3. BAB III Konvensi BWM
3.4 Prosedur Administrasi
60 e. denda administratif.
(3) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan tingkat kesalahan yang ditemukan pada kegiatan pengawasan
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2016 Tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada kementerian perhubungan
USD 350 per inspeksi ulang atas kekurangan pada item detensi.
61 Up/Reinspection) untuk tindak lanjut hasil pemeriksaan yang dinyatakan sebagai temuan berupa Detainable Deficiency dikenakan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Biaya survei dan sertifikasi yang dilakukan oleh RO ditentukan melalui dasar kontrak dengan Pemilik Kapal.
3.4.2. Prosedur komunikasi informasi ke IMO
Administrasi harus memiliki prosedur untuk komunikasi informasi kepada IMO terkait informasi berikut:
(a) Berdasarkan Artikel 5 ayat 2 dari Konvensi, masing-masing Pihak diwajibkan untuk memberi tahu IMO untuk transmisi ke Pihak lain yang terkait, pada setiap kasus di mana fasilitas penerimaan sedimen yang tersedia berdasarkan Artikel 5 ayat 1 diduga tidak memadai.
(b) setiap persyaratan dan prosedur yang berkaitan dengan pengelolaan air balas, termasuk undang-undang, peraturan dan pedoman untuk pelaksanaan Konvensi ini.
(c) ketersediaan dan lokasi fasilitas penerimaan untuk pembuangan air balas dan sedimen yang aman bagi lingkungan.
(d) setiap persyaratan terkait informasi dari kapal yang tidak dapat mematuhi ketentuan Konvensi ini karena alasan yang ditentukan dalam peraturan A-3 dan B-4 dari lampiran (Annex).
(e) setiap pembebasan yang diberikan berdasarkan peraturan A-4, pembebasan tersebut tidak akan efektif hingga komunikasi dilakukan ke IMO dan sirkulasi informasi yang relevan kepada para pihak.
(f) setiap pengaturan tambahan yang dilaksanakan oleh Suatu Pihak, secara individu atau bersama-sama dengan Pihak lain, sesuai dengan peraturan C-1, langkah-langkah tersebut harus dikomunikasikan kepada IMO setidaknya enam bulan sebelum tanggal pelaksanaan tindakan tersebut.
(g) setiap area di bawah yurisdiksi Suatu Pihak, di mana kapal tidak boleh mengambil air balas karena kondisi yang diketahui, jika memungkinkan, lokasi alternatif untuk pengambilan harus disediakan, informasi tersebut harus diketahui oleh para pelaut.
Suatu Pihak juga harus memberi tahu IMO tentang negara-negara pantai yang berpotensi terkena dampak di mana pengambilan balas harus dihindari. Pemberitahuan kepada IMO dan setiap Negara pantai yang berpotensi terkena dampak harus mencakup koordinat yang tepat dari daerah atau kawasan, dan, jika mungkin, lokasi setiap daerah alternatif atau daerah untuk pengambilan air balas.
Pemberitahuan tersebut harus mencakup saran kepada kapal yang perlu mengambil Air Ballast di daerah tersebut, menjelaskan tentang pengaturan yang dibuat untuk persediaan alternatif. Pihak juga harus memberi tahu pelaut, IMO, dan negara-negara pantai yang berpotensi terkena dampak ketika peringatan yang diberikan tidak lagi berlaku.
(h) Laporan persetujuan tipe harus diberikan kepada IMO oleh Administrasi yang telah menyetujui BWMS. Setelah menerima laporan persetujuan tipe, IMO akan membuatnya tersedia untuk umum dan negara Anggota dengan cara yang tepat.
(i) dalam kasus persetujuan tipe yang sepenuhnya didasarkan pada pengujian yang sudah dilakukan di bawah pengawasan oleh Administrasi lain, laporan persetujuan tipe harus disiapkan dan disimpan pada file dan IMO harus diberitahu tentang persetujuan tersebut.
(j) Dalam kasus BWMS yang sebelumnya disetujui oleh Administrasi dengan mempertimbangkan Pedoman yang telah direvisi (G8) yang
62 diadopsi oleh resolusi MEPC.174 (58), pabrikan (manufacturer), yang mengajukan persetujuan tipe yang baru sesuai dengan Kode, hanya akan diminta untuk menyerahkan kepada Administrasi laporan tes tambahan dan dokumentasi yang ditetapkan dalam Kode ini.
(k) Jika administrasi negara bendera diberitahu tentang pelanggaran terhadap persyaratan Konvensi, maka investigasi atas masalah tersebut harus dilakukan dan dapat meminta Pihak yang melaporkan untuk memberikan bukti tambahan tentang dugaan pelanggaran tersebut. Jika Administrasi meyakini bahwa bukti yang memadai telah tersedia atas dugaan pelanggaran tersebut, proses tindak lanjut harus diambil sesegera mungkin, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Administrasi harus segera memberi tahu Pihak yang melaporkan dugaan pelanggaran tersebut, serta IMO, tentang Tindakan-tindakan yang diambil (lihat Artikel 8).
(l) Setiap Pihak harus melaporkan kepada IMO dan, jika perlu, memberikan informasi berikut kepada Pihak lain:
(i) setiap persyaratan dan prosedur yang berkaitan dengan Pengelolaan Air Ballast, termasuk undang-undang, peraturan, dan pedoman untuk pelaksanaan Konvensi ini.
(ii) ketersediaan dan lokasi fasilitas penerimaan untuk pembuangan Air Balas dan Sedimen yang aman bagi lingkungan; dan
(iii) setiap persyaratan terkait informasi dari kapal yang tidak dapat mematuhi ketentuan Konvensi ini untuk alas an-alasan yang ditentukan dalam peraturan A-3 dan B-4 dari Lampiran Konvensi.
REFERENSI:
Peraturan nasional terkait prosedur komunikasi informasi:
Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2022 Tentang Kementerian Perhubungan
Pasal 45 (1)
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menjadipenanggung jawab pelaksanaan kegiatan danadministrasi Pemerintah pada Organisasi Maritim Internasional dan/ atau lembaga internasional di bidang pelayaran lainnya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Pelayaran
Pasal 139 (3)
Untuk menjamin kelancaran penyampaian limbah atau residu dari Kapal ke fasilies penampungan limbah di Pelabuhan, Terminal Khusus, dan Terminal untuk Kepentingan Sendiri termasuk galangan Kapal maka Menteri membuat basis data fasilitas penampungan limbah di seluruh Pelabuhan Indonesia yang dapat diakses secara umum dan diinformasikan juga kepada IMO.
3.4.3. Prosedur untuk menyebarkan informasi ke industri.
Semua Pihak yang menandatangani suatu Konvensi (Contracting Party) harus memiliki platform untuk mengumumkan informasi kepada industri.
Informasi tersebut biasanya ditampilkan di situs web Contracting Party.
Untuk tujuan praktis, informasi tersebut dapat dibedakan umumnya ke dalam kategori berikut:
(a) Pemberitahuan Pelayaran (Marine Notice): peringatan navigasi, peringatan cuaca buruk/ badai yang diperoleh dari kantor meteorologi, dan peringatan pergerakan kapal khususnya bagi kapal
63 draft yang dalam.
(b) Pemberitahuan Perkapalan (Shipping Notice): pembaharuan tentang peraturan dan persyaratan wajib yang baru termasuk interpretasi spesifik oleh Negara Bendera
(c) Surat Edaran Pelabuhan (Port Circular): informasi tentang pekerjaan / operasi yang mempengaruhi hal-hal mengenai pelayaran dan operasional di pelabuhan.
REFERENSI:
Penyebaran peraturan nasional terkait prosedur BWM di atur dalam Peraturan Presiden (PERPRES) 33 tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional serta KM 3 Tahun 2000 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum di Lingkungan Departemen Perhubungan, yaitu melalui JDIH Kemenhub RI (jdih.dephub.go.id/ hubla.dephub.go.id) 3.4.4. Prosedur untuk pendelegasian wewenang
(a) Jika Administrasi dari Negara Bendera memutuskan untuk mendelegasikan atau memberikan kewenangan fungsi survei dan sertifikasi kepada surveyor yang dinominasikan atau kepada organisasi yang diakui olehnya, maka otorisasi tersebut harus dilakukan sesuai dengan Kode untuk Organisasi yang Diakui (RO Code) diadopsi oleh Resolusi IMO MSC.349(92).
(b) Pihak yang menandatangani suatu Konvensi (Contracting Party) harus mengeluarkan instruksi khusus kepada organisasi yang diakui (RO) yang merinci tindakan yang harus diikuti jika kapal ditemukan menghadirkan ancaman bahaya yang tidak dapat diterima terhadap lingkungan perairan.
(c) Contracting Party harus menyediakan semua instrumen yang sesuai dari hukum nasional dan interpretasi berkenaan ketentuan Konvensi organisasi yang diakui (RO), dan memberikan keterangan hanya untuk penerpaan pada kapal yang berhak untuk mengibarkan benderanya, jika ada standar tambahan dari Administrasi yang melampaui persyaratan Konvensi.
REFERENSI:
Peraturan nasional terkait pendelegasian wewenang:
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 112 Tahun 2021 tentang Penunjukan kepada Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) untuk Melaksanakan Survei dan Sertifikasi Statutoria pada kapal berbendera Indonesia
DIKTUM KE EMPAT
Perjanjian Kerjasama sebagaimana dimaksud dalam DIKTUM KEDUA didahuui dengan pelaksanaan assessment dan evaluasi terhadap PT. Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) sesuai dengan persyaratan dan kriteria penilaian sebagaimana di atur dalam Resolusi IMO MSC 349 (92) Code for Recognized Organization (RO Code).
3.4.5. Prosedur untuk mengembangkan dan menyebarkan interpretatif dari peraturan nasional.
Prosedur untuk pengembangan dan penyebarluasan peraturan nasional yang memuat tentang persyaratan yang ditetapkan oleh Konvensi. Legislasi nasional tersebut dapat terkait tentang:
64 (a) Pembebasan, perairan di bawah yurisdiksi mereka, yang
pengecualiannya dapat diberikan sesuai dengan peraturan A-4.
(b) Mendefinisikan area pertukaran air balas, khususnya ketika jarak dan kedalaman diperlukan untuk melakukan pertukaran air balas yang dipersyaratkan dalam peraturan B-4 tidak bisa dilaksanakan.
(c) Setiap ketentuan tambahan yang diterapkan untuk mencegah, mengurangi atau menghilangkan, transfer organisme akuatik yang berbahaya, sesuai dengan peraturan C-1.
REFERENSI:
Penyebaran peraturan nasional terkait prosedur BWM di atur dalam Peraturan Presiden (PERPRES) 33 tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional serta Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 3 Tahun 2000 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum di Lingkungan Departemen Perhubungan, yaitu melalui JDIH Kemenhub RI (jdih.dephub.go.id / hubla.dephub.go.id)
Berdasarkan amanat Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2022 Tentang Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut bertanggungjawab untuk pengembangan dan perumusan peraturan nasional terkait implementasi Konvensi Ballast Water Management
3.4.6. Prosedur untuk evaluasi dan peninjauan
Pihak yang menandatangani suatu Konvensi (Contracting Party) secara berkala harus mengevaluasi kinerjanya sehubungan dengan pelaksanaan proses administrasi, prosedur, dan segala sumber daya.
REFERENSI:
Sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 67 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Cara Kementerian Perhubungan, di Indonesia dilakukan evaluasi dan kajian terhadap pelaksanaan proses administrasi dilakukan dengan melakukan monitoring, evaluasi dan pengendalian oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 112 Tahun 2021 tentang Penunjukan kepada Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) untuk Melaksanakan Survei dan Sertifikasi Statutoria pada kapal berbendera Indonesia
DIKTUM KE EMPAT: Perjanjian Kerjasama sebagaimana dimaksud dalam DIKTUM KEDUA didahuui dengan pelaksanaan assessment dan evaluasi terhadap PT. Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) sesuai dengan persyaratan dan kriteria penilaian sebagaimana di atur dalam Resolusi IMO MSC 349 (92) Code for Recognized Organization (RO Code)
Merujuk pada Perjanjian Kerja Sama antara Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan dan Biro Klasifikasi Indonesia, pendelegasian kewenangan survey dan sertifikasi statutoria, dilaksanakan dengan mengacu pada hasil program pengawasan (oversight program) yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut setiap 6 (bulan) sekali.
3.4.7. Prosedur untuk pencatatan
Pihak yang menandatangani suatu Konvensi (Contracting Party) harus memiliki prosedur untuk memastikan catatan kegiatan terkait Pengawasan
65 Kepatuhan dan Penegakan Aturan(PKPA)/ Compliance Monitoring and Enforcement (CME) dikelola oleh entitas yang ditunjuk dalam organisasi mereka. Hal ini harus mencakup tetapi tidak terbatas pada :
(a) Inspeksi kapal dan laporan terkait dan temuannya.
(b) Catatan tindakan apa pun yang diambil ketika pelanggaran telah terdeteksi.
(c) Otorisasi yang diberikan kepada ROs untuk pendelegasian tugas dan tindakan yang diperlukan ketika pelanggaran telah terdeteksi oleh ROs.
(d) Catatan mengenai pelatihan yang diberikan kepada petugas Negara bendera/ negara pelabuhan.
(e) Catatan informasi yang dikomunikasikan kepada komunitas pelayaran.
(f) Catatan informasi yang dikomunikasikan ke IMO.
(g) Catatan sertifikat yang diterbitkan untuk kapal.
(h) Catatan mengenai Ballast Water management Plan yang telah disetujui (BWMP).
REFERENSI:
Sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 110 Tahun 2016 tentang Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal, Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor: Hk.103/1/9/Djpl-18 tentang Pelaksanaan Pemeriksaan Kelaiklautan dan Keamanan Kapal Asing dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 29 Tahun 2014 tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim, kewenangan terkait pencatatan adalah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Catatan mengenai inspeksi yang dilakukan oleh RO disimpan dalam sistem internal RO yaitu One Gate System (OGS).
3.4.8. Prosedur untuk menerbitkan sertifikat dan pembebasan untuk kapal 3.4.8.1 Sertifikat:
Kecuali jika RO telah diberi wewenang untuk melakukannya, Administrasi harus memiliki prosedur untuk menerbitkan sertifikat yang dipersyaratkan pada peraturan E-2 Konvensi, setelah selesai melaksanakan survei yang dipersyaratkan pada peraturan E-1 Konvensi.
(lihat paragraf 3.5.3 dari dokumen ini) 3.4.8.2 Pembebasan:
Administrasi harus memiliki prosedur untuk memberikan pembebasan terhadap peraturan B-3 atau C-1, di samping pembebasan yang diperbolehkan pada peraturan lain. Pembebasan tersebut harus sesuai dengan peraturan A-4 dan harus dicatat dalam buku catatan air balas (BWRB).
Setiap pembebasan atau relaksasi yang diberikan untuk tujuan kepatuhan terhadap Konvensi juga harus sesuai dengan undang-undang nasional.
(lihat paragraf 3.1.1 (c) dari document ini).
REFERENSI:
Di Indonesia prosedur sertifikasi BWM di atur pada Bagian Kedua Paragraf 3 dan Bagian Ketiga Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 29 Tahun 2014 tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim.
Survei dan sertifikasi BWM untuk kapal 500 GT ke atas dengan tujuan
66 internasional dilaksanakan oleh RO (BKI) sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 112 Tahun 2021 Tentang Pendelegasian Survey dan Sertifikasi kepada BKI sebagai Organisasi yang Diakui. BKI juga berwenang untuk memeriksa dan menerbitkan sertifikat RO-RO feri domestik.
RO telah menetapkan Instruction to Surveyor Part B-24 "Surveys of the International Ballast Water Management Certificate" yang berpedoman pada ketentuan konvensi AFS dan peraturan nasional terkait.
3.4.9. Prosedur untuk tindakan penegakan hukum
(Lihat paragraf 3.3 dan paragraf 3.6 dari dokumen ini)