2. BAB II Konvensi AFS
2.9 Kualifikasi surveyor / inspektur dan pengalaman dan
Idealnya seorang petugas penegakan aturan (surveyor atau inspektur) untuk tujuan PKPA di bawah Konvensi yang dipilih harus memiliki pengetahuan praktis dan teoritis yang tepat tentang kapal dan pelayaran.
Kode Implementasi Instrumen IMO/ IMO Instrumen Implementation Code (III Code) mensyaratkan bahwa personel yang bertanggung jawab atas, atau melakukan, survei, inspeksi, dan audit pada kapal dan perusahaan yang dicakup oleh instrumen wajib internasional yang relevan harus memiliki minimal sebagai berikut:
(a) kualifikasi yang sesuai dari institusi kelautan atau nautis dan pengalaman berlayar yang relevan sebagai perwira kapal bersertifikat yang memegang atau telah memegang sertifikat kompetensi tingkat manajemen yang valid dan tetap mengikuti perkembangan pengetahuan teknis tentang kapal dan operasionalnya sejak mendapatkan sertifikat kompetensi mereka; atau
(b) gelar atau setara dari lembaga tersier dalam bidang teknik atau pengetahuan yang relevan yang diakui oleh Negara bendera; atau (c) akreditasi sebagai surveyor melalui program pelatihan formal yang
mengarah pada standar pengalaman dan kompetensi surveyor yang sama seperti yang dipersyaratkan dalam paragraf (a) dan (b) di atas.
Berikut ini adalah contoh kualifikasi yang mungkin dianggap cocok untuk peran petugas penegakan aturan , surveyor, atau inspektur perkapalan.
(a) Sertifikat Kompetensi sebagai Master Kelas 1 / ANT I (tidak terbatas) (b) Sertifikat Kompetensi sebagai Perwira Navigasi (tidak terbatas)
(c) Sertifikat Kompetensi sebagai Perwira Mesin Kelas 1/ ATT I
(d) Sertifikat Kompetensi sebagai Perwira Mesin Kelas 2/ ATT II; atau (e) Gelar atau diploma dalam Arsitek Naval
Namun, ini tidak membatasi Administrasi untuk mengidentifikasi jenis kualifikasi lain yang menurut mereka sama-sama tepat untuk tugas tersebut.
Akan sangat menguntungkan jika calon petugas penegakan aturan, surveyor atau inspektur memiliki pengalaman bekerja di atas kapal dalam kapasitas senior atau bekerja di industri terkait pelayaran. Diharapkan pengetahuan dan pengalaman di bidang-bidang berikut :
33 (a) Pemahaman yang baik tentang peran administrasi maritim dan
industri maritim internasional.
(b) Pengetahuan tentang rezim regulasi keselamatan maritim internasional.
(c) Memahami prinsip-prinsip berbagai rezim inspeksi kapal.
(d) Pengalaman dalam desain kelautan, konstruksi, perbaikan, operasi, inspeksi, jaminan kualitas atau bidang terkait maritim lainnya.
(e) Pengalaman dalam manajemen teknis atau operasional kapal Pelatihan
Sebelum melakukan kegiatan kepatuhan dan penegakan aturan, petugas penegakan aturan harus menyelesaikan pelatihan komprehensif dalam prosedur inspeksi kapal termasuk pelatihan praktis di atas kapal .
Ini adalah persyaratan wajib di bawah III Code, negara bendera harus menerapkan sistem terdokumentasi untuk kualifikasi personil dan terus memperbarui pengetahuan mereka yang sesuai dengan tugas-tugas yang mereka berwenang untuk melakukannya.
Selanjutnya, tergantung pada fungsi yang akan dilakukan, kualifikasi harus mencakup:
(a) pengetahuan tentang aturan dan peraturan internasional dan nasional yang berlaku untuk kapal, perusahaan, awak kapal, muatan, dan operasional.
(b) pengetahuan tentang prosedur yang akan diterapkan dalam fungsi survei, sertifikasi, kontrol, investigasi dan pengawasan .
(c) pemahaman tentang tujuan dan sasaran instrumen internasional dan nasional yang berhubungan dengan keselamatan maritim dan perlindungan lingkungan laut, dan program-program terkait.
(d) memahami proses baik di atas kapal dan darat, internal maupun eksternal.
(e) memiliki kompetensi profesional yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang diberikan secara efektif dan efisien.
(f) kesadaran penuh akan aspek keselamatan dalam segala situasi, juga untuk keselamatan diri; dan
(g) pelatihan atau pengalaman dalam berbagai tugas yang dilakukan dan juga dalam fungsi yang menjadi aspek penilaian.
Referensi:
Di Indonesia, undang-undang yang memungkinkan untuk Kualifikasi, Pengalaman, dan Pelatihan Inspektur dilakukan melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 119 Tahun 2017 tentang Pejabat Pemeriksa Kelaiklautan dan Keamanan Kapal Asing Pasal 9, Pasal 14 dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 110 Tahun 2016 tentang Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal Pasal 8 dan Pasal 9.
Ketentuan Nasional terkait kualifikasi petugas pemeriksa:
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 119 Tahun 2017 tentang Pejabat Pemeriksa Kelaiklautan dan Keamanan Kapal Asing
Pasal 9
Port State Control Officer (PSCO)
(1) PSCO diangkat oleh Direktur Jenderal setelah memenuhi persyaratan.
(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a. menyelesaikan pendidikan dan pelatihan PSC dan dinyatakan lulus yang dibuktikan dengan sertifikat;
b. memiliki sertifikat keahlian pelaut ANT-I atau ATT-I atau ijazah Sarjana
34 Teknik Perkapalan dengan kualifikasi Senior Marine Inspector;
c. memiliki pengetahuan praktis atau teoritis mengenai kapal dan pengoperasiannya untuk mengaplikasikan ketentuan konvensi yang melekat pada Kapal Asing yang diperiksa;
d. memiliki integritas, profesionalitas, dan transparansi; dan
e. memiliki kartu identitas yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal.
(3) PSCO yang telah diangkat oleh Direktur Jenderal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditempatkan pada:
a. Direktorat yang membidangi tugas tertib pelayaran; atau
b. pelabuhan yang terbuka untuk perdagangan luar negeri yang telah ditetapkan.
(4) Direktur Jenderal menyediakan sistem data base dan informasi yang mudah diakses untuk meregistrasi dan mendata serta memberikan informasi internal mengenai PSCO.
Pasal 14
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Persyaratan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan PSC, meliputi:
a. Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal;
b. usia maksimal 45 (empat puluh lima) tahun;
c. surat usulan dari Syahbandar;
d. memiliki sertifikat Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal dengan kualifikasi telah dikukuhkan sebagai Marine Inspector;
e. memiliki sertifikat Kesyahbandaran;
f. memiliki TOEFL minimal 480 (empat ratus delapan puluh) serta mampu aktif berkomunikasi secara lisan dan tulisan menggunakan bahasa Inggris dan dibuktikan dengan sertifikat yang berlaku paling lama 2 (dua) tahun sejak tanggal diterbitkan;
g. sehat jasmani dengan bukti surat keterangan sehat dari dokter yang telah ditunjuk di rumah sakit yang disetujui Direktur Jenderal;
h. tidak buta warna, dengan bukti surat keterangan tidak buta warna dari dokter;
i. bebas narkoba dan obat terlarang dengan bukti surat keterangan dari instansi berwenang; dan
j. tidak sedang menjalani sanksi disiplin kepegawaian.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 110 Tahun 2016 tentang Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal
Pasal 8
Persyaratan Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal
(1) Persyaratan untuk menjadi Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal harus memenuhi paling sedikit sebagai berikut:
a. memiliki kualifikasi teknis dari Institusi Pendidikan bidang nautika atau teknika dengan pengalaman berlayar sebagaimana sertifikat kepelautan yang dimiliki sebagai perwira kapal atau yang memiliki sertifikat dalam kemampuan manajemen dan yang menguasai bidang keteknisannya tentang kapal dan pengoperasian kapal sejak mendapatkan sertifikat kompetensinya; atau
b. Sarjana Teknik Perkapalan atau setara dari institusi bidang teknis yang diakui oleh Pemerintah.
(2) Persyaratan untuk menjadi Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, harus memiliki pengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun bekerja diatas kapal sebagai perwira dek atau mesin senior (operatorial level).
(3) Persyaratan untuk menjadi Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal
35 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, harus memiliki pengalaman kerja ditempat kerja yang sesuai dengan kapasitas kompetensinya selama paling sedikit 3 (tiga) tahun.
(4) Selain persyaratan sebagamana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) harus memiliki pengetahuan praktis dan teoritis tentang kapal, pengoperasian kapal dan instrumen peraturan perundang-undangan nasional dan internasional tentang perkapalan.
Pasal 9
Pendidikan Dan Pelatihan Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal
(1) Untuk dapat mengikuti pendidikan dan pelatihan Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal, harus memenuhi persyaratan meliputi:
a. mendapatkan usulan dari kepala kantor ditempat calon Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal bertugas;
b. sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan sehat oleh dokter dan/atau rumah sakit Pemerintah yang ditunjuk;
c. surat keterangan dokter tidak buta warna;
d. Pegawai Negeri Sipil atau Aparatur Sipil Negara pada Direktorat Jenderal dengan masa kerja paling sedikit 2 (dua) tahun;
e. berijazah minimal ANT II/ATT II atau S1 teknis (Perkapalan atau yang sederajat) dengan pengalaman kerja paling sedikit selama 3 (tiga) tahun;
f. memiliki kepangkatan minimal Penata Muda (III/a) pada saat pengusulan; dan
g. mampu berbahasa Inggris aktif atau memiliki nilai TOEFL paling sedikit 450 (empat ratus lima puluh) atau penilaian lain yang setara dan dibuktikan dengan sertifikat yang berlaku tidak lebih dari 6 (enam) bulan sejak tanggal terbit dihitung hingga saat pengusulan.
(2) Berkas dan dokumen persyaratan untuk mengikuti pendidikan Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal sebagaimana sebagaimana maksud pada ayat (1), harus diperiksa dan mendapatkan persetujuan oleh Direktur Perkapalan dan Kepelautan.
(3) Data base/file pemenuhan persyaratan untuk setiap personel Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) harus dimiliki Direktorat Jenderal dan dapat diakses sewaktu- waktu sebagai bagian dari obyek pelaksanaan audit.
2.10 Kode etik
Aparat penegakan aturan diharapkan bertindak sesuai hukum dan aturan Pemerintah mereka dan secara adil, terbuka, tidak memihak, dan konsisten.
Referensi:
Ketentuan terkait Kualifikasi, Pengalaman, dan Pelatihan Petugas Pemeriksa tertuang di dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 119 Tahun 2017 tentang Pejabat Pemeriksa Kelaiklautan dan Keamanan Kapal Asing Pasal 25 dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 110 Tahun 2016 tentang Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal Pasal 22.
Ketentuan Nasional terkait Kode Etik:
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 119 Tahun 2017 tentang Pejabat Pemeriksa Kelaiklautan dan Keamanan Kapal Asing
Pasal 25
(1) Untuk memastikan integritas, profesionalitas dan transparansi dalam melaksanakan fungsi, tugas dan peran, serta kewenangan, PSCO dilengkapi dengan kode etik sebagai norma dasar yang wajib dipegang
36 teguh dan dilaksanakan.
(2) Kode etik PSCO sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas:
a. bekerja dengan etika, jujur dan tidak bertindak curang;
b. independen dan tidak memiliki kepentingan bisnis di wilayah pelabuhan dan di kapal yang diperiksa atau di perusahaan yang menyediakan jasa di wilayah pelabuhan;
c. tidak dapat diintervensi oleh pihak lain untuk membuat keputusan berdasarkan temuan pemeriksaan;
d. tidak menyalahgunakan kewenangannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi;
e. menerapkan prosedur PSCO dan pengetahuan teknis serta standar perilaku profesi yang telah ditetapkan serta disetujui oleh anggota Tokyo MOU;
f. menggunakan penilaian secara profesional dalam melaksanakan tugasnya;
g. mengisyaratkan keterbukaan dan keadaan yang dapat dipertanggung jawabkan;
h. menghormati kapal sebagai tempat tinggal dan tempat kerja awak kapal sehingga tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan di atas kapal;
i. tidak memandang ras, jenis kelamin, agama atau kebangsaan awak kapal saat membuat keputusan dan memperlakukan seluruh awak kapal dengan hormat;
j. menghormati kewenangan Nakhoda dan wakilnya di atas kapal;
k. bersikap sopan dan tegas;
l. tidak mengancam, kasar atau berkuasa atau menggunakan bahasa yang dapat menyebabkan ketersinggungan;
m. tidak mengharapkan untuk diperlakukan secara istimewa;
n. tidak mengungkapkan identitas orang yang menyampaikan laporan keluhan atau pengaduan dan tidak meminta awak kapal untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan;
o. meminta awak kapal untuk menunjukkan fungsi dan pengoperasian peralatan di atas kapal serta tidak membuat uji peralatan sendiri;
p. menyarankan Nakhoda mengikuti prosedur pengaduan yang tepat apabila terjadi perselisihan yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu yang wajar dan menggunakan hak banding dan prosedur yang terkait Detention keberangkatan kapal; dan
q. menjelaskan dengan baik dan jelas secara tenang dan sabar kepada Nakhoda terhadap temuan dan perbedaan pendapat yang timbul serta tindakan perbaikan yang diperlukan untuk memastikan laporan pemeriksaan dipahami sebelum meninggalkan kapal.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 110 Tahun 2016 tentang Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal
Pasal 22:
Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal mempunyai kode etik:
a. menjaga keselamatan, keamanan, kesehatan diri dalam melaksanakan tugasnya;
b. melaksanakan tugas secara profesional di bidang yang sesuai dengan kompetensinya;
c. tidak mengeluarkan pernyataan publik tanpa izin pimpinan;
d. bertindak secara profesional dan menghindari konflik kepentingan;
e. mampu membangun reputasi baik sebagai pejabat pemeriksa keselamatan kapal atas nama pribadi maupun atas nama unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal;
37 f. melakukan tindakan untuk menjaga kehormatan, integritas dan
martabat profesinya;
g. tidak melakukan tindakan kompromi terhadap keselamatan jiwa dan harta benda atau kerusakan lingkungan atau yang mengarah kepada penurunan standar teknis kelaiklautan kapal;
h. terus menerus mengembangkan profesionalisme sepanjang kariernya dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan profesionalisme tersebut dibawah pengawasannya sendiri; dan.
i. tidak melakukan tindakan yang mengarahkan kepada penurunan reputasi atau yang merugikan citra Direktorat Jenderal.