• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. BAB III Konvensi BWM

3.1 Model legislasi untuk penerapan PSC/FSI yang efektif

43

44 (xi) ketentuan untuk langkah-langkah tambahan - apabila suatu Pihak, secara sendiri, atau bersama-sama dengan Pihak lain, menentukan bahwa langkah-langkah selain yang ada di Bagian B Konvensi diperlukan, maka Pihak tersebut dapat merumuskan persyaratan bagi kapal untuk memenuhi standar atau persyaratan tertentu (peraturan C-1).

(xii) kapal - kapal yang menjadi objek pemeriksaan harus tunduk pada peraturan E-1

(xiii) kapal diwajibkan untuk melaporkan kecelakaan atau kerusakan yang mempengaruhi kemampuannya untuk mengelola air balas ke Negara bendera dan Negara pelabuhan (peraturan E-1.7).

(xiv)kondisi kapal, dan peralatan, sistem dan prosesnya harus dipelihara agar memenuhi ketentuan Konvensi BWM (peraturan E- 1.9); dan

(xv) setelah pemeriksaan kapal yang dilaksanakan berdasarkan peraturan E-1.1 telah selesai, tidak diperkenankan adanya perubahan pada struktur, peralatan, peralatan, susunan atau material yang terkait dengan BWMP dan yang termasuk lingkup pemeriksaan tanpa pemberian sanksi dari Administrasi, kecuali penggantian langsung peralatan atau perlengkapan tersebut (peraturan E-1.10).

(xvi)pelanggaran atas pembuangan air balas.

(b) Legislasi harus dirancang untuk secara otomatis mengadopsi amandemen Konvensi BWM atau, sebagai alternatif, amandemen harus dituangkan dalam undang-undang dan peraturan nasional yang sesuai.

(c) Undang-undang harus menetapkan kapal apa yang mejadi lingkup pemeriksaan dan keadaan-keadaan di mana pembebasan dapat diberikan.

(d) Undang-undang harus mendefinisikan entitas yang bertanggung jawab untuk menyediakan fasilitas pembuangan (reception facilities) jika diperlukan khususnya di mana pembersihan dan perbaikan tangki air balas dilaksanakan. Fasilitas pembuangan tersebut harus dioperasikan sesuai dengan panduan Organisasi.

Referensi Resolusi IMO MEPC.152(55), “Guidelines for sediment reception facilities (G1)”.

(e) Kecuali Negara bendera bermaksud untuk melaksanakan semua inspeksi dan sertifikasi sendiri, legislasi harus memuat aturan bagi suatu Pihak untuk menunjuk organisasi yang diakui/ recognized organization (RO) untuk melakukan inspeksi atas nama Negara dan mengeluarkan sertifikat yang disyaratkan oleh Konvensi BWM. RO berkewajiban untuk memberi tahu Negara bendera ketika telah terjadi pelanggaran terhadap Konvensi yang mempengaruhi sertifikasi atau kepatuhan kapal. Dalam hal apapun setiap Pihak dalam Konvensi ini harus memastikan bahwa kapal yang mengibarkan benderanya tunduk pada survei dan sertifikasi sesuai dengan Konvensi.

(f) Suatu Pihak juga dapat memiliki ketentuan dalam undang-undangnya untuk dapat menunjuk Pihak lain untuk melakukan survei atas namanya dan untuk menerbitkan atau mengukuhkan sertifikat ketika kapal tersebut sesuai dengan Konvensi.

45 (g) Pejabat pemeriksa atau petugas penegakan aturan harus diberdayakan untuk naik ke atas kapal dan melaksanakan pemeriksaan pada setiap kapal. Kapal dapat dipilih untuk diperiksa berdasarkan profil risikonya.

Kampanye Inspeksi Terkonsentrasi/ Concentrated Inspection Campaign (CIC) dapat diselenggarakan oleh PSC MOU untuk fokus pada area bidang tertentu. Ketika didapati informasi bahwa pelanggaran peraturan telah terjadi, inspeksi dapat dilakukan secara ad hoc.

(h) Harus ada ketentuan dalam undang-undang untuk memungkinkan petugas penegakan aturan untuk melaksanakan pengambilan sampel of air balas kapal jika diperlukan.

(i) Undang-undang harus menetapkan hukuman atau denda yang dikenakan untuk pelanggaran peraturan Konvensi, dimana hukuman atau denda tersebut harus cukup berat untuk mencegah terjadinya pelanggaran.

(j) Undang-undang harus memuat ketentuan untuk penahanan dan pembebasan kapal yang ditahan dalam kasus-kasus yang dapat dipertanggungjawabkan.

3.1.2. Konvensi BWM diadopsi di Indonesia melalui Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2015 dan dilaksanakan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 29 Tahun 2014 tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 119 Tahun 2017 tentang Pejabat Pemeriksa Kelaiklautan dan Keamanan Kapal Asing, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 110 Tahun 2016 Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal dan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor: HK.103/1/9/DJPL-18 tentang Pelaksanaan Pemeriksaan Kelaiklautan dan Keamanan Kapal Asing. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 112 Tahun 2021 tentang Penunjukan kepada Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) untuk Melaksanakan Survei dan Sertifikasi Statutoria pada kapal berbendera Indonesia.

REFERENSI:

Penerapan dan Pemberlakuan (1) Ketentuan ini diterapkan pada:

a. Seluruh kapal berbendera Indonesia yang beroperasi untuk pelayaran internasional;

b. Seluruh kapal asing yang beroperasi di Perairan Indonesia (no more favourable treatment).

(2) Ketentuan ini tidak diterapkan pada:

a. Seluruh kapal yang tidak dirancang atau dibangun untuk membawa Air Balas;

b. Seluruh kapal yang hanya beroperasi di Perairan Indonesia, kecuali zona perairan tertentu yang telah disinyalir apabila terjadi pembuangan Air Balas maka akan dianggap dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup laut atau kerugian lingkungan hidup laut;

c. Seluruh kapal yang hanya beroperasi di dalam zona resiko yang sama dan semata-mata memiliki kesamaan dalam ekosistem dan keanekaragaman biota hayati laut;

46 d. Seluruh kapal yang hanya beroperasi dengan trayek tetap yakni khusus dari kolam pelabuhan ke laut lepas atau sebaliknya secara terus menerus dan berkelanjutan;

e. Seluruh kapal perang, kapal negara, kapal pemanduan atau kapal perintis milik negara;

f. Seluruh kapal yang memiliki sistem air balas permanen yang disegel mati dalam tangki kapal secara terus menerus dan berkelanjutan, serta system pemipaannya tidak berfungsi sebagai pembuangan air balas.

(3) Ketentuan ini pemberlakuannya dikecualikan, apabila:

a. Penghisapan atau pembuangan Air Balas dan Sedimennya diperlukan dengan didukung alasan yang kuat dan memastikan keselamatan kapal pada saat situasi darurat atau dalam rangka menyelamatkan jiwa di laut, termasuk membawa air balas ke dalam tangki bahan bakar untuk mempertahankan stabilitas dan kondisi keselamatan dan keamanan pelayaran;

b. Kapal atau perlengkapannya mengalami kerusakan sehingga mengakibatkan pembuangan yang tidak disengaja atau rembesan masuk air balas karena disebabkan oleh:

 dengan ketentuan bahwa seluruh tindakan pencegahan telah dilakukan baik pada saat sebelum dan sesudah kejadian kerusakan, atau pada saat ditemukannya kerusakan, atau pembuangan dilakukan disertai dengan alasan yang kuat yakni untuk kepentingan mencegah atau memperkecil pembuangan; dan

 pemilik, Perusahaan atau perwira jaga di kapal yang dengan sengaja atau lalai menjadi penyebab kerusakan.

c. Penghisapan dan pembuangan Air Balas dan Sedimennya memiliki tujuan untuk menghindari atau memperkecil terjadinya insiden pencemaran dari kapal;

d. Penghisapan dan pembuangan Air Balas telah dilakukan sebelumnya di laut lepas yang memiliki zona Air Balas dan Sedimen yang sama;

e. Pembuangan Air Balas dan Sedimennya terjadi pada wilayah/lokasi yang sama seperti pada saat wilayah/lokasi asal penghisapan, dimana seluruh Kapasitas Air Balas tidak tercampur dengan Air Balas dan Sedimen yang berasal dari wilayah/lokasi lainnya.14

(4) Ketentuan ini pemberlakuannya dapat diberikan Pembebasan, apabila:

a. Ketika sebuah kapal atau seluruh kapal dalam pelayaran antar pelabuhan atau wilayah/lokasi rute perdagangan yang sama yang telah ditetapkan oleh Direktur Jenderal;

b. Ketika sebuah kapal beroperasi secara khusus dengan trayek tetap antar pelabuhan dalam wilayah/lokasi tertentu yang memiliki jarak tempuh sangat pendek, berbagi area biogeografi yang sama namun memiliki ekosistem dan keanekaragaman biota hayati laut yang berbeda dan tidak berbahaya;

c. Ketika sebuah kapal atau seluruh kapal beroperasi secara khusus dengan trayek tetap antar pelabuhan antar negara dalam satu regional yang sama;

d. Ketika hasil Penilaian Resiko memiliki tingkat proteksi yang sama (same level of protection) pada area biogeografi yang berbeda;

e. Ketika sebuah kapal atau seluruh kapal beroperasi secara tetap dan teratur hanya pada satu wilayah/lokasi tertentu secara terus menerus sepanjang tahun.

(5) Pembebasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dapat disetujui dengan ketentuan meliputi:

47 a. Efektif untuk masa berlaku tidak lebih dari 5 (lima) tahun dengan

survei antara;

b. Diberikan kepada kapal yang Kapasitas Air Balas tidak tercampur dengan Air Balas dan Sedimen yang berasal dari wilayah/lokasi lainnya;

c. Diberikan berdasarkan petunjuk pelaksana tentang Penilaian Resiko yang disusun sesuai dengan standard Organisasi Maritim Internasional.

(6) Pembebasan yang disetujui sebagaimana dimaksud pada ayat (5), wajib dianggap tidak berlaku, sampai dengan terbitnya informasi Pembebasan tersebut yang telah dikomunikasikan kepada Organisasi Maritim Internasional dan diedarkan kepada negara anggota.

(7) Pembebasan lainnya diluar yang terkait dengan Pembebasan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), wajib tidak mengganggu atau merusak lingkungan, kesehatan manusia, aset atau sumber daya negara tetangga dalam regional yang sama.

(8) Pembebasan yang disetujui sebagaimana dimaksud pada ayat (6), wajib dicatat di Buku Catatan Air Balas (Ballast Water Record Book) dengan pengaturan sebagai berikut:

a. Seluruh kapal berbendera Indonesia yang beroperasi di dalam Perairan Indonesia, dicatat dan ditandatangani oleh Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal (Flag State)

b. Seluruh kapal berbendera Indonesia yang beroperasi untuk pelayaran internasional, dicatat dan ditandatangani oleh Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal Asing (Port State atau Coastal State);

c. Seluruh kapal asing yang beroperasi di Perairan Indonesia dan/atau pelayaran internasional, dicatat dan ditandatangani oleh Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal Asing (Port State).

Perencanaan Manajemen Air Balas (ballast water management plan) diatur sebagai berikut:

(1) Setiap kapal wajib memiliki dan menerapkan Perencanaan Manajemen Air Balas;

(2) Perencanaan Manajemen Air Balas wajib berlandaskan pada Pedoman Standard yang telah disusun atau diamandemen oleh Organisasi Maritim Internasional;

(3) Perencanaan Manajemen Air Balas wajib dituangkan ke dalam Dokumen Perencanaan Manajemen Air Balas berbentuk Buku Manual dan harus mendapatkan pengesahan;

(4) Klasifikasi Dokumen Perencanaan Manajemen Air Balas bersifat rahasia, serta wajib disahkan dan disetujui oleh Direktur Jenderal;

 Pedoman Standard sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ayat (2), paling sedikit menguraikan tentang:

a. Cuplikan atau saduran hukum dan aturan yang berlaku pada setiap negara pelabuhan di dunia;

b. Lokasi-lokasi pelabuhan yang menyediakan fasilitas koneksi pembuangan Air Balas dan Sedimennya ke darat;

c. Pemetaan kesamaan atau perbedaan dalam ekosistem dan keanekaragaman biota hayati laut pada pelabuhan yang sering dikunjungi;

d. Prosedur keselamatan kapal dan anak buah kapal dalam tugas pengoperasian Manajemen Air Balas;

e. Prosedur Keselamatan dan Keamanan Pemompaan;

48 f. Varietas zona perairan tertentu yang telah disinyalir apabila terjadi pembuangan Air Balas maka akan dianggap dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup laut atau kerugian lingkungan hidup laut;

g. Lokasi perairan pantai yang telah ditetapkan dan disahkan sebagai tempat pertukaran Air Balas;

h. Sistem Manajemen Air Balas (Ballast Water Management System);

i. Gambaran umum setiap tangki kapal, sistem pompa dan pemipaannya, serta lokasi ideal pengambilan sampel;

j. Uraian terperinci tindakan yang diambil apabila menemukan kendala dalam penerapan persyaratan Manajemen Air Balas dan praktik tambahan perhitungan lainnya;

k. Prosedur untuk pembuangan Sedimen di laut dan ke darat;

l. Prosedur koordinasi Manajemen Air Balas, meliputi:

1. Koordinasi antara Kapal Berbendera Indonesia dengan Direktur Jenderal yakni selaku negara bendera dan negara pantai pada saat akan melakukan pembuangan Air Balas di laut atau pantai dalam Perairan Indonesia;

2. Koordinasi antara Kapal Asing dengan Direktur Jenderal yakni selaku negara pelabuhan dan negara pantai pada saat akan melakukan pembuangan Air Balas di laut atau pantai.

b. Penugasan Perwira dan Anak Buah Kapal yang ditunjuk secara khusus untuk memastikan bahwa perencanaan diterapkan dengan baik;

m. Mekanisme dan prosedur pelaporan setiap pengoperasian Manajemen Air Balas baik pada saat operasional rutin pelayaran, floating repair maupun naik galangan (dry- dock);

n. Prosedur tanggap darurat Manajemen Air Balas;

o. Tata cara penulisan dalam bahasa kerja di kapal;

p. Terjemahan ke dalam salah satu bahasa mayoritas apabila bahasa kerja di kapal tidak menggunakan bahasa Inggris, bahasa Perancis atau bahasa Spanyol.

Buku Catatan Air Balas (ballast water record book) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) huruf b, diatur sebagai berikut:

(1) Setiap kapal wajib memiliki Buku Catatan Air Balas;

(2) Buku Catatan Air Balas dapat berupa sistem catatan elektronik (spreadsheet atau excel) dan dapat terintegrasi dalam sistem aplikasi lainnya (visual basic, access atau voyage data recorder) atau dalam bentuk buku jurnal;

(3) Apabila dicatat dalam bentuk buku jurnal, maka wajib memiliki periode pencatatan untuk suatu periode minimum 2 (dua) tahun setelah tanggal penghisapan Air Balas yang terakhir;

(4) Buku jurnal sesudah periode 2 (dua) tahun, maka wajib diserahkan, dikendalikan dan disimpan oleh Perusahaan untuk suatu periode minimum 3 (tiga) tahun;

(5) Catatan Air Balas wajib tetap tersedia di atas kapal atau di Perusahaan untuk pemeriksaan sewaktu-waktu;

(6) Untuk kapal tak berawak yang ditunda, maka dapat disimpan di kapal tunda;

(7) Apabila Buku Catatan Air Balas berupa sistem catatan elektronik, maka pada saat pemeriksaan wajib di cetak atau membuat salinan setiap catatan dan meminta Nakhoda untuk melegalisir salinan

 Buku Catatan Air Balas paling sedikit menguraikan tentang:

a. Nama Kapal (Ship’s Name);

49 b. Bendera (Flag)

c. Tanda Panggilan (Call Sign);

d. IMO Number;

e. Gross Tonnage;

f. Nama Perusahaan (Company’s Name);

g. IMO Company’s Number;

h. Nama Perwira Penanggung Jawab dan ABK Operator Air Balas;

i. Rincian rekaman pengoperasian terdiri dari Hari/Tanggal/Jam di kapal, Posisi Kapal, Posisi Kedalaman dan Gambaran Penjelasan Pengoperasian Air Balas (tanks and volume);

j. Pemeriksaan dan Pengambilan Sampel;

k. Kolom tandatangan Perwira Penanggung Jawab dan pengesahan Nakhoda.

 Hal-hal lainnya yang wajib dicatat dalam Buku Catatan Air Balas, meliputi:

a. Dalam hal sebuah kapal atau seluruh kapal mendapat suatu Pengecualian atau Pembebasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal 8 dan Pasal 9;

b. Apabila sebuah kapal atau seluruh kapal melakukan pembuangan Air Balas pada Fasilitas Penampungan Limbah atau Fasilitas Penampungan Sedimen; dan/atau

c. Apabila sebuah kapal atau seluruh kapal melakukan pembuangan Air Balas karena kecelakaan kapal;

 Setiap operasi mengenai Air Balas wajib dicatat secara penuh dan lengkap dengan segera di dalam Buku Catatan Air Balas.

 Setiap catatan operasi wajib ditandatangani oleh Perwira Penanggung Jawab dan setiap halaman yang diselesaikan wajib disahkan oleh Nakhoda.

 Pencatatan Buku Catatan Air Balas wajib sesuai dengan bahasa kerja di kapal dan terjemahan ke dalam salah satu bahasa mayoritas dapat dilaksanakan sepanjang seluruh anak buah kapal memahaminya apabila bahasa kerja di kapal tidak menggunakan bahasa Inggris, bahasa Perancis atau bahasa Spanyol.

 Pemeriksaan terhadap Buku Catatan Air Balas wajib dilakukan oleh port state dan/atau coastal state untuk kepentingan penertiban hukum dan Penegakan Aturanbaik di pelabuhan, pantai atau laut.

KONVENSI BWM

 Pasal 3 Penerapan

1. Kecuali secara tegas ditentukan lain dalam Konvensi ini, Konvensi ini akan berlaku pada:

(a) kapal yang berhak mengibarkan bendera suatu Pihak; dan

(b) kapal-kapal yang tidak mengibarkan bendera suatu Pihak tetapi beroperasi di bawah kewenangan Pihak tersebut.

2. Konvensi ini tidak berlaku untuk:

(a) kapal yang tidak dirancang atau dibangun untuk membawa Air Ballas;

(b) kapal suatu Pihak yang hanya beroperasi di perairan di bawah yurisdiksi Pihak tersebut, kecuali Pihak menentukan bahwa pembuangan Air Balast dari kapal-kapal tersebut akan merusak atau merusak lingkungan mereka, kesehatan manusia, properti atau sumber daya, atau negara-negara tetangga atau negara lain;

(c) kapal-kapal suatu Pihak yang hanya beroperasi di perairan di bawah yurisdiksi Pihak lain, tunduk pada otorisasi Pihak terakhir

50 untuk pengecualian tersebut. Tidak Ada Pihak akan memberikan otorisasi tersebut jika hal tersebut akan mengganggu atau merusak lingkungan, kesehatan manusia, properti atau sumber daya, atau negara lain yang berdekatan. Setiap Pihak yang tidak memberikan otorisasi tersebut harus memberitahu Administrasi dari kapal yang bersangkutan bahwa Konvensi ini berlaku untuk kapal tersebut;

(d) kapal-kapal yang hanya beroperasi di perairan di bawah yurisdiksi salah satu Pihak dan di laut lepas, kecuali untuk kapal yang tidak diberikan izin sesuai dengan ayat (c), kecuali Pihak tersebut menentukan bahwa pembuangan Air Balast dari kapal akan merusak atau merusak lingkungan, kesehatan manusia, harta benda atau sumber daya, atau negara lain yang berdekatan.;

(e) setiap kapal perang, kapal bantu angkatan laut atau kapal lain yang dimiliki atau dioperasikan oleh suatu Negara dan digunakan, untuk saat ini, hanya pada layanan non-komersial pemerintah.

Namun, masing-masing Pihak harus memastikan, dengan mengadopsi langkah-langkah yang tepat yang tidak mengganggu operasi atau kemampuan operasional kapal yang dimiliki atau dioperasikan olehnya, dimana kapal tersebut bertindak dengan cara yang konsisten, sejauh wajar dan dapat dilakukan, terhadap ketentuan pada Konvensi ini; dan

(f) (Kapal dengan air Ballast permanen dalam tangki tertutup yang di segel, yang tidak boleh dibuang.

3. Sehubungan dengan kapal non-Pihak Konvensi ini, Para Pihak wajib menerapkan persyaratan Konvensi ini yang mungkin diperlukan untuk memastikan bahwa tidak ada perlakuan yang lebih menguntungkan (no more favourable treatment) diberikan kepada kapal tersebut.

 Peraturan A-4 Pembebasan

1. Suatu Pihak atau Para Pihak, di perairan di bawah yurisdiksinya, dapat memberikan pengecualian kepada setiap persyaratan untuk menerapkan peraturan B-3 atau C-1, selain pembebasan lain yang terkandung di dalam Konvensi ini, tetapi hanya jika:

(a) diberikan kepada kapal atau kapal-kapal yang melaksanakan pelayaran antara pelabuhan-pelabuhan atau lokasi tertentu; atau ke kapal yang beroperasi secara eksklusif antara pelabuhan atau lokasi tertentu;

(b) efektif untuk jangka waktu tidak lebih dari lima tahun dengan tunduk pada tinjauan antara;

(c) diberikan kepada kapal yang tidak mencampurkan Air Ballast atau Sedimen di luar pelabuhan atau lokasi yang ditentukan dalam paragraf 1.a); dan

(d) diberikan berdasarkan Pedoman penilaian risiko yang dikembangkan oleh Organisasi.

2. Pengecualian yang diberikan sesuai dengan ayat 1 tidak akan berlaku efektif sebelum adanya komunikasi dengan Organisasi dan pemberian informasi yang relevan kepada para Pihak.

3. Pengecualian apa pun yang diberikan berdasarkan peraturan ini tidak boleh mengurangi atau merusak lingkungan, kesehatan manusia, harta benda atau sumber daya negara lain yang berdekatan. Negara yang oleh Pihak yang di nilai dapat terkena dampak negatif harus dikonsultasikan, dengan maksud untuk menyelesaikan setiap kekhawatiran yang teridentifikasi.

4. Pengecualian yang diberikan berdasarkan peraturan ini harus dicatat

51 dalam buku Catatan.Air Ballast (Ballast Water Record Book)

 STANDAR PENGELOLAAN AIR BALLAST

A. Peraturan D-1 (Standar Pertukaran Air Ballast)

1. Kapal yang melakukan pertukaran Air Ballast sesuai dengan peraturan ini harus melakukannya dengan efisiensi sekurang- kurangnya 95 persen volumetrik pertukaran Air Ballast.

2. Untuk kapal yang menukar Air Ballast dengan metode pumping- through, pemompaan melalui tiga kali volume masing-masing tangki Air Ballast harus dianggap memenuhi standar yang dijelaskan dalam ayat 1. Pemompaan melalui kurang dari tiga kali volume dapat diterima asalkan kapal dapat menunjukkan bahwa setidaknya 95 persen pertukaran volumetrik terpenuhi.

B. Peraturan D-2 (Standar Kinerja Air Ballast)

1. Kapal yang melakukan Pengelolaan Air Ballast sesuai dengan peraturan ini harus melepaskan kurang dari 10 organisme hidup per meter kubik lebih besar dari atau sama dengan 50 mikrometer dalam dimensi minimum dan kurang dari 10 organisme hidup per mililiter kurang dari 50 mikrometer dalam dimensi minimum dan lebih besar dari atau sama hingga 10 mikrometer dalam dimensi minimum; dan pembuangan mikroba indikator tidak boleh melebihi konsentrasi tertentu yang dijelaskan dalam paragraf 2.

2. Mikroba indikator sebagai standar kesehatan manusia meliputi:

a) Vibrio cholerae (O1 dan O139) toksikogenik dengan kurang dari 1 unit pembentuk koloni (cfu) per 100 mililiter atau kurang dari 1 cfu per 1 gram (berat basah) sampel zooplankton;

b) Escherichia colikurang dari 250 cfu per 100 mililiter;

c) Enterococci usus kurang dari 100 cfu per 100 mililiter.

 PERSYARATAN SURVEI DAN SERTIFIKASI UNTUK PENGELOLAAN AIR BALLAST

Peraturan E-1 (Survei)

Kapal-kapal dengan tonase kotor 400 ke atas yang mana Konvensi ini berlaku, tidak termasuk anjungan terapung, FSU dan FPSO, harus tunduk pada survei yang ditentukan di bawah ini:

1. Survey awal sebelum kapal dioperasikan atau sebelum Sertifikat yang dipersyaratkan berdasarkan regulasi E-2 atau E-3 diterbitkan untuk pertama kalinya. Survei ini harus memverifikasi bahwa rencana Pengelolaan Air Ballast yang disyaratkan oleh peraturan B-1 dan setiap struktur, peralatan, sistem, pemasangan, pengaturan dan bahan atau proses terkait yang terkait sepenuhnya memenuhi persyaratan Konvensi ini.

2. Survei pembaruan pada interval yang ditentukan oleh Badan Pemerintah, tetapi tidak melebihi lima tahun, kecuali jika berlaku peraturan E-5.2, E-5.5, E-5.6, atau E-5.7. Survei ini harus memverifikasi bahwa rencana Pengelolaan Air Ballast yang disyaratkan oleh peraturan B-1 dan setiap struktur, peralatan, sistem, pemasangan, pengaturan dan bahan atau proses terkait yang terkait sepenuhnya memenuhi persyaratan yang berlaku dari Konvensi ini.

52 3. Survei perantara dalam waktu tiga bulan sebelum atau setelah tanggal Peringatan kedua atau dalam waktu tiga bulan sebelum atau setelah tanggal Ulang Tahun ketiga Sertifikat, yang akan menggantikan salah satu survei tahunan yang ditentukan dalam paragraf 1.4. Survei perantara harus memastikan bahwa peralatan, sistem dan proses terkait untuk Pengelolaan Air Ballast sepenuhnya memenuhi persyaratan yang berlaku dari Lampiran ini dan dalam keadaan baik.

Survey perantara tersebut harus disahkan pada Sertifikat yang diterbitkan berdasarkan regulasi E-2 atau E-3.

4. Survei tahunan dalam waktu tiga bulan sebelum atau setelah setiap tanggal Hari Jadi, termasuk inspeksi umum terhadap struktur, setiap peralatan, sistem, perlengkapan, pengaturan dan bahan atau proses yang terkait dengan rencana Pengelolaan Air Ballast yang disyaratkan oleh peraturan B-1 untuk memastikan bahwa mereka telah dipelihara sesuai dengan paragraf 9 dan tetap memuaskan untuk layanan tersebut untuk apa kapal itudimaksudkan survei tahunan harus disahkan pada Sertifikat yang diterbitkan berdasarkan peraturan E-2 atau E-3.

5. Survey tambahan baik secara umum atau sebagian, sesuai dengan keadaan, harus dilakukan setelah perubahan, penggantian, atau perbaikan yang signifikan dari struktur, peralatan, sistem, perlengkapan, pengaturan dan bahan yang diperlukan untuk mencapai kepatuhan penuh terhadap Konvensi ini. Survey harus sedemikian rupa untuk memastikan bahwa setiap perubahan, penggantian, atau perbaikan yang signifikan telah dilakukan secara efektif, sehingga kapal memenuhi persyaratan Konvensi ini. Survei tersebut harus disahkan pada Sertifikat yang diterbitkan berdasarkan peraturan E-2 atau E-3.

Peraturan nasional terkait cakupan model legislasi

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran Pasal 134

(1) Setiap kapal yang beroperasi di perairan Indonesia harus memenuhi persyaratan pencegahan dan pengendalian pencemaran.

(2) Pencegahan dan pengendalian pencemaran ditentukan melalui pemeriksaan dan pengujian.

Pasal 138

(1) Nakhoda wajib berada di kapal selama berlayar.

(2) Sebelum kapal berlayar, Nakhoda wajib memastikan bahwa kapalnya telah memenuhi persyaratan kelaiklautan dan melaporkan hal tersebut kepada Syahbandar.

(3) Nakhoda berhak menolak untuk melayarkan kapalnya apabila mengetahui kapal tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(4) Pemilik atau operator kapal wajib memberikan keleluasaan kepada Nakhoda untuk melaksanakan kewajibannya sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

Pasal 229 (1)

Setiap kapal dilarang melakukan pembuangan limbah, air balas, kotoran, sampah, serta bahan kimia berbahaya dan beracun ke perairan. (2) Dalam hal jarak pembuangan, volume pembuangan, dan kualitas buangan telah sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam ketentuan peraturan