• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Kualitas pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Islam

Ulangan harian atau pekerjaan rumah e) Ujian semester. Meskipun Non-Tes, ini adalah pengamatan perilaku siswa di kelas dan ujian praktik.

Tentunya para guru di Sekolah Mahad Misbahuddin selalu menyiapkan materi pembelajaran. Seringkali kita membuat RPP berdasarkan kurikulum sehingga RPP tersebut dapat digunakan untuk melakukan pembelajaran dengan tepat. Kami juga menyediakan peralatan dan media pembelajaran yang relevan untuk memungkinkan siswa lebih memahami dalam meteri yang diajarkan.8

Hasil wawancara dengan guru tersebut diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan Kepala sekolah Sekolah Mahad misbahuddin, sebagai berikut:

Tentu saja, sebagian besar guru di sekolah kami menyediakan alat pengajaran yang lengkap. Dan saya menginstruksikan mereka untuk menyiapkan RPP sesuai kurikulum dan menginstruksikan mereka untuk menggunakan perangkat pembelajaran lain yang relevan dengan materi yang diajarkan.9

Namun ketika peneliti mewawancarai dan menanyakan kepada Pak Mustafa, guru yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Mahad Misbahuddin, apakah dapat membuat RPP yang sudah sesuai dengan kurikulum dapat hasil wawancara sebagai berikut:

Saya tidak menyusun RPP karena keterbatasan waktu dan kurangnya pengetahuan dan pemahaman dalam menggunakan teknologi. Tapi sekarang saya sedang belajar agar bisa saya manfaatkan untuk kepentingan mengajar.

Dan alasan penting lainnya adalah sekolah tidak mendukung anggaran untuk produksi bahan pembelajaran.10

8 Wawancara dengan Bapak Abdurrahman Laji, Guru Pendidikan Agama Islam, pada tanggal 23 Desember 2022, di Ruang Guru

9 Wawancara dengan Bapak Haji Niran tebpalak, Kepala Sekolah, pada tanggal 23 Desember 2022, di ruang kepala sekolah

10 Wawancara dengan Bapak Mustafa Kaykai, Guru Pendidikan Agama Islam, pada tanggal 23 Desember 2022, di Ruang Guru

Hal ini tidak relevan dengan teori rusman yang menjelaskan bahwa RPP dan silabus merupakan acuan untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa dalam upaya mencapai kompetensi dasar, setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik agar berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologi peserta didik. RPP disusun untuk setiap kompetensi dasar yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan disatuan pendidikan.11

Masalah lain yang peneliti temui saat melakukan observasi kelas adalah guru tidak menyiapkan media pembelajaran yang relevan dengan materi yang diajarkan. Ditemukan juga bahwa dalam banyak pembelajaran, guru tidak menyusun RPP. Hasil observasi tersebut didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan siswa.

Terkadang saat guru datang untuk mengajar, guru lupa membawa buku pelajaran dan harus meminjam milik siswa. Banyak guru mengajar dengan metode ceramah yang sangat membosankan. Guru jarang menggunakan alat peraga dan media pembelajaran selain pulpen dan papan tulis.12

11 Op.Cit, h.5

12 Wawancara dengan Nattawut Kijjarak, siswa kelas X, pada tanggal 23 Desember 2022, di Kelas

Berdasarkan wawancara, observasi dan dukungan dengan dokumen dan teori di atas. Peneliti mampu menganalisis bahwa perencanaan pembelajaran yang ada di Sekolah Mahad Misbahuddin ada indikator yang dilaksanakan tetapi ada juga yang tidak dilaksanakan karena ada guru yang tidak menyusun RPP dan terkadang tidak menggunakan berbagai media pembelajaran.

2. Pelaksanaan Pembelajaran

a. Persyaratan pelaksanaan pembelajaran

Kepala sekolah menjelaskan bahwa persyaratan pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Mahad Misbahuddin dalam segi jumlah ruang kelas dan jumlah siswa seimbang dan tidak menimbulkan masalah dalam kegiatan belajar mengajar.

Proses belajar mengajar di Sekolah Mahad Misbahuddin dari segi jumlah ruang kelas dan jumlah siswa dianggap berimbang sehingga nyaman dan kondusif sehingga tidak ada kendala dalam kegiatan belajar mengajar.13

Hasil wawancara kepala sekolah diperkuat dengan wawancara dengan guru-guru mata pelajaran pendidikan agama Islam sebagai berikut:

Mengenai siswa dalam satu ruang kelas, dirasa sudah sesuai dengan ukuran ruang kelas, sehingga memungkinkan guru untuk mengawasi semua siswa secara menyeluruh.14

13 Ibid

14 Wawancara dengan Bapak Mustafa Kaykai, Guru Pendidikan Agama Islam, pada tanggal 23 Desember 2022, di Ruang Guru

Jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh melebihi batas maksimal menurut teori Rusman yang menyatakan bahwa:

Jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan belajar adalah SD/MI 28 Peserta didik, SMP/MTS 32 Peserta didik, SMA/MA 32 Peserta didik, SMK/MAK 32 Peserta didik.15

Berdasarkan wawancara, observasi, dokumentasi dan teori di atas.

Peneliti dapat menganalisis bahwasanya jumlah siswa dalam satu ruang kelas mempengaruhi efisiensi belajar mengajar, sehingga sekolah perlu memiliki ruang kelas yang cukup untuk menyeimbangkan jumlah siswa.

Dan jumlah siswa dalam satu ruang kelas tidak boleh melebihi jumlah maksimal yang dapat diterima oleh satu kelas karena akan mengurangi efisiensi pengajaran dan mempengaruhi kualitas pembelajaran.

b. Proses pelaksanaan pembelajaran 1) Kegiatan pendahuluan

Menerut teori Rusman pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditunjukkan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.16 Dari teori tersebut

15 Op.Cit, h. 10

16 Op.Cit, h.11

di atas, konsisten dengan hasil wawancara guru mata pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah Mahad misbahuddin sebagai berikut:

Setiap saya akan mengajar, saya memperkenalkan materi untuk menjelaskan pentingnya materi yang akan saya pelajari dan untuk menarik minat siswa terhadap materi yang diajarkan. Sebelum mengajar, saya memperhatikan kebersihan kelas karena akan membuat proses pengajaran berjalan dengan lancar.17

Hal ini sesuai dengan perkataan Bapak Abdurrahman Laji guru pendidikan agama Islam.

Saya membuat pendahuluan untuk memulai materi dengan cara ini proses belajar mengajar efektif dan memberi semangat pada siswa.18

Hasil wawancara tersebut berbeda dengan hasil wawancara dengan siswa Sekolah Mahad Misbahuddin.

Sebelum memulai pelajaran, guru mengaitkannya dengan pelajaran sebelumnya, namun ada kalanya guru masuk ke dalam kelas dan langsung mulai mengajar tanpa mengingat pelajaran sebelumnya.19

Namun apa yang peneliti diwawancarai dengan guru ada beberapa bagian yang sesuai dengan perkataan guru, namun ada beberapa bagian yang bertolak belakang dengan observasi peneliti yaitu terkadang guru

17 Wawancara dengan Bapak Muhammad Nur, Guru Pendidikan Agama Islam, pada tanggal 23 Desember 2022, di Ruang Guru

18 Wawancara dengan Bapak Roni Montri, Guru Pendidikan Agama Islam, pada tanggal 23 Desember 2022, di Ruang Guru

19 Wawancara dengan Soraya Raiyai, Siswa kelas XII, pada tanggal 23 Desember 2022, di Kelas

tidak memberi pendahuluan pelajaran dan tidak menghubungkan pelajaran sebelumnya dengan pelajaran yang diajarkan.

Dari hasil wawancara, observasi dan diperkuat dengan teori di atas, peneliti dapat menganalisis bahwa pada kegiatan pendahuluan, sebagian besar guru telah mengambil tindakan yang tepat, tetapi beberapa guru belum mengambil tindakan yang tepat untuk memulai pembelajaran.

2) Kegiatan inti

Menurut teori Rusman, kegiatan inti adalah proses belajar untuk mencapai kemampuan dasar. Kegiatan pembelajaran bersifat interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi. Siswa berpartisipasi secara aktif dan menyediakan ruang yang cukup untuk inisiatif kreativitas dan kemandirian. Dalam hal ini sesuai dengan wawancara guru pendidikan agama Islam sebagai berikut:

Saat memulai suatu mata pelajaran biasanya materi yang disampaikan kepada siswa harus sesuai dengan keseluruhan RPP. Materi yang dipilih guru untuk diajarkan harus dipahami dengan baik dan mampu menerapkannya dengan tepat.20

Hasil wawancara dengan guru tersebut relevan dengan hasil wawancara yang dilakukan kepada peserta didik, yaitu sebagaii berikut:

Pada saat pembelajaran di kelas, guru akan mengajarkan materi sesuai dengan buku sebelumnya, setelah itu guru akan menjelaskan

20 Wawancara dengan Bapak Muhammad Nur, Guru Pendidikan Agama Islam, pada tanggal 26 Desember 2022, di Ruang Guru

materi yang telah diajarkan, walaupun guru mengajar menggunakan metode ceramah, namun materi yang dijelaskan guru dapat mudah dipahami.21

Hasil dari wawancara siswa dilengkapi dengan hasil observasi peneliti. Pada saat guru melakukan pembelajaran terlebih dahulu guru akan mengajar dengan cara merebut materi sesuai dengan buku, setelah itu guru akan menjelaskan kepada siswa, walaupun guru utamanya menggunakan ceramah, tetapi guru dapat membuat siswa mengerti dengan muda menunjukkan bahwa guru memiliki pemahaman yang baik tentang materi yang diajarkan.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dilengkapi dengan teori-teori di atas, Peneliti dapat menganalisis bahwa kegiatan inti guru mata pelajaran pendidikan agama Islam dapat dilakukan dengan baik karena guru dapat membuat siswa memahami materi dengan mudah.

Namun peneliti mengamati bahwa walaupun guru dapat membuat siswa memahami materi dengan mudah, tetapi kebanyakan guru menggunakan metode ceramah saja. Peneliti berpendapat jika guru menggunakan metode pengajaran lain atau menggunakan media pembelajaran lain bersamaan dengan pengajaran menggunakan metode ceramah, maka akan

21 Wawancara dengan Jureephon Kanantai, siswa kelas XI , pada tanggal 26 Desember 2022, di ruang istirahat

membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif dan tidak membosankan.

3) Kegiatan penutup

Menurut teori Rusman penutupan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, serta tidak lanjut.22

Hal ini sesuai pernyataan saat mewawancarai guru Sekolah Mahad Misbahuddin sebagai berikut:

Di akhir pelajaran, Dalam kegiatan penutup saya akan menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan materi yang telah diajarkan.23

Hasil wawancara guru diperkuat dengan hasil wawancara siswa sebagai berikut:

Di akhir pembelajaran, guru jarang menyimpulkan materi yang telah diajarkan, biasanya guru menjelaskan materi sampai hampir habis waktu pelajaran dan menyimpulkan materi secara singkat atau memberikan sedikit pekerjaan rumah.24

22 Op.Cit, h.13

23 Wawancara dengan Bapak Roni Montri, Guru Pendidikan Agama Islam, pada tanggal 23 Desember 2022, di Ruang Guru

24 Wawancara dengan Soraya Raiyai, Siswa kelas XII, pada tanggal 23 Desember 2022, di Kelas

Kegiatan penutup oleh guru dengan menyimpulkan materi yang diajarkan menekankan kepada siswa untuk mengingat dan memahami materi yang telah dipelajari. Hasil dari wawancara dan diperkuat dengan observasi di atas. Peneliti dapat menganalisis bahwa kegiatan penutup pembelajaran berjalan dengan baik karena guru mampu menyimpulkan materi yang diajarkan dan memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.

Namun terkadang guru tidak melaksanakan kegiatan penutup pembelajaran dengan baik, hal ini dapat disebabkan karena materi yang diajarkan oleh guru sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjelaskan sehingga waktu yang diperlukan untuk melakukan kegiatan penutup pembelajaran kurang atau kadang-kadang mungkin ada sisa waktu yang tidak mencukupi untuk melakukan kegiatan pembelajaran.

c. Penilaian hasil pembelajaran

Menurut teori Rusman penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematis, dan terprogram dengan menggunakan test dan nontest dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek atau produk, portofolio serta

penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan standar penilaian pendidikan dan panduan penilaian kelompok mata pelajaran.

Hal ini disampaikan melalui wawancara dengan kepala sekolah sebagai berikut:

Penilaian hasil pembelajaran adalah untuk menentukan sejauh mana lulusan mencapai kemahiran dan pengetahuan. Serta mampu memantau dan mengevaluasi kemajuan belajar siswa guna membawa hasil penilaian tersebut untuk peningkatan belajar siswa. Penting untuk mengevaluasi kursus sesuai dengan rencana pelajaran dan kurikulum.25

Hasil wawancara dengan kepala sekolah lebih didukung oleh hasil wawancara dengan guru mata pelajaran pebdidikan agama Islam di Sekolah Mahad Misbahuddin sebagai berikut:

Siswa dinilai dalam beberapa cara, seperti tugas, pekerjaan rumah atau latihan, observasi, tes, ujian kelas, atau cara penilaian lain yang menilai pengentahuan dan kemampuan siswa.26

Hasil wawancara dengan guru tersebut juga diperkuat dengan hasil wawancara siswa, sebagai berikut:

บางครั้งก่อนจบชั้นเรียนครูจะให้การบ้านหรือแบบฝึกหัดกับเราแต่ในบางวิชาครูจะถามก่อนว่าในวิชาที่

แล้วครูให้การบ้านหรือไม่หลังจากนั้นครูจะให้การบ้านกับเราอย่างเหมาะสมแต่บางครั้งครูก็ไม่ได้ให้การบ้าน27

25 Wawancara dengan Bapak Haji Niran Tebpalak , Kepala Sekolah, pada tanggal 23 Desember 2022, di Ruang Kepala Sekolah

26 Wawancara dengan Bapak Somchai Anggara, Guru Pendidikan Agama Islam, pada tanggal 23 Desember 2022, di Ruang Guru

27Wawancara dengan Wirayut Chaigiri, Siswa kelas X, pada tanggal 23 Desember 2022, di Kelas

Arti dari wawancara tersebut “Seringkali, sebelum menutup kelas, guru akan memberi kita pekerjaan rumah atau latihan. Namun pada beberapa mata pelajaran, guru terlebih dahulu akan menanyakan apakah pada mata pelajaran sebelumnya guru sudah memberikan pekerjaan rumah atau belum, setelah itu guru akan memberikan pekerjaan rumah kepada siswa secara tepat. Tetapi terkadang guru tidak memberi pekerjaan rumah kepada kami”

Hasil wawancara, observasi dan diperkuat dengan teori di atas, peneliti mampu menganalisis bahwa guru dan sekolah mampu melakukan penilaian pembelajaran dengan sangat baik. Dalam setiap kali setelah pelajaran berakhir, guru akan mengadakan ujian kecil di kelas untuk menilai pengentahuan yang telah diperoleh siswa. Dan sekolah dalam satu semester akan diadakan dua kali ujian resmi, yaitu ujian tengah semester dan ujian akhir semester, yang akan membuat materi yang digunakan dalam ujian tersebut tidak terlalu banyak sehingga menyebabkan siswa tidak terlalu fokus pada materi yang banyak.

85 A. Kesimpulan

1. Penerapan kurikulum studi agama Islam B.E.2546 (Revisi B.E.2555) dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah Mahad misbahuddin, Nakhonsithammarat, Thailand.

Sekolah Mahad Misbahuddin telah menerapkan kurikulum studi agama Islam B.E.2546 (Revisi B.E.2555) dalam pembelajaran, menyesuaikan kurikulum dengan kondisi dan situasi siswa sehingga siswa dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan nyata. Guru mata pelajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Mahad Misbahuddin telah menggunakan metode saintifik dalam mengajar sedemikian rupa sehingga dapat mengaitkan materi yang diajarkan dengan keadaan dan situasi nyata siswa. Namun, penggunaan metode pengajaran guru yang serupa dapat menyebabkan siswa menjadi bosan. Menggunakan berbagai media pembelajaran dapat membantu siswa agar tidak bosan dalam belajar.

Proses implementasi kurikulum studi agama Islam B.E.2546 (Revisi B.E.2555) dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru pendidikan agama Islam dalam memahami kurikulum terbatas. Guru menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan dan ketidakmampuan dalam mengelola kelasnya, siswa bosan dengan metode mengajar yang digunakan guru, guru

kurang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menggunakan berbagai bahan pembelajaran.

2. kualitas pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah Mahad misbahuddin, Nakhonsithammarat, Thailand.

Kualitas pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Mahad Misbahuddin dapat disimpulkan dari beberapa indikator seperti unsur proses pembelajaran meliputi perencanaan, proses pembelajaran, dan penilaiaan hasil pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran di Sekolah Mahad Misbahuddin sudah terlaksana namun dalam langkah-langkah penerapan RPP dalam kelas tidak sesuai dengan RPP yang guru buat, guru juga tidak menggunakan media pembelajaran dan alat peraga.

Proses pembelajaran dapat disimpulkan dari 3 bagian yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan guru sudah melakukan, namun masih banyak indikator yang belum dilakukan guru, misalnya ada beberapa guru yang terkadang menggunakan RPP, namun terkadang tidak dipersiapkannya.

Kegiatan inti mata pelajaran pendidikan agama Islam, guru telah melakukan kegiatan dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil wawancara dengan siswa dan hasil observasi peneliti. Meskipun guru hanya menggunakan metode ceramah untuk mengajar, guru dapat membuat siswa memahami materi dengan mudah, menunjukkan bahwa guru memiliki pemahaman yang baik tentang materi yang diajarkan dan dapat

mengajar dengan efektif. Kegiatan penutup dilaksanakan dengan baik karena pada kegiatan penutup guru merangkum materi yang diajarkan dan memberikan pekerjaan rumah kepada siswa. Namun terkadang guru tidak simpulkan materi yang diajarkan dengan alasan tidak cukup waktu.

Penilaian hasil pembelajaran sudah berjalan dengan baik penilaian yang dilakukan sudah memenuhi indikator kualitas pembelajaran dari teori Rusman dan sesuai dengan kurikulum studi agama Islam B.E.2546 (Revisi B.E.2555)

B. Saran

Guru hendaknya memperhatikan penyiapan perangkat pembelajaran seperti berbagai media pembelajaran agar siswa tidak bosan dalam belajar.

Guru hendaknya membuatkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk memastikan kesiapan untuk melaksanakan pembelajaran dan menyampaikan materi dengan maksimal. Guru hendaknya menggunakan berbagai metode pengajaran untuk menarik perhatian siswa sehingga membuat siswa bersemangat dalam belajar.

Saat guru memulai pelajaran, guru memperhatikan sikap dan tempat duduk siswa. Guru harus menjelaskan pentingnya materi yang diajarkan dan harus mengaitkannya dengan materi yang sudah diajarkan untuk memberikan kesinambungan. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran harus bersifat interaktif, menyenangkan, menantang, mendorong partisipasi dan antusiasme siswa. Guru harus memiliki ruang bagi siswa untuk mengeluarkan pendapat, berinisiatif, dan berkreasi. Pada akhir kegiatan pembelajaran, guru harus

meringkas hasil pembelajaran, menilai dan menindaklanjuti agar siswa memahami materi yang diajarkan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. 1999. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Gaya MediaPratama

Abrasyi, Athiyah. 1970. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Ahmadi, Abu. 1986. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Bandung: Armico Aly. Ilmu Pendidikan Islam

Anwar, Chairul. 2017. Teori-Teori Pendidikan Klasik Hingga Konteporer.

Yogyakarta: Ircisod

Arifin, M.. 1991. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta, Bumi Aksara

Asiah, Nur. 2013. inovasi Pembelajaran. Lampung: Anugerah Utama Raharja Baka, Dr.Muhammadruyani. 2021. “Pengembangan Kurikulum Studi Islam di

Thailand dan kurikulum saat ini, https://youtu.be/AkDL4dglMak, diakses 3 Desember 2022, pukul 15.32

Brubacher, John S. 1978. Modern Philosophies of Education. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd.

Daradjat, Zakiah, dkk. 2008. Ilmu Pendidikan dalam Islam

Darajat, Zakiyah. 2014. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara

Daud Ali, Mohammad. 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum Studi Islam B.E. 2546 (versi revisi B.E. 2555). Bangkok: Rumah Percetakan Asosiasi Koperasi Pertanian Thailand Limited

Dimyati, Johni. 2014. Metodologi penelitian pendidikan dan aplikasinya pada pendidikan anak usia dini (paud). Jakarta: Kharisma Putra Utama

Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Islam: Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh(Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Hadis, A. dan Nurhayati. 2010. Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Hanafiah, Nanang. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung : REFIKA ADITAMA

Hasbullah. 2010. Otonomi Pendidikan (Kebijakan Otonomi Daerah dan Implementasinya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan). Jakarta:

Rajawali Pers

Langgulung, Hasan. 1986. Menimbang Konsep al-Ghazali: Sebuah Pengantar dalam Fathiyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan al-Ghazali, Terj.

Ahmad Hakim dan M.Imam Aziz. Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat

Langgulang, Hasan. 1998. Filsafat Pendidikan Islam Jakarta: Bulan Bintang Lehsan, Chaleumphon. 2011. Permasalah dalam mengajar Pendidikan Islam.

Yala: University Rajabhat Yala

Leliana, Anzhe. 2015. "Karakteristik Mata Pelajaran PAI," kumpulantugassekolah dankuliah.blogsot.com/2015/01/karakteristik-mata-pelajaran-pai.html, diakses 1 November pukul 22.03

Majid, Abdul dan Andayani, Dian. 2006. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Moleong, Lexy J. 2012. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Rosdakarya Muhaimin. 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut

Dunia Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Nasution, S.. 2011. Asas-asas kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara

Prasetyo, Didik. 2013. Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Perilaku Belajar Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya.

Rahman, Bujang. 2013. Manajemen Mutu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Ramayulis. 2010. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme

Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Sugiono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan dan R&B. Bandung: Alfabeta

Dokumen terkait