• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pengertian Kualitas Hafalan Al-Qur’an

Kualitas merupakan kata benda yang berarti kadar, mutu, tingkat baik buruknya sesuatu (tentang barang dan sebagainya);

tingkat, derajat atau taraf kepandaian, kecakapan dan sebagainya.16 Menurut Juran, kualitas adalah suatu standard khusus dimana kemampuannya (availability), kinerja (performance), kendalanya (reliability), kemudahan pemeliharaan (maintainability) dan karakteristiknya dapat diukur.17 Jadi, kualitas disini maksudnya adalah nilai yang menentukan baik atau buruknya sesuatu pada seseorang, dapat dilihat dari proses, kemampuan, prestasi atau lainnya yang terdapat dalam diri manusia.

Hafalan berasal dari kata dasar “hafal” yang berarti mengingat diluar kepala. Dalam bahasa Arab berasal dari

ْ – ْ ْىظ ْىحًْف

ٍْىيْىف

ْيظ

ْ –

ْ

ٍْفْ ًْح

نظا

yang berarti menghafal. Sedangkan kata

15 Wahid dan Wiwi Alawiyah, Panduan Menghafal Al-Qur‟an Super Kilat Step by Step, (Yogyakarta: Diva Press, 2015), h. 98

16 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:

Balai Pustaka, 2002), h. 603

17 Muh. Arif, “Pengaruh Kualitas Pelayanan Menggunakan E-Commerce Terhadap Keputusan Pembelian”, dalam Jurnal Jema Adpertisi, Vol. 01 No. 02 2020, h. 64

“menghafal” berasal dari kata “hafal” yang memiliki dua arti.

Pertama, telah masuk dalam ingatan (tentang pelajaran). Kedua, dapat mengucapkan di luar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lain). Adapun arti “menghafal” sendiri adalah berusaha memasukkan materi ke dalam pikiran agar selalu ingat. Dalam teori psikologi, Richards dan Platt menyatakan bahwa menghafal adalah proses pembentukan informasi dalam memori.18

Menurut pendapat Dr. Aiman Rusydi yang dikutip oleh Umar Mujtahid dalam bukunya menjelaskan bahwa manusia memiliki dua jenis memori. Pertama, memori jangka pendek untuk kebutuhan sehari-hari dan semacamnya. Berbagai informasi dapat masuk kedalam memori ini namun tidak dapat bertahan lama. Kedua, memori mendalam. Berbagai informasi dari memori jangka pendek dapat masuk kedalam memori ini, namun untuk bertahan dalam waktu lama harus dengan perhatian dan pengulangan. Menghafal Al-Qur‟an merupakan proses yang menggunakan memori kedua, yaitu memori yang mendalam.19

Jadi, kualitas hafalan Al-Qur‟an adalah nilai yang menentukan baik atau buruknya ingatan hafalan Al-Qur‟an seseorang secara keseluruhan, menghafal dengan sempurna, membaca dengan lancar dan tidak terjadi suatu kesalahan terhadap kaidah bacaan yang sesuai dengan aturan-aturan tajwid yang benar, serta senantiasa rutin dalam pengulangan dan

18 Risnawati Pasaribu, “Pengaruh Hafalan Al-Qur‟an Terhadap Kedisiplinan Belajar dan Prestasi Belajar Pada Siswa SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta”, dalam Jurnal Bimbingan dan Konseling, Vol. 2 No. 2 2018, h. 17

19Umar Mujtahid, Panduan Ilmu Tajwid Bergambar Mudah dan Praktis, (Solo:

Zamzam, 2015), h.178

34

pemeliharaan hafalan. Karena jika tidak dilakukan pengulangan, maka Al-Qur‟an dengan cepat akan hilang dari ingatan.20

2. Faktor Yang Memengaruhi Kelancaran Hafalan Al-Qur’an a. Faktor Internal

Faktor internal merupakan faktor yang terdapat di dalam diri manusia. Adapun faktor internal yang dapat memengaruhi kualitas hafalan Al-Qur‟an antara lain:

1) Tekad yang kuat

Tekad berarti kemauan (kehendak) yang pasti;

kebulatan hati; iktikad. Secara definisi, tekad adalah menentukan kemauan yang tinggi, kebulatan hati dan niat agar mencapai sesuatu yang diinginkan. Tanpa keinginan yang kuat, orang yang sedang berproses akan mudah mengalami kemalasan bahkan mungkin akan memberhentikannya. Tekad yang kuat menjadi pijakan awal seseorang yang ingin bergelut dalam dunia hafalan Al-Qur‟an. Seseorang tidak dapat menggapai suatu pencapaian kecuali dia punya keinginan dan sudah merumuskannya sejak awal.

Apabila seseorang ingin masuk dalam dunia hafalan Al-Qur‟an, maka harus mau berkorban apapun agar hafalan Al-Qur‟annya dapat berkualitas seperti berkorban untuk menyisihkan waktu khusus Al-Qur‟an, melepaskan segala kegiatan atau kesibukan yang dapat menghambat proses hafalan Al-Qur‟an, bersedia mengeluarkan tenaga dan sebagainya lillahita‟ala dan

20 Muhaimin Zen, dkk., Bunga Rampai Mutiara Al-Qur‟an Pembinaan Qari Qari‟ah dan Hafizh Hafizhah, (Jakarta: PP. Jam‟iyyatul Qurra‟ Wal Huffazh, 2006), h. 96

memhindar dari segala sesuatu yang dapat merugikan diri.21

2) Kecerdasan dan Kekuatan Ingatan

Dalam menghafal Al-Qur‟an diperlukan kecerdasan dan ingatan yang kuat yang mana hal ini sangat bergantung kepada faktor-faktor genetik yang diwariskan dan upaya perbaikan kecerdasan serta ingatan. Selain itu, kondisi lingkungan sekitar, pola kehidupan, ikatan keluarga dan taraf kehidupan yang diperbarui dan diperbaiki juga mempengaruhi dalam proses menghafal.22

3) Target Hafalan

Target merupakan sebuah kerangka yang dibuat sesuai dengan alokasi waku yang disediakan seseorang dalam menghafalkan Al-Qur‟an. Dengan adanya target, seseorang dapat merancang dan mengejar target yang sudah dibuat sehingga dapat mendorong semangat dan giat para penghafal Al-Qur‟an. Komposisi waktu dalam pembentukan target bisa disesuaikan dengan proses menghafal dan mengulang (takrir) masing-masing sesuai dengan kemampuasn penghafal, karena setiap penghafal memiliki kemampuan yang berbeda.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang terdapat di luar diri manusia. Adapun faktor ekstrenal yang dapat memengaruhi kualitas hafalan Al-Qur‟an antara lain:

21 Muhammad Riyadi Lubis, Sepucuk Surat Untuk Penghafal Al-Qur‟an, (Tangerang Selatan: Yayasan Nurummbunin, 2020), h. 36

22 Abdurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al-Qur‟an Kaifa Tahfazhul Qur‟an,

36

1) Metode yang digunakan

Banyak orang menghafal Al-Qur‟an dengan tidak menggunakan metode seperti metode yang digunakan di lembaga tahfidzul Qur‟an pada umumnya.

Hal tersebut tidak bisa menjamin hasil dari hafalan Al- Qur‟an dapat berkualitas atau tidak. Karena mereka akan mencocokkan kemampuan daya berfikirnya masing- masing. 23

2) Manajemen Waktu

Dalam menghafal Al-Qur‟an, mengatur waktu yang baik sangat diperlukan untuk mengulang-ulang hafalan yang senantiasa terus berkelanjutan. Dengan disiplinnya waktu yang digunakan, maka akan akan menjadikan pribadi yang jujur, konsekuen dan bertanggung jawab atas segalanya. Penghafal Al-Qur‟an yang sudah berhasil menyelesaikan hafalannya dalam waktu singkat, mereka akan menetapkan waktu khusus dan menentukan target untuk mengkhatamkannya yang bertujuan agar menjadi pembangkit semangat dalam proses menjaga hafalan dan sebagai tantangan bagi dirinya. 24

Dalam kitab At-Tibyȃn fî Âdȃbi Hamâlati Al- Qur‟ȃn dijelaskan bahwa mazhab syafi‟i dan mazhab yang lain berpendapat bahwa waktu yang terbaik untuk membaca Al-Qur‟an adalah ketika melakukan shalat

23 Muhaimin Zen, dkk., Bunga Rampai Mutiara Al-Qur‟an Pembinaan Qari Qari‟ah dan Hafizh Hafizhah, (Jakarta: PP. Jam‟iyyatul Qurra‟ Wal Huffazh, 2006), h. 89

24 Media Asni Furoida, “Pengaruh Tradisi Sima‟an Al-Qur‟an Terhadap Kualitas HafalanAl-Qur‟an Santri Tahfidz di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putri Jember.” Skripsi, IAIN Jember, 2016, h. 39. Tidak diterbitkan.

karena memperlama berdiri dalam shalat itu lebih utama dari pada sujud dan gerakan yang lain. Sedangkan waktu yang terbaik di luar shalat adalah malam hari, yakni di sepertiga malam.25

3) Lingkungan

Lingkungan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dalm proses seseorang yang sedang menghafal Al-Qur‟an. Manusia merupakan makhluk sosial yang harus bergaul dengan manusia lainnya dan berbaur dengan lingkungan sekitar. Tetapi dalam hal menghafal Al-Qur‟an, seseorang perlu memperhatikan lingkungan sekitarnya karena lingkungan yang baik tentunya akan mendukung proses penghafalan. Jika tidak, maka akan mudah terjerumus kedalam lingkungan yang tidak baik dan tentunya akan menghambat proses menghafal Al-Qur‟an.

3. Indikator Kelancaran Hafalan Al-Qur’an

Kelancaran berasal dari kata lancar yang berarti tidak tersangkut-sangkut; tidak terputus-putus; tidak tersendat-sendat;

fasih; tidak tertunda-tunda; (berlangsung) dengan baik.26 Yang dimaksud dalam hal ini adalah lancar dalam membaca hafalan Al-Qur‟an. Adapun indikator-indikator kelancaran dalam membaca hafalan Al-Qur‟an dapat diuraikan sebagai berikut.

25 Ridhoul Wahidi dan Rofiul Wahyudi, Sukses Menghafal Al-Qur‟an Meski Sibuk Kuliah, (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2016), h. 79

26 kbbi.kemdikbud.go.id/entri/lancar. Diakses pada 02 Juni 2020

38

a. Kemampuan membaca hafalan sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Seseorang yang membaca Al-Qur‟an tidak boleh terlepas dari kaidah ilmu tajwid. Tajwid (

ْهدٍيًوٍىتَ

) merupakan bentuk mashdar dari fi‟il madhi (

ْىدَّوىج

) yang berarti membaguskan, menyempurnakan, memantapkan.27 Menurut istilah terdapat beberapa pendapat mengenai definisi tajwid, Dr. Aiman Rusydi Suwaid dalam kitabnya At-Tajwîd Al- Mushawwar menjelaskan :

ٍْيًحَّصلاْيقٍط نلاًْوًبْيؼىرٍعيػيْهمٍلًعْىويىْيدٍيًوٍجَّتلا

ًْةَّيًبىرىعٍلاًْؼٍكيريحٍلًلْيح

ْ،

ْىكًلىذىك

ْىىمًْةىفًرٍعىًبِ

اىهًجًرا

ْىهًتىفًصىكْ،

ًْةَّيًضىرىعٍلاىكًْةىيًتاَّذلاْا

ْاىهٍػنىعْيأًشنييْاىمىكْ،

.ًـاىكٍحىأٍْنًم

28

“Tajwid adalah ilmu untuk mengetahui cara pelafalan huruf-huruf Arab yang baik dengan mengetahui makhraj serta sifatnya baik sifat dzatiyah maupun sifat

„aridhah serta hukum-hukum yang muncul darinya.”

Sedangkan menurut Syaikh Abdul Fattah al- Marshafî, tajwid berarti melafazkan setiap huruf dari makhraj-nya dengan memenuhi sifat-sifatnya yaitu sifat lazimah dan sifat „aridhah.29 Tujuan mempelajari ilmu tajwid

27Achmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur‟an & Ilmu Tajwid, (Jakarta:

Pustaka Al-Kautsar, 2010), h. 17

28 Aiman Rusydi Suwaid, At-Tajwid Al-Mushawwar, (Suriah: Maktabah Ibnu Al- Jazari, 2011), h. 36

29 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil AL-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

253

yaitu untuk memelihara lidah atau lisan dari kesalahan dalam membaca Al-Qur‟an. Hukum mempelajari ilmu tajwid bagi setiap pembaca Al-Qur‟an adalah fardhu kifayah sedangkan mengamalkannya adalah fardhu „ain. Ibnu Al-Jazri mengatakan bahwa mempelajari ilmu tajwid adalah suatu keharusan bagi setiap pembaca Al-Qur‟an karena seperti itulah Allah menurunkan Al-Qur‟an dan begitu pula Al- Qur‟an sampai kepada kita.30

Untuk mendapatkan kategori membaca Al-Qur‟an dengan tartil yang unggul dan berkualitas, maka harus membacanya dengan menguasai dan menerapkan ilmu tajwid dengan tepat, baik dari teori maupun praktik nya.31 Adapun poin-poin yang harus dikuasai dalam ilmu tajwid diantaranya adalah makhȃrijul huruf, shifȃtul huruf, ahkȃmul huruf, dan mad wa al-Qashr.

Seseorang tidak akan dapat membedakan masing- masing huruf tanpa mengetahui dan melafadzkan huruf-huruf pada tempat asalnya. Hal ini yang menjadikan seseorang harus bisa menyesuaikan makhȃrijul huruf dalam membaca Al-Qur‟an agar terhindar dari kesalahan dalam pengucapan huruf yang mengakibatkan perubahan makna.32 Makhraj merupakan tempat keluarnya huruf, dimana saat diucapkan suara menjadi terputus sehingga menjadikan adanya

30 Ibrahim Eldeeb, be a Living Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), h.91

31 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil AL-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h. 15

32 Ahmad Yasin, Pedoman Membaca Al-Qur‟an, (Jombang: 2004), h. 22

40

perbedaan ucapan dengan huruf yang lain.33 Menurut pendapat para ulama, makhȃrijul huruf terbagi menjadi 17 (tujuh belas) yang berada pada 5 (lima) tempat, yaitu:

1) Al-Jauf (rongga mulut) huruf yang keluar yaitu : huruf mad alif (

اػ

) , wâw (

وػ

) dan yâ‟ (

يػ

)34

2) Al-Halq (tenggorokan) terdapat di dalam 3 makhraj, yaitu:

a) Aqsha al-Halqi (tenggorokan paling bawah), hurufnya adalah hamzah (

ء

) dan ha (

ق

)

b) Wasthu al-Halqi (tenggorokan bagian tengah), hurufnya adalah „ain ( ع ) dan ḫa ( ح )

c) Adna al-Halqi (tenggorokan paling atas), hurufnya adalah ghain ( غ ) dan kha ( خ )

d) Al-Lisân (lidah), terdapat dalam 10 makhraj, yaitu : (1) Pangkal lidah dan langit-langit, hurufnya adalah

qaf ( ؽ )

(2) Di muka makhraj qaf, adalah kaf ( ؾ )

(3) Tengah-tengah lidah dan langit-langit, hurufnya adalah syin (ش), jim (ج) dan yâ‟ (ي)

(4) Salah satu/ dua pinggir lidah beradu dengan salah satu/ dua geraham atas yang kiri/ kanan

33 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

262 34

Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

238

atau keduanya (bagian dalam), hurufnya adalah dhad ( ض )

(5) Kedua pangkal pinggir ujung lidah bertemu gusi muka atas (kiri dan kanan), hurufnya adalah lam ( ؿ )

(6) Ujung lidah bertemu bawah sedikit makhraj lam, hurufnya adalah nun ( ف )

(7) Ujung lidah mengarah dekat punggungnya dipertemukan dengan langit-langit bagian depan sesudah makhraj nun, adalah huruf ra ( ر ) (8) Punggung ujung lidah dan pangkal dua gigi seri

muka atas bagian dalam, adalah huruf tha ( ط ), dal ( د ) dan ta ( ت )

(9) Ujung lidah berada pada halaman dua gigi seri bawah, hurufnya adalah za ( ز ), shad ( ص ), dan sin ( س )

(10) Punggung ujung lidah dan ujung dua gigi seri atas, hurufnya adalah zha ( ظ ), dzal ( ذ ) dan tsa ( ث )35

3) Asy-Syafatain (dua bibir), terdapat di dalam 2 makhraj, yaitu :

a) Antara dua bibir, hurufnya adalah waw ( ك )

35 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

238-247

42

b) Dua perut bibir bagian dalam, hurufnya adalah ba ( ب ), mim ( ـ ), dan fa ( ؼ )36

4) Al-Khaisyûm (janur hidung/induk hidung), yaitu sifat ghunnah-nya ـ/ف (mati/hidup) , ْـ/ْف (Nûn/Mîm mati) yang di-idghâm-kan/ di-ikhfâ‟-kan, dan ف (Nûn Tasydîd) ـ (Mîm Tasydîd).37

Shifȃtul huruf merupakan sifat yang baru datang pada saat huruf itu keluar dari makhrajnya. Tujuan mempelajari sifat-sifat huruf adalah agar huruf yang keluar dari lisan semakin sesuai dengan keaslian huruf-huruf Al- Qur‟an. Karena huruf yang sudah tepat makhrajnya belum tentu sesuai dengan sifat aslinya. Sifat-sifat huruf terbagi menjadi dua, yaitu:

1) Sifat yang memiliki lawan kata :

a) Jahr (nafas ditahan) >< Hams (nafas berhembus) b) Rakhâwah (suara tidak tertahan) >< Syiddah (suara

tertahan)

c) Istifâl (pangkal lidah tidak bertemu dengan langit- langit) >< Isti‟lâ‟ (mengangkat pangkal lidah bertemu ke langit-langit)

d) Infitâh (sebagian besar permukaan lidah dan langit- langit terbuka/tidak bertemu) >< Ithbâq (sebagian besar permukaan lidah bertemu/nempel dengan langit-langit)

36 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

26-27

37 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h. 16

e) Ishmât (tidak lancar dan hati-hati) >< Idzlâq (keluarnya lancar/ringan)38

2) Sifat yang tidak memiliki lawan kata :

a) Bainiyyah/Tawassuth (suara tidak tertahan dengan sempurna dan tidak terlepas dengan sempurna antara Syiddah dan Rakhâwah)

b) Shafîr (suaranya berdesir)

c) Qalqalah (memantulkan suara tambahan)

d) Inhirâf (bergesernya pengucapan huruf Lam atau Ra dari makhraj huruf Nun)

e) Takrîr (satu kali getaran halus ujung lidah)

f) Istithâlah (menggelayutkan suara mulai dari pangkal salah satu tepi/pinggir lidah sampai ujungnya) g) Tafasysyi (pengucapan huruf yang disertai

hembusan dari dalam mulut ketika mengucapkan) h) Ghunnah (berdengung)39

Ahkȃmul huruf yaitu hukum-hukum yang terdapat dalam huruf yang dibaca. Dalam ilmu tajwid terdapat 4 (empat) hukum, yaitu hukum nun mati dan tanwin, hukum mim mati, hukum nun bertasydid dan mim bertasydid, dan hukum bacaan lam ta‟rif.

1) Hukum Nûn Mati dan Tanwîn.

Nûn mati ( ن) adalah Nûn (ن) yang tidak berharakat yang lafaz dan tulisannya tetap ada dan tidak berubah, baik washâl maupun waqaf. Sedangkan Tanwîn

38 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h. 9- 12

39 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil AL-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h. 13

44

adalah bunyi Nûn mati ( ن) yang tidak tertulis yang keberadaannya hanya ketika dibaca washâl (tidak di- waqafkan). Adapun bacaan Nûn mati dan Tanwîn mempunyai 4 (empat) hukum, yaitu

a) Izhhâr, yaitu mengucapkan huruf yang di Izhhâr-kan dari makhrajnya dengan tanpa disertai ghunnah (dengung) yang sempurna. Huruf Izhhâr ada 6 (enam) yaitu : Hamzah (

ء

), Ha (

ِ

) , „Ain (

ع

) , Ha

(

ح

), Ghain (

غ

), dan Kha (

خ

). Pengucapan dalam bacaan izhhar yaitu dengan ucapan yang jelas dengan tanpa disertai dengung yang sempurna (tanpa jeda dan tanpa saktah diantara keduanya).40 b) Idghȃm, yaitu meleburnya huruf sukun/mati ke

dalam huruf berharakat /hidup sehingga menjadi satu huruf yang bertasydîd. Idghâm terbagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu idghâm bi ghunnah dan idghâm bilâ ghunnah. Idghâm bi ghunnah yaitu apabila terdapat Nûn Mati atau Tanwîn bertemu dengan salah satu dari huruf idghâm Yâ‟, Nûn, Mîm dan Wâw dengan syarat antara Nûn Mati atau Tanwîn dan huruf idghâm-nya terletak di lain kata.

Sedangkan idghâm bilâ ghunnah yaitu apabila ada Nûn Mati atau Tanwîn bertemu dengan huruf

40 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

304

idghâm Lam dan Ra‟ dengan syarat harus dibaca idghâm tanpa ghunnah (tanpa dengung).41

c) Iqlâb, yaitu menukar bunyi Nûn Mati atau Tanwîn dengan bunyi Mîm (bunyi mîm mati disamarkan menuju ba‟) yang disertai ghunnah dan kadar serta bobot al-Khaisyûm yang ringan. Huruf iqlâb hanya satu yaitu ba‟ (

ب

). Cara membaca hukum bacaan Iqlâb yaitu dengan menukar bunyi Nûn Mati atau Tanwîn dengan bunyi Mîm dengan catatan bunyi Mîm Mati disamarkan ke huruf Bâ‟ yang disertai Ghunnah tentunya dengan kadar dan bobot al- Khaisyûm ringan. 42

d) Ikhfâ‟ , yaitu pengucapan huruf antara izhhar dan idghâm dengan tetap menjaga ghunnah (dengung) yaitu ketika ada Nûn Mati (

ٍْف

) atau Tanwîn bertemu dengan salah satu huruf ikhfâ‟ yang berjumlah 15 yaitu :

ت -ْ

ث -ْ

ج -ْ

د -ْ

ذ -ْ

ز -ْ

س -ْ

ش -ْ

ص -ْ

ض -ْ

ط -ْ

ظ -ْ

ؼ -ْ

ؽ -ْ

ؾ

41 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

306-308

42 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

310

46

Cara membacanya yaitu, bunyi Nûn Mati atau Tanwîn disamarkan/disebumbunyikan ke makhrâj huruf ikhfâ‟ sesudahnya dengan disertai tempo ghunnah (dengung) 2 harakat.43

2) Hukum Mîm Mati

Bacaan Mîm mati yang bertemu huruf hijaiyah mempunyai 3 (tiga) hukum, yaitu :

a) Ikhfâ‟ Syafawiy, yaitu apabila terdapat Mîm Mati bertemu dengan huruf Ba‟ yang terletak di lain kata.

Cara membaca nya adalah harus disertai ghunnah (dengung) selama 2 (dua) harakat dengan kadar khaisyûm yang ringan.44

b) Idghâm Mîmiy, yaitu apabila terdapat Mîm Mati bertemu dengan huruf Mîm. Cara membacanya adalah Mîm Mati harus di idghâmkan ke dalam Mîm dengan tempo ghunnah 2 harakat.45

c) Izhhâr Syafawiy, yaitu apabila terdapat Mîm Mati bertemu dengan salah satu Huruf Hijaiyah kecuali huruf Ba‟ dan Mîm baik terdapat didalam satu kata maupun di lain kata. Cara membacanya adalah harus dengan jelas tanpa disertai dengung yang sempurna. Pengecualian untuk membaca Mîm Mati yang bertemu dengan huruf Wâw dan Fa, harus

43 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h. 50

44 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

311 45

Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

312

dibaca dengan sangat jelas dikarenakan persamaan antara makhraj Mîm dan Wâw dan kedekatan antara makhraj Mîm dan Fa‟.46

3) Hukum Nûn Bertasydîd dan Mîm Bertasydîd

Dalam ilmu tajwid, hukum Mîm dan Nûn yang bertasydîd dikenal dengan istilah ghunnah musyaddadah. Maksudnya adalah huruf Mîm dan Nûn yang dalam keadaan bertasydîd. Cara membacanya yaitu dengan menghentakkan suara Mîm atau Nûn yang bertasydîd dan didengungkan secara nyata ke pangkal hidung dengan tempo 2 (dua) harakat.

Tingkatan bobot ghunnah (dengung) terbagi menjadi lima tingkatan, yaitu:

a) Bobot ghunnah secara penuh pada saat Mîm dan Nûn bertasydîd

b) Bobot ghunnah menjadi lebih ringan pada Mîm dan Nûn ketika di baca idghâm.

c) Bobot ghunnah menjadi semakin ringan ketika saat Mîm dan Nûn dibaca ikhfâ‟

d) Bobot ghunnah semakin ringan lagi ketika Mîm dan Nûn dibaca izhhâr

e) Bobot ghunnah paling ringan ketika Mîm dan Nûn berharakat.

Dari tingkatan diatas, dapat dikatakan bahwa kesempurnaan bobot pada ghunnah terdengar pada saat bertasydîd (musyaddadah), diidghâmkan dan

46 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h.

312

48

diikhfaâ‟kan. Sedangkan pada saat izhhâr dan saat berharakat tempo ghunnah nya sangat minim.47

Mad secara bahasa berarti memanjangkan dan menambah. Sedangkan menurut istilah yaitu memanjangkan suara dengan salah satu huruf dari huruf- huruf mad (asli). Huruf mad ada tiga, yaitu Alif (baik ada rasm atau tidak) yang sebelumnya berupa harakat fathah (kecuali pada fawatihus suwar), wâw mati yang sebelumnya berupa huurf yang berharakat dhammah, dan yâ‟ mati yang sebelumnya berupa huruf yang berharakat kasrah.48 Mad terbagi menjadi dua, yaitu:

a) Mad Ashliy

Mad Ashliy yang biasa juga disebut dengan Mad Thabî‟iy merupakan hukum mad pokok atau dasar. Mad Thabî‟iy ialah apabila terdapat huruf mad yang setelahnya tidak berupa hamzah/ huruf mati/ huruf yang ber-tasydîd. Panjang bacaan huruf mad adalah 2 (dua) harakat.49 Adapun yang memiliki hukum semisal Mad Thabî‟iy adalah:

(1) Mad Badal, yaitu apabila terdapat huruf Mad yang sebelumnya berupa hamzah dan sesudahnya tidak diikuti hamzah/ huruf mati.

(2) Mad „Iwadh, yaitu apabila terdapat huruf mad Alif yang menjadi pengganti Fathahtain ketika

47Achmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur‟an & Ilmu Tajwid, (Jakarta:

Pustaka Al-Kautsar, 2010), h. 101

48Achmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Qur‟an & Ilmu Tajwid, (Jakarta:

Pustaka Al-Kautsar, 2010), h. 121-122

49 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Jakarta: Yayasan Bengkel Metode Maisura & Pesantren Takhassus IIQ Jakarta, 2017), h. 63

Dokumen terkait