

8 Penerapan limit pemberian kredit.

0,862 0,329 Valid

(Sumber: data sekunder yang diolah)

Dimana tabel 4.9 menunjukkan variabel kebijakan pemberian kredit mempunyai kriteria valid untuk semua item pertanyaan dengan nilai r hitung > r tabel.

Dalam dokumen PEMBERIAN KREDIT PADA BPR HASAMITRA DAN BPR (Halaman 50-58)

Dokumen terkait